• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Suci Rahmadani

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI. Suci Rahmadani"

Copied!
87
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Suci Rahmadani 105731129518

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

MAKASSAR 2022

KARYA TUGAS AKHIR MAHASISWA

(2)

JUDUL PENELITIAN:

ANALISIS PENERAPAN SISTEM AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH DI KABUPATEN JENEPONTO

SKRIPSI

Disusun Dan Diajukan Oleh:

SUCI RAHMADANI NIM: 105731129518

Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Akuntansi Pada Program Studi Akuntansi

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2022

M0TTO DAN PERSEMBAHAN

(3)

Kesanggupannya.

(Q.S Al-Baqarah Ayat 286)

PERSEMBAHAN

Puji syukur kepada Allah SWT atas Ridho-Nya serta karunianya sehingga skripsi ini telah terselesaikan dengan baik.

Alhamdulillah Rabbil’alamin

Skripsi ini saya persembahkan untuk kedua orang tua tercinta Ayah Sinring, Ibu Asmawati Tayang beserta keluarga besar yang telah membantu dan memberikan dukungan hingga skripsi ini terselesaikan, dan Almamater

Biru Universitas Muhammadiyah Makassar

PESAN DAN KESAN

Ada saat kita menghadapi kegagalan dalam suatu perjuangan Tetap semangat dan Pantang menyerah sesalu berdoa dan mendekatkan diri

pada Allah SWT Percaya dan yakinlah bahwa tidak aka nada hal yang dilakukan secara percuma.

(4)

iii

(5)
(6)

v

(7)

vi

(8)

vii

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Alhamdulillah peneliti panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah yang tiada henti diberikan kepada hamba-Nya.

Shalawat dan salam tak lupa penulis kirimkan kepada Rasulullah Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat dan para pengikutnya. Merupakan nikmat yang tiada ternilai manakala penulisan skripsi yang berjudul “Analisis Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah di Kabupaten Jeneponto”.

Skripsi yang peneliti buat ini bertujuan untuk memenuhi syarat dalam menyelesaikan program Sarjana (S1) pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

Teristimewa dan terutama peneliti sampaikan ucapan terima kasih kepada kedua orang tua penulis bapak Sinring dan Ibu Asmawati Tayang yang senantiasa memberi harapan, semangat, perhatian, kasih sayang dan doa tulus.

Dan saudara-saudaraku tercinta yang senantiasa mendukung dan memberikan semangat hingga akhir studi ini. Dan seluruh keluarga besar atas segala pengorbanan, serta dukungan baik materi maupun moral, dan doa restu yang telah diberikan demi keberhasilan peneliti dalam menuntut ilmu. Semoga apa yang telah mereka berikan kepada peneliti menjadi ibadah dan cahaya penerang kehidupan di dunia dan di akhirat.

Peneliti menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Begitu pula penghargaan yang setinggi-tingginya dan terima kasih banyak disampaikan dengan hormat kepada:

1. Bapak Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag, Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar

(9)

viii Muhammadiyah Makassar

4. Ibu Hj Ruliaty, SE.,MM, selaku Pembimbing I yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga Skripsi selesai dengan baik.

5. Ibu Muttiarni, SE.,M.Si, selaku Pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga Skripsi selesai dengan baik.

6. Bapak/Ibu dan Asisten Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar yang tak kenal lelah banyak menuangkan ilmunya kepada penulis selama mengikuti kuliah.

7. Segenap Staf dan Karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

8. Rekan-rekan Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Akuntansi Angkatan 2018 yang selalu belajar bersama yang tidak sedikit bantuannya dan dorongan dalam aktivitas studi penulis

9. Rekan-rekan Evidence 2018 yang senantiasa memberikan bantuan dan dorongan selama berada di kampus Unismuh Makassar

10. Terima kasih teruntuk semua kerabat yang tidak bisa saya tulis satu persatu yang telah memberikan semangat, kesabaran, motivasi, dan dukungannya sehingga penulis dapat merampungkan penulisan Skripsi ini.

Akhirnya, sungguh penulis sangat menyadari bahwa Skripsi ini masih

(10)

ix

sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kepada semua pihak utamanya para pembaca yang budiman, penulis senantiasa mengharapkan saran dan kritikannya demi kesempurnaan Skripsi ini.

Mudah-mudahan Skripsi yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi semua pihak utamanya kepada Almamater tercinta Kampus Biru Universitas Muhammadiyah Makassar.

Billahi fii Sabilil Haq, Fastabiqul Khairat, Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Makassar, , 2022 Peneliti,

Suci Rahmadani

(11)

x Dibimbing oleh Hj. Ruliaty dan Muttiarni.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah di Kabupaten Jeneponto. Penelitian ini diperoleh dari hasil observasi dan wawancara dengan pihak terkait, jenis penelitian ini bersifat Kualitatif Deskriptif dengan menggunakan pendekatan yuridis dan sosiologi.

Memilih beberapa informan dengan snowball sampling dan dan purposif sampling. Sumber data yang digunakan adalah sumber primer yaitu informasi yang bersumber dari pengamatan langsung ke lokasi penelitian dengan cara observasi dan wawancara. Sedangkan sumber sekunder yaitu data yang diperoleh dari dokumentasi atau studi kepustakaan untuk melengkapi data- data primer. Pengumpulan data dilakukan melalui field research melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Penerapan siklus akuntansi pada Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Jeneponto telah sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan. Semua tahap siklus telah dijalankan dengan baik. Begitu juga dengan kelengkapan item laporan keuangannya telah sesuai dengan ketentuan Laporan keuangan SKPD yang terdiri dari Laporan Realisas Anggaran, Neraca, dan Catatan Atas Laporan Keuangan. Pencatatan dan penggolongan transaksi berasal dari bukti-bukti pembukuan, yang selanjutnya dicatat dalam buku jurnal.

Kata kunci: Analisis Penerapan Akuntansi, Keuangan Daerah

(12)

xi ABSTRACK

SUCI RAHMADANI, 2022. Analysis of the Application of the Regional Financial Accounting System in Jeneponto Regency. Thesis. Accounting Study Program, Faculty of Economics and Business, University of Muhammadiyah Makassar. Supervised by Hj. Ruliaty and Muttiarni.

This study aims to analyze the application of the regional financial accounting system in Jenepont Regency. This research was obtained from a several observations and interviews with related parties, this type of research is qualitative descriptive using a juridical and sociological approach. Selecting several informants by snowball sampling and purposive sampling. The source of the data used is the primary source, namely information that comes from direct observation to the research location by means of observation and interviews.

While secondary sources are data obtained from documentation or literature study to complement primary data. Data was collected through field research through observation, interviews, and documentation.

The results of this study indicate that the application of the accounting cycle at the Regional Finance and Asset Agency of Jeneponto Regency has been in accordance with the guidelines that have been set. All stages of the cycle have been executed properly. Likewise, the completeness of the financial statement items is in accordance with the provisions of the SKPD financial report which consists of the Budget Realization Report, Balance Sheet, and Notes to Financial Statements. The recording and classification of transactions comes from bookkeeping evidence, which is then recorded in the journal.

Keywords: Analysis of Accounting Application, Regional Finance

(13)

xii

ABSTRAK ... vii

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7

A. Tinjauan Teoritis ... 7

B. Penelitian Terdahulu ... 16

C. Kerangka Pikir ... 18

BAB III METODE PENELITIAN ... 19

A. Pendekatan Penelitian ... 19

B. Fokus Penelitian ... 19

C. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 19

D. Jenis dan Sumber Data ... 19

E. Informan ... 20

F. Metode Pengumpulan Data ... 21

G. Metode Analisis Data... 22

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 24

A. Gambaran Umum Objek Penelitian ... 24

B. Hasil Penelitian ... 33

C. Pembahasan ... 38

(14)

xiii

BAB V PENUTUP ... 48

A. Kesimpulan ... 48

B. Saran ... 48

DAFTAR PUSTAKA ... 50 LAMPIRAN

(15)

xiv

Tabel 2. 2 Kerangka Fikir ... 18

Tabel 4. 1 Jumlah Pegawai ... 26

Tabel 4. 2 Stuktur Organisasi BPKAD ... 26

Tabel 4. 3 Siklus Keuangan ... 39

Tabel 4. 4 Realisasi Anggaran ... 45

Tabel 4. 5 Neraca ... 45

Tabel 4. 6 Operasional... 46

Tabel 4. 7 Perubahan Ekuitas ... 46

(16)

xv

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

Gambar 4. 1 Flowcart Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah ... 39

(17)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengelolaan keuangan daerah merupakan salah satu bagian yang mengalami perubahan mendasar dengan ditetapkannya UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan UU No.33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Kedua Undang- Undang tersebut telah memberikan kewenangan lebih luas kepada pemerintah daerah. Kewenangan dimaksud diantaranya adalah keleluasaan dalam mobilisasi sumber dana, menentukan arah, tujuan dan target penggunaan anggaran.

