• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penelitian

Dalam dokumen SKRIPSI. Indriani Nur NIM (Halaman 24-0)

BAB 1 PENDAHULUAN

E. Manfaat Penelitian

Berikut bermacam kegunaan yang bisa didapatkan oleh penelitian ini ialah antara lain:

1. Untuk Siswa

Siswa dapat terlatih menyelesaikan dan dapat mempelajari lebih mendalam soal PISA pada konten space and shape yang ada disediakan internet supaya dapat dijadikan referensi untuk mengikuti tes PISA.

Selain itu, akan mempermudah siswa pada pemecahan masalah pada kehidupan setiap hari.

2. Untuk Guru

Melalui pengkajian ini, guru bisa mendapatkan materi ajar yang sama dengan soal PISA pada konten space and shape, kemudian dapat mengapresiasi dalam perbaikan evaluasi pembelajaran dan sebagai alternatif dalam memperkaya variasi pembelajaran sehingga dapat digunakan untuk melatih kemampuan penalaran matematis siswa.

3. Untuk Sekolah

Soal PISA pada konten space and shape bisa digunakan di sekolah agar dapat mengembangkan kemampuan penalaran matematis siswa

tidak sekedar dalam waktu penelitian belaka, tetapi bisa memberikan pengaruh bagi sekolah untuk melaksanakan tes PISA selanjutnya.

4. Untuk Peneliti

Peneliti bisa mendapatkan wawasan langsung dari mendeskripsikan kemampuan matematis siswa juga dapat memperoleh inspirasi bagi peneliti berikutnya akan melakukan penelitian kemampuan matematis siswa.

11 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Hakikat Matematika

Istilah Matematika berasal dari kata Yunani mathemata, yang berarti

"mempelajari", dan dalam bahasa Belanda dikenal sebagai wiskunde, yang berarti

"ilmu yang tepat".

Berikut pengertian matematika menurut beberapa ahli; Menurut Russefendi (Heruman, 2012) menyatakan bahwa matematika adalah bahasa simbolik, ilmu deduktif yang menolak bukti induktif, dan ilmu tentang pola dan struktur yang terorganisir. Menurut Kenney (Abidin, Mulyati, and Yunansah, 2018) menyatakan bahwa matematika adalah bahasa yang hanya dipelajari di sekolah dan tidak dapat dipakai diluar sekolah, sehingga untuk separuh besar siswa, proses belajar sama halnya dengan mempelajari bahasa kedua dalam hal matematika.. Menurut Hudoyono (Ambarwati, 2018) matematika merupakan ilmu yang berhubungan dengan bentuk atau struktur. Berdasarkan beberapa pengertian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa matematika adalah dasar dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang memiliki simbol sehingga proses belajar sama halnya dengan mempelajari bahasa kedua dalam hal matematika.

Matematika juga ilmu pengetahuan yang selalu meningkat seiringdengan kebutuhan masyarakat, maka harus adanya perubahan pembelajaran dalam kelas proses pembelajaran matematika. Penyesuaian ini harus sesuai

dengan keinginan matematika sekarang dan masa depan, dengan lebih berfokus pada kemampuan untuk berpikir dan menalar. Matematika juga dianggap sebagai metode berpikir Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa pengetahuan matematika lazim dalam kehidupan sehari-hari. Latihan matematika dan interaksi akan membantu dalam membuat keputusan terbaik.

2. Kemampuan Penalaran Matematis

a. Pengertian Kemampuan Penalaran Matematis

Menurut Gardner, dkk. (Lestari and Yudhanegara, 2018:82) mengungkapkan bahwa kemampuan penalaran matematis adalah kemampuan menganalisis, menggeneralisasi, mensitesis/mengintegrasikan, memberikan alasan yang tepat dan menyelesaikan masalah tidak rutin.

