BAB I PENDAHULUAN
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat kepada beberapa pihak, yaitu:
1. Bagi Perusahaan
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi perusahaan dalam pengambilan keputusan untuk meminimalisir risiko melalui aktivitas lindung nilai (hedging).
2. Bagi Investor
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu masukan dalam pengambilan keputusan aktivitas hedging.
3. Bagi Akademisi
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam dan memberikan perbandingan dalam melakukan penelitian selanjutnya.
13
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori
2.1.1 Teori Komparatif Klasik
Teori komparatif adalah teori yang menyatakan bahwa masing-masing negara memiliki keunggulan untuk terspesialisasi dalam produk-produk yang bisa diproduksi dengan biaya yang relatif efisien (Madura, 2000:9).
Keunggulan yang dimiliki tidak dapat dipindahkan dengan mudah dan mungkin biaya yang dibutuhkan untuk memproduksi produk yang sama di negara yang lain menjadikan nilai jual produk menjadi cukup mahal. Kondisi ini mambuat suatu negara memiliki spesialisasi dalam produk-produk yang dihasilkan. Kebutuhan suatu negara cukup kompleks mengakibatkan kebutuhan selain barang yang mampu diproduksi tersebut menjadi tidak dapat dipenuhi.
Bahkan produk yang terspesialisasi tersebut mungkin akan berlebih jika hanya dikonsumsi oleh masyarakat domestik. Hal ini yang mendorong perdagangan internasional dilakukan.
2.1.2 Teori Pasar Tidak Sempurna
Teori pasar tidak sempurna adalah teori yang menyatakan bahwa adanya biaya dari transfer tenaga kerja dan sumber daya lain bagi tujuan produksi maka perusahaan mungkin berupaya menggunakan faktor-faktor produksi luar negeri jika faktor-faktor ini lebih baik daripada faktor-faktor lokal (Madura, 2000:9).
Kondisi pasar tidak sempurna mendorong perusahaan untuk melakukan transaksi bisnis internasional. Hal ini dilakukan untuk melihat potensi-potensi yang berasal dari luar negeri yang dapat digali dan dimanfaatkan oleh perusahaan untuk memperoleh keuntungan.
Teori Pasar Tidak Sempurna digunakan pada penelitian ini karena teori ini menekankan pada motif suatu perusahaan melakukan perdagangan internasional. Pada saat melakukan perdagangan internasional akan disepakati mata uang yang akan digunakan oleh pihak-pihak terkait. Pada praktiknya, nilai tukar yang digunakan selalu berfluktuatif.
2.1.3 Eksposur
Eksposur adalah suatu risiko yang akan dihadapi oleh perusahaan sebagai akibat perubahan atau fluktuasi kurs valas (Hady, 2012:167). Arus kas perusahaan yang melakukan transaksi internasional akan terpengaruh secara langsung oleh fluktuasi kurs valas. Eksposur valuta asing dialami langsung oleh perusahaan yang melakukan transaksi internasional. Bahkan perusahaan yang tidak melakukan transaksi internasional secara tidak langsung akan terpengaruh dengan eksposur valuta asing (Hady, 2012:167).
Eksposur valuta asing timbul karena kurs valuta asing selalu berfluktuasi. Secara umum eksposur valuta asing diklasifikasikan menjadi 3 tipe yaitu:
1. Eksposur Transaksi
Eksposur transaksi adalah seberapa besar nilai dari transaksi-transaksi kas
15
dimasa depan dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar (Madura, 2000:275).
Menurut Hady (2012:168) eksposur transaksi diartikan sebagai risiko pengaruh fluktuasi kurs valas terhadap future cash transaction.
2. Eksposur Ekonomi atau Eksposur Operasi
Eksposur operasi adalah sejauh mana present value dari arus kas masa depan perusahaan dapat dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar (Madura, 2000:285).
Eksposur ekonomi juga dapat berpengaruh terhadap perusahaan domestik yang tidak melakukan transaksi luar negeri. Hal ini terjadi karena adanya persaingan produk impor yang sejenis yang harganya dipengaruhi oleh fluktuasi nilai rupiah terhadap kurs valas (Hady, 2012:173).
3. Eksposur Translasi atau Eksposur Akuntansi
Menurut Madura (2000:294) eksposur translasi adalah eksposur laporan keuangan konsolidasi perusahaan multinasional terhadap fluktuasi nilai tukar.
Eksposur translasi diartikan sebagai risiko perubahan/fluktuasi kurs valas terhadap consolidated financial statement perusahaan.
