BAB I PENDAHULUAN
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian tersebut, maka penelitian ini diharapkan memiliki manfaat sebagai berikut :
1. Manfaat Praktis
Berguna untuk mengembangkan kemampuan peneliti (wawasan dan pengalaman) dalam hal mempelajari tentang bagaimana proses pembinaan yang dilakukan pemerintah daerah kabupaten pinrang kepada masyarakat yang ada di kampung muallaf. Serta menjadi bahan evaluasi pemerintah daerah kabupaten pinrang dalam melakukan pemberdayaan masyarakat di kampung muallaf.
2. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pengembangan keilmuan dan pengetahuan, karena ada penambahan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan bagaimana proses pemerintah daearah kabupaten pinrang dalam melakukan pembinaan di kampung muallaf.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu bertujuan untuk mendapatkan bahan perbandingan dan acuan. Selaim itu, untuk menghindari anggapan kesamaan dengan penelitian ini. Maka dalam kajian pustaka ini penelitian mencantumkan hasil-hasil penelitian terdahulu sebagai berikut:
No Nama/Tahun Judul Penelitian Hasil Penellitian 1. Ramlah Hakim
Pola pembinaan muallaf di kabupaten sidrap, Sulawesi selatan , sifatnya fluktuatif dan ditandai dengan aktivitasnya yang insidentil. Aktivitas pembinaan yang diprakarsai oleh sejumlah elite keagamaan melalui berbagai yayasan/ormas keagamaan dan majelis taklim menyebabkan keberadaan muallaf diakui sebagai satu komunitas muslim yang secara sistematis mendapatkan perhatian ummat islam di kabupaten sidrap., beberapa organisasi yang tadinya didirikan untuk merespon kepentingan muallaf seperti Nahdatul Ulama (NU), Muhammadiyah,
8
pemerintah daerah bersama kementrian agama namun sifatnya temporer hilang karena politik, sehingga mengakibatkan kecenderungan ideologis yang dianut para muallaf masih konsisten dengan doktrin islam yang inklusif-moderat.
Penelitian tersebut lebih menitik beratkan pada masalah-masalahmuallaf untuk menemukan solusi mengenai bentuk pembinaan yang seharusnya dilakukan, dan untuk mengatasi problematika pembinaan muallaf penelitian tersebut menawarkan solusi berupa program konseling komprehensif pada muallaf.
Temuan penilitian tersebut dapat disimpulkan bahwa bagi komunitas Towani Tolotang, penganut yang melanggar ajaran Towani Tolotang setidaknya didekati, dinasehati dan diberikan pemahaman yang benar tentang ajaran Towani Tolotang kecuali
terkait persoalan hukum maka diserahkan kepada pihak yang berwajib.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa Towani Tolotang memiliki sederetan aturan dalam mengatur kehidupan pengikutnya, dan aturan tersebut sangat berimplikasi positif dalam kehidupan mereka.
Dari uraian tabel diatas dapat kita lihat bahwa pada penelitian terdahulu terdapat beberapa persamaan, diantarnya jenis penelitiannya sama-sama menggunakan kualitatif deduktif dan pembahasannya mengenai permasalahan muallaf. Adapun penelitian yang mengenai kearifan lokal itu memiliki kesamaan pada pembahasan keyakinan dan kepercayaan. Namun yang membedakan adalah Towani Tolotang itu tidak membutuhkan interfensi pemerintah untuk mengurusi masalah keyakinan mereka.
Berbeda dengan muallaf yang membutuhkan keterlibatan pemerintahdalam hal ini kemenag sebagai mediasi pembinaan masyarakat kampung muallaf yang ada di Kabupaten Pinrang. Berikutnya pada penelitian terdahulu juga membahas terkait muallaf namun yang membedakan adalah penelitian terdahulu lebih menitik beratkan pada pola dan bentuk pembinaan muallaf, sementara penelitian ini hanya sekedar menyinggung permasalahan pokoknya saja terkait kondisi muallaf yang ada di kabupaten pinrang dan lebih
menitik beratkan tentang sejauh mana peran pemerintah di kabupaten pinrang melakukan pembinaan tentang edukasi keagaman terhadap masyarakat dikampung muallaf.
