BAB 3. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
3.2. Manfaat penelitian
Manfaat yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini antara lain :
a. Penelitian ini dapat menjadi sarana untuk mempraktekkan dan menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh.
b. Mendapatkan tambahan pengetahuan tentang etika bisnis dan etika profesi akuntan.
c. Dapat mengetahui persepsi akuntan publik, akuntan pendidik, dan mahasiswa akuntansi terhadap etika bisnis dan etika profesi akuntan.
d. Dapat memberikan masukan dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan akuntansi yang tidak hanya bertanggung jawab untuk mendidik mahasiswa menjadi akuntan yang mahir dan profesional tetapi juga menjadi akuntan yang berperilaku etis dan selalu berpegang teguh pada etika profesi yang dipahaminya.
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Jenis penelitian dan sumber data
Penelitian ini dianalisis secara kuantitatif untuk menguji hipotesis (hypothesis testing) yang terbentuk berdasarkan konsep yang ada. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer (primary data), yaitu sumber data yang diperoleh secara langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara) (Indriantoro, Nur dan B. Supomo, 2002: 146). Data primer diperoleh melalui kuesioner secara personal (personllyadministered questionaries) kepada masing-masing respoden, yaitu dalam hal ini peneliti berhubungan langsung dan memberikan penjelasan seperlunya dan kuesioner dapat langsung dikumpulkan setelah selesai dijawab oleh responden (Indriantoro, Nur dan B. Supomo, 2002: 154 ).
Jenis data yang digunakan dalam penlitian ini adalah data subyek (selfreport data), yaitu jenis data yang berupa opini, sikap, pengalaman atau karakteristik dari seorang atau sekelompok orang yang menjadi subyek penelitian (responden) (Indriantoro, Nur dan B. Suipomo, 2002: 154 ).
4.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang karakteristiknya hendak diteliti.
Teknik pemilihan sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan pemilihan sampel berdasarkan pertimbangan (judgment sampling), yaitu merupakan tipe pemilihan sampel secara tidak acak yang informasinya diperoleh dengan menggunakan pertimbangan tertentu (umumnya disesuaikan dengan tujuan atau masalah penelitian) (Indriantoro, Nur dan B. Supomo, 2002 :131).
4.3 Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah dengan memberikan daftar pertanyaan kepada para responden yaitu mahasiswa akuntansi yang diminta untuk memberikan pendapat atau jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Daftar pertanyaan tersebut menggunakan
skala likert yakni dengan mengelompokkan 5 kategori jawaban responden dengan bobot skor 5 = Sangat setuju, 4 = Setuju, 3 = Netral, 2 = tidak setuju, 1= sangat tidak setuju.
4.4 Teknik Analisis Data
Uji Kualitas Data
Karena pengumpulan data dilakukan dengan kuisioner, maka kualitas kuisioner dan kesanggupan responden dalam menjawab pertanyaan merupakan hal yang sangat penting dalam penelitian ini. Apabila alat yang digunakan dalam proses pengumpulan data tidak valid, maka hasil penelitian yang diperoleh tidak mampu menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Oleh karena itu dalam penelitian akan dimulai dengan pengujian validitas dan reliabilitas terhadap daftar pertanyaan yang digunakan dalam kuesioner.
Uji Validitas
Pengujian validitas dilakukan menggunakan pearson correlation untuk menguji validitas pernyataan kuesioner yang disusun dalam bentuk skala.. Perbandingan nilai total item dengan pearson corelation harus berada di atas 0,3 untuk dapat di katakan valid.
Uji Reliabilitas
Uji Reliabilitas dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten, apabila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat ukur yang sama. Reliabilitas di uji menggunakan Cronbachs’s alpha. Nilai cronbachs’s alpha masing-masing pertanyaan harus lebih besar dari 0,6 untuk menyatakan bahwa instrumen dalam penelitian ini reliable (Ghozali, 2016).
Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis ini dimaksudkan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan persepsi diantara dua kelompok sampel yang independent maka alat uji yang digunakan yaitu Independent Sampel t-test apabila data berdistribusi normal, namun bila data tidak berdistribusi normal maka menggunakan Mann Whitney. Ghozali (2016) menjelaskan Uji beda mean t-two sampel/ Independent Sampel t-test adalah pengujian dengan uji t yang melibatkan dua kelompok sampel yang sama-sama independent yang tidak saling berhubungan yang berasal dari dua populasi, dengan asumsi data berdistribusi normal. Pengujian hipotesis dengan Independent Sample t-test digunakan untuk menentukan apakah dua sampel yang tidak berhubungan memiliki nilai rata-rata yang berbeda. Dengan melihat nilai t-test untuk menentukan apakah terdapat perbedaan nilai rata-rata secara signifikan. Pengambilan keputusan berdasarkan: Jika signifikasi lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima, jika signifikasi lebih kecil dari 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Apabila signifikasi nilainya lebih besar dari tingkat signifikasi (0,05) maka hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa hipotesis nol (Ho) diterima dan apabila signifikasi kurang dari tingkat signifikansi (0,05) maka hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa hipotesis nol (Ho) yang diuji ditolak atau dengan kata lain hipotesis Ha diterima (Santoso, 2002).
Akan tetapi pada saat uji normalitas jika data tidak berdistribusi normal maka pengujian menggunakan uji mann whitney. Mann whitney merupakan uji non parametik yang bisa dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan respon dari dua populasi data yang saling independen. Uji ini merupakan alternative lain yang dianggap efektif untuk data yang tidak berdistribusi normal. Dimana kriteria pengujiannya adalah sebagai berikut: Jika signifikasi lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima, jika signifikasi lebih kecil dari 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima.
Pengembangan Hipotesis
Berdasarkan landasan teori dan penelitian sebelumnya maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Ha : Terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara mahasiswa yang sudah dan belum mempelajari etika bisnis dan etika profesi akuntan
Ho : Tidak terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara mahasiswa yang sudah dan belum mempelajari etika bisnis dan etika profesi akuntan.
BAB V
HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI
5.1 Deskripsi Sampel Penelitian
Sampel penelitian terdiri atas 150 mahasiswa akuntansi seperti Tabel 5.1 sebagai berikut:
Tabel 5.1 Sampel Penelitian
Program Pria Wanita Total
Mahasiswa Akuntansi D4 23 57 80
Mahasiswa Akuntansi D3 21 49 70
Total Responden 44 106 150
Sumber: Data Olahan (2021)
Penelitian ini dilakukan terhadap mahasiswa akuntansi yang sementara studi di Politeknik Program Studi D4 Akuntansi Keuangan dan Program Studi D3 Akuntansi.
5.2 Uji Instrumen Data
Penelitian ini menggunakan indikator indikator yang ada pada buku etika bisnis dan profesi yang terbagi dalam 49 pertanyaaan dengan skala sangat setuju 5, setuju 4, ragu-ragu 3, tidak setuju 2, sangat tidak setuju 1
Pada tahap penyebaran instrumen kepada mahasiswa akuntansi dilakukan dengan tiga (3) tahap, yaitu:
a. Uji coba terhadap mahasiswa yang belum mendalami etika bisnis dan profesi dan yang mendalami matakuliah etika bisnis dan profesi dengan responden yang ada yaitu 150 orang responden,
b. Kuesioner dibagikan kepada responden dengan menyusun pertanyaan secara per indikator dari pertanyaan ke 1 sampai dengan ke 49
c. Kuesioner dibagikan kepada responden dengan mengelompokkan pertanyaan dalam tiga kelompok.
Cara penyebaran kuesioner ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data yang relatif representatif dan tidak bias, sehingga dalam pengolahan data dapat dilakukan dengan tingkat kesalahan yang minimum.
