• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejak masuknya leluhur Simalungun (proto Simalungun) yaitu pada abad kelima serta berdirinya monarhi tertua di Sumatera ”Nagur” (Dinasti Damanik) dapat ditelusuri dari catatan perjalanan resmi petualang yang berasal dari luar Indonesia, seperti Ying-yai Sheng-ian, (abad ke-XV) dan Marcopolo (1292 M). Pada masa itu, Etnis Simalungun memegang teguh kekuasaan dan identitasnya yaitu ”ahap Simalungun”, walaupun tidak diperoleh secara tersurat dalam dokumen poestaha lahklak50yang ada, seperti Parpadanan Na Bolag (PNB),

Hikayat Bandar Hanopan (HBH), Parmongmong Bandar Syahkuda (PBS) dan Hikayat Malasori (HM)51

Pada masa itu terdapat fase-fase kerajaan seperti harajaon nadua(dua kerajaan) sampai harajaon na opat (empat kerajaan) di Simalungun yaitu kerajaan dari marga Saragih, Sinaga, Purba dan Damanik

.

52

50 Poestaha lahklak merupakan tulisan peninggalan sejarah

. Etnis Simalungun hidup

51 Dikutip dar

52

Dikutip dari: http://tondangmargana.blogspot.com/2013/02/sejarah-singkat-kerajaan-kerajaan.html

dengan tentram karena masing-masing kerajaan diikat oleh sistem pengambilan silang puangbolon(permaisuri) kerajaan.

Bahasa yang digunakan adalah ’Bahasa Tinggi’ Simalungun seperti dialek Raya, agama mereka adalah parhabonaron(pembenaran), denganmedia adat istiadatnya adalah sirih (demban sayur), sajian utama perhelatan (penghormatan) adatnya adalah ayam (dayok nabinatur), lelaki margotong (destar), perempuan

marbulang (tutup kepala khas Simalungun).Sistem kekerabatannya adalah ’tolu sahundulan lima saodoran’, falsafah/ideologinya adalah ’habonaron do bona’,

marga utama adalah SiSaDaPur yaituSinaga, Saragih, Damanik, dan Purba.

Masa pertama ini berlanjut hingga memasuki masa perkebunan Sumatera Timur (1863) yang disponsori oleh kolonial Belanda melalui Deli Mij yang ditandai dengan masuknya kuli kontrak dari Jawa, China, India, Toba dan Mandailing yang jumlahnya melebihi penduduk host cultural. Kuli kontrak asal Mandailing dan khususnya Toba yang telah memperoleh pendidikan sebagai dampak penyebaran agama Kristen, banyak diangkat serta mendominasi sebagai

bestur53

Keterkejutan yang luar biasa dialami oleh komunitas Etnis Simalungun dimana mereka tidak pernah menduga sebelumnya.Kehidupan mereka yang tentram mulai tercabik-cabik sebagai dampak agresifitas kaum pendatang.

pemerintahan kolonial di Simalungun dan Melayu. Etnis Jawa dan India ditempatkan di perkebunan sementara orang China diorganisir menjadi mitra dagang kolonial.

53Bestur, adalah seseorang yang dipercayakan untuk melayani sekaligus menjadi kakitangan orang Belanda dalam pemerintahan Simalungun pada masa Penjajahan, Saragih Sortaman, 2007, “Orang Simalungun”.

Ironisnya, pemerintah Simalungun tidak mampu memberikan perlindungan serta mengarahkan penduduknya, dan justru menelantarkan masyarakatnya dengan cara memberikan tanah-tanah rakyat kepada pengusaha perkebunan. Pada periode ini, nasib orang Simalungun mengalami marjinalisasi sama dengan yang dialami oleh orang Melayu Sumatera Timur.

Periode kedua adalah masuknya penyebar agama Kristen (1903) khususnya dari Toba yang diutus oleh Nommensen untuk membantu tugas August Theis dalam pengkristenan ”Batak Timur”. Penyebar agama Kristen dari Toba tersebut, menggunakan bahasa Batak Toba sebagai bahasa resminya dan juga menonjolkan budayanya tanpa mengindahkan bahasa dan budaya Etnis Simalungun yang sangat berbeda dengan mereka. Inilah sebabnya, mengapa pengkristenan ”Batak Timur” terkesan lambat walaupun telah mencapai lebih 20 tahun.

