• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masalah Sosial yang Muncul Serta Penyebabnya

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 61-68)

C. Pembahasan 1. Setting Sosial Novel 1998

2. Masalah Sosial yang Muncul Serta Penyebabnya

Masalah sosial menurut Stark (dalam Daniar Murdi, 2011), dapat dibagi menjadi 3 macam, yaitu: (1) Konflik dan kesenjangan, seperti : kemiskinan, kesenjangan, konflik antar kelompok, pelecehan seksual dan masalah lingkungan; (2) Perilaku menyimpang, seperti: kecanduan obat terlarang, gangguan mental, kejahatan, kenakalan remaja dan kekerasan pergaulan; (3) Perkembangan manusia, seperti : masalah keluarga, usia lanjut, kependudukan (seperti urbanisasi) dan kesehatan seksual. Apabila dikaitkan dengan pendapat Stark tersebut, novel 1998 karya Ratna Indraswari Ibrahim memiliki beberapa masalah sosial yang sama. Terdapat empat masalah sosial, yaitu kejahatan (perilaku menyimpang), masalah generasi muda dalam

commit to user

masyarakat modern (perkembangan manusia),pertentangan/pertikaian/konflik (konflik dan kesenjangan), rasial (konflik dan kesenjangan).

a. Kejahatan

Kejahatan merupakan bentuk permasalahan sosial yang melanggar aturan hukum, sosial, dan agama. Pada novel 1998 karya Ratna Indraswari Ibrahim kejahatan yang muncul adalah banyaknya kasus orang hilang.

Orang-orang tersebut diduga sengaja dihilangkan, sebab mereka umumnya merupakan pihak oposisi yang membahayakan kedudukan presiden dan para sekutunya. Selain itu, adanya penembakan terhadap mahasiswa yang dilakukan oleh aparat. Kejadian tersebut bermula ketika mahasiswa melakukan demonstrasi secara besar-besaran, tiba-tiba terdengar suara tembakan dan beberapa mahasiswa tewas atas peristiwa tersebut.

Selanjutnya, terjadi pula kerusuhan yang mengakibatkan rusaknya fasilitas umum milik warga Tionghoa. Toko-toko dijarah dan dibakar, kemudian para wanita Tionghoa diperkosa.

b. Masalah Generasi Muda dalam Masyarakat Modern

Sikap Suwarno (ayah Putri) yang tidak setuju dengan langkah teman-teman Putri dalam berpartisipasi menyuarakan keinginan rakyat membuat Putri harus angkat bicara. Suwarno menganggap bahwa yang dilakukan teman-teman Putri tersebut adalah hanya untuk ikut- ikutan dan telah mendapatkan pengaruh dari lawan politik. Mendengar hal itu Putri langsung tersentak. Teman-teman Putri yang berdemonstrasi, memiliki tujuan murni untuk mewujudkan pemerintahan yang lebih baik. Mereka telah paham betul mengenai pemerintahan. Sebab, pemerintahan yang lalu telah menimbulkan banyak warga yang tidak berkembang. Untuk itu dibutuhkan sikap patriotisme untuk bisa mewujudkannya.

c. Pertentangan (Pertikaian/Konflik)

Pada Novel 1998 tergambar peristiwa-peristiwa yang merupakan pertentangan (pertikaian/konflik). Saat itu, Putri mendengar bahwa sudah banyak masyarakat yang melakukan pemberontakan. Hal ini sangat mengejutkan Putri. Masyarakat yang tadinya patuh dengan kebijakan

commit to user

pemerintah, sekarang mulai memberontak dengan mendengung-dengungkan demokrasi. Namun, banyak yang beranggapan bahwa hal tersebut merupakan suatu upaya lawan politik dalam merebut kekuasaan Suharto. Masyarakat dan mahasiswa bersama-sama berupaya menggulingkan jabatan Suharto. Foto presiden menjadi sasaran pembakaran mereka. Hal ini mengakibatkan Indonesia banyak merugi di beberapa sektor. Karena peristiwa tersebut, para pedagang tidak lagi berani membuka tokonya. Para siswa yang seharusnya belajar di kelas menjadi tidak tenang, bahkan secara psikologis dapat menimbulkan trauma tersendiri bagi masyarakat Indonesia.

d. Rasial

Novel 1998 karya Ratna Indraswari Ibrahim memiliki masalah sosial rasial yang tergambar cukup jelas. Banyak masyarakat Tionghoa menjadi terancam keberadaannya di Indonesia. Masyarakat etnis Tionghoa menjadi sasaran amuk warga apabila terjadi kerusuhan, karena mereka dianggap sebagai “anak kesayangan” Presiden Suharto saat itu. Di lain pihak, warga keturunan Tionghoa yang menjadi korban saat itu menjadi terancam jiwanya. Meskipun mereka termasuk Warga Negara Indonesia, namun mereka tidak nyaman berada di negeri mereka sendiri.

