• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI DISUSUN OLEH : HAMZAH Nomor Stambuk:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI DISUSUN OLEH : HAMZAH Nomor Stambuk:"

Copied!
77
0
0

Teks penuh

(1)

KAMPUNG MUALLAF DI KABUPATEN PINRANG

DISUSUN OLEH :

HAMZAH

Nomor Stambuk: 1056 40188 714

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2021

(2)

i

Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S1) Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

HAMZAH

Nomor Stambuk: 105640188714

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2021

(3)

iv

(4)

i

(5)

i

(6)

v ABSTRAK

Hamzah, 2021. Peran Kementrian Agama Dalam Pembinaan Masyarakat Kampung Muallaf Di Kabupaten Pinrang (dibimbing oleh Dr. Amir Muhiddin.

M,Si dan Fitriani Sari Handayani Razak, S.IP, MA)

Penelitian ini membahas mengenai Peran Kementrian Agama Dalam Pembinaan Masyarakat Kampung Muallaf Di Kabupaten Pinrang.Adapun rumusan maslah dalam penelitian ini terdiri dari dua bagian yang pertama, bagaimana peran dan tanggungjawab Kemenag Kabupaten Pinrang dalam melakukan pembinaan di Kampung Muallaf, yang ke dua, apakah ada aktor diluar pemerintah yang terlibat melakukan pembinaan di Kampung Muallaf. Tujuan penelitian ini yang pertama secara pribadi sebagai penulis bertambahnya wawasan dan pengalaman terkait masalah muallaf yang ada di dusun patambia yang ke dua, menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah untuk menjalankan program penyuluhan keagamaan kedepannya.

Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif dan tipe penelitian yaitu deskriptif kualitatif dengan jumlah informan sebanyak empat orang. Teknik pengumpulan data yaitu Observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis hasil penelitian menggunakan analisis dari strategi pembinaan menurut Muhibbin Syah tahun 2008 yaitu Edukasi, Motivasi, dan Penerapan Nilai-Nilai.

Analisis tersebut menunjukkan bahwa pembinaan masyarakat Kampung Muallaf di Kabupaten Pinrang merupakan upaya Pemerintah Kemenag Kabupaten Pinrang dalam mengambil peran untuk memberikan pembinaan terkait masalah agama islam dengan melakukanedukasi atau pengajaran serta memberikan motivasi baik secara teoritis maupun secara praktis dan hasil dari pengajaran tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari menjadi amaliah yang konkrit. Dan hal itu sudah berjalan meskipun masih banyak hal-hal yang perlu diperhatikan agar pembinaan yang dilakukan lebih efektif. Adapun aktor diluar pemerintahan yang ikut terlibat membina masyarakat di Kampung Muallaf baik itu edukasi secara langsung maupun fasilitas yang berorientasi pada pembinaan baik itu edukasi, motivasi, dan penerapan nilai-nilainya. Tentu dengan adanya kerjasama yang terorganisir antara aktor diluar pemerintahan dengan kemenag Kabupaten Pinrang pembinaan akan lebih maksimal, efektif, dan efisien.Untuk saat ini masyarakat Kampung Muallaf sudah mengaplikasikan sedikit dari banyaknya nilai-nilai yang terkandung dalam agama islam, dengan cara itu masyarakat di Kampung Muallaf sudah memberikan identitas dirinya sebagai muslim. Adapun dari pihak kemenag Kabupaten Pinrang itu sudah menjalankan sebagian program pembinaan keagamaan tersebut.

KATA KUNCI : Peran, Kementrian Agama, Pembinaan, Muallaf, Nilai-Nilai Islam

(7)

vi

Allah Maha Pengasih dan lagi Maha Penyayang, demikian kata untuk mewakili atas segala karunia dan nikmatnya-Nya. Jiwa ini tidak akan berhenti bertahmid atas karunia yang diberikan disetiap detik waktu, denyut jantung, gerak langkah, serta rasa dan rasio pada-Mu Sang Khalik. Skripsi ini adalah setitik dari sederajat berkah-Mu.

Setiap insan dalam berkarya selalu mencari kesempurnaan, tetapi terkadang kesempurnaan itu terasa jauh dari kehidupan seseorang. Kesempurnaan bagaikan fatamorgana yang semakin dikejar semakin menghilang dari pandangan, bagai pelangi yang terlihat indah dari kejauhan, tetapi menghilang ketika didekati.

Demikian juga tulisan ini, kehendak hati ingin mencapai kesempurnaan, tetapi kapasitas penulis dalam keterbatasan. Segala daya dan upaya telah penulis kerahkan untuk membuat tulisan ini selesai dengan baik dan bermanfaat dalam dunia pendidikan, khususnya dalam ruang lingkup Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Makassar.

Motivasi dari berbagai pihak sangat membantu dalam penyelesaian tulisan ini. Segala rasa hormat, penulis mengucapkan terima kasih kepada orang tua.

Teristimewa buat Bapak Andeng dan Ibu Halipa yang telah berjuang, berdo’a, mengasuh, membesarkan, mendidik dan membiayai penulis dalam proses mencari

(8)

vii

ilmu. Demikian pula penulis mengucapkan kepada keluarga yang tak henti- hentinya memberikan motivasi dan selalu menemani penulis dengan candanya.

Kepada bapak Dr. Amir Muhiddin, M.Si selaku pembimbing I dan Ibu Fitriani Sari Handayani Razak, S.IP, MAselaku pembimbing II yang dengan tulus dan ikhlas meluangkan waktunya memberikan bimbingan, petunjuk, arahan serta dorongana motivasi kepada penulis sejak awal hingga selesainya skripsi ini.

Tidak lupa juga penulis mengucapkan terima kasih kepada;. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar Dr.

Hj. Ihyani Malik, S.Sos., M.Si dan Dr. Nuryanti Mustari, S.IP., M.Si selaku ketua jurusan Ilmu Pemerintahan serta seluruh dosen dan staf pegawai dalam lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah membekali penulis dengan serangkaian ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi penulis.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman seperjuangan penulis, yang selalu menemani dalam suka dan duka, dan juga kepada seluruh rekan mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan angkatan 2014 atas segala kebersamaan, motivasi, saran dan bantuannya kepada penulis yang telah memberikan dukungan dalam hidup penulis.

Telalu banyak orang yang berjasa dan mempunyai andil kepada penulis selama menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar, sehingga tidak akan muat bila dicantumkan dan dituturkan semuanya dalam ruang yang

(9)

viii

terbatas ini, kepada mereka semua tanpa terkecuali penulis ucapkan terima kasih yang teramat dalam dan penghargaan yang setinggi-tingginya untuk anda semua.

Akhirnya tak ada gading yang tak retak, tak ada ilmu yang memiliki kebenaran mutlak, tak ada kekuatan dan kesempurnaan, dan tak ada cinta yang abadi semuanya hanya milik Allah SWT., karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun guna penyempurnaan dan perbaikan skripsi ini senantiasa dinantikan dengan penuh keterbukaan

Makassar, 28 Februari 2021 Penulis,

HAMZAH

(10)

ix

Halaman Pernyataan Keaslian Karya Ilmiah ... iv

Abstrak ... v

Kata Pengantar ... vi

Daftar Isi ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8

A. Penelitian Terdahulu ... 8

B. Konsep Pembinaan ... 11

C. Konsep Pemberdayaan ... 16

D. Muallaf dan Ruang Lingkupnya... 19

E. Kerangka Pikir ... 20

F. Fokus Penelitian ... 21

G. Deskripsi Fokus Penelitian ... 21

BAB III METODE PENELITIAN... 23

A. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 23

B. Jenis dan Tipe Penelitian ... 23

C. Sumber Data ... 24

D. Informan Penelitian ... 25

E. Teknik Pengumpulan Data ... 25

F. Teknik Analisis Data ... 27

G. Pengabsahan Data ... 28

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 30

A. Deskripsi Objek Penelitian... 30

B. Peran Kementrian Agama Dalam Pembinaan Masyarakat Kampung Muallaf di Kabupten Pinrang ... 45

C. Keterlibatan Aktor Dalam Pembinaan Masyarakat Kampung Muallaf Di Kabupaten Pinrang ... 56

BAB V PENUTUP ... 59

A. Kesimpulan ... 59

B. Saran ... 61

DAFTAR PUSTAKA ... 62

RIWAYAT HIDUP ... 66

(11)

1 BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Manusia adalah individu yang memiliki kebebasan untuk memilih keyakinan dan kepercayaaan serta bertanggungjawab atas pandangan hidup yang ditentukan oleh dirinya sendiri, apakah yang diperoleh dari keluarga atau dari pengalaman dalam hal ini lingkungan sekitarnya atau melalui pendidikan baik itu pendidikan formal atau non formal seperti universitas maupun lembaga-lembaga yang berorientasi pada edukasi keagamaan seperti organisasi yang berbasis agama dll. Diabad ini kebutuhan manusia dan permasalahan yang dihadapi semakin kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut maka modal utama yang harus dimiliki seseorang adalah ketenangan jiwa.