B. Konsep Pembinaan
1.Pengertian Pembinaan
Dalam KBBI “Kamus Besar Bahasa Indonesia” pembinaan berasal dari kata “Bina” yang artinya bangun dan menndapatkan imbuhan pem- dan akhiran–an yang mempunyai arti usaha atau tindakan yang dilakukan secara efektif dan efisien untuk memperoleh usaha yang lebih baik.
Menurut Mangunhardjana (dalam Glang 2019 : 164) mengatakan bahwa pembinaan adalah terjemahan dari kata training, yang mengartikan pembinaan sebagai latihan, pendidikan, pembinaan. Jadi pembinaan disini menekankan pada pengembangnan sikap, kemampuan, dan kecakapan.
Pembinaan dapat menimbulkan serta menguatkan motivasi orang untuk memberikan stimulus dalam melakukan suatu cara yang terbaik guna mencapai tujuan dan sasaran hidupnya. Dalam pembinaan terjadi suatu proses penanggalan terhadap sesuatu yang sudah dimiliki sejak awal yaitu berupa pengetahuan, dan praktik yang sudah tidak relevan lagi dan hanya akan menghambat hidup kerja yang sedang dijalani. Sehingga tujuan hidup orang yang dalam pembinaan dapat tercapai denganefektif dan efisien dibanding yang sebelumnya. (Gilang, 2019 : 164).
Menurut B Simanjuntak dan I L Pasaribu (dalam Septika. 2020 : 139).
Pembinaan adalah upaya bagi pendidikan formal maupun non formal secara
sadar, terencana, tratur dan bertanggung jawab dalam hal menumbuhkan, membimbing, mengembangkan dasar-dasar kepribadian yang seimbang, utuh dan selaras antara pengetahuan dan keterampilan sesuai potensi, ataupun keinginan diri sendiri untuk tercapainya martabat, mutu dan kompetensi optimal dan pribadi yang mandiri.
Menurut (Mifta Thoha. 2011 : 43) Pembinaan adalah suatu tindakan, proses, hasil, atau pernyataan yang lebih baik.
Adapun pengertian pembinaan menurut Prihartati dalam (Ariessa, Nabila. 2017: 8) bahwa pembinaan dapat diartikan sebagai upaya memelihara dan membawa suatu keadaan yang seharusnya terjadiatau menjaga keadaan sebagaimana seharusnya.
Pengertian pembinaan menurut pasal 1 ayat (1) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 31 Tahun 1999 Tentang pembinaan dan pembimbingan warga binaan Pemasyarakatan adalah kegiatan untuk meningkatkan kualitas ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, intelektual, sikap dan perilaku, profesional, kesehatan jasmani dan rohani utntuk masyarakat yang dalam pembinaan.
2. Metode Pembinaan
Agmad Tafsir (dalam Nurul fadillah 2018 : 214) mengemukakan bahwa metode pembinaan yang dapat dilakukan dalam pembinaan keagamaan anatara lain adalah ( Metode kisah, Metode keteladanan dan Metode pembiasaan).
Adapun metode pembinaan akhlak menurut (Zuhairini, 1983: 89), diantaranya:
a. Metode ceramah,adalah metode yang sering digunakan dalam pembinaan yaitu suatu metode yang di dalam menyamaikan materi dengan menerangkan dan peneturan lisan. Disini pihak terbina bertindak pasif un tuk mendengarkan keterangan-keterangan yang disampaikan oleh Pembina. Metode ini bersifat satu arah. Akan tetapi untuk mengurangi kecenderungan sebagai metode satu arah, dari Penceramah kepada peserta pembinaan yang menjadi ciri khas metode ini pada akhir ceramah para peserta dirangsang dan didorong untuk mengajukan pertanyaan. Dan maksud yang terakhir ini biasa disbut metode Tanya jawab.
