BAB I PENDAHULUAN
1.4. Manfaat Penelitian
Bedasarkan tujuan penelitian diatas, maka manfaat yang akan diperoleh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan penulis dalam menganalisis pengaruh tingkat pengangguran terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten/Kota Medan, Binjai, Deli Serdang, Karo, dan Langkat.
2. Penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan penulis dalam menganalisis pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten/Kota Medan, Binjai, Deli Serdang, Karo, dan Langkat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kemiskinan
Kemiskinan merupakan fenomena yang seringkali dijumpai dalam kehidupan di seluruh negara, termasuk di negara berkembang seperti Indonesia.
Kemiskinan adalah suatu kondisi ketidakmampuan secara ekonomi untuk memenuhi standar hidup rata-rata masyarakat di suatu daerah. Kondisi ketidakmampuan ini ditandai dengan rendahnya kemampuan pendapatan seseorang untuk memenuhi kebutuhan pokok baik berupa pangan, sandang, maupun papan. Kemampuan pendapatan yang rendah ini juga akan berdampak pada kemampuan untuk memenuhi standar hidup rata-rata seperti kesehatan masyarakat dan standar pendidikan. Banyak tokoh, peneliti, badan resmi pemerintah, yang memilki pendapat tersendiri dalam memandang masalah kemiskinan ini.
Kemiskinan merupakan masalah yang bersifat multidimensi sehingga dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang. Dalam arti proper, kemiskinan dipahami sebagai keadaan kekurangan uang dan barang untuk menjamin kelangsungan hidup. Menurut Chambers dalam Suryawati (2005) menyatakan bahwa kemiskinan adalah suatu integrated concept yang mempunyai lima dimensi, yaitu: (1) kemiskinan (proper); (2) ketidakberdayaan (powerless); (3) kerentanan menghadapi situasi darurat (state of emergency); (4) ketergantungan (dependence) dan (5) keterasingan (isolation); baik secara geografis maupun sosiologis.
Menurut Bappenas (2004) mendefinisikan kemiskinan sebagai kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Hak-hak dasar antara lain, terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumber daya alam dan lingkungan, rasa aman dari perlakuan atau aman tindak kekerasan, dan hak untuk beradaptasi dalam kehidupan sosial.
Menurut Sastraadmaja (2003) dalam Permana (2012), pola kemiskinan dibedakan menjadi empat. Pola Pertama adalah persistent poverty, yaitu kemiskinan yang telah kronis atau turun menurun. Pola kedua adalah cyclical poverty, yaitu kemiskinan yang mengikuti pola siklus ekonomi secara
keseluruhan. Pola ketiga adalah seasonal poverty, yaitu kemiskinan musiman yang sering dijumpai pada kasus nelayan dan pertanian. Pola keempat adalah accident poverty, yaitu kemiskinan yang tercipta karena adanya bencana alam,
konflik, dan kekerasan, atau dampak dari suatu kebijakan tertentu yang menyebabkan menurunnya tingkat kesejahteraan suatu masyarakat.
Hidup dalam kemiskinan bukan hanya hidup dalam kekurangan uang dan tingkat pendapatan rendah, tetapi juga banyak hal lain, seperti tingkat kesehatan, pendidikan rendah, perlakuan tidak adil dalam hukum, kerentanan terhadap ancaman tindak kriminal, ketidakberdayaan dalam menentukan jalan hidupnya sendiri (Suryawati, 2005).
Secara ekonomi, kemiskinan dapat dilihat dari tingkat kekurangan sumber daya yang dapat digunakan memenuhi kebutuhan hidup serta meningkatkan
16
kesejahteraan sekelompok orang. Secara Politik, kemiskinan dapat dilihat dari tingkat akses terhadap kekuasaan yang mempunyai pengertian tentang sistem politik yang menentukan kemampuan sekelompok orang dalam menjangkau dan menggunakan sumber daya. Secara sosial psikologi, kemiskinan dapat dilihat dari tingkat kekurangan jaringan dan struktur sosial yang mendukung dalam mendapatkan kesempatan peningkatan produktivitas (Nugroho, 2015).
