5. Berdasarkan Tempat Tinggal
2.6 Rumah Singgah
Salah satu bentuk penanganan anak jalananadalah melalui pembentukan rumah singgah. Konferensi Nasional II Masalah Pekerja Anak di Indonesia pada bulan Juli 1996 mendefeniskan rumah singgah sebagai tempat pemusatan sementara yang bersifat non formal, dimana anak-anak bertemu untuk memeproleh informasi dan pembinaan awal sebelum d rujuk ke dalam proses pembinaan lebih lanjut. Sedangkan menurut Departemen Sosial RI rumah singgah di defenisikan sebagai perantara anak jalanan dan dengan pihak-pihak yang membantu mereka. Rumah singgah merupakan proses informal yang memebrikan suasana pusat realisasi anak jalanan terhadap sistem nilai dan norma masyarakat.
Munajat (2001) menjelaskan rumah singgah merupakan perantara antara jalanan dengan pihak-pihak yang membantu mereka. Rumah singgah bertujuan membantu anak jalanan dalam mengatasi masalah-masalahnya dan menemukan akternatif untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya. Dengan demikian rumah singgah bukan merupakan lembaga pelayanan sosial yang membantu menyelesaikan msalah, namun merupakan lembaga pelayanan sosial yang
48
memberikan proses informal dengan suasana resosialisasi bagi anak jalanan terhadap sistem nilai dan norma yangberlaku di masyarakat.
Direktorat Jendral Bina Kesejahteraan Sosial Depsos sebagimana di kutip oleh Krismiyarsi (2004) mendefenisikan rumah singgah sebagai berikut:
1. Anak jalanan boleh tinggal sementara untuk tujuan perlindungan, misalnya: karena tidak punya rumah, ancaman di jalan, kekerasan dari orang tua atau orang lain. Biasanya hal ini di hadapi anak yang hidup di jalanan dan tidak mempunyai tempat tinggal
2. Pada saat tinggal sementara mereka memperoleh intervensi yang intensif dari pekerja sosial sehingga tidak etrgantung terus kepada rumah singgah 3. Anak jalanan datang sewaktu-waktu untuk bercakap-cakap, istirahat,
bermain mengikuti kegiatan dan lainnya
4. Rumah singgah tidak memperkenankan anak jalanan untuk tinggal selamanya
5. Anak jalanan yangmasih tinggal dengan orang tua atau saudaranya atau sudah mempunyai tempat tinggal tetap sendirian maupun berkelompok tidak di perkenankan menetap di rumah singgah, kecuali ada beberapa situasi yang bersifat darurat
6. Anak jalanan yang sudah mempunyai tempat tinggaltetap merupaka kondisi yang lebih baik di bandingkan dengan mereka yang membutuhkan rumah singgah sebagai tempat tinggal sementara, seperti: kelompok anak yang hidup di jalanan.
49
2.6.1 Ciri-ciri Rumah Singgah
Rumah singgah adalah suatu perantara anak jalanan dengan pihak-pihak yang akan membantu anak jalanan. Ciri-ciri rumah singgah adalah ( Surbakti dan Sarwanto, 2005):
1. Lokasi rumah singgah berada dekat dengan lokasi anak jalanan 2. Rumah singga terbuka 24 jam bagi anak jalanan
3. Rumah singgah merupakan tempat persinggahan sementara
4. Rumah singgah dapat dimanfaatkan anak jalanan kapan saja agar mereka mendapat perlindungan. Dirumah singgah anak bebas melakukan bebagai aktivitas (membaca, menulis, bermain, bercanda, mandi dan sebagainya). Tetapi dilarang melakukan hal yang tidak baik (kekerasan, minum-minuman keras dan yang lainnya)
5. Fungsi rumah singgah adalah untuk membetulkan sikap dan perilaku yang tidak sesuai dengan norma, memberikan prteksi mengatasi masalah dan meyediakan berbagai informasi yang berkaitan dengan anak jalanan.