Sedangkan menurut penjelasan Keraf (Bernard, 2015) penalaran adalah proses penarikan kesimpulan yang logis berdasarkan fakta-fakta yang relevan terkait dengan pernyataan-pernyataan yang telah diketahui sebelumnya untuk mencapai suatu kesimpulan dalam permasalahan-permasalahan matematika. Selain itu, menurut Fadjar Shadiq (Nasution and Syahputra, 2014) penalaran merupakan kegiatan atau suatu proses, untuk menarik kesimpulan atau membuat suatu pernyataan baru yang benar berdasarkan beberapa pernyataan yang kebenarannya telah dibuktikan sebelumnya. Menurut Suryana (Aprilianti and Sylviana 2018), kemampuan nalar siswa adalah metode yang melaluinya dia memikirkan dan memecahkan masalah dalam indikator-indikator penalaran. Menurut Wahyudi (Astiati, 2020) penalaran matematis adalah aktivitas atau proses berfikir untuk

menarik kesimpulan dari yang telah diketahui sebelumnya. Menurut Thontowi (Astiati, 2020) menyatakan bahwa kemampuan penalaran matematis adalah proses penarikan kesimpulan yang melibatkan cara berfikir untuk mengikuti aturan yang ada dalam menangani masalah. Sedangkan menurut (Satriani, 2020) kemampuan penalaran matematis adalah kemampuan yang sangat berguna bagi siswa dikarenakan bisa menolong siswa membuat prediksi berdasarkan pengalaman, sehingga dapat memahami konsep matematika yang logis dalam mencapai suatu kesimpulan yang saling berhubungan. Menurut (Marlia, Rosalina, and Elly, 2018) penalaran matematis adalah proses berpikir yang dilakukan dengan menarik kesimpulan.

Menurut beberapa penjelasan di atas, kemampuan nalar adalah kemampuan berpikir secara rasional untuk sampai pada suatu kesimpulan atau pernyataan baru dari pernyataan-pernyataan yang telah diketahui sebelumnya. Bagi seorang siswa, penalaran matematis memiliki beberapa tujuan: tidak hanya membantu mereka memahami dan menyelesaikan tugas, tetapi juga membantu mereka memecahkan masalah saat mereka belajar matematika..

b. Indikator kemampuan penalaran matematis

Berikut indikator dari kemampuan penalaran matematis menurut Sumarmo (Lestari and Yudhanegara, 2018:82) yaitu:

1. Buat keputusan

2. Sertakan model, fakta, sifat, dan korelasi dalam penjelasan Anda.

3. Perkirakan jawaban dan prosedur penyelesaiannya

4. Menganalisis keadaan atau menghasilkan paralel dan generalisasi menggunakan pola dan korelasi.

5. Buatlah dugaan dan ujilah.

6. Munculkan contoh tandingan.

7. Ikuti prinsip inferensi dan periksa kembali kebenaran argumen.

8. Bangun argumen yang masuk akal

9. Membuat induksi langsung dan tidak langsung, serta menerapkan induksi matematika.

Adapun indikator dari kemampuan penalaran matematis (Asdarina and Ridha, 2020) yakni:

1. Membuat biaya

2. Lakukan perhitungan matematis

3. Kumpulkan fakta atau berikan pembenaran 4. Membuat keputusan

Adapun indikator kemampuan penalaran matematis menurut (Nasution and Syahputra, 2014) yaitu:

1. Menyajikan pernyataan matematika secara lisan, tertulis, diagram dan gambar

2. Melakukan manipulasi matematika

3. Menarik kesimpulan dari suatu pernyataan

4. Menyusun bukti, memberikan alasan atau bukti terhadap beberapa solusi 5. Memeriksa keshahihan suatu argumen

Selain indikator diatas, adapun indikator dari kemampuan penalaran matematis (Aprilianti and Sylviana, 2018) yaitu:

1. Membuat biaya

2. Lakukan perhitungan matematis

3. Membuat kesimpulan, mengumpulkan bukti, dan mempertahankan kebenaran solusi dengan alasan atau bukti

4. Menggunakan pernyataan untuk menarik kesimpulan 5. Memverifikasi validitas argument

5. Membuat generalisasi dengan mencari pola atau ciri-ciri dalam fenomena matematika.

Serta, indikator dari kemampuan penalaran matematis menurut (Muslimin and Sunardi, 2019) yaitu:

