• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai proporsi simtom ansietas dan depresi pada pasien penyakit ginjal kronik stadium 5 dialisis, sehingga dapat memperoleh perawatan yang lebih baik bukan hanya bagi penyakitnya saja namun juga untuk simtom ansietas dan depresinya. Hasil studi ini juga dapat dilanjutkan untuk bahan studi lanjutan yang sejenis ataupun studi lainnya yang memakai studi ini sebagai bahan acuannya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Simtom ansietas dan depresi pada pasien penyakit ginjal kronik stadium 5 dialisis

Ansietas dan depresi sering bertumpang tindih, hal ini terkait dengan simtom-simtom yang dialami yaitu, masalah tidur, simtom psikomotor serta kelelahan/fatique. Sekitar 45% pasien dengan gangguan ansietas juga mempunyai gangguan depresi, dan sekitar 40% pasien dengan depresi juga dijumpai memiliki gangguan ansietas. 12

Ansietas adalah bagian dari suatu mekanisme yang dikembangkan untuk menghadapi situasi yang tidak sesuai. Respons ansietas dapat diartikan sebagai bagian dari sistem alarm otak yang menyala pada saat merasakan bahaya. Karakteristik dari respons termasuk penghindaran, kewaspadaan yang berlebih, dan peningkatan arousal yang ditujukan untuk menghindari bahaya. Tetapi pada beberapa individu, mekanisme ini terlalu aktif. Alarm menyala terlalu sering, tidak dapat dihentikan meskipun keadaan aman.13

Pengalaman ansietas memiliki dua komponen: kesadaran adanya sensasi fisiologis, (seperti palpitasi dan berkeringat) dan kesadaran sedang gugup atau ketakutan. Perasaan malu mungkin memperberat ansietas. Disamping efek motorik dan visceral, ansietas juga mempengaruhi berpikir, persepsi dan belajar. Ansietas cenderung

menghasilkan kebingungan dan distorsi dari persepsi, tidak hanya dari waktu dan ruang tetapi juga pada orang dan arti peristiwa. Distorsi tersebut dapat mengganggu belajar dengan menurunkan kemampuan memusatkan perhatian, menurunkan daya ingat, dan mengganggu kemampuan untuk menghubungkan satu hal dengan hal yang lain, untuk membuat suatu hubungan.14

Orang-orang dengan depresi tidak semua mengalami simtom yang sama. Keparahan, frekuensi dan durasi dari simtom bervariasi tergantung individunya. Simtom depresi termasuk, sedih yang persisten, perasaan hampa atau pesimis, perasaan bersalah, gelisah, kehilangan minat pada aktivitas atau hobi yang sebelumnya menyenangkan, mudah lelah, penurunan energi, sulit konsentrasi, insomnia, kehilangan selera makan, berpikir untuk bunuh diri atau mencoba bunuh diri, nyeri yang persisten, sakit kepala, kram atau masalah pencernaan yang tidak berkurang meskipun diobati.15

Covinsky dan kawan-kawan (1999), berspekulasi bahwa penurunan kognisi yang disebabkan oleh depresi mungkin menyebabkan penurunan ketrampilan beradaptasi dalam menghadapi penyakit, dan simtom afektif berhubungan dengan depresi dapat mempengaruhi hubungan dengan teman atau keluarga yang menolong. Mungkin juga mekanisme secara biologi dapat menjelaskan hubungan ini. Sebagai contoh, stres psikologi berhubungan dengan lamanya penyembuhan luka dan peningkatan cardiac ischemia.16

Pasien yang menjalani terapi hemodialisis berusaha untuk menghadapi masalahnya dengan berbagai cara. Mereka menggunakan berbagai strategi untuk mengatasi masalah yang timbul berhubungan dengan penyakit dan terapinya. Seperti menerima sebagai bagian hidup, berharap terapi ini tidak permanen. Dalam hal ini pasien juga membutuhkan dukungan dari keluarga, teman, dan orang lain.

