• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masalah dan Tantangan EkonomiArea Growth Pole

Dalam dokumen Negara Tanpa Warga Politik Kewarganegara (Halaman 43-53)

PEKERJAAN PER SEKTOR

3. Masalah dan Tantangan EkonomiArea Growth Pole

Seiring dengan menguatnya pertumbuhan ekonomi di daerah Kabupaten Semarang berbagai masalah dan tantangan juga tumbuh dan turut mengiringi transformasi ekonomi yang ada. Permasalahan dan tantangan tersebut terkait dengan pemerataan, daya serap tenaga kerja dsb sebagaimana yang akan diuraikan secara detail di bawah ini.

a)Pertumbuhan tanpa Pemerataan

Pertumbuhan ekonomi dan pemberdayaan ekonomi yang relatif berhasil didorong di kabupaten Semarang tidak dibarengin dengan kemampuan mendorong pemerataan ekonomi yang sangat kuat. Hasil Survei JPIP 2006 menempatkan Kabupaten Semarang dalam posisi ke-9 dalam hal pemerataan ekonomi diantara kabupaten/kota yang ada di Jateng & DIY.

Hal ini juga bisa dilihat dari beberapa indikasi. Pertama, tidakadanya redistribusi pengelolaan aset di sektor agrikultur. Kalau dilihat aspek penggunaan lahan, sebagai besar lahan lebih banyak digunakan untuk aktivitas agrikultur, yaitu kebun (36%)

dan sawah (14%) dibandingkan industri (0,4%). Sedangkan mata pencaharian utama justru berada di sektor industri pengolahan. Kedua, angka kemiskinan di Kabupaten Semarang masih tinggi. Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Semarang adalah sebanyak 30,5%, angka yang jauh lebih tinggi daripada angka nasional sebesar 15,5% dan Jawa Tengah sebanyak 19,5%. Kondisi ini semakin diperparah oleh maraknya PHK, yang angkanya mencapai 11.000 orang pada tahun 2009, karena berpotensi meningkatkan jumlah penduduk miskin.

Ironisnya justru daerah-daerah yang menjadi kantong industri menjadi kantong-kantong utama kemiskinan. Peta kemiskinan dan pengangguran yang dimiliki oleh pemerintah Kabupaten Semarang menunjukkan bahwa kecamatan ungaran, Bawen Pringapus dan Tengaran, dengan derajat yang berbeda-beda masih dihadapkan dengan masalah kemiskinan dan pengangguran yang relatif akut (lihat lampiran).

b)Arus Migrasi Lokal di tengah Keterbatasan Daya

Di tengah masih terbatasnya daya serap tenaga kerja terutama bagi angkatan kerja produktif yang berasal dari daerah tersebut, arus migrasi lokal tampaknya tetap mengalir di wilayah Kabupaten semarang.8Penduduk luar daerah yang datang ke

Kabupaten Semarang untuk bekerja di sektor formal maupun non- formal, terbilang tidak sedikit. Sayangnya, pendataan migrasi pekerja lintas daerah ini tampaknya belum berjalan optimal. Yang pasti, migrasi penduduk di Kabupaten Semarang terbilang cukup dinamis (lihat tabel 9).

8

Migrasi lokal atau urbanisasi ini merupakan efek lanjut dari strategi industrialisasi berbasis growth pole yang bersifat urban biased dan juga efek Revolusi Hijau di wilayah pedesaan yang justru mendorong kesenjangan sosial lebih kuat adalah sehingga pelan-pelan arus urbanisasi menjadi pilihan sosial (Yustika, 2000). Yang menarik adalah, menurut temuan Nicolaas Warrouw (2004, 2005), urbanisasi di kantong-kantong industri kota, dalam tahap lanjut, tidak lagi semata-mata disebabkan oleh efek-efek struktural. Strategi modernisasi, pendidikan, di pedesaan sebenarnya juga mendorong lahirnya generasi-generasi muda yang lebh terdidik dan sekaligus melek informasi. Akibatnya, banyak diantara mereka yang datang ke kota (urbanisasi) dengan alasan yang tidak hanya bermotif ekonomi semata melainkan ada alasan yang lebih bersifat “kultural”: menuntaskan hasrat “modernitas” mereka di kota yang merupakan dunia yang benar-benar modern.

