• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penelitian

Dalam dokumen SKRIPSI. Suci Rahmadani (Halaman 22-0)

BAB I PENDAHULUAN

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

Untuk memperluas wawasan dan mengembangkan pengetahuan mengenai analisis penerapan sistem akuntansi keuangan pemerintah daerah yang sesuai dengan standar akuntansi pemerintah yang berlaku;

dan sebagai bahan referensi bagi peneliti selanjutnya 2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan menjadi bahan masukan dan pertimbangan yang berkaitan dengan penerapan akuntansi yang berlaku.

Serta diharapkan dapat memberikan manfaat pada masa yang akan dating. dan, bagi penulis, yakni penelitian ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan dan sebagai perbandingan antara pendidikan atau ilmu pengetahuan yang diperoleh dibangku kuliah dengan keadaan yang sebenarnya serta tambahan pengalaman bagi penulis dalam mengetahui penerapan sistem akuntansi keuangan pemerintah daerah pada Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Jeneponto. serta, bagi pembaca, yakni penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan acuan yang nantinya diharapkan dapat bermanfaat dalam menambah pengetahuan dan wawasan pembaca serta sangat diharapkan dapat dipergunakan sebagai bahan referensi dalam menyusun tugas akhir yang

berhubungan dengan analisis penerapan sistem akuntansi keuangan didaerah kabupaten jeneponto.

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teoritis

1. Pengertian Sistem Akuntansi

Sistem akuntansi adalah sistem buatan manusia yang terdiri atas komponen komputer atau komponen manual yang terintegrasi untuk melakukan pengumpulan, penyimpanan dan manajemen information untuk menghasilkan informasi akuntansi bagi pengguna informasi akuntansi (Gelinas, Sutton and Hunton, 2016).

Akuntansi adalah pengukuran, penjabaran, atau pemberian kepastian mengenai informasi yang akan membantu manajer, financial backer, otoritas pajak dan pembuat kuputusan lain untuk membuat alokasi sumber daya keputsan didalam perusahaan, organisasi non-benefit dan lembaga pemerintah. Suatu sistem mengolah input (masukan) menjadi yield (keluaran). Input suatu sistem adalah bukti-bukti transaksi dalam bentuk dokumen atau formulir, outputnya adalah laporan keuangan. Sistem akuntansi dapat dijelaskan secara rinci melalui siklus akuntansi. Siklus akuntansi merupakan sistematika pencatatan transaksi keuangan, peringkasannya dan pelaporan keuangan.

Mulyadi (2016) menyatakan bahwa "Sistem akuntansi adalah organisasi formulir, catatan, dan laporan yang dikoordinasi sedemikian rupa untuk menyediakan informasi keuangan yang dibutuhkan oleh manajemen guna memudahkan pengelolaan perusahaan."

Menurut (Bastian, 2012:6) sistem akuntansi adalah prinsip akuntansi yang menetukan kapan transaksi keuangan harus diakui untuk

tujuan laporan keuangan.

Menurut (Sadeli, 2011:6) Sistem akuntansi adalah metode dan prosedur untuk mencatat dan melaporkan informasi keuangan yang disediakan bagi perusahaan atau suatu organisasi bisnis. Sistem akuntansi yang diterapkan dalam perusahaan besar sangat kompleks.

Kompleksitas sistem tersebut disebabkan oleh kekhususan dari sistem yang dirancang untuk suatu organisasi bisnis sebagai akibat dari adanya perbedaan kebutuhan akan informasi oleh manajer, bentuk dan jalan transaksi laporan keuangan. Sistem akuntansi terdiri atas dokumen bukti transaksi, alat-alat pencatatan, laporan dan prosedur yang digunakan perusahaan untuk mencatat transaksi-transaksi serta melaporkan hasilnya.

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa sistem akuntansi merupakan sistem yang menyediakan informasi keuangan bagi manajemen atau pengguna informasi akuntansi untuk memudahkan pengelolaan perusahaan.

2. Sistem Akuntansi Keuangan Daerah

Akuntansi keuangan daerah dapat di definisikan sebagai suatu compositions identifikasi, pengukuran, dan pelaporan transaksi ekonomi (keuangan) dari suatu daerah (Provinsi, kabupaten, Kota) yang dijadikan sebagai informasi dalam pengambilan keputusan ekonomi oleh pihak-pihak yang memerlukan (Halim, 2012 dalam Mokoginta et al., 2017).