Ketenangan jiwa ini dapat diperoleh melalui Agama.

Di Indonesia penduduknya sangat majemuk dilihat dari suku, budaya, dan bahkan agama. Beberapa agama di dunia bisa hidup berkembang dan berdampingan di Negara ini serta menjunjung tinggi hak asasi manusi (HAM), kebebasan beragama, dan membri perlindungan terhadap semua pemeluk agama dalam mengamalkan, menjalankan ajaran agamanya. Sebagaimana yang telah diatur dalam UUD Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

(Zaenal Abidin, 2005 : 20).

Berkaitan dengan kebebasan beragama, UUD 1945 pasal 29 ayat (2) menyebutkan: Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing untuk beribadah menurut agama dan

(12)

kepercayaan itu. Agama-agama yang dapat dipilih dan diakui di Indonesia adalah islam, Kristen, katolik, hindu, budha, dan konghuchu.

Mengingat agama juga merupakan salah satu kebutuhan saat ini, maka tidak sedikit dari individu yang ada dimasyaarakat selektif dalam menentukan kepercayaan yang ia anut sehingga banyak orang yang beralih dari agama yang ia anut sejak kecil. Di Indonesia misalnya, penduduk yang mayoritas muslim tentu memilik dampak atau pengaruh bagi minoritas agama yang ada di Indonesia. Pengaruh tersebut terlihat saat beberapa media elekronik dan sosial media yang meliput relatif banyaknya orang yang berbondong-bondong masuk islam atau dengan kata lain muallaf. Tentu hal ini memiliki dampak bagi kebijakan pemerintah daerah dalam memfasilitasi kebutuhan masyarakatnya bukan hanya pada wilayah materi berupa finansial dan sarana yang berkaitan dengan agama islam akan tetapi pembinaan terhadap muallaf termasuk edukasi pendidikan keagamaan yang bersifat primer jauh lebih penting untuk diterapkan.

Bukan berarti sarana keagamaan lainnya seperti fasilitas berupa finansial, tempat ibadah dan alat-alat peribadatan lainnya itu tidak penting.

Meskipun bersifat sekunder tetap diperlukan sebagai spirit dalam berkeyakinan sebab hasil dari pendidikan keagamaan itu akanbermuara pada pengamalan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari sebagai ummat yang beragama.

Artinya pendidikan keagamaan dan fasislitas keagamaan adalah dua dikatomi yang tidak boleh dipisahkan, harus dipandang sebagai satu kesatuan yang utuh ibarat dua mata uang yang tidak terpisahkan. Jadi, keduanya sama-sama

(13)

penting dalam kehidupan beragama akan tetapi penelitian ini lebih memfokuskan pada pendidikan keagamaan yang bersifat primer sebagai tahapan awal yang haru dilalui sebagai orang yang baru memeluk agama termasuk muallaf.

Dalam kegiatan pemberdayaan atau pembinaan terhadap Muallaf menjadia suatu hal yang tidak kalah penting. Karena sebagian orang yang menjalani keyakinan baru haruslah memahami prinsip-prinsip ajarannya.

Karena merupakan pedoman hidup yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Suatu hal yang mustahil apabila seseorang dapat memetik manfaat dari suatu ajaran sedangkan tidak mempelajari dan memahami ajaran tersebut.

(Anwar R. Prawira 2000: 1)

Untuk memenuhi kebutuhan muallaf dalam pembinaan agar lebih optimal suatu hal yang tidak mudah. Diperlukan strategi dan metode yang baik dengan sistem pembinaan berupa kajian dan program-program yang lain. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan (Deddy Mulyana, 2007: 6) dalam bukunya Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar; bahwa komunikasi yang memungkinkan individu membangun suatu kerangka rujukan dan menggunakannya sebagai panduan untuk menafsirkan situasi apapun yang dihadapi. Komunikasi pula yang memungkinkannya mempelajari dan menerapkan strategi-strategi adaptif untuk mengatasi situasi-situasi problematic yang iamasuki.

Untuk itu dituntut tidak hanya memahami prosesnya, tapi juga mampu menerapkan pengetahuan kita secara kreatif. Menurut (Onang Uchyana, 2004:

5) dalam bukunya Dinamika Komunikasi, komunikasi yang efektif adalah

(14)

komunikasi dalam makna yang distimulasikan serupa atau sama dengan yang dimaksudkan komunikator, pendeknya komunikasi adalah makna bersama.

Setiap ummat islam berkewajiban membina muallaf. Baik itu secara individu, kelompok maupun organisasi ataupun instansi. Pemerintah dalam hal ini, juga memiliki peran dan fungsi sertatanggungjawab untuk memperhatikan dan memfasilitasi pendidikan keagamaan, baik yang menyangkut tentang pendidikan, tenaga kependidikan, dana, maupun sarana prasarana pendidikan lainnya. Sebab pendidikan edukasi keagamaan merupakan kebutuhan primer bagi pemeluknya terutama muallaf. Karena bagaimana mungkin memilih suatu agama atau keyakinan tertentu sebagai suatu kebenaran ketika pengetahuan terkait agama yang dianutsama sekali tidak ada. Atas dasar itulah pendidikan keagamaan sangat penting untuk dilakukan.

Pendidikan agama menempati posisi strategis karena spiritnya telah tercantum secara tegas di dalam rumusan sila pertama pancasila, pembukaan UUD 1945, dan juga dalam UUD 1945 pasal 31, ayat (3) dinyatakan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu system pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan juga dioperasionalkan melalui UU No. 20/2003 tentang SNP-PP.32 pengganti PP.19/2005, PP 55/2007, PMA 16/2010 dan KMA 211/201.

Di Kabupaten Pinrang tepatnya di Kecamatan Lembang., terdapat suatu wilayah yang dikenal dengan nama kampung muallaf. Kondisi masyarakat yang ada di kampung muallaf tentu memerlukan sedikit perhatian lebih dari

(15)

pemerintah setempat untuk memberi haknya sebagaimana yang telah diatur dalam UUD 1945 pasal 31, ayat (3) informasi terakhir yang dapat di identifikasi terkait persoalan ini bahwa masyarakat yang ada di kampung muallaf sudah mendapat beberapa bantuan terkait persoalan sarana baik itu sejenis finansial ataupun barang-barangyang diperlukan.

Lain halnya dengan kebudayaan atau tradisi yang diwariskan dari generasi kegenerasi. Pada gilirannya kelompok atau ras tersebut tidak menyadari darimana asal warisan kebijaksanaan itu. Sehinggga generasi berikutnya terkondisikan dan menerima kebenaran itu sebagai nilai, kepercayaan, dan standar perilaku dalam masyarakat. Atas dasar kepercayaan itulah muncul istilah kearifan lokal seperti Towani Tolotang yang ada di Kabuten Sidenreng Rappang misalnya, yang tidak memerlukan secara intens interfensi pemerintah daerah dalam melakukan pemberdayaan apalagi yang terkait tentang nilai dan kepercayaan.

Bagi masyarakat muallaf yang ada di Kabupaten Pinrang tentu berbeda dengan kearifan lokal Towani Tolotang yang ada di Kabupaten Sidrap dimana masyarakatnya sudah memiliki aturan tersendiri berdasarkanwarisan dari generasi ke genrasi yang disebut kearifan lokal.Sedangkan muallaf yang ada di Kabupaten Pinrang tidak mempunyai landasan kuat terkait masalah keyakinan yang akan dijadikan sebagai pedoman hidup sehingga masih memerlukan edukasi dari berbagai pihak baik itu pemerintah dalam hal ini kementerian agama, yayasan dan ormas keagamaan yang ada di Kabupaten Pinrang. Bagi instansi yang punya tanggungjawab untuk melakukan pembinaan terhadap

(16)

muallaf tentu diharapkan agar mempunyai perhatian lebih dalam membina masyarakat kampung muallaf di Kabupaten Pinrang.