Hasil dari pengolahan data terkait dengan tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
5.2.1 Uji Validitas
Suatu item dari instrument dapat diketahui dengan membandingkan level signifikan (sig) <5% (0,050). Adapun hasil dari pengujian validitas terhadap ke 49 item instrumen kuesioner dapat diketahui pada Tabel 5.5 berikut:
Tabel 5.2 Hasil Uji Validitas Instrumen
Sig
EB9 000 .698** Valid
Hasil perhitungan uji validitas data responden mahasiswa pada Tabel 5.2 diperoleh hasil bahwa 47 pertanyaan kuesioner berada pada Sig.(2-tailed) atau signifikasi antara 0,000 – 0,005 dan ada dua (2) pertanyaan yang dinyatakan tidak valid, karena lebih besar dari 0,05 yaitu 0,155 dan 0,134, dengan demikan dua (2) pertanyaan tersebut dikeluarkan dari pengujian regresi.
5.2.2 Uji Reliabilitas
Suatu instrument dikatakan andal bila memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,6 atau lebih. Adapun beberapa kriteria indek penilaian reliabilitas suatu instrument
menurut hasil perhitungan pengujian reliabilitas terhadap masing-masing pertanyaan dapat digambarkan pada tabel 5.3 sebagai berikut :
Tabel 5.3 Tabel Uji Reliabilitas Kelompok
EB20 0.94 Reliable
Berdasarkan hasil perhitungan dalam Tabel 5.3 dengan uji reliabilitas menunjukkan bahwa 49 pertanyaan yang dinyatakan dalam kuesioner untuk kelompok mahasiswa berada pada kisaran angka 0,90, sehingga dapat disimpulkan bahwa data dinyatakan reliable, karena dari nilai korelasi (total correlation) untuk setiap item terlihat bahwa nilai alpha untuk setiap nomor pertanyaan bisa dilihat bahwa nilai alpha lebih besar dari 0,6 sehingga kesimpulan yang bisa diambil adalah masing-masing pertanyaan adalah reliabel.
5.2.3 Uji Normalitas
Uji normalitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Uji Kolmogorov Smirnov. Konsep dasar dari uji normalitas Kolmogorov Smirnov adalah dengan membandingkan distribusi data (yang akan diuji normalitasnya) dengan distribusi normal baku. Penerapan pada uji Kolmogorov Smirnov adalah bahwa jika signifikansi di bawah 0,05 berarti data yang akan diuji mempunyai perbedaan yang signifikan dengan data normal baku, berarti data tersebut tidak normal.
Berdasarkan uji normalitas pada tabel 5.4 dibawah, dapat dilihat bahwa data terdistribusi normal untuk responden dari mahasiswa yang sebelum dan sesudah
mengambil mata kuliah Etika Bisnis dan Etika Profesi, dimana nilai signifikansi sebesar 0,257, yang artinya data terdistribusi normal.
Tabel 5.4 Uji Normalitas
Sumber: Data Olahan SPSS
5.3 Uji Instrumen Data
Pengujian selanjutnya adalah perbedaan persepsi antara mahasiswa akuntansi yang belum dan sudah mengambil mata kuliah Etika Bisnis dan Etika Profesi berdasarkan 47 pertanyaan setelah dibuang 2 pertanyaan yang tidak valid dalam kuesioner menjadi tiga kelompok yakni persepsi, etika bisnis, dan etika profesi.
Uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah Uji Independent T Test, dimana untuk mengetahui adakah perbedaan mean atau rata-rata yang bermakna antara 2 kelompok bebas yang berskala data interval/rasio. Dua kelompok bebas yang dimaksud di sini adalah dua kelompok yang tidak berpasangan, artinya sumber data berasal dari subjek yang berbeda.
Standar eror perbedaan dalam nilai rata-rata terdistribusi secara normal. Jadi tujuan uji beda t-test adalah membandingkan rata-rata dua group atau lebih yang tidak berhubungan satu dengan yang lain. Apakah kedua group tersebut mempunyai nilai rata-rata yang sama atau tidak sama secara signifikan (Ibid:2004:57)
Apabila diperoleh sampel hasil distribusi normal, maka dilakukan uji parametrik Independent Sampel T Test. Menurut Ghozali (2007), tujuan dari uji parametrik Independent Sampel T Test (uji beda t-test) adalah untuk dapat
membandingkan rata-rata dari kedua grup yang tidak saling berhubungan dengan satu dan yang lainnya.