Sistem akuntansi keuangan daerah adalah sistem akuntansi yang meliputi compositions pencatatan, penggolongan, penafsiran, peringkasan transaksi atau kejadian keuangan serta pelaporan keuangan

9

dalam rangka pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD (Erlina dan Rasdianto, 2013 dalam Lutfiyanti, 2018).

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa sistem akuntansi keuangan daerah merupakan suatu sistem yang meliputi expositions identifikasi, pencatatan, pengukuran dan pelaporan sebagai informasi dalam pengambilan keputusan pihak-pihak tertentu.

3. Karakteristik Akuntansi Pemerintah

Sistem akuntansi pemerintah daerah secara garis besar terdiri atas empat prosedur akuntansi yaitu akuntansi penerimaan kas, akuntansi pengeluaran kas, akuntasi selain kas, dan akuntansi resource, dan disempurnakan oleh permendagri menjadi 5 prosedur sistem akuntansi keuangan daerah yang meliputi sebagai berikut (Halim, 2012 dalam Mokoginta et al., 2017):

a. Prosedur Akuntansi Penerimaan Kas

Prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPKD adalah serangkaian expositions mulai dari pencatatan, pengikhitisaran, sampai dengan pelaporan keuangan yang berkaitan dengan penerimaan kas dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer.

b. Prosedur Akuntansi Pengeluaran Kas

Prosedur akuntansi pengeluaran kas adalah serangkaian compositions, baik manual maupun terkomputerisasi, mulai dari pencatatan, penggolongan dan peringkasan transaksi atau kejadian keuangan, hingga pelaporan keuangan dalam rangka

pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang berkaitan dengan pengeluaran kas pada SKPD dan/atau SKPKD.

c. Prosedur Akuntansi Aset Tetap/Barang Milik Daerah

Prosedur akuntansi resource adalah serangkaian expositions, baik manual maupun komputerisasi, mulai dari pencatatan dan pelaporan akuntansi atas perolehan, hingga pemeliharaan, rehabilitas, penghapusan, pemindah tanganan, perubahan klasifikasi dan terhadap resource yang dikuasai/digunakan SKPD atau SKPKD. Prosedur akuntansi resource digunakan sebagai alat pengendali dalam pengelolan resource yang dikuasai/digunakan SKPD atau SKPKD.

d. Prosedur Akuntansi Selain Kas

Prosedur akuntansi selain kas adalah serangkaian compositions mulai dari pencatatan, pengikhitisaran, sampai dengan pelaporan keuangan yang berkaitan dengan semua transaksi atau kejadian selain kas yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer.

e. Penyajian Laporan Keuangan

Secara garis besar, tujuan umum penyajian laporan keuangan oleh pemerintah daerah adalah untuk memberikan informasi yang digunakan dalam pembuatan keputusan ekonomi, sosial dan politik serta sebagai bukti pertanggungjawaban dan pengelolaan.

4. Mekanisme Sistem Akuntansi Keuangan Daerah

Menurut Permendagri No. 77 Tahun 2020 Tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah menyatakan bahwa "Sistem akuntansi keuangan daerah terdiri atas pencatatan, pengikhtisaran, dan pelaporan."

11

Prosedur sistem akuntansi keuangan daerah diatas diuraikan sebagai berikut (Lutfiyanti, 2018):

a. Pencatatan

1) Kesesuaian sistem akuntansi keuangan yang sesuai dengan standar akuntansi pemerintah.

2) Prosedur pencatatan transaksi yang sesuai dengan standar pencatatan akuntansi pada umumnya.

3) Kegiatan pengidentifikasian dan pengukuran dalam bentuk bukti transaksi dan bukti pencatatan.

4) Kegiatan pencatatan bukti transaksi dalam buku harian atau jurnal.

5) Memindahbukukan (posting) dari jurnal berdasarkan kelompok atau jenisnya kedalam akun buku besar.

b. Pengikhtisaran

1) Penyusunan neraca saldo berdasarkan akun buku besar pada akhir periode akuntansi yaitu suatu daftar yang memuat nama akun atau rekening beserta jumlah saldonya selama periode tertentu, diambil dari buku besar.

