• Tidak ada hasil yang ditemukan

ALIH KODE DAN CAMPUR KODE DALAM MASYARAKAT INDRAMAYU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ALIH KODE DAN CAMPUR KODE DALAM MASYARAKAT INDRAMAYU"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

A. Pengantar

Apa yang akan terjadi apabila di muka bumi ini tidak ada bahasa yang digunakan oleh manusia? Tentunya, sudah dapat kita bayangkan akibat dari ketidakadaan baha-sa itu. Dunia akan terabaha-sa sepi, karena tidak ada komunikasi di antara manusia peng-huni alam jagat raya ini. Tidak ada hiruk-pikuk orang-orang di pasar, tidak ada jeritan anak kecil karena tidak dibelikan mainan oleh ibunya, tidak ada tangisan bayi ketika susu di botolnya habis, dan ada masih banyak lagi pengaruh dan akibat dari tidak adanya bahasa.

ALIH KODE DAN CAMPUR KODE

DALAM MASYARAKAT INDRAMAYU

Studi Survei Deskriptif Terhadap Masyarakat Kecamatan Kandanghaur

Kabupaten Indramayu Provinsi Jawa Barat

Oleh Rustam Effendi

ABSTRAK

Komunikasi masyarakat Indramayu di bagian barat berbeda dengan komu­ nikasi masyarakat Majalengka di bagian utara. Kedua masyarakat ini, berbeda dalam menggunakan bahasa ibu. Masya­ rakat Indramayu menggunakan bahasa jawa pesisir sedangkan masyarakat Ma­ jalengka menggunakan bahasa sunda. Komunikasi mereka dalam keseharian tentu terjadi alih kode dan campur kode.

Hal ini, dipengaruhi oleh tempat mereka yang berbatasan sehingga terjadi hubun­ gan setiap hari antarkeduanya. Pene­ litian ini bertujuan menganalisis secara deskriptif komunikasi masyarakat dalam hal alih kode dan campur kode yang ter­ jadi di Kecamatan Kandanghaur Kabu­ paten Indramayu.

Kata kunci: komunikasi, masyarakat, alih kode, campur kode.

Seorang professor ketika menyam-paikan materi kuliah atau menyampai-kan teori penemuan yang baru, pastilah menggunakan bahasa. Seorang anak kecil meminta uang jajan kepada ibunya juga menggunakan bahasa. Seorang pemuda ketika menyampaikan perasaan isi hatinya kepada perempuan pujaannya, salah sa-tunya dengan menggunakan bahasa. Dari beberapa contoh kejadian tersebut, dapat kita simpulkan bahwa begitu pentingnya bahasa.

Dardjowidjojo (2008:16) mengung-kapkan bahwa bahasa adalah suatu sistem simbol lisan yang arbitrer yang dipakai

(2)

oleh anggota suatu masyarakat bahasa untuk berkomunikasi dan berinteraksi an-tarsesamanya, berlandaskan pada budaya yang mereka miliki bersama.

Selanjutnya Dardjowidjojo (2008 : 16) mengungkapkan bahwa,

Sistempada definisi tersebut merujuk pada adanya elemen-elemen beserta hubungan satu sama lainnya yang akhirnya membentuk suatu konstit-uen yang sifatnya hierarkhis. Dalam bidang fonologi, misalnya, elemen-elemen ini adalah bunyi-bunyi yang terdapat pada bahasa yang bersang-kutan. Elemen bunyi ini tentunya ber-beda dari satu bahasa ke bahasa yang lain. Bunyi-bunti tersebut membentuk suatu sistem dalam arti bahwa per-paduan antara satu bunyi dengan bu-nyi yang lain tidak acak tetapi meng-ikuti aturan tertentu.