Tabel 9. Jumlah Penduduk dan Migrasi Penduduk Tahun Jumah Penduduk Penduduk Datang Penduduk Pergi +/- Migrasi 2005 896.048 4.354 3.149 1.205 2006 899.276 5.746 5.283 463 2007 906.112 2.660 2.902 -242 2008 913.022 9.495 8.007 1.488 2009 917.745 6.736 7.226 -490

Sumber: Kabupaten Semarang Dalam Angka Tahun 2010

Arus migrasi lokal para buruh ini memunculkan dampak

hadirnya buruh “undercover”. Istilah ini muncul di kalangan

aktivis buruh ketika Kabupaten Semarang kebanjiran para buruh migran lokal yang menopang di sektor industri. Mereka berasal dari berbagai daerah-daerah sekitar Kabupaten Semarang seperti Purwodadi, Boyolali, Salatiga, Wonogiri, Pacitan dll. Dalam kesehariannya, pekerja under cover ini juga menjalankan aktivitas kerja layaknya karyawan pabrik namun, sebagaimana ditegaskan oleh salah seorang aktivis perburuhan “.status mereka bukan karyawan tetap, tapi hanya berstatus sebagai buruh kontrak atau

buruh harian lepas. Jumlah buruh under cover ini justru jauh lebih besar jika dibandingkan dengan karyawan tetap.”9

Sebagaimana diakui oleh Jati Tri Mulyanto, SH, MM, camat Bawen, 10 semenjak kawasan industri tumbuh di Kabupaten

Semarang, banyak para pendatang mencari kerja di Kabupaten Semarang yang kemudian menimbulkan dilema tersendiri. Dilema tersebut muncul karena arus migrasi lokal ini menguat justru di saat kesempatan kerja bagi para pencari kerja penduduk tetap Kabupaten Semarang sendiri tidak selalu ada karena kualitas SDM kurang memenuhi kualifikasi/kompetensi. Menurutnya, penduduk lokal berpendidikan rendah hanya bisa menjadi buruh rumahan (home-based worker). Mereka bekerja di rumah sendiri- sendiri dengan menerima pesanan dari sejumlah industri pengolahan seperti produksi sepatu atau industri tekstil.11

9

Wawancara tim peneliti.

10

Wawancara tim peneliti dengan Jati Tri Mulyanto, SH,MM, camat Bawen kab Semarang,4 Maret 2011Semarang

11

Keberadaan home-based worker ini sebenarnya sudah cukup lama. Hal ini dimulai oleh industri tekstil sejak bertahun-tahun lalu. Belakangan muncul pula home-based worker di industri-industri yang bergerak dalam memproduksi sepatu, terutama untuk tujuan ekspor. Wawancara tim peneliti dengan Jati Tri Mulyanto, SH, MM, camat Bawen, 4 Maret 2011.Semarang.

c) Dominasi Buruh Non-Formal

Sebagaimana diungkapkan sebelumnya, sektor industri di Kabupaten Semarang banyak menyerap tenaga kerja dan selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya baik pada sektor formal maupun non-formal. Namun para pekerja tidak semuanya memiliki tipe yang seragam, melainkan memiliki tipologi beragam berdasar latar belakang status hukum pekerja dan jenis perusahaannya.

Data resmi industri dan tenaga kerja dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Semarang – sebagaimana termatub dalam LKPJ-AMJ Bupati Semarang 2005- 2010-, menyebutkan jumlah pekerja pada sektor formal lebih besar (lihat tabel 10). Namun demikian, beberapa aktivis buruh menengarai bahwa data pekerja non formal di Kabupaten Semarang jauh lebih besar. 12 Sebagaimana ditegaskan oleh

Siagawati:

12

“Saya yakin, jumlah pekerja non-formal di sektor industri jauh lebih banyak. Mungkin hanya datanya saja yang belum jelas. Sebab, terkait tumbuhnya kawasan industri tumbuh di Kabupaten Semarang juga banyak bermunculan pekerja bebas yang melakukan aktivitas produksi di rumah masing-masing,”

Tabel. 10 Pekerja Industri Firmal dan Non-Formal Kabupaten Semarang Tahun 2005 – 2009