Namun sejauh yang bisa dipentalisir bantuan yang diberikan kepada masyarakat yang ada di kampung muallaf hanya dilakukan oleh beberapa yayasan/ormas keagamaanyang ada di Kabupaten Pinrang, dan sebagian juga di lakukan oleh mahasiswa yang notabenenya berdomisili di sekitar daerah Kelurahan Betteng. Belum terlihat ada gerakan bantuan dari pemerintah setempat baik itu Kemenag yang ada di Kabupaten Pinrang. Sementara itu UUD 1945 pasal 31 jelas diatur tentang hak-hak warga negara untuk mendapatkan edukasi pengajaran baik itu pendididkan formal maupun non formal.

Berdasarkan uraian diatas itulah yang mendorong peneliti untuk menyusun sebuah program penelitian yang berjudul: Peran Kementrian Agama dalam Pembinaan Masyarakat Kampung Muallaf di Kabupaten Pinrang

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang peneliti tersebut, maka penulis merumuskan permasalahan penelitian yaitu :

1. Apa peran dan tanggung jawab Kementrian Agama dalam melakukan pembinaan masyarakat Kampung Muallaf di Kabupaten Pinrang?

2. Apakah ada aktor non pemerintah yang terlibat dalam pembinaanmasyarakatKampung Muallaf di Kabupaten Pinrang ?

(17)

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui sejauh manaKementrian Agama dalam melakukan pembinaan masyarakatKampung Muallaf di Kabupaten Pinrang

2. Untuk mengetahui aktor-aktor yang terlibat dalam proses pembinaan masyarakatKampung Muallafdi Kabupaten Pinrang

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian tersebut, maka penelitian ini diharapkan memiliki manfaat sebagai berikut :

1. Manfaat Praktis

Berguna untuk mengembangkan kemampuan peneliti (wawasan dan pengalaman) dalam hal mempelajari tentang bagaimana proses pembinaan yang dilakukan pemerintah daerah kabupaten pinrang kepada masyarakat yang ada di kampung muallaf. Serta menjadi bahan evaluasi pemerintah daerah kabupaten pinrang dalam melakukan pemberdayaan masyarakat di kampung muallaf.

2. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pengembangan keilmuan dan pengetahuan, karena ada penambahan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan bagaimana proses pemerintah daearah kabupaten pinrang dalam melakukan pembinaan di kampung muallaf.

(18)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu bertujuan untuk mendapatkan bahan perbandingan dan acuan. Selaim itu, untuk menghindari anggapan kesamaan dengan penelitian ini. Maka dalam kajian pustaka ini penelitian mencantumkan hasil- hasil penelitian terdahulu sebagai berikut:

No Nama/Tahun Judul Penelitian Hasil Penellitian 1. Ramlah Hakim

(2016 )

Pola pembinaan muallaf di kabupaten sidrap provensi

sulawesi-selatan

Pola pembinaan muallaf di kabupaten sidrap, Sulawesi selatan , sifatnya fluktuatif dan ditandai dengan aktivitasnya yang insidentil. Aktivitas pembinaan yang diprakarsai oleh sejumlah elite keagamaan melalui berbagai yayasan/ormas keagamaan dan majelis taklim menyebabkan keberadaan muallaf diakui sebagai satu komunitas muslim yang secara sistematis mendapatkan perhatian ummat islam di kabupaten sidrap., beberapa organisasi yang tadinya didirikan untuk merespon kepentingan muallaf seperti Nahdatul Ulama (NU), Muhammadiyah,

8

(19)

pemerintah daerah bersama kementrian agama namun sifatnya temporer hilang karena politik, sehingga mengakibatkan kecenderungan ideologis yang dianut para muallaf masih konsisten dengan doktrin islam yang inklusif-moderat.

2.

3.

Sri Hidayati (2013)

Muh Rusli (2012)

Problematika pembinaan muallaf di kota singkawang dan solusinya melalui program

konseling dan komprehensif

Kearifan lokal masyarakat Towani Tolotang di Kabuten Sidenreng Rappang

Penelitian tersebut lebih menitik beratkan pada masalah-masalahmuallaf untuk menemukan solusi mengenai bentuk pembinaan yang seharusnya dilakukan, dan untuk mengatasi problematika pembinaan muallaf penelitian tersebut menawarkan solusi berupa program konseling komprehensif pada muallaf.

Temuan penilitian tersebut dapat disimpulkan bahwa bagi komunitas Towani Tolotang, penganut yang melanggar ajaran Towani Tolotang setidaknya didekati, dinasehati dan diberikan pemahaman yang benar tentang ajaran Towani Tolotang kecuali

(20)

terkait persoalan hukum maka diserahkan kepada pihak yang berwajib.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa Towani Tolotang memiliki sederetan aturan dalam mengatur kehidupan pengikutnya, dan aturan tersebut sangat berimplikasi positif dalam kehidupan mereka.

Dari uraian tabel diatas dapat kita lihat bahwa pada penelitian terdahulu terdapat beberapa persamaan, diantarnya jenis penelitiannya sama-sama menggunakan kualitatif deduktif dan pembahasannya mengenai permasalahan muallaf. Adapun penelitian yang mengenai kearifan lokal itu memiliki kesamaan pada pembahasan keyakinan dan kepercayaan. Namun yang membedakan adalah Towani Tolotang itu tidak membutuhkan interfensi pemerintah untuk mengurusi masalah keyakinan mereka.

Berbeda dengan muallaf yang membutuhkan keterlibatan pemerintahdalam hal ini kemenag sebagai mediasi pembinaan masyarakat kampung muallaf yang ada di Kabupaten Pinrang. Berikutnya pada penelitian terdahulu juga membahas terkait muallaf namun yang membedakan adalah penelitian terdahulu lebih menitik beratkan pada pola dan bentuk pembinaan muallaf, sementara penelitian ini hanya sekedar menyinggung permasalahan pokoknya saja terkait kondisi muallaf yang ada di kabupaten pinrang dan lebih

(21)

menitik beratkan tentang sejauh mana peran pemerintah di kabupaten pinrang melakukan pembinaan tentang edukasi keagaman terhadap masyarakat dikampung muallaf.

B. Konsep Pembinaan

1.Pengertian Pembinaan

Dalam KBBI “Kamus Besar Bahasa Indonesia” pembinaan berasal dari kata “Bina” yang artinya bangun dan menndapatkan imbuhan pem- dan akhiran–an yang mempunyai arti usaha atau tindakan yang dilakukan secara efektif dan efisien untuk memperoleh usaha yang lebih baik.

Menurut Mangunhardjana (dalam Glang 2019 : 164) mengatakan bahwa pembinaan adalah terjemahan dari kata training, yang mengartikan pembinaan sebagai latihan, pendidikan, pembinaan. Jadi pembinaan disini menekankan pada pengembangnan sikap, kemampuan, dan kecakapan.

Pembinaan dapat menimbulkan serta menguatkan motivasi orang untuk memberikan stimulus dalam melakukan suatu cara yang terbaik guna mencapai tujuan dan sasaran hidupnya. Dalam pembinaan terjadi suatu proses penanggalan terhadap sesuatu yang sudah dimiliki sejak awal yaitu berupa pengetahuan, dan praktik yang sudah tidak relevan lagi dan hanya akan menghambat hidup kerja yang sedang dijalani. Sehingga tujuan hidup orang yang dalam pembinaan dapat tercapai denganefektif dan efisien dibanding yang sebelumnya. (Gilang, 2019 : 164).

Menurut B Simanjuntak dan I L Pasaribu (dalam Septika. 2020 : 139).

Pembinaan adalah upaya bagi pendidikan formal maupun non formal secara

(22)

sadar, terencana, tratur dan bertanggung jawab dalam hal menumbuhkan, membimbing, mengembangkan dasar-dasar kepribadian yang seimbang, utuh dan selaras antara pengetahuan dan keterampilan sesuai potensi, ataupun keinginan diri sendiri untuk tercapainya martabat, mutu dan kompetensi optimal dan pribadi yang mandiri.

Menurut (Mifta Thoha. 2011 : 43) Pembinaan adalah suatu tindakan, proses, hasil, atau pernyataan yang lebih baik.

