• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Literatur

3. Tax Avoidance

Tax avoidance (penghindaran pajak) merupakan bentuk strategi meminimalkan beban pajak yang dilakukan secara legal dan aman bagi wajib pajak karena tidak bertentangan dengan ketentuan perpajakan.

Metode dan teknik dalam penghindaran pajak cenderung memanfaaatkan kelemahan atau celah-celah yang terdapat dalam undang-undang dan ketentuan perpajakan dalam rangka memperkecil pengenaan beban pajak terutang (Titisari & Mahanani, 2017).

Wajib pajak melakukan penghindaran pajak dengan mentaati aturan yang berlaku, yang sifatnya legal dan diperbolehkan oleh peraturan perundang-undangan perpajakan (Putri, 2017). Dalam hal penghindaraan pajak, pemerintah tidak dapat menuntut secara hukum suatu perusahaan karena telah melakukan tidakan penghindaran pajak, karena tidak ada peraturan perpajakan yang dilanggar. Aktifitas pengindaran pajak itu sendiri merupakan salah satu hal yang dapat menyebabkan tidak optimalnya penerimaan pajak yang diperoleh negara, sehingga suatu negara akan berusaha untuk menekan serendah mungkin tingkat terjadinya aktifitas penghindaran pajak agar target penerimaan pajak dapat optimal dan sesuai dengan yang ditargetkan oleh pemerintah.

Pada berbagai negara termasuk diantaranya Indonesia, pajak merupakan salah satu sumber terbesar yang menjadi penerimaan negara.

25

Akan tetapi, tidak semua wajib pajak mau melaksanakan kewajiban perpajakannya sesuai dengan yang seharusnya. Aumeerun, (2016) menyebutkan bahwa ketidakpatuhan pajak adalah sebuah tindakan yang tidak mematuhi hukum dan peraturan perpajakan sebuah negara dengan tidak membayar pajak atau tidak melaporkan jumlah pendapatan yang sesungguhnya, yang mana dapat mencakup menghindari pajak dalam cara yang legal dengan penghindaran pajak serta cara yang illegal yaitu dengan melakukan tindakan penggelapan pajak.

Perencanaan pajak merupakan langkah awal dari manajemen pajak yang digunakan untuk mengestimasi jumlah pajak yang akan dibayar dan hal-hal yang dapat dilakukan untuk menghindari pajak dengan cara mengumpulkan dan meneliti peraturan perpajakan, dengan tjuan untuk menyeleksi jenis tindakan penghematan pajak yang akan dilakukan (Astutik

& Mildawati, 2016). Perusahaan dapat melakukan manajemen pajak yang tujuannya untuk menekan serendah mungkin kewajiban pajaknya.

Manajemen pajak harus dilakukan dengan sebaik mungkin agar tidak menjurus kepada pelanggaran peraturan perpajakan. Perusahaan juga dapat melakukan tindakan penghindaran perpajakan yaitu dengan memanfaatkan celah-celah yang ada dalam peraturan perpajakan untuk menekan beban pajaknya (Putra & Merkusiwati, 2016).

Annuar (2014) menyatakan bahwa manfaat yang paling terlihat dari tindakan tax avoidance adalah penghematan atas kas dari pajak yang dihindarkan. Penghematan kas mengarah pada peningkatan arus kas perusahaan dimana perusahaan dapat melakukan investasi menggunakan kas tersebut, sehingga berdampak pada peningkatan nilai perusahaan dan kekayaan pemegang saham dengan bertambahnya deviden. Selain bagi pemegang saham manfaat ini dapat dirasakan juga oleh manajer dengan bentuk kompensasi atas manajemen pajak efektif (Ramadhani dkk, 2021).