Pernyataan yang senada juga diung-kapkan oleh Chaer dan Agustina (2004 : 11),

Bahasa adalah sebuah sistem, arti-nya, bahasa itu dibentuk oleh sejum-lah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Bagi seseorang yang mengerti sistem ba-hasa Indonesia akan mengakui bahwa susunan ”Ibu meng....seekor... di....” Adalah sebuah kalimt bahasa Indone-sia yang benar sistemnya, meskipun ada sejumlah komponennya ditang-galkan. Sebagai sebuah sistem, bahasa selain bersifat sistematis juga siste-mis. Dengan sistematis maksudnya ba-hasa itu tersusun menurut suatu pola

tertentu, tidak tersusun secara acak atau sembarangan. Sedangkan siste-mis, arti nya, sistem bahasa itu bukan merupakan sebuah sistem tunggal, melainkan terdiri dari sejumlah sitem, yakni subsistem fonologi, sub-sistem morfologi, subsub-sistem sintaksis, dan subsistem leksikon.

Bloomfield (Syamsuddin, 2007: 21) menyatakan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang diper-gunakan oleh anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri.

Ferdinand (Chaer, 2004: 30) mem-bedakan tiga istilah untuk menyebutkan pengertian bahasa. Ketiga istilah terse-but adalah langage, langue, dan parole. Dalam bahasa Perancis, istilah kesatu, langage digunakan untuk menyebut ba-hasa sebagai sistem lambang bunyi yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara verbal di antara sesamanya. Langage ini bersifat abstrak. Istilah kedua, langue dimaksudkan seba-gai sebuah sistem lambang bunyi yang digunakan oleh sekelompok anggota ma-syarakat tertentu untuk berkomunikasi dan berinteraksi sesamanya. Jadi, langue mengacu pada sebuah sistem lambang bu-nyi tertentu yang digunakan oleh sekelom-pok anggota masyarakat tertentu. Langue juga bersifat abstrak. Karena baik lan-gage maupun langue adalah sebuah pola, keteraturan, atau kaidah yang ada atau dimiliki manusiatetapi tidak nyata-nyata diguna kan. Istilah yang ketiga adalah pa-role merupakan pelaksanaan dari langue dalam bentuk ujaran atau tuturan yang

(3)

di-lakukan oleh para anggota masyarakat di dalam interaksi atau berkomunikasi sesa-manya. Parole tidak bersifat abstrak, nyata ada, dan dapat diamati secara empiris.

Berdasarkan beberapa pengertian ter-sebut, dapat disimpulkan bahwa bahasa digunakan oleh anggota masyarakat di dalam suatu masyarakat tertentu. Bahasa tersebut digunakan baik untuk berkomu-nikasi sesama anggota masyarakat mau-pun dengan anggota masyarakat lain. Giles, Scheer, dan Taylor (1979: 351) me­ ngatakan:

Melalui penanda bahasa secara fung-sional penggolongan kemasyarakatan penting dibedakan, dan ...ini mem pu-nyai implikasi penting untuk organi-sasi kemasyarakatan. Untuk manu-sia, penanda bahasa mempunyai persamaan yang jelas...ini adalah jelas bahwa kategori kemasyarakatan dari umur, jenis kelamin, kesukuan, ke-las sosial, dan keadaan dapat dengan jelas ditandai atas dasar bahasa dan demikian penggolongan fundamental kepada organisasi sosial walaupun banyak dari kategori juga dengan mu-dah dibedakan pada basis lain.

Kata-kata yang masuk ke dalam ba-hasa Indonesia banyak mendapat serapan dari bahasa daerah.

Dari segi sintaksis dan juga pengaruh bahasa daerah terutama bahasa Jawa dan Sunda tetapi struktur bahasa yang demikian masih dianggap struktur ba-hasa daerah….. Apakah struktur kali-mat yang ada dipengaruhi struktur ba-hasa daerah itu akan diterima menjadi

struktur bahasa Indonesia baku, akan ditentukan kelak oleh pemakai bahasa Indonesia itu sendiri (Badudu, 1983: 13).

Penggunaan bahasa oleh anggota ma-syarakat di suatu daerah tidaklah sama. Hal ini, bisa terjadi karena berbagai fak-tor yang mempengaruhi perbedaan peng-gunaan bahasa. Faktor-faktor tersebut di antaranya adalah faktor pendidikan, pe-kerjaan, dan status sosial ekonomi anggota masyarakat.