Keterbatasan fisik dapat menjadi beban psikologis pada pasien hemodialisis. 17

Hemodialisis adalah suatu prosedur yang menyokong hidup untuk pengobatan pada pasien penyakit ginjal kronik stadium 5. Terapi dialisis jangka panjang, bagaimanapun membutuhkan waktu yang banyak, mahal, dan membutuhkan kepatuhan terhadap regimen terapi, seperti pembatasan cairan dan makanan. Hal ini juga berpengaruh terhadap hilangnya kebebasan, ketergantungan pada pengasuh, mengganggu hubungan perkawinan, keluarga dan kehidupan sosial, mengurangi atau kehilangan pendapatan.18

Pasien hemodialisis tidak hanya menghadapi stresor yang berhubungan dengan pengobatan, tetapi juga harus bisa mengubah konsep atas diri dan kepercayaan diri, perubahan aturan dalam keluarga dan kehilangan martabat. Ansietas adalah salah satu respons emosi terhadap kondisi yang dialami ini.17

Mesin hemodialisis adalah penting pada pasien yang menjalani terapi hemodialisis. Pasien merasa bahwa mereka tidak bisa bepergian

kemana-mana untuk waktu yang lama, karena mereka harus ke rumah sakit atau pusat hemodialisis untuk pengobatan.17

2.2. Penyakit ginjal kronik 2.2.1. Definisi

Penyakit ginjal kronik didefinisikan sebagai suatu abnormalitas dari struktur atau fungsi ginjal yang terjadi selama 3 bulan atau lebih yang mempunyai implikasi terhadap kesehatan. Kriteria dari kerusakan ginjal termasuk : albuminuria > 30 mg/hari, kelainan sedimen urin (contoh, hematuria), elektrolit dan kelainan lain yang berhubungan dengan gangguan tubular, kelainan yang dijumpai melalui pemeriksaan histologi, kelainan sruktur yang dijumpai melalui pencitraan, riwayat transplantasi ginjal dengan penurunan laju Filtrasi Glomelurus (LFG), LFG < 60 mL/min/1.73 m2.18

2.2.2. Klasifikasi penyakit ginjal kronik

Klasifikasi penyakit ginjal kronik berdasarkan pada penyebab, Laju Filtrasi Glomelurus dan albuminuria. Menentukan penyebab berdasarkan ada atau tidak adanya penyakit sistemik dan bagian yang diperiksa atau perkiraan dari kelainan patologi yang dijumpai.18

Tabel 2.2 Kriteria dari laju filtrasi glomerular (LFG).18 Kategori GFR (ml/min/1.73 m) keterangan

G1 >90 Normal atau tinggi G2 60-89 sedikit menurun

G3a 45-59 penurunan ringan sampai Sedang

G3b 30-44 penurunan sedang sampai berat

G4 15-29 penurunan berat

G5 <15 gagal ginjal (tambahkan D Jika diterapi dengan dialisis)

2.2.3. Etiologi

Banyak faktor yang berperan dengan terjadinya penyakit ginjal kronik, diantaranya adalah: 19

• Kelompok yang beresiko tinggi : hubungan keluarga derajat pertama dengan pasien penyakit ginjal kronik, polycystic kidney disease.

• Penyakit yang memiliki resiko terhadap gagal ginjal: diabetes, hipertensi, potassium deficiency, glomelural diseases.

• Perilaku dan riwayat penyakit: pengguna analgetik yang kronis, orang yang menggunakan litium dalam jangka waktu yang lama, urinary tract obstruction, dll.

2.2.4. Penatalaksanaan penyakit ginjal kronik

Penatalaksanaan penyakit ginjal kronik sangat beragam, yaitu terapi spesifik terhadap penyakit dasarnya, pencegahan dan terapi terhadap kondisi komorbid, memperlambat perburukan fungsi ginjal, pencegahan dan terapi terhadap komplikasi, dan terapi pengganti ginjal berupa dialisis atau transplantasi ginjal. Terapi pengganti ginjal dilakukan pada penyakit ginjal kronik stadium 5 atau gagal ginjal.18