Pengelolaan keuangan daerah merupakan suatu kegiatan yang akan mempengaruhi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat dan bangsa Indonesia. Kewajiban Pemerintah Pusat dan Daerah untuk menyusun laporan keuangan sebagai wujud akuntabilitas pengelolaan keuangan negara/daerah.

Pengelolaan keuangan dalam praktiknya kini diwarnai dengan munculnya fenomena menguatnya tuntutan akuntabilitas atas organisasi-organisasi public baik di pusat maupun di daerah. Akuntabilitas merupakan bentuk kewajiban mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya, melalaui suatau meia pertanggungjwaban yang dilaksanakan secara periodik. Bentuk pertanggungjwaban penyelenggaraan pemerintah sebagai salah satu organisasi sektor publk adalah dengan menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan.

(18)

2

Penerapan sistem akuntansi keuangan diharapkan semua aktifitas instansi dapat dijalankan dengan efisien, sesuai dengan kebijaksanaan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Sistem akuntansi keuangan yang di maksud adalah suatu sistem akuntansi keuangan yang diterapakan secara menyeluruh.

Sistem akuntansi keuangan di sebuah instansi pemerintahan adalah suatu hal yang sangat penting untuk diperhatikan, karena sistem akuntansi keuangan dapat digunakan sebagai alat pengatur dan pengendali untuk seluruh kegiatan keuangan.

Salah satu upaya konkrit untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara adalah penyampaian laporan pertanggungjawaban dan pemerintah yang memenuhi prinsip tepat waktu dan disusun dengan mengikuti standar akuntansi pemerintah yang telah berlaku umum. Hal tersebut diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang mensyaratkan bentuk dan isi laporan pertanggungjawaban plaksanaan APBN/APBD disusun dan disajikan sesuai dengan standar akuntansi pemerintah yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah.

Untuk dapat menjalankan pemerintahan daerah dengan segala aspek keuangan yang terdapat didalamnya maka setiap kepala daerah harus dapat melakukan pengelolaan keuangan daerah yang baik sesuai dalam Permendagri No. 77 Tahun 2020 Tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Daerah, yang menjelaskan bahwa “Pengelolaan keuangan daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan daerah.” Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang

(19)

undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat, yang dimaksud secara tertib adalah bahwa keuangan daerah dikelola secara tepat waktu dan tepat guna yang didukung dengan bukti-bukti administrasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Artinya pengelolaan keuangan daerah yang dilakukan sesuai dengan peraturan perundangan dan efektif serta efisien maka akan dapat menghasilkan suatu pelaporan yang baik dan taat dengan ketentuan karena didukung dengan bukti-bukti yang kuat.

Terkhusus dalam akuntansi pemerintahan (pengelolaan keuangan daerah) mengalami perubahan mendasar dikarenakan tuntutan dan akuntabilitas dan transparansi yang lebih besar dalam pengelolaan anggaran. Secara umum terapat enam pergeseran dalam pengelolaan anggaran daerah (APBD), yakni : dalam akuntabilitas (dari vertical responsibility menjadi level responsibility), penyusunan anggaran (dari tradisional financial plan menjadi execution spending plan berbasis kinerja), pengendalian dan review (dari pengendalian atau review dan review keuangan ke pengendalian dan review keuangan dan kinerja), penggunaan dana APBD (dari tidak adanya konsep ekonomi, efisiensi dan efektifitas menjadi diterapkannya konsep tersebut), penerapan konsep pusat pertanggungjawaban menjadi adanya pusat pertanggung jawaban), framework akuntansi keuangan pemerintahan (dari pembukuan menjadi akuntansi.

Kabupaten Jeneponto merupakan salah satu daerah otonom yang ada di Sulawesi Selatan yang telah melaksanakan prinsip-prinsip otonomi daerah dengan berusaha mengimplementasikan sistem pengukuran kinerja demi terselenggaranya pelayanan publik yang lebih baik. Badan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Jeneponto sebagai salah satu satuan kerja

(20)

4

perangkat daerah (SKPD) di lingkungan pemerintah Kabupaten Jeneponto, dalam rangka mendukung visi dan misi Kabupaten Jeneponto dan sebagai bentuk implementasi pelaksanaan tugas berdasarkan peraturan pemerintah tentang susunan organisasi pemerintah, dan dilahirkan tugas pokok (tupoksi) BPKAD Kabupaten Jeneponto yaitu membantu Bupati menyelenggarakan kewenangan pemerintah daerah dibidang pengelolaan keuangan dan resource daerah.

Badan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Jeneponto adalah salah satu kantor pemerintahan di kota Jeneponto yang mempunyai tugas melaksanakan urusan pemerintah daerah berdasarkan asas otonomi dan pembantuan di bidang Keuangan dan Aset Daerah serta tugas lain yang diberikan Bupati sesuai ruang lingkup tugas dan fungsinya.

BPKAD Kabupaten Jeneponto sebagai salah satu daerah otonom tentunya tak terlepas dari perangkat-perangkat daerah yang dimiliki dalam mengelolah daerahnya. Namun dibalik itu tentunya harus tetap berlandaskan Undang-Undang dan peraturan pemerintah yang ada. Dalam hal pengelolaan keuangan daerah sebagai penanggung jawab yang mendelegasikan kepada bawahannya seseuai dengan instansi yang berkompoten tentang keuangan daerah

Pengelolaan keuangan daerah merupakan salah satu bagian yang mengalami perubahan mendasar dengan ditetapkannya UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan UU No.33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Kedua Undang- Undang tersebut telah memberikan kewenangan lebih luas kepada pemerintah daerah. Kewenangan dimaksud diantaranya adalah keleluasaan dalam

(21)

mobilisasi sumber dana, menentukan arah, tujuan dan target penggunaan anggaran.

Motivasi peneliti dalam memilih judul penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah penerapan sistem akuntansi keuangan daerah telah sesuai dengan standar akuntansi pemerintah yang berlaku, peneliti juga tertarik tentang bagaimana kinerja pegawai dalam pengelolaan keuangan dan aset daerah berdasarkan prinsip otonomi dan tugas pembantuan sesuaii dengan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah dan atau berdasarkan ketentuan yang berlaku.

Sistem keuangan di daerah sebagai pemberi informasi mengenai transaksi ekonomi dan keuangan pemerintah kepada pihak eksekutif, authoritative, yudikatif, dan masyarakat. Kehadirannya untuk mengatur persoalan keuangan daerah serta di harapkan dapat meminimalisasi kebocoran keuangan ata penyimpangan dalam persoalan anggaran.

Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas, maka peneliti tertarik untuk mengangkat permasalahan serta melakukan penelitian tentang ‘‘Analisis Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah di Kabupaten Jeneponto”.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana analisis Penerapan sistem akuntansi keuangan daerah pada Badan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Jeneponto?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian rumusan masalah sebelumnya, tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana Menganalisis penerapan

(22)

6

sistem akuntansi keuangan daerah pada Badan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Jeneponto.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

Untuk memperluas wawasan dan mengembangkan pengetahuan mengenai analisis penerapan sistem akuntansi keuangan pemerintah daerah yang sesuai dengan standar akuntansi pemerintah yang berlaku;

dan sebagai bahan referensi bagi peneliti selanjutnya 2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan menjadi bahan masukan dan pertimbangan yang berkaitan dengan penerapan akuntansi yang berlaku.

