• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah, penelitian ini memiliki manfaat sebagai berikut:

1. Manfaat Akademis

a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan pengetahuan mengenai pengaruh Good Corporate Governance, Sales Growth, dan Leverage terhadap Tax Avoidance dengan Profitabilitas sebagai moderasi.

b. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu di bidang akuntansi dan menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya yang terkait dengan pengaruh Good Corporate Governance, Sales Growth, dan Leverage terhadap Tax Avoidance dengan Profitabilitas sebagai moderasi.

19

c. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan penulis terutama berkaitan dengan topik penelitian yang dilakukan yaitu pengaruh Good Corporate Governance, Sales Growth, dan Leverage terhadap Tax Avoidance dengan Profitabilitas sebagai moderasi.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Manajemen Perusahaan

Penelitian ini dapat menjadi referensi bahwa betapa pentingnya pengaruh faktor-faktor yang mempengaruhi penghindaran pajak, sehingga manajemen perusahaan dapat mengambil kebijakan yang tepat dan tidak melanggar hukum dalam menentukan besarnya pajak yang harus dibayarkan perusahaan kepada negara.

b. Bagi Investor

Penelitian ini dapat memberikan informasi tentang penghindaran pajak, sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan bagi investor dalam membuat keputusan investasi yang tepat.

20 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Literatur

1. Teori Keagenan (Agency Theory)

Teori keagenan merupakan teori yang diperkenalkan melalui penelitian yang dikembangkan oleh Jensen dan Meckling (1976). Teori keagenan (agency theory) merupakan konsep yang menjelaskan hubungan kontraktual antara prisipal dan agen, yaitu antara satu orang atau lebih pemegang saham (principal) dengan manajemen (agent), yang muncul ketika principal memberikan sebagian wewenangnya kepada orang lain (agent) dalam menjalankan perusahaan dan mengambil keputusan (Parmitasari & Hasrianto, 2017).Teori ini muncul akibat adanya masalah keagenan yang disebabkan karena adanya ketimpangan informasi antara principal dan agen atau biasa disebut dengan asimetri informasi (Jefri &

Khoiriyah, 2019).

Menurut Sholekah dan Venusita (2014) teori keagenan menganalisa kepentingan dan perilaku dari pihak yang bertindak sebagai pembuat keputusan bagi pihak lain yang bertindak sebagai pemberi wewenang (prinsipal) kepada pihak pertama (agen) dengan maksud agar pihak pertama bertindak dan membuat keputusan sesuai dengan kepentingannya selaku pemberi wewenang. Terdapat pula asimetri informasi antara agen dan prinsipal, dimana manajer lebih mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pemegang saham dan stakeholder lainnya (Kurniasih & Sari, 2013).

Asimetri informasi adalah ketidakseimbangan informasi yang dimiliki oleh agen dan prinsipal (Herlambang & Darsono, 2015). Dimana manajemen perusahaan terkadang menyembunyikan informasi yang

21

sebenarnya dari para pemegang saham untuk melindungi kepentingannya sendiri sehingga mengganggu kepentingan pemegang saham yang seharusnya mendapatkan informasi yang sebenarnya (Permana dan Zulaikha, 2015). Konflik yang terjadi antara pemegang saham dan manajemen karena adanya asimetri informasi dapat menimbulkan biaya yang disebut agency cost.

Jensen dan Meckling (1976) menjelaskan bahwa agency cost dibagi menjadi tiga yaitu monitoring cost, bonding cost dan residual loss.

Monitoring cost adalah biaya yang timbul dan ditanggung oleh prinsipal untuk mengawasi segala perilaku agen, yaitu dengan mengukur, mengamati, dan mengontrol perilaku agen. Bonding cost merupakan biaya yang ditangung oleh prinsipal agar agen mematuhi peraturan dan bertindak sesuai dengan kepentingan prinsipal. Sedangkan residual loss merupakan biaya yang muncul akibat adanya perbedaan keputusan antara agen dan prinsipal yang mengakibatkan berkurangnya kemakmuran principal.