2.1.4 Hedging
Hedging adalah tindakan yang dilakukan untuk melindungi sebuah perusahaan dari eksposur terhadap fluktuasi nilai tukar (Madura, 2000:400).
Menurut Saragih (2014:145) hedging dapat diartikan sebagai strategi yang dilakukan untuk meminimalkan kerugian akibat perubahan nilai tukar dengan mengambil posisi berkebalikan terhadap posisi mata uang tersebut.
Hedging dapat melindungi perusahaan dari risiko yang timbul dari pergerakan nilai mata uang. Pada praktiknya penggunaan hedging pada setiap perusahaan berbeda-beda. Hal ini tergantung pada pengetahuan perusahaan dan pendekatan menejemen dalam mengidentifikasi risiko. Perangkat hedging yang paling sering digunakan adalah forward, future, swap dan option (Nuzul &
Lautania, 2015).
2.1.5 Growth Opportunity
Peluang pertumbuhan (growth opportunity) adalah suatu kondisi yang menggambarkan tentang luasnya kesempatan atau peluang investasi bagi suatu perusahaan (Nuzul dan Lautania, 2015). Jadi, perusahan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi lebih banyak membutuhkan dana di masa depan, terutama dana eksternal untuk memenuhi kebutuhan investasinya atau untuk memenuhi kebutuhan untuk membiayai pertumbuhanya.
Perusahan yang memiliki peluang pertumbuhan yang tinggi tentu akan membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk merealisasikan pengembangan usahanya. Kondisi ini tidak selalu didukung dengan dana internal yang tersedia sehinga akan mempengaruhi keputusan struktur modal atau pendanan suatu perusahaan. Tingginya kebutuhan dana investasi sejalan dengan tingkat pertumbuhan perusahaan. Kondisi ini mendorong perusahaan menggunakan laba yang diperoleh untuk membiayai investasinya, daripada membagikan dividen (Ameer, 2010).
Ketersediaan dana internal yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dana
17
untuk pengembangan usaha mengharuskan perusahaan menggunakan dana yang bersumber dari pihak eksternal. Dengan meningkatnya hutang perusahaan tentu risiko yang mungkin dialami perusahaan juga akan meningkat. Risiko terburuk yang mungkin akan dialami perusahaan adalah gagal bayar karena kebangkrutan dan eksposur valuta asing. Perusahaan dengan tingkat growth opportunity yang tinggi cenderung menggunakan keputusan hedging untuk melindungi perusahaannya.
Growth Opportunity pada penelitian ini menggunakan proksi Market to Book Ratio dengan rumus berikut:
Market to Book Ratio = Market Value of Equity Book Value of Equity
Adapun nilai pasar saham (market value of equity) mencerminkan pandangan masyarakat terhadap kinerja perusahaan. Sedangkan nilai buku ekuitas (book value of equity) mencerminkan nilai ekuitas yang tercatat pada laporan posisi keuangan perusahaan.
Semakin tinggi nilai market to book ratio maka semakin baik pula penilaian investor terhadap nilai buku perusahaan. Kondisi ini mengindikasikan tingginya rasa percaya masyarakat terhadap prospek perusahaan pada masa mendatang dan implikasinya adalah harga saham perusahaan akan naik, demikian juga sebaliknya.
2.1.6 Financial Distress
Financial distress adalah tahap penurunan kondisi keuangan yang terjadi pada perusahaan sebelum terjadinya kebangkrutan atau likuidasi (Platt dan Platt
2006). Jadi, financial distress adalah suatu kondisi kesulitan keuangan yang sedang dialami oleh perusahaan. Hal ini ditandai dengan adanya kesulitan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya. Kondisi ini tentu sangat menghawatirkan bagi perusahaan karena posisi ini membawa perusahaan pada kemungkinan kebangkrutan.
Menurut Hanafi (2003:263) financial distress dapat didefenisikan sebagai berikut:
1. Economic Distressed (Kegagalan Ekonomi)
Kegagalan dalam ekonomi artinya bahwa perusahaan mengalami penurunan pendapatan sampai tahap yang menghawatirkan ditandai dengan ketidakmampuan perusahaan menutupi biayanya. Pada kondisi ini tingkat laba perusahaan lebih kecil dari biaya modal atau nilai sekarang dari arus kas perusahaan lebih kecil dari kewajiban. Kegagalan terjadi bila arus kas sebenarnya dari perusahaan tersebut jauh dibawah arus kas yang diharapkan.