2.1.1. Karakteristik Penduduk Miskin
Walaupun kemiskinan merupakan istilah yang umum, ditandai dengan tidak mampunya seseorang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup minimal yang dianggap layak, namun kemiskinan itu memiliki ciri yang berbeda antar wilayah. Perbedaan ini terkait pada kemiskinan sumber daya alam (SDA), sumber daya manusia (SDM), dan kelembagaan setempat.
Adapun ciri-ciri kelompok (penduduk miskin) adalah sebagai berikut : a. Rata-rata tidak mempunyai faktor produksi sendiri, seperti tanah, modal,
peralatan kerja, dan keterampilan.
b. Mempunyai tingkat pendidikan yang rendah.
c. Kebanyakan bekerja atau berusaha sendiri dan bersifat usaha kecil (sektor informal), setengah menganggur atau menganggur (tidak bekerja).
d. Kebanyakan berada di daerah pedesaan atau daerah tertentu perkotaan (slum area).
e. Kurangnya kesempatan untuk memperoleh (dalam jumlah cukup) bahan kebutuhan pokok, pakaian, perumahan, fasilitas kesehatan sosial lainnya (Suryawati, 2005).
2.1.2. Penyebab Kemiskinan
Menurut Nasikun dalam Suryawati (2005), beberapa sumber dan proses penyebab terjadinya kemiskinan, yaitu :
1. Policy induces processes : proses pemiskinan yang dilestarikan, direproduksi melalui pelaksanaan suatu kebijakan, diantaranya adalah kebijakan anti kemiskinan, tetapi realitanya justru melestarikan.
2. Sosio-economic dualism : negara bekas koloni mengalami kemiskinan
karena pola produksi kolonial, yaitu petani menjadi marjinal karena tanah yang paling subur dikuasai petani skala besar dan berorientasi ekspor.
3. Population growth : perspektif yang didasari oleh teori Malthus bahwa pertambahan penduduk seperti deret ukur sedangkan pertambahan pangan seperti deret hitung.
4. Resources management and the environment : yaitu unsur manajemen sumber daya alam dan lingkungan, seperti manajemen pertanian yang asal tebang akan menurunkan produktivitas.
5. Natural cycles and processes : kemiskinan yang terjadi karena siklus alam.
Misalnya tinggal dilahan kritis, dimana jika lahan itu turun hujan akan terjadi banjir, akan tetapi jika musim kemarau kekurangan air sehingga tidak memungkinkan produktivitas yang maksimal dan terus-menerus.
6. The marginalization of woman : peminggiran kaum perempuan karena masih dianggap sebagai golongan kelas kedua, sehingga akses dan penghargaan hasil kerja yang diberikan lebih rendah dari laki-laki.
18
7. Cultural and ethnic factors : bekerjanya faktor budaya dan etnik yang memelihara kemiskinan. Misalnya pada pola konsumtif pada petani dan nelayan ketika panen raya, serta adat istiadat yang konsumtif saat upacara adat atau keagamaan.
8. Explotative intermediation : keberadaan penolong yang menjadi penodong, seperti rentenir (lintah darat).
9. Internal political fragmentation and civil stratfe : suatu kebijakan yang diterapkan pada suatu daerah yang fragmentasi politiknya kuat, dapat menjadi penyebab kemiskinan.
10. International processes : bekerjanya sistem internasional (kolonialisme dan kapitalisme) membuat banyak negara menjadi miskin.
Menurut Sharp (dalam Kuncoro, 1997) mengidentifikasikan penyebab kemiskinan dipandang dari sisi ekonomi. Pertama, secara mikro kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan pola kepemilikan sumber daya yang menimbulkan distribusi pendapatan yang timpang. Penduduk miskin hanya memiliki sumber daya dalam jumlah terbatas dan kualitasnya rendah. Kedua, kemiskinan muncul akibat perbedaan dalam kualitas sumber daya manusia.