Adanya agency cost menjadikan biaya operasional yang ditanggung perusahaan semakin tinggi, sehingga manajemen dituntut bertindak lebih efektif dan efisien dalam meningkatkan profit perusahaannya (Amri, 2017).

Perbedaan kepentingan antara agen dan prinsipal juga dapat mempengaruhi kebijkan perusahaan mengenai pajak perusahaan. Sistem perpajakan di Indonesia yang menggunakan self assessment system memberikan wewenang kepada perusahaan untuk menghitung dan melaporkan pajaknya sendiri. Penggunaan sistem ini dapat memberikan kesempatan bagi agen untuk memanipulasi pendapatan kena pajak perusahaannya menjadi lebih rendah, sehingga beban pajak yang ditanggung perusahaan menjadi rendah (Nugraha & Meiranto, 2015).

Di sisi lain selain berkaitan dengan internal perusahaan, masalah keagenan dapat terjadi dikarenakan adanya perbedaan kepentingan antara pemerintah dan perusahaan. Pemerintah yang bertindak sebagai principal

22

memerintahkan kepada perusahaan sebagai agen, untuk membayar pajak sesuai dengan undang-undang perpajakan yang berlaku serta tidak melakukan tindakan penghindaran pajak. Namun berbeda dengan kepentingan pemerintah sebagai principal yang berorientasi untuk mengumpulkan penerimaan pajak yang nantinya digunakan untuk kesejahteraan masyarakat, perusahaan sebagai agen lebih mengutamakan kepentingannya dalam mengoptimalkan laba perusahaan sehingga meminimalisir beban, termasuk beban pajak yang salah satu caranya dengan melakukan penghindaran pajak (Gazali dkk., 2020).

2. Teori Stakeholder

Teori stakeholder menyatakan bahwa perusahaan memiliki tanggung jawab sosial yang mengharuskan mereka untuk mempertimbangkan kepentingan semua pihak yang terkena dampak tindakan mereka. Teori ini menekankan untuk mempertimbangkan kepentingan, kebutuhan dan pengaruh dari pihak-pihak yang terkait dengan kebijakan dan kegiatan operasi perusahaan, terutama dalam pengambilan keputusan perusahaan (Hanik & Nur, 2016). Perusahaan perlu menjaga legitimasi stakeholder serta mendudukkannya dalam kerangka kebijakan dan pengambilan keputusan, sehingga dapat mendukung pencapaian tujuan perusahaan, yaitu usaha dan jaminan going concern (Santoso dkk., 2020).

Stakeholder pada dasarnya dapat mengendalikan dan mempengaruhi pemakaian sumber-sumber ekonomi yang digunakan perusahaan. Oleh karena itu, kekuasaan stakeholder ditentukan oleh besar kecilnya wewenang yang mereka miliki atas sumber tersebut. Wewenang tersebut dapat berupa kemampuan untuk membatasi pemakaian sumber ekonomi yang terbatas (modal dan tenaga kerja), akses terhadap media yang berpengaruh, kemampuan untuk mengatur perusahaan, atau kemampuan untuk mempengaruhi konsumsi atas barang dan jasa yang dihasilkan

23

perusahaan. Gray (1997) menyatakan teori stakeholder pada dasarnya merupakan pendekatan berbasis tekanan pasar (market forces approach) dimana penyediaan atau penarikan atas sumber ekonomi akan menentukan tipe pengungkapan sosial dan lingkungan pada titik waktu tertentu. Teori ini juga mengasumsikan bahwa eksistensi perusahaan ditentukan oleh para stakeholder. Oleh karena itu, perusahaan akan mempertimbangkan kepentingan pemangku kepentingan karena adanya komitmen moral dari manajemen perusahaan terhadap para pemangku kepentingan, komitmen moral ini akan mendorong perusahaan untuk merumuskan strategi perusahaan (yang memerhatikan kepentingan para pemangku kepentingan) dimana strategi perusahaan akan berpengaruh terhadap pencapaian kinerja keuangan perusahaan (Indriawati, 2017).