Tabel 5.5 Uji T Test
Sumber: Data Olahan SPSS
Hasil pengujian diatas menunjukan nilai siginifikansi lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,132 yang artinya bahwa tidak terdapat perbedaan yang siginifikan antara persepsi mahasiswa sebelum dan sesudan mengambil matakuliah Etika Bisnis dan Etika Profesi.
5.4 Hasil dan Pembahasan
Dari pengujian yang telah dilakukan nampak bahwa dari total responden sebanyak 150 mahasiswa yang belum mengikuti mata kuliah etika bisnis dan etika profesi hanya 136 responden sebagai sampel berdasarkan pertimbangan (judgment sampling), yaitu merupakan tipe pemilihan sampel secara tidak acak yang informasinya diperoleh dengan menggunakan pertimbangan tertentu, dan responden yang sudah mengikuti mata kuliah etika bisnis dan etika profesi adalah sebanyak 68 mahasiswa. Hal ini terjadi karena syarat pengujian harus diupayakan sama untuk mahasiswa yang sudah dan belum mengikuti mata kuliah tersebut.
Hasil pengujian diatas menunjukan nilai siginifikansi lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,132 yang artinya bahwa tidak terdapat perbedaan yang siginifikan antara
persepsi mahasiswa sebelum dan sesudan mengambil matakuliah Etika Bisnis dan Etika Profesi.
Hal ini dikarenakan materi-materi mata kuliah etika bisnis dan etika profesi saat ini dapat dengan mudah diperoleh dari google sehingga mahasiwa yang belum belajar tentang etika bisnis dan etika profesi sudah bisa membaca atau memahami topik-topik tersebut. Selain itu ada mata kuliah entrepreneurship yang juga dapat memberikan gambaran dan cara-cara dalam melakukan bisnis.
Mahasiswa sebelum mengikuti mata kuliah etika bisnis dan etika profesi adalah mahasiswa semester 1 sampai dengan semester 4 untuk program studi D3 Akuntansi dan semester 1 sampai semester 6 untuk program studi D4 Akuntansi Keuangan dan yang sudah mengikuti mata kuliah tersebut adalah mahasiswa semester 6 untuk mahasiswa program studi D3 Akuntansi dan mahasiswa semester 8 untuk program studi D4 Akuntansi Keuangan. Hal ini terlihat bahwa walaupun mahasiswa tersebut belum mengikuti mata kuliah etika bisnis dan etika profesi tapi pada semester itu mahasiswa sudah ada dasar tentang mata kuliah yang diajarkan seperti mata kuliah akuntansi, auditing, entrepreneurship. Dari dasar mata kuliah itu mahasiswa sudah mulai tahu atau sudah mendapat gambaran tentang etika bisnis dan etika profesi, atau etika dari profesi itu sendiri dalam hal ini akuntan, atau auditor dan bagaimana etika menjadi seorang entrepreneur.
BAB VI
RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA
Rencana tahapan lanjutan dari penelitian ini adalah melakukan penelitian dengan menggali model model pembelajaran yang efektif untuk memberi pemahaman kepada mahasiswa tentang mata kuliah Etika Bisnis dan Etika Profesi atau kaitannya dengan mata kuliah lain.
Melakukan penelitian lanjutan untuk semua program studi di jurusan akuntansi dengan mencari teknik dan metode bagi pengembangan pemahaman terhadap materi-materi kuliah yang berkaitan dengan profesi dan etika.
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa, persepsi mahasiswa yang sudah dan belum mengikuti mata kuliah etika bisnis dan etika profesi tidak terdapat perbedaan yang signifikan.
7.2. Saran
Diharapkan penelitian ini dapat berguna untuk mendapatkan teknik dan metode pengajaran mata kuliah etika bisnis dan etika profesi agar mahasiswa lebih mampu mengembangkan pemikiran dan pemahaman tentang etika dan profesi khususnya di bidang akuntansi.