Serta diharapkan dapat memberikan manfaat pada masa yang akan dating. dan, bagi penulis, yakni penelitian ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan dan sebagai perbandingan antara pendidikan atau ilmu pengetahuan yang diperoleh dibangku kuliah dengan keadaan yang sebenarnya serta tambahan pengalaman bagi penulis dalam mengetahui penerapan sistem akuntansi keuangan pemerintah daerah pada Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Jeneponto. serta, bagi pembaca, yakni penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan acuan yang nantinya diharapkan dapat bermanfaat dalam menambah pengetahuan dan wawasan pembaca serta sangat diharapkan dapat dipergunakan sebagai bahan referensi dalam menyusun tugas akhir yang

(23)

berhubungan dengan analisis penerapan sistem akuntansi keuangan didaerah kabupaten jeneponto.

(24)

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teoritis

1. Pengertian Sistem Akuntansi

Sistem akuntansi adalah sistem buatan manusia yang terdiri atas komponen komputer atau komponen manual yang terintegrasi untuk melakukan pengumpulan, penyimpanan dan manajemen information untuk menghasilkan informasi akuntansi bagi pengguna informasi akuntansi (Gelinas, Sutton and Hunton, 2016).

Akuntansi adalah pengukuran, penjabaran, atau pemberian kepastian mengenai informasi yang akan membantu manajer, financial backer, otoritas pajak dan pembuat kuputusan lain untuk membuat alokasi sumber daya keputsan didalam perusahaan, organisasi non- benefit dan lembaga pemerintah. Suatu sistem mengolah input (masukan) menjadi yield (keluaran). Input suatu sistem adalah bukti-bukti transaksi dalam bentuk dokumen atau formulir, outputnya adalah laporan keuangan. Sistem akuntansi dapat dijelaskan secara rinci melalui siklus akuntansi. Siklus akuntansi merupakan sistematika pencatatan transaksi keuangan, peringkasannya dan pelaporan keuangan.

Mulyadi (2016) menyatakan bahwa "Sistem akuntansi adalah organisasi formulir, catatan, dan laporan yang dikoordinasi sedemikian rupa untuk menyediakan informasi keuangan yang dibutuhkan oleh manajemen guna memudahkan pengelolaan perusahaan."

Menurut (Bastian, 2012:6) sistem akuntansi adalah prinsip akuntansi yang menetukan kapan transaksi keuangan harus diakui untuk

(25)

tujuan laporan keuangan.

Menurut (Sadeli, 2011:6) Sistem akuntansi adalah metode dan prosedur untuk mencatat dan melaporkan informasi keuangan yang disediakan bagi perusahaan atau suatu organisasi bisnis. Sistem akuntansi yang diterapkan dalam perusahaan besar sangat kompleks.

Kompleksitas sistem tersebut disebabkan oleh kekhususan dari sistem yang dirancang untuk suatu organisasi bisnis sebagai akibat dari adanya perbedaan kebutuhan akan informasi oleh manajer, bentuk dan jalan transaksi laporan keuangan. Sistem akuntansi terdiri atas dokumen bukti transaksi, alat-alat pencatatan, laporan dan prosedur yang digunakan perusahaan untuk mencatat transaksi-transaksi serta melaporkan hasilnya.

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa sistem akuntansi merupakan sistem yang menyediakan informasi keuangan bagi manajemen atau pengguna informasi akuntansi untuk memudahkan pengelolaan perusahaan.

2. Sistem Akuntansi Keuangan Daerah

Akuntansi keuangan daerah dapat di definisikan sebagai suatu compositions identifikasi, pengukuran, dan pelaporan transaksi ekonomi (keuangan) dari suatu daerah (Provinsi, kabupaten, Kota) yang dijadikan sebagai informasi dalam pengambilan keputusan ekonomi oleh pihak- pihak yang memerlukan (Halim, 2012 dalam Mokoginta et al., 2017).

Sistem akuntansi keuangan daerah adalah sistem akuntansi yang meliputi compositions pencatatan, penggolongan, penafsiran, peringkasan transaksi atau kejadian keuangan serta pelaporan keuangan

(26)

9

dalam rangka pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD (Erlina dan Rasdianto, 2013 dalam Lutfiyanti, 2018).

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa sistem akuntansi keuangan daerah merupakan suatu sistem yang meliputi expositions identifikasi, pencatatan, pengukuran dan pelaporan sebagai informasi dalam pengambilan keputusan pihak-pihak tertentu.

3. Karakteristik Akuntansi Pemerintah

Sistem akuntansi pemerintah daerah secara garis besar terdiri atas empat prosedur akuntansi yaitu akuntansi penerimaan kas, akuntansi pengeluaran kas, akuntasi selain kas, dan akuntansi resource, dan disempurnakan oleh permendagri menjadi 5 prosedur sistem akuntansi keuangan daerah yang meliputi sebagai berikut (Halim, 2012 dalam Mokoginta et al., 2017):

a. Prosedur Akuntansi Penerimaan Kas

Prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPKD adalah serangkaian expositions mulai dari pencatatan, pengikhitisaran, sampai dengan pelaporan keuangan yang berkaitan dengan penerimaan kas dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer.

b. Prosedur Akuntansi Pengeluaran Kas

Prosedur akuntansi pengeluaran kas adalah serangkaian compositions, baik manual maupun terkomputerisasi, mulai dari pencatatan, penggolongan dan peringkasan transaksi atau kejadian keuangan, hingga pelaporan keuangan dalam rangka

(27)

pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang berkaitan dengan pengeluaran kas pada SKPD dan/atau SKPKD.

c. Prosedur Akuntansi Aset Tetap/Barang Milik Daerah

Prosedur akuntansi resource adalah serangkaian expositions, baik manual maupun komputerisasi, mulai dari pencatatan dan pelaporan akuntansi atas perolehan, hingga pemeliharaan, rehabilitas, penghapusan, pemindah tanganan, perubahan klasifikasi dan terhadap resource yang dikuasai/digunakan SKPD atau SKPKD. Prosedur akuntansi resource digunakan sebagai alat pengendali dalam pengelolan resource yang dikuasai/digunakan SKPD atau SKPKD.

d. Prosedur Akuntansi Selain Kas

Prosedur akuntansi selain kas adalah serangkaian compositions mulai dari pencatatan, pengikhitisaran, sampai dengan pelaporan keuangan yang berkaitan dengan semua transaksi atau kejadian selain kas yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer.

e. Penyajian Laporan Keuangan

Secara garis besar, tujuan umum penyajian laporan keuangan oleh pemerintah daerah adalah untuk memberikan informasi yang digunakan dalam pembuatan keputusan ekonomi, sosial dan politik serta sebagai bukti pertanggungjawaban dan pengelolaan.

4. Mekanisme Sistem Akuntansi Keuangan Daerah

Menurut Permendagri No. 77 Tahun 2020 Tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah menyatakan bahwa "Sistem akuntansi keuangan daerah terdiri atas pencatatan, pengikhtisaran, dan pelaporan."

(28)

11

Prosedur sistem akuntansi keuangan daerah diatas diuraikan sebagai berikut (Lutfiyanti, 2018):

a. Pencatatan

1) Kesesuaian sistem akuntansi keuangan yang sesuai dengan standar akuntansi pemerintah.

2) Prosedur pencatatan transaksi yang sesuai dengan standar pencatatan akuntansi pada umumnya.

3) Kegiatan pengidentifikasian dan pengukuran dalam bentuk bukti transaksi dan bukti pencatatan.

4) Kegiatan pencatatan bukti transaksi dalam buku harian atau jurnal.

5) Memindahbukukan (posting) dari jurnal berdasarkan kelompok atau jenisnya kedalam akun buku besar.

b. Pengikhtisaran

1) Penyusunan neraca saldo berdasarkan akun buku besar pada akhir periode akuntansi yaitu suatu daftar yang memuat nama akun atau rekening beserta jumlah saldonya selama periode tertentu, diambil dari buku besar.

2) Pembuatan ayat jurnal penyesuaian yaitu menyesuaikan akun-akun pada akhir periode yang belum menyajikan informasi withering cutting-edge.

3) Penyusunan kertas kerja atau neraca lajur yaitu neraca lajur merupakan alat pembantu penyusunan laporan keuangan.

4) Pembuatan ayat jurnal penutup yaitu prosedur jurnal penutup dipostingke akun-akun bersangkutan sehingga setelah diposting, akun ostensible akun nol.

(29)

5) Pembuatan neraca saldo setelah penutupan yaitu neraca yang berisi daftar akun riil yang dibuat setelah dilakukan penutupan.

