BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Peran Kementrian Agama Dalam Pembinaan Masyarakat
Kampung muallaf di kabupaten pinrang tapatnya di kelurahan betteng dusun patambia telah menyita banyak perhatian dari berbagai khalayak diantaranya ormas, lembaga kemahsiswaan, dan pemerintah kabupaten pinrang khususnya kemenag kabupaten pinrang juga ikut terlibat mengomentari mengenai
552
Jumlah Penduduk Kelurahan Betteng per Februari 2021
Laki-Laki Perempuan L+P
maraknya isu tentang kampung muallaf yang ada di kelurahan betteng dusun patambia dan dimuat di berbagai media daring salah satunya adalah Tribun Timur .Com dengan adanya berita tentang kampung mualllaf penulis mengidentifikasi tentang seberapa jauh Kementrian Agama Kabupaten Pinrang memberikan perhatian terkait pembinaan terhadap masyarakat muallaf yang ada di Kelurahan Betteng dusun Patambia. Meskipun muallaf adalah tanggung jawab ummat tentu juga merupankan tanggung jawab pemerintah terutama kemenag yang mengurusi masalah penyuluhan dari aspek pembinaan. Untuk itu kemenag dan struktur hirarki kekuasaan yang ada dibawahnya mampu menjangkau dan memberikan penyuluhan sebagai upaya dalam melakukan pembinaan terhadap masyarakat muallaf yang ada di dusun Patambia.
Adapun strategi pembinaan yang efektif dilakukan menurut (Muhibbin Syah 2008 : 19) antara lain pembinaan dengan edukasi atau mendidik, pembinaan dalam bentuk motivasi, dan terakhir pembinaan dengan menerapkan nilai-nilai.
1. Edukasi
Potter dan Perry (2009) mengemukakan bahwa edukasi itu adalah proses interaktif yang mendorong terjadinya pembelajaran, dan pembelajaran merupakan upaya untuk menambah pengetahuan baru, sikap serta keterampilan melalui penguatan praktik dan pengalaman tertentu.
Edukasi dalam arti luas yaitu segala kegiatan belajar yang belangsung sepanjang zaman dalam segala situasi kegiatan kehidupan, berlangsung di dalam segala jenis bentuk dan tingkat lingkungan hidup, yang kemudian mendorong pertumbuhan segala potensi yang ada dalam diri individu. Dengan kegiatan
pembelajaran demikian, individu tadi mampu mengubah dan mengembangkan diri mejadi semakin dewasa, cerdas dan matang.
Dalam arti sempit, edukasi adalah seluruh kegiatan belajar yang direncanakan, dengan materi terorganisir, dilaksanakan secara terjadwal dalam sistem pengawasan, dan diberi evaluasi berdasarkan pada tujuan yang telah ditentukan.
Sehingga edukasi sangat diperlukan oleh setiap individu dalam masyarakat termasuk masyarakat muallaf yang ada di dusun patambia sebagai pengembangan diri terhadap muallaf yang baru memeluk agama Islam. Dan keterlibatan pemerintah dalam hal ini Kemenag Kabupaten Pinrang untuk melakukan edukasi tentu sangat diharapkan terutama bagi masyarkat yang ada di Kampung Muallaf.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti terhadap informan dimana yang dimaksud adalah Kasi Bimas Kemenag Pinrang terkait peran kemenag kabupaten pinrang terhadap pembinaan masyarakat di kampung muallaf beliau mengatakan bahwa:
“Mengenai perhatian kami dari Kemenag Kabupaten Pinrang terhadap pembinaan masyarakat muallaf yang ada di dusun patambia, itu sudah berjalan dengan melakukan kordinasi kepada KUA Kecamatan Lembang terkait masalah pembianaannya karena kami merasa yang lebih mengetahui kondisi sikologi, geografi masyarakat yang ada disana itu adalah KUA Kecamatan Lembang karena disamping wilayah geografis yang mendukung juga termasuk wilayah administrasinya dan memiliki program pembinaan masalah keagamaan di wilayah Kecamatan disamping itu tentu KUA Kecamatan Lembang juga punya hipotesis berupa informasi yang lengkap terkait kebutuhan masyarakat di Kampung Muallaf baik itu diperoleh secara langsung maupun tidak langsung dari masyarakat sekitar. Sehingga kami meminta dari KUA Kecamatan Lembang untuk terus mengawal dan rutin melakukan penyuluhan kepada masyarakat yang ada di Kampung Muallaf sampai mereka bisa mandiri dalam menjalankan aktifitasnya sebagai muslim.