1. Membuat kesimpulan logis

2. Memberikan penjelasan tentang model, fakta, properti, hubungan, atau pola yang ada

3. Membuat dugaan dan bukti

4. Menggunakan pola hubungan untuk menganalisa situasi, membuat analogi, atau menggeneralisasikan.

Menurut (Oktaviana & Aini, 2021), indikator kemampuan penalaran matematis, yakni:

1. Menjelaskan hal diketahui dan ditanyakan 2. Melakukan tahap penyelesaian soal 3. Menarik kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas, indikator kemampuan penalaran matematis pada penelitian ini yaitu:

1. Mengajukan dugaan

2. Melakukan manipulasi matematika

3. Menyusun bukti atau memberikan alasan terhadap kebenaran bukti 4. Menarik kesimpulan

Kemampuan penalaran matematis mempunyai peran penting yang harus dimiliki oleh siswa karena dapat membantu siswa dalam menyimpulkan dan membuktikan suatu pernyataan, membangun gagasan baru, dan menyelesaikan masalah dalam matematika. Oleh karena itu, kemampuan penalaran matematis harus dibiasakan dan dikembangkan dalam setiap pembelajaran matematika.

3. PISA (Programme for International Student Assessment)

PISA Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) atau organisasi untuk kerjasama dan pembangunan ekonomi yang berbasis di Paris, Prancis, melakukan penelitian terhadap sistem penilaian siswa di seluruh dunia yang dikenal dengan PISA (Program for International Student Assessment). PISA merupakan penilaian global yang dilakukan oleh sekelompok negara maju yang tergabung dalam Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) melakukan PISA setiap tiga tahun

.

4. Domain PISA untuk Matematika

Ranah matematika dalam PISA memiliki tiga komponen penting yaitu kelompok konteks, isi, dan kompetensi (Johar, 2012) yaitu sebagai berikut:

a. Konten (Content)

1. Perubahan dan hubungan terjadi dalam berbagai konteks, termasuk pertumbuhan organisme, musik, siklus musim, pola cuaca, dan kondisi ekonomi. Kategori ini mencakup topik-topik seperti fungsi dan aljabar yang tercakup dalam kurikulum matematika. Dalam mendeskripsikan, memodelkan, dan menginterpretasikan perubahan suatu fenomena, bentuk aljabar, persamaan, pertidaksamaan, dan representasi dalam bentuk tabel dan grafik semuanya penting. Masalah dalam kategori ini juga membutuhkan interpretasi data.

2. Ruang dan bentuk terdapat dalam pola, atribut objek, posisi dan orientasi, representasi objek, pengkodean informasi visual, navigasi, dan interaksi dinamis yang terkait dengan bentuk nyata adalah semua contoh fenomena yang melibatkan ruang dan bentuk dalam dunia visual. Area ini mencakup lebih dari sekedar topik geometri di kelas.

3. Kuantitas adalah konsep matematika yang paling sulit dan penting dalam kehidupan. Topik ini tentang hubungan antara angka dan pola angka, termasuk kemampuan untuk memahami ukuran, pola angka, dan hal lain yang berhubungan dengan angka dalam kehidupan sehari-hari, seperti menghitung dan mengukur sesuatu. Kemampuan untuk menalar secara kuantitatif, menggambarkan sesuatu dalam angka, memahami langkah-langkah matematika, menghitung dengan hati

(perhitungan mental), dan membuat perkiraan semuanya termasuk dalam konten jumlah ini.

4. Data dan ketidakpastian (Uncertainty and data). Ketidakpastian merupakan fenomena yang menjadi inti dari analisis skenario matematis. Masalah ini diselesaikan dengan menggunakan teori statistik dan probabilitas. Pengenalan lokasi variasi dalam suatu proses, pentingnya kuantifikasi variasi ini, pengetahuan tentang ketidakpastian dan kesalahan pengukuran, dan kesadaran akan peluang/peluang semuanya termasuk dalam kategori ini (perubahan). Penyajian dan interpretasi data adalah tugas yang sulit.

b. Konteks (Context)

1. Lingkungan pribadi yang terkait langsung dengan aktivitas pribadi siswa sehari-hari. Siswa tentunya mengalami berbagai persoalan pribadi dalam kehidupan sehari-hari yang harus diselesaikan sesegera mungkin. Matematika diharapkan dapat berperan dalam interpretasi dan pemecahan masalah..