Kualitas sumber daya manusia yang rendah berarti produktivitas rendah, yang menyebabkan upah menjadi rendah. Rendahnya kualitas sumber daya manusia ini karena rendahnya pendidikan, nasib yang kurang beruntung, adanya diskriminasi, atau karena keturunan. Ketiga, kemiskinan muncul akibat perbedaan akses dalam modal.
Ketiga penyebab kemiskinan ini bermuara pada teori lingkaran setan kemiskinan (vicious circle of poverty). Teori ini dikemukakan oleh Ragnar Nurkse (1953)
yang mengatakan “a poor country is poor because it is poor”, (negara miskin itu miskin karena dia miskin).
Adanya keterbelakangan, ketidaksempurnaan, dan kurangnya modal menyebabkan rendahnya produktivitas. Rendahnya produktivitas mengakibatkan rendahnya pendapatan yang mereka terima. Rendahnya pendapatan akan berimplikasi pada rendahnya tabungan dan investasi. Rendahnya investasi berakibat pada keterbelakangan. Oleh karena itu setiap usaha untuk mengurangi kemiskinan seharusnya diarahkan untuk memotong lingkaran dan perangkap kemiskinan ini (Kuncoro, 1997). Berikut gambar lingkaran setan kemiskinan (vicious circle of poverty).
Gambar 2.1
Lingkaran Setan Kemiskinan (Vicious Circle of Poverty) Ketidaksempurnaan pasar,
Keterbelakangan, Ketertinggalan Kekurangan modal
Produktivitas Rendah Investasi Rendah
Tabungan Rendah Pendapatan Rendah
20
2.1.3. Ukuran Kemiskinan
Garis kemiskinan adalah semua ukuran kemiskinan yang dipertimbangkan bedasarkan norma-norma tertentu. Pilihan norma tersebut sangat penting terutama dalam hal pengukuran kemiskinan yang didasarkan pola konsumsi. Garis kemiskinan yang didasarkan pada konsumsi terdiri atas dua elemen yaitu: (1) pengeluaran yang diperlukan untuk memenuhi standar gizi minimum dan kebutuhan mendasar lainnya dan (2) jumlah kebutuhan lain yang sangat bervariasi, yang mencerminkan biaya partisipasi dalam kehidupan masyarakat sehari-hari (Kuncoro, 2014).
Menurut BPS (2010) dalam Ariyus (2015), penetapan perhitungan garis kemiskinan dalam masyarakat adalah masyarakat yang berpenghasilan dibawah Rp. 7.057 per orang per hari. Penetapan angka Rp. 7.057 per orang per hari tersebut berasal dari perhitungan garis kemiskinan yang mencakup kebutuhan makanan dan non-makanan. Untuk kebutuhan minimum makanan digunakan 2.100 kilokalori per kapita per hari. Sedangkan untuk pengeluaran kebutuhan minimum bukan makanan meliputi pengeluaran untuk perumahan, pendidikan, dan kesehatan.
Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep Head Count Index (HCI-PO) yaitu kemiskinan diukur bedasarkan persentase penduduk yang
berada dibawah Garis Kemiskinan (GK). Jadi penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan. Dengan menggunakan rumus perhitungan sebagai berikut :
∑ [ ]
Dimana :
α = 0
z = garis kemiskinan
= rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan (i = 1, 2, 3,...q), < z
q = banyaknya penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan n = jumlah penduduk
Sedangkan, Ukuran kemiskinan menurut Nurkse (1953) dalam Kuncoro (1997) secara sederhana dan yang umum digunakan dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:
1. Kemiskinan Absolut
Seseorang termasuk golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada dibawah garis kemiskinan dan tidak cukup untuk menentukan kebutuhan dasar hidupnya. Konsep ini dimaksudkan untuk menentukan tingkat pendapatan minimum yang cukup untuk memenuhi kebutuhan fisik terhadap makanan, pakaian, dan perumahan untuk menjamin kelangsungan hidup.
