• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penelitian

Dalam dokumen TESIS. Oleh S U H E R N I /IKM (Halaman 33-0)

BAB 1. PENDAHULUAN

1.5. Manfaat Penelitian

A. Bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat USU

Menjadi Referansi dan sebagai bahan Bacaan di perpustakaan.

B. Bagi Badan KB Kabupaten Simalungun

Dapat digunakan sebagai sumbangan pemikiran dalam upaya peningkatan program pelyanan KB dan pembinaaan keluarga sebagai upaya perwujudan misi BKKBN.

C. Bagi PLKB Kabupaten Simalungun

Dapat memberikan manfaat dan Pemhaman kepada para PLKB untuk dapat membentuk strategi kerja sehingga dapat terus meningkatkan Pencapaian Peserta KB Baru dan Peserta KB Aktif

D. Bagi Peneliti

Sebagai salah satu syarat dalam meraih gelar Magister Kesehaan sekaligus Peneliti dapat menerapkan ilmu atau teori pada waktu kuliah yang digunakan untuk penelitian ini.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu

Penelitian tentang Survei Kebutuhan Pengembangan KIE Kabupaten Pemalang yang dilakukan oleh Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi Massa Universitas Diponegoro pada tahun 1998, menunjukkan bahwa ketersediaan lembaga-lembaga kesehatan, tenaga medis, para medis serta lembaga pelayanan KB sudah cukup memadai, yang sekaligus lembaga-lembaga tersebut berfungsi sebagai lembaga penyuluhan. Kesadaran Pasangan Usia Subur (PUS) dan remaja mengenai reproduksi sehat sebenarnya cukup tinggi tetapi tidak diikuti oleh kesadaran mengenai pembatasan jumlah jumlah anak dalam keluarga. Pasangan Usia Subur (PUS) juga hanya bersedia memilih alat kontrasepsi tertentu (suntik). Kesadaran tentang pendewasaan usia perkawinan (PUP) yang tinggi, juga tercermin dari pemahaman informan mengenai rata-rata usia perkawinan, batas usia melahirkan, dan kesadaran untuk menjarangkan jarak anak dengan menggunakan alat kontrasepsi.

Oleh karena hal yang demikian itu diperlukan upaya intensif memanfaatkan media yang betul-betul disenangi serta dilakukan secara intensif dan berkesinambungan (www.ejournalS1.undip.ac.id, 2013)

Penelitian lain mengenai Implementasi Kebijakan Program KB di Kabupaten Batang oleh Akhmad Zaeni tahun 2006 diperoleh hasil bahwa masih rendahnya kualitas sumber daya manusia, yang indikasinya masih adanya beberapa PLKB yang

hanya berpendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) di tingkat lapangan (kecamatan), hal ini berimplikasi pada pelaksanaan program yang tidak maksimal, yang umumnya mereka tunjukkan dengan keengganan implementator untuk meningkatkan kualitas diri. Kondisi demikian juga menjadikan isi pesan implementator sangat terbatas pada apa yang didapatkan tempo dulu. Dan Dimensi Lingkungan kebijakan ternyata juga mempunyai andil yang cukup besar dalam implentasi kebijakan peningkatan kesertaan KB pria di Kecamatan Gringsing. Hal yang demikian ini dapat ditunjukkan dengan masih adanya tokoh agama yang menganggap bahwa KB merupakan perbuatan mutasyabihat (samar-samar, antara halal dan haram), sikap perempuan yang masih merasa dirinya harus yang lebih prihatin dan mengalah, serta ketakutan para ibu jika suaminya ikut MOP akan loyo libido seksnya atau mungkin mencari perempuan lain (jajan di luar). (Ahmad Zaeni, 2006)

2.2. Mekanisme Operasional (Mekop) Program KB 2.2.1. Pengertian Mekanisme Operasional (Mekop)

Mekop adalah suatu rangkaian kegiatan yang satu sama lain saling berkaitan dan berlangsung secara terus menerus yang melibatkan seluruh potensi kecamatan, desa/kelurahan dalam upaya mencapai sasaran program KB secara berdaya guna dan berhasil guna.

Mekop adalah forum komunikasi sosial dimana terdapat pemeran kelembagaan dan kegiatan yang disepakati untuk dilaksanakan (BKKBN Prov Sumut, 2011).