Adapun pengertian pembinaan menurut Prihartati dalam (Ariessa, Nabila. 2017: 8) bahwa pembinaan dapat diartikan sebagai upaya memelihara dan membawa suatu keadaan yang seharusnya terjadiatau menjaga keadaan sebagaimana seharusnya.

Pengertian pembinaan menurut pasal 1 ayat (1) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 31 Tahun 1999 Tentang pembinaan dan pembimbingan warga binaan Pemasyarakatan adalah kegiatan untuk meningkatkan kualitas ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, intelektual, sikap dan perilaku, profesional, kesehatan jasmani dan rohani utntuk masyarakat yang dalam pembinaan.

2. Metode Pembinaan

Agmad Tafsir (dalam Nurul fadillah 2018 : 214) mengemukakan bahwa metode pembinaan yang dapat dilakukan dalam pembinaan keagamaan anatara lain adalah ( Metode kisah, Metode keteladanan dan Metode pembiasaan).

(23)

Adapun metode pembinaan akhlak menurut (Zuhairini, 1983: 89), diantaranya:

a. Metode ceramah,adalah metode yang sering digunakan dalam pembinaan yaitu suatu metode yang di dalam menyamaikan materi dengan menerangkan dan peneturan lisan. Disini pihak terbina bertindak pasif un tuk mendengarkan keterangan-keterangan yang disampaikan oleh Pembina. Metode ini bersifat satu arah. Akan tetapi untuk mengurangi kecenderungan sebagai metode satu arah, dari Penceramah kepada peserta pembinaan yang menjadi ciri khas metode ini pada akhir ceramah para peserta dirangsang dan didorong untuk mengajukan pertanyaan. Dan maksud yang terakhir ini biasa disbut metode Tanya jawab.

b. Metode tanya jawab, maksud dari metode ini adalah setelah ceramah atau penjelasan dan penerangan selesai, peserta diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dan kemudian penceramah akan menjawab pertanyaan tersebut dan bila perlu pertanyaan tersebut dilempar ke peserta lain yang bisa menjawabnya. Atau sebaliknya penceramah yang bertanya dan peserta yang menjawab.

c. Metode diskusi, adalah suatu metode di dalam mempelajari bahan atau menyampaikan bahan dengan jalan mendiskusikan, sehingga berakibat menimbulkan pengertian serta perubahan tingkah laku anak remaja. Disini remaja dengan kemampuannya mengutarakan pendapatnya mengenai masalah atau materi yang sulit dipecahkan. Dan metode ini tidak bisa

(24)

berdiri sendiri, dalam pelaksanaannya selalu dibarengi dengan metode lain.

d. Pembinaan yang kontinyu, hendaknya setiap pendidik menyadari bahwa dalam pembinaan pribadi (akhlak) anak sangat diperlukan pembiasaan- pembiasaan dan latihan-latihan yang cocok dan sesuai dengan perkembangan jiwanya. Karna pembiasaan dan latihan akan membentuk sikap tertentu pada anak. Yang lambat laun sikap itu akan bertambah jelas dan kuat, akhirnya tidak tergoyahkan lagi karena telah tertanam menjadi bagian dari pribadinya.

e. Keteladanan, akhlak yang baik tidak dapat dibentuk hanya dengan pelajaran, instruksi dan larangan, sebab tabiat jiwa untuk menerima keutamaan itu tidak cukup dengan hanya seorang pendidik atau guru mengatakan kerjakan ini dan jangan kerjakan itu, memerlukan sopan santun memerlukan pendidikan yang panjang dan harus dengan pendekatan yang lestari. Pendidikan itu tidak akan sukse, melainkan jika disertai dengan pemberian contoh yang baik dan nyata.

Abidin (dalam Gilang Cipta Kuswara 2019 : 166) mengemukakan pola pembinaan yang harus ada yaitu:

a. Pola pembinaan jasmaniah :

Kondisi jasmaniahyang sehat akan mengkondisikan seseorang dalam keadaan tubuh segar, kuat, tangkas, terampil. Sehat untuk dapat

(25)

melaksanakan tugas dan kewajibannya serta mengamalkan hak-haknya secara konstruktif.

b. Pola pembinaan budaya dan agama :

Pola ini bertujuan untuk membawa seseorang kepada suatu sistem yang pasti sesuai dengan tujuan pembangunan dan dasar negara.

c. Pola pembinaan intelek :

Pembinaan intelek dimaksudkan agar orang yang dibina dapat menggunakan intelektualitasnya dalam menangani masalah kehidupan yang dihadapinya. Sudah dimiliki maupun yang baru dipelajari untuk menumbuhkan kemandirian pribadi yang seuai.

Menurut (Muhibbin Syah 2008 : 19) dalam pembinaan dapat dilakukan strategi dibawah ini:

a. Pembinaan dengan edukasi/pendidikan :

Pembinaan edukasi atau pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui pengajaran dan pelatihan.

Program pendidikan merupakan rancangan yang dilakukan dengan cara mengajarkan dan mendidik orang yang dibina.

b. Pembinaan dengan motivasi :

Pembinaan motivasi adalah program membina dengan melakukan motivasi, support kepada yang dibina. Dalam

(26)

melakukan motivasi biasanya dengan memberikan contoh ataupun kisah

c. Pembinaan dengan penerapan nilai-nilai :

Pembinaan dengan menerapkan nilai-nilai islami adalah program pembinaan yang menanamkan nilai sebagai identitas yang melekat pada setiap orang atau kelompok yang dibina. Dengan mepraktikkan atau mengamalkan nilai-nilai tersebut maka akan memberikan defenisi, identitas yang melekat pada orang atau kelompok yang dibina.

C. Konsep Pemberdayaan

1. Pengertian Pemberdayaan

Pengertian kata berdaya dalam Pusat Bahsa artinya berkekuatan, pemberdayaan bermakna membuat lebih berdaya/berkekuatan.

Menurut (Rosidin 2017 : 180) pemberdayaan berkembang dari realitas individu atau masyarakat yang tidak berdaya atau pihak yang lemah (Powerless) baik dalam aspek pengetahuan, pengalaman, sikap, keterampilan, modal usaha, networking, semangat, kerja keras, ketekunan dan aspek lainnya.

Kelemahan itu mengakibatkan ketergantungan, ketidak berdayaan dan kemiskinan.

Pemberdayaan juga merupakan proses memberikan daya (power) kepada pihak yang lemah (powerless), dan mengurangi kekuasaan (disempowered)

(27)

kepada pihak yang terlalu berkuasa (powerfull) agar terjadi keseimbangan.

(Anwas 2014 : 49)

Menurut (Wahjudin Sumpeno 2011 : 19) pemberdayaan adalah upaya yang dilakukan oleh unsur yang berasal dari luar tatanan terhadap suatu tatanan, agar tatanan tersebut mampu berkembang secara mandiri. Dengan kata lain, pemberdayaan sebagai upaya perbaikan wujud interakoneksitas yang terdapat di dalam suatu tatanan dan atau upaya penyempurnaan terhadap elemen atau komponen tatanan yang ditujukan agar tatanan dapat berkembang secara mandiri. Jadi pemberdayaan adalah upaya yang ditujukan agar suatu tatanan dapat mencapai suatu kondisi yang memu8ngkinkan untuk membangun dirinya sendiri.

2. Pemberdayaan Masyarakat

Menurut (Widayanti 2012 87-102) mengemukakan bahwa pemberdayaan masyarakat menjadi concern publik dan dinilai sebagai salah satu pendekatan yang sesuai dalam mengatasi masalah sosial, terutama kemiskinan, yang dilaksanankann sebagai elemen mulai dari pemerintah, dunia usaha dan masyarakat melalui Organisasi Masyarakat Sipil. Aksi pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu upaya untuk memberikan daya atau kekuatan bagi masyarakat untuk dapat keluar dari permasalahan yang dihadapinya. Aksi pemberdayaan masyarakat juga dimaksudkan untuk mendirikan masyarakat agar dapat menghadapi berbagai tantangan di kehidupannya.

(28)

Pemberdayaan masyarakat merupakan suatu upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat agar mampu mewujudkan kemandirian dan melepaskan diri dari keterbelakangan baik itu pendidikan maupun menyangkut ekonomi.