Disamping itu, Etnis Melayu Sumatera Timur terutama dari kesultanan Serdang sangat gencar mengislamkan ’Dusun Timur’ dimana hampir separuh penduduknya telah memeluk agama Islam sehingga mendorong pengkristenan se-segera mungkin harus dilakukan (Tole!Den Timorlandend das

Evanggelium).Tidak ketinggalan pula orang Batak Selatan pada masa perkebunan,

aktif melakukan siar-siar agama Islam.Pada masa ini, Etnis Simalungun menjadi lahan antara Tobanisasi versus Melayunisasi atau Kristenisasi versus Islamisasi (Pelly Usman, 2003).

Etnis Simalungun yang mayoritas belum tersentuh pendidikan menjadi lahan rebutan pengaruh yang berdampak pada kepribadian dan karakternya.

EtnisSimalungun menjadi terombang ambing layaknya perahu tanpa kemudi.Bahasa mereka mulai dikacaukan oleh bahasa Toba dan Melayu.Agama mereka, parhabonaron, mulai ditinggalkan sebagai dampak masuknya Kristen dan Islam.

Sementara itu, pemerintah kolonial membiarkan hal demikian terjadi agar lebih mudah dalam menguasai Simalungun.Sebaliknya, pemerintah Simalungun tidak juga mampu memberikan perlindungan pada masyarakatnya yang tengah tercabik-cabik dan justru mendukung kolonial dengan menyerahkan tanah-tanah rakyat serta membiarkan pendatang asing menggunakan tema-tema budanya masing-masing di Simalungun. Periode ini berakhir pada waktu ledakan massa yang meluluhlantakkan sistem pemerintahan Simalungun sekitar tahun 1946.

Periode ketiga, dimulai sejak tahun 1946 yang ditandai dengan punahnya sistem pemerintahan Simalungun. Sejak penandatanganan perjanjian pendek tahun 1907 sampai 1946, terdapat tujuh kerajaan (hajaon na pitu)yang memerintah di Simalungun. Feodalisme yang menggejala pada saat itu telah mendorong letupan massa terhadap sistem pemerintahan tradisional di Sumatera Timur terutama pada Etnis Melayu dan Simalungun berupa pembakaran istana dan pembunuhan raja/sultan.

Resink mencatat sekitar 90 kerabat sultan Melayu terbunuh dan istana Sultan dibakar. Kejadian yang sama terjadi pada pemerintahan Simalungun dan sejak saat itu pula peradapanrumah bolon (the big house civilization) punah selama-lamanya dan hanya meninggalkan satu kerajaan saja. Seiring dengan letupan massa, ditambah dengan hilangnya pemerintah swapraja maka situasi dan

kondisi ini dimanfaatkan oleh kaum pendatang untuk merebut tanah-tanah milik orang Simalungun.Ditambah lagi dengan terjadinya pertukaran budaya sebagsai tanda kekerabatan yang telah dijalin antara Simalungun dengan Madjapahit sebelumnya juga ikut menyebabkan pembauran budaya di tanah Simalungun.

Bila wilayah Simalungun dipetakan berdasarkan penduduknya pada saat ini maka nyatalah di daerah Bah Jambi, Serbelawan dan Perdagangan, Dolog Masihol didominasi oleh orang Jawa. Sedang Tanoh Jawa, Girsang Sipangan Bolon, Parapat dan Dolok Pardamean lebih didominasi oleh Batak Toba. Demikian pula Pematangsiantar yang pada awalnya merupakan homeland (ibukota)nyaorang Simalungun tercabik-cabik dengan terbentuknya residensi beradasarkan nama suku seperti Karo, Banjar, Jawa, Kristen, Martoba dan lain-lain sementara orang Simalungun lebih terkonsentrasi di Simalungun Atas yang berbatas dengan Kabupaten Karo.

Pada saat itu,proses marjinalisasi semakin terasa bagi orang Simalungun yang benar-benar mengalami kegoncangan Identitas sosial dan budayanya.Dengan demikian, Simalungun hampir tersisih dinegerinya sendiri serta tercerabut dari akar budayanya.

3.4. Proses Marjinalisasi Etnis Simalungun di Sei Mangkei