26

Komite urusan fiskal dari Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) menyebutkan ada tiga karakteristik penghindaran pajak yaitu:

a. Adanya unsur artifisial dimana berbagai pengaturan seolah-olah terdapat didalamnya padahal tidak, dan ini dilakukan karena ketiadaan faktor pajak.

b. Skema semacam ini sering memanfaatkan loopholes dari undang-undang atau menerapkan ketentuan-ketentuan legal untuk berbagai tujuan, padahal bukan itu yang sebetulnya dimaksudkan oleh pembuat undang-undang.

c. Kerahasiaan juga sebagai bentuk dari skema ini dimana umumnya para konsultan menunjukkan alat atau cara untuk melakukan penghindaran pajak dengan syarat wajib pajak menjaga serahasia mungkin.

Terdapat beberapa metode penghitungan rasio yang dapat kita gunakan untuk mengukur tax avoidance, yaitu diantaranya menggunakan rasio effective tax rate (ETR) dengan cara membagi beban pajak dengan pendapatan yang diperoleh sebelum pajak. Rasio selanjutnya yaitu cash effective tax rate (CETR) yang dihitung dengan cara membagi pembayaran pajak dengan pendapatan sebelum pajak. Selanjutnya pengukuran tax avoidance dapat juga menggunakan rumus book tax different (BTD) yaitu dengan mengurangi pendapatan sebelum pajak dengan beban pajak, kemudian dibagi dengan total asset yang dimiliki perusahaan pada periode tersebut.

Pengukuran tax avoidance pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rumus proksi effective tax rate (ETR) dari penelitian yang dilakukan oleh (Mariani, 2020), dengan rumus sebagai berikut.

ETR = Beban Pajak Penghasilan Pendapatan Sebelum Pajak

27 4. Good Corporate Governance

Good Corporate governance merupakan suatu sistem yang memiliki fungsi mengatur dan mengendalikan perusahaan guna mendapatkan nilai tambah bagi pemangku kepentingan. Corporate governance adalah seperangkat peraturan yang menetapkan hubungan antara stakeholder di antaranya pemegang saham, pengurus, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta pemegang kepentingan internal dan eksternal lainnya sehubungan dengan hak-hak dan kewajiban mereka, atau dengan kata lain sistem yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan (Moses

& Nur, 2017). Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (2006), good corporate governance didefinisikan sebagai salah satu pilar dari sistem ekonomi serta berkaitan erat dengan kepercayaan baik terhadap perusahaan yang melaksanakannya maupun terhadap iklim usaha suatu negara (Syuhada dkk, 2019).

Good corporate governance juga didefinisikan sebagai sistem dan struktur yang mengatur hubungan antara pihak manajemen dengan pemilik dalam pemilikan saham mayoritas maupun saham minoritas yang ada dalam suatu perusahaan. Corporate governance atau tata kelola perusahaan memiliki manfaat bagi sebuah perusahaan untuk melindungi para pemegang saham dari kepentingan pemegang saham (principle) dengan pihak manajemen (agent). Permasalahan yang terjadi pada tata kelola perusahaan dikarenakan adanya pemisahan antara pengendalian dan kepemilikan dalam perusahaan. Dalam sebuah perusahaan dewan komisaris yang berperan sebagai agent memiliki wewenang dalam menjalankan kegiatan operasional perusahaan dan mengambil keputusan (Hendi &

Novianti, 2021).

Konsep GCG di Indonesia dapat diartikan sebagai konsep pengelolaan perusahaan yang baik. Dua hal yang ditekankan dalam konsep GCG tersebut. Pertama, pentingnya hak pemegang saham untuk