6) Pembuatan ayat jurnal pembalik yaitu apabila diperlukan setelah pembuatan neraca saldo setelah penutupan, dibuat ayat jurnal pembalik.

c. Pelaporan

Setelah compositions selesai, maka dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD, entitas pelaporan menyusun laporan keuangan. Laporan keuangan tersebut akan dilaporkan kepada pihak-pihak yang memerlukannya antara lain : Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD); Badan Pengawasan Keuangan;

Investor; Kreditor; dan Donatur; Analisis Ekonomi dan Pemerhati Pemerintah Daerah; Rakyat; Pemerintah Daerah lain; dan Pemerintah Pusat.

5. Ruang Lingkup Sistem Keuangan Daerah

Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 2013 Tentang Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual Pada Pemerintah Daerah Pasal 6 Ayat 2 dan 3, sistem akuntansi keuangan daerah meliputi :

a. Sistem akuntansi PPKD

Sistem akuntansi PPKD mencakup teknik pencatatan, pengakuan dan pengungkapan atas pendapatan-LO, beban, pendapatan-LRA, belanja, move, pembiayaan, aset, kewajiban, ekuitas, penyesuaian dan koreksi, penyusutan laporan keuangan

(30)

13

PPKD serta penyusunan laporan keuangan konsolidasian pemerintah daerah.

b. Sistem akuntansi SKPD

Sistem akuntansi SKPD mencangkup teknik pencatatan, pengakuan dan pengungkapan atas pendapatan-LO, beban, pendapatan-LRA, belanja, aset, kewajiban, ekuitas, penyesuaian dan koreksi serta penyusunan laporan keuangan SKPD.

6. Pengelolaan Keuangan Daerah

Keuangan Daerah adalah semua hak dan kewajiban Daerah dalam rangka penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang dapat dinilai dengan uang serta segala bentuk kekayaan yang dapat dijadikan milik Daerah berhubung dengan hak dan kewajiban Daerah tersebut (Peraturan Pemerintah No. 12 Tahun 2019). Untuk dapat menjalankan pemerintahan daerah dengan segala aspek keuangan yang terdapat didalamnya maka setiap kepala daerah harus dapat melakukan pengelolaan keuangan daerah yang baik sesuai dalam Permendagri No.

77 Tahun 2020 Tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Daerah, yang menjelaskan bahwa "Pengelolaan keuangan daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan daerah."

Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat, yang dimaksud secara tertib adalah

(31)

bahwa keuangan daerah dikelola secara tepat waktu dan tepat guna yang didukung dengan bukti-bukti administrasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Artinya pengelolaan keuangan daerah yang dilakukan sesuai dengan peraturan perundangan dan efektif serta efisien maka akan dapat menghasilkan suatu pelaporan yang baik dan taat dengan ketentuan karena didukung dengan bukti-bukti yang kuat (Defitri, 2018).

7. Prinsip-Prinsip Pengelolaan Keuangan

Prinsip-prinsip pengelolaan keuangan yang diperlukan untuk mengontrol kebijakan keuangan daerah meliputi (Sholeh, 2010 dalam Defitri, 2018):

a. Akuntabilitas

Akuntabilitas, mensyaratkan bahwa dalam mengambil suatu keputusan hendaknya berperilaku sesuai dengan mandat yang diterimanya. Kebijakan yang dihasilkan harus dapat diakses dan dikomunikasikan secara vertikal maupun even dengan baik, yang mencakup kerugian daerah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang, surat berharga dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.

b. Value for cash

Indikasi keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi adalah terjadinya peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik, kehidupan demokrasi yang semakin maju, keadilan, pemerataan serta adanya hubungan yang serasi antara pusat dan daerah serta antar daerah. Keadilan

(32)

15

tersebut hanya akan tercapai apabila penyelenggaraan pemerintahan daerah dikelola dengan memperhatikan konsep an incentive for cash, prinsip ini dioperasionalkan dalam pengelolaan keuangan daerah dan anggaran daerah dengan ekonomis, efektif, dan efisien.

c. Kejujuran dalam mengelola keuangan public

Pengelolaan keuangan daerah harus dipercayakan kepada staf yang memiliki integritas dan kejujuran yang tinggi, sehingga kesempatan untuk korupsi dapat diminimalkan, yang mencakup potensi kerugian daerah adalah suatu perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa yang akan datang berupa berkurangnya uang, surat berharga, dan pasti jumlahnya.

d. Transparansi

Transparansi merupakan keterbukaan pemerintah dalam membuat kebijakan-kebijakan keuangan daerah sehingga dapat diketahui dan diawasi oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) maupun masyarakat. Transparansi pengelolaan keuangan daerah pada akhirnya akan menciptakan flat responsibility antara pemerintah daerah dengan masyarakatnya sehingga tercipta pemerintah daerah yang bersih, efektif, efisien, akuntabel, responsif terhadap aspirasi dan kepentingan masyarakat, yang mencakup administrasi temuan mengungkap adanya penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset, tetapi penyimpangan tersebut tidak mengakibatkan kerugian daerah atau potensi kerugian daerah, tidak mengurangi hak daerah kekurangan

(33)

penerimaan, tidak menghambat program entitas, dan tidak mengandung unsur indikasi tindak pidana.

e. Pengendalian

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) harus sering dievaluasi yaitu dibandingkan antara yang dianggarkan dengan yang dicapai. Untuk itu perlu dilakukan analisis varians selisih terhadap pendapatan dan belanja daerah agar dapat sesegera mungkin dicari penyebab timbulnya varians untuk kemudian dilakukan tindakan antisipasi ke depan, yang mencakup kekurangan penerimaan kerugian daerah adalah berkurangnya kekayaan daerah berupa uang, surat berharga, dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.

Prinsip-prinsip pengelolaan keuangan diperlukan untuk mengontrol kebijakan keuangan daerah. Kebijakan yang dihasilkan harus dapat diakses dan dikomunikasikan secara vertikal maupun level dengan pengelolaan keuangan daerah dan anggaran daerah dengan ekonomis, efektif, dan efisien.

B. Penelitian Terdahulu

Ada beberapa penelitian terdahulu yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis yaitu sebagai berikut:

Tabel 2 1 Penelitian Terdahulu

No.

Nama Peneliti dan Tahun

Penelitian

Judul Penelitian Alat

Analisis Hasil Penelitian 1. Sri Wildati, Irda

Wati (2019)

Analisis

Penerapan Sistem Akuntansi

Keuangan Daerah Pada Pengelola

Kualitatif Penelitian

menunjukkan bahwa

BPKAD Kab.

Konawe teleh menerapkan sistem

(34)

17

Keuangan Dan Aset Daerah Kabupaten

Konawe, Provinsi Sulawesi

Tenggara

akuntansi

pemerintahan sesuai dengan permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang pedoman pengelolaan

Keuangan Daerah dan PP No. 24 Tahun 2005 tentang standar Akuntansi Pemerintahan.

2. Rahima Br, Purba, SE.,M.Si.,Ak .CA, Azima Medina Amrul,SE (2018)

Pengaruh

Penerapan Sistem Akuntansi

Keuangan Daerah, Transparansi

Publik Dan

Aktivitas Pengendalian Terhadap Akuntabilitas Keuangan Pada Badan Keuangan Daerah Kabupaten Tanah Datar

Kualitatif Hasil penelitian dan pengujian hipotesis menujukkan bahwa variabel variabel sistem akuntansi keuangan simultan, aktivitas transparansi dan pengendalian publik tidak mempengaruhi akuntabilitas keuangan

3. Dana Nastari, Linda Lambey, Steven

Tangkuman (2017)

Analisis

Penerapan Sistem Informasi

Akuntansi

Pembelian Suku Cadang Pada PT.

Hasjrat Abadi Sudirman Manado

Kualitatif pembelian yang telah ditetapkan pihak Proses pembelian suku cadang PT. Hasjrat Abadi Sudirman Manado sendiri menggunakan sistem perusahaan dengan

menggunakan sistem

komputerisasi.

4. Hermin Dwi Khasanah, Octavia Lhaksmi Pramudyastuti (2020)

Analisis

Penerapan Sistem Akuntansi Instansi Berbasis Akrual Di RSJ PROF, DR, SOEROJO

MAGELANG

Kualitatif Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

penerapan Sistem Akuntansi Instansi Berbasis Akrual (SAIBA) sebagai Implementasi PP 71 tahun 2010 di rumah sakit jiwa Prof. Dr.