2.3. Hemodialisis

Hemodialisis adalah salah satu terapi pengganti ginjal yang menggunakan alat khusus dengan tujuan mengeluarkan toksin uremik dan mengatur cairan, elektrolit tubuh.17 Volume cairan yang dikeluarkan sangat tergantung pada tolerabilitas pasien, tujuannya adalah mencegah edema paru dan untuk mengontrol tekanan darah.18

Hemodialisis dilakukan apabila LFG <15mL/menit/1,73m2, dan sebelum dilakukan dialisis ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, antara lain: gejala subjektif, parameter objektif, evaluasi dan penatalaksanaan komorbid, waktu untuk memulai, status sosial ekonomi, budaya.18

Dialisis didefenisikan sebagai difusi molekul dalam larutan melalui membran semipermeabel karena perbedaan konsentrasi elektrokimia.

Tujuan utama hemodialisis adalah memulihkan kondisi cairan intraselular dan ekstraselular yang merupakan fungsi normal dari ginjal. Hal ini

terlaksana melalui transportasi zat seperti urea dari darah ke dialysate dan mentransportasikan zat seperti bikarbonat dari dialysate ke darah.

Konsentrasi zat serta berat molekulnya merupakan penentu utama laju difusi. Molekul kecil seperti urea terdifusi dengan cepat sementara molekul yang lebih besar seperti fosfat, ᵝ2-microglubulin, dan albumin dan protein seperti p-cresol, berdifusi lebih lambat. Selain proses difusi zat-zat dapat lewat melalui lobang di dalam membran yang didorong oleh perbedaan tekanan hidrostatik atau osmotik, proses ini disebut sebagai ultrafiltrasi.

Selama proses ultrafiltrasi tidak terjadi perobahan konsentrasi zat, tujuan utamanya adalah mengeluarkan kelebihan cairan total tubuh. Melalui penggantian fungsi ekskresi ginjal, dialisis dimaksudkan untuk menghilangkan simtom yang kompleks yang dikenal sebagai sindrom uremik.20

Komponen yang penting dari hemodialisis adalah waktu terapi, yang biasanya sekitar 4 jam. Beberapa pusat hemodialisis yang memiliki pasien yang lebih sedikit melakukan terapi dengan frekuensi yang lebih sering. Hemodialisis sekarang ini lebih aman, dan kematian yang berhubungan langsung dengan prosedur dialisis adalah jarang.20

2.4. Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS)

Hospital anxiety and depression scale (HADS) dikembangkan oleh Zigmond dan Snaith pada tahun 1983 untuk mengindentifikasi kasus (kemungkinan dan perkiraan) dari gangguan ansietas dan depresi

diantara pasien nonpsikiatrik di rumah sakit. Dibagi menjadi anxiety subscale (HADS-A) dan depression subscale (HADS-D), Masing-masing

terdiri dari 7 item.21

Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS) biasanya

memerlukan waktu 2 hingga 5 menit untuk diselesaikan. Penting untuk mengingatkan responden untuk membaca dengan memahami kalimat demi kalimat dari kuesioner tersebut. Hal ini juga memberikan kesempatan untuk menjelaskan tujuan dari kuesioner tersebut dan menjamin semua informasi klinis tersebut adalah rahasia guna membantu dokter untuk menolong mereka.22

Partisipan diminta untuk melengkapi skala dengan menilai bagaimana perasaan mereka pada minggu yang lalu menggunakan 4 skala poin, berkisar antara 0 sampai 3 (0: tidak ada simtom, 3: simtom berat). Skor yang lebih tinggi mengindikasikan simtom ansietas dan depresi yang lebih berat.23

2.5. Kerangka konsep

Pasien penyakit ginjal kronis stadium 5 dialisis

Simtom ansietas dan depresi

Karakteristik demografik

BAB III METODOLOGI

3.1. Desain Penelitian

Penelitian ini memiliki disain deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui proporsi simtom ansietas dan depresi pada pasien penyakit ginjal kronik stadium 5 dialisis di RSUP H Adam Malik Medan.