(Wawancara dengan MI, 29 Desember 2020).”
Sehubungan dengan pernyataan diatas maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa pembinaan Kemenag Kabupaten Pinrang kepada masyarakat di Kampung Muallaf sudah berjalan, dengan mengutus tenaga penyuluh dari KUA Kecamatan Lembang untuk melakukan penyluhan di Kampung Muallaf . Bukan berarti pihak dari Kemenag Kabupaten Pinrang itu lepas dari tanggungjawab, akan tetapi aturan dan prosedurnya menyatakan bahwa KUA yang memiliki tugas dan fungsi dalam menjalankan penyuluhan agama dalam suatu wilayah kecamatan. Akan tetapi Kemenag Kabupaten Pinrang tetap memperhatikan perkembangan masyarakat yang ada di Kampung Muallaf.
Dalam (Zuhdi 2020: 3) Kantor Urusan Agama adalah instansi Kementrian Agama yang bertugas melaksanakan sebagian tugas Kantor Kementrian Agama baik yang ada di Kabupaten/Kota untuk wilayah Kecamatan. Sebagaimana ditegaskan dalam keputusan Mentri Agama Nomor 517 Tahun 2001 bahwa Kantor Urusan Agama (KUA) bertugas menjalankan sebagian tugas Kantor Kementrian Agama Kabupaten/Kota di bidang urusan Agama Islam dalam wilayah Kecamatan.
Kantor Urusan Agama adalah ujung tombak dari struktur Kementrian Agama yang berhubungan langsung dengan masyarakat dalam satu wilayah Kecamatan. Sebagai ujung tombak dari Kemenag, KUA memainkan peran yang sangat penting dalam memberikan bimbingan dan layanan kepada masyarakat. Bagaimana wujud dan bimbingan layanan yang diberikan
Kemntrian Agama Kabupaten/Kota tercermin pada pola dan corak kegiatan yang dilaksanakan oleh KUA kecamatan.
Informasi yang diperoleh peneliti tentang pembinaan masyarakat di Kampung Muallaf yang di lakukan oleh KUA Kecamatan Lembang saat wawancara dengan bagian penyuluhan, ia menyatakan bahwa:
“kami sudah melakukan penyuluhan mengenai pembinaan masyarakat di Kampung Muallaf dan pembinaan yang kami lakukan di awal itu mengajarkan tentang hal yang mendasar saja tentang keislaman seperti pengenalan huruf hijaiah, wudhu, bacaan sholat dan do’a sehari-hari dan kami juga memperkenalkan tentang kisah-kisah orang mukmin sebagai pengenalan pemuka agama sebelumnya jadi tidak hanya sekedar pengenalan syariat tapi juga pengenalan ahlak pada nabi dan raasul serta ulama-ulama yang ikut berjasa mempperkenalkan islam dengan jalan dakwah. Sehinggah mereka tidak hanya mengenal islam dalam syariat juga mengenal islam secara ahlak. (Wawancara dengan NB, 30 Desember 2020).
Adapun kesimpulan yang bisa saya tarik dari hasil wawancara peneliti dengan informan dari KUA Kecamatan Lembang bahwa dalam pembinaan masalah edukasi itu sudah dijalankan dengan baik, meskipun hanya sekedar pengenalan pokok tentang dasar-dasar islam sebagai edukasi terhadap muallaf itu sudah merupakan kemajuan besar ketika hal itu dapat di amalkan dalam kehidupan sehari-hari dan saya berkesimpula terkait masalah edukasi di Kampung Muallaf yang dilakukan bagian penyuluhan KUA Kecamatan Lembang melalui kordinasi Kemenag Kabupaten Pinrang itu sudah berjalan.