2.2.2. Hakekat Mekop

Hakekat Mekop menurut BKKBN provinsi Sumatera Utara (2011) adalah : 1. Suatu urutan kegiatan yang saling berkaitan dengan yang lain secara utuh dan

integrative.

2. Suatu forum komunikasi sosial antara unsur petugas dan pengelola KB dan KS serta masyarakat.

3. Keputusan diambil didasarkan azas musyawarah.

4. Kegiatan berlangsung secara terus menerus.

2.2.3. Tujuan Mekop 1. Umum

Memantapkan kualitas pengelolaan program KB nasional khusunya di lini lapangan yang mencakup aspek perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian

2. Khusus

a. Semakin mantapnya kesepakatan operasional program KB nasional lini lapangan

b. Semakin mantapnya pelaksanaan operasional advokasi dan KIE serta pelayanan program KB Nasional

c. Semakin mantapnya kemampuan petugas dan pengelola dalam pelaksanaan pencatatan, pelaporan, pembinaan dan evaluasi program KB Nasioanal.

2.2.4 Sasaran dan Cakupan

1. Sasaran : Petugas dan pengelola program KB Nasional baik dari unsur Pemerintah, LSM, Insitusi Pemerintah dan Swasta

2. Cakupan : Tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan dan Desa/Kelurahan

2.3. Pengertian PLKB

Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) adalah staf SKPD Badan KB Kabupaten/Kota yang bertugas melaksanakan, mengelola, dan menggerakkan masyarakat dalam program KB di tingkat Desa/ Kelurahan, baik yang berstatus sebagai penyuluh Keluarga Berencana (PKB).

2.3.1. Kedudukan PLKB

PLKB adalah aparat pemerintah staf SKPD Badan KB Kabupaten dan Kotamadya yang berkedudukan di desa atau di Kelurahan dengan tugas, wewenang, dan tanggung jawab melakukan kegiatan penyuluhan, penggerakan, pelayanan, evaluasi, dan pengembangan Program KB Nasional serta kegiatan program pembangunan lain yang ditugaskan oleh pemerintah daerah di wilayah kerjanya.

2.3.2. Peran PLKB

PLKB memiliki peran, baik sebagai pelaksana, pengelola, maupun penggerak dalam pelaksanaan Program KB Nasional di Desa atau di Kelurahan yang dioperasionalkan melalui fungsi dan tugas.

2.3.3. Profil PLKB

Profil PLKB adalah sosok atau tampilan PLKB yang tercermin melalui sifat, sikap, dan keterampilan teknis dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.

2.3.4. Sepuluh Fungsi (Langkah) PLKB/ PKB 1. Pendekatan Tokoh Formal

a. Sasaran Tokoh Formal Tingkat Kecamatan meliputi : 1. Camat dan perangkat camat

2. Danramil 3. Kapolsek

4. Dinas Instansi yang ada Tingkat Kec.

5. Sasaran Tokoh formal Tingkat Desa / Kel.

6. Kepala Desa / Kelurahan 7. Kepala lingkungan ,RT/RW 8. Seluruh Perangkat Desa 9. Bidan Desa ,dll

2. Pendataan dan Pemetaan

Pendataan dan penilain adalah suatu kegiatan untuk mengumpulkan, mencatat, menyajikan menganalisa data.

Sasaran pendataan penilaian adalah :

1. Data potensi wilayah tingkat kec. dan Desa / Kelurahan

2. Pendataan R/I/PUS (Register pembinaan PUS dan Peserta KB bagi seluruh keluarga) sistem informasi kependudukan dan keluarga (SIDUGA) dan R/II/PUS (Rekapitulasi hasil pendattaan keluarga)

3. Pendekatan Tokoh Informal

Pendekatan Tokoh Informal adalah untuk menciptakan hubungan kerja yang akrab antara PPLKB(Pengendali PLKB yang brada dikecamatan), PLKB (Petugas lapangan KB yang berkedudukan di desa/kelurahan yang mempunyai wilayah binaan) /PKB(PKB Ahli pendidikan sarjana/D4 dalam ruang golongan III/A ) dan Tokoh Informal, sehingga para Tokoh Informal dapat mendukung secara aktif pelaksanaan program.

a. Sasaran tokoh informal tingkat kecamatan dan desa/kelurahan adalah:

1. Tokoh Agama 2. Tokoh Adat

3. Tokoh Masyarakat 4. Ketua PKK

5. Tokoh Organisasi Pemuda 6. Tokoh Wanita

b. Bentuk pertemuan

1. Kunjungan rumah 2. Pertemuan perorangan 3. Pertemuan kelompok

c. Meteri yang di bicaraka

1. Menjelaskan rencana kegitan 2. Mohon restu dan dukungan

3. Mohon kesediaan untuk berperan dalam pelaksanaan kegiatan.

4. Pembentukan Kesepakatan

Pembentukan kesepakatan adalah suatu proses kegiatan yang harus di laksanakan PPLKB, PLKB guna memperoleh kesepakatan politis di antara peminpin formal dan informal di tingkat Desa / Kelurahan.

a. Sasaran kesepakatan teknis

1. Penumbuhan PPKBD dan Sub PPKBD

2. Pelaksanaan tehnis , pengelola mitra kerja dinas instansi terkait 3. Pertemuan rutin IMP /PPKBD dan Sub PPKBD

4. Rapat koordinasi (Rakoor ) Kecamatan 5. Rapat koordinasi (Rakoor ) Desa 6. Miniloka karya KB

b. Sasaran kesepakatan teknis 1. Surat keputusan

2. Buku petunjuk dan kebijakan lainnya 3. Rapat-rapat koordinasi

c. Materi yang disampaikan

1. Evaluasi kegiatan bulanan, triwulan dan tahunan 2. Pembahasan permasalahan yang di hadapi 3. Rencana kegiatan

5. Penegasan Kesepakatan

Penegasan kesepakatan adalah suatu langkah PPLKB, PLKB untuk memantapkan para penanggung jawab, pendukung pelaksanaan program agar aktif sesuai dengan kesepakatan yang telah disahkan dalam forum pertemuan.

Sasaran penegasan kesepakatan:

1. Melalui surat

2. Kunjungan rumah perorangan atau kelompok 3. Kunjungan dinas ke kantor

6. KIE oleh Tokoh Masyarakat

KIE dan motivasi adalah suatu proses penyampian pesan program kepada sasaran yang telah ditetapkan untuk meningkatkan pengetahuan dan penumbuhan motivasi sasaran agar mau melaksanakan program.

a. Sasaran KIE

1. Seluruh masyarakat.

2. Keluarga peserta KB 3. Peserta KB

4. PUS yang bukan peserta KB

5. Tokoh masyarakat, Tokoh organisasi b. Bentuk kegiatan melalui

1. Media massa 2. Media cetak 3. Media elektronik

4. Media tradisional

5. Wawan muka, kelompok & individual 7. Penyiapan Kader dan Penumbuhan IMP

Penyiapan kader dan penumbuhan IMP adalah suatu upaya untuk melibatkan peran aktif warga masyarakat dalam mengelola melaksanakan program KB dan KS di wilayah masing-masing.

Sasaran:

1. Masyarakat yang berpengaruh.

2. Peserta KB yang sukarela dan berperan aktif.

3. Tokoh masyarakat, Tokoh pemuda 8. Pelayanan Program

Pelayanan program adalah berbagai pelayanan yang di berikan kepada masyarakat dalam pelaksanaan program KB/KS, sehingga terpenuhi masyarakat dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Bentuk kegiatan adalah :

1. Pelayanan Alat Kontrasepsi.

2. Pelayanan Tribina (Ketahanan Keluarga ).

3. Pelayanan Pemberdayaan Ekonomi Keluarga.

4. Pelayanan program KB/KR dan KS/PK pada umumnya baik di Tingkat Kecamatan dan Desa/Kelurahan

5. Program KKR (Kesehatan Reproduksi Remaja) dan GenRe 6. Pelayanan adminstrasi.

9. Pembinaan Keluarga

Pembina keluarga adalah memantapkan aspek pengetahuan keterampilan dan aspek motivasi dari berbagai unsur masyarakat,organisasi para kader di tingkat kecamatan dan tingkat desa kelurahan dalam rangka pelaksanaan program KB dan KS yang di sepakati.

a. Sasaran

1. Tokoh formal , tokoh informal 2. Institusi masyarakat

3. Para pengelola kelompok

4. Para kader yang ada di tingkat kecamatan dan tingkat desa/kelurahan RT, RW.

b. Kegiatan pembinaan

1. Kunjungaan rumah perorangan dan kelompok.

2. Pertemuan.

3. Rapat koordinasi.

4. Staf meeting.

5. Diakusi.

6. Pelatihan 10. Pencacatan dan Pelaporan

Pencatatan dan pelaporan adalah kegiatan untuk mencatat dan melaporkan seluruh rangkaian kegiatan yang di laksanakan tingkat kecamatan, desa / kelurahan dan dilaporkan sesuai dengan waktu yang ditetapkan.