Penghindaran pajak (tax avoidance) adalah salah satu contoh strategi yang dapat digunakan oleh manajemen perusahaan untuk melakukan penghematan atas beban perusahaan yang pada akhirnya dapat meningkatkan laba bersih perusahaan (Amri, 2017). Meningkatnya laba perusahaan akan membantu manajemen dalam memenuhi kepentingan para stakeholder. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi penghindaran pajak berdasarkan teori stakeholder adalah kepemilikan institusional, dimana kepemilikan ini dimiliki oleh para pemegang saham selain pemilik perusahaan, seperti pemerintah, bank maupun investor luar negeri. Adanya tekanan dari pihak institusional dapat membuat manajemen untuk meningkatkan kinerja keuangan perusahaan yaitu dengan melakukan penghindaran untuk meminimalkan beban pajak perusahaan.

Selain itu pemerintah sebagai regulator, dinilai merupakan salah satu stakeholder perusahaan. Oleh karena itu perusahaan harus memperhatikan kepentingan pemerintah sebagai bagian dari stakeholder.

Salah satunya adalah dengan cara mengikuti semua peraturan yang dibuat oleh pemerintah, ketaatan membayar pajak, dan tidak melakukan

24

penghindaran pajak. Penghindaran pajak merupakan hal yang tidak bertanggung jawab secara sosial. Hal ini tidak sesuai dengan teori stakeholder yang menyebutkan bahwa perusahaan selalu mengusahakan dukungan dari stakeholdernya (Oktaviana, 2014). Munculnya teori stakeholder semakin menguatkan konsep bahwa perusahaan bertanggung jawab tidak hanya kepada pemegang saham melainkan juga terhadap para pemangku kepentingan atau stakeholder (Maulida & Adam, 2012).

3. Tax Avoidance

Tax avoidance (penghindaran pajak) merupakan bentuk strategi meminimalkan beban pajak yang dilakukan secara legal dan aman bagi wajib pajak karena tidak bertentangan dengan ketentuan perpajakan.

Metode dan teknik dalam penghindaran pajak cenderung memanfaaatkan kelemahan atau celah-celah yang terdapat dalam undang-undang dan ketentuan perpajakan dalam rangka memperkecil pengenaan beban pajak terutang (Titisari & Mahanani, 2017).

Wajib pajak melakukan penghindaran pajak dengan mentaati aturan yang berlaku, yang sifatnya legal dan diperbolehkan oleh peraturan perundang-undangan perpajakan (Putri, 2017). Dalam hal penghindaraan pajak, pemerintah tidak dapat menuntut secara hukum suatu perusahaan karena telah melakukan tidakan penghindaran pajak, karena tidak ada peraturan perpajakan yang dilanggar. Aktifitas pengindaran pajak itu sendiri merupakan salah satu hal yang dapat menyebabkan tidak optimalnya penerimaan pajak yang diperoleh negara, sehingga suatu negara akan berusaha untuk menekan serendah mungkin tingkat terjadinya aktifitas penghindaran pajak agar target penerimaan pajak dapat optimal dan sesuai dengan yang ditargetkan oleh pemerintah.

Pada berbagai negara termasuk diantaranya Indonesia, pajak merupakan salah satu sumber terbesar yang menjadi penerimaan negara.

25

Akan tetapi, tidak semua wajib pajak mau melaksanakan kewajiban perpajakannya sesuai dengan yang seharusnya. Aumeerun, (2016) menyebutkan bahwa ketidakpatuhan pajak adalah sebuah tindakan yang tidak mematuhi hukum dan peraturan perpajakan sebuah negara dengan tidak membayar pajak atau tidak melaporkan jumlah pendapatan yang sesungguhnya, yang mana dapat mencakup menghindari pajak dalam cara yang legal dengan penghindaran pajak serta cara yang illegal yaitu dengan melakukan tindakan penggelapan pajak.