2) Pembuatan ayat jurnal penyesuaian yaitu menyesuaikan akun-akun pada akhir periode yang belum menyajikan informasi withering cutting-edge.

3) Penyusunan kertas kerja atau neraca lajur yaitu neraca lajur merupakan alat pembantu penyusunan laporan keuangan.

4) Pembuatan ayat jurnal penutup yaitu prosedur jurnal penutup dipostingke akun-akun bersangkutan sehingga setelah diposting, akun ostensible akun nol.

5) Pembuatan neraca saldo setelah penutupan yaitu neraca yang berisi daftar akun riil yang dibuat setelah dilakukan penutupan.

6) Pembuatan ayat jurnal pembalik yaitu apabila diperlukan setelah pembuatan neraca saldo setelah penutupan, dibuat ayat jurnal pembalik.

c. Pelaporan

Setelah compositions selesai, maka dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD, entitas pelaporan menyusun laporan keuangan. Laporan keuangan tersebut akan dilaporkan kepada pihak-pihak yang memerlukannya antara lain : Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD); Badan Pengawasan Keuangan;

Investor; Kreditor; dan Donatur; Analisis Ekonomi dan Pemerhati Pemerintah Daerah; Rakyat; Pemerintah Daerah lain; dan Pemerintah Pusat.

5. Ruang Lingkup Sistem Keuangan Daerah

Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 2013 Tentang Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual Pada Pemerintah Daerah Pasal 6 Ayat 2 dan 3, sistem akuntansi keuangan daerah meliputi :

a. Sistem akuntansi PPKD

Sistem akuntansi PPKD mencakup teknik pencatatan, pengakuan dan pengungkapan atas pendapatan-LO, beban, pendapatan-LRA, belanja, move, pembiayaan, aset, kewajiban, ekuitas, penyesuaian dan koreksi, penyusutan laporan keuangan

13

PPKD serta penyusunan laporan keuangan konsolidasian pemerintah daerah.

b. Sistem akuntansi SKPD

Sistem akuntansi SKPD mencangkup teknik pencatatan, pengakuan dan pengungkapan atas pendapatan-LO, beban, pendapatan-LRA, belanja, aset, kewajiban, ekuitas, penyesuaian dan koreksi serta penyusunan laporan keuangan SKPD.

6. Pengelolaan Keuangan Daerah

Keuangan Daerah adalah semua hak dan kewajiban Daerah dalam rangka penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang dapat dinilai dengan uang serta segala bentuk kekayaan yang dapat dijadikan milik Daerah berhubung dengan hak dan kewajiban Daerah tersebut (Peraturan Pemerintah No. 12 Tahun 2019). Untuk dapat menjalankan pemerintahan daerah dengan segala aspek keuangan yang terdapat didalamnya maka setiap kepala daerah harus dapat melakukan pengelolaan keuangan daerah yang baik sesuai dalam Permendagri No.

77 Tahun 2020 Tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Daerah, yang menjelaskan bahwa "Pengelolaan keuangan daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan daerah."

Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat, yang dimaksud secara tertib adalah

bahwa keuangan daerah dikelola secara tepat waktu dan tepat guna yang didukung dengan bukti-bukti administrasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Artinya pengelolaan keuangan daerah yang dilakukan sesuai dengan peraturan perundangan dan efektif serta efisien maka akan dapat menghasilkan suatu pelaporan yang baik dan taat dengan ketentuan karena didukung dengan bukti-bukti yang kuat (Defitri, 2018).

7. Prinsip-Prinsip Pengelolaan Keuangan

Prinsip-prinsip pengelolaan keuangan yang diperlukan untuk mengontrol kebijakan keuangan daerah meliputi (Sholeh, 2010 dalam Defitri, 2018):

a. Akuntabilitas

Akuntabilitas, mensyaratkan bahwa dalam mengambil suatu keputusan hendaknya berperilaku sesuai dengan mandat yang diterimanya. Kebijakan yang dihasilkan harus dapat diakses dan dikomunikasikan secara vertikal maupun even dengan baik, yang mencakup kerugian daerah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang, surat berharga dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.

b. Value for cash

Indikasi keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi adalah terjadinya peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik, kehidupan demokrasi yang semakin maju, keadilan, pemerataan serta adanya hubungan yang serasi antara pusat dan daerah serta antar daerah. Keadilan