28

memperoleh informasi dengan benar (akurat) dan tepat pada waktunya Kedua, kewajiban perusahaan untuk melakukan pengungkapan (disclosure) secara akurat, tepat waktu dan transparan terhadap semua informasi kinerja perusahaan, kepemilikan, dan stakeholder. Prinsip good corporate governance di Indonesia dengan Keputusan Menteri BUMN No. Kep-117/M-MBU/2002 tentang penerapan praktik good corporate governance pada BUMN pada BAB II pasal 3 meliputi lima prinsip yaitu: transparency (keterbukaan informasi), accountability (akuntabilitas), responsibility (pertanggungjawaban), independency (independensi), dan fairness (kesetaraan atau kewajaran). Perusahaan dengan penerapan good corporate governance yang baik akan menjembatani kepentingan pemegang saham dan manajer. Good corporate governance memiliki andil dalam proses pengambilan keputusan termasuk keputusan perpajakan, tetapi di sisi lain perencanaan pajak bergantung pada dinamika good corporate governance dalam suatu perusahaan (Jefri & Khoiriyah, 2019). Mekanisme good corporate governance yang baik memiliki keterkaitan dengan kemakmuran perusahaan dan para pemegang saham, sehingga penerapannya diharapkan memberi kontribusi positif bagi perusahaan secara keseluruhan. Dalam penelitian ini digunakan dua variabel untuk mengukur good corporate governance yaitu komite audit dan kepemilikan institusional.

5. Komite Audit

Komite audit sesuai dengan Kep. 29/PM/2004 adalah komite yang dibentuk oleh dewan komisaris perusahaan yang anggotanya diangkat dan diberhentikan oleh dewan komisaris. Selain itu, komite audit merupakan komite yang dibentuk dengan tujuan untuk melakukan pengawasan dalam proses penyusunan laporan keuangan perusahaan untuk menghindari kecurangan pihak manajemen. Komite audit juga berfungsi memberikan pandangan mengenai masalah yang berhubungan dengan kebijakan

29

keuangan, akuntansi, dan pengendalian internal perusahaan (Diantari dan Ulupui, 2016). Berdasarkan Pedoman Pembentukan Komite Audit yang Efektif (2002) tentang komite audit menjelaskan bahwa tujuan komite audit adalah membantu dewan komisaris untuk:

a. Meningkatkan kualitas laporan keuangan

b. Menciptakan iklim disiplin dan pengendalian yang dapat mengurangi kesempatan terjadinya penyimpangan dalam pengelolaan perusahaan c. Meningkatkan efektivitas fungsi internal audit maupun eksternal audit d. Mengidentifikasi hal-hal yang memerlukan perhatian dewan komisaris e. Meningkatkan kepercayaan publik atas kelayakan dan objektifitas

laporan keuangan perusahaan.

Berdasarkan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor: KEP-643/BL/2012 komite audit merupakan komite yang dibentuk oleh dan bertanggung jawab kepada dewan komisaris dalam membantu melaksanakan tugas dan fungsi dewan komisaris. Struktur dan keanggotaan komite audit berdasarkan peraturan nomor IX.I.5 yaitu memiliki anggota paling kurang terdiri dari (3) tiga orang anggota yang berasal dari komisaris independen dan pihak dari luar emiten atau perusahaan publik. Komite audit berperan sebagai penghubung antara auditor eksternal dengan auditor internal, sehingga komite audit harus memiliki independensi serta tidak dipengaruhi oleh pihak manapun baik dari dewan direksi maupun dengan auditor eksternal dan internal dan hanya bertanggungjawab kepada dewan komisaris (Syuhada dkk, 2019).

Pada umumnya, komite audit mempunyai tanggung jawab pada tiga bidang, yaitu:

a. Laporan Keuangan

Komite audit bertanggung jawab untuk memastikan bahwa laporan yang dibuat manajemen telah memberikan gambaran yang sebenarnya

30

tentang kondisi keuangan, hasil usaha, rencana, dan komitmen perusahaan jangka panjang.

b. Pengawasan Perusahaan

Komite Audit bertanggung jawab untuk pengawasan perusahaan termasuk di dalamnya hal-hal yang berpotensi mengandung risiko dan sistem pengendalian intern serta memonitor proses pengawasan yang dilakukan auditor internal.

c. Tata Kelola Perusahaan

Komite audit bertanggung jawab untuk memastikan bahwa perusahaan telah dijalankan sesuai undang-undang dan peraturan yang berlaku dan etika, melaksanakan pengawasan secara efektif terhadap benturan kepentingan dan kecurangan yang dilakukan oleh karyawan.