JENIS DATA SATUAN 2005 2006 2007 2008 2009

Industri Formal Skala Menengah Besar

Jumlah Industri Unit 138 145 154 161 166

Jumlah Tenaga Kerja Orang 63.763 64.805 68.461 69.009 71.506 Industri Formal Skala Kecil

Jml Industri Kecil Formal

Unit 951 1.060 1.192 1.313 1.341

Jumlah Tenaga Kerja Orang 8.329 9.056 9.812 10.706 10.918 Industri Kecil Non Formal

Jml Industri Kecil Non Formal

Unit 8.822 8.965 9.111 9.257 9.405

Jumlah Tenaga Kerja Orang 15.762 16.019 16.279 16.539 16.804

Sumber: LKPJ-AMJ Bupati Semarang 2010

Dugaan aktivis buruh tersebut tampaknya tidak sepenuhnya salah bila kita mencoba mengkonfirmasi atau cross-check dengan data resmi lainnya. Bila melihat data status pekerjaan utama nampak terlihat para buruh yang memiliki pekerjaan tetap atau

berstatus sebagai karyawan/buruh tetap hanya berkisar 17% dari jumlah penduduk Kabupaten Semarang. Sementara penduduk yang bekerja dengan status sebagai pekerja tak dibayar, pekerja bebas sektor pertanian dan pekerja bebas non pertanian, serta buruh tidak tetap, jauh lebih besar (lihat kembali tabel 5 di atas).

d)Dominasi Tenaga Kerja perempuan

Sebagaimana ditegaskan oleh Wityastuningsih, Ka.bid Pelatihan dan Penempatan, Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Semarang,13 salah satu tantangan atau pekerjaan rumah

yang harus juga diselesaikan oleh pemerintah daerah adalah kenyataan bahwa tenaga kerja yang terserap di berbagai perusahaan sebagian besar perempuan. Data dari Disnerktrans Prop. Jawa Tengah tahun 2010 menunjukkan bahwa dari 144.279 pekerja di Kabupaten Semarang sebagian besar adalah perempuan –yaitu 100.376 orang-, sedang laki-laki hanya 43.903 orang.

13

Lebih khusus, pekerja perempuan juga relatif menonjol dalam dunia hiburan malam. Misalnya, wilayah Sukosari, Kelurahan Bawen terdapat 38 wisma karaoke yang dikelola oleh 33 bapak/ibu pengasuh. Sedangkan jumlah pekerja perempuan di karaoke mencapai 118 orang.14 [ ]

14

Wawancara tim peneliti dengan Prayitno, SSTP, MM, Lurah Sukosari, kecamatan Bawen,28 Februari 2011 Semarang

3

3

ONONrreeiiggeeaannrrttaaaadsdsiiiiddBBaaaannwwDDaahheessKKaaiuiunnaassKKaaeePPlleeaammssaabbrraaggaaaann

ƒ Hasrul Hanif

ab ini akan menguraikan secara lebih mendalam bagaimana negara, baik di aras nasional mapun aras lokal, mendefinisikan warga atau subyek politik yang dilekatkan pelbagai hak-hak dasar dan tanggungjawab. Tentu saja, hal tersebut akan dilihat dari orientasi dan praktik nyata kebijakan negara dan bukan semata-mata dari sesuatu yang bersifat normatif.

Oleh karena itu, bab ini akan membahas orientasi dan derajat kapasitas kelembagaan negara, khususnya di Kabupaten Semarang, dalam menghormati, melindungi dan memenuhi hak- hak ekonomi & sosial warga, khususnya komunitas buruh. Identifikasi atas orientasi atau paradigmatik kebijakan negara merupakan hal yang tidak bisa diabaikan. Sebab orientasi ini lah yang akan menggambarkan sejauh mana kesadaran akan

pentingnya menghormati, melindungi dan memenuhi hak-hak ekonomi & sosial dimiliki oleh negara. Karena boleh jadi proses kebijakan dan pelayanan publik yang ada diorientasikan pada kepentingan yang lain.

Dalam dokumen Negara Tanpa Warga Politik Kewarganegara (Halaman 43-53)

Dokumen terkait