15

tersebut hanya akan tercapai apabila penyelenggaraan pemerintahan daerah dikelola dengan memperhatikan konsep an incentive for cash, prinsip ini dioperasionalkan dalam pengelolaan keuangan daerah dan anggaran daerah dengan ekonomis, efektif, dan efisien.

c. Kejujuran dalam mengelola keuangan public

Pengelolaan keuangan daerah harus dipercayakan kepada staf yang memiliki integritas dan kejujuran yang tinggi, sehingga kesempatan untuk korupsi dapat diminimalkan, yang mencakup potensi kerugian daerah adalah suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang, surat berharga, dan pasti jumlahnya.

d. Transparansi

Transparansi merupakan keterbukaan pemerintah dalam membuat kebijakan-kebijakan keuangan daerah sehingga dapat diketahui dan diawasi oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) maupun masyarakat. Transparansi pengelolaan keuangan daerah pada akhirnya akan menciptakan flat responsibility antara pemerintah daerah dengan masyarakatnya sehingga tercipta pemerintah daerah yang bersih, efektif, efisien, akuntabel, responsif terhadap aspirasi dan kepentingan masyarakat, yang mencakup administrasi temuan mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset, tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah atau potensi kerugian daerah, tidak mengurangi hak daerah kekurangan

penerimaan, tidak menghambat program entitas, dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana.

e. Pengendalian

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) harus sering dievaluasi yaitu dibandingkan antara yang dianggarkan dengan yang dicapai. Untuk itu perlu dilakukan analisis varians selisih terhadap pendapatan dan belanja daerah agar dapat sesegera mungkin dicari penyebab timbulnya varians untuk kemudian dilakukan tindakan antisipasi ke depan, yang mencakup kekurangan penerimaan kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang, surat berharga, dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.

Prinsip-prinsip pengelolaan keuangan diperlukan untuk mengontrol kebijakan keuangan daerah. Kebijakan yang dihasilkan harus dapat diakses dan dikomunikasikan secara vertikal maupun level dengan pengelolaan keuangan daerah dan anggaran daerah dengan ekonomis, efektif, dan efisien.

B. Penelitian Terdahulu

Ada beberapa penelitian terdahulu yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis yaitu sebagai berikut:

Tabel 2 1 Penelitian Terdahulu

No.

Nama Peneliti dan Tahun

Penelitian

Judul Penelitian Alat

Analisis Hasil Penelitian 1. Sri Wildati, Irda

17

Kualitatif Hasil penelitian dan pengujian hipotesis

Kualitatif pembelian yang telah ditetapkan

Kualitatif Penelitian ini bertujuan untuk tahun 2010 di rumah sakit jiwa Prof. Dr.

Soerojo Magelang.

5. Muhammad Analisis Kualitatif Dalam hasil

Irfan Nasution,

penelitian yang telah dilakukan

Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Jeneponto untuk mewujudkan administrasi pemerintahan yang mampu mendukung kelancaran dan keterpaduan pelaksanaan tugas dan fungsi sebagai perencana pembangunan.

Berdasarkan landasan teori diatas dapat disusun kerangka pemikiran teoritis yang dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Tabel 2.2 Kerangka Pikir Badan Keuangan dan Aset

Daerah ( BPKAD )

Penerapan system akuntansi keuangan daerah

Hasil

19

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Sesuai dengan masalah yang diteliti, maka jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Menurut Sangdji dan Sopiah (2010: 21) penelitian deskriptif adalah penelitian terhadap masalah-masalah berupa fakta-fakta saat ini dari suatu populasi yang meliputi kegiatan penilaian sikap atau pendapat terhadap individu, organisasi, keadaan, ataupun prosedur.

Kualitatif adalah penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis.

B. Fokus Penelitian

Dalam penelitian ini, untuk mempermudah penulis dalam menganalisis hasil penelitian maka penelitian ini difokuskan pada: "Analisis Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah".

C. Lokasi dan Waktu Penelitian

Tempat dilaksanakannya penelitian ini pada Badan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Jeneponto yang berlokasi Jl. Lanto Dg.

Pasewang No. 34 Kelurahan Empoang, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto. Waktu penelitian direncanakan dalam kurung waktu kurang lebih 2 (dua) bulan lamanya.