Menurut POJK Nomor 55/POJK.04/2015 tentang pembentukan dan pedoman pelaksanaan kerja komite audit, anggota komite audit wajib memiliki paling sedikit 1 (satu) anggota yang berlatar belakang pendidikan dan keahlian di bidang akuntansi dan keuangan, serta wajib memahami laprak keuangan, bisnis perusahaan khususnya yang terkait dengan layanan jasa atau kegiatan usaha emiten atau perusahaan publik, proses audit, manajemen risiko, dan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal serta peraturan perundang-undangan terkait lainnya.

Fungsi pengawasan komite audit dalam hal keefektifan kinerja komite audit tidak disasarkan pada ukuran jumlah anggota komite audit pada suatu perusahaan, tetapi perlu didasarkan pada ketepatan jumlah anggota yang dibutuhkan dan mampu menggunakan pengalaman, pengetahuan serta keahlian mereka untuk kepentingan stakeholder.

Kompetensi seorang komite audit sangat diperlukan agar komite audit dapat menjalankan tugas dan tanggungjawabnya sesuai dengan yang diperintahkan. Komite audit diharuskan memilki kemampuan serta

31

pemahaman yang memadai tentang akuntansi, audit, dan sistem yang berlaku dalam perusahaan (Novitasari dkk, 2016).

Pada penelitian ini komite audit sebagai salah satu proksi good corporate governance dihitung berdasarkan jumlah anggota komite audit yang memiliki latar belakang keuangan atau akuntansi dibandingkan dengan jumlah keseluruhan anggota komite audit pada suatu perusahaan, menggunakan rumus berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Pramesty dkk, 2020) sebagai berikut.

Komite Audit = ∑ Anggota komite audit berlatarbelakang keuangan

∑ Anggota komite audit 6. Kepemilikan Institusional

Struktur kepemilikan perusahaan merupakan kumpulan beberapa pihak atau institusi yang menjadi bagian dari pemegang saham suatu perusahaan, baik yang berasal dari internal maupun eksternal. Struktur kepemilikan dapat mempengaruhi jalannya kegiatan perusahaan yang kemudian berdampak pada kinerja yang dihasilkan oleh perusahaan.

Kepemilikan institusional dan kepemilikan manajerial merupakan bagian dari jenis struktur kepemilikan (Gazali dkk, 2020).

Kepemilikan institusional dapat diartikan sebagai kepemilikan saham yang dimiliki oleh pemerintah, investor luar negeri, perusahaan asuransi maupun bank yang memiliki peranan lebih besar dalam pengawasan terhadap manajemen perusahaan (Dewi & Jati, 2014). Menurut (WIjayani, 2016) kepemilikan institusional adalah persentase saham yang dimiliki institusi dan pemegang saham, yaitu kepemilikan individual atau atas nama perorangan di atas lima persen. Investor institusi dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu investor aktif dan investor pasif. Investor yang aktif melakukan monitoring terhadap manajemen adalah investor institusi karena memegang kepemilikan saham untuk jangka panjang. Oleh karena

32

itu diperlukan suatu sistem pengecekan untuk mencegah adanya potensi penyalahgunaan kekuasaan.

Adanya kepemilikan institusional dalam suatu perusahaan akan mendorong peningkatan pengawasan agar lebih optimal terhadap kinerja manajemen, semakin banyak nilai investasi yang diberikan kedalam sebuah perusahaan, akan membuat sistem monitoring dalam perusahaan tersebut lebih tinggi. Di dalam praktiknya kepemilikan institusional memiliki fungsi monitoring yang lebih efektif dibandingkan dengan kepemilikan manajerial (Ardianingsih & Ardiyani, 2016). Semakin tinggi kepemilikan institusional maka diharapkan mampu menciptakan kontrol yang lebih baik. Dalam penelitian ini kepemilikan institusional dihitung dengan persentase perbandingan antara jumlah saham institusi dengan jumlah saham yang beredar (Hendi & Novianti, 2021), dengan rumus sebagai berikut.