Kesulitan utama dalam konsep kemiskinan absolut adalah menentukan komposisi dan tingkat kebutuhan minimum karena kedua hal tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh adat kebiasaan saja, tetapi juga iklim, tingkat kemajuan suatu negara, dan faktor-faktor ekonomi lainnya. Walaupun demikian, untuk dapat
22
hidup kayak, seseorang membutuhkan barang-barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan fisik dan sosialnya.
2. Kemiskinan Relatif
Seseorang termasuk golongan miskin relatif apabila telah dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya, tetapi masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan keadaan masyarakat sekitarnya. Bedasarkan konsep ini, garis kemiskinan akan mengalami perubahan bila tingkat hidup masyarakat berubah sehingga konsep kemiskinan ini bersifat dinamis atau akan selalu ada.
Oleh karena itu, kemiskinan dapat dari aspek ketimpangan sosial yang berarti semakin besar ketimpangan antara tingkat penghidupan golongan atas dan golongan bawah, maka akan semakin besar pula jumlah penduduk yang dapat dikategorikan selalu miskin.
3. Kemiskinan Kultural
Seseorang termasuk golongan miskin kultural apabila sikap orang atau sekelompok masyarakat tersebut tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya atau dengan kata lain seseorang tersebut miskin karena sikapnya sendiri yaitu pemalas dan tidak mau memperbaiki kondisinya.
2.2. Pengangguran
Pengangguran adalah seseorang yang sudah digolongkan dalam angkatan kerja yang secara aktif sedang mencari pekerjaan pada suatu tingkat upah tertentu, tetapi tidak dapat memperoleh pekerjaan yang diinginkannya (Sukirno 2004 dalam Nugroho 2015). Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah
angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian, karena dengan adanya pengangguran produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.
Pengangguran adalah masalah makroekonomi yang mempengaruhi manusia secara langsung dan merupakan yang paling berat. Kebanyakan orang kehilangan pekerjaan berarti penurunan standar kehidupan dan tekanan psikologis. Jadi tidaklah mengejutkan jika pengangguran menjadi topik yang sering dibicarakan dalam perdebatan politik dan para politis sering mengklaim bahwa kebijakan yang mereka tawarkan akan membantu menciptakan lapangan kerja (Mankiw, 2006)
Angka pengangguran adalah persentase jumlah penganggur terhadap jumlah angkatan kerja (Sumarsono, 2009). Indikator yang biasanya digunakan untuk menghitung pengangguran adalah Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT).
Dimana TPT merupakan perbandingan antara jumlah penganggur dengan jumlah angkatan kerja yang biasanya dinyatakan dalam satuan persen (%). Yang secara sistematis dimana TPT dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Jumlah Penganggur
TPT = x 100 % Jumlah Angkatan Kerja
2.2.1. Jenis-Jenis Pengangguran
Menurut Sukirno (2003), adapun klasifikasi jenis-jenis penganggguran adalah sebagai berikut :
24
1. Jenis-Jenis Pengangguran Bedasarkan Penyebabnya : a.Pengangguran Normal atau Friksional
Pengangguran yang berlaku pada tingkat kesempatan kerja penuh.