2. Financial Distressed (Kegagalan Keuangan)
Pengertian financial distressed mempunyai makna kesulitan dana baik dalam arti dana dalam pengertian kas atau dalam pengertian modal kerja. Perusahaan yang berada di negara yang sedang mengalami kesulitan ekonomi memiliki potensi yang besar mengalami kebangkrutan.
Financial distress terjadi disebabkan oleh faktor eksternal dan faktor internal. Salah satu faktor internal yang menyebabkan financial distres adalah hutang. Kebijakan pengambilan hutang perusahaan untuk pengembangan usaha
19
ataupun untuk menutupi biaya yang timbul akibat operasi perusahaan akan menimbulkan kewajiban bagi perusahaan untuk melunasi hutang tersebut di masa depan. Pada saat tagihan jatuh tempo perusahaan diharuskan memiliki dana yang cukup untuk membayar tagihan-tagihan tersebut.
Dalam penelitian ini financial distress menggunakan proksi Altman Z-Score sesuai dengan prediksi kesulitan keuangan yang dikemukakan oleh Edward Altman yang disebut dengan Altman Z-Score. Altman menemukan lima jenis rasio keuangan yang dikombinasikan dalam rumus untuk menentukan kondisi keuangan perusahaan dalam katagori bangkrut dan tidak bangkrut. Z-Score Altman ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Z = 1,2X1 + 1,4X2 + 3,3X3 + 0,6X4 + 1,0X5 Keterangan :
Z : Overall Index
X1 : Working Capital to Total Assets (modal kerja dibagi total aktiva) X2 : Retained Earnings to Total Assets (laba ditahan dibagi total
aktiva)
X3 : Earnings Before Interest and Taxes to Total Assets (laba sebelum pajak dan bunga dibagi total aktiva)
X4 : Market Value of Equity to Book Value of debt (nilai pasar modal dibagi dengan nilai buku hutang
X5 : Sales to Total Assets (penjualan dibagi total aktiva)
Untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya kebangkrutan pada perusahaan digunakan kelima rasio tersebut. Hasil perhitungan nilai Z-Score dijelaskan pada tabel 2.1.
Tabel 2.1
Interprestasi Nilai Z-Score
Nilai Z-Score INTERPRESTASI
Z > 2,99 Perusahaan tidak mengalami masalah dengan kondisi keuangan
1,81 < Z < 2,99 Perusahaan akan mengalami permasalahan keuangan jika tidak melakukan perbaikan yang berarti dalam manajemen maupun struktur keuangan Z < 1,81 Perusahaan mengalami masalah keuangan yang serius
Sumber: Altman, Edward dan Hotchkiss Edith, 2006
2.2 Tinjauan Penelitian Terdahulu
Hasil dari beberapa penelitian terdahulu akan dijadikan bahan referensi dan perbandingan dalam penelitian ini, sebagai berikut:
1. Ameer (2010) meneliti tentang faktor-faktor yang mempengaruhi praktik penggunaan hedging pada perusahaan di Malaysia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan dengan tingkat foreign sales dan growth option yang lebih tinggi adalah pengguna aktif dari derivatif. Sedangkan perusahaan dengan quick ratio yang tinggi tidak menggunakan derivatif tetapi cenderung menggunakan kelebihan likuiditas untuk menyerap perubahan yang tidak terduga dari risiko mata uang asing dan tingkat suku bunga. Peningkatan managerial ownership mengarah ke penggunaan derivatif yang lebih tinggi karena manajer mencoba untuk meminimalkan risiko yang mempengaruhi laba atas investasi mereka di perusahaan.
21
2. Shaari et al. (2013) meneliti faktor-faktor penentu penggunaan derivatif pada perusahaan di Malaysia periode 2010-2011. Hasil menunjukkan leverage, debt to equity, capital expenditure, managerial ownership memiliki hubungan positif dan signifikan dengan penggunaan derivatif. Dividend payout ratio, current ratio dan quick ratio, Return On Asset Ratio (ROA) dan Return On Equity Ratio (ROE) memiliki hubungan negatif dan tidak signifikan dengan penggunaan derivatif.
3. Nuzul dan Lautania (2015) melakukan penelitian tentang leverage, financial distress, dan growth options terhadap aktivitas hedging pada perusahaan non-keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa leverage berpengaruh terhadap aktivitas hedging.
Financial distress tidak berpengaruh terhadap aktivitas hedging. Growth options tidak berpengaruh terhadap aktivitas hedging.
