• Tidak ada hasil yang ditemukan

5. Berdasarkan Tempat Tinggal

2.5.4 Masalah yang Dihadapi Anak Jalanan

Ada lima sumber masalah anak jalanan menurut Moeliono dan Dananto (2004), yakni:

1. Anak Jalanan dengan Anak Jalanan

40

bebas, tidak dikontrol orang tua, tidak wajib setor uang, bebas jajan, merokok, bergaya hidup santai sering menjadi daya tarik sendiri bagi anak jalanan Vulnerable untuk mengikuti jejak anak jalanan high risk.Kekerasan antar anak jalanan juga sering terjadi dalam berbagai bentuk seperti perkelahian, penggunaan senjata tajam, pengeroyokan, pengompasan atau pemerasan, intimidasi psikis dan bahkan seksual. Akibat kekerasan terwujud dalam trauma psikis dan lingkaran setan kekerasan.

2. Anak Jalanan dengan Orang Tua

Kemiskinan sering dituding sebagai biang keterlibatan anak dalam ekonomi keluarga. Dengan dalih kemiskinan anak diperlakukan secara salah dengan dipaksa bekerja untuk membantu ekonomi orang tua.

3. Anak Jalanan dengan Masyarakat

Masyarakat cenderung memberi stigma buruk pada anak jalanan. Anak jalanan dianggap sebagai pengganggu kenyamanan lingkungan, pelaku kriminalitas dan kekerasan.

4. Anak Jalanan dengan LSM Pendamping Anak Jalanan

Terkadang terjadi persaingan antar LSM, sehingga untuk menarik perhatian anak, LSM memberikan iming-iming, janji-janji atau bingkisan dan uang saku. Anak jalanan tiba-tiba merasa jadi idola yang diperebutkan, bahkan menuduh LSM ”menjual kemiskinan anak jalanan”. 5. Anak Jalanan dengan Negara

41

dialami anak jalanan adalah masalah identitas dan akte kelahiran, terbatasnya akses anak pada berbagai fasilitas pelayanan umum, serta diskriminasi dan kekerasan aparat pemerintah (negara) terhadap anak jalanan.

Dari pendapat yang di atas permaslahan yang di alami dapat disimpulksan sebagai berikut:

1. Sesama Anak Jalanan

Melihat perilaku dan sikap anak jalanan yang bia di katakan jauh dari nilai dan norma sosial yang ada sehingga memunculkan tindakan yang ekstreme yang mereka lakukan dengan orang lain, baik itu dengan teman sebaya, teman sepermaianan, orang tua atau lingkungan sekitarnya

2. Keluarga

Tidak sedikit anak-anak yang di tolak keberadaaannya oleh orang tua mereka, sehingga mereka enggan untuk tinggal dan betah di rumah. Mereka mencari kehidupan di luar rumah yatitu di jalanan. Jalanan merupakan pilihan mereka sebagai tempat dari penolakan tersebut. Anak-anak yang melarikan diri ke jalanan akhirnya melakukan kegiatan dan aktivitas di jalanan. Umumnya berada pada usia tersebut perhatian mereka tertuju pada keinginan di terima oleh teman-teman sebaya sebagai angggota kelompok. Oleh karena itu mereka ingin menyesuaikan diri dengan standart yang di setujui oleh kelompok dalam penampilan, berbicara, dan berperilaku sekali pun itu bertentangan dengan orang tuanya maupun peraturan sekolah. Bagi masyarakat miskin dizaman

42

sekarang kehadiran anak dianggap sebagai beban. Sehingga tidak jarang orang tua mendukung anaknya untuk bekerja menghasilkan uanng sendiri. 3. Masyarakat

Menurut Koentjaraningrat (1981: 116), bahwa masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi sesuai suatu sistem adat istiadat tertentu yangbersifat kontiniu dan yang terkait oleh suatu identitas bersama. Artinya di sini anak jalanan juga merupakan bagian atau suatu kesatuan dari masyarakat. Tetapi tidak sedikit masyarakat yang dapat menerima keberadaan anak jalanan, sulitnya penerimaan itu membuat anak jalanan tereksklusi serta termarginalkan dari lingkungan sekitarnya. Hal ini di karenakan paradigma masyarakat tentang anak jalanan sudah buruk atau negatif.