Namun, untuk mengatasi masalah- masalah sosial di atas tidaklah mudah, perlu dilakukan suatu upaya dalam melakukan perubahan dan perbaikan yang dilandasi oleh analisis. Lebih lanjut Hendropuspito (1989: 315) menegaskan, dengan pendekatan dari sudut mana pun, problem sosial selalu dikaitkan dengan penyimpangan dari kaidah sosial yang berlaku. Masyarakat tersebut dipandang sebagai suatu masyarakat yang tidak normal, masyarakat yang terbengkalai.

Untuk membuat masyarakat tersebut berfungsi normal, perlu diadakan analisis yang mendasar tentang sebab musababnya yang sesungguhnya, kemudian dirumuskan cara pengobatannya.

commit to user

Soekanto (1990:120) menjelaskan bahwa terdapat teori- teori sosiologis yang memusatkan perhatian pada masalah- masalah sosial, diantaranya sebagai berikut:

5. Ada anggapan kuat bahwa secara fundamental masalah- masalah sosial timbul dari disorganisasi sosial yang merupakan akibat perubahan sosial atau pembangunan. Organisasi suatu masyarakat mungkin agak terganggu oleh karena timbulnya pelbagai kepentingan baru yang harus dipenuhi. Pelbagai lembaga sosial dalam masyarakat yang semula berperan atas dasar kebutuhan-kebutuhan yang ada, mau tidak mau harus berubah (sebagian atau secara total), yang seringkali mengakibatkan terjadinya disorganisasi. Teori-teori yang membahas masalah- masalah sosial semacam ini biasanya berkaitan dengan persoalan-persoalan umum yang dihadapi dalam perubahan atau revolusi.

6. Teori lainnya didasarkan pada masalah- masalah yang menyangkut penyimpangan pribadi. Masalah-masalah sosial ditimbulkan oleh pribadi-pribadi yang mengalami kekurangan dalam perkembangan jiwa, melanggar aturan, dan yang kurang mampu untuk menerima pola normatif yang berlaku, baik melalui pendidikan maupun sarana lainnya. Pusat perhatian teori-teori yang mempergunakan pendekatan ini adalah perilaku menyimpang secara kolektif dan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi terhadap kaidah-kaidah umum. Penanggulangan masalah dicari pada hubungan antarmanusia atau interaksi.

7. Teori-teori selanjutnya berpokok pangkal pada pertentangan nilai- nilai.

Pertentangan nilai- nilai ada apabila terjadi sikap-sikap yang bertentangan dan pola pemecahan masalah sosial yang tidak sesuai satu dengan yang lainnya.

Teori-teori ini lazimnya mencari upaya pemecahan dengan mempergunakan pendekatan nilai atau institusional. Denga n demikian, maka suatu masalah sosial sebenarnya merupakan tanggapan terhadap pertentangan nilai- nilai, pertentangan kelompok sosial, maupun konflik untuk mendapatkan kekuasaan, kekayaan materiil, atau kedudukan.

8. Ada pendapat-pendapat yang menyatakan bahwa masalah sosial berkaitan dengan terjadinya ketidaksepakatan mengenai kaidah-kaidah yang berlaku.

commit to user

Ketidaksepakatan itu timbul oleh karena ketidakmampuan sistem pengendalian sosial atau manajemen sistem sosial menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi. Penyebab utama terjadinya masalah-masalah sosial tersebut adalah terjadinya perubahan-perubahan sosial yang ternyata menyebabkan terjadinya disorganisasi sosial yang tidak dapat diatasi.

3. Cara Mengatasi Masalah Sosial

Soetomo (2008: 29) menjelaskan apabila dilihat dari proses untuk melakukan studi masalah sosial maupun proses untuk melakukan upaya penanganan masalahnya dikenal adanya tiga tahap yaitu identifikasi, diagnosis dan treatment.

Tahap identifikasi dilakukan untuk membuka kesadaran dan keyakinan bahwa dalam kehidupan masyarakat terkandung gejala masalah sosial. Lebih dari itu, tahap ini selain memberikan awareness akan keberadaan masalah sosial juga berfungsi untuk mengubah masalah sosial laten menjadi manifes, serta selanjutnya memberikan inspirasi dan dorongan bagi dilaksanakannya langkah berikutnya yaitu diagnosis dan treatment.