Sasarannya meliputi:

1. Para petugas KB Tingkat Kecamatan 2. Para petugas KB Tingkat Desa/Kelurahan.

3. Para petugas klinik KB

4. Para PPKBD , Sub PPKBD dan poktan-poktan 5. Kegiatan -kegiatan operasional KB /KS

2.4. Keluarga Berencana (KB) 2.4.1. Defenisi KB

Keluarga Berencana (KB) adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak, dan usia ideal melahirkan, mengatur kelahiran, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan, dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk menwujudkan keluarga berkualitas (Undang-Undang Nomor 52 tahun 2009).

KB adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawina, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, penigkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujdakan keluarga kecil Bahagia Dan Sejahtera (BKKBN, 2007)

Menurut World Health Organisation (WHO) expert committee 1997: keluarga berencana adalah tindakan yang membantu pasangan suami istri untuk menghindari kehamilan yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang sangat diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran

dalam hubungan dengan umur suami istri serta menentukan jumlah anak dalam keluarga (Suratun, 2008).

Secara umum KB dapat diartikan sebagai suatu usaha yang mengatur banyaknya kehamilan sedemikian rupa sehingga berdampak positif bagi ibu, bayi, ayah serta keluarganya yang bersangkutan tidak akan menimbulkan kerugian sebagai akibat langsung dari kehamilan tersebut. Diharapkan dengan adanya perencanaan keluarga yang matang kehamilan merupakan suatu hal yang memang sangat diharapkan sehingga akan terhindar dari perbuatan untuk mengakhiri kehamilan dengan aborsi (Suratun, 2008).

2.4.2. Tujuan KB

Menurut Suratun (2008) Gerakan KB dan pelayanan kontrasepsi memiliki tujuan:

a. Tujuan demografi yaitu mencegah terjadinya ledakan penduduk dengan menekan laju pertumbuhan penduduk (LPP) dan hal ini tentunya akan diikuti dengan menurunnya angka kelahiran atau TFR (Total Fertility Rate) dari 2,87 menjadi 2,69 per wanita (Hanafi, 2002). Pertambahan penduduk yang tidak terkendalikan akan mengakibatkan kesengsaraan dan menurunkan sumber daya alam serta banyaknya kerusakan yang ditimbulkan dan kesenjangan penyediaan bahan pangan dibandingkan jumlah penduduk. Hal ini diperkuat dengan teori Malthus (1766-1834) yang menyatakan bahwa pertumbuhan manusia cenderung mengikuti deret ukur, sedangkan pertumbuhan bahan pangan mengikuti deret hitung.

b. Mengatur kehamilan dengan menunda perkawinan, menunda kehamilan anak pertama dan menjarangkan kehamilan setelah kelahiran anak pertama serta menghentikan kehamilan bila dirasakan anak telah cukup.

c. Mengobati kemandulan atau infertilitas bagi pasangan yang telah menikah lebih dari satu tahun tetapi belum juga mempunyai keturunan, hal ini memungkinkan untuk tercapainya keluarga bahagia.

d. Married Conseling atau nasehat perkawinan bagi remaja atau pasangan yang akan menikah dengan harapan bahwa pasangan akan mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang cukup tinggi dalam membentuk keluarga yang bahagia dan berkualitas.

e. Tujuan akhir KB adalah tercapainya NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera) dan membentuk keluarga berkualitas, keluarga berkualitas artinya suatu keluarga yang harmonis, sehat, tercukupi sandang, pangan, papan, pendidikan dan produktif dari segi ekonomi 2.4.3. Manfaat Usaha KB Dipandang dari Segi Kesehatan

Peningkatan dan perluasan pelayanan keluarga berencana merupakan salah satu usaha untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu yang semakin tinggi akibat kehamilan yang dialami wanita (Suratun, 2008).