Perencanaan pajak merupakan langkah awal dari manajemen pajak yang digunakan untuk mengestimasi jumlah pajak yang akan dibayar dan hal-hal yang dapat dilakukan untuk menghindari pajak dengan cara mengumpulkan dan meneliti peraturan perpajakan, dengan tjuan untuk menyeleksi jenis tindakan penghematan pajak yang akan dilakukan (Astutik

& Mildawati, 2016). Perusahaan dapat melakukan manajemen pajak yang tujuannya untuk menekan serendah mungkin kewajiban pajaknya.

Manajemen pajak harus dilakukan dengan sebaik mungkin agar tidak menjurus kepada pelanggaran peraturan perpajakan. Perusahaan juga dapat melakukan tindakan penghindaran perpajakan yaitu dengan memanfaatkan celah-celah yang ada dalam peraturan perpajakan untuk menekan beban pajaknya (Putra & Merkusiwati, 2016).

Annuar (2014) menyatakan bahwa manfaat yang paling terlihat dari tindakan tax avoidance adalah penghematan atas kas dari pajak yang dihindarkan. Penghematan kas mengarah pada peningkatan arus kas perusahaan dimana perusahaan dapat melakukan investasi menggunakan kas tersebut, sehingga berdampak pada peningkatan nilai perusahaan dan kekayaan pemegang saham dengan bertambahnya deviden. Selain bagi pemegang saham manfaat ini dapat dirasakan juga oleh manajer dengan bentuk kompensasi atas manajemen pajak efektif (Ramadhani dkk, 2021).

26

Komite urusan fiskal dari Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) menyebutkan ada tiga karakteristik penghindaran pajak yaitu:

a. Adanya unsur artifisial dimana berbagai pengaturan seolah-olah terdapat didalamnya padahal tidak, dan ini dilakukan karena ketiadaan faktor pajak.

b. Skema semacam ini sering memanfaatkan loopholes dari undang-undang atau menerapkan ketentuan-ketentuan legal untuk berbagai tujuan, padahal bukan itu yang sebetulnya dimaksudkan oleh pembuat undang-undang.

c. Kerahasiaan juga sebagai bentuk dari skema ini dimana umumnya para konsultan menunjukkan alat atau cara untuk melakukan penghindaran pajak dengan syarat wajib pajak menjaga serahasia mungkin.

Terdapat beberapa metode penghitungan rasio yang dapat kita gunakan untuk mengukur tax avoidance, yaitu diantaranya menggunakan rasio effective tax rate (ETR) dengan cara membagi beban pajak dengan pendapatan yang diperoleh sebelum pajak. Rasio selanjutnya yaitu cash effective tax rate (CETR) yang dihitung dengan cara membagi pembayaran pajak dengan pendapatan sebelum pajak. Selanjutnya pengukuran tax avoidance dapat juga menggunakan rumus book tax different (BTD) yaitu dengan mengurangi pendapatan sebelum pajak dengan beban pajak, kemudian dibagi dengan total asset yang dimiliki perusahaan pada periode tersebut.

Pengukuran tax avoidance pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rumus proksi effective tax rate (ETR) dari penelitian yang dilakukan oleh (Mariani, 2020), dengan rumus sebagai berikut.

ETR = Beban Pajak Penghasilan Pendapatan Sebelum Pajak

27 4. Good Corporate Governance

Good Corporate governance merupakan suatu sistem yang memiliki fungsi mengatur dan mengendalikan perusahaan guna mendapatkan nilai tambah bagi pemangku kepentingan. Corporate governance adalah seperangkat peraturan yang menetapkan hubungan antara stakeholder di antaranya pemegang saham, pengurus, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta pemegang kepentingan internal dan eksternal lainnya sehubungan dengan hak-hak dan kewajiban mereka, atau dengan kata lain sistem yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan (Moses

& Nur, 2017). Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (2006), good corporate governance didefinisikan sebagai salah satu pilar dari sistem ekonomi serta berkaitan erat dengan kepercayaan baik terhadap perusahaan yang melaksanakannya maupun terhadap iklim usaha suatu negara (Syuhada dkk, 2019).