b. Metode tanya jawab, maksud dari metode ini adalah setelah ceramah atau penjelasan dan penerangan selesai, peserta diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dan kemudian penceramah akan menjawab pertanyaan tersebut dan bila perlu pertanyaan tersebut dilempar ke peserta lain yang bisa menjawabnya. Atau sebaliknya penceramah yang bertanya dan peserta yang menjawab.
c. Metode diskusi, adalah suatu metode di dalam mempelajari bahan atau menyampaikan bahan dengan jalan mendiskusikan, sehingga berakibat menimbulkan pengertian serta perubahan tingkah laku anak remaja. Disini remaja dengan kemampuannya mengutarakan pendapatnya mengenai masalah atau materi yang sulit dipecahkan. Dan metode ini tidak bisa
berdiri sendiri, dalam pelaksanaannya selalu dibarengi dengan metode lain.
d. Pembinaan yang kontinyu, hendaknya setiap pendidik menyadari bahwa dalam pembinaan pribadi (akhlak) anak sangat diperlukan pembiasaan-pembiasaan dan latihan-latihan yang cocok dan sesuai dengan perkembangan jiwanya. Karna pembiasaan dan latihan akan membentuk sikap tertentu pada anak. Yang lambat laun sikap itu akan bertambah jelas dan kuat, akhirnya tidak tergoyahkan lagi karena telah tertanam menjadi bagian dari pribadinya.
e. Keteladanan, akhlak yang baik tidak dapat dibentuk hanya dengan pelajaran, instruksi dan larangan, sebab tabiat jiwa untuk menerima keutamaan itu tidak cukup dengan hanya seorang pendidik atau guru mengatakan kerjakan ini dan jangan kerjakan itu, memerlukan sopan santun memerlukan pendidikan yang panjang dan harus dengan pendekatan yang lestari. Pendidikan itu tidak akan sukse, melainkan jika disertai dengan pemberian contoh yang baik dan nyata.
Abidin (dalam Gilang Cipta Kuswara 2019 : 166) mengemukakan pola pembinaan yang harus ada yaitu:
a. Pola pembinaan jasmaniah :
Kondisi jasmaniahyang sehat akan mengkondisikan seseorang dalam keadaan tubuh segar, kuat, tangkas, terampil. Sehat untuk dapat
melaksanakan tugas dan kewajibannya serta mengamalkan hak-haknya secara konstruktif.
b. Pola pembinaan budaya dan agama :
Pola ini bertujuan untuk membawa seseorang kepada suatu sistem yang pasti sesuai dengan tujuan pembangunan dan dasar negara.
c. Pola pembinaan intelek :
Pembinaan intelek dimaksudkan agar orang yang dibina dapat menggunakan intelektualitasnya dalam menangani masalah kehidupan yang dihadapinya. Sudah dimiliki maupun yang baru dipelajari untuk menumbuhkan kemandirian pribadi yang seuai.
Menurut (Muhibbin Syah 2008 : 19) dalam pembinaan dapat dilakukan strategi dibawah ini:
a. Pembinaan dengan edukasi/pendidikan :
Pembinaan edukasi atau pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui pengajaran dan pelatihan.
Program pendidikan merupakan rancangan yang dilakukan dengan cara mengajarkan dan mendidik orang yang dibina.
b. Pembinaan dengan motivasi :
Pembinaan motivasi adalah program membina dengan melakukan motivasi, support kepada yang dibina. Dalam
melakukan motivasi biasanya dengan memberikan contoh ataupun kisah
c. Pembinaan dengan penerapan nilai-nilai :
Pembinaan dengan menerapkan nilai-nilai islami adalah program pembinaan yang menanamkan nilai sebagai identitas yang melekat pada setiap orang atau kelompok yang dibina. Dengan mepraktikkan atau mengamalkan nilai-nilai tersebut maka akan memberikan defenisi, identitas yang melekat pada orang atau kelompok yang dibina.