 Manfaat Keluarga Berencana Bagi Individu dan Keluarga a. Mendukung kesehatan reproduksi

Kesehatan reproduksi adalah kondisi sejahtera, secara fisik, mental, dan sosial secara sempurna, serta bukan hanya terhindar dari kesakitan dan

kecacatan, baik pada alat, sistem, pungsi, dan proses reproduksi sehingga memungkinkan setiap orang hidup produktip secara biologis, sosial, dan ekonomis.

b. Kesehatan dan psikolgis bagi ibu:

- Mencegah anemia (kurang darah). Kandungan zat besi yang ada pada salah satu alat/obatkontrasepsi (pil kombinasi ) dapat mencegah resiko anemia berat, sehingga dengan ber KB, ibu dapat menjaga kesehatan fisik dan kesehatan reproduksinya dengan optimal. Apalagi jika di imbangi dengan asupan gizi yang memadai. Sehingga resiko kesakitan dan kemtian ibu dapat di turunkan.

- Mencegah pendarahan yang terlalu banyak setalah persalinan.

- Dengan ber-KB setelah melahirkan, seorang ibu dapat mencegah terjadinya pardarahan setelah melahirkan, serta mempercepat pulihnya kondisi kesehatan rahim

- Mencegah Kehamilan Tidak Diinginkan ( KTD )

- Dengan ber KB keluarga dapat merencanakan dan mengatur kelahiran anak-anaknya, dengan menghindari kehamilan’’4 Terlalu’’ (terlalu muda, terlalu tua umur ibu, terlalu dekat jarak kelahiran, dan terlalu sering melahirkan). Menghindari kehamilan yang tidak/belum di inginkan akan menurunkan resiko kesakitan dan kematian ibu.

- Mendekatkan ibu terhadap pelayanan pemeriksaan kesehatan.

- Meningkatkan keharmonisan keluarga, karna ibu mempunyai cukup waktu luang untuk menperhatikan kebutuhan suami, melayani suami dengan penuh kemesraan , tanpa takut hamil, serta untuk dapat diskusi dan bicara semua permasalahan dengan suami. Juga mempunyai waktu yang cukup untuk merawat dan mendidik anak-anaknya dengan baik.

c. Kesehatan dan psikologis bagi anak - Mencegah kurang gizi.

- Tumbuh kembang anak labih terjamin.

- Kebutuhan ASI eksklusip 6 bulan terpenuhi.

d. Ekonomi

Mengurangi biaya kebutuhan rumah tangga .Dengan ber KB , minimal tidak menambah anggota baru dalam keluarganya, sehingga keluarga lebih leluasa dalam mengatur biaya kebutuhan sehari-harinya ,biaya pendidikan anak, perawatan kesehatan bagi anggota keluarganya, dll.

Bagi ibu yang menggunakan cara KB MAL, Mengurangi pengeluaran keluarga untuk membeli alat/obat kontrasepsi minimal 6 bulan.

Meningkat kan pendapatan ekonomi keluarga. Dengan mengatur jarak kelahiran antar anak, anggota keluarga mempunyai peluang usaha lebih leluasa, misalkan ikut dalam kelompok usaha UPPKS, dsb.

e. Sosial Budaya

Meningkatkan kesempatan bermasyarakat. dengan ber-KB, ibu memiliki kesempatan dan waktu yang lebih banyak untun bersosialisasi dan aktif pada kegiatan sosial di masyarakat.

Meningkatkan peran ibu dalam penggambilan ke putusan kelurga.

Dengan ber KB, Ibu mempunyai kesempatan dan berkontribusi sebagai nitra yang setara dalam pengambilan keputusan,baik keputusan dalam rumah tangga sendiri seperti memilih kontrasepsi, menentukan jumlah anak yang dikehendaki,maupun keputusan di luar rumah tangga nya.

(Jurnal keluarga informasi kependudukan dan KB, desember 2011).

2.5. Kontrasepsi

Istilah kontrasepsi berasal dari kata kontra dan konsepsi. Kontra berarti

“melawan” atau “mencegah”, sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur yang matang dengan sperma yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat adanya pertemuan antara sel telur dengan sel sperma. Untuk itu, berdasarkan maksud dan tujuan kontrasepsi, maka yang membutuhkan kontrasepsi adalah pasangan yang aktif melakukan hubungan seks dan kedua-duanya memiliki kesuburan normal namun tidak menghendaki kehamilan (Suratun, 2008).