Kesempatan kerja penuh adalah keadaan dimana sekitar 95 persen dari angkatan kerja dalam suatu waktu sepenuhnya bekerja. Pengangguran yang sebanyak 5 persen inilah yang dinamakan sebagai pengangguran alamiah. Para penganggur ini bukan karena tidak mendapatkan pekerjaan, tetapi karena sedang mencari kerja yang lebih baik atau sesuai dengan keinginanya.
b. Pengangguran Struktural
Pengangguran struktural merupakan pengangguran yang disebabkan oleh adanya perubahan struktur dalam perekonomian.
c.Pengangguran Konjungtur
Pengangguran yang disebabkan oleh kelebihan pengangguran alamiah dan berlaku sebagai akibat pengurangan dalam permintaan agregat. Penurunan permintaan agregat mengakibatkan perusahaan mengurangi jumlah pekerja atau gulung tikar, sehingga muncul pengangguran konjungtur.
d.Pengangguran Teknologi
Pengangguran yang ditimbulkan oleh penggunaan mesin dan kemajuan teknologi lainnya.
2. Jenis-Jenis Pengangguran Bedasarkan Cirinya : a.Pengangguran Terbuka
Pengangguran ini tercipta sebagai akibat penambahan pertumbuhan kesempatan kerja yang lebih rendah dari pada pertumbuhan tenaga kerja, akibatnya banyak tenaga kerja yang tidak memperoleh pekerjaan. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pengangguran terbuka adalah penduduk yang telah masuk dalam angkatan kerja tetapi tidak memiliki pekerjaan dan sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha, serta sudah memiliki pekerjaan tetapi belum mulai bekerja.
b.Pengangguran Tersembunyi
Keadaan dimana suatu jenis kegiatan ekonomi dijalankan oleh tenaga kerja yang jumlahnya melebihi dari yang diperlukan.
c.Pengangguran Musiman
Keadaan pengangguran pada masa-masa tertentu dalam satu tahun.
Pengangguran ini biasanya terjadi di sektor pertanian. Petani akan menganggur saat menunggu masa tanam dan saat jeda antara musim tanam dan musim panen.
d.Setengah Menganggur
Keadaan dimana seseorang bekerja dibawah jam kerja normal. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), di Indonesia jam kerja normal adalah 35 jam seminggu, jadi pekerja yang bekerja di bawah 35 jam seminggu termasuk golongan setengah menganggur.
2.2.2. Pengaruh Tingkat Pengangguran Terhadap Tingkat Kemiskinan Pengangguran dan kemiskinan merupakan masalah yang kompleks dan sudah tidak asing lagi bahkan sudah melekat bagi sebagian besar masyarakat
26
Indonesia. Karena kedua hal tersebut adalah permasalahan sosial yang saling berkaitan, dimana kita tidak bisa menutup mata akan hal tersebut. Pengangguran dan kemiskinan itu sendiri sangat erat kaitannya dengan masyarakat yang hidup dalam garis ekonomi menengah ke bawah.
Pengangguran memiliki hubungan yang sangat erat dalam mempengaruhi tingkat kemiskinan. Standar hidup yang rendah di implementasikan ke dalam bentuk tingkat pendapatan yang rendah, perumahan yang kurang layak, kesehatan yang buruk, bekal pendidikan yang minim, atau bahkan tidak ada sama sekali, angka kematian bayi yang tinggi, usia harapan hidup yang relatif sangat singkat dan peluang untuk mendapatkan kerja yang rendah. Dalam hal peluang untuk mendapatkan kerja yang rendah berarti pengangguran. Pengangguran yang tinggi akan menyebabkan pendapatan berkurang sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari yang pada akhirnya akan mengalami kemiskinan. Dengan demikian jumlah pengangguran memiliki hubungan positif terhadap kemiskinan (Todaro, 2003).
Menurut Sukirno (2004) dalam Permana (2012) efek buruk dari pengangguran adalah mengurangi pendapatan masyarakat yang pada akhirnya mengurangi tingkat kemakmuran yang dicapai seseorang. Semakin turunnya kesejahteraan masyarakat karena menganggur tentunya akan meningkatkan peluang mereka terjebak dalam kemiskinan karena tidak memiliki pendapatan.
Apabila pengangguran di suatu negara sangat buruk, kekacauan politik dan sosial selalu berlaku dan menimbulkan efek buruk bagi kesejahteraan masyarakat dan prospek ekonomi dalam jangka panjang.