D. Sumber Data

Sumbert data yang diperlukan dalam penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder. Data primer Menurut Sanusi (2014: 104), information preliminary adalah information yang pertama kali dicatat dan dikumpulkan

oleh peneliti. Peneliti dapat mengontrol tentang kualitas information, mengatasi kesenjangan waktu antara saat dibituhkan information tersebut dengan yang tersedia, dan peneliti lebih leluasa dalam menghubungkan masalah penelitiannya dengan kemungkinan ketersediaan information di lapangan. Dalam penelitian ini information preliminary diperoleh dari wawancara langsung kepada pihak yang kompeten dalam Analisis Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini didapatkan dari data yang dimiliki oleh Menurut Sanusi (2014: 104), information sekunder adalah information yang sudah tersedia dan dikumpulkan oleh pihak lain. Information sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari dokumen-dokumen Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Jeneponto.

E. Informan

Informan dalam penelitian ini adalah informan yang relevan. Informan tersebut terdiri dari:

1. Nama : Andi Muhammad Fatwa, SE, M.Si.Ak Jabatan : Kepala Bidang Akuntansi

Tugas : Merumuskan kebijakan teknis dan menyelenggarakan program atau kegiatan akutansi dan pelaporan pendapatan dan belanja daerah

2. Nama : Basriadi, SE

Jabatan : Kepala Sub Bidang bina entitas akunntasi

Tugas : Pembinaan dan pengendalian pelaksanaan tugas akutansi dan pelaporan pendapatan dan belanja daerah

21

F. Metode Pengumpulan Data

Menurut Faridah (2015), Dalam penelitian kualitatif menggunakan tiga teknik pengumpulan informati, yaitu:

1. Observasi

Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian. Menurut Sutopo (2010), teknik observasi digunakan untuk menggali information yang berupa peristiwa, tempat, lokasi, dan benda, serta rekaman gambar.

2. Wawancara

Dalam penelitian ini wawancara memegang peran penting karena di gunakan untuk mengumpulkan data dan memperoleh informasi. Wawancara adalah bentuk komunikasi antara dua orang, melibatkan seseorang yang ingin memperoleh informasi dan seseorang lainnya memberikan informasi (Noerdiawan, 2010: 180).

Pemilihan informan dilakukan dengan mempertimbangkan hal-hal yang berkaitan dengan teori yang dikaji dalam penelitian ini, serta telah berinteraksi secara langsung dengan aparat pemerintah yang bertugas mengelola keuangan. Sebelum dilangsungkan wawancara, Untuk menghindari kehilangan informasi, maka peneliti meminta ijin kepada informan untuk menggunakan alat perekam.

3. Dokumentasi

Dalam penelitian ini dokumentasi tertuju pada bagian keuangan sebagai tempat penelitian. Dalam penelitian ini dokumen yang digunakan adalah laporan dan catatan penting yang dimiliki Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Jeneponto.

G. Metode Analisis Data

Analisis informasi adalah Komposisi mencari dan menyusun secara sistematis informasi yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi sengan cara mengorganisasikan information sintetis, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan mana yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri dan orang lain.

Menurut Faridah (2015), Pada penelitian ini tahap-tahap analisis information dilakukan sebagai berikut:

1. Mengorganisir Data

Peneliti mendapatkan informasi langsung dari subjek melalui wawancara tidak terstruktur, artinya informasi diperoleh dengan wawancara langsung tanpa memberikan draft pertanyaan pada objek wawancara. Setelah melakukan wawancara, analisis informasi dimulai dengan membuat transkrip hasil wawancara, dengan cara memutar kembali rekaman hasil wawancara, mendengarkan dengan seksama, kemudian menuliskan individualized organization customized structure yang didengar sesuai dengan apa yang ada direkaman tersebut Hal ini dilakukan agar peneliti mengerti benar informasi atau hasil yang telah didapatkan.

2. Penyederhanaan Data

Setelah informati diorganisir, kemudian informasi yang didapatkan disederhanakan dalam bentuk pengurangan informasi yaitu membuang atau mengurangi informasi yang tidak penting sehingga informasi yang terpilih dapat di compositions ke langkah selanjutnya.

23

3. Proses Analisis Data

Analisis informatsi dilakukan pada saat pengumpulan informasi berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan informasi dalam periode tertentu. Pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban wawancara. Apabila jawaban tersebut belum memuaskan, maka peneliti akan melanjutkan pertanyaan lagi sampai tahap tertentu sampai diperoleh informati yang dianggap kredibel.