6. Para pekerja sosial rumah singgah membina anak jalanan dengan bertindak sebagai teman, bertindak sejajar dengan anak jalanan dan pembinaan bersifat kekeluargaan. Dengan cara ini di harapkan anak tidak mengalami hambatan untuk menyampaikan permasalahan dan bersedia untuk merubah sikap dan perilaku yang keliru
2.6.2 Tujuan Rumah Singgah
Melalui proses informal dalam resosialisasi anak jalanan terhadap sistem nilai dan norma yang berlaku di masyarakat, diharapkan mampu mencapai tujuan
50
penyelenggaraan rumah singgah. Tujuan penyelenggaraan rumah singgah itu sendiri ada dua macam, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
1. Tujuan umum rumah singgah adalah membantu anak jalanan mengatasi masalah-masalahnya dan menemukan alternatif untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya.
2. Sedangkan tujuan khusus rumah singgah, yaitu:
a. Membentuk kembali sikap dan perilaku anak yang sesuai dengan nilai dan norma yangberlaku di masyarakat
b. Mengupayakan anak-anak kembali kerumah jika memungkinkan atau di panti dan lembaga pengganti lainnya jika di perlukan
c. Memberikan berbagai alternatif pelayanan untuk pemenuhan kebutuhan anak.
2.6.3Fungsi Rumah Singgah
Departemen Sosial RI sebagaimana di kutip oleh Triyanti (2001) mengemukakan fungsi rumah singgah sebegai berikut:
1. Tempat pertemuan (meeting point) pekerja sosial dengan anak jalanan. Dalam fungsi ini, rumah singgah merupakan tempat bertemu antara pekerja sosial dengan anak jalanan untuk menciptakan persahabatan,
assessment dan melakukan program kegiatan. 2. Pusat assessment dan rujukan.
Rumah singgah menjadi tempat assessmentterhadap masalah dan kebutuhan anak jalanan serta melakukan rujukan (refeal) pelayanan sosial bagi anak jalanan.
51 3. Fasilitator.
Rumah singgah memiliki fungsi sebagai perantara anak jalanan dengan keluarga, panti, keluarga pengganti dan lembaga lainnya. Anak jalanan di harapkan tidak terus-menerus bergantung pada rumah singgah, melainkan dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik melalui atau setelah proses yang dijalani
4. Perlindungan
Rumah singgah dianggap sebagai tempat perlindungan anak dari kekerasan, penyimpangan sels dan bentuk-bentuk lain yang terjadi di jalanan.
5. Pusat informasi
Dalam fungsi ini, rumah singgah menyediakan informasi tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kepentingan anak jalanan seperti data dan informasi tentang anak jalanan, bursa kerja, pendidikan, kursus keterampilan dan lain-lain
6. Kuratif-Rehabilitasi
Rumah singgah di harapkan mampu mengatasi permasalahan anak jalanan dan memeprbaiki sikap dan perilaku sehari-hari yang akhirnya akan dapat menumbuhkan keberfungsian anak.
7. Resosialisasi
Lokasi rumah singgah berada di lingkungan masyarakat sebagai upaya mengenal kembali norma, situasi dan kehidupan bermasyarakat bagi anak jalanan. Dengan adanya harapan pengakuan, tujuan dan upaya dari warga masyarakat terhadap penanganan masalah anak jalanan.
52
Menurut Munajat (2001) mengkaji mengenai efektivitas rumah singgah terhadap perubahan sikap dan perilaku anak jalanan. Untuk melihat perkembangan perilaku anak jalanan dapat dilihat dari: lokasi tidur, lama di jalanan, kegiatan atau pekerjaan yang di lakukan di jalanan, kebiasaan dalam berpakaian, hubungannya dengan orang tua atau keluarga, status pemdidikan, kebiasaan negatif, hubungan sosial, kegiatan keagamaan, sopan santun, cara berbicara, kebiasaan makan, kebiasaan bangun tidur, kebiasaan mandi, kebiasaan berobat dan kelompok sosialnya. Sedangkan perubahan sikap di lihat dari berbagai aspek, antara lain: pandangan mengenai pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial, perilaku kriminal, perilaku anti sosial dan pola hidup. Hasil penelitian menunjukan pelaksanaan rumah singgah efektif untuk mengubah sikap dan perilaku anak jalanan.