DAFTAR PUSTAKA
Bertens Kees, 2013, Pengantar Etika Bisnis, Yogyakarta Kanisius
Brooks, Leonard, and Paul Dunn, 2012, Business & Proffesional Ethics for Directors, executives and Accountants, South-Western College Publishing, 6th edition, Chapter 3 dan 4
Dinda, dkk, 2017, Perbedaan Persepsi Mahasiswa Akuntansi Terhadap Etika Profesi Akuntan, Dimensia Volume 13 Nomor 2 September 2016
Feronika Dwi Kurniasih, 2005, Persepsi Akuntan Publik, Akuntan Pendidik, Dan Mahasiswa Akuntansi Terhadap Etika Bisnis dan Etika Profesi Akuntan, Skripsi S-1, Program Sarjana, Fakultas Ekonomi, Universitas Katholik Soegijapranata Semarang.
Ghozali, 2016, Aplikasi Analisis Muiltivariete dengan Proggram IBM SPSS 23 (edisi 8).
Cetakan ke VIII. Semarang : Badan penerbit Universitas Diponegoro
Keraf, A Sony, 2012, Etika Bisnis Membangun Citra Bisnis Sebagai Profesi yang Luhur, Yogyakarta: Kanisius, Cetakan ke-16
Maulina, D. R. (2011). Persepsi Mahasiswa Akuntansi Terhadap Muatan Etika Bisnis dan Profesi Dalam Kurikulum Akuntansi. Jember: Perguruan tinggi Jember.
Modul Chartered Accountant, 2015, Etika Profesi dan Tata Kelola Korporat, Penerbit:
IAI
Permatasari, S Ineke, 2004, Analisis Persepsi Akuntan Publik, akuntan Pendidik, dan Mahasiswa Akuntansi Terhadap Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia, Skripsi S-1, Program Sarjana, Universitas Katholik Soegijapranata, Semarang.
Rina Yulistina Wati, 2015, Persepsi Mahasiswa Akuntansi Terhadap Etika Profesi Akuntan (Studi Pada Peguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta di Jember, Skripsi S-1 Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Jember Slameto. (2010). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka
Cipta.
Standar Profesional Akuntan Publik, Kode Etik Profesi Akuntan Publik 2020, Institut Akuntan Publik Indonesia
LAMPIRAN 1
LAMPIRAN 2
DAFTAR PERTANYAAN
bobot skor 5 = Sangat setuju, 4 = Setuju, 3 = Netral, 2 = tidak setuju, 1= sangat tidak setuju.
No Variabel Pertanyaan Score
5 4 3 2 1 1 Persepsi 1 Profesi Akuntan sebagai Karir
- Saya akan senang menjadi seorang akuntan
- Profesi akuntan hanya memperoleh sedikit kepuasan pribadi dalam pekerjaannya.
- Profesi akuntan adalah orang-orang yang membosankan 2. Etika Bisnis & Etika Profesi sebagai Bidang Ilmu
- Etika Bisnis & Etika Profesi menarik
- Saya suka belajar Etika Bisnis & Etika Profesi - Etika Bisnis & Etika Profesi hanyalah aktifitas
mengingat aturan-aturan
- Dalam Etika Bisnis & Etika Profesi banyak aturan yang bersifat tetap/kaku. Tidak memerlukan conceptual skills atau judgement (penyesuaian)
3. Akuntan sebagai Profesi
- Rekan saya berpendapat bahwa saya membuat keputusan karir yang baik jika saya menjadi akuntan.
- Keluarga saya senang jika saya menjadi akuntan.
- Profesi akuntan sangat dihormati
- Akuntan adalah sebuah profesi, setara dengan dokter dan ahli hukum.