2. Konteks pendidikan dan profesional yang relevan dengan kehidupan siswa di sekolah dan/atau di tempat kerja. Pemahaman siswa tentang konsep matematika seharusnya membantu dalam perumusan konsep-konsep ini, klarifikasi masalah, dan solusi keseluruhan dari masalah pendidikan dan yang berhubungan dengan pekerjaan.

3. Kerangka yang lebih luas di mana pengetahuan matematika diterapkan dalam kehidupan sosial dan dalam lingkungan yang lebih besar dalam kehidupan sehari-hari. Siswa dapat menggunakan

penguasaan konsep dan informasi matematika untuk menganalisis berbagai masalah di masyarakat.

4. Konteks ilmiah yang secara eksplisit terikat pada kegiatan ilmiah yang lebih abstrak yang melibatkan pemahaman dan penguasaan teori untuk memecahkan masalah matematika. Konteks intra-matematis adalah nama yang diberikan untuk situasi ini.

c. Kelompok Kompetensi (Competencies Cluster) 1. Kelompok Reproduksi

Siswa diminta mendemonstrasikan pengetahuannya tentang fakta, objek dan atributnya, ekivalensi, penggunaan metode lain, algoritma konvensional, dan kemampuan teknis dalam soal PISA pada kelompok reproduksi. Pilihan ganda, jawaban singkat, dan pertanyaan terbuka termasuk di antara item dalam kategori ini (yang terbatas).

2. Kelompok Koneksi

Soal PISA dalam kelompok koneksi meminta siswa untuk mendemonstrasikan bahwa mereka dapat menghubungkan berbagai ide matematika dari berbagai sumber informasi yang terintegrasi untuk memecahkan suatu masalah. Siswa dituntut untuk mengatasi masalah yang tidak rutin tetapi tidak melibatkan banyak penerjemahan dari konteks ke model matematika dalam konteks ini.

3. Kelompok Refleksi

Pertanyaan PISA kelompok refleksi ini menyajikan masalah yang tidak terstruktur dan menantang siswa untuk mengidentifikasi dan menemukan teori matematika di baliknya. Kemampuan menalar menggunakan konsep

matematika merupakan kompetensi PISA yang paling besar, dan tercermin dalam kompetensi reflektif ini. Mereka dapat berpikir secara matematis secara mendalam dan memecahkan kesulitan dengannya.

Sesuai kegiatan refleksi pada penelitian ini, peneliti menggunakan konten Space and Shape untuk menyelesaikan soal PISA, Siswa memeriksa situasi, mengevaluasinya, dan menemukan cara mereka sendiri untuk menyelesaikannya. Berikut contoh soal pada konten Space and Shape ialah:

Contoh soal

Lihatlah gambar dibawah!

“Pak Dono ingin membangun rumah berdasarkan sketsa di atas. Dia bermaksud membeli kayu untuk membuat segitiga sama sisi. Tentukan tinggi kuda jika ukuran kuda sesuai dengan gambar di atas”.

Pada penelitian ini, peneliti hanya mengangkat domain konten dari beberapa komponen domain. Adapun pentingnya domain konten yaitu karena sesuai dengan tujuan PISA untuk menilai kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah PISA, yang meliputi konten matematika berkatian dengan permasalahan

sehari-hari sehingga mampu memberikan atau mengembangkan potensi diri dengan adanya ide-ide luas yang didapatkan dari konten domain agar kita dapat bersaing dalam kehidupan global.

5. Tinjauan Materi 1) Pengertian

Bangun ruang sisi datar adalah bangun ruang yang sisinya berbentuk datar (tidak lengkung).

2) Macam-macam bangun ruang sisi datar a. Kubus

Disebut bangun ruang kubus ketika bangun tersebut dibatasi oleh 6 buah sisi yang berbentuk persegi (bujur sangkar). Bangun ruang ini mempunyai 6 buah sisi, 12 buah rusuk, dan 8 buah titik sudut.

Beberapa orang sering menyebut bangun ini sebagai bidang enam beraturan dan juga prisma segiempat dengan tinggi sama dengan sisi alas.