4. Medina dan Muharam (2016) melakukan penelitian dengan judul faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan lindung nilai (hedging) menggunakan instrumen derivatif (studi kasus pada perusahaan manufaktur dan perusahaan energi dan sumber daya mineral yang terdaftar di BEI periode 2010-2014). Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi logistik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa leverage tidak berpengaruh secara signifikan terhadap probabilitas penggunaan hedging derivatif. Current ratio berpengaruh negatif signifikan terhadap probabilitas penggunaan hedging derivatif. Cash ratio berpengaruh positif signifikan terhadap probabilitas
penggunaan hedging derivatif. Growth opportunity berpengaruh positif signifikan terhadap probabilitas penggunaan hedging derivatif. Financial distress berpengaruh negatif signifikan terhadap probabilitas penggunaan hedging derivatif.
5. Vural-Yavas (2016) meneliti faktor yang mempengaruhi keputusan hedging perusahaan di negara berkembang. Sampel penelitian menggunakan data perusahaan non-keuangan yang terdaftar pada Borsa Istanbul (BIST) periode 2010-2014. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi logistik.
Hasil penelitian menunjukkan biaya under investment, ukuran perusahaan, yield dividen, penjualan asing dan profitabilitas memiliki koefisien positif yang signifikan pada kemungkinan perusahaan menggunakan derivatif keuangan untuk lindung nilai. Leverage, interest coverage ratio, growth opportunity dan free floating rate memiliki koefisien negatif yang signifikan. Dengan kata lain berpengaruh negatif terhadap penggunaan derivatif.
6. Ariani dan Sudiartha (2017) melakukan penelitian tentang pengaruh leverage, profitabilitas dan likuiditas terhadap keputusan hedging pada perusahaan sektor pertambangan dengan menggunakan analisis regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa leverage yang diproksikan dengan debt to equity ratio berpengaruh positif signifikan terhadap keputusan hedging. Return on Asset sebagai proksi dari profitabilitas berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap keputusan hedging. Likuiditas yang diproksikan dengan current ratio menunjukkan pengaruh yang negatif signifikan terhadap penggunaan hedging.
23
7. Azwan et al. (2017) meneliti penggunaan derivatif untuk aktivitas lindung nilai pada perusahaan perkebunan dan properti di Malaysia. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan likuiditas adalah faktor paling signifikan dalam penggunaan derivatif.
Profitabilitas memiliki dampak kecil pada kemungkinan penggunaan derivatif.
Growth opportunity memiliki dampak signifikan positif pada penggunaan derivatif.
Tabel 2.2 menunjukkan beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan growth opportunity, financial distress dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi keputusan hedging.
Tabel 2.2
Ringkasan Penelitian Terdahulu
No Nama Peneliti Variabel Penelitian Hasil
1. Ameer (2010) Independen: ratio yang tinggi tidak menggunakan derivatif tetapi cenderung menggunakan kelebihan likuiditas untuk menyerap perubahan yang tidak terduga di risiko mata uang asing dan tingkat suku bunga.
Dependen : Hedging
Dividend payout ratio, current ratio dan quick ratio, Return On Asset Ratio (ROA) dan Return On
5. Vural-Yavas (2016) Independen:
Financial Distress
6. Ariani dan Sudiartha (2017)
25
Sumber: Hasil Olahan Peneliti, 2018
2.3 Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual menggambarkan secara garis besar suatu rangkaian pemikiran yang memperlihatkan hubungan setiap variabel dalam satu penelitian yang didasarkan pada tinjauan pustaka dan penelitian terdahulu. Dalam penelitian ini, peneliti menguji faktor-faktor yang diduga dapat mempengaruhi keputusan hedging yaitu growth opportunity dan financial distress. Berdasarkan rumusan masalah, landasan teori, dan penelitian terdahulu, maka kerangka konseptual dapat digambarkan pada gambar 2.1.
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Financial Disttress (X2)
Growth Opportunity (X1)
Hedging (Y)
Kerangka konseptual penelitian ini dibangun berdasarkan beberapa teori yang mendasari yaitu teori komparatif klasik dan teori pasar tidak sempurna.
Teori komparatif klasik dan teori pasar tidak sempurna mendasari terjadinya perdagangan antar negara yang dilakukan oleh perusahaan dan perorangan. Pada praktiknya perdagangan internasional menggunakan satuan mata uang yang disepakati bersama yang pada umumnya menggunakan kurs mata uang US Dollar.