- Menjadi akuntan sangat bergengsi (prestise) 4. Akuntan sebagai Aktifitas Kelompok
- akuntan profesional, berinteraksi dengan banyak orang - Para akuntan sibuk dengan angka-angka, mereka jarang
bekerja dengan orang lain
- Akuntan lebih banyak bekerja sendiri daripada bekerja dengan orang lain
2 Etika Bisnis 1. Dalam berbisnis perlukah menerapkan prinsip otonomi?
2. Orang berbisnis harus sadar sepenuhnya akan apa yang menjadi kewajibannya dalam berbisnis
3. Orang berbisnis harus bertanggungjawab atas dirinya
sendiri
4. Orang yang berbisnis bertanggung jawab kepada orang yang mempercayakan seluruh kegiatan bisnis dan manajemen itu kepadanya
5. Orang yang berbisnis bertanggung jawab kepada pihak-pihak yang terlibat dengannya dalam urusan bisnis.
6. Orang yang berbisnis bersedia untuk mempertanggungjawabkan keputusan dan tindakannya kepada pihak ketiga, yaitu masyarakat seluruhnya yang sacara tidak langsung terkena akibat dari keputusan dan tindakan binisnya
7. Perlukah prinsip kejujuran dalam berbisnis?
8. Orang yang berbisnis harus jujur dalam pemenuhan syarat-syarat perjanjian dan kontrak.
9. Orang yang berbisnis harus jujur dalam penawaran barang dan jasa dengan mutu yang baik.
10. Orang yang berbisnis harus jujur dalam hubungan kerja dalam perusahaan
11. Orang yang berbisnis perlu memperhatikan orang lain sesuai dengan haknya
12. Jika tidak berkerja dengan baik langsung melakukan pemotongan secara sepihak hak orang lain
13. Bertindak semena-mena terhadap orang lain
14. Meminjam hak orang lain untuk kepentingan pribadi 15. Meminjam hak orang lain untuk kepentingan bisnis.
16. Dalam berbisnis perlukah menerapkan prinsip saling menguntungkan?
17. Dalam berbisnis harus menunjukkan moral sikap baik kepada orang lain
18. Dalam keadaan tertentu dapatkah kita berbuat hal yang tidak baik kepada orang lain
19. Kita pantas diperlakukan dan memperlakukan diri kita sendiri sebagai pribadi yang mempunyai nilai yang sama dengan pribadi lainnya
20. Kita wajib membela dan mempertahankan kehormatan diri kita, jika martabat kita sebagai manusia dilanggar
3 Etika Profesi 1. Dalam melaksanakan tanggung jawab sebagai seorang profesional, harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya
2. Bertanggung jawab kepada semua pemakai jasa profesional mereka.
3. Setiap orang yang profesional berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukkan komitmen atas profesionalisme.
4. Seorang professional menghadapi tekanan yang saling berbenturan dengan pihak-pihak yang berkepentingan.
5. Seorang yang professional harus mengikat dirinya untuk menghormati kepercayaan publik untuk mencapai profesionalisme yang tinggi
6. Tanggung jawab seorang akuntan tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan klien individual atau pemberi kerja
7. Seorang profesional membantu memelihara integritas dan efisiensi dari laporan keuangan yang disajikan oleh lembaga keuangan untuk mendukung pemberi pinjaman dan kepada pemegang saham untuk memberi modal
8. Untuk memlihara dan meningkatkan kepercayaan publik, seorang profesional harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas 9. bersikap jujur dan berterus terang tanpa harus
mengorbankan rahasia penerimaan jasa.
10. Setiap anggota harus menjaga obyektifitas dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya
11. Jika ada kesempatan seorang professional dapat menerima atau menawarkan hadiah atau entertainment dari atau kepada klien
12. Seorang profesional harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali apabila ada hak atau kewajiban profsional atau hukum yang mengungkapkannya 13. Seorang profesional harus berperilaku yang
konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskusikan profesi.
14. Seorang professional anggota mempunyai kewajiban
untuk melaksanakan penugasan penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan obyektivitas.
15. Seorang profesiona harus mematuhi hukum dan peraturan yang relevan dan menghindari semua tindakan yang dapat merusak nama baik dan reputasi profesi