Kontrasepsi adalah obat/alat untuk mencegah terjadinya konsepsi (kehamilan) jenis kontrasepsi ada sua macam yaitu kontrasepsi yang mengandung hormonal (pil, sunti dan implan) dan kontrasepsi non-hormonal (IUD, Kondom)

2.5.1 Syarat-Syarat Kontrasepsi

Hendaknya Kontrasepsi memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

a. Aman pemakaiannya dan dapat dipercaya b. Efek samping yang merugikan tidak ada c. Lama kerjanya dapat diatur menurut keinginan d. Tidak mengganggu hubungan persetubuhan

e. Tidak memerlukan bantuan medik atau kontrol yang ketat selama pemakaiannya f. Cara penggunaannya sederhana

g. Harganya murah supaya dapat dijangkau oleh masyarakat luas h. Dapat diterima oleh pasangan suami istri

2.5.2 Cara-Cara Kontrasepsi

Cara-cara kontrasepsi dapat dibagi menjadi beberapa metode:

a. Pembagian menurut jenis kelamin pemakai 1) Cara atau alat yang dipakai oleh suami (pria) 2) Cara atau alat yang dipakai oleh istri (wanita) b. Menurut pelayanannya

1) Cara medis dan non-medis 2) Cara klinis dan non- klinis c. Pembagian menurut efek kerjanya

1) Tidak mempengaruhi fertilitas

2) Menyebabkan infertilitas temporer (sementara) 3) Kontrasepsi permanen dengan infertilitas menetap d. Pembagian menurut cara kerja alat/cara kontrasepsi

1) Menurut keadaan biologis: senggama terputus, metode kalender, suhu badan dll

2) Memakai alat mekanis : kondom, diafragma, 3) Memakai obat kimiawi : spermisida

4) Kontrasepsi intrauterina : IUD

5) Hormonal : pil KB, suntikan KB, dan alat kontrasepsi bawah kulit (AKBK)

6) Operatif : tubektomi dan vasektomi e. Pembagian umum dan banyak dipakai adalah

1) Metode merakyat : senggama terputus, pembilasan pasca senggama, perpanjangan masa laktasi

2) Metode tradisional : pantang berkala, kondom, diafragma dan spermisida

3) Metode modren a) Kontrasepsi hormonal : pil KB, suntik KB, alat kontrasepsi bawah kulit.

4) Kontrasepsi intrauterina : IUD

5) Metode permanen operasi : tubektomi pada wanita dan vasektomi pada pria

Tabel 2.1. Jenis-Jenis Alat dan Obat Kontrasepsi yang Beredar Diadakan dalam Program Kb di Indonesia

No. Sediaan Komponen tablet hormone dan 7 plasebo

3 mg Drosperinone Tak tersedia di program e. Microdinol 0,03 µg Etinil

Estradiol

0.15 mg norgestrol Tak tersedia di program f. Lyndinol 30 µg Etrinil

Estradiol

2.5 mg lynestrenol Tak tersedia di program g. Gynera 30 µg Etrinil

Estradiol

75 µg Getodene Tak tersedia di program h. Mercilon 28 20 µg Etrinil

Estradiol

150 µg Desogestrel Tak tersedia di program i. Marvelon 28 30 µg Etrinil

Estradiol

150 µg Desogestrel, iblister @ 21 tablet hormone dan 7

50 µg Levonogestrel Tak tersedia di program 40 µg Etrinil

Estradiol

125 µg levonogestrel Tak tersedia di program 2. Minipil Progestin only

a.Exluton 0.5 mg lynestrenol, 1

blister @ 28 tablet

Tak tersedia di program

b.Cerazette 75 µg Desogestrel Tak tersedia

di program

c. Pil • Medroksi

Progesteron Asetat tablet 5 mg

• Medroksi Progesteron Asetat 10 mg

Tak tersedia di program

Tabel 2.1 (Lanjutan)

No. Sediaan Komponen

Estrogen

Komponen

Progrestin Keterangan 3. Injeksi Gestagen

(depo injeksi)

a.Depo Provera 150 mg Medroksi

Progesterone Asetat 4. Injeksi Kombinasi

Cyclofem 10 mg Estradiol

Cypionat

Norplant 36 mg levonorgestrpl Tak tersedia

di program

Implanon 68 mg Etonogestrol Tak tersedia

di progam 75 mg Levonogestrol Tersedia

Kontrasepsi program 6. AKDR

Mirena 50 mg Levogestrol Tak tersedia

di program

Copper T Tersedia

kontrasespsi program Sumber : BKKBN 2010

2.6 Akseptor KB

Peserta Keluarga Berencana atau akseptor peserta KB yaitu pasangan usia subur (PUS ) yang menggunakan salah satu alat/obat kontrasepsi. Peserta KB baru atau akseptor Baru pasangan usia subur yang baru pertama kali menggunakan

alat/obat kontrasepsi atau pus yang kembali menggunakan alat kontrasepsi setelah melahirkan atau abortus.