Pergerakan mata uang US Dollar terhadap mata uang lokal pelaku transaksi internasional selalu berubah. Hal ini tentu menimbulkan ketidakpastian mengenai perencanaan dan nilai transaksi di masa mendatang. Selain itu, fluktuasi nilai mata uang juga menimbulkan keuntungan dan kerugian bagi pelaku transaksi internasional. Untuk mengantisipasi besarnya kerugian selisih kurs mata uang, perusahaan perlu melakukan manajemen risiko salah satunya dengan melakukan lindung nilai (hedging) dengan instrumen derivatif.
2.3.1 Hubungan Growth Opportunity terhadap Keputusan Hedging
Penelitian Azwan (2017) mengukur growth opportunity menggunakan proksi market to book value (MTB) dan price earning (PE). MTB digunakan sebagai proksi growth opportunity karena mampu menggambarkan kesempatan perusahaan dengan baik. Peningkatan harga pasar saham menunjukkan tingginya rasa percaya masyarakat terhadap prospek perusahaan pada masa mendatang.
Perusahaan yang memiliki pertumbuhan yang tinggi cenderung membutuhkan dana yang besar. Umumnya perusahaan tidak mampu memberikan
27
pendanaan internal untuk merealisasikan kesempatan pertumbuhan tersebut sehingga menggunakan hutang sebagai sumber pendanaan yang lebih besar.
Aktivitas hedging menjadi pilihan bagi perusahaan yang memiliki tingkat growth opportunity yang tinggi untuk melindungi perusahaan dari risiko-risiko yang merugikan. Sesuai dengan penelitian Medina dan Muharam (2016) semakin tinggi nilai market to book value of equity maka motivasi perusahaan untuk melakukan hedging juga semakin meningkat.
2.3.2 Hubungan Financial Distress terhadap Keputusan Hedging
Financial distress adalah kondisi dimana perusahaan mengalami kesulitan keuangan. Kondisi ini ditandai dengan penurunan kemampuan perusahaan dalam melunasi utang kepada kreditur.
Untuk mengurangi kesulitan keuangan perusahaan lebih baik melakukan aktivitas hedging. Dengan asumsi kebijakan investasi tetap, hedging dapat mengurangi nilai sekarang dari biaya kesulitan keuangan. Akibatnya, lindung nilai meningkatkan kekayaan pemegang saham karena mengurangi nilai yang diharapkan dari biaya kebangkrutan langsung (Sianturi dan Pengestuti, 2015).
Perusahaan yang memiliki nilai Z-Score yang rendah mengindikasikan perusahaan tersebut tergolong tidak sehat. Hal tersebut membuat perusahaan tersebut akan lebih berhati-hati dalam mengelola keuangannnya dengan strategi lindung nilai. Sehingga semakin kecil nilai Z-score, maka semakin besar motivasi perusahaan untuk melakukan hedging (Medina dan Muharam, 2016).
2.3.3 Hubungan Growth Opportunity dan Financial Distress terhadap Hedging
Hasil penelitian dari Nuzul dan Lautania (2015) yang meneliti tentang pengaruh leverage, financial distress dan growth option menunjukkan bahwa secara simultan leverage, financial distress dan growth option berpengaruh terhadap keputusan hedging. Penelitian Sianturi dan Pangestuti (2015) yang meneliti tentang pengaruh liquidity, firm size, growth opportunity, financial distress, leverage dan managerial ownership terhadap aktivitas hedging dengan instrumen derivatif juga menunjukkan hasil yang mengatakan bahwa secara simultan variabel growth opportunity dan financial distress berpengaruh terhadap keputusan hedging.
2.4 Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara yang bersifat praduga terhadap suatu masalah yang masih perlu dibuktikan kembali kebenarannya. Berdasarkan latar belakang masalah, rumusan masalah, landasan teori dan kerangka konseptual, maka hipotesis penelitian adalah sebagai berikut:
H1: Growth opportunity memiliki pengaruh yang positif terhadap keputusan hedging.
H2: Financial distress memiliki pengaruh yang negatif terhadap keputusan hedging.
H3: Growth opportunity dan financial distress berpengaruh secara simultan terhadap keputusan hedging.
29
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kausal. Penelitian kausal adalah penelitian yang bertujuan untuk melihat apakah suatu variabel yang berperan sebagai variabel bebas berpengaruh terhadap variabel lain yang menjadi variabel terikat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara growth opportunity, dan financial distress terhadap keputusan hedging.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada perusahaan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Maka data-data yang digunakan bersumber dari data yang disediakan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), dilihat melalui laporan keuangan perusahaan manufaktur pada tahun 2012-2017.