INST = Jumlah saham institusional Jumlah saham beredar 7. Sales Growth

Sales growth atau pertumbuhan penjualan adalah perubahan penjualan pada laporan keuangan per tahun yang dapat mencerminkan prospek perusahaan dan profitabilitas di masa yang akan datang.

Pengukuran pertumbuhan penjualan dapat menggambarkan baik atau buruknya tingkat pertumbuhan penjualan suatu perusahaan (Fionasari dkk, 2020).

Pertumbuhan penjualan dapat diukur dengan membandingkan penjualan tahun sekarang dikurangi penjualan tahun sebelumnya. Apabila pertumbuhan penjualan perusahaan meningkat maka profitabilitas yang akan diterima oleh perusahaan juga ikut meningkat. Selain itu kenaikan pertumbuhan penjualan dapat menggambarkan kinerja perusahaan yang semakin baik dan memungkinkan perusahaan untuk dapat lebih

33

meningkatkan kapasitas operasinya. Namun kenaikan tingkat sales growth ini juga diiringi dengan bertambahnya beban atas pajak yang harus dibayarkan oleh perusahaan. Hal ini tentu mendorong perusahaan untuk melakukan kegiatan manajemen pajak untuk meminimalkan beban pajak terutang.

Menurut (Oktamawati, 2017) jika tingkat pertumbuhan penjualan mengalami peningkatan maka diduga tindakan penghindaran pajak yang mungkin dilakukan oleh pihak perusahaan ikut mengalami peningkatan.

Hal ini terjadi karena dampak dari pertumbuhan penjualan yaitu tingginya biaya pajak terutang yang akan dikenakan pada badan usaha, sehingga perusahaan akan mencari cara untuk menekan biaya pajak tersebut dengan cara melakukan tindakan tax avoidance (Oktamawati, 2017).

Sales growth dapat diukur berdasarkan perubahan total penjualan perusahaan. Jika tingkat penjualan bertambah, maka penghindaran pajaknya akan meningkat. Dari tingkat penjualan yang meningkat serta penambahan laba yang didapat oleh perusahaan menyebabkan tingginya biaya pajak yang harus dibayar sehingga perusahaan berusaha melakukan penghindaran pajak agar beban perusahaan tidak tinggi. Pada penelitian ini sales growth dihitung menggunakan rumus berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Oktamawati, 2017) sebagai berikut.

SALES = Salest – Sales-t

Sales-t

Keterangan:

Salest : Penjualan tahun ini

Sales-t : Penjualan tahun sebelumnya 8. Leverage

Menurut Zuesty (2016) leverage merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi pembayaran semua kewajibannya, baik

34

kewajiban jangka pendek maupun kewajiban jangka panjang. Tingkat pengelolaan kewajiban (leverage) berkaitan dengan bagaimana perusahaan didanai, apakah perusahaan didanai lebih banyak menggunakan kewajiban atau modal yang berasal dari pemegang saham. Semakin tinggi tingkat leverage suatu perusahaan maka akan semakin besar pula agency cost.

Dalam hal ini perusahaan akan cenderung mengungkapkan mengapa kondisi kewajiban mereka berada pada angka tersebut kepada publik sehingga diharapkan investor cukup jelas mengetahui kondisi kewajiban perusahaan.

Leverage (struktur utang) menurut Darmawan dan Sukartha (2014) didefinisikan sebagai rasio yang menunjukkan besarnya utang yang dimiliki oleh perusahaan untuk membiayai bisnis operasinya. Penambahan jumlah utang akan mengakibatkan munculnya beban bunga yang harus dibayar oleh perusahaan. Komponen beban bunga akan mengurangi laba sebelum kena pajak perusahaan, sehingga beban pajak yang harus dibayar perusahaan akan berkurang. Sehingga penggunaan utang akan memberikan manfaat pajak bagi perusahaan.