Berdasarkan uraian-uraian tersebut, terlihat betapa pentingnya bahasa seba-gai alat komunikasi di antara anggota masyarakat dalam suatu daerah tertentu. Peneliti merasa tertarik untuk meneliti bahasa yang digunakan oleh masyarakat Kecamatan Kandanghaur Kabupaten In-dramayu Provinsi Jawa Barat terhadap struktur bahasa Indonesia. Penulisan laporan penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui adanya pengaruh alih kode dan campur kode penggunaan bahasa di daerah tersebut dalam kehidupan sehari-hari yang disesuaikan dengan beberapa faktor yang telah disebutkan di atas.

B. Metode Penelitian

Suatu penelitian yang bersifat ilmiah harus menggunakan seperangkat metode yang beragam agar hasil penelitian baik dan memuaskan. Salah satu ukuran keber-hasilan penelitian itu ditentukan oleh pe-milihan metode yang tepat.

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian survei. Survei digunakan untuk

(4)

mengumpulkan data atau informasi ten-tang populasi yang besar dengan menggu-nakan sampel yang relatif kecil. Populasi tersebut dapat berkenaan dengan orang, instansi, lembaga, organisasi, unit-unit ke masyarakatan, dll. Metode yang digu-nakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitik.

Sukmadinata (2008: 82) mengatakan bahwa metode survei deskriptif adalah suatu metode penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggu-nakan wawancara dan pengamatan se-bagai alat pengumpul data. Dalam pene-litian ini data dan informasi dikumpulkan dari responden dengan menggunakan wawancara dan pengamatan. Wawancara dilakukan dengan berpedoman pada pe-doman wawancara. Demikian juga dengan pengamatan yang dilakukan dengan pan-duan format pengamatan. Setelah data di-peroleh kemudian hasilnya akan dipapar-kan secara deskriptif dan pada akhirnya penelitian data dianalisis untuk diban-dingkan dengan teori yang telah dimiliki.

C. Geografis dan Demografis Kecamatan Kandanghaur

Kecamatan Kandanghaur terdiri atas 13 desa, yaitu desa Curug, Pranti, Wiraka-nan, Karangmulya, WirapanjuWiraka-nan, Parean Girang, Bulak, Ilir, Soge, Eretan Wetan, Ere-tan Kulon, dan Kertawinangunan.

Batas-batas yang mengelilingi Keca-matan Kandanghaur adalah sebai berikut.

Sebelah Utara : Laut Jawa Sebelah Timur : Kecamatan

Losarang

Sebelah Selatan : Kecamatan Gabus Wetan dan

Kecamatan Bongas Sebelah Barat : Kecamatan Patrol Luas wilayah Kecamatan Kandang-haur 76,59 Km2 dengan jumlah penduduk 84.429 orang dan kepadatan penduduk sebesar 1.102 jiwa/Km2. Kecamatan Kan-danghaur merupakan kecamatan pantai karena mempunyai batas pantai, desa-de-sa pantai yang ada di wilayah Kecamatan Kandanghaur adalah desa Eretan Kulon, Eretan Wetan, Ilir, Bulak, dan Parean Gi-rang, sedangkan desa lainnya adalah desa nonpantai. Karena faktor waktu, biaya, dan tenaga, peneliti tidak bisa meneliti ke semua desa hanya tiga desa yaitu desa Ilir, Bulak, dan Parean Girang.

Tabel 2.1

Jumlah Penduduk, Luas, dan Kepadatannya di Kecamatan Kandanghaur Tahun 2012

(5)

D. Pengaruh Kedwibahasaan Terha-dap Dwibahasawan

Pengaruh kedwibahasaan dalam dwi-bahasawan secara garis besar dapat dike-lompokkan menjadi 2, yakni: pengaruh positif dan pengaruh negatif. Jesperson (Rusyana, 1989: 25) mengemukakan aki -bat jelek yang nampak ialah anak yang mempelajari dua bahasa tidak akan dapat menguasai kedua bahasa itu sama baik-nya, yaitu tidak akan sebaik mempelajari sebuah bahasa. Hal senada diperkuat oleh Kelley, menurut dia anak-anak dwibaha-sawan itu di sekolah menunjukkan kurang minat dan kurang inisiatif, karena itu ter-tinggal oleh anak ekabahasawan. Diper-tegas dan diperkuat lagi oleh Saer, bahwa anak-anak dwibahasawan skor IQ-nya le-bih rendah dari anak ekabahasawan.

