TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Keluarga dengan Balita .1 Definisi Keluarga .1 Definisi Keluarga
2.2.3 Masalah Kesehatan pada Keluarga dengan Balita
Masalah kesehatan yang sering terjadi pada balita dalam keluarga ialah kecelakaan dan cidera, penganiayaan pada balita (perlakuan kejam dan pengabaian), penyakit menular (infeksi pernapasan, konjungtivitis, dan masalah gastrointestinal), penyakit kronik (karies gigi, asma, autisme, anemia sel sabit, alergi makanan, muscular dytrophy, dan cystic fibrosis), kurang gizi dan kebersihan mulut (Allender, Rector, & Warner, 2010). Friedman, Bowden, dan Jones (2003) mengemukakan bahwa masalah kesehatan yang ditemukan pada keluarga dengan balita salah satunya ialah masalah nutrisi. Kesimpulan yang dapat ditarik dari dua pendapat tersebut ialah masalah nutrisi, khususnya gizi kurang, merupakan masalah yang sering timbul dalam keluarga dengan balita.
Keadaan gizi kurang atau malnutrisi tidak hanya terjadi pada anak saja tetapi juga dapat dialami oleh orang dewasa seperti ibu hamil dan lanjut usia. Keadaan gizi kurang dapat dilihat sebagai suatu proses ketika kebutuhan normal terhadap satu atau beberapa nutrient tidak terpenuhi, atau nutrient-nutrien tersebut hilang dengan jumlah yang lebih besar daripada yang didapat (Supariasa, 2002). Hal ini didukung oleh Almatsier (2009) yang menyebutkan bahwa kurang gizi dapat terjadi karena seseorang mengalami kekurangan salah satu zat gizi atau lebih di dalam tubuh. Kesimpulan yang dapat diambil yakni gizi kurang ialah suatu keadaan dimana tubuh tidak mendapatkan pasokan gizi yang adekuat.
Kurang gizi sangat rentan terjadi di usia balita, karena beberapa sebab, yakni usia yang terlalu muda, ketergantungan pada orang lain dalam ketersediaan makanan, kelahiran prematur, BBLR, sistem imun dan sistem pencernaan yang imatur (Hitchock, Schubert, & Thomas, 1999). Potter dan Perry (2005) menyebutkan, kecepatan perkembangan menurun ketika usia toddler (usia 1-3 tahun). Pada masa balita anak membutuhkan nutrisi dari berbagai sumber dan makanan untuk tumbuh kembang, selain itu balita belum mampu mengkonsumsi atau mencerna makanan yang tersedia dan mereka cenderung mengalami malnutrisi karena kebutuhan akan zat gizi yang tinggi (Wong, 2008). Kebutuhan balita akan kalori lebih rendah namun terdapat peningkatan jumlah protein dalam hubungan dengan berat badan.
Toddler memerlukan minimum 2 porsi (480g) kelompok susu setiap hari untuk memberikan protein, kalsium, riboflavin dan vitamin A dan B12. Kalsium dan fosfor penting untuk perkembangan tulang. Separuh dari asupan protein toddler harus mengandung nilai protein biologi tinggi. Seluruh padi-padian, sereal yang diperkaya dan roti adalah sumber yang baik akan zat besi dengan tambahan pada daging. Toddler harus menerima 4 porsi setiap hari dari kelompok sayur dan buah.
Satu porsi harus mengandung sumber vitamin C yang baik. Sedangkan anak usia prasekolah (3-5 tahun) memerlukan kira-kira 480 g susu setiap hari, 30-90g dari kelompok daging, empat hingga lima porsi dari kelompok buah dan sayuran, tiga porsi seluruh padi-padian atau makanan yang diperkaya gizinya dari kelompok roti dan sereal, dan 3 hingga 4 sendok teh margarine atau mentega (Potter &
Perry, 2005).
Memperhatikan gizi seimbang balita dan tanda gejala balita dengan gizi kurang merupakan hal yang penting bagi keluarga dan perawat agar dapat mengantisipasi dan mengidentifikasi masalah gizi kurang. Wong (2008) menyebutkan bahwa balita dengan masalah gizi kurang memiliki tanda gejala seperti tampak kurus, kulit kering, terlihat kusam, rambut tipis kemerahan, penurunan berat badan, rewel, tampak tidak aktif, tidak semangat, dan tidak aktif. Depkes RI (2011) membagi balita dengan masalah gizi ke dalam 2 bagian, yakni gizi buruk dan gizi
kurang. Tanda dari balita gizi kurang ialah BB/TB berada diantara percentil -2 sampai -3 Standar Deviasi, Lingkar lengan atas berada di angka 11,5 sampai dengan 12,5 cm, tidak ada edema, nafsu makan baik, tidak ada komplikasi medis.
Balita yang dikategorikan gizi buruk mempunyai tanda gejala sangat kurus, edema minimal pada kedua punggung kaki, BB/PB atau BB/TB kurang dari -3 Standar Deviasi, lingkar lengan atas di bawah 11,5 cm (untuk anak usia 6-59 bulan). Balita dengan tanda gejala seperti ini merupakan balita yang harus diperhatikan perawat agar balita tersebut tidak mengalami tanda gejala lebih lanjut yang mengindikasikan komplikasi dari masalah gizi kurang. Munculnya tanda gejala gizi kurang perlu diperhatikan juga oleh keluarga agar dapat melakukan tindakan sedini mungkin untuk mengatasi masalah gizi kurang tersebut sebelum memberikan dampak lebih lanjut.