4. Identitas

Anak jalanan adalah salah satu komunitas, yang selalu bermasalah dengan akta kelahiran. Jumlah anak jalanan di seluruh Indonesia tidak kurang dari 230.00 (data kemensos) dan 75% dari mereka tidak memiliki akta kelahiran. Hak atas identitas adalah hak setiap orang tanpa terkecuali. Konstitusi pasal 28D ayat 4 sudah jelas mengatur, bahwa setiap orang berhak atas status kewarganegaraan. Jaminan itu juga ditegaskan lagi melalui UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM, dimana pasal 53 ayat (2) menyatakan, bahwa setiap anak sejak kelahirannya, berhak atas suatu nama dan status kewarganegaraan. UU No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak juga mengatur, bahwa setiap anak berhak atas suatu nama sebagai identitas diri dan status kewarganegaraan (pasal 5). Identitas

43

diri setiap anak harus diberikan sejak kelahirannya dan tertuang dalam akta kelahiran (pasal 27). Beberapa alasan bagi mereka yang tidak memiliki kartu identitas diri yaitu:

a. Beberapa dari mereka tinggal ditempat terpencil karena biasanya kemunculan anak jalanan berasal dari anak-anak desa yang tanpa bekal ingin hidup di kota disaat mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka pun terpaksa menjadi anak jalanan.

b. Karena ketidakmampuan mengurus akta kelahiran karena tidak memiliki biaya (beberepa tempat harus membayar cukup mahal)

c. Ketidaktahuan bagaimana cara mengurusnya, karena minimnya informasi dan pengetahuan akan hal itu

d. Tidak adanya tempat tinggal yang permanen karena pengurusan akta secara formal membutuhkan berbagai dokumen atau keterangan dari RT atau RW, sementara mereka tidak memiliki itu

e. Anak jalanan mayoritas memiliki asal-usul keluarga yang tidak jelas. Tidak sedikit anak jalanan berasal dari psangan yang hamil di luar nikah, bahkan mereka tidak mengetahui siapa orang tua asli mereka. 5. Pendidikan

Dari sulitnya medapatkan identitas diri hal ini akhirnya mempengaruhi sulitnya anak jalanan untuk masuk ke dunia pendidikan. Anak jalanan mungkin ini tidak terlihat begitu penting. Pada anak jalanan lebih memilih untuk mencari uang di bandingkan dengan bersekolah. Karena perekonomian mereka yang menengah ke bawah yang bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan pokok saja sulit. Itu mereka lakukan demi

44

memenuhi kebutuhan hidup dan untuk mempertahankan hidup. Maka dari itulah pendidikan yang di dapat oleh mereka sangat lah rendah. Menurut Pasal 9 Undang-undang No. 23 Tahun2002 tentang Perlindungan Anak (1) “Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya”. Pemerintah mewajibkan bagi setiap anak bangsa mengenyam pedidikan 9 tahun. Tetapi sebagian besar anak jalanan pendidikan terakhirnya hanyalah kelas 3-5SD bahkan tidak sedikit dari mereka sama sekali tidak pernah merasakan bangku sekolah atau tidak pernah bersekolah sama sekali

6. Pemerintah

Tanpa kita sadari di balik kerasnya kehidupan di jalanan, banyak permasalahan yang di alami oleh anak jalanan yang dilakukan oleh pemerinta secara umum, lambatnya penanganan anak jalanan oleh pemerintah. Contoh kasus dalam permasalahan razia, disaat dan setalah anak jalanan di tangkap mereka bukan nya di tangkap untuk di bina, di rehabilitsi, di berikan keterampilan dan modal usaha atau di pulangkan kepada pihak keluarga secara baik. Tetapi yang sering terjadi malah anak jalanan mendapatkan perlakukan deskriminatsi dari aparat satpol PP, mereka di caci di maki, ditunjang, bahkan mereka sengaja di pekerjakan di dalam tahanan. Tidak seharusnya anak-anak mendapatkan perlakukan seperti tahanan orang dewasa. Dan pemerintah tidak memikirkan langkah selanjutnya setelah mereka di bebaskan, akan kemana kah mereka, seprti

45

apakah kegiatan mereka. Akan kah mereka kembali kembali ke kehidupan mereka di jalanan, jawabannya kebanyakan. Iya.

Contoh lain dalam pelayanan publik dalam kesehatan, sulit sekali mereka dapat pelayanan publik seperti berobat gratis di puskesmas dan layanan BPJS. Hal ini membuat tingkat kesehatan anak jalanan sangat rendah. Sehingga di saat mereka sakit, mereka hanya mampu membeli obat-obatan di warung.

7. Dunia Usaha atau Bursa Kerja

Salah satu masalah yang cukup besar di Indonesia adalah masalah pengangguran. Sulitnya mendapatkan pekerjaan bukan hanya di alami oleh anak jalanan, bahkan orang-orang yang berpendidikan yang sudah memiliki gelar saja sulit mendapatkan pekerjaan. Dilihat dari beberpa permasalahan yang sudah dituliskan di atas dari mulai masalah identitas dan masalah pendidikan sangat jauh sekali untuk anaka jalanan disaat tumbuh besar mendapatkan pekerjaan yang layak untuk memenuhi kebutuhan diri mereka sendiri dan keluarganya kelak. Danjika pun ada anak jalanan yang mampu mengenyam pendidikan sampai 9 tahun sangat sulit sekali karena sudah pasti masyarakat mengenalnya sebagai anak jalanan yang sudah terkenal negatif, tidak bisa di percaya dan pemalas. Sehinggatingkat kesejahteraan dan kelayakan hidup anak jalanan hanya dibawah standart.

46

Dokumen terkait