Dalam proses pemberdayaan masyarakat para pendamping memiliki empat peran utama, yakni; Perama, Pran Fasilitatif; peran fasilitatif pendamping berupa motoivasi kelompok, memberikan inspirasi untuk aksi nyata, menjadi pengaruh konflik dan membentuk konsesus bersama, mendorong anggota untuk berpartisipasi aktif. Kedua, Peran Edukatif;

pendamping dituntut aktif mendidik dan memberikan masukan melalui: a) Peningkatan Kesadaran, mendorong peserta program memandang jauh kedepan dan mampu berubah; b) Penyediaan Informasi, memperluas wawasan, inspirasi (gagasan) baru, info sosial ekonomi, teknologi tepat guna, padat karya, kewirausahaan, pembangunan daerah dan sebagainya; c) Peran Mempertentangkan, membuat manejemen konflik, mendesain kesadaran sehingga para anggota tertantang mengikuti perubahan; d) Peran Melatih, memberikan pelatihan sesuai dengan kemampuan pendamping. Ketiga, mewakili komunitas berinteraksi dengan pihak luar untuk mendapatkan akses ke sumberdaya, akses pasar, negosiasi, menjambatani kemitraan: Keempat, Peran Teknis, peran teknis pendamping meliputi mejemen dan perencanaan usaha, administrasi dan keuangan, menjalin relasi, memberi konsultasi, mengelola dinamika kelompok. (Kemenakertrans RI 2013: 17-18)

(29)

D. Muallaf dan Ruang Lingkupnya

1. Pengertian Muallaf

Menurut Zein (dalam Topan Hidayat2018 : 64) Muallaf menurut mahzab maliki, sebagian menyatakan bahwa orang yang ada harapan untuk masuk islam. Sebagian yang lain menyatakan bahwa orang yang baru memeluk agama islam. Muallaf ini menunjuk pada istilah yang di gunakan untuk mereka yang baru memeluk agama islam. Meskipun demikian adapula yang memaknainya orang-orang yang keimanannya dalam islam masih lemah, betapapun telah memeluk islam sejak lahir. Muallaf biasanya digunakan untuk menyebut orang yang pindah agama ke islam. Namun secara bahasa pengertian muallaf berarti tunduk menyerah dan pasrah.

Menurut Putch (dalam Titiani danRudi 2015 : 22) menyatakan bahwa muallaf adalah mereka yang telah melafalkan kalimat Syahadat dan termasuk golongan muslimyang perlu diberikan bimbingan dan perhatian oleh golongan yang lebih memahami Islam. Setelah mengucapkan kalimat syahadat, asumsi yang muncul adalah individu akan mulai mendalami islam.

2. Kedudukan Muallaf dalam Islam

Pada masa Nabi SAW para muallaf tersebut diposisikan sebagai penerima zakat untuk menjaga kelestarian mereka kepada Islam dengan terus melakukan pembinaan dan pengajaran tentang agama Islam. Salahsatu alasan Nabi SAW memberikan zakat kepada mereka adalah menyatukan hati mereka kepada

(30)

Islam. oleh karna itu mereka dinamakan al-Mallafah Qulubuhum. Syarif Hade Masya (dalam Faridatus Syuhadak 2017 : 53).

Menurut Haidar Barong Pada masa pemerinthan Ummar Bin Khatab beliau memperlakukan ketetapan penghapusan bagian untuk para muallaf karena ummat islam telah kokoh dan kuat. Para muallaf tersebut juga telah menyalahgunakan pemberian zakat dengan enggan melakukan syariat dan menggantungkan kebutuhan hidup dengan zakat sehingga mereka enggan berusaha.

E. Kerangka Pikir

Dalam rangka untuk melancarkan proses pemberdayaan muallaf yang dilakukan pemerintah daerah Kabupaten Pinrang, tentu perlu sebuah konsep pembinaan sebagai tolak ukur untuk menilai apakah sejauh ini pembinaan mullaf yang ada di Kabupaten Pinrang sudah berjalan dengan baik atau sebaliknya. Minimal ada tiga poin yang mencakup yaitu:

1.) Edukasi/Pendidikan 2.) Pemberian Motivasi

3.) Penerapan Nila-Nilai Islami

Kerangka pikir ini memiliki fungsi sebagai tolak ukur pembinaan masyarakat di Kampung Muallaf. Berikut di bawah ini gambar 2.1 terkait bagan kerangka pikir:

(31)

Bagan Kerangka Pikir

F. Fokus Penelitian 1. Edukasi 2. Motivasi

3. Penerpan Nilai-Nilai G. Deskripsi Fokus Penelitian

1. Pembinaan edukasi atau pendidikan, bagaimana metode pembinaan yang dilakukan kemenagdengan cara mengedukasi atau mendidik masyarakat muallaf yang ada di Kabupaten Pinrang. Apabila masyarakat yang ada di

Peran Pemerintah Kabupaten Pinrang Dalam Pembinaan Masyarakat Di Kampung Muallaf.

1. Edukasi 2. Motivasi

3. Penerapan Nilai-Nilai

Terwujudnya Pembinaan Masyarakat Muallaf Di Dusun Patambia Kelurahan Betteng Kecamatan

Lembang Kabupaten Pinrang

(32)

kampung muallaf memiliki pola sikap dan tingkah laku yang lebih islami, maka sudah dapat dikatan bahwa kemenag dalam melakukan pembinaan masyarakat di kampung muallaf Kaupaten Pinrang itu sudah berperan aktif.

2. Pembinaan motivasi,sejauh mana kemenag melakukan supportterhadap masyarakat yang adadi kampung muallaf Kabupaten Pinrang sehingga masyarakat kampung muallafmilitan dan resisten serta optimis untuk terus menjalankan keyakinan yang baru mereka anut. Jika kedepannya muallaf yang ada di Kabupaten Pinrang jumlahnya relatifsemakin bertambah artinya apa yang sudahdi ajarkan dapat berimplikasi luas di masyarakat. Sehingga dapat dikatakan bahwa kemenag sudah menjalankan perannya dengan baik dalam pembinaan masyarakat muallaf di Kabupaten Pinrang.

3. Pembinaan dengan menerapkan nilai-nilai islami. Terakhir bagaiman pola pembinaan yang dilakukan kemenag dalam menanamkan nilai sebagai identitas yang melekat pada setiap orang atau kelompok yang dibina.

Apabila masyarakat muallaf mengaplikasikan danmengamalkan nilai-nilai islami dalam kesehariannya, maka dengan sendirinya akan memberikan defenisi, identitas yang melekat pada masyarakat yang ada di kampung muallaf. Jika hal itu sudah diterapkanoelah masyarakat yang ada di kampung muallaf Kabupaten Pinrang maka program-program pembinaan dapat dikatakan sudah terealisasi.

(33)

23 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan selama 2 (dua) bulan, mulai dari tanggal 28 November 2020 sampai pada tanggal 28 Januari 2021. Lokasi penelitian ini dilakukan di Kampung Muallaf KabupatenPinrang, dengan alasan ingin mengetahui pembinaan yang diberikan kepada masyarakat muallaf karena adanya konflik yang terjadi akibat keykainan baru yang sebagaian masyarakat anut akhirnya memunculkan sekte dan batas terhadap mayoritas kepada minoritas. Akibat konflik tersebut akhirnya muallaf yang ada di desa makula dan sebagian kecil didesa mesakada yang merasa termarjinalkanberinisiatif untuk membuat tempat menetap dengan harapan inginmenjalani kehidupannya dengana tenang dalam menjalankan identitasnya sebgai muslim. Karena akses yang sangat jauh dari kecamatan sehingga pemerintah juga tidak rutin dalam memberikan pembinaan. Peneliti ingin mengetahui sejauh mana kemenag Kabupaten Pinrang membina masyarakat di Kampung Muallaf yang notabenenya beragamaKristen dan Katolik.

B. Jenis dan Tipe Penelitian

1.Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yaitu penelitian yang digunakan untuk meneliti keadaan yang alamiah. Peneliti merupakan instrument penting untuk mengumpulkan data secara trigulasi (gabungan),

(34)

analisis data yang bersifat induktif dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generelisasi (Sugiyono, 2013:1)

2. Tipe Penelitian

Tipe penelitian yang digunakan oleh penelitian adalah deskriptif kualitatif, dimana tipe penelitian ini menggambarkan atau menganalisis suatu hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebihluas (Sugiyono 2014:3) suatu bentuk penelitian yang bertujuan untuk memberikan gambaran umum berbagai macam data yang dikumpul dari lapangan secara objektif. Sedangkan dasar penelitiannya adalah survey yakni tujuan dari penelitian deskriptif ini merupakan gambaran mengenaisituasi-situasi atau kejadian-kejadian secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta terkait pembinaan masyarakat yang ada di Kampung Muallaf.