Notoadmojo dalam (Mazidatus Saniyyah, dkk 2020: 12) Edukasi merupakan segala upaya bentuk perencanaan untuk mempengaruhi perilaku untuk lebih baik pada individu, kelompok, atau masyarakat.
Dari pengakuan salahsatu masyarakat yang ada di kampung mualllaf terkait program pembinaan tentang edukasi yang dilakukan KUA Kecamtan Lembang menyatakan bahwa:
“Dari program pembinaan muallaf yang dilakukan KUA Kecamatan Lembang itu patut disyukuri, kami sudah mendapatkan pengajaran tentang dasar-dasar agama islam diantaranya kisah tentang nabi dan rasul yang membawa wahyu dan juga rukun iman dan rukun islam, kami juga diceritakan tentang kisah-kisah para tokoh muslim yang berjasa membawa islam sampai saat ini melalui dakwah islamiah. Lalu kami diperkenalkan dengan tanda baca huruf hijaiah, serta do’a dalam kehidupan sehari-hari seperti do’a tidur, do’a makan, do’a masuk mushollah dan do’a yang berhubungan langsung dengan aktifitas kita sehari-hari, dan masih banyak do’a yang mesti dihafalkan agar islam semakin kokoh dalam hati kami. (Wawancara dengan ST, 02 Januari 2021)
Terkait pernyataan diatas yang diwartakan oleh salah satu informan dari dusun patambia atau Kampung Muallaf kita dapat menarik suatu kesimpulan bahwa edukasi dalam bentuk pembelajaran yang disampaikan terkait konsep pokok ajran islam itu sudah terlaksana dengan baik. Tentu dengan adanya sinergitas antara kementrian agama yang mengkordinasi ke kantor KUA Kecamatan Lembang untuk membuatkan program terkait pembinaan dengan salah satu metode yaitu edukasi tentang agama islam di Kampung Mualllaf, sudah berjalan serta membuahkan hasil yang signifikan terhadap masyarakat muallaf yang ada di Dusun Patambia.
2. Motivasi
Para ekspert psikologi mengerucut pada satu pemahaman yang sama bahwa motovasi adalah dorongan energi yang memantik untuk melakukan sebuah perilaku atau aktifititas untuk mencapai tujuan pendidikan. Secara garis besar motivasi dibagi menjadi dua ketegori, yagn pertama adalah motivasi yang bersifat
internal atau individual (instrinsik) dan yang ke dua adalah motivasi yang bersifat eksternal atau social (ekstrinsik).
Hamalik dalam (Choirun Nisak, 2018: 3) ada dua kategori motivasi yang pertama motivasi intrinsik yang kedua ekstrinsik. Pertama, Motivasi instrinsik, motivasi jenis ini merupakan motivasi yang terlahir dari dalam diri individu secara mandiri, tanpa harus menunggu stimulus dari luar. Ke Dua jika jenis motivasi instrinsik terbangun dari dalam diri maka jenis motivasi ekstrinsik merupakan sebaliknya yaitu dorongan yang terlair dari faktor eksternal, diluar diri individu.
Jadi Motivasi ekstrinsik merupkan suatu keinginan yang tercipta atas dorongan dari luar diri seseorang (stimulus).