2.3. Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi dapat didefinisikan sebagai perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksikan dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat (Sukirno, 2006 dalam Tirta 2013). Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi dalam kehidupan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi ditandai dengan meningkatnya hasil produksi dan pendapatan. Dalam hal ini, berarti terjadinya peningkatan pendapatan nasional yang ditunjukkan oleh besarnya Produk Domestik Bruto (PDB).
Menurut Sukrino (2012) dalam Hambarsari & Inggit (2016), pertumbuhan ekonomi adalah perkembangan kegiatan ekonomi yang berlaku dari waktu ke waktu dan menyebabkan pendapatan nasional rill semakin berkembang. Tingkat pertumbuhan ekonomi menunjukkan persentase kenaikan pendapatan nasional rill pada suatu tahun tertentu apabila dibandingkan dengan pendapatan nasional rill pada tahun sebelumnya. Sedangkan menurut Kuncoro (2014) pertumbuhan ekonomi adalah penambahan output atau pertambahan pendapatan nasional agregatif dalam kurun waktu tertentu.
Pembangunan ekonomi salah satunya dengan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi digunakan sebagai indikator untuk menentukan apakah kebijakan yang dilaksanakan dalam suatu negara ataupun daerah sudah efektif atau tidak. Perhitungan pertumbuhan ekonomi biasanya dilakukan dalam waktu tahunan untuk melihat bagaimana perkembangan perekonomian di negara ataupun daerah tersebut. Laju perrtumbuhan ekonomi
28
dikatakan meningkat dengan melihat Produk Domestik Bruto (PDB) untuk tingkat nasional, dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) untuk tingkat wilayah atau regional. Produk Domestik Bruto (PDB) diartikan sebagai nilai barang dan jasa yang diproduksi di dalam negara tersebut dalam satu tahun tertentu.
Sedangkan, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yaitu, nilai barang dan jasa yang diproduksi dalam satu tahun tertentu yang hanya mengukur pertumbuhan perekonomian dilingkup wilayah, pada umumya wilayah provinsi atau kabupaten.
Adapun cara penyajian Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) disusun dalam dua bentuk, yaitu :
1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan (ADHK)
Pengertian Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan atau yang dikenal dengan PDRB rill merupakan nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan dalam suatu wilayah yang dihitung bedasarkan harga pada tahun tertentu yang digunakan sebagai acuan (tahun dasar), baik pada saat menghitung atau menilai produksi, biaya antara, maupun komponen nilai tambah.
2. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB)
Pengertian Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku atau PDRB nominal merupakan nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan dalam suatu wilayah yang dihitung bedasarkan harga pada
tahun berjalan (current price), baik pada saat menghitung atau menilai produksi, biaya antara, ataupun nilai tambah.
Pertumbuhan ekonomi dapat diukur dengan menggunakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga konstan (ADHK) dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
PDRB t – PDRB t-1
Gt = x 100 % PDRB t-1
Dimana :
Gt = Pertumbuhan Ekonomi
PDRB t = PDRB atas dasar harga konstan tahun tertentu.
PDRB t-1 = PDRB atas dasar harga konstan tahun sebelumnya.
2.3.1. Faktor-Faktor yang Menentukan Pertumbuhan Ekonomi
Menurut Todaro (2003) dalam Prastyo (2014), ada tiga faktor-faktor utama dalam pertumbuhan ekonomi yaitu :
1. Akumulasi Modal
Akumulasi modal termasuk semua investasi baru yang berwujud tanah (lahan), peralatan fiskal, dan sumber daya manusia (human resources).
Akumulasi modal akan terjadi jika ada sebagian pendapatan sekarang di tabung yang kemudian diinvestasikan kembali dengan tujuan untuk memperbesar output di masa-masa mendatang. Investasi juga harus disertai dengan investasi infrastruktur, yakni berupa jalan, listrik, air bersih, fasilitas sanitasi, fasilitas komunikasi, demi menunjang aktivitas ekonomi produktif. Investasi dalam pembinaan sumber daya manusia
30
bermuara pada peningkatan kualitas modal manusia, yang pada akhirnya dapat berdampak positif terhadap angka produksi.