Bagian-bagian Kubus

Tiga bagian utama dalam bangun ruang kubus adalah sisi, rusuk, dan titik sudut. Selain itu masih ada yang disebut dengan diagonal bidang dan diagonal ruang. Perhatikan gambar kubus di bawah ini.

Kubus ABCD.EFGH dibatasi oleh bidang ABCD, ABFE, BCGF, CDHG, ADHE, dan EFGH. Bidang-bidang tersebut disebut sisi-sisi kubus ABCD.EFGH. Selanjutnya, AB , BC , CD , AD , EF , FG , GH , EH , AE , BF , CG , dan DH disebut rusuk-rusuk kubus.

Berikut jumlah bagian-bagian kubus :

 Titik sudut 8 buah

 Sisi berjumlah 6 buah (luasnya sama)

 Rusuk berjumlah 12 buah sama panjang

 Diagonal bidang berjumlah 12 buah

 Diagonal ruang berjumlah 4 buah.

 Bidang diagonal berjumlah 6 buah

Rumus-rumus Kubus Volume = s x s x s = s3

Luas Permukaan = 6 s x s = 6 s2 Panjang Diagonal Bidang = s√2 Panjang Diagonal Ruang = s√3 Luas Bidang Diagonal = s2√2 b. Balok

Balok adalah bangun ruang yang memiliki tiga pasang sisi segi empat (total 6 buah) dimana sisi-sisi yang berhadapan memiliki bentuk dan ukuran yang sama. Berbeda dengan kubus yang semua sisinya berbentuk persegi yang sama besar, balok sisi yang sama besar hanya sisi yang berhadapan dan tidak semuanya berbentuk persegi, kebanyakan bentuknya persegi panjang.

Bagian-bagian Balok

Bagian-bagian dari bagung ruang sisi datar ini sama seperti bagian-baian kubus. Sebuah balok terdiri dari sisi, sudut, diagonal bidang, diagonal ruang, dan yang terakhir adalah bidang diagonal.

Berikut rincian jumlahnya:

 Titik sudut 8 buah

 Sisi berjumlah 6 buah (luasnya beda-beda)

 Rusuk berjumlah 12 buah

 Diagonal bidang berjumlah 12 buah

 Diagonal ruang berjumlah 4 buah.

 Bidang diagonal berjumlah 6 buah

Rumus-rumus Balok

Volume = panjang x lebar x tinggi = p x l x t

Luas Permukaan = 2 (pl + pt + lt)

Panjang Diagonal Bidang = √(p2+l2) atau √(p2+t2) atau √(l2+t2) Panjang Diagonal Ruang = √(p2+l2+t2)

Luas Bidang Diagonal = tergantung dari bidang diagonal yang mana

Keterangan: p = panjang l = lebar

t = tingi

B. Hasil Penelitian yang Relevan

Dalam membuat ini, peneliti mencari beberapa penelitian yang pernah dilakukan oleh akademisi lainnya guna mendukung pengetahuan dan dasar keilmuan di penelitiannya. Peneliti yang di maksud, sebagai berikut :

a. Penelitian yang dilakukan oleh Sasongko (2016) Pengembangan Paket Soal Model PISA Konten Space and Shape untuk Mengetahui Level Literasi Matematika Siswa SMP . Berdasarkan hasil analisis tingkat literasi matematika, 50 persen siswa berada pada level di bawah 1, 7,14 persen berada pada level 1, 9,52 persen pada level 2, 16,67 persen pada level 3, 2,38 persen pada level 4, 4,76 persen berada di level 5, dan 9,52 persen berada di level 6.