Dilihat dari kategorinya, motivasi yang dilakukan oleh pihak KUA Kecamatan Lembang saat melakukan penyuluhan di kampung muallaf tentu jenis motivasi ekstrinsik seperti yang dikemukakan oleh salah satu pegawai KUA Kecamatan Lembang yang bertugas melakukan penyuluhan mengatakan bahwa:
“kami melakukan dorongan kepada masyarakat muallaf untuk terus semangat dalam menjalankan keyakinan baru yang mereka anut, sehingga kami juga menyampaikan beberapa kisah inspiratif para tokoh islam yang meberikan semacam preseden sebagai penguatan bahwa islam itu adalah agama yang diridhoi Allah SWT. Jadi setelah menyampaikan kisah itu dengan harapan ada stimulus dalam diri setiap individu yang ada di kampung muallaf untuk mengenal lebih jauh tentang islam, atau paling tidak islam selalu kokoh dalam hatinya.
(Wawancara dengan NB, 30 Desember 2020).
Dari hasil wawancara diatasdapat disimpulkan bahwa jenis motivasi yang digunakan dalam melakukan pembinaan yaitu jenis motivasi yang digunakan dalam melakukan pembinaan yaitu jenis motivasi ekstrinsik sebab masih mebutuhkan factor dari luar untuk memberikan stimulus dalam mencapai tujuan.
Menurut (Akhmad Sudrajat 2008: 1) motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energy) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanankan suatu kegiatan, baik yang bersumber dalam diri individu (Intrinsick) maupun yang bersumber dari luar diri individu (Ekstrinsik)
Senada dengan apa yang disampaikan salah satu masyarakat yang ada di Kampung Muallaf selaku informan dalam penelitian ini bahwa:
“kami sangat tertarik dengan kisah yang disampaikan kepada kami atau cerita dari tokoh para orang-orang mukmin yang berjuang membela agama allah sampai mereka mendapatkan kemuliaan disisis Allah Swt dan yang membuat kami tambah yakin karena kedudukan muallaf dilihat dari sudut pandang agama islam itu sangat di muliakan dan diberi keistimewaan khusus seperti zakat. (Wawancara dengan ST, 02 Januari 2021).
Dari penyampaian informan diatas dapat disimpulkan bahwa memang pembinaan dengan motivasi yang dilakukan KUA Kecamatan Lembang sangat signifikan pengaruhnya terhadap apa yang dialami oleh informan dari salah satu masyatrakat kampung muallaf, meskipun demikian tetap harus ada pendampingan secara massif yang dilakukan oleh kemenag dan pihaknya agar pembinaan itu bisa berjalan dengan efektif .
3. Penerapan Nilai-Nilai
Dalam (Samhi, 2017: 168) Nilai adalah sesuatu yang abstrak dan tidak dapat diraba, dirasa, dilihat dan ruang lingkupnya sangtlah luas. Nilai sangat erat kitannya dengan pengertian-pengertian dan aktifitas manusia yang kompleks, sehingga sulit ditentukan batasannya, karerena keabstrakannya itu maka Drajat
mengemukakan berbagai macam pengertin tentang nili diantaranya sebagai berikut:
a. Nilai adalah suatu perangkat keyakinan atau perasaan yang diyakini sebagai suatu identitas yang memberikan corak yang khusus kepada pola pemikiran, perasaan, keterkaitan maupun perilaku.
b. Nilai adalah suatu pola normatif, yang menentukan tingkah laku yang di inginkan bagi suatu system yang ada kaitannya dengan lingkungan sekitar tanpa membedakan fungsi-fungsi bagian-bagiannya.
c. Nilai adlah rujukan dan keyakinan dalam menetukan pilihan.
d. Nilai adalah kualitas empiris yang tidak dapat didefenisikan tetapi hanya dapat dialami dan dipahami secara langsung.
e. Nilai merupakan sesuatu yang bersifat abstrak, ideal bukan benda konkrit, bukan fakta, bukan hanya persoalan benar salah yang menuntu pembuktian empirik, melainkan soal penghayatan yang dikehendaki, disenangi dan tidak disenangi.