C. Konsep Pemberdayaan
1. Pengertian Pemberdayaan
Pengertian kata berdaya dalam Pusat Bahsa artinya berkekuatan, pemberdayaan bermakna membuat lebih berdaya/berkekuatan.
Menurut (Rosidin 2017 : 180) pemberdayaan berkembang dari realitas individu atau masyarakat yang tidak berdaya atau pihak yang lemah (Powerless) baik dalam aspek pengetahuan, pengalaman, sikap, keterampilan, modal usaha, networking, semangat, kerja keras, ketekunan dan aspek lainnya.
Kelemahan itu mengakibatkan ketergantungan, ketidak berdayaan dan kemiskinan.
Pemberdayaan juga merupakan proses memberikan daya (power) kepada pihak yang lemah (powerless), dan mengurangi kekuasaan (disempowered)
kepada pihak yang terlalu berkuasa (powerfull) agar terjadi keseimbangan.
(Anwas 2014 : 49)
Menurut (Wahjudin Sumpeno 2011 : 19) pemberdayaan adalah upaya yang dilakukan oleh unsur yang berasal dari luar tatanan terhadap suatu tatanan, agar tatanan tersebut mampu berkembang secara mandiri. Dengan kata lain, pemberdayaan sebagai upaya perbaikan wujud interakoneksitas yang terdapat di dalam suatu tatanan dan atau upaya penyempurnaan terhadap elemen atau komponen tatanan yang ditujukan agar tatanan dapat berkembang secara mandiri. Jadi pemberdayaan adalah upaya yang ditujukan agar suatu tatanan dapat mencapai suatu kondisi yang memu8ngkinkan untuk membangun dirinya sendiri.
2. Pemberdayaan Masyarakat
Menurut (Widayanti 2012 87-102) mengemukakan bahwa pemberdayaan masyarakat menjadi concern publik dan dinilai sebagai salah satu pendekatan yang sesuai dalam mengatasi masalah sosial, terutama kemiskinan, yang dilaksanankann sebagai elemen mulai dari pemerintah, dunia usaha dan masyarakat melalui Organisasi Masyarakat Sipil. Aksi pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu upaya untuk memberikan daya atau kekuatan bagi masyarakat untuk dapat keluar dari permasalahan yang dihadapinya. Aksi pemberdayaan masyarakat juga dimaksudkan untuk mendirikan masyarakat agar dapat menghadapi berbagai tantangan di kehidupannya.
Pemberdayaan masyarakat merupakan suatu upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat agar mampu mewujudkan kemandirian dan melepaskan diri dari keterbelakangan baik itu pendidikan maupun menyangkut ekonomi.
Dalam proses pemberdayaan masyarakat para pendamping memiliki empat peran utama, yakni; Perama, Pran Fasilitatif; peran fasilitatif pendamping berupa motoivasi kelompok, memberikan inspirasi untuk aksi nyata, menjadi pengaruh konflik dan membentuk konsesus bersama, mendorong anggota untuk berpartisipasi aktif. Kedua, Peran Edukatif;
pendamping dituntut aktif mendidik dan memberikan masukan melalui: a) Peningkatan Kesadaran, mendorong peserta program memandang jauh kedepan dan mampu berubah; b) Penyediaan Informasi, memperluas wawasan, inspirasi (gagasan) baru, info sosial ekonomi, teknologi tepat guna, padat karya, kewirausahaan, pembangunan daerah dan sebagainya; c) Peran Mempertentangkan, membuat manejemen konflik, mendesain kesadaran sehingga para anggota tertantang mengikuti perubahan; d) Peran Melatih, memberikan pelatihan sesuai dengan kemampuan pendamping. Ketiga, mewakili komunitas berinteraksi dengan pihak luar untuk mendapatkan akses ke sumberdaya, akses pasar, negosiasi, menjambatani kemitraan: Keempat, Peran Teknis, peran teknis pendamping meliputi mejemen dan perencanaan usaha, administrasi dan keuangan, menjalin relasi, memberi konsultasi, mengelola dinamika kelompok. (Kemenakertrans RI 2013: 17-18)
D. Muallaf dan Ruang Lingkupnya
1. Pengertian Muallaf
Menurut Zein (dalam Topan Hidayat2018 : 64) Muallaf menurut mahzab maliki, sebagian menyatakan bahwa orang yang ada harapan untuk masuk islam. Sebagian yang lain menyatakan bahwa orang yang baru memeluk agama islam. Muallaf ini menunjuk pada istilah yang di gunakan untuk mereka yang baru memeluk agama islam. Meskipun demikian adapula yang memaknainya orang-orang yang keimanannya dalam islam masih lemah, betapapun telah memeluk islam sejak lahir. Muallaf biasanya digunakan untuk menyebut orang yang pindah agama ke islam. Namun secara bahasa pengertian muallaf berarti tunduk menyerah dan pasrah.