C. Sumber Data

Menurut sugiyono (2013:2) kriteria dalam penelitian kualitatif merupakan data yang pasti. Data yang pasti adalah data yang sebenarnya sebagaimana adanya, bukan data yang sekedar terlihat, terucap, tetapi data yang mengandung makna balik yang terlihat dan terucap tersebut. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data hasil penelitian yang didapatkan melalui dua sumber data, yaitu primer dan skunder.

1. Data Primer

Menurut Sugiyono (2015:403) mendefinisikan bahwa data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul

(35)

data. Pengumpulan data primer dalam penelitian ini dengan cara melakukan wawancara secara langsung dengan pihak-pihak yang berhubungan dengan proses pembinaan muallaf yang ada di Dusun Patambia, Kelurahan Betteng, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang.

2. Data Skunder

Menurut Sugiyono (2014:131) data skunder merupakan sumber data penelitian secara tidak langsung melalui media perantara diperoleh dan dicatat oleh pihak lain. Data skunder berupa dokumen-dokumen resmi, buku-buku, hasilpenelitian yang berwujud laporan dan sebagainya.

D. Informan Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti menentukan informan dengan teknik Purposive Sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini, misalkan orang tersebut dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajah iobjek/situasi social yang diteliti (Sugiyono 2014:53-54)

Informan dalam penelitian ini adalah orang yang benar-benar mengetahui permasalahan yang akan diteliti. Sumber informan merupakan informasi dari pemerintah dan pihak-pihak yang terkait dengan proses pembinaan muallaf yang ada di Dusun Patambia, Kelurahan Betteng, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang.

Adapun informan tersebut sebagai berikut:

1. Kepala Kementrian Agama Kabupaten Pinrang

(36)

2. Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Lembang 3. Masyarakat Dusun Patambia/Kampung Muallaf

E. Teknik Pengumpulan Data

Menurut Sugiyono (2013:63) mendefinisikan bahwa dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan dengan natural setting (kondisi yang alamiah), sumber data primer dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi, serta wawancara dan dokumentasi. Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian data yang digunakan dalam peneliti merupakan pengumpulan data yang dilakukan dengan wawancara dengan dokumentasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Wawancara

Wawancara dilakukan dengan serangkaian tanyajawab untuk memperoleh data secara langsung dari informan penelitian. Dalam penelitian ini wawancara dilakukan dengan bertatapmuka secara langsung dengan informan dan mempertanyakan hal-hal yang erat kaitannya dengan pokok-pokok masalah yang diangkat.

2. Dokumentasi

Teknik ini merupakan teknik pengumpulan data melalui dokumen atau buku-buku yang berkaitan dengan masalah yang diteliti, sihingga menunjang kerelevanan data. Metode dokumentasi digunakan untuk mengungkap serta melengkapi informasi yang berkaitan dengan pokok permasalahan.

(37)

3. Observasi

Adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam pengamatan secara langsung terhadap objek yang akan diteliti, sehingga mendapatkan data-data factual dari objek tersebut.

F. Teknik Analisis Data

Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dikemukakan oleh Miles dan A.Michael Hurman dalam Sugiyono (2012:92) memiliki tiga langkah sebagai berikut:

1. Data Reduction ( Reduksi Data)

Reduksi data berarti merangkum, memilih hal yang pokok dan memfokuskan padahal; yang penting. Reduksi data juga berarti komponen pertama dalam analisis data yang memperpendek, mempertegas dan membuang hal yang dirasa tidak penting ataupun tidak berkaitan dengan focus penelitian sehingga penarikan kesimpulan dapat dilakukan.

2. Data Display (Penyajian Data)

Penyajian data adalah bentuk rakitan data dalam uraian singkat.

Menyajikan data yang sering digunakan dalam penelitan kualitatif adalah bersifat naratif. Hal ini dimaksudkan untuk memahami apa yang terjadisecara lebih mudah.

3. Conclusion Drawing (Penarikan Kesimpulan)

Langkah terakhir dari model ini adalah penarikan kesimpuilan.

Kesimpulan dalam penelitian mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal namun juga tidak, karena masalah dan rumusan

(38)

masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan berkembang setelah peneliti ada dilapangan. Kesimpulan penelitian kualitatif merupakan temuan baru yang sebelumnya belum ada yang bersifat deskripsi atau gambaran yang sebelumnya belum jelas menjadi jelas.

G. Pengabsahan Data

Menurut Sugiyono (2012:121) uji keabsahan data meliputi uji kredibilitas data, uji transfer ability, uji depan ability, dan uji comfirm ability.

Keabsahan data pada penelitian ini diperiksa menggunakan uji kredibilitas data yang dilakukan dengan teknik trigulasi. Trigulasi merupakan pengecekan dengan berbagai cara, berbagai sumber, dan berbagai waktu,. Dengan demikian terdapat tiga trigulasi dalam keabsahan data, yaitu trigulasi sumber, trigulasi teknik, dan trigulasi waktu.

1. Trigulasi Sumber

Trigulasi sumber digunakan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui berbagai sumber. Kemudian beberapa sumber tersebut, data dideskripsikan data dan dikategorikan berdasarkan pandangannya sama atau tidak

2. Trigulasi Teknik

Trigulasi teknik dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Jika menghasilkan data yang berbeda-beda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut dengan sumber data yang bersangkutan atau yang lain untuk memastikan data mana yang dianggap benar.

(39)

3. Trigulasi Waktu

Trigulasi waktu dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan waktu atau situasi yang berbeda.

(40)

30 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Obyek Penelitian.

1. Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Pinrang

Deskripsi umum hasil penelitian dipaparkan dalam pembahasan ini bertujuan untuk memberi gambaran yang komprehensif tentang objek penelitian dan juga menjadi bahan informasi guna menganalisis lebih lanjut tentang Peran Kementrian Agama Dalam Pembinaan Masyarakat Muallaf Di Kabupaten Pinrang.

a. Letak Geografis dan Topografis Kabupaten Pinrang

Kabupaten Pinrang Kabupaten Pinrang secara geografis terletak antara: 30 19’ 13” – 4 0 10’ 30” Lintang Selatan, dan 1190 26’ 30” – 1190 47’ 20” Bujur Timur. Berada di sebelah utara ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, sekitar 180 km.

Adapun batas wilayah Kab.Pinrang adalah sebagai berikut:

Sebelah Utara : Kab. Tana Toraja

Sebelah Timur : Kab. Enrekang dan Kab. Sidrap Sebelah Selatan : Kotamadya Parepare

Sebelah Barat : Kab. Polmas dan Selat Makassar

Luas wilayah Kab. Pinrang adalah 1.961, 77 km2 . Secara administrasi pemerintah Kab. Pinrang terbagi menjadi 12 kecamatan, yang terdiri dari 104 desa/kelurahan. Adapun luas wilayah kecamatan terhadap luas kabupaten di Kab.

Pinrang dapat dilihat pada tabel berikut:

(41)

Tabel 1.

Gambar 1.

Peta Administrasi Kab.Pinrang (Sumber: Bappeda Kab.Pinrang)

(42)

Berikut data pada table jumlah penduduk di Kabupaten Pinrang disajikan dalam bentuk diagram dibawah ini.

Diagram 1. Jumlah Penduduk Kab. Pinrang Menurut Kecamatan

Kecamatan terpadat di Kab.Pinrang ialah Kec.Paleteang dengan kepadatan 844 penduduk/km2 . Kec. Lembang berada di urutan terakhir dengan kepadatan hanya 53 penduduk/km2.