3.2. Tempat dan Waktu

3.2.1 Tempat penelitian : Penelitian dilakukan di RSUP H. Adam Malik Medan.

3.2.2. Waktu pengambilan data penelitian adalah pada periode 25 Maret sampai 6 April 2013

3.3. Populasi Penelitian

3.3.1. Populasi target : pasien dengan penyakit ginjal kronik stadium 5 dialisis.

3.3.2. Populasi terjangkau : pasien dengan penyakit ginjal kronik stadium 5 dialisis di RSUP H. Adam Malik Medan periode 25 Maret - 6 April 2013.

3.4. Sampel dan Cara Pengambilan Sampel

Sampel penelitian diperoleh sesuai dengan periode pengambilan data penelitian (consecutive sampling).

Kriteria inklusi sampel adalah:

1. Pasien dengan penyakit ginjal kronik stadium 5 dialisis di RSUP H A. Malik Medan.

2. Bersedia mengikuti penelitian dan menandatangani surat persetujuan sebagai peserta penelitian.

3. Bisa berkomunikasi dengan baik dan lancar

Sementara kriteria eksklusi sampel adalah:

1. Memiliki riwayat gangguan psikiatri

2. Tidak sedang menggunakan antidepressan dan atau anti ansietas

3.5. Perkiraan besar sampel

Besar sampel diukur dengan menggunakan rumus:24 n =

0,01

=80,6736

Dengan menggunakan rumus di atas didapatkan jumlah sampel 81 orang Keterangan:

Zα = nilai batas bawah dari tabel Z yang besarnya tergantung pada nilai α yang ditentukan; untuk nilai α = 0.05 Zα = 1,96.

P = proporsi simtom ansietas dan depresi pada pasien penyakit ginjal kronik stadium 5 dialisis (70%)8

Q = 1 – P = 1 – 0,7 = 0,3

d = kesalahan (absolute) yang dapat diterima = 0,1

3.6. Etika Penelitian

Penelitian ini telah mendapat persetujuan dari komite Etika penelitian di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan.

3.7. Cara Kerja Penelitian

• Pasien dengan penyakit ginjal kronik stadium 5 dialisis yang memenuhi kriteria inklusi mengisi persetujuan secara tertulis (informed consent) setelah mendapat penjelasan yang terperinci dan jelas untuk ikut serta dalam penelitian.

• Selanjutnya subjek penelitian akan diberikan kuesioner Hospital Anxiety and Depression Scale yang terdiri dari 14 item, dimana

dibagi atas poin A untuk ansietas (yaitu pertanyaan no 1,3,5,7,9,11 dan 13) serta poin D untuk depresi (yaitu pertanyaan no 2,4,6,8,10,12 dan 14).

• Selain itu pada saat wawancara juga ditanya mengenai karakteristik demografik (usia, jenis kelamin, status perkawinan, suku, pekerjaan, tingkat pendidikan, tempat tinggal dan status sosial ekonomi) subjek penelitian dan sudah berapa lama menjalani terapi hemodialisis.

• Setelah data terkumpul dilakukan pengolahan data dan disajikan dalam bentuk tabel.

3.8. Kerangka Kerja

Pasien penyakit ginjal kronis stadium 5 dialisis

Inklusi Eksklusi

Karakteristik demografik -umur -jenis kelamin -status perkawinan

-pendidikan - suku

-pekerjaan -tempat tinggal Lama

hemodialisis

HADS

3.9. Definisi Operasional

1. Simtom ansietas : dinilai berdasarkan kuesioner Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS). Pertanyaan terhadap simtom

ansietas (A) ada tujuh butir yang terdapat pada pertanyaan nomor 1,3,5,7,9,11,13.

2. Simtom depresi : dinilai berdasarkan kuesioner Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS). Pertanyaan terhadap simtom

depresi (D) terdapat pada pertanyaan nomor 2,4,6,8,10,12,14.

3. Campuran simtom ansietas dan depresi: dinilai berdasarkan kuesioner Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS) apabila memiliki skor yang sama pada poin A dan D

4. Penyakit ginjal kronik (PGK) : suatu kondisi kerusakan ginjal yang terjadi selama 3 bulan atau lebih berupa Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) yang kurang dari 60mL/menit/1,73m lebih dari 3 bulan dengan atau tanpa kerusakan ginjal.