Menurut Putch (dalam Titiani danRudi 2015 : 22) menyatakan bahwa muallaf adalah mereka yang telah melafalkan kalimat Syahadat dan termasuk golongan muslimyang perlu diberikan bimbingan dan perhatian oleh golongan yang lebih memahami Islam. Setelah mengucapkan kalimat syahadat, asumsi yang muncul adalah individu akan mulai mendalami islam.
2. Kedudukan Muallaf dalam Islam
Pada masa Nabi SAW para muallaf tersebut diposisikan sebagai penerima zakat untuk menjaga kelestarian mereka kepada Islam dengan terus melakukan pembinaan dan pengajaran tentang agama Islam. Salahsatu alasan Nabi SAW memberikan zakat kepada mereka adalah menyatukan hati mereka kepada
Islam. oleh karna itu mereka dinamakan al-Mallafah Qulubuhum. Syarif Hade Masya (dalam Faridatus Syuhadak 2017 : 53).
Menurut Haidar Barong Pada masa pemerinthan Ummar Bin Khatab beliau memperlakukan ketetapan penghapusan bagian untuk para muallaf karena ummat islam telah kokoh dan kuat. Para muallaf tersebut juga telah menyalahgunakan pemberian zakat dengan enggan melakukan syariat dan menggantungkan kebutuhan hidup dengan zakat sehingga mereka enggan berusaha.
E. Kerangka Pikir
Dalam rangka untuk melancarkan proses pemberdayaan muallaf yang dilakukan pemerintah daerah Kabupaten Pinrang, tentu perlu sebuah konsep pembinaan sebagai tolak ukur untuk menilai apakah sejauh ini pembinaan mullaf yang ada di Kabupaten Pinrang sudah berjalan dengan baik atau sebaliknya. Minimal ada tiga poin yang mencakup yaitu:
1.) Edukasi/Pendidikan 2.) Pemberian Motivasi
3.) Penerapan Nila-Nilai Islami
Kerangka pikir ini memiliki fungsi sebagai tolak ukur pembinaan masyarakat di Kampung Muallaf. Berikut di bawah ini gambar 2.1 terkait bagan kerangka pikir:
Bagan Kerangka Pikir
F. Fokus Penelitian 1. Edukasi 2. Motivasi
3. Penerpan Nilai-Nilai G. Deskripsi Fokus Penelitian
1. Pembinaan edukasi atau pendidikan, bagaimana metode pembinaan yang dilakukan kemenagdengan cara mengedukasi atau mendidik masyarakat muallaf yang ada di Kabupaten Pinrang. Apabila masyarakat yang ada di
Peran Pemerintah Kabupaten Pinrang Dalam Pembinaan Masyarakat Di Kampung Muallaf.