0 5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 35,000 40,000 45,000 50,000

Jumlah Penduduk Kab. Pinrang Menurut Kecamatan

Sumber: Badan Pusat Statistik

(43)

Tabel 1. Kepadatan Penduduk Tiap Kecamatan di Kab. Pinrang

No. Kecamatan Jumlah

Penduduk

Luas Wilayah (km2)

Kepadatan Penduduk Per (km2)

1 Suppa 30.742 74.20 414

2 Mattiro Sompe 28.746 96.99 296

3 Lanrisang 17.745 73.01 243

4 Mattiro Bulu 26.179 132.49 198

5 Watang Sawitto 44.647 58.97 757

6 Paleteang 31.458 37.29 844

7 Tiroang 19.253 77.73 248

8 Patampanua 31.729 136.85 232

9 Cempa 16.929 90.30 187

10 Duampanua 46.222 291.86 158

11 Batulappa 9.518 158.99 60

12 Lembang 38.950 733.09 53

Total 342.118 1961,77 174

Sumber: Kabupaten Pinrang dalam Angka 2010 (BPS)

2. Gambaran Umum Kecamatan Lembang

Kecamatan Lembangadalah salah satu dari 12 Kecamatan yang ada didalam wilayah Kabupaten Pinrang, dan merupakan Kecamatan yang paling ujung sebelah Utara dari Kabupaten Pinrang sekaligus menjadi wilayah perbatasan antara provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Barat,yang secara geografis dapat dilihat dari batas-batas sebagai berikut:

Sebelah Utara : Kab. Polman dan Mamasa Prov. Sul-Bar Sebelah Timur : Kab.Enrekang dan Kab. Tana Toraja Sebelah Selatan : Kec.Duampanua dan Kec. Batulappa Sebelah Barat : Selat Makassar.

(44)

Kecamatan lembang mewilayahi 2 (dua) kelurahan dan 12 desa dengan luas wilayah yang meliputi 4 (empat) lingkungan, dan 33 (tiga puluh tiga) dusun ini mencapai 733,09 KM2 atau setara dengan 73,39 Ha, dengan kondisi alam ± 60% berada diatas bukit dan pegunungan dan sebagian desa tersebut belum sepenuhnya dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua. Ibukota Kecamatan Lembang adalah Kelurahan Tadokkong dengan jarak dari ibukota kabupaten pinrang adalah sejauh 37 Km, seperti pada tebel berikut:

Tabel 2.

Luas Jarak Ibukota dan Ketinggian Dari Permukaan Laut Kec. Lembang

KELURAHAN/DESA LUAS (Km2)

JARAK (Km) KETINGGIAN

DARI PERMUKIMAN

AIR LAUT (Meter) DARI

IBUKOTA KECAMATAN

DARI IBUKOTA KABUPATEN

(1) (2) (3) (4) (5)

01 Binanga Karaeng 02 Sabbang Paru 03 Tadokkong 04 Pakeng 05 Rajang 06 Latta 07 Kariango 08 Ulu Sadang 09 Betteng

10 Betteng Paremba 11 Sali-Sali

24,12 11,32 38,70 41,57 45,07 17,12 21,89 130,64 57,76 40,00 53,00

4 6 0 9 13 42 43 21 5 14 24

42 39 37 41 42 67 79 64 41 48 61

< 500

< 500

< 500

< 500

< 500

< 500

< 500

< 500

< 500

< 500

< 500

(45)

12 Suppirang

13 Lembang Mesa Kada 14 Basseang

13,59 135,00 103,31

60 34 54

96 71 91

< 500

< 500

< 500 Keacamtan Lembang

733,09 Xxx xxx xxx

Sumber: Kantor Urusan Agama Kec. Lembang 2020

TABEL 3.

BANYAKNYA PENDUDUK MENURUT AGAMA TIAP KELURAHAN/DESA KECAMATAN LEMBANG

KELURAHAN/DESA A G A M A

ISLAM KATOLIK PROTESTAN HINDU/BUDHS LAINYA JUMLAH

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Kel. Tadokkong Kel. Betteng Binanga Karaeng Benteng Paremba Rajang

Pakeng Letta Kariango Ulusaddang Basseang Sabbang Paru Lembang Mesakada Sali-Sali

Supirang

5.334 2.823 4.639 2.663 4.420 2.341 1.636 1.182 3.540 1.613 2.610 438 866 36

30 - 10 120

- - - - 11

- - 963 601 1.353

61 - 20 25 1 - - - 18

- 6 1.690

10 771

2 - - - - - - - - - - - - -

- - - - - - - - - - - 606

- 231

5.427 2.823 4.669 2.808 4.421 2.341 1.636 1.182 3.569 1.613 2.616 3.697 1.477 2.396

JUMLAH 34.141 3.093 2.602 2 837 40.675

Sumber: Mantri Statistik Kec. Lembang

(46)

Gambar 2.Peta Administrasi Kec. Lembang (Sumber: KUA Kec. Lembang)

3. Potret Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lembang

Secara factual, sejarah telah mencatat bahwa Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lembang sudah beroperasi sejak 1ahun 1968 dengan kondisi bangunan yang masih sangat darurat, nanti sekitar tahun 70-an, Kantor Urusan Agama Kecamatann Lembang dibangun secara permanen menggunakan anggaran Departemen Agama (sekarang Kementerian Agama).

Bangunan Kantor Urusan Agama Kecamatan Lembang berdiri diatas tanah seluas 29 x 27 M3, dengan ukuran bangunan seluas 9 x 9M dan merupakan tanah

(47)

wakaf dari salah seorang tokoh masyarakat Tuppu pada saat itu, yang sebelumnya lokasi kantorini pada jaman perjuangan merebut Kemerdekaan di Wilayah Kecamatan Lembang,merupakan markas pejuang dari tentara pejuang untuk memepertahankan wilayah sekitar dari serangan penjajah. Dan tanah ini sudah disertifikasi atas nama Kantor Urusan Agama (Depag) dan H. Hasan Basri tercatat sebagai Kepala KUA Kecamatan Lembang yang pertama.

Bangunan Fisik Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lembang berada di Wilayah Kelurahan Tadokkong, dan terletak di Jalan Poros Pinrang Polewali Mandar yang sekaligus kawasan ini merupakan jalur Utama transportasi darat menghubungkan Provinsi Sulawesi SSelatan dan Provinsi Sulawesi Barat, dengan posisi kantor yang berada diatas perbukitan sehin8ga untuk mencapai areal Perkantoran, melewati anak tangga sejauh ± 20 meter dari sisi jalan raya.

Kemudian disebelah utara bangunan Kantor KUA berdiri bangunan semi permanen yang diperuntukkan sebagai Rumah Jabatan Kepala KUA Kecamatan Lembang.

Dan pada bangunan Kantor KUA Lembang sendiri terdapat 7 (tujuh) Ruangan, yang masing-masing ruangan tersebut diperuntukkan untuk kepentingan:

1. Ruangan Kepala Kantor KUA

2. Ruangan Penghulu/Tempat Pelayanan Nikah dan BP-4

3. Ruangan Staf Pelaksana/ Pelayanan Administrasi Pencatatan Nikah dan Pelayanan Administasi Umum.

(48)

4. Ruangan Perpustakaan dan Mushallah

5. Ruangan Rapat/Pertemuan (AULA)

6. Gudang

7. Kamar Mandi/ WC.

Masing-masing ruangan tersebut dilengkapi dengan beberapa kelengkapan dan peralatan Mobiler yang cukup layak untuk mendukung proses pelayanan kepada masyarakat, walaupun sesungguhnya Kantor Urusan Agama Kecamatan Lembang sangat mengnarapkan ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai untuk memperlancartugas-tugas star Pelaksana dalam memberikan pelayanan yang maksimal Kepada masyarakat secara cepat dan memuaskan.

Semenjak berdirinya sampai dengan sekarang, Kantor Urnusan Agama (KUA) Kecamatan Lembang telah dipimpin oleh 13 (tiga belas) pejabat Kepala KUA dantelah mengalami pergantian kepala KUA sebanyak 12 (dua belas) kali masing-masingsebagai berikut :

1. H. HASAN BASRI Masa Tugas Tahun 1968- 1972

2. BALULU Masa Tugas Tahun 1972- 1978

3. H. HASAN BASRI Masa Tugas Tahun 1978- 1984

4. H.MUSTAFA JAFAR,BA Masa Tugas Tahun 1984 1990 5. ABD. KARIM BAKKARANG, B A Masa Tugas Tahun 1990- 1992 6. H. ALIMUDDIN, S.Ag Masa Tugas Tahun 1992- 1995 7. USMAN MAKKALATTUANG Masa Tugas Tahun 1995- 1996 8. Drs. H.M YUNUS JAMADI Masa Tugas Tahun 1996- 1997

(49)

9. Drs. H. AMIR HUSHAD Masa Tugas Tahun 1997 - 2000 10. ABD. MUIN MANTARING, BA Masa Tugas Tahun 2000 -2002

11. Drs.SUARDI Masa Tugas Tahun 2002-2005

12. H. MUH. TAHIR, S. A Masa Tugas Tahun 2005-2008 13. H.MUH. ZUHRI, S.Ag Masa Tugas Tahun 2008 - Sekarang

Dari kedua belas Kepala KUA tersebut, tentunya memiliki cirri khastersendiri di dalam menampilkan Visi dan Misi sebagai ujung tombak KementerianAgama dalam memberikan pelayanan, pembinaan dan penyuluhan dalam kehidupanberagama serta menjadt fasilitator dalam kehidupan lintas agama untuk membangunkerangka bengsa yang penuh toleransi.