Good corporate governance juga didefinisikan sebagai sistem dan struktur yang mengatur hubungan antara pihak manajemen dengan pemilik dalam pemilikan saham mayoritas maupun saham minoritas yang ada dalam suatu perusahaan. Corporate governance atau tata kelola perusahaan memiliki manfaat bagi sebuah perusahaan untuk melindungi para pemegang saham dari kepentingan pemegang saham (principle) dengan pihak manajemen (agent). Permasalahan yang terjadi pada tata kelola perusahaan dikarenakan adanya pemisahan antara pengendalian dan kepemilikan dalam perusahaan. Dalam sebuah perusahaan dewan komisaris yang berperan sebagai agent memiliki wewenang dalam menjalankan kegiatan operasional perusahaan dan mengambil keputusan (Hendi &

Novianti, 2021).

Konsep GCG di Indonesia dapat diartikan sebagai konsep pengelolaan perusahaan yang baik. Dua hal yang ditekankan dalam konsep GCG tersebut. Pertama, pentingnya hak pemegang saham untuk

28

memperoleh informasi dengan benar (akurat) dan tepat pada waktunya Kedua, kewajiban perusahaan untuk melakukan pengungkapan (disclosure) secara akurat, tepat waktu dan transparan terhadap semua informasi kinerja perusahaan, kepemilikan, dan stakeholder. Prinsip good corporate governance di Indonesia dengan Keputusan Menteri BUMN No. Kep-117/M-MBU/2002 tentang penerapan praktik good corporate governance pada BUMN pada BAB II pasal 3 meliputi lima prinsip yaitu: transparency (keterbukaan informasi), accountability (akuntabilitas), responsibility (pertanggungjawaban), independency (independensi), dan fairness (kesetaraan atau kewajaran). Perusahaan dengan penerapan good corporate governance yang baik akan menjembatani kepentingan pemegang saham dan manajer. Good corporate governance memiliki andil dalam proses pengambilan keputusan termasuk keputusan perpajakan, tetapi di sisi lain perencanaan pajak bergantung pada dinamika good corporate governance dalam suatu perusahaan (Jefri & Khoiriyah, 2019). Mekanisme good corporate governance yang baik memiliki keterkaitan dengan kemakmuran perusahaan dan para pemegang saham, sehingga penerapannya diharapkan memberi kontribusi positif bagi perusahaan secara keseluruhan. Dalam penelitian ini digunakan dua variabel untuk mengukur good corporate governance yaitu komite audit dan kepemilikan institusional.

5. Komite Audit

Komite audit sesuai dengan Kep. 29/PM/2004 adalah komite yang dibentuk oleh dewan komisaris perusahaan yang anggotanya diangkat dan diberhentikan oleh dewan komisaris. Selain itu, komite audit merupakan komite yang dibentuk dengan tujuan untuk melakukan pengawasan dalam proses penyusunan laporan keuangan perusahaan untuk menghindari kecurangan pihak manajemen. Komite audit juga berfungsi memberikan pandangan mengenai masalah yang berhubungan dengan kebijakan

29

keuangan, akuntansi, dan pengendalian internal perusahaan (Diantari dan Ulupui, 2016). Berdasarkan Pedoman Pembentukan Komite Audit yang Efektif (2002) tentang komite audit menjelaskan bahwa tujuan komite audit adalah membantu dewan komisaris untuk:

a. Meningkatkan kualitas laporan keuangan

b. Menciptakan iklim disiplin dan pengendalian yang dapat mengurangi kesempatan terjadinya penyimpangan dalam pengelolaan perusahaan c. Meningkatkan efektivitas fungsi internal audit maupun eksternal audit d. Mengidentifikasi hal-hal yang memerlukan perhatian dewan komisaris e. Meningkatkan kepercayaan publik atas kelayakan dan objektifitas

laporan keuangan perusahaan.