1. Edukasi 2. Motivasi
3. Penerapan Nilai-Nilai
Terwujudnya Pembinaan Masyarakat Muallaf Di Dusun Patambia Kelurahan Betteng Kecamatan
Lembang Kabupaten Pinrang
kampung muallaf memiliki pola sikap dan tingkah laku yang lebih islami, maka sudah dapat dikatan bahwa kemenag dalam melakukan pembinaan masyarakat di kampung muallaf Kaupaten Pinrang itu sudah berperan aktif.
2. Pembinaan motivasi,sejauh mana kemenag melakukan supportterhadap masyarakat yang adadi kampung muallaf Kabupaten Pinrang sehingga masyarakat kampung muallafmilitan dan resisten serta optimis untuk terus menjalankan keyakinan yang baru mereka anut. Jika kedepannya muallaf yang ada di Kabupaten Pinrang jumlahnya relatifsemakin bertambah artinya apa yang sudahdi ajarkan dapat berimplikasi luas di masyarakat. Sehingga dapat dikatakan bahwa kemenag sudah menjalankan perannya dengan baik dalam pembinaan masyarakat muallaf di Kabupaten Pinrang.
3. Pembinaan dengan menerapkan nilai-nilai islami. Terakhir bagaiman pola pembinaan yang dilakukan kemenag dalam menanamkan nilai sebagai identitas yang melekat pada setiap orang atau kelompok yang dibina.
Apabila masyarakat muallaf mengaplikasikan danmengamalkan nilai-nilai islami dalam kesehariannya, maka dengan sendirinya akan memberikan defenisi, identitas yang melekat pada masyarakat yang ada di kampung muallaf. Jika hal itu sudah diterapkanoelah masyarakat yang ada di kampung muallaf Kabupaten Pinrang maka program-program pembinaan dapat dikatakan sudah terealisasi.
23 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama 2 (dua) bulan, mulai dari tanggal 28 November 2020 sampai pada tanggal 28 Januari 2021. Lokasi penelitian ini dilakukan di Kampung Muallaf KabupatenPinrang, dengan alasan ingin mengetahui pembinaan yang diberikan kepada masyarakat muallaf karena adanya konflik yang terjadi akibat keykainan baru yang sebagaian masyarakat anut akhirnya memunculkan sekte dan batas terhadap mayoritas kepada minoritas. Akibat konflik tersebut akhirnya muallaf yang ada di desa makula dan sebagian kecil didesa mesakada yang merasa termarjinalkanberinisiatif untuk membuat tempat menetap dengan harapan inginmenjalani kehidupannya dengana tenang dalam menjalankan identitasnya sebgai muslim. Karena akses yang sangat jauh dari kecamatan sehingga pemerintah juga tidak rutin dalam memberikan pembinaan. Peneliti ingin mengetahui sejauh mana kemenag Kabupaten Pinrang membina masyarakat di Kampung Muallaf yang notabenenya beragamaKristen dan Katolik.
B. Jenis dan Tipe Penelitian
1.Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yaitu penelitian yang digunakan untuk meneliti keadaan yang alamiah. Peneliti merupakan instrument penting untuk mengumpulkan data secara trigulasi (gabungan),
analisis data yang bersifat induktif dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generelisasi (Sugiyono, 2013:1)
2. Tipe Penelitian
Tipe penelitian yang digunakan oleh penelitian adalah deskriptif kualitatif, dimana tipe penelitian ini menggambarkan atau menganalisis suatu hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebihluas (Sugiyono 2014:3) suatu bentuk penelitian yang bertujuan untuk memberikan gambaran umum berbagai macam data yang dikumpul dari lapangan secara objektif. Sedangkan dasar penelitiannya adalah survey yakni tujuan dari penelitian deskriptif ini merupakan gambaran mengenaisituasi-situasi atau kejadian-kejadian secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta terkait pembinaan masyarakat yang ada di Kampung Muallaf.