5. Hemodialisis : salah satu terapi pengganti ginjal yang menggunakan alat khusus dengan tujuan mengeluarkan toksin uremik dan mengatur cairan, elektrolit tubuh.

6. Lama hemodialisis : lama pasien sudah menjalani terapi hemodialisis, sejak pertama kali hemodialisis sampai saat mengisi kuesioner. Lama hemodialisis dibagi atas:

• 1-12 bulan

• 13-24 bulan

• 25-36 bulan

• 37-48 bulan

• 49-60 bulan

• 61-72 bulan

7. Hospital Anxiety and Depression Scale : kuesioner self-rating yang dikembangkan oleh Zigmond dan Snaith pada tahun 1983, yang terdiri dari 14 pertanyaan. Pertanyaan untuk masing-masing simtom ansietas (A) dan depresi (D) berjumlah 7. Skor 0-7 adalah normal, 8-10 adalah borderline, skor 11-21 pada poin A menunjukkan suatu simtom ansietas, skor 11-21 pada poin D menunjukkan suatu simtom depresi, memiliki skor yang sama pada poin A dan D menunjukkan simtom campuran yaitu simtom ansietas dan depresi.

8. Usia : lamanya hidup sejak lahir sampai dengan ulang tahun terakhir pasien hemodialisis yang dinyatakan dalam satuan tahun.

Usia dibagi atas:

• 15–24 tahun

• 24-34 tahun

• 35-44 tahun

• 45-54 tahun

• 55-64 tahun

9. Jenis kelamin : jenis kelamin pasien hemodialisis yaitu laki-laki dan perempuan

10. Status perkawinan : status menikah dan tidak menikah atau janda/duda, dari pasien hemodialisis

11. Tingkat pendidikan : jenjang pendidikan terakhir yang ditamatkan oleh pasien hemodialisis yang dibedakan atas SD, SMP, SMA, Akademi, S1, S2

12. Status pekerjaan pasien hemodialisis: dibedakan atas IRT, mahasiswa, pensiunan, petani, PNS dan swasta

13. Suku pasien hemodialisis : dibedakan atas suku Batak dan non Batak

14. Tempat tinggal : dibedakan atas tempat asal pasien hemodialisis yaitu dari Medan dan luar Medan.

3.10. Cara Pengumpulan Data

Data mengenai ansietas dikumpulkan menggunakan Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS). Pertanyaan yang berjumlah 14

butir. Pertanyaan untuk masing-masing simtom ansietas (A) dan depresi (D) berjumlah 7. Skor 0-7 adalah normal, 8-10 adalah borderline, skor 11-21 pada poin A menunjukkan suatu simtom ansietas, skor 11-11-21 pada poin D menunjukkan suatu simtom depresi, memiliki skor yang sama pada poin A dan D menunjukkan simtom campuran yaitu simtom ansietas dan depresi. Pertanyaan tersebut dijawab dengan pilihan jawaban: tidak ada, kadang-kadang, sering, sering sekali.

3.11. Rencana Pengolahan dan Penyajian Data

Pengolahan dan penyajian data dilakukan secara deskriptif. Untuk melihat gambaran distribusi simtom ansietas dan depresi pada pasien penyakit ginjal kronik stadium 5 dialisis dengan menggunakan kuesioner HADS dan proporsi simtom ansietas dan depresi berdasarkan karakteristik demografik (umur, jenis kelamin, suku, tempat tinggal, pendidikan, status perkawinan, pekerjaan) dan lama hemodialisisnya. Untuk kedua data, ditampilkan dalam bentuk tabel-tabel frekuensi berisi proporsi masing-masing variabel.

BAB IV HASIL

Sebanyak 81 pasien penyakit ginjal kronis stadium 5 dialis di instalasi hemodialisa RSUP H. Adam Malik Medan, mengisi kuesioner Hospital Anxiety Depression Scale (HADS) untuk melihat simtom ansietas

dan depresi. Hasil rekapitulasi kuesioner dimaksud ditabulasikan pada tabel.