Berdasarkan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor: KEP-643/BL/2012 komite audit merupakan komite yang dibentuk oleh dan bertanggung jawab kepada dewan komisaris dalam membantu melaksanakan tugas dan fungsi dewan komisaris. Struktur dan keanggotaan komite audit berdasarkan peraturan nomor IX.I.5 yaitu memiliki anggota paling kurang terdiri dari (3) tiga orang anggota yang berasal dari komisaris independen dan pihak dari luar emiten atau perusahaan publik. Komite audit berperan sebagai penghubung antara auditor eksternal dengan auditor internal, sehingga komite audit harus memiliki independensi serta tidak dipengaruhi oleh pihak manapun baik dari dewan direksi maupun dengan auditor eksternal dan internal dan hanya bertanggungjawab kepada dewan komisaris (Syuhada dkk, 2019).

Pada umumnya, komite audit mempunyai tanggung jawab pada tiga bidang, yaitu:

a. Laporan Keuangan

Komite audit bertanggung jawab untuk memastikan bahwa laporan yang dibuat manajemen telah memberikan gambaran yang sebenarnya

30

tentang kondisi keuangan, hasil usaha, rencana, dan komitmen perusahaan jangka panjang.

b. Pengawasan Perusahaan

Komite Audit bertanggung jawab untuk pengawasan perusahaan termasuk di dalamnya hal-hal yang berpotensi mengandung risiko dan sistem pengendalian intern serta memonitor proses pengawasan yang dilakukan auditor internal.

c. Tata Kelola Perusahaan

Komite audit bertanggung jawab untuk memastikan bahwa perusahaan telah dijalankan sesuai undang-undang dan peraturan yang berlaku dan etika, melaksanakan pengawasan secara efektif terhadap benturan kepentingan dan kecurangan yang dilakukan oleh karyawan.

Menurut POJK Nomor 55/POJK.04/2015 tentang pembentukan dan pedoman pelaksanaan kerja komite audit, anggota komite audit wajib memiliki paling sedikit 1 (satu) anggota yang berlatar belakang pendidikan dan keahlian di bidang akuntansi dan keuangan, serta wajib memahami laprak keuangan, bisnis perusahaan khususnya yang terkait dengan layanan jasa atau kegiatan usaha emiten atau perusahaan publik, proses audit, manajemen risiko, dan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal serta peraturan perundang-undangan terkait lainnya.

Fungsi pengawasan komite audit dalam hal keefektifan kinerja komite audit tidak disasarkan pada ukuran jumlah anggota komite audit pada suatu perusahaan, tetapi perlu didasarkan pada ketepatan jumlah anggota yang dibutuhkan dan mampu menggunakan pengalaman, pengetahuan serta keahlian mereka untuk kepentingan stakeholder.

Kompetensi seorang komite audit sangat diperlukan agar komite audit dapat menjalankan tugas dan tanggungjawabnya sesuai dengan yang diperintahkan. Komite audit diharuskan memilki kemampuan serta

31

pemahaman yang memadai tentang akuntansi, audit, dan sistem yang berlaku dalam perusahaan (Novitasari dkk, 2016).

Pada penelitian ini komite audit sebagai salah satu proksi good corporate governance dihitung berdasarkan jumlah anggota komite audit yang memiliki latar belakang keuangan atau akuntansi dibandingkan dengan jumlah keseluruhan anggota komite audit pada suatu perusahaan, menggunakan rumus berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Pramesty dkk, 2020) sebagai berikut.

Komite Audit = ∑ Anggota komite audit berlatarbelakang keuangan

∑ Anggota komite audit 6. Kepemilikan Institusional

Struktur kepemilikan perusahaan merupakan kumpulan beberapa pihak atau institusi yang menjadi bagian dari pemegang saham suatu perusahaan, baik yang berasal dari internal maupun eksternal. Struktur kepemilikan dapat mempengaruhi jalannya kegiatan perusahaan yang kemudian berdampak pada kinerja yang dihasilkan oleh perusahaan.

Kepemilikan institusional dan kepemilikan manajerial merupakan bagian dari jenis struktur kepemilikan (Gazali dkk, 2020).

