• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

B. Pre-eklampsia 1.Definisi 1.Definisi

4. Manifestasi Klinik

Pada pre-eklampsia ringan tidak ditemukan gejala-gejala subjektif. Pada pre-eklampsia berat didapatkan sakit kepala di daerah frotal, skotoma, diplopia, penglihatan kabur, nyeri didaerah epigastrum, mual atau muntah-muntah. Gejala-gejala ini sering ditemukan pada pre-eklampsia yang meningkat dan merupakan petunjuk bahwa eklampsia akan timbul. Tekanan darah pun akan meningkat lebih tinggi, edema menjadi lebih umum, dan proteinuria bertambah banyak (Wiknjosastro, 2006).

5. Diagnosis

Gejala Pre-eklampsia dibagi menjadi dua menurut Sudhabrata (2001) yaitu pre-eklampsia ringan dan berat. Kriteria diagnosis pre-eklampsia ringan sebagai berikut :

a. Tekanan darah ≥ 140mmHg/90mmHg atau kenaikan sistolik dan diastolik 30 mmHg/15mmHg.

c. Proteinuri 0,3 g/24 jam atau plus 1-2. d. Oliguri.

Kriteria diagnosis pre-eklampsia berat yaitu apabila pada kehamilan lebih 20 minggu didapatkan satu atau lebih tanda berikut:

a. Tekanan darah ≥ 160/110 mmHg diukur dalam keadaan relaks (minimal setelah istirahat 10 menit) dan tidak dalam keadaan his.

b. Proteinuri > 5 g/24 jam atau 4+ pada pemeriksaan kualitatif.

c. Oliguri : urine < 500 ml/24 jam disertai kenaikan kreatinin plasma. Pada pre-eklampsia terjadi perubahan anatomi dan patofiologi, sehingga terjadi penurunan perfusi renal dan filtrasi glomerulos. Pre-eklampsia berkaitan dengan penurunan produksi urin dan eksresi kalsium akibat peningkatan resorbsi tubuler (Widjanarko, 2009).

d. Gangguan visus dan serebral.

e. Nyeri epigastrium/hipokondrium kanan. f. Edema paru dan sianosis.

g. Gangguan pertumbuhan janin intrauetrin.

h. Adanya HELLP Syndrome (Hemolysis, Elevated liver enzim, Low Platelet Count). Pre-eklampia berat sering disertai dengan hemolisis yang terlihat dari kenaikan kadar serum LDH-lactate-dehydrogenase dan perubahan gambaran dari darah perifer. Hemolisis mikroangiopatik yang diakibatkan oleh kerusakan endotel yang disertai dengan deposisi trombosit dan fibrin. Terjadi Elevated liver enzim karena terjadinya perdarahan periportal pada tepi hepar dan perdarahan subkapsular. Peningkatan enzim hati akibat obstruksi aliran

16

darah hati oleh deposit fibrin disinusoid. Obstruksi ini menyebabkan nekrosis periportal dan pada kasus yang berat dapat terjadi perdarahan intrahepatik, hematom subkapsuler atau rupture hati. Low Platelet Count menjadi penanda memburuknya pre-eklampsia dimana terjadi trombositopenia disebabkan oleh aktivitas dan agregasi platelet akibat vasospasme yang merangsang hemolisis mikroangiopatik (Widjanarko, 2009).

Diagnosis differensial antara pre-eklampsia dengan hipertensi menahun atau penyakit ginjal tidak jarang menimbulkan kesukaran. Pada hipertensi menahun adanya tekanan darah yang meninggi sebelum hamil, pada kehamilan muda, atau enam bulan post partum akan sangat berguna untuk membuat diagnosis (Wiknjosastro, 2006).