Pada Tabel 4.1 memperlihatkan karakteristik demografik dimana yang terbanyak adalah jenis kelamin laki-laki sebanyak 56 orang (69,1%), umur 45-54 tahun sebanyak 27 orang (33,3%), pekerjaan sektor swasta sebanyak 34 orang (42%), pendidikan SMA sebanyak 44 orang (54,3%), kawin 70 orang (86,4%), suku Batak sebanyak 52 orang (64,2%), dan tempat tinggal di Medan sebanyak 43 orang (53,1%), yang sudah menjalani terapi hemodialisis 1-12 bulan sebanyak 45 orang (55,6%), diikuti 13-24 bulan sebanyak 14 orang (17,3%), 25-36 bulan sebanyak 7 orang (8,6%), 37-48 bulan sebanyak 3 orang (3,7%), 49-60 bulan sebanyak 7 orang (8,6%) dan 61-72 bulan 5 orang (6,2%).

Tabel 4.1 Distribusi subjek penelitian berdasarkan karakteristik

Tabel 4. 2 Distribusi subjek penelitian berdasarkan lama hemodialisis

Variabel 01-12 bulan 13-24 bulan 25-36 bulan Lama Hemodialisis

37-48 bulan 49-60 bulan 61-72 bulan

Pada Tabel 4.2 memperlihatkan distribusi subjek penelitian berdasarkan lama hemodialisis, dimana lama hemodialisis 01-12 bulan yang terbanyak adalah usia 45-54 tahun 15 orang (33,3%), jenis kelamin laki-laki 28 orang (62,2%), pekerjaan sektor swasta 16 orang (35,6%), pendidikan SMA 21 orang (46,7%), kawin 40 orang (88,9%), suku Batak 30 orang (66,7%), domisili di Medan 23 orang (51,1%).

Lama hemodialisis 13-24 bulan, yang terbanyak adalah usia 35-44 tahun dan 45-54 tahun 4 orang (28,6%), jenis kelamin laki-laki 13 orang (92,9%), pekerjaan sektor swasta 7 orang (50,0%), pendidikan SMA 9 orang (64,3%), kawin 11 orang (78,6%), suku Batak 10 orang (71,4%), domisili di Medan dan di luar Medan jumlah sama 7 orang (50,0%).

Lama hemodialisis 25-36 bulan yang terbanyak usia 45-54 tahun 4 orang (57,1%), jenis kelamin laki-laki 4 orang (57,1%), pekerjaan sektor swasta 3 orang (42,9%), pendidikan SMA 7 orang (100,0%), kawin 6 orang (85,7%), suku Batak 4 orang (57,1%), domisili di luar Medan 4 orang (57,1%).

Lama hemodialisis 37-48 bulan, jumlah subjek sama pada usia 35-44, 45-54 dan 55-64 sebanyak 1 orang (33,3%), jenis kelamin laki-laki 3 orang (100.0%), pekerjaan sama jumlah subjek yang pensiunan, PNS dan sektor swasta sebanyak 1 orang (33,3%), pendidikan sama jumlah subjek yang SMP, SMA dan S1 sebanyak 1 orang (33,3%), kawin 3 orang (100,0%), suku non Batak 3 orang (100,0%), domisili di Medan 2 orang (66,7%).

Lama hemodialisis 49-60 bulan, jumlah subjek yang usia 35-44 tahun dan 55-44 tahun sama 3 orang (42,9%), jenis kelamin laki-laki 4 orang (57,15), pekerjaan sektor swasta 3 orang (42,9%), pendidikan SMA 4 orang (57,1%), kawin 5 orang (71,4%), suku Batak 4 orang (57,1%), domisili di Medan 5 orang (71,4%).

Lama hemodialisis 61-72 bulan, jumlah subjek yang terbanyak adalah usia 35-44 tahun dan 45-54 tahun 2 orang (40,0%), jenis kelamin laki-laki 4 orang (80,0%), pekerjaan sektor swasta 4 orang (80,0%), pendidikan SMA dan Akademi 2 orang (40,0%), kawin 5 orang (100,0%), suku Batak 4 orang (80,0%), domisili di luar Medan 3 orang (60,0%).