Peserta KB aktif atau akseptor aktif Pasangan Usia Subur (PUS) yang pada saat ini sedang menggunakan salah satu alat atau obat kontrasepsi. Peserta KB Aktif adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang saat ini menggunakan salah satu alat kontrasepsi tanpa di selingi ke hamilan. Akseptor peserta KB yaitu pasangan usia subur (PUS) yang menggunakan salah satu alat/obat kontrasepsi. Akseptor aktif Pasangan Usia Subur yang pada saat ini sedang menggunakan salah satu alat atau obat kontrasepsi. Akseptor Baru pasangan usia subur yang baru pertama kali menggunakan alat/obat kontrasepsi atau pus yang kembali menggunakan alat kontrasepsi setelah melahirkan atau Abortus. Akseptor dini para ibu yang menerima salah satu cara kontrasepsi dalam waktu 2 mggu setelah melahir kan atau abortus.

Akseptor dropout akseptor yang menhentikan pemakaian kontrasepsi lebih dari 3 bulan (BKKBN Jakarta 2007). Akseptor dini adalah para ibu yang menerima salah satu cara kontrasepsi dalam waktu 2 minggu setelah melahirkan atau abortus Akseptor drop out adalah akseptor yang menghentikan pemakaian kontrasepsi lebih dari 3 bulan (BKKBN,2007 )

Unmet Need adalah PUS yang ingin ber KB namun belum dapat terlayani

(BKKBN,2011) Unmet Need adalah proporsi wanita usia subur dalam status kawin yang tidak menggunakan alat kontrasepsi meskipun merka menyatakan ingin menunda atau menjarangkan anak (defenisi standar) : dan atau mereka yang “unmeet

need” karena resiko kesehatan dan pemakaian kontrasepsi yang buruk tidak menginginkan tambahan anak (membatasi kelahiran).( BKKBN, 2007).

PUS Bukan Peserta KB adalah pasangan usia subur (PUS), yang saat ini tidak menggunakan salah satu alat kontrasepsi di karenakan:

1. Hamil

2. Ingin anak segera adalah Pasangan Usia Subur (PUS), yang belum punya anak atau punya anak pertama berumur minimal 3 tahun, menginginkan anak kurang dari 2 tahun.

3. Ingin anak ditunda adalah pasangan suami- istri yang istri berumur antara 15 sampai 49 tahun dan sedang tidak menggunakan kontrasepsi, masih menginginkan anak tetapi di tunda (2 tahun ke atas).

4. Tidak ingin anak lagi adalah pasangan suami – istri yang istrinya berumur antara 15 sampai dengan 49 tahun tidak menginginkan anak lagi dan tidak menggunakan alat kontrasepsi.

2.6.1. Akseptor KB Menurut Sasarannya

Menurut Suratun (2008) akseptor KB menurut sasarannya terbagi menjadi tiga fase yaitu

a. Fase Menunda Kehamilan

Masa menunda kehamilan pertama, sebaiknya dilakukan oleh pasangan yang istrinya belum mencapai usia 20 tahun. Karena umur dibawah 20 tahun adalah usia yang sebaiknya tidak mempunyai anak dulu karena berbagai alasan. Kriteria kontrasepsi yang diperlukan yaitu kontrasepsi dengan pulihnya kesuburan yang

tinggi, artisnya kembalinya kesuburan dapat terjamin 100%. Hal ini penting karena pada masa ini pasangan belum mempunyai anak, serta efektifitas yang tinggi.

Kontrasepsi yang cocok dan yang disarankan adalah pil KB, AKDR dan cara sederhana.

Kontrasepsi yang cocok dan yang disarankan adalah pil KB, AKDR dan cara sederhana.

Dalam dokumen TESIS. Oleh S U H E R N I /IKM (Halaman 33-0)