Leverage adalah rasio besarnya kepemilikan utang perusahaan terhadap aktiva yang dimiliki perusahaan yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya.

Leverage merupakan sumber pendanaan perusahaan dari eksternal perusahaan berupa utang jangka panjang yang akan menimbulkan beban bunga jangka panjang yang dapat mengurangi beban pajak terutang perusahaan. Rasio leverage menunjukkan pembiayaan operasi perusahaan dari utang yang mencerminkan semakin tingginya beban bunga akibat utang. Dikarenakan leverage yang merupakan penambahan jumlah utang yang mengakibatkan timbulnya pos biaya tetap tambahan berupa bunga atau interest yang harus dibayarkan oleh perusahaan maka dapat bermanfaat sebagai pengurang beban pajak penghasilan wajib pajak badan (Gazali dkk,

35

2020). Perusahaan dapat memilih pendanaan dengan utang karena adanya biaya bunga sebagai pengurang pajak sehingga beban pajak perusahaan menjadi lebih kecil.

Rasio leverage membandingkan antara keseluruhan utang dengan asset atau ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan. Hal tersebut dapat menggambarkan perbandingan antara banyaknya asset yang dimiiki oleh pemegang saham dengan banyaknya asset yang dimiliki oleh kreditur.

Kreditur biasanya tidak akan memberikan dana tanpa perlindungan dari pendanaan ekuitas. Jika kreditur memiliki lebih banyak asset maka dapat dikatakan bahwa perusahaan tersebut memiliki tingkat leverage yang tinggi. Sebaliknya, jika pemegang saham lebih banyak memiliki asset maka dapat dikatakan bahwa perusahaan tersebut memiliki tingkat leverage yang rendah.

Keputusan untuk memilih menggunakan modal sendiri atau modal pinjaman haruslah digunakan beberapa penghitungan yang matang. Dalam hal ini rasio leverage merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktivitas perusahaan dibiayai dengan utang. Terdapat beberapa jenis penghitungan yang dapat digunakan untuk mengukur rasio leverage, diantaranya yaitu Debt to Equity Ratio (DER) serta Debt to Asset Ratio (DAR). Dalam penelitian ini rasio leverage dihitung menggunakan Debt to Equity Ratio (DER) sesuai dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Tebiono & Sukadana, 2019), dengan rumus sebagai berikut.

DER = Total Liabilities Total Equity 9. Profitabilitas

Berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan, indikator kinerja perusahaan terutama profitabilitas diperlukan untuk menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi yang mungkin dikendalikan di masa depan.

36

Bagi suatu perusahaan sangat penting untuk dapat mengetahui potensi sumber daya ekonomi yang dimiliki, karena apabila dapat mengelola sumber daya tersebut dengan optimal dan efektif maka akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar untuk kedepannya bagi perusahaan tersebut.

Tujuan utama didirikannya suatu perusahaan selain untuk going concern atau berkelanjutan yaitu untuk menghasilkan profit atau laba. Hal ini diperlukan agar perusahaan tersebut dapat terus berlanjut secara jangka panjang, maka dari itu tujuan utama perusahaan dalam memperoleh laba harus dapat tercapai. Untuk mengukur potensi suatu perusahaan untuk memperoleh laba dapat menggunakan rasio profitabilitas. Menurut Kasmir (2008) rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio profitabilitas digunakan untuk melihat seberapa besar keefektifan suatu perusahaan dalam mencapai tujuannya (Saputra, 2017). Apabila suatu perusahaan tidak dapat melakukan kinerjanya secara efektif maka sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan tersebut tidak mampu menghasilkan kinerja yang optimal.

Profitabilitas sendiri merupakan tingkat keuntungan bersih yang mampu diraih oleh perusahaan pada saat menjalankan aktivitas operasinya.