Berdasarkan dari beberpa uraian diatas tentang nilai dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa nili merupakan sesuatu yang abstrak, ideal, dan menyagkut persoalan keyakinan terhadap yang di kehendaki, dan memberikan corak pada pola pemikiran, perasaan dan perilaku. Akan tetapi kebstrakan nilai itu dapat dikongkritkan dalam bentuk yang nyata. Nur Cholis Madjid (Cak Nur) pernah mengatakan dalam salah satu ceramahnya bahwa Nilai-nilai keislaman dapat diwujudkan dalam bentuk amaliah yang konkrit (amal shaleh).
Demikian halnya dengan masyarakat yang ada di Kampung Muallaf setelah mendapatkan penyuluhan berupa edukasi dan motivasi tentang dasar-dasar keislaman dari berbagai pihak, baik dari Kementrian Agama Kabupaten Pinrang maupun instansi yang ada dibawah kemenag dan aktor non pemerintahan.
Hal ini bertujuan untuk mengaplikasikan atau menerapkan nilai-nilai dalam masyarakat dengan harapan identitas masyarakat muallaf sebagai muslim itu terdefinisikan.
Berdasarkan uraian tersebut nilai-nilai yang diwujudkan dalam bentuk amaliah yang konkrit dalam hal ini islam dilihat dari aspek syariat itu telah di implementasikan. Seperti yang dikemukakan oleh salah satu informan yang ada di kampung muallaf menyatakan bahwa:
“Adasalah seorang dari Kampung Muallaf yang bisa memimpin shalat berjamaah akan tetapi karena orangnyamasih berstatus pelajar sehingg lebih banyak beraktifitas diluar Kampung Muallaf jadi sewaktu-waktu tidak sempat memimpin shalat brjamaah. Salain itu syariat islam yang dilakukan seperti puasa juga telah diaplikasikan meskipun masih ada sebagian masyarakat muallaf yang belum terbiasa menjalankannya. Dan tentu masih banyak sayariat islam yang belum kami jalankan namun dapat kita lihat sendiri bahwapengaplikasian nilai-nilai islam itu sudah berjalan. (Wawancara dengan ST, 02 Januari 2021).
Dari hasil wawancara diatas dapat peneliti simpulkan bahwa secara mendasasar kewajiban masyarakat muallaf sebagai orang muslim sebagian kecil dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi ada salah seorang dari masyarakat kampung muallaf yang bisa memimpin shalat berjamaah atinya tanpa interfensi orang lain penerapan nilai-nilai islam yang wajib dan pokok itu dapat dijalankan.
Adapun maasalah adab atau perilaku orang islam dalam kehidupan sehari-hari itu dilakukan sesuai dengan edukasi pengeajaran yang diperoleh seperti yang disampaikan informan peneliti dari Kampung Muallaf bahwa:
”Sejauh ini kami juga berupaya mengubah pola hidup kita sehari-hari mulai dari mengucap salam saat berpapasan dan mengunjungi kerabat sampai pada do’a yang kami hafalkan seperti do’a makan, tidur da n ada beberapa do’a yang pokok tentu do’a yang bersentuhan langsung dengan aktifitas keseharian kita. Kami dari masyarakat muallaf tidak lagi yang beternak babi sebagai hasil pendapatan kami saat belum menyatakan diri sebagai muslim atau mullaf apalagi mengonsumsi hal-hal yang diharamkan seperti anggur dan termasuk juga daging babi.
Jadi kebiasaan-kebiasaan itu yang kami coba tanamkan dalam kehidupan sehari-hari agar kami mencermikan perilaku orang muslim pada umumnya. (Wawancara dengan ST, 02 Januari 2021).
Kesimpulan dari hasil wawancara tersebut dilihat dari aspek sosialnya itu telah menunjukkan identitas mereka sebagai orang muslim karena secara umum wujud dari pengapliksiannya seperti yang disampaikan informan dari Kampung Muallaf itu sudah mencerminkan adab seorang muslim dengan tujuan agar identitas dirinya sebagai orang muslim itu dapat terdefinisikan artinya penerapan nili-nilai islam dalam kehidupan sehari-hari secara umum sudah menunjukkan hasil yang signifikan sehingga pembinaan muallaf dengan menerapkan nilai-nilai dapat dikatakan berjalan.