Tabel 4.3 Distribusi subjek penelitian berdasarkan skor HADS-A

Variabel 0-7 Normal 8-10 Borderline ≥ 11 Ansietas

Pada Tabel 4.3 memperlihatkan distribusi subjek penelitian berdasarkan skor HADS-A, Ditinjau dari segi usia simtom ansietas terbanyak pada kelompok usia 35-44 tahun sebanyak 12 orang (35,3%), jenis kelamin laki-laki sebanyak 24 orang (70,6%), pekerjaan sektor swasta 9 orang (26,5%), pendidikan SMA sebanyak 17 orang orang (50%), kawin 28 orang (82,4%), suku Batak sebanyak 25 orang (73,5%), dan tempat tinggal di luar Medan sebanyak 18 orang (52,9%), yang sudah menjalani terapi hemodialisis 1-12 bulan sebanyak 28 orang (82,4%).

Tabel 4.4 Distribusi subjek penelitian berdasarkan skor HADS-D

Variabel 0-7 Normal 8-10 Borderline ≥ 11 Depresi

Pada Tabel 4.4 terlihat distribusi subjek penelitian berdasarkan skor HADS-D, Ditinjau dari segi usia simtom depresi terbanyak pada kelompok usia 45-54 tahun sebanyak 14 orang (45,2%), jenis kelamin laki-laki sebanyak 24 orang (77,4%), pekerjaan sektor swasta sebanyak 15 orang (48,4%), pendidikan SMA sebanyak 21 orang (67,7%), kawin 25 orang (80,6%), suku Batak sebanyak 21 orang (67,7%), dan tempat tinggal di Medan sebanyak 18 orang (58,1%), yang sudah menjalani terapi hemodialisis 1-12 bulan sebanyak 10 orang (32,3%)

Tabel 4.5 Distribusi subjek penelitian yang mengalami campuran

Pada Tabel 4.5 terlihat distribusi subjek penelitian yang mengalami campuran simtom ansietas dan depresi, Ditinjau dari segi usia terbanyak pada kelompok usia 15-24 tahun sebanyak 3 orang (37,5%), jenis kelamin laki-laki sebanyak 6 orang (75%), pekerjaan mahasiswa sebanyak 3 orang (37,5%), pendidikan SMA sebanyak 7 orang (77,8%), berdasarkan status pernikahan sama antara kawin dan tidak kawin sebanyak 4 orang (50%), suku Batak sebanyak 8 orang (100%), dan tempat tinggal di luar Medan sebanyak 5 orang (62,5%), yang sudah menjalani terapi hemodialisis 1-12 bulan sebanyak 5 orang (62,5%)

Tabel 4.6 Rekapitulasi subjek penelitian berdasarkan skor HADS-A

SKOR HADS-A N %

Normal 22,0 27,2

Borderline 25,0 30,9

Ansietas 34,0 42,0

Total 81,0 100,0

Dari Tabel 4.6 terlihat bahwa berdasarkan skor HADS-A dari seluruh subjek penelitian didapat simtom ansietas sebanyak 34 orang (42%), borderline 25 orang (30,9%), normal 22 orang (27,2%).

Tabel 4.7 Rekapitulasi subjek penelitian berdasarkan skor HADS-D

SKOR HADS-A N %

Normal 7,0 8,6

Borderline 43,0 53,1

Depresi 31,0 38,3

Total 81,0 100,0

Dari Tabel 4.7 terlihat bahwa berdasarkan skor HADS-D dari seluruh subjek penelitian didapat simtom depresi sebanyak 31 orang (38,3%), borderline 43 orang (53,1%), normal 7 orang (8,6%).