Kepemilikan institusional dapat diartikan sebagai kepemilikan saham yang dimiliki oleh pemerintah, investor luar negeri, perusahaan asuransi maupun bank yang memiliki peranan lebih besar dalam pengawasan terhadap manajemen perusahaan (Dewi & Jati, 2014). Menurut (WIjayani, 2016) kepemilikan institusional adalah persentase saham yang dimiliki institusi dan pemegang saham, yaitu kepemilikan individual atau atas nama perorangan di atas lima persen. Investor institusi dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu investor aktif dan investor pasif. Investor yang aktif melakukan monitoring terhadap manajemen adalah investor institusi karena memegang kepemilikan saham untuk jangka panjang. Oleh karena

32

itu diperlukan suatu sistem pengecekan untuk mencegah adanya potensi penyalahgunaan kekuasaan.

Adanya kepemilikan institusional dalam suatu perusahaan akan mendorong peningkatan pengawasan agar lebih optimal terhadap kinerja manajemen, semakin banyak nilai investasi yang diberikan kedalam sebuah perusahaan, akan membuat sistem monitoring dalam perusahaan tersebut lebih tinggi. Di dalam praktiknya kepemilikan institusional memiliki fungsi monitoring yang lebih efektif dibandingkan dengan kepemilikan manajerial (Ardianingsih & Ardiyani, 2016). Semakin tinggi kepemilikan institusional maka diharapkan mampu menciptakan kontrol yang lebih baik. Dalam penelitian ini kepemilikan institusional dihitung dengan persentase perbandingan antara jumlah saham institusi dengan jumlah saham yang beredar (Hendi & Novianti, 2021), dengan rumus sebagai berikut.

INST = Jumlah saham institusional Jumlah saham beredar 7. Sales Growth

Sales growth atau pertumbuhan penjualan adalah perubahan penjualan pada laporan keuangan per tahun yang dapat mencerminkan prospek perusahaan dan profitabilitas di masa yang akan datang.

Pengukuran pertumbuhan penjualan dapat menggambarkan baik atau buruknya tingkat pertumbuhan penjualan suatu perusahaan (Fionasari dkk, 2020).

Pertumbuhan penjualan dapat diukur dengan membandingkan penjualan tahun sekarang dikurangi penjualan tahun sebelumnya. Apabila pertumbuhan penjualan perusahaan meningkat maka profitabilitas yang akan diterima oleh perusahaan juga ikut meningkat. Selain itu kenaikan pertumbuhan penjualan dapat menggambarkan kinerja perusahaan yang semakin baik dan memungkinkan perusahaan untuk dapat lebih

33

meningkatkan kapasitas operasinya. Namun kenaikan tingkat sales growth ini juga diiringi dengan bertambahnya beban atas pajak yang harus dibayarkan oleh perusahaan. Hal ini tentu mendorong perusahaan untuk melakukan kegiatan manajemen pajak untuk meminimalkan beban pajak terutang.

Menurut (Oktamawati, 2017) jika tingkat pertumbuhan penjualan mengalami peningkatan maka diduga tindakan penghindaran pajak yang mungkin dilakukan oleh pihak perusahaan ikut mengalami peningkatan.

Hal ini terjadi karena dampak dari pertumbuhan penjualan yaitu tingginya biaya pajak terutang yang akan dikenakan pada badan usaha, sehingga perusahaan akan mencari cara untuk menekan biaya pajak tersebut dengan cara melakukan tindakan tax avoidance (Oktamawati, 2017).

Sales growth dapat diukur berdasarkan perubahan total penjualan perusahaan. Jika tingkat penjualan bertambah, maka penghindaran pajaknya akan meningkat. Dari tingkat penjualan yang meningkat serta penambahan laba yang didapat oleh perusahaan menyebabkan tingginya biaya pajak yang harus dibayar sehingga perusahaan berusaha melakukan penghindaran pajak agar beban perusahaan tidak tinggi. Pada penelitian ini sales growth dihitung menggunakan rumus berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Oktamawati, 2017) sebagai berikut.

SALES = Salest – Sales-t

SALES = Salest – Sales-t