Tahap diagnosis dimaksudkan sebagai upaya untuk mencari dan mempelajari latar belakang masalah, faktor yang terkait dan terutama faktor yang menjadi penyebab atau sumber masalah. Selanjutnya, tahap treatment merupakan upaya pemecahan masalah sosial yang didasari oleh hasil diagnosis.

Oleh karena itu, agar peristiwa tersebut tidak terulang kembali, maka harus ada revolusi pergantian rezim dan pemimpinnya. Pemimpin yang amanah adalah salah satu kunci untuk mewujudkan reformasi. Selain itu, dibutuhkan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat dalam mewujudkan pemerintah yang lebih baik. Masing- masing diharapkan memiliki kesadaran untuk berperilaku sesuai nilai- nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakat.

commit to user 4. Nilai-Nilai Pendidikan

Nilai adalah harga atau ukuran yang diberikan seseorang atau sekelompok manusia terhadap segala hal yang dianggap baik atau buruk untuk kebaikan bersama. Selanjutnya, pengertian pendidikan merupakan suatu proses bimbingan, tuntunan atau pimpinan yang di dalamnya mengandung unsur- unsur seperti pendidik, anak, tujuan, dan sebagainya.

Karya sastra yang baik adalah karya sastra yang memiliki nilai, termasuk di dalamnya nilai edukatif atau nilai pendidikan. Nilai yang terkandung di dalam karya sastra dapat dijadikan pedoman bagi penikmatnya, terutama bagi generasi muda. Sebuah karya sastra yang baik pada dasarnya mengandung nilai- nilai yang perlu ditanamkan pada generasi muda. Waluyo (1990: 27) menyatakan bahwa nilai sastra berarti kebaikan yang ada dalam makna karya sastra bagi kehidupan. Sejumlah nilai edukatif dapat ditemukan dalam suatu karya sastra (novel). Nilai- nilai dapat dipetik melalui peristiwa-peristiwa yang ada, karakter tokoh cerita, hubungan antartokoh dalam cerita, dan lain- lain.

Oleh karena itu, ada beberapa nilai pendidikan yang bisa diperoleh dari sebuah cerita (novel). Nilai pendidikan itu diantaranya adalah yang berhubungan dengan religius (agama), moral, budaya, dan sosial (Mardiatmadja, 1989: 55).

a. Nilai Pendidikan Religius

Mangunwijaya (dalam Nurgiyantoro, 2005: 329) mengatakan bahwa religiositas adalah konsep keagamaan yang menyebabkan manusia bersikap religius. Nilai religius merupakan suatu pelajaran yang dapat diambil dari sudut pandang yang mengikat manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. Berbicara tentang hubungan manusia dan Tuhan tidak terlepas dari pembahasan agama. Pada Novel 1998 karya Ratna Indraswari Ibrahim mengandung nilai pendidikan religius antara lain: kita sebagai manusia diharapkan selalu mengingat, berdoa, serta tawakal hanya kepada Allah. Sebab hanya Allah yang mampu memberikan kenyaman hati untuk dapat menerima segala yang akan terjadi/segala keputusannya dengan ikhlas. Segala permasalahan akan memiliki jalan keluarnya

commit to user

masing- masing dengan usaha, berdoa serta ikhtiar. Oleh karena itu, diharapkan manusia mampu memiliki sikap ikhlas dalam menerima segala keputusan-Nya atas permasalahan yang dihadapi.

b. Nilai Pendidikan Moral

Pengertian karya sastra yang mengandung nilai moral menurut Darusuprapta (1990: 4) adalah teks yang memiliki kandungan unsur moral yang diajarkan oleh tokoh utama yang mewarnai keseluruhan isi teks, kaidah-kaidah yang memandang baik-buruk sesuatu, aturan-aturan yang melarang atau menganjurkan seseorang dalam menghadapi lingkungannya. Kesusilaan atau moral merujuk pada akhlak, budi pekerti, sikap, dan sebagainya. Nilai kesusilaan juga terkandung dalam karya sastra. Nilai pendidikan moral yang terdapat dalam Novel 1998 adalah mahasiswa yang berpikir kritis, memiliki sikap patriotik, serta anak muda yang bercita-cita tinggi.

c. Nilai Pendidikan Sosial

Nilai sosial merupakan nilai yang berkaitan dengan hubungan antarmanusia. Sejatinya manusia merupakan makhuk individu sekaligus makhluk sosial. Setiap manusia memiliki tugas untuk menjaga keselarasan dalam hidup bermasyarakat atau sering disebut dengan kewajiban sosial. Kewajiban sosial berkaitan dengan hubungan antarmanusia satu dengan yang lain dalam satu masyarakat. Hubungan-hubungan sosial itu