Hal tersebut bertentangan dengan pendapat Peal dan Lambert, menurut me-reka dalam penelitiannya mengemukakan bahwa anak-anak 10 tahun yang berasal dari enam sekolah Perancis Kanada di Montreal. Kepada mereka dilakukan tes, hasilnya diperbandingkan antara dwiba-hasawan dan ekabadwiba-hasawan. Ternyata skor anak dwibahasawan dalam tes verbal dan nonverbal lebih tinggi skornya dari skor anak ekabahasawan. Hal itu pun menun-jukkan bahwa anak dwibahasawan struk-tur intelegensinya lebih beragam, lebih lentur dalam berfikir, cara berfikir lebih luas, lebih kreatif, dan dalam mengerjakan tugas lebih cepat.

1. Alih Kode

Apel (Chaer dan Agustina, 2004:107) mendefinisikan alih kode itu sebagai ”ge

-jala peralihan pemakaian bahasa karena berubahnya situasi.” Berbeda dengan Apel, Hymes (Chaer dan Agustina, 2004: 107) mengatakan bahwa alih kode itu bukan hanya terjadi antarbahasa, tetapi juga ter-jadi antara ragam-ragam atau gaya-gaya yang terdapat dalam suatu bahasa. Selan-jutnya, Hymes mengatakan bahwa penga-lihan dari situasi tidak formal ke situasi formal (ketika perkuliahan berlangsung), adalah tercakup dalam peristiwa yang di-sebut dengan alih kode.

Chaer dan Agustina (2004 : 108) me-ngatakan bahwa penyebab alih kode an-tara lain: (1) pembicara atau penutur, (2) pendengar atau lawan tutur, (3) perubah-an situasi dengperubah-an hadirnya orperubah-ang ketiga, (4) perubahan dari formal ke informal atau sebaliknya, dan (5) perubahan topik pembicaraan.Soewito (Chaer dan Agus-tina, 2004 : 114) mengungkapkan bahwa ada dua macam alih kode, yaitu alih kode intern dan alih kode ekstern. Yang dimak-sud alih kode intern adalah alih kode yang berlangsung antarbahasa sendiri. Sedang-kan alih kode ekstern terjadi antara baha-sa sendiri (baha-salah baha-satu bahabaha-sa atau ragam yang ada dalam verbal repertoir masyara-kat tuturnya) dengan bahasa asing.

2. Campur Kode

Alih kode tidak akan terlepas dari campur kode. Kedua peristiwa yang lazim terjadi dalam masyarakat yang bilingual ini mempunyai kesamaaan yang besar, se-hingga sering kali sukar untuk dibedakan. Chaer dan Agustina (2004:114) mengung-kapkan,

Kesamaan yang ada antara alih kode dan campur kode adalah

(6)

digunakan-nya dua bahasa ataunlebih, atau dua varian dari sebuah bahasa dalam satu masyarakat tutur. Perbedaannya, ka-lau dalam alih kode setiap bahasa atau ragam bahasa yang digunakan itu ma-sih memiliki fungsi otonomi masing-masing, dilakukan dengan sadar, dan sengaja dengan sebab-sebab tertentu seperti yang sudah dibicarakan di atas. Sedangkan di dalam campur kode ada sebuah kode utama atau kode dasar yang digunakan dan memiliki fung-si dan keotonomiannya, sedangkan kode-kode lain yang terlibat dalam peristiwa tutur itu hanyalah berupa serpihan-serpihan (pieces) saja, tanpa fungsi atau keotonomian sebagai se-buah kode.

Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa objek dari linguistik adalah hubun-gan antara bahasa denhubun-gan penggunaannya di dalam masyarakat. Hubungan antara bentuk-bentuk bahasa tertentu, yang dise-but dengan variasi, ragam atau dialek de-ngan penggunaannya untuk fungsi-fungsi tertentu di dalam masyarakat. Sekarang timbul pertanyaan, adakah hubungan an-tara bahasa dengan tingkatan sosial di dalam masyarakat itu? Jawabannya dapat dilihat dari dua segi yaitu: pertama, dari segi kebangsawanan, kalau ada; dan kedua, dari segi kedudukan sosial yang ditandai dengan tingkatan pendidikan dan keadaan perekonomian yang dimiliki. Biasanya yang memiliki pendidikan lebih baik mem-peroleh kemungkinan untuk memmem-peroleh taraf perekonomian yang lebih baik pula. Tetapi hal ini tidak bersifat mutlak. Bisa saja taraf pendidikan lebih baik, namun taraf perekonomiannya kurang baik.

Se-baliknya, yang memiliki taraf pendidikan kurang, tetapi memiliki taraf perekono-mian yang baik.

Untuk melihat adakah hubungan an-tara kebangsawanan dengan bahasa, kita mengambil contoh masyarakat tutur ba-hasa Jawa. Kunjtaraningrat dalam Chaer (2004: 39) membagi masyarakat Jawa atas empat tingkatan, yaitu: (1) wong cilik, (2) wong sudagar, (3) priyayi, dan (4) ndara. Sedangkan Clifford dalam Chaer (2004: 39) membagi masyarakat Jawa menjadi tiga tingkatan, yaitu (1) priyayi, (2) bukan priyayi tetapi berpendidikan dan bertem-pat tinggal di kota, (3) petani dan orang kota yang tidak berpendidikan. Dari kedua penggolongan itu jelas adanya perbedaan tingkat dalam masyarakat tutur bahasa Jawa. Berdasarkan tingkat-tingkat itu, maka dalam masyarakat Jawa terdapat ber bagai variasi bahasa. Bahasa yang di-gunakan di kalangan wong ciliki tidak sama dengan wong sudagar, dan lain pula dari bahasa yang digunakan para priyayi.

Variasi bahasa yang digunakan oleh orang-orang yang berbeda tingkat sosial-nya termasuk variasi dialek sosial. Misal-nya, wong cilik berbicara dengan priyayi atau ndara; atau petani yang tidak berpen-didikan berbicara dengan ndara yang ber-pendidikan, maka masing-masing menggu-nakan variasi bahasa Jawa yang berlainan. Pihak yang tingkat sosialnya lebih rendah menggunakan tingkat bahasa yang lebih tinggi, yaitu krama; dan yang tingkat so-sialnya lebih tinggi menggunakan tingkat bahasa yang lebih rendah, yaitu ngoko. Va-riasi bahasa yang penggunaannya didasar-kan pada tingkat-tingkat sosial ini dikenal dalam bahasa Jawa dengan istilah

(7)

undak-usuk. Begitu juga dalam bahasa Suda ter-hdap beberapa variasi bahasa. Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel berikut ini! 3. Bahasa dan Tingkatan Sosial Masyarakat

Sebelum diuraikan tentang hubungan bahasa dengan tingkatan sosial masyara-kat, ada baiknya kalau kita memperhatikan pengertian tentang bahasa masyarakat dari Gumperz (1971, p. 114) menawarkan definisi lain dari bahasa masyarakat :

Beberapa manusia ditandai oleh inter-aksi tetap dan berulang menggunakan media pembagian tubuh dari tanda lisan dan memasang dari agreral seru-pa oleh perbedaan yang berpengaruh nyata dalam pemakaian bahasa. Ba-nyak kelompok dari beberapa keba-kuan menjadi kelompok kecil dibatasi oleh kontak secara langsung, bangsa yang modern dibagi dalam kelompok kecil atau bahkan bersifat jabatan atau geng lingkungan, mungkin diper-lakukan seperti bahasa masyarakat, membuat mereka memperlihatkan keanehan ilmu bahasa yang memba-has perintah surat istimewa.