Soerojo Magelang.

5. Muhammad Analisis Kualitatif Dalam hasil

(35)

Irfan Nasution, Nurwani (2021)

Penerapan Sistem Informasi

Pemerintah

Daerah (SIPD)

Pada Badan

Pengelola

Keuangan Dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Medan

penelitian yang telah dilakukan

menunjukkan bahwa BPKAD kota Medan telah menggunakan aplikasi Sistem Informasi

Pemerintah (SIPD) untuk melakukan kebijakan kebijakan yang diperlukan untuk melakukan berbagai kegiatan yang program dari pemerintah kota Medan.

C. Kerangka Pikir

Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Jeneponto untuk mewujudkan administrasi pemerintahan yang mampu mendukung kelancaran dan keterpaduan pelaksanaan tugas dan fungsi sebagai perencana pembangunan.

Berdasarkan landasan teori diatas dapat disusun kerangka pemikiran teoritis yang dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Tabel 2.2 Kerangka Pikir Badan Keuangan dan Aset

Daerah ( BPKAD )

Penerapan system akuntansi keuangan daerah

Hasil

(36)

19

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Sesuai dengan masalah yang diteliti, maka jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Menurut Sangdji dan Sopiah (2010: 21) penelitian deskriptif adalah penelitian terhadap masalah-masalah berupa fakta-fakta saat ini dari suatu populasi yang meliputi kegiatan penilaian sikap atau pendapat terhadap individu, organisasi, keadaan, ataupun prosedur.

Kualitatif adalah penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis.

B. Fokus Penelitian

Dalam penelitian ini, untuk mempermudah penulis dalam menganalisis hasil penelitian maka penelitian ini difokuskan pada: "Analisis Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah".

C. Lokasi dan Waktu Penelitian

Tempat dilaksanakannya penelitian ini pada Badan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Jeneponto yang berlokasi Jl. Lanto Dg.

Pasewang No. 34 Kelurahan Empoang, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto. Waktu penelitian direncanakan dalam kurung waktu kurang lebih 2 (dua) bulan lamanya.

D. Sumber Data

Sumbert data yang diperlukan dalam penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder. Data primer Menurut Sanusi (2014: 104), information preliminary adalah information yang pertama kali dicatat dan dikumpulkan

(37)

oleh peneliti. Peneliti dapat mengontrol tentang kualitas information, mengatasi kesenjangan waktu antara saat dibituhkan information tersebut dengan yang tersedia, dan peneliti lebih leluasa dalam menghubungkan masalah penelitiannya dengan kemungkinan ketersediaan information di lapangan. Dalam penelitian ini information preliminary diperoleh dari wawancara langsung kepada pihak yang kompeten dalam Analisis Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini didapatkan dari data yang dimiliki oleh Menurut Sanusi (2014: 104), information sekunder adalah information yang sudah tersedia dan dikumpulkan oleh pihak lain. Information sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari dokumen-dokumen Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Jeneponto.

E. Informan

Informan dalam penelitian ini adalah informan yang relevan. Informan tersebut terdiri dari:

1. Nama : Andi Muhammad Fatwa, SE, M.Si.Ak Jabatan : Kepala Bidang Akuntansi

Tugas : Merumuskan kebijakan teknis dan menyelenggarakan program atau kegiatan akutansi dan pelaporan pendapatan dan belanja daerah

2. Nama : Basriadi, SE

Jabatan : Kepala Sub Bidang bina entitas akunntasi

Tugas : Pembinaan dan pengendalian pelaksanaan tugas akutansi dan pelaporan pendapatan dan belanja daerah

(38)

21

F. Metode Pengumpulan Data

Menurut Faridah (2015), Dalam penelitian kualitatif menggunakan tiga teknik pengumpulan informati, yaitu:

1. Observasi

Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian. Menurut Sutopo (2010), teknik observasi digunakan untuk menggali information yang berupa peristiwa, tempat, lokasi, dan benda, serta rekaman gambar.

2. Wawancara

Dalam penelitian ini wawancara memegang peran penting karena di gunakan untuk mengumpulkan data dan memperoleh informasi. Wawancara adalah bentuk komunikasi antara dua orang, melibatkan seseorang yang ingin memperoleh informasi dan seseorang lainnya memberikan informasi (Noerdiawan, 2010: 180).

Pemilihan informan dilakukan dengan mempertimbangkan hal-hal yang berkaitan dengan teori yang dikaji dalam penelitian ini, serta telah berinteraksi secara langsung dengan aparat pemerintah yang bertugas mengelola keuangan. Sebelum dilangsungkan wawancara, Untuk menghindari kehilangan informasi, maka peneliti meminta ijin kepada informan untuk menggunakan alat perekam.

3. Dokumentasi

Dalam penelitian ini dokumentasi tertuju pada bagian keuangan sebagai tempat penelitian. Dalam penelitian ini dokumen yang digunakan adalah laporan dan catatan penting yang dimiliki Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Jeneponto.

(39)

G. Metode Analisis Data

Analisis informasi adalah Komposisi mencari dan menyusun secara sistematis informasi yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi sengan cara mengorganisasikan information sintetis, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan mana yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri dan orang lain.

Menurut Faridah (2015), Pada penelitian ini tahap-tahap analisis information dilakukan sebagai berikut:

1. Mengorganisir Data

Peneliti mendapatkan informasi langsung dari subjek melalui wawancara tidak terstruktur, artinya informasi diperoleh dengan wawancara langsung tanpa memberikan draft pertanyaan pada objek wawancara. Setelah melakukan wawancara, analisis informasi dimulai dengan membuat transkrip hasil wawancara, dengan cara memutar kembali rekaman hasil wawancara, mendengarkan dengan seksama, kemudian menuliskan individualized organization customized structure yang didengar sesuai dengan apa yang ada direkaman tersebut Hal ini dilakukan agar peneliti mengerti benar informasi atau hasil yang telah didapatkan.

2. Penyederhanaan Data

Setelah informati diorganisir, kemudian informasi yang didapatkan disederhanakan dalam bentuk pengurangan informasi yaitu membuang atau mengurangi informasi yang tidak penting sehingga informasi yang terpilih dapat di compositions ke langkah selanjutnya.

(40)

23

3. Proses Analisis Data

Analisis informatsi dilakukan pada saat pengumpulan informasi berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan informasi dalam periode tertentu. Pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban wawancara. Apabila jawaban tersebut belum memuaskan, maka peneliti akan melanjutkan pertanyaan lagi sampai tahap tertentu sampai diperoleh informati yang dianggap kredibel.

4. Hasil Interprestasi

Hasil interprestasi diperoleh dari hasil pemahaman coding informasi pada penelitian ini kemudian dikaitkan dengan teori yang ada sehingga interprestasi tidak bersifat predisposition tetapi dapat dijelaskan oleh teori tersebut. Dalam melakukan interprestasi, penelitian ini juga tidak terlepas dari kejadian yang ada pada setting penelitian.

(41)

24

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

1. Sejarah Badan Keuangan dan Aset Daerah BPKAD Kabupaten Jeneponto

Badan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah dibentuk dan disahkan menjadi salah satu SKPD di Kabupaten Jeneponto pada Tanggal 03 Agustus 2009. BPKAD merupakan gabungan dari 2 ( dua ) organisasi yang sudah ada sebelumnya , yaitu Bagian Keuangan Sekretariat Daerah dan Dinas Pendapatan Daerah dengan nama DPPKAD ( Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset daerah ), Kemudian pada pembentukan OPD baru yaitu pada Tahun Anggaran 2017. Bidang Pendapatan menjadi SKPD baru dengan nama Badan Pendapatan Daerah sehingga DPPKAD berubah menjadi Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah ( BPKAD ).

Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Jeneponto dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Jeneponto Nomor 4 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Jeneponto yang selanjutnya dalam Peraturan Bupati Jeneponto Nomor 45 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Jeneponto.