Banyak tingkat literasi siswa di bawah level 1, menurut statistik ini. Berikut ini adalah perbedaan antara penelitian ini dan penelitian yang dilakukan oleh peneliti ialah selain tempat waktunya yang berbeda, peneliti tidak mencari level literasi untuk mengukur kemampuan matematis siswa. Namun, peneliti hanya menganalisis kemampuan siswa dengan subjek berkemampuan siswa tinggi, sedang dan rendah.

b. Penelitian yang dilakukan oleh Ambarwati (2018) Analisis Kemampuan Visual Spasial Siswa dalam Menyelesaikan Soal Matematika Berstandar PISA Konten Shape and Space ditinjau dari Level Berpikir Geometri Van Hiele. Hasil penelitian ini Kemampuan visual spasial siswa dalam menyelesaikan soal matematika berstandar PISA konten shape and space yang mempunyai siswa pada level antara 1-2 yaitu 1 subjek kelas XI IA 4 SMA Negeri 1 Glagah memenuhi 4 karakteristik yang terinci atas pencarian pola, mentransformasikan, pengonsepan, dan pemecahan masalah. Siswa pada level 1 yaitu 1 subjek kelas XI IA 4 SMA Negeri 1 Glagah memenuhi 5 karakteristik yang terinci atas imajinasi, pencarian pola, mentransformasikan, pengonsepan, dan pemecahan masalah. Siswa pada level antara 0-1 dan level 0 yaitu masing-masing 1 subjek kelas XI IA 4 SMA Negeri 1 Glagah memenuhi 3 karakteristik yang terinci atas imajinasi, mentransformasikan, dan pemecahan masalah. Berikut ini adalah perbedaan antara penelitian ini dan penelitian yang dilakukan oleh peneliti ialah selain tempat waktunya yang berbeda, peneliti tidak mencari level kemampuan visual siswa untuk mengukur kemampuan matematis siswa. Namun, peneliti hanya menganalisis kemampuan siswa dengan subjek berkemampuan siswa tinggi, sedang dan rendah.

c. Penelitian yang dilakukan oleh Purnomo (2015) Analisis Kemampuan Siswa SMP dalam Menyelesaikan Soal PISA Konten

Shape and Space Berdasarkan Model Rasch. Berdasarkan analisis data dan pembahasan diperoleh, kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal PISA materi bangun ruang dengan menggunakan analisis model Rasch masih lemah. 1,52 logit, yang kurang dari 0,0 logit, adalah nilai rata-rata logit siswa. Dua dari tiga pertanyaan yang diperiksa tergolong menantang, sedangkan yang ketiga cukup sederhana untuk diselesaikan oleh siswa.

Perbedaan pada penelitian ini dengan penelitian terhadap peneliti yaitu selain tempat waktunya yang berbeda, peneliti tidak menggunakan model Rasch untuk mengukur kemampuan matematis siswa. Selain itu, peneliti tidak menggunakan soal sulit dan soal mudah.

d. Penelitian yang dilakukan oleh Serina (2020) Kemampuan Literasi Matematis dalam Menyelesaikan Soal Adaptasi Tes PISA Konten Ruang dan Bentuk siswa kelas IX SMP PangudiI Luhur Moyudan.

Berdasarkan hasil analisis data dalam mengerjakan soal adaptasi PISA konten ruang dan bentuk , 83,33% siswa mampu menyelesaikan permasalahan soal level I dengan benar beserta proses literasi matematis yang tepat pula. Pada permasalahan level II dan level III, secara keseluruhan 66,67% siswa mampu menyelesaikan permasalahan dengan benar melalui proses literasi matematis yang tepat seluruhnya atau sebagian besar dilakukan dengan tepat. Pada permasalahan level IV dan level VI, 16.67%

siswa mampu menyelesaikan permasalahan dengan tepat beserta

proses literasi matematis yang tepat, sedangakan untuk permasalahan level V, belum ada siswa yang bisa mengerjakan soal jawaban serta proses matematis yang tepat. Perbedaan pada penelitian ini dengan penelitian terhadap peneliti yakni selain tempat waktunya yang berbeda, peneliti tidak mencari level literasi matematis untuk mengukur kemampuan matematis siswa. Namun, peneliti hanya menganalisis kemampuan siswa dengan subjek berkemampuan siswa tinggi, sedang dan rendah.

e. Penelitian yang dilakukan oleh Ardiansyah (2019) Analisis Kemampuan Berpikir Geometri Siswa dalam Menyelesaikan Soal Bangun Ruang Berbasis PISA Pada Konten Space and Shape.