Namun pembinaan dalam penerapan nilai-nilai yang dilakukan kemenag tentu masih jauh dari kata ideal sebab masih ada beberapa nilai-nilai islam yang belum ditanamkan dalam pembinaan masyarakat di Kampung Muallaf. Madjid dalam (Samhi 2017: 169-170)menyatakan bahwa terdapat beberapa macam nilai-nilai agama yang mendasar yang harus ditanamkan pada seorang yang baru memeluk agama islam dan kegiatan menanamkan nilai-nilai pembinaan inilah yang menjadi inti dari agama. Diantaranya nilai-nilai yang sangat mendasar itu ialah a) Iman, b) Islam, c) Ihsan, d) Taqwa, e) Ikhlas, f) Tawakkal, dan g) Syukur.
C. Aktor Yang Terlibat Dalam Pembinaan Masyarakat Kampung Muallaf Di Kabupaten Pinrang
Selain pemerintah dalam hal ini Kementrian Agama Kabupaten Pinrang yang berkordinasi dengan KUA Kecamatan Lembang untuk melakukan pembinaan, juga adaaktor diluar pemerintah seperti ATC (Aksi Cepat Tanggap), Indosat, Mahasiswa Unismuh, Masiswa Umpar dan Mahasiswa Cokroaminoto. Adapun lembaga kepemudaan yang terlibat dalam membina masyarakat seperti Pusaka dan Ikatan Mahasiswa Pattinjo yang terlibat dalam pembinaan masyarakat di Kampung Muallafyang berperan memberikan edukasi, motivasi serta penerapan nilai-nilai tentang agama islam.
1. Edukasi
Adapun aktor lain yang terlibat dalam pembinaan masyarakat di Kampung Muallaf untuk memberikan edukasi pengajaran mengenai pemahaman yang dasar dan pokok tentang ajaran islam seperti yang dikatakan oleh salah satu masyarakat yang ada di Kampng Muallaf bahwa:
“Memang ada beberapa aktor lain yang berperan besar terkait masalah pembinaan di Kampung Muallaf diantaranya ACT (Aksi Cepat Tanggap) dan Indosat, meskipun hanya sebagai fasilitator dalam memberikan edukasi kepada kami tapi itu sangat berdampak besar bagi masyarakat di Kampung Muallaf. Adapun pembinaan secara langsung dari beberapa ormas dan mahasiswa dari berbagai kampus salah satunya yang sering datang memberikan edukasi yaitu mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Makassar dan organisasi mahasiswa yang ada di pare-pare dan pinrang. (Wawancara dengan GR, 02 Januari 2021).
Dari hasil wawancara diatas dapat penulis simpulkan bahwa bukan hanya pihak dari pemerintah yang merasa memliki tanggung jawab kepada masyarakat yang ada di Kampung Mallaf akan tetapi ada aktor diluar pemerintahan yang
melakukan edukasi di Kampung muallaf sebagai bentuk rasa tanggung jawab ummat untuk memberikan perhatian kepada muallaf yang membutuhkan pengajaran agar mereka dapat menjalankan aktifitas kesehariannya sebagia orang muslim.
Edukasi memiliki tujuan untuk mengembangkan kecerdasan, kepribadian, individu, kelompok atau masyarakat dan mendidik ahlak menjadi ahlak yang lebih mulya dari perilaku sebelum mendapatkan edukasi. (Mzidatus Saniyah, dkk 2020: 12)
2. Motivasi
Tidak dinafikkan bahwa ada aktor diluar pemerintah yang meberikan dampak besar terkait motivasi masyarakat di Kampung Mualla seperi yang dikatakan oleh salahsatu informan dari Kampung muallaf ia menyatakan bahwa:
“Adapun lembaga diluar pemerintah yang selalu memberikan pembinaan di Kapung Muallaf. Mereka memberikan kami pengajaran dan fasilitas tentang kebutuhan pokok masyarakat. Tentu k ami merasa harus lebih serius dalam membekali diri agar pengajaran yang mereka lakukan tidak sia-sia sehingga membuat mereka lebih senang dan kami selalu ingat berkat perannyalah kami mendapat perhatian dari barbagiai khalayak termasuk pemerintah. (Wawancara dengan GR, 02 Januari 2021).