Tidak harus hanya anggota dari baha-sa masyarakat yang berbagi seperangkat peraturan tata bahasa, tapi disitu harus juga ada hubungan tetap di antara bahasa yang digunakan dan struktur sosial : yaitu, di sana harus ada aturan yang mungkin dibedakan oleh bagian kelompok dan ke-masyarakatan. Gumperz menambahkan (p. 115) :

Di manapun hubungan antara pilihan bahasa dan ketentuan dari

kemasyara-katan yang tepat dapat diformalkan, mereka mengijinkan kita untuk mem-bentuk kelompok ilmu bahasa relevan ke dalam dialek berbeda, corak dan jabatan atau bagian lain. Sosiolinguis-tik mempelajari kesepakatan bahasa masyarakat dengan persamaan ilmu bahasa dan perbedaan di antara ke-anekaragaman bahasa ini.

Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa objek dari linguistik adalah hu-bung an antara bahasa dengan penggu-naannya di dalam masyarakat. Hubungan antara bentuk-bentuk bahasa tertentu, yang disebut dengan variasi, ragam atau dialek dengan penggunaannya untuk fung si-fungsi tertentu di dalam masyara-kat. Sekarang timbul pertanyaan, adakah hubungan antara bahasa dengan tingkat-an sosial di dalam masyarakat itu? Jawa-bannya dapat dilihat dari dua segi yaitu : pertama, dari segi kebangsawanan, kalau ada; dan kedua, dari segi kedudukan so-sial yang ditandai dengan tingkatan pen-didikan dan keadaan perekonomian yang dimiliki. Biasanya yang memiliki pendidi-kan lebih baik memperoleh kemungkinan untuk memperoleh taraf perekonomian yang lebih baik pula. Tetapi hal ini tidak bersifat mutlak. Bisa saja taraf pendidikan lebih baik, namun taraf perekonomiannya kurang baik. Sebaliknya, yang memiliki taraf pendidikan kurang, tetapi memiliki taraf perekonomian yang baik.

Untuk melihat adakah hubungan an-tara kebangsawanan dengan bahasa, kita mengambil contoh masyarakat tutur ba-hasa Jawa. Kunjtaraningrat dalam Chaer (2004 : 39) membagi masyarakat Jawa atas

(8)

empat tingkatan, yaitu : (1) wong cilik, (2) wong sudagar, (3) priyayi, dan (4) ndara. Sedangkan menurut Clifford dalam Chaer (2004 : 39) membagi masyarakat Jawa menjadi tiga tingkatan, yaitu (1) priyayi, (2) bukan priyayi tetapi berpendidikan dan bertempat tinggal di kota, (3) petani dan orang kota yang tidak berpendidikan. Dari kedua penggolongan itu jelas adanya perbedaan tingkat dalam masyarakat tutur bahasa Jawa. Berdasarkan tingkat-tingkat itu, maka dalam masyarakat Jawa terdapat berbagai variasi bahasa yang digunakan di kalangan wong ciliki tidak sama de ngan wong sudagar, dan lain pula dari bahasa yang digunakan para priyayi. Variasi ba-hasa yang digunakan oleh orang-orang

yang berbeda tingkat sosialnya termasuk variasi dialek sosial. Misalnya, wong cilik berbicara dengan priyayi atau ndara; atau petani yang tidak berpendidikan berbi-cara dengan ndara yang berpendidikan, maka masing-masing menggunakan va-riasi bahasa Jawa yang berlainan. Pihak yang tingkat sosialnya lebih rendah meng-gunakan tingkat bahasa yang lebih tinggi, yaitu krama; dan yang tingkat sosialnya lebih tinggi menggunakan tingkat bahasa yang lebih rendah, yaitu ngoko. Variasi ba hasa yang penggunaannya didasarkan pada tingkat-tingkat sosial ini dikenal dalam bahasa Jawa dengan istilah undak-usuk. Untuk lebih jelasnya perhatikan ta-bel di bawah ini!

Tabel 2

(9)

E. Data Penelitian

Dalam penelitian lapangan ini, data diperoleh secara langsung di daerah Ke-camatan Kandanghaur Kabupaten Indra-mayu, Propinsi Jawa Barat pada bulan Desember 2011. Responden yang berha-sil diwawancarai dan diamati sebanyak dua puluh dua orang. Teknik pengumpul-an data dilakukpengumpul-an melalui observasi atau pengamatan dan wawancara. Responden yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Para pedagang ketiga desa (Ilir, Bulak, dan Parean Girang).