(42)

25

2. Visi dan Misi Badan Keuangan dan Aset Daerah BPKAD Kabupaten Jeneponto

a) Visi

Visi adalah gambaran abstrak, merupakan impian, bayangan yang syarat akan cita-cita dan citra yang ingin diwujudkan dimasa depan yang merupakan pandangan jauh kedepan, kemana dan bagaimana suatu organisasi/unit kerja harus dibawa agar dapat eksis antipatif, inovatif dan produktif untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam artian bahwa visi sebagai suatu pernyataan yang merupakan ungkapan dari nilai, arah dan komitmen serta memiliki daya tarik yang dapat diyakini sebagai pengarah dalam pelaksanaan aktivitas dalam pencapaian tujuan organisasi.

Sebagai penguatan organisasi atau unit kerja dan mengoptimalkan kinerja organisasinya maka dirumuskan visi Dinas pendapatan, pengelolaan keuangan dan aset daerah kabupaten jeneponto “mewujudkan peningkatan pendapatan dan pengelolaan keuangan dan aset daerah melalui peningkatan pelayanan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk menyelenggarakan pemerintah daerah”

b) Misi

Organisasi yang dibentuk selalu mempunyai tujuan yang ingin dicapai. Oleh karena itu guna mempertahankan keberadaannya ditetapkan misi yang merupakan penyataan tujuan dan sasaran apa yang ingin dicapai organisasi yang bersangkutan. Miasi yang ditetapkan ini menjadi tuntunan bagi manajemen dalam menjalankan

(43)

organisasinya. Penetapan misi merupakan hal yang sangat penting dan diperlukan guna mengarahkan operasional kegiatan menuju sasaran- sasaran yang telah ditentukan melalui strategi yang dipilih.

Mengacu pada visi yang telah ditetapkan, Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah Kabupaten Jeneponto menjabarkan kedalam misi yang harus dilaksanakan yang selanjutnya dijabarkan kedalam tujuan dan sasaran-sasaran organisasi yang harus dicapai oleh segenap jajaran manajemen. Berkaitan dengan hal tersebut Badan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah Kabupaten Jeneponto telah merumuskan misi sebagai berikut:

1. Meningkatkan intensifikasi dan ekstensifikasi sumber-sumber pengelolaan keuangan dan aset daerah.

2. Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia aparat pengelola pendapatan pengelola keuangan dan aset daerah.

3. Meningkatkan sarana dan prasarana pengelola pendapatan, pengelola keuangan dan aset daerah.

3. Sumber Daya Badan Keuangan dan Aset Daerah BPKAD Kabupaten Jeneponto

Tabel 4. 1 Jumlah Pegawai No. Tingkat

Pendidikan

Jumlah Pegawai Jumlah Laki-laki Perempuan

1. Pegawai 3 1 4

2. Pegawai 2 1 3

3. Pegawai 11 4 15

4. Staf 10 7 17

Jumlah 39

(44)

27

Tabel diatas merupakan daftar nama-nama pegawai/staf BPKAD Kabupaten Jeneponto yang bekerja di bidang masing-masing yang dimana jumlah pegawai laki-laki 16 orang dan staf laki-laki 10 orang.

Begitu pula dengan pegawai perempuan 6 orang dan staf perempuan 7 orang, jadi total jumlah pegawai dan staf Badan Keuangan dan Aset Daerah BPKAD kabupaten sebanyak 39 orang.

4. Struktur Organisasi

Tabel 4. 2. STRUKTUR ORGANISASI BPKAD

...

KEPALA BADAN

SEKERTARIS

KASUBAG UMUM & KEPEGAWAIAN

KASUBAK PERENCANAAN KASUBAK KEUANGAN

KELOMPOK JABATAN FUNGGSIONAL

KASUBID

PERENCANAAN ANGGARAN

KABID PERBENDAHARAAN

KASUBID

PENGENDALIAN ANGGARAN KABID ANGGARAN

KASUBID PERENCANAAN KAS

KASUBID BELANJA KABID ASET

KASUBID

INVENTARISASI BARANG DAERAH KASUBID

PEMANFAATAN BARANG DAERAH

KABID AKUNTANSI KASUBID

ANALISIS PENCATATAN TRANSAKSI KASUBID

BINA ENTITAS AKUNTANSI

(45)

5. Job Description

a. Kepala Badan

Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah merupakan unsur penunjang urusan pemerintahan yang melaksanakan fungsi penunjang keuangan, oleh seorang Kepala Badan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah’

b. Sekretaris

Sekretariat secara umum memiliki tugas membantu dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan dalam melaksanakan pengelolaan kesekretariatan Badan. Untuk menyelenggarakan tugas tersebut, Sekretariat memiliki fungsi:

1) Pengkoordinasian penyusunan program, monitoring, evaluasi dan pelaporan Badan;

2) Pengelolaan rumah tangga, tata usaha dan kepegawaian Badan;

3) Pengoordinasian penyusunan rancangan produk hukum;

4) Penyusunan kebijakan penataan organisasi Badan;

5) Pengelolaan Keuangan Badan;

6) Pengelolaan situs web Badan; dan

7) Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Bupati sesuai bidang kegiatan.

Dalam melaksanakan tugas dan fungsi, Sekretariat yang dipimpin oleh Sekretaris dan dibantu oleh:

(46)

29

1) Sub Bagian Keuangan

Sub Bagian Keuangan mempunyai tugas membantu Sekretaris dalam melaksanakan pengelolaan keuangan Badan.

Untuk menyelenggarakan tugas yang dimaksud, Sub Bagian Keuangan memiliki fungsi:

a) Penatausahaan keuangan Badan;

b) Penyusunan pelaporan keuangan Badan; dan

c) Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh pimpinan sesuai bidang tugas

2) Sub Bagian Perencanaan

Sub Bidang Perencanaan memiliki tugas membantu Kepala Bidang Aset Daerah dalam melaksanakan analisis perencanaan barang milik daerah. Untuk menyelenggarakan tugas dimaksud, Sub Bidang Perencanaan memiliki fungsi:

a) Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis analisis perencanaan kebutuhan barang milik daerah;

b) Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis standarisasi barang dan harga barang;

c) Penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis dan pelaksanaan penghapusan barang milik daerah;

d) Penyusunan laporan dan evaluasi pelaksanaan Sub Bidang Perencanaan; dan

e) Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh pimpinan sesuai bidang tugas.

(47)

3) Sub Bagian Umum dan Kepegawaian

Sub Bagian Umum dan Kepegawaian memiliki tugas membantu Sekretaris dalam melaksanakan pengelolaan rumah tangga, tata usaha dan kepegawaian Badan. Untuk menyelenggarakan sebagaimana dimaksud, Sub Bagian Umum dan Kepegawaian memiliki fungsi:

a) Pengelolaan rumah tangga dan tata usaha Badan;

b) Pengelolaan barang/jasa Badan;

c) Penyiapan bahan rancangan produk hukum;

d) Penyiapan bahan penyusunan kebijakan penataan organisasi Badan;

e) layanan pengelolaan administrasi kepegawaian Badan; dan f) Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh pimpinan sesuai

dengan bidang tugas.

c. Bidang Anggaran

Bidang Anggaran memiliki tugas membantu Kepala Badan dalam melaksanakan pengkoordinasian penyusunan rancangan anggaran daerah. Untuk menyelenggarakan, Bidang Anggaran memiliki fungsi:

1) Pelaksanaan pengkoordinasian penyusunan analisa kebijakan anggaran daerah;

2) pelaksanaan pengkoordinasian penyusunan rancangan anggaran PPKD dan pembiayaan;

3) pelaksanaan pengkoordinasian rancangan anggaran pendapatan daerah;

(48)

31

4) pelaksanaan pengkoordinasian rancangan rancangan anggaran belanja daerah;

5) Pelaksanaan pemantauan, evaluasi dan penyusunan laporan Bidang Anggaran; dan

6) Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan pimpinan sesuai bidang tugas.

Dalam melaksanakan tugas dan fungsi, Bidang Anggaran yang dipimpin oleh seorang Kepala Bidang dan dibantu oleh:

1) Sub Bidang Perencanaan Anggaran 2) Sub Bidang Pengendalian Anggaran d. Bidang Perbendaharaan

Bidang Perbendaharaan memiliki tugas membantu Kepala Badan dalam melaksanakan pengelolaaan perbendaharaan.

Untuk menyelenggarakan, Bidang Perbendaharaan memiliki fungsi:

1) Pengelolaan kas daerah;

2) Pengelolaan belanja tidak langsung belanja pegawai;

3) Pengelolaan anggaran PPKD;

4) Pelaksanaan pemantauan, evaluasi dan pelaporan Bidang Perbendaharaan; dan

5) Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan pimpinan sesuai bidang tugas.