4. Hasil Interprestasi

Hasil interprestasi diperoleh dari hasil pemahaman coding informasi pada penelitian ini kemudian dikaitkan dengan teori yang ada sehingga interprestasi tidak bersifat predisposition tetapi dapat dijelaskan oleh teori tersebut. Dalam melakukan interprestasi, penelitian ini juga tidak terlepas dari kejadian yang ada pada setting penelitian.

24

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

1. Sejarah Badan Keuangan dan Aset Daerah BPKAD Kabupaten Jeneponto

Badan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah dibentuk dan disahkan menjadi salah satu SKPD di Kabupaten Jeneponto pada Tanggal 03 Agustus 2009. BPKAD merupakan gabungan dari 2 ( dua ) organisasi yang sudah ada sebelumnya , yaitu Bagian Keuangan Sekretariat Daerah dan Dinas Pendapatan Daerah dengan nama DPPKAD ( Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset daerah ), Kemudian pada pembentukan OPD baru yaitu pada Tahun Anggaran 2017. Bidang Pendapatan menjadi SKPD baru dengan nama Badan Pendapatan Daerah sehingga DPPKAD berubah menjadi Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah ( BPKAD ).

Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Jeneponto dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Jeneponto Nomor 4 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Jeneponto yang selanjutnya dalam Peraturan Bupati Jeneponto Nomor 45 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Jeneponto.

25

2. Visi dan Misi Badan Keuangan dan Aset Daerah BPKAD Kabupaten Jeneponto

a) Visi

Visi adalah gambaran abstrak, merupakan impian, bayangan yang syarat akan cita-cita dan citra yang ingin diwujudkan dimasa depan yang merupakan pandangan jauh kedepan, kemana dan bagaimana suatu organisasi/unit kerja harus dibawa agar dapat eksis antipatif, inovatif dan produktif untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam artian bahwa visi sebagai suatu pernyataan yang merupakan ungkapan dari nilai, arah dan komitmen serta memiliki daya tarik yang dapat diyakini sebagai pengarah dalam pelaksanaan aktivitas dalam pencapaian tujuan organisasi.

Sebagai penguatan organisasi atau unit kerja dan mengoptimalkan kinerja organisasinya maka dirumuskan visi Dinas pendapatan, pengelolaan keuangan dan aset daerah kabupaten jeneponto “mewujudkan peningkatan pendapatan dan pengelolaan keuangan dan aset daerah melalui peningkatan pelayanan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk menyelenggarakan pemerintah daerah”

b) Misi

Organisasi yang dibentuk selalu mempunyai tujuan yang ingin dicapai. Oleh karena itu guna mempertahankan keberadaannya ditetapkan misi yang merupakan penyataan tujuan dan sasaran apa yang ingin dicapai organisasi yang bersangkutan. Miasi yang ditetapkan ini menjadi tuntunan bagi manajemen dalam menjalankan

organisasinya. Penetapan misi merupakan hal yang sangat penting dan diperlukan guna mengarahkan operasional kegiatan menuju sasaran- sasaran yang telah ditentukan melalui strategi yang dipilih.

Mengacu pada visi yang telah ditetapkan, Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah Kabupaten Jeneponto menjabarkan kedalam misi yang harus dilaksanakan yang selanjutnya dijabarkan kedalam tujuan dan sasaran-sasaran organisasi yang harus dicapai oleh segenap jajaran manajemen. Berkaitan dengan hal tersebut Badan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah Kabupaten Jeneponto telah merumuskan misi sebagai berikut:

1. Meningkatkan intensifikasi dan ekstensifikasi sumber-sumber pengelolaan keuangan dan aset daerah.

2. Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia aparat pengelola pendapatan pengelola keuangan dan aset daerah.

3. Meningkatkan sarana dan prasarana pengelola pendapatan, pengelola keuangan dan aset daerah.

3. Sumber Daya Badan Keuangan dan Aset Daerah BPKAD Kabupaten

3. Sumber Daya Badan Keuangan dan Aset Daerah BPKAD Kabupaten

Dalam dokumen SKRIPSI. Suci Rahmadani (Halaman 22-0)

Dokumen terkait