Dalam impelementasi tugas-tugas pokok Kantor Urusan Agama (KUA)Kecamatan Lembang periode ini, Kepala KUA dibantu oleh 4 (empat) orang stafPelaksana, (Ssatu) orang Penyuluh Agama Islam Fungsional Seksi Penamas Kemenagyang diperbantukan, serta l(satu) orang Tenaga Sukarela, yang bersinergi melaksanakantugas-tugas pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabmasing-masing.

4. Program Kerja Kantor Urusan Agama (Kua) KecamatanLembang

Secara objektif, Kantor Urusan Agama Kecamatan Lembang mempunyaikomitmen untuk senantiasa memberikan pelayanan dan pembinaan keagamaan secaramaksimal kepada masyarakat, dan didalam menjalankan peran, fungsi dan tugasnya,Kantor Urusan Agama Kecamatan Lembang menerapkan beberapa kegiatan yangberkaitan dengan program unggulan yang meliputi:

(50)

a. Pelayanan Nikah Rujuk

b. Pelayanan dan Bimbingan Penasehatan Pra Nikah dan Suscatin c. Pelayanan dan Bimbingan Manasik Haji dan Umrah

d. Pelayanan dan Pembinaan Keluarga Sakinah

e. Pelayanan dan Konsultasi Krisis/Problema Keluarga f. Pelayanan dan Bimbingan Zakat, Infaq dan Shadaqah.

g. Pelayanan Akta Ikrar Wakaf dan Akta Pengganti Ikrar Wakaf h. Pelayanan Bimbingan dan Pembinaan Jaminan Produk Halal

i. Pelayanan dan pembinaan Pengembangan Kemitraan Ormas lstam dan Pelayanan Lembaga Keagamaan

j. Pelayanan dan Bimbingan Penentuan Arah Kiblat (Masjid, Mushaliah danLanggar)

k. Pelayanan Hisab Rukyat

l. Pelayanan Data Rumah Ibadah dan Lembaga Keagamaan m. Pelayanan dan Bimbingan Manajemen Kemasjidan n. Pelayanan dan Pembinaan Penyuluh Agama

o. Pelayanandan Pembinaan Kerukunan Umat Beragama.

p. Pelayanan Pembinaan Qari dan Qari'ah

q. Pelayanan dan Pembinaan Guru-Guru TPO/TPA.

Untuk memaksimalkan dan mengoptimalkan Implementasi menu layanan tersebut diatas, maka Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lembang secara khusus membentuk beberapa Lembaga Keagamaan yang nantinya diharapkan

(51)

dapat menjadi mitra kerja untuk pencapaian seluruh program kerja di tengah masyarakat yakni :

a. Lembaga Pengembangan dan Pembinaan Keagamaan (LP2A) b. Badan Penasehatan, Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP-4) c. Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an (LPTQ)

d. Badan Kesejahteraan masjid (BKM) e. Badan Amil Zakat (BAZ)

f. Majelis Ulama Indonesia (MUI)

g. Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT)

h. Badan Komunikasi Pemuda Remaja Mesjid Indonesia (BKPRMI).

Kemudian sarana lintas sektoral, Kantor Urusan Agama KecamatanLembang senantiasa melakukan kerjasama dengan Instansi Jawatan Kecamatan lannya,dalam upaya optimalisasi pelayanan, pembinaan dan petunjuk yang berhubungan langsungdengan tugas-tugas pokok Kantor Urusan Agama Kecamatan Lembang selaku InstansiTekhnis yang mengawasi bidang Keagamaan bagi Masyarakat. Hal ini sudah terkordinasidengan baik antara KUA, CAMAT, KAPOLSEK, KORAMIL, UPTD DIKPORA,PUSKESMAS, PLKB, Kepala Desa/lLurah, serta Instansi tekhnis kecamatan Lainnya.

(52)

Gambar 3.Kantor Urusan Agama Kecamatan Lembang

Sumber: KUA Kecamtan Lembang 2020

(53)

5. Gambaran Umum Kelurahan Betteng

Gambar 4. Pete Wilayah Kelurahan Betteng

Sumber: Kantor Lurah Betteng 2020

Table 4. Luas Wilayah Desa/Kelurahan Kecamatan Lembang KECAMATA

N

DESA/KELURAHA N

KODE KELURAHAN/DES

A

LUAS WILAYA

H Km2

1 2 3 4

LEMBANG TADOKKONG

BETTENNG

BINANGA KARAENG RAJANG

LETTA

ULUSADANG SUPPIRANG

73.1507.1001 73.1507.1002 73.1507.2001 73.1507.2002 73.1507.2003 73.1507.2004 73.1507.2005

38.7 57.76 24.12 45.07 17.12 130.64 13.59

(54)

BASSEANG KARIANGO

BENTENG PAREMBA PAKENG

LEMBANG MESAKADA SALI-SALI

SABBANG PARU

73.1507.2006 73.1507.2007 73.1507.2008 73.1507.2009 73.1507.2010 73.1507.2011 73.1507.2012

103.31 21.89 40 41.57 135 53 11.32 Sumber: Kantor Kelurahan Betteng

a. Orbitasi ( Jarak dari Pusat Pemerintah )

Letak Kampung Muallaf yang berada di pelosok Kelurahan Betteng sangat sulit untuk di akses pemerintahan-pemerintahan diatasnya. Hal ini disebabkan karena kondisi jalan yang memprihatinkan dan cukup jauh dari pisat

pemerintahan. Kampung ini dapat dikatakan salah satu kampung yang terisolir.

Berikut adalah jaraknya:

 Jaraj dari pemerintah Kecamatan : 17 km ± 1 jam 45 menit

 Jarak dari pemerintah Kabupaten : 45 km ± 3 jam 18 menit Tabel 5. Jumlah Penduduk Kelurahan Betteng

NO LINGKUNGAN

PENDUDUK AWAL DESEMBER 2020

PENDUDUK BULAN FEBRUARI 2020

KK Laki-

Laki Perempuan L+P Laki-

Laki Perempuan L+P

1 Karawa 552 550 1.102 552 550 1.102 315

2 Bola Kassa 421 469 890 421 469 890 242

Gambar

Diagram 1. Jumlah Penduduk Kab. Pinrang Menurut Kecamatan
Tabel 1. Kepadatan Penduduk Tiap Kecamatan di Kab. Pinrang
Gambar 2.Peta Administrasi Kec. Lembang (Sumber: KUA Kec. Lembang)
Gambar 3.Kantor Urusan Agama Kecamatan Lembang
+3

Referensi

Dokumen terkait

&#34;Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaanya itu.&#34;.. Undang-undang nomor

Jaminan negara terhadap warga negarauntuk memeluk dan beribadah diatur dalam UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 29 ayat (2) yang berbunyi, ”Negara

• Kebebasan beragama dalam negara Pancasila telah diperjelas dalam beberapa pasal-pasal dalam UUD 1945, yaitu Pasal 28E bahwa “Setiap orang bebas memeluk agama dan

Secara implisit kebebasan untuk tidak beragama di Indonesia memang tidak diatur dalam UU, namun kalau dicermati, UUD 1945 Pasal 29 (2) sebenarnya merupakan jaminan bagi warga

Moderasi beragama harus dimaknai sebagai perwujudan pengamalan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, yang mana negara menjamin akan kebebasan (kemerdekaan) setiap

Dikarenakan kemerdekaan beragama tidak boleh dikurangi dengan alasan apapun sebagaimana diatur dalam Pasal 28 I ayat (1) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyebutkan

Dikarenakan kemerdekaan beragama tidak boleh dikurangi dengan alasan apapun sebagaimana diatur dalam Pasal 28 I ayat (1) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyebutkan

Banyak hal yang diatur dalam konstitusi mengenai HAM, salah satunya dalam Pasal 28E ayat (1) dan (2) dan 29 ayat (2) UUD 1945 memberikan kebebasan kepada warga negara untuk