Senada dengan apa yang disampaikan salah satu masyarakat di Kampung Muallaf sebagai informan peneliti saat diwawancarai dilokasi penelitian ia menyatakan bahwa:
“kami juga merasa semangat untuk belajar tentang islam lebih baik karena dilihat dari banyaknya orang yang peduli terhadap kami sehingga itu memberikan dorongan tersendiri bagi kami untuk melakukan perubahan pada sikap kami agar usaha mereka itu
membuahkan hasil dari perubahan sikap dari kami. (Wawancara dengan ST, 02 Januari 2021).
Dari hasil waawancara diatas peneliti menarik satu kesimpulan bahwa masyarakat muallaf termotivasi untuk lebih serius belajar tentang agama islam karena melihat dari periaku aktor diluar pemerintahan yang memberi perhatian lebih kepada masyarakat Kampung Muallaf dalam melakukan kontribusi sesuai dengan kemampuannya. Sehingga masyarakat muallaf memiliki beban moral untuk lebih serius mempelajari tentang islam. Dilihat dari kategorinya pengaruh motivasi yang dibawah oleh Aktor ini adalah motivasi (intrinsik).
3. Penerapan Nilai-Nilai
Dalam hal aktor non pemerintah hanya sebagai fasilitatorterkait penerapan nilai-nilai islam di kampung muallaf seperti yang dikemukakan oleh salahsatu informan dari Kampung Muallaf menyatakan bahwa:
“Ada beberapa aktor yang memfasilitasi tiga imam untuk dipersiapkan sebagai pengganti imam dari Kampung Muallaf yang berhalangan dalam memimpin shalat berjamaah dikarenakan kesibukannya diluar diluar Kampung Muallaf karena orang itu masih berstatus mahasiswa.
Jadi dengan adanya imam pengganti kami sangat terbantu dengan kelancaran ibadah yang kami jalankan seperti shalat berjamaah.
(Wawancara dengan ST, 02 Januari 2021).
Kesimpulan yang dapat ditarik yaitu masyarakat Kampung Muallaf tetap dapat menjalankan kewajibannya sebagai ummat islam dalam hal ini shalat berjamaah karena ada peran aktor non pemerintah yang memfasilitasi pengganti imam jika sewaktu-waktu salah seorang dari Kampung Muallaf yang bisa memimpin shalat berjamah ada kesibukan diluar Kampung Muallaf dikarenakan statusnya sebagai pelajar. Sehingga penerapan nilai-nilai islam yang mendasar dan pokok tetap bisa dijalankan oleh masyarakat muallaf.
59 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian diatas tentang Peran Kementrian Agama Dalam Pembinaan Masyarakat Di Kampung Muallaf, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Peran Kementrian Agma dan Aktor-Aktor diluar pemerintah yang terlibatdalam pembinaan masyarakat di Kampung Muallaf
a. Edukasi
Edukasi yang dilakukan Kemenag Kabupaten Pinrang dengan mengutus pihaknya dari KUA Kecamatan Lembang dalam rangka memberikan pengajaran terkait konsep ajaran pokok dalam islam itu sudah berjalan dengan baik. Dengan adanya aktor diluar pemerintah yang ikut terlibat melakukan edukasi di Kampung muallaf sebagai
Edukasi yang dilakukan Kemenag Kabupaten Pinrang dengan mengutus pihaknya dari KUA Kecamatan Lembang dalam rangka memberikan pengajaran terkait konsep ajaran pokok dalam islam itu sudah berjalan dengan baik. Dengan adanya aktor diluar pemerintah yang ikut terlibat melakukan edukasi di Kampung muallaf sebagai