Dalam melaksanakan tugas dan fungsi, Bidang Perbendaharaan yang dipimpin oleh Kepala Bidang dan dibantu oleh:

(49)

1) Sub Bidang Pengelolaan Kas 2) Sub Bidang Belanja

e. Bidang Akuntansi

Bidang Akuntansi dan Teknologi memiliki tugas membantu Kepala Badan dalam melaksanakan akuntansi dan teknologi pelaporan keuangan daerah. Untuk menyelenggarakan, Bidang Akuntansi dan Teknologi Informasi memiliki fungsi:

pengelolaan akuntansi keuangan daerah;

pengelolaan pelaporan keuangan daerah; dan

1) Pengelolaan sistem informasi akuntansi dan pelaporan keuangan daerah; Pelaksanaan pemantauan, evaluasi dan 2) Pelaksanaan pemantauan, evaluasi dan pelaporan Bidang

Akuntansi

3) Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh pimpinan sesuai bidang tugas.

Dalam melaksanakan tugas dan fungsi, Bidang Akuntansi dan Teknologi Informasi yang dipimpin oleh Kepala Bidang dan dibantu oleh:

1. Sub Bidang Analisis Pencatatan Transaksi 2. Sub Bidang Bina Entitas Akuntansi

f. Bidang Aset Daerah

Bidang Aset Daerah memiliki tugas membantu Kepala Badan dalam melaksanakan pengelolaan barang daerah. Untuk menyelenggarakan, Bidang Aset Daerah memiliki fungsi:

(50)

33

1) Penyusunan bahan perumusan kebijakan analisis perencanaan barang milik daerah;

2) Penyusunan bahan perumusan kebijakan penatausahaan barang milik daerah;

3) Penyusunan bahan perumusan kebijakan pengamanan dan pemanfaatan barang milik daerah;

4) Pelaksanaan pemantauan, evaluasi dan penyusunan pelaporan Bidang Aset Daerah; dan

5) Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh pimpinan sesuai bidang tugas.

Dalam melaksanakan tugas dan fungsi, Bidang Aset Daerah yang dipimpin oleh Kepala Bidang dan dibantu oleh:

1) Sub Bidang Inventarisasi Barang Daerah 2) Sub Bidang Pemanfaatan Barang Daerah

B. Hasil Penelitian

Badan Keuangan dan Aset Daerah BPKAD Kabupaten Jeneponto dalam pelaporan keuangan saat ini telah berpedoman pada Pemendagri No 77 tahun 2020 dengan melaksanakan tata usaha keuangan daerah dengan pedoman Sistem dan Prosedur Penatausahaan dan Akuntansi, Pelaporan dan Pertanggungjawaban keuangan daerah yang terdiri dari Laporan Arus kas, Laporan Realisasi/Perhitungan APBD, Neraca dan Perhitungan Anggaran

Sistem akuntansi keuangan daerah Kabupaten Jeneponto (SIMAKDA) dibangun dengan memanfaatkan sistem informasi termutakhir sehingga

(51)

mampu secara efektif membantu kerja aparatur sipil negara dan mempercepat proses penerapan kebijakan dalam pengelolaan keuangan daerah yang bermuara kepada peningkatan kinerja pemerintah daerah secara langsung.

“yang jelas SIMAKDA itu sebuah aplikasi komputer untuk mengolah transaksi keuangan daerah, SIMAKDA itu adalah sistem informasi yang dapat digunakan oleh satuan kerja perangkat keuangan daerah dalam mengelola keuangan sesuai dengan kewenangangannya.

Sistem ini disusun berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri No.

77 tahun 2020 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Daerah.”

Sesuai dengan pengertian SIMAKDA adalah Sistem informasi yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pemerintah daerah dalam pengelolaan keuangan, baik ditingkat provinsi, kabupaten, maupun kota dengan mengikuti kaidah undang-undang dan peraturan. Terutama standar akuntansi pemerintahan yang dikuatkan dengan Premendagri No. 64 Tahun 2013 Tentang Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual Pada Pemerintahan Daerah yang lebih mengkhususkan kepada identifikasi, pencatatan, pengukuran, pengklasifikasian, pengikhtisaran transaksi dan kejadian keuangan, penyajian laporan serta interpretasi atas hasil laporan keuangan tersebut.

“Tujuan diterapkannya SIMAKDA keuangan ini untuk membantu pengolahan data keuangan, mempercepat proses penyusunan laporan keuangan menjadi lebih mudah dengan adanya sistem ini, SIMAKDA keuangan ini juga mempermudah proses penyajian RKA, DPA, dan SPD, data tinggal diinput dan otomatis akan terolah sendiri”

Wawancara diatas menunjukkan bahwa staf BPKAD Kabupaten Jeneponto telah mengetahui secara umum tujan dari penerapan SIMAKDA keuangan.

Penerapan SIMAKDA Keuangan yang dilakukan oleh pemerintah

(52)

35

Kabupaten Jeneponto khususnya oleh BPKAD Kabupaten Jeneponto tentunya tidak lepas dari prakondisi yang menjadi faktor pendukungnya. Dari hasil penelitian, berbagai faktor pendukung yang dimiliki untuk menerapkan SIMAKDA keuangan pada BPKAD Jeneponto adalah sebagai berikut:

1. Komunikasi

Penerapan akan berjalan efektif apabila ukuran- ukuran dan tujuan-tujuan penerapan dipahami oleh individu yang bertanggung jawab dalam pencapaian tujuan kebijakan, dalam hal ini kebijakan penerapan SIMAKDA Keuangan. Kejelasan ukuran dan tujuan dengan demikian perlu dikomunikasikan secara tepat dengan para pelaksana. Hal ini dapat dilihat pada wawancara dengan pegawai BPKAD, berikut kutipannya :

“Kalau komunikasi antara operator simakda dan pemda sangat baik karena staff simakda berkantor di kantor bupati jadi semua bendahara opd dan pejabat instansi bisa konsultasi dan layanan simakda 24 jam lewat chat atau telepon via wa.”

Wawancara diatas menunjukkan bahwa komunikasi telah aktif dilaksanakan, hal tersebut tentunya tidak lepas dari keaktifan para pegawai untuk menggali sumber informasi yang memadai.

2. Sumber daya Manusia

Faktor penting lain yang menjadi penentu keberhasilan penerapan suatu kebijakan yaitu upaya pengembangan sumber daya manusia. Oleh Karena itu berbagai upaya telah ditempuh oleh BPKAD Kabupaten Jeneponto guna meningkatkan pemahaman dan pengetahuan SDM yang menjadi factor pendukung pelaksanaan SIMAKDA Keuangan. Hal ini tersirat dalam wawancara dengan pegawai SIMAKDA Kabupaten Jeneponto berikut:

“sebenarnya jika berbicara tentang kualitas tidak semua staf

(53)

yang memakainya contohnya diruangan ini hanya bendahara memakai SIMAKDA diruangan bawah hanya perencanaan yang memakai jadi kita tidak bisa ukur sebenarnya personilnya SIMAKDA ini hanya program pelaporan.”

Wawancara diatas menjelaskan bahwa pada Badan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Jeneponto staf/pegawai tidak semua menggunakan SIMAKDA melainkan hanya staf-staf bagian tertentu saja yang menggunakannya.

3. Struktur Birokrasi Pengawasan

Unsur yang mungkin berpengaruh terhadap suatu organisasi dalam penerapan kebijakan salah satunya adalah tingkat pengawasan hierarkis terhadap keptusan- keputusan proses pelaksana.