Gizi kurang memberikan dampak negatif bagi perkembangan dan pertumbuhan balita. Dampak kekurangan gizi adalah akibat negatif dari kekurangan gizi terhadap kesejahteraan perorangan, keluarga dan masyarakat sehingga dapat merugikan pembangunan nasional suatu bangsa (Soekirman et all, 2006). Depkes RI (2005) gizi kurang menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun mental, mengurangi tingkat kecerdasan, kreatifitas dan produktifitas penduduk. Hasil penelitian yang dilakukan Depkes RI (2003) menunjukkan bahwa IQ balita yang mengalami gizi buruk lebih rendah 13 poin daripada anak-anak yang cukup gizi. Hal-hal tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa gizi kurang dapat menyebabkan menurunnya tingkat kecerdasan, kognitif dan mental balita.
Gizi kurang juga memberikan dampak negatif bagi daya tahan tubuh balita.
Kekurangan asupan nutrisi, khususnya zat pengatur akan membuat tubuh mengalami kekurangan vitamin dan mineral dimana fungsi dari vitamin dan mineral ialah membantu tubuh untuk perlindungan terhadap penyakit (Departemen Gizi & Kesmas FKM UI, 2010). Fitriyani (2009) juga menyebutkan penyakit infeksi dan nutrisi merupakan dua hal yang saling mempengaruhi satu
sama lain. Kesimpulan yang dapat ditarik ialah Gizi kurang menyebabkan daya tahan tubuh balita menurun dan balita mudah sakit.
Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat FKM UI (2010) menyebutkan penyebab mendasar dari masalah kurang gizi ialah ketidakcukupan dan ketidakseimbangan pasokan zat gizi. Fitriyani (2009) menyebutkan penyebab langsung gizi kurang adalah makan tidak seimbang, baik jumlah dan mutu asupan gizinya, selain itu asupan zat gizi tidak dapat dimanfaatkan oleh tubuh secara optimal karena adanya gangguan penyerapan akibat adanya penyakit infeksi sehingga balita tidak cukup mendapatkan gizi seimbang. Kaitan infeksi dan gizi kurang seperti lingkarang yang sulit diputuskan, karena kondisi infeksi akan menyebabkan gizi kurang dan kondisi maltrunisi juga akan memberikan dampak buruk pada sistem pertahanan sehingga memudahkan terjadinya infeksi. Hal ini diperkuat oleh UNICEF (2010) yang menyebutkan ada dua faktor langsung penyebab gizi kurang pada balita yaitu faktor asupan makanan dan penyakit infeksi dan keduanya saling mendorong. Dari beberapa uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa penyebab langsung dari gizi kurang ialah asupan gizi atau makanan dan penyakit infeksi.
Fitriyani (2009) menyebutkan, selain penyebab langsung, masalah kurang gizi pada balita dapat disebabkan oleh penyebab tidak langsung. Tiga penyebab tidak langsung gizi kurang, yakni pendapatan keluarga, pendidikan orangtua, serta budaya. Zega (2012) menyebutkan penyebab tidak langsung dari masalah gizi ialah ketersediaan pangan keluarga, pola asuh serta pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan. Kedua sumber ini menjelaskan eratnya hubungan antara gizi kurang pada balita dengan faktor keluarga, salah satu faktor keluarga ialah pendidikan atau pengetahuan mengenai gizi.
Basuki (2003) mengemukakan penyebab gizi kurang adalah salah satunya rendahnya pengetahuan ibu tentang gizi, sehingga balita menjadi kurang diperhatikan dan akhirnya berat badannya pun di bawah standar. Hasil penelitian Mirayanti (2012) disebutkan bahwa pengetahuan keluarga dalam memilih
makanan sehat menunjukkan lebih banyak berpengetahuan tidak baik (63,4%).
Hasil penelitian Muhammad, Hadi, dan Budiman (2009) tentang pola asuh, asupan zat gizi, dan hubungannya dengan status gizi balita mengidentifikasi bahwa ada hubungan asupan zat gizi dengan status gizi balita menurut BB/U dan TB/U. Pengetahuan ibu mempengaruhi perilaku ibu terhadap pemenuhan kebutuhan gizi anaknya. Hasil penelitian Faith (2004) mengemukakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku orangtua dalam pemenuhan gizi dengan indeks masa tubuh anak. Hasil penelitian Chit, Kyi dan Thwin (2003, dalam Huriah, 2006) juga menyatakan bahwa berat badan anak sangat dipengaruhi oleh perilaku ibu dalam memenuhi kebutuhan gizi balita. Penulis menyimpulkan bahwa pendidikan mengenai gizi seimbang kepada keluarga dan motivasi untuk perubahan perilaku ibu terhadap gizi seimbang anak merupakan hal yang penting yang dapat dilakukan perawat keluarga guna membantu mengatasi masalah gizi kurang pada keluarga.