Pendekatan yang dapat mencerminkan profitabilitas perusahaan salah satunya adalah dengan menggunakan rasio return on assets (ROA). ROA berfungsi untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam penggunaan sumber daya yang dimilikinya. Pendekatan ROA menunjukkan bahwa besarnya laba yang diperoleh perusahaan dengan menggunakan total asset yang dimilikinya. Rasio ini memperhitungkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba yang terlepas dari pendanaan. Semakin tinggi rasio ini, semakin baik performa perusahaan dengan menggunakan asset dalam memperoleh laba bersih.

37

Murhadi (2013:63) dalam bukunya menjelaskan beberapa metode yang dapat digunakan dalam mengukur profitabilitas, antara lain:

a. Gross Profit Margin (GPM) or Gross Profit Rate

Gross profit margin menggambarkan persentase laba kotor yang dihasilkan oleh setiap pendapatan perusahaan.

b. Operating Margin (OM)

Operating income mencerminkan kemampuan manajemen perusahaan mengubah aktivitasnya menjadi laba. Operating income sering disebut sebagai bunga dan pajak (EBIT) dengan catatan bahwa dalam perusahaan tersebut tidak terdapat pendapatan non operasional.

c. Net Profit Margin (NPM)

Net profit margin mengambarkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba neto dari setiap perusahaan.

d. Return on Equity (ROE)

Return on Equity mencerminkan seberapa besar return yang dihasilkan bagi pemegang saham atas setiap rupiah uang yang ditanamkannya.

e. Return on Assets (ROA)

Return on Assets mencerminkan seberapa besar return yang dihasilkan atas setiap rupiah uang yang ditanamkan dalam bentuk aset.

Dalam penelitian ini profitabilitas diproksikan dengan Return On Asset (ROA). Profitabilitas merupakan salah satu indikator keberhasilan perusahaan untuk menghasilkan laba sehingga semakin tinggi profitabilitas maka semakin tinggi kemampuan untuk menghasilkan laba bagi perusahaan. Profitabilitas diukur menggunakan Return On Asset (ROA), yaitu perbandingan antara laba bersih setelah pajak dengan total asset di akhir periode (Fionasari dkk, 2020).

ROA = Laba bersih setelah pajak x 100%

Total asset

38 B. Hasil Penelitian Terdahulu

Adapun hasil sebelumnya dari penelitian-penelitian terdahulu mengenai topik yang berkaitan dengan penelitian yang sedang dilakukan dan dapat menjadi acuan bagi peneliti dalam merumuskan hipotesis dalam penelitian ini. Berikut merupakan ringkasan penelitian yang berkaitan dengan pengaruh good corporate governance, sales growth, leverage terhadap tax avoidance yang dapat dilihat dalam Tabel 2.1

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu No. Peneliti

(Tahun) Judul Penelitian Metode Penelitian

Hasil Penelitian

Secara parsial Profitabilitas, Kepemilikan Institusional dan Kualitas Audit tidak berpengaruh terhadap Tax Avoidance. Sedangkan Presentase Dewan Komisaris Independen dan Komite Audit berpengaruh terhadap Tax Avoidance.

Profitabilitas, Kepemilikan Institusional, Dewan Komisaris Independen, Komite Audit dan Kualitas Audit secara simultan berpengaruh terhadap Tax Avoidance.

Bersambung pada halaman selanjutnya

39

Hasil penelitian menunjukkan bahwa CSR, GCG, dan karakteristik perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Tax Avoidance.

CSR dan GCG berpengaruh negatif terhadap profitabilitas, sedangkan karakteristik perusahaan berpengaruh positif terhadap profitabilitas. CSR, GCG, dan karakteristik perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap tax avoidance melalui profitabilitas.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial karakteristik perusahaan dan pertumbuhan penjualan tidak berpengaruh positif terhadap penghindaran pajak, sementara tata

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial karakteristik perusahaan dan pertumbuhan penjualan tidak berpengaruh positif terhadap penghindaran pajak, sementara tata