C. Sumber Data
Menurut sugiyono (2013:2) kriteria dalam penelitian kualitatif merupakan data yang pasti. Data yang pasti adalah data yang sebenarnya sebagaimana adanya, bukan data yang sekedar terlihat, terucap, tetapi data yang mengandung makna balik yang terlihat dan terucap tersebut. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data hasil penelitian yang didapatkan melalui dua sumber data, yaitu primer dan skunder.
1. Data Primer
Menurut Sugiyono (2015:403) mendefinisikan bahwa data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul
data. Pengumpulan data primer dalam penelitian ini dengan cara melakukan wawancara secara langsung dengan pihak-pihak yang berhubungan dengan proses pembinaan muallaf yang ada di Dusun Patambia, Kelurahan Betteng, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang.
2. Data Skunder
Menurut Sugiyono (2014:131) data skunder merupakan sumber data penelitian secara tidak langsung melalui media perantara diperoleh dan dicatat oleh pihak lain. Data skunder berupa dokumen-dokumen resmi, buku-buku, hasilpenelitian yang berwujud laporan dan sebagainya.
D. Informan Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menentukan informan dengan teknik Purposive Sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini, misalkan orang tersebut dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajah iobjek/situasi social yang diteliti (Sugiyono 2014:53-54)
Informan dalam penelitian ini adalah orang yang benar-benar mengetahui permasalahan yang akan diteliti. Sumber informan merupakan informasi dari pemerintah dan pihak-pihak yang terkait dengan proses pembinaan muallaf yang ada di Dusun Patambia, Kelurahan Betteng, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang.
Adapun informan tersebut sebagai berikut:
1. Kepala Kementrian Agama Kabupaten Pinrang
2. Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Lembang 3. Masyarakat Dusun Patambia/Kampung Muallaf
E. Teknik Pengumpulan Data
Menurut Sugiyono (2013:63) mendefinisikan bahwa dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan dengan natural setting (kondisi yang alamiah), sumber data primer dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi, serta wawancara dan dokumentasi. Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian data yang digunakan dalam peneliti merupakan pengumpulan data yang dilakukan dengan wawancara dengan dokumentasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Wawancara
Wawancara dilakukan dengan serangkaian tanyajawab untuk memperoleh data secara langsung dari informan penelitian. Dalam penelitian ini wawancara dilakukan dengan bertatapmuka secara langsung dengan informan dan mempertanyakan hal-hal yang erat kaitannya dengan pokok-pokok masalah yang diangkat.
2. Dokumentasi
Teknik ini merupakan teknik pengumpulan data melalui dokumen atau buku-buku yang berkaitan dengan masalah yang diteliti, sihingga menunjang kerelevanan data. Metode dokumentasi digunakan untuk mengungkap serta melengkapi informasi yang berkaitan dengan pokok permasalahan.
3. Observasi
Adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam pengamatan secara langsung terhadap objek yang akan diteliti, sehingga mendapatkan data-data factual dari objek tersebut.
F. Teknik Analisis Data
Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dikemukakan oleh Miles dan A.Michael Hurman dalam Sugiyono (2012:92) memiliki tiga langkah sebagai berikut:
1. Data Reduction ( Reduksi Data)
Reduksi data berarti merangkum, memilih hal yang pokok dan memfokuskan padahal; yang penting. Reduksi data juga berarti komponen pertama dalam analisis data yang memperpendek, mempertegas dan membuang hal yang dirasa tidak penting ataupun tidak berkaitan dengan focus penelitian sehingga penarikan kesimpulan dapat dilakukan.
2. Data Display (Penyajian Data)
Penyajian data adalah bentuk rakitan data dalam uraian singkat.
Menyajikan data yang sering digunakan dalam penelitan kualitatif adalah bersifat naratif. Hal ini dimaksudkan untuk memahami apa yang terjadisecara lebih mudah.
3. Conclusion Drawing (Penarikan Kesimpulan)
Langkah terakhir dari model ini adalah penarikan kesimpuilan.
Kesimpulan dalam penelitian mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal namun juga tidak, karena masalah dan rumusan