2. Pertumbuhan Penduduk dan Angkatan Kerja
Pertumbuhan penduduk dan hal-hal yang berhubungan dengan kenaikan jumlah angkatan kerja (labor force) secara tradisonal telah dianggap sebagai faktor yang positif dalam merangsang pertumbuhan ekonomi.
Artinya, semakin banyak angkatan kerja semakin produktif tenaga kerja, sedangkan semakin banyak penduduk akan meningkatkan potensi pasar domestiknya.
3. Kemajuan Teknologi
Kemajuan teknologi disebabkan oleh teknologi cara baru dan cara-cara lama yang diperbaiki dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan tradisional. Ada tiga klasifikasi kemajuan teknologi yaitu :
a. Kemajuan teknologi yang bersifat netral, terjadi jika tingkat output yang dicapai lebih tinggi dari kuantitas dan kombinasi-kombinasi input yang sama
b. Kemajuan teknologi yang bersifat hemat tenga kerja (labor saving) atau hemat modal (capital saving), yaitu tingkat output yang lebih tinggi bisa dicapai dengan jumlah tenaga kerja atau input modal yang sama.
c. Kemajuan teknologi yang meningkatkan modal, terjadi jika penggunaan teknologi tersebut memungkinkan kita memanfaatkan barang modal yang ada secara lebih efektif.
2.3.2. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Tingkat Kemiskinan Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator untuk melihat sejauh mana kebijakan pemerintah berhasil dalam mengurangi kemiskinan. Namun pertumbuhan ekonomi tanpa diikuti dengan pemerataan pendapatan tidak akan mampu mengurangi jumlah penduduk miskin, maka dari itu pertumbuhan ekonomi yang baik haruslah menyebar secara merata ke golongan masyarakat, termasuk penduduk miskin.
Menurut Kuznet (2001) dalam Saputra (2011), pertumbuhan dan kemiskinan mempunyai korelasi yang sangat kuat, karena pada tahap awal proses pembangunan tingkat kemiskinan cenderung meningkat dan pada saat mendekati tahap akhir pembangunan, jumlah orang miskin berangsur-angsur berkurang.
Dengan demikian pertumbuhan ekonomi memiliki pengaruh negatif terhadap tingkat kemiskinan.
2.4. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu menjadi salah satu acuan penulis dalam melakukan penelitian dan menentukan langkah-langkah yang sistematis untuk menyusun penelitian dari segi teori maupun konsep. Berikut penelitian terdahulu yang berkaitan dengan judul penelitian ini sebagai berikut :
1. Whisnu Adi Saputra (2011), yang berjudul “Analisis Pengaruh Jumlah Penduduk, PDRB, IPM, Pengangguran terhadap Tingkat Kemiskinan di Kabupaten/Kota Jawa Tengah” dengan menggunakan variabel bebas atau independen (X) yaitu jumlah penduduk (X1), PDRB (X2), IPM (X3), pengangguran (X4) dan variabel terikat atau dependen (Y) yaitu tingkat
32
kemiskinan. Adapun metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi data panel dengan pendekatan Fixed Effect Model (FEM) dan menggunakan metode Generalized Least Square (GLS). Hasil dari penelitian ini menunjukkan variabel jumlah penduduk (X1), PDRB (X2), IPM (X3) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten/Kota Jawa Tengah, sedangkan pengangguran (X4) berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten/Kota Jawa Tengah.
2. Prabowo Dwi Kristanto (2014), yang berjudul “Analisis Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Upah Minimum, dan Tingkat Pengangguran
2. Prabowo Dwi Kristanto (2014), yang berjudul “Analisis Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Upah Minimum, dan Tingkat Pengangguran