Dahulu tekanan darah sistolik sebesar ≥130 mmHg atau kenaikan diastolik meningkat >15 mmHg. Walaupun nilai absolut tekanan darah dibawah 140/90 mmHg merupakan salah satu kriteria diagnosis pre-eklampsia, tetapi menurut The National High Blood Pressure Education Program Working Group on High Blood Pressure in Pregnancy, hal ini tidak lagi merupakan salah satu kriteria diagnosis, karena bukti klinis yang ada menunjukkan bahwa pasien pada kategori ini tidak mengalami perburukkan keadaan. Namun, penilaian para praktisi kliniks menyatakan bahwa pasien yang mengalami peningkatan tekanan darah sisitolik sebesar > 30 mmHg atau tekanan diastolik meningkat > 15 mmHg perlu pengawasan yang ketat, khususnya jika terdapat protein urin dan asam urat sama dengan atau lebih besar dari 6 mmHg/dl (Gifford, 2000).

Tekanan darah diastolik pada trisemester kedua yang lebih dari 85 mmHg patut dicurigai sebagai bakat pre-eklampsia. Proteinuria, bila terdapat sebanyak 0,3 g/L protein dalam urin 24 jam atau pemeriksaan kualitatif menunjukkan +1 atau 2, atau kadar protein ≥ 1g/L dalam urin yang dikeluarkan dengan kateter atau urin porsi tengah, diambil minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam (Mansjoer dkk, 1999).

Tabel I. Uji Diagnostik Pre-eklampsia (Wiknjosastro, 2006).

Uji diagnostik dasar Pengukuran tekanan darah Analisis protein dalam urin Pemeriksaan edema

Pengukuran tinggi fundus uteri Pemeriksaan funduskopik

Uji laboratorium dasar Evaluasi hematologik (hematokrit, jumlah trombosit, morfologi eritrosit pada sediaan apus darah tepi).

Pemeriksaan fungsi hati (bilirubin, protein serum, aspartan aminotransferase, dan sebagainya)

Pemeriksaan fungsi ginjal (ureum dan kreatinin).

Uji untuk meramalkan hipertensi Roll-over test

Pemberian infuse angiotensin II 6. Pencegahan

Pengamatan ANC (aternatal care) yang teratur dan terarah, tetap merupakan sarana yang paling penting sehingga diagnosis dini dapat ditegakkan, untuk menghindari tingginya angka kematian Ibu, angka kematian janin karena HDK (Manuba, 2001). Kunci manajemen terapi HDK (termasuk pre-eklampsia) adalah pencegahan, yang diketahui melalui ANC rutin. Perubahan tekanaan darah serta berat badan pasien yang drastis dapat juga diketahui dengan cepat melalui ANC rutin, sehingga penangganan HDK sejak awal dapat dilakukan (Crombleholme, 2002).

18

Pemeriksaan anternatal yang teratur dan teliti dapat menemukan tanda-tanda dini pre-eklampsia, dan dalam hal itu harus dilakukan penanganan semestinya. Walaupun timbulnya pre-eklampsia tidak dapat dicegah sepenuhnya, namun frekuensinya dapat dikurangi dengan pemberian penerangan. secukupnya dan pelaksanaan pengawasan yang baik pada wanita hamil. Penerangan tentang manfaat istirahat dan diet berguna dalam pencegahan. Istirahat tidak selalu berarti berbaring di tempat tidur, namun pekerjaan sehari-hari perlu dikurangi, dan dianjurkan lebih banyak duduk berbaring (Wiknjosastro, 2006). Pencegahan asupan garam tak dapat mencegah terjadinya pre-eklampsia. Dari penelitian Chappel (1999) membuktikan adanya penurunan aktivasi sel endotel pada pemberian vitamin C atau E pada kehamilan 18-22 minggu dan pemberian vitamin C atau E dapat menurunkan secara bermakna kejadian pre-eklampsia (Widjanarko, 2009).

Wanita dicurigai mengidap pre-eklampsia harus dirawat di rumah sakit. Jika pre-eklampsia atau hipertensi parah terjadi setelah minggu ke-36 gestasi, maka melahirkan merupakan terapi pilihan. Jika masalah timbul lebih dini, kelahiran dapat ditangguhkan pada beberapa pasien disertai pengawasan yang ketat. Jika terbukti ada penyakit stadium lanjut (terutama trombositopenia atau uji fungsi hati yang abnormal) atau ada gejala akan terjadi eklampsia, diusulkan agar ibu segera melahirkan beberapa pun jangka waktu gestasinya (Anonim, 1996).

Dokumen terkait