Berdasarkan hasil penelitian; (1) Siswa berkemampuan tinggi dan sedang sudah berada pada tahap visualisasi, sedangkan siswa berkemampuan sedang dan rendah belum; (2) siswa berkemampuan tinggi sudah dalam tahap analisis, sedangkan siswa berkemampuan sedang dan rendah belum; (3) siswa berkemampuan tinggi sudah berada pada tahap deduksi informal, sedangkan siswa berkemampuan sedang dan rendah belum.

Perbedaan pada penelitian ini dengan penelitian terhadap peneliti yakni selain tempat waktunya yang berbeda, peneliti tidak mengukur kemampuan matematis siswa dengan menggunakan visualisasi. Namun, peneliti hanya menganalisis kemampuan siswa dengan subjek kemampuan siswa tinggi, sedang dan rendah terhadap indikator kemampuan penalaran matematis.

28 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis Penelitian yang dipakai oleh penelitian ini ialah penelitian kualitatif deksriptif. Metode deksriptif yang dipakai untuk mendapatkan sumber data langsung yang dapat digambarkan atau ditegaskan dalam suatu konsep, serta data yang diteliti dapat mengetahui keadaan subyek/obyek berdasarkan fakta-fakta yang tampak sebagaimana adanya dalam bentuk kata-kata atau kalimat untuk menarik kesimpulan.

Penelitian tersebut bertujuan agar mengetahui kemampuan penalaran matematis siswa dalam menyelesaikan soal PISA pada konten space and shape di kelas VIII SMP Negeri 2 Takalar.

B. Tempat Penelitian

Waktu penelitian akan dilaksanakan pada semester gasal tahun ajaran 2021/2022 di SMP Negeri 2 Takalar yang berlokasi di Jalan H.M Dg Manjarungi, Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Pattallassang, Kab Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan.

C. Subjek Penelitian

Subjek penelitian berasal dari siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Takalar.

Prosedur memilih sebuah topik terhadap penelitian ini ialah:

1. Menetapkan ruangan peserta penelitian.

2. Membagikan tes kemampuan awal agar mengetahui berkemampuan siswa tinggi, sedang, dan rendah.

3. Dipilih minimal 3 orang dari tes kemampuan awal pada poin 2, yang masing-masing terdiri dari minimal 1 siswa berkemampuan tinggi mencakup kriteria yang memenuhi skor lebih dari nilai 86 atau nilai 100, minimal 1 siswa berkemampuan sedang mencakup kriteria yang memenuhi skor lebih dari nilai 73 atau nilai 85, dan minimal 1 berkemampuan rendah mencakup kriteria yang memenuhi skor kurang dari nilai 72.

4. Subjek yang dipilih tersebut selanjutnya akan dilakukan pengambilan data melalui tes soal PISA agar menghasilkan data tentang kemampuan matematis siswa dan kemudian mewawancarai siswa.

D. Fokus Penelitian

Fokus penelitian ialah agar menganalisis kemampuan penalaran matematis siswa dalam menyelesaikan soal PISA pada konten space and shape.

Kemampuan matematis yang dimaksud dalam penelitian tersebut ialah kemampuan penalaran matematis.

E.

Prosedur Penelitian

Langkah-langkah dalam penelitian ini ialah antara lain:

1. Langkah Perencanaan

Kegiatan yang dilakukan pada langkah ini yaitu:

a. Menyusun proposal penelitian yang dikonsultasikan kepada dosen pembimbing.

b. Menyiapkan alat bantu rekam seperti kamera atau handphone c. Menyiapkan Instrumen Penelitian

d. Melakukan validasi instrument pendukung, dalam tahap ini divalidasi oleh orang yang berkompeten yaitu dosen pendidikan matematika yang ahli dibidangnya.

2. Tahap Pelaksanaan

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini meliputi:

a. Pemberian tes tertulis kemampuan awal untuk memilih 3 subjek penelitian yang akan melakukan tes kemampuan penalaran matematis.

b. Melakukan wawancara kepada subjek penelitian untuk memperoleh

b. Melakukan wawancara kepada subjek penelitian untuk memperoleh

Dalam dokumen SKRIPSI. Indriani Nur NIM (Halaman 24-0)

Dokumen terkait