Menurut kerangka konseptual Akuntansi Pemerintahan, pelaporan keuangan pemerintah daerah seharusnya menyediakan informasi yang bermanfaat bagi para pengguna dalam menilai akuntabilitas dan membuat keputusan baik keputusan ekonomi, social, maupun politik dengan

1. Menyediakan informasi tentang sumber, alokasi dan penggunaan sumber daya keuangan

2. Menyediakan informasi mengenai kecukupan penerimaan periode berjalan untuk membiayai seluruh pengeluaran

3. Menyediakan informasi mengenai jumlah sumber daya ekonomi yang digunakan dalam kegiatan entitas pelaporan serta hasil- hasil yang telah di capai

4. Menyediakan informasi mengenai bagaimana entitas pelaporan mendanai seluruh kegiatannya dan mencukupi kebutuhan kasnya

Secara spesifik. Tujuan laporan keuangan pemda adalah untk menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan dan untuk

(54)

37

menunjukkan akuntabilitas entitas pelaporan atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya, dengan:

a) Menyediakan informasi mengenai posisi sumber daya ekonomi, kewajiban, dan ekuitas pemda

b) Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi sumber daya ekonomi, kewajiban, dan ekuitas pemda

c) Menydiakan informasi mengenai sumber, alokasi, dan penggunaan dan sumber daya ekonomi

d) Menyediakan informasi mengenai potensi pemerintah untuk membiayai penyelenggaraan kegiatan pemerintah

Salah satu informan pegawai staf Badan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Jeneponto menyatakan bahwa:

“Pengelolaan keuangan di tempat ini memiliki tujuan utama yakni agar seluruh proses penyusunan keuangan daerah berjalan semaksimal mungkin dapat menunjukkan latar belakang pengambilan keputusan dalam penetapan arah kebijakan umum, skala prioritas dan penetapan alokasi”.

Adapula informan lain pegawai staf Badan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Jeneponto pendapatnya yaitu:

“Menurut saya tujuan pengelolaan keuangan daerah di tempat ini yaitu untuk mempertajam esensi sistem penyelenggaraan”

Wawancara diatas menunjukkan bahwa Daerah Kabupaten Jeneponto dalam pengelolaan keuangan berjalan cukup baik sehingga penerapnnya dapat terlaksana dengan baik. Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam pengelolaan keuangan daerah disusun sesuai kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan dan kemampuan pendapatan daerah.

(55)

C. Pembahasan

Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Jeneponto melakukan penyusunan Neraca awal yang akan digunakan sebagai titik tolak pelaksanaan Sistem Keuangan daerah. Badan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Jeneponto dalam pelaporan keuangan saat ini telah berpedoman pada Pemendagri No 77 tahun 2020 dengan melaksanakan tata usaha keuangan daerah dengan pedoman Sistem dan Prosedur Penatausahaan dan Akuntansi, Pelaporan dan Pertanggungjawaban keuangan daerah yang terdiri dari Laporan Arus kas, Laporan Realisasi/Perhitungan APBD, Neraca dan Perhitungan Anggaran.

Berdasarkan hasil inventarisasi baik Aset atau Harta daerah, Hutang, Piutang, investasi bahkan kas dan persediaan ini Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Jeneponto menyusun Neraca Awal. Setelah Neraca Awal tersusun Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Jeneponto menerapkan sistem akuntansi keuangan daerah dengan menggunakan komputerisasi. Sehingga setiap transaksi yang sudah terjadi dicatat sesuai dengan metode pencatatan yang digunakan dalam sistem akuntansi keuangan daerah. Semua tahap siklus telah dijalankan dengan baik. Begitu juga dengan kelengkapan item laporan keuangannya telah sesuai dengan ketentuan Laporan keuangan SKPD yang terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Catatan atas laporan keuangan. Dibawah ini adalah Siklus Keuangan Daerah:

(56)

39

Gambar 4. 1 Flowcart Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah Sumber: BKAD Kabupaten Jeneponto

Tabel 4. 1 Siklus Keuangan Daerah

Sumber: BKAD Kabupaten Jeneponto

PENUSUNAN ANGGARAN

PENELAAHAN OTORITAS KREDIT ANGGRAN PENERIMAAN

PENDAPATAN PELAKSANAAN BELANJA

OPRASIONALA DAN BELANJA MODAL PEMBUKUAN DAN

PERHITUNGAN PELAPORAN (PERHITUNGAN REALISASI ANGGARAN)

(57)

Siklus Keuangan Daerah

1.

Siklus keuangan daerah dimulai dengan penyusunan anggaran.

Penyusunan Anggaran dimulai dengan menganalisis Laporan Pertanggungjawaban tahun lalu yang menghasilkan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD). RAPBD akan dibahas dengan DPRD dan menjadi Perda APBD.

2.

Untuk merealisasi pelaksanaan APBD, maka dibuat Otorisasi Kredit Anggaran (OKA), Lembaran Kerja (LK) dan Petunjuk Operasional (PO) Penyusunan OKA ini dilakukan oleh Unit Anggaran dengan Saruan kerja berdasarkan usulan OKA, LK dan PO yang disampaikan oleh Satuan Kerja. OKA, LK, dan PO selanjutnya disahkan oleh Kepala Unit Anggaran.

3.

Satuan Kerja melakukan pemungutan pendapatan dan melakukan penyetoran dana ke kas daerah dengan STS dan melakukan realisasi pengeluaran dengan SPM, STS dan SPM tersebut akan menjadi dokumen sumber pembukuan pendapatan dan belanja.

4.

Unit Pembukuan akan menerima dokumen sumber pendapatan dan pengeluaran (APBD, OKA, STS, SPM) dan membukukannya secara periodik. Pada akhir tahun, Unit Pembukuan membuat Laporan Pertanggungjawaban berupa Laporan Perhitungan APBD, Neraca dan Laporan Arus Kas yang selanjutnya diserahkan ke Unit Perhitungan Anggaran untuk dianalisis.

5.

Unit Perhitumgam Anggaran menganalisis Laporan Pertanggungjawaban dan melengkapi Laporan Pertanggung jawaban tersebut dengan Nota Perhitungan Anggaran. selanjutnya Laporan Pertanggungjawaban

(58)

41

(Laporan Perhitungan Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas dan Nota Perhitungan Anggaran) disampaikan ke pada Kepala Daerah.

6.

Kepala Daerah menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban ke DPRD sebagai pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran Laporan Pertanggungjawaban.

Entitas pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri dari satu atau lebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan peraturan perundang- undangan wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa Laporan Keuangan. Pemerintah Daerah Kabupaten Jeneponto dalam hal ini adalah Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) yang mempunyai kewajiban menyusun Laporan Keuangan Pemerintah Daerah sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Sedangkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah entitas akuntansi yang berkewajiban menyusun laporan keuangan atas pertangungjawaban pelaksanaan APBD di SKPD selaku Pengguna Anggaran/Pengguna Barang serta Perusahaan Daerah Kabupaten Jeneponto dalam hal ini Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan pemerintah daerah adalah basis akrual, untuk pengakuan pendapatan-LO, beban, aset, kewajiban, dan ekuitas. Dalam hal peraturan perundang- undangan mewajibkan disajikannya laporan keuangan dengan basis kas, maka entitas wajib menyajikan laporan demikian. Basis akrual untuk Laporan Operasional berarti bahwa pendapatan diakui pada saat hak untuk memperoleh pendapatan telah terpenuhi walaupun kas belum diterima di Rekening Kas Umum Daerah atau oleh entitas pelaporan dan beban diakui pada saat kewajiban yang mengakibatkan penurunan nilai kekayaan bersih telah

Referensi

Dokumen terkait

Pada tahap pengambilan data skripsi ini, penulis masih jauh dari kesempurnaan. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal seperti, keterbatasan penulis dalam

Badan Pengelolaa Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Jayapura sebagai badan keuangan yang bertangggung jawab atas penatausahaan aset tetap berupa kendaraan dinas,

Sistematika penyusunan Rencana Strategis Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Sumedang berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun

Hasil pengujian kemudian dibandingkan dengan standar STEL yang digunakan sebagai standar PT.TELKOM, didapatkan hasil pengujian daya pancar pada setiap modulasi

Sedangkan untuk misi sanitasi Kabupaten Batang atau yang lebih luas disebut sektor air minum dan penyehatan lingkungan merujuk pada misi ke 3 dan ke 4 dari misi Kabupaten dalam

Idealnya dalam kurun waktu sekian jam, seperti yang tertulis pada standar kompetensi dan kompetensi dasar bahasa Perancis kelas XI dan tercantum dalam silabus mata

4.  Process Accountability, akuntabilitas atas proses, prosedur atau ukuran yang layak dalam melaksanakan tindakan- tindakan yang ditetapkan. 5.  Probity and Legal

Perlu mempertimbangkan saat tanam yang tepat untuk penanaman kempat komoditas yang ingin dikembangkan di lokasi kegiatan, dan sesuai dengan karakteristi musim