BAB V PEMBAHASAN

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 81 subjek penelitian,

yang jika ditinjau dari karakteristik demografiknya maka yang terbanyak adalah jenis kelamin laki-laki sebanyak 56 orang (69,1%), dengan kelompok umur 45-54 tahun sebanyak 27 orang (33,3%), dengan jenis pekerjaan pada sektor swasta sebanyak 34 orang (42%), pendidikan terakhir SMA sebanyak 44 orang (54,3%), status perkawinan terbanyak yaitu kawin sebanyak 70 orang (86,4%), suku Batak sebanyak 52 orang (64,2%), dan yang bertempat tinggal di Medan sebanyak 43 orang (53,1%).

Dari hasil penelitian berdasarkan lama hemodialisis terlihat bahwa subjek yang menjani terapi hemodialisis yang terbanyak adalah 01-12 bulan dengan jumlah subjek usia 45-54 orang (33,3%), laki-laki 28 orang (62,2%), pekerjaan sektor swasta 16 orang (35,6%), pendidikan SMA 21 orang (46,7%), kawin 40 orang (88,9%), suku Batak 30 orang (66,7%), domisili di Medan 23 orang (51,1%).

Dari hasil penelitian terlihat bahwa simtom ansietas pada pasien penyakit ginjal kronik stadium 5 dialisis paling banyak terdapat pada kelompok usia 35-44 tahun sebanyak 12 orang (35,3%), meskipun jumlah subjek penelitian lebih banyak pada rentang usia 45-54 tahun. Hal ini

kemungkinan disebabkan pada usia 35-44 tahun merupakan usia paling produktif dimana terapi hemodialisis mempengaruhi produktifitas subjek penelitian. Sedangkan simtom depresi terbanyak pada kelompok usia 45-54 tahun, hal ini kemungkinan disebabkan pada usia ini seseorang seharusnya sudah mapan dan merupakan masa persiapan hari tua atau pensiun.Terapi hemodialisis mungkin menyebabkan pasien merasa masa tuanya menjadi suram.

Dari hasil penelitian diketahui bahwa simtom ansietas pada pasien penyakit ginjal kronik stadium 5 dialisis paling banyak terjadi pada jenis kelamin laki-laki sebanyak 24 orang (70,65), hal ini kemungkinan disebabkan karena subjek penelitian lebih banyak jenis kelamin laki-laki, hal yang sama juga ditemui pada kelompok simtom depresi, hal ini kemungkinan karena laki-laki sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab untuk menghidupi keluarga. Terapi hemodialisis mempengaruhi fungsinya sebagai kepala keluarga. Hal ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Bayat.25

Hasil penelitian menunjukkan bahwa simtom ansietas pada pasien penyakit ginjal kronik stadium 5 dialisis paling banyak terjadi pada kelompok pekerjaan sektor swasta sebanyak 9 orang (26,5%), untuk simtom depresi sebanyak 15 orang (48,4%), hal ini kemungkinan disebabkan subjek penelitian yang terbanyak bekerja pada sektor swasta.

Juga kemungkinan karena bekerja pada sektor swasta sangat bergantung pada kinerja dan kehadiran, dengan menjalani terapi hemodialisis

kemungkinan akan mempengaruhi kinerja dan kehadiran, sehingga akan mengurangi penghasilan.

Dari hasil penelitian terlihat bahwa simtom ansietas pada pasien penyakit ginjal kronik stadium 5 dialisis paling banyak terjadi pada kelompok tingkat pendidikan SMA sebanyak 17 orang (50%), untuk simtom depresi 21 orang (67,7%), hal ini kemungkinan karena subjek penelitian terbanyak adalah dengan tingkat pendidikan SMA.

Dari hasil penelitian terlihat bahwa simtom ansietas pada pasien penyakit ginjal kronik stadium 5 dialisis paling banyak terjadi pada subjek penelitian yang kawin sebanyak 28 orang (82,4%), untuk simtom depresi 25 orang (80,6%).Hal ini kemungkinan karena subjek penelitian terbanyak dengan status kawin. Hal ini juga kemungkinan karena dengan kondisi status kawin, memiliki tanggung jawab yang lebih besar, baik terhadap pasangan maupun anak-anak.

Dari hasil penelitian terlihat bahwa simtom ansietas pada pasien

Dari hasil penelitian terlihat bahwa simtom ansietas pada pasien

Dokumen terkait