Penelitian ini dimulai dari bulan September.
3.3 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Definisi operasional adalah sebuah konsep yang didefinisikan secara operasional untuk membuatnya bisa diukur, dilakukan dengan melihat karakteristik dari objek yang kemudian diterjemahkan kedalam elemen yang dapat diamati dan diukur dalam riset (Sekaran, 2006:4).
3.3.1 Variabel Dependen
Menurut Sekaran (2006:116) variabel dependen adalah variabel yang menjadi perhatian utama peneliti. Variabel dependen merupakan variabel yang
dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas.
Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Keputusan Hedging (Y). Hedging adalah tindakan yang dilakukan untuk melindungi sebuah perusahaan dari eksposur terhadap fluktuasi nilai tukar (Madura, 2000:400). Tindakan keputusan hedging biasanya dilakukan berkaitan dengan kondisi mengantisipasi timbulnya fluktuasi valuta asing di pasar. Menurut Shook (dalam Fahmi, 2016:14) hedging adalah menukar valuta asing di masa depan dengan mata uang lokal untuk melindungi uang tersebut dari perubahan nilai tukar.
Penelitian ini melihat data laporan keuangan tahunan perusahaan.
Variabel hedging menggunakan variabel dummy. Apabila perusahaan menggunakan instrumen derivatif dalam aktivitas hedging, diberi angka 1 sebagai kategori bahwa perusahaan melakukan aktivitas hedging, dan diberi angka 0 apabila perusahaan tidak melakukan penggunaan instrumen derivatif dalam aktivitas hedging.
3.3.2 Variabel Independen
Variabel independen adalah variabel yang memepengaruhi variabel terikat, baik secara positif atau negatif. Dengan kata lain, varians variabel dependen ditentukan oleh variabel independen. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel independen adalah growth opportunity dan financial distress.
3.3.2.1 Growth Opportunity
Growth opportunity adalah suatu kondisi yang menggambarkan
31
tentang luasnya kesempatan atau peluang investasi bagi suatu perusahaan (Nuzul dan Lautania, 2015).
Peluang pertumbuhan perusahaan yang tinggi ditunjukkan dengan nilai pasar ekuitas yang semakin baik. Pertumbuhan Perusahaan adalah perbandingan antara MVE (market value of equity) dan BVE (book value of equity). Secara matematis dapat diformulasikan sebagai berikut:
Market to Book Ratio = Market Value of Equity Book Value of Equity
Nilai pasar ekuitas perusahaan (market value of equity) diperoleh dengan cara mengkalikan harga pasar saham per lembar dikalikan dengan jumlah saham yang beredar. Nilai buku ekuitas (book value of equity) diperoleh dari total ekuitas yang ada di Laporan Posisi Keuangan.
3.3.2.2 Financial Distress
Financial distress adalah suatu kondisi kesulitan keuangan yang sedang dialami oleh perusahaan. Hal ini ditandai dengan adanya kesulitan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewaibannya. Pengukuran tingkat kesulitan keuangan diproksikan dengan Z-Score. Z-Score Altman ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Z = 1,2X1 + 1,4X2 + 3,3X3 + 0,6X4 + 1,0X5 Keterangan :
Z : Overall Index
X1: Working Capital to Total Assets (modal kerja dibagi total aktiva)
X2: Retained Earnings to Total Assets (laba ditahan dibagi total aktiva)
X3: Earnings Before Interest and Taxes to Total Assets (laba sebelum pajak dan bunga dibagi total aktiva)
X4: Market Value of Equity to Book Value of debt (nilai pasar modal dibagi dengan nilai buku hutang)
X5: Sales to Total Assets (penjualan dibagi total aktiva)
Identifikasi variabel dan definisi operasional secara terperinci disajikan dalam Tabel 3.1.
Tabel 3.1
Definisi Operasional dan Skala Pengukuran
No Variabel Defenisi Pengukuran Skala
1. Hedging Penggunaan instrumen derivatif untuk sarana lindung nilai.
Pemberian kode 1 untuk perusahaan yang melakukan hedging dan 0 untuk perusahaan yang tidak melakukan hedging
Growth Opportunity = MVE BVE
Menurut Sugiyono (2010:117) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek/subyek yang mempunyai karakteristik tertentu. Populasi ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Erlina (2008:75) populasi adalah sekelompok orang, kejadian, suatu yang