2. Para pegawai di Kecamatan Kandang-haur.

3. Para tukang perahu di Kecamatan Kan danghaur.

4. Masyarakat di tiga desa (Ilir, Bulak, dan Parean Girang).

Dua puluh dua responden tersebut dapat dirinci sebagai berikut.

1. Para pedagang = 8 responden 2. Para pegawai = 5 esponden

3. Para tukang perahu = 4 responden 4. Masyarakat = 5 responden

Jumlah responden tersebut, apabila dirinci lagi berdasarkan penggunaan

(10)

bahasa ibu (B1) adalah sebagai beri-kut :

1. Bahasa ibunya bahasa Indramayu = 13 responden

2. Bahasa ibunya bahasa Sunda = 4 responden

3. Bahasa ibunya bahasa Indonesia = 5 responden

Tabel 3

Data Penggunaan Bahasa di Kecamatan Kandanghaur

Dari hasil wawancara dengan responden, ada beberapa alasan memilih bahasa ibu yang digunakan oleh responden.

(11)

Tabel 4

(12)

F. Hasil Analisis Data Penelitian

Setelah memaparkan alasan-alasan meng gunakan bahasa, maka berikut ini akan dipaparkan persentase pengguna-an bahasa ypengguna-ang berhasil diperoleh di la-pangan.

1. Di Desa Ilir

Yang memilih bahasa Indramayu 5 orang dari 22 responden = 22,72% Yang memilih bahasa Sunda

2 orang dari 22 responden = 9,09% Yang memilih bahasa Indonesia 2 orang dari 22 responden = 9,09%

2. Di Desa Bulak

Yang memilih bahasa Indramayu 8 orang dari 22 responden = 22,72% Yang memilih bahasa Sunda

1 orang dari 22 responden = 4,54% Yang memilih bahasa Indonesia 1 orang dari 22 responden = 4,54%

3. Di Desa Parean Girang

Yang memilih bahasa Indramayu 3 orang dari 22 responden = 13,63% Yang memilih bahasa Sunda

2 orang dari 22 responden = 9,09% Yang memilih bahasa Indonesia 2 orang dari 22 responden = 9,09% Dari deskripsi, pengolahan, serta hasil analisis data dapat dilihat pilihan bahasa yang digunakan oleh responden dalam berkomunikasi baik Desa Ilir, Bulak, dan Parean Girang dengan lawan bicaranya.

Di desa Ilir, bahasa yang digunakan responden untuk berkomunikasi belum menunjukkan hal yang menggembirakan.

Dari 22 responden hanya 2 orang atau 9,09% yang menggunakan bahasa Indra -mayu. Hal ini, menunjukkan bahwa peng-gunaan bahasa Indonesia kurang maksi-mal. Banyak faktor yang mempengaruhi, salah satunya adalah masyarakat di desa tersebut bahasa ibunya adalah bukan hasa Indonesia. Sama halnya dengan ba-hasa digunakan oleh masyarakat di Desa Ilir, di Desa Bulak juga bahasa yang banyak digunakan adalah bahasa Indramayu. Dari 22 responden hanya 1 orang yang meng-gunakan bahasa Indonesia.

Di Desa Parean Girang, bahasa Indra-mayu digunakan oleh 3 responden dari 22 responden atau 13,36%, bahasa Sunda 2 responden dari 22 responden atau 9,09%, dan bahasa Indonesia 2 responden dari 22 responden atau 9,09%. Bahasa yang digunakan responden di dominasi oleh bahasa Indramayu. Hal ini, dikarenakan bahwa bahasa Indramayu dipakai untuk berkomunikasi sehari-hari. Responden meng gunakan alih kode pada saat diketa-hui lawan bicaranya tidak dapat menggu-nakan bahasa pertama responden.

Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data, jelaslah bahwa penggunaan bahasa dalam suatu masyarakat dipenga-ngaruhi oleh berbagai faktor. Di anatara faktor-faktor tersebut adalah pendidikan, pekerjaan, dan keadaan sosial ekonomi. Yang biasa menggunakan bahasa Indone-sia adalah anggota masyarakat yang pada umumnya memiliki pendidikan, pekerjaan yang mapan, dan keadaan sosial ekonomi yang mapan juga. Anggota masyarakat yang menggunakan bahasa Sunda dan In-dramayu adalah anggota masyarakat yang pada umumnya mempunyai pendidikan

(13)

rendah, mempunyai pekerjaan yang sera-butan, dan juga mempunyai keadaan sosial ekonomi yang juga kurang mapan.

G. Simpulan

Berdasarkan pembahasan dan analisis seperti yang telah diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut.

Pertama, masyarakat di 3 desa yai-tu Desa Ilir, Bulak, dan Parean Girang yang biasa menjajakan aktivitasnya bi-asa berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indramayu yang merupakan ba-hasa pertama anggota masyarakat di 3 desa tersebut. Hanya sebagian kecil yang menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi dengan lawan bicaranya.

Kedua, masyarakat yang ada di 3 desa tersebut juga masih banyak menggunakan bahasa Indramayu, baik itu pedagang, tu-kang perahu, maupun pegawai. Hal ini, menunjukkan bahwa bahasa Indramayu merupakan bahasa yang digunakan sehari-hari. Alih kode hanya dilakukan apabila lawan bicaranya tidak bisa menggunakan bahasa Indramayu. Mereka baru menggu-nakan bahasa Indonesia.

Ketiga, bahasa Indramayu masih men dominasi penggunaan bahasa dalam berkomunikasi di berbagai kesempatan.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2011. Kandanghaur dalam Angka 2011. Indramayu.

Chaer, Abdul dan Leoni Agustina. 2010. Sosiolinguistik Perkenalan Awal : Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta.

Dardjowidjojo, Soenjono. 2008. Psikoli­ nguistik Pengantar Pemahaman Ba­ hasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Fishman, Joshua A. 1972. The Sociology of Language. Massachussetts : Newbury House Publication.

Hudson, R. A. 1980. Sociolinguistics. Mal-bourne Sydney: Cambridge University Press.

Rahardi, Kunjana A. 2010. Kajian Sosiolin­ guistik. Bogor: Ghalia Indonesia. Rusyana, Yus. 1989. Perihal Kedwiba­

hasaan (Bilingualisme). Jakarta: Dep-dikbud.

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2008. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: UPI - Rosda

Syamsudin, AR. 2007. Modul 1 Linguistik Mikro dan Makro.

* * *

Learning is a treasure that will follow its owner everywhere.

~Chinese Proverb~

Referensi

Dokumen terkait

Estimasi Proporsi kesalahan fonologi berdasarkan jenis kesalahan yang tertinggi adalah Cluster Reduction sebanyak 11 anak, sesuai dengan penelitian Bauman-

Musim tanam merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil dalam usaha budidaya tanaman padi, penggunaan varietas unggul baru yang adaptif merupakan salah satu

Menulis syair tembang macapat paling sderhana (pocung) Tugas individu Tes tertulis Tes lisan perbuatan • Pilihan ganda • Isian • Uraian Kurikulum Bahasa Jawa SMA/SMK 2011

Hasil simulasi yang didapat yaitu mekanisme spectrum sharing rule C menghasilkan alokasi kanal bagi secondary user yang bebas konflik satu sama lain dengan jumlah kanal

aktivitas antioksidan produk olahan jambu biji merah berupa selai yang dibuat dengan variasi suhu dan waktu pemanasan yang berbeda menggunakan metode penangkap

Arti tanda negatif pada konstanta adalah apabila tidak ada variabel country of origin, kualitas produk dan kelompok acuan maka tidak akan terjadi niat beli

Diazepam merupakan obat golongan benzodiazepin yang digunakan untuk mengatasi gejala Diazepam merupakan obat golongan benzodiazepin yang digunakan untuk mengatasi gejala

H0 adalah hipotesis yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan pada kadar profil lipid pada pasien penyakit ginjal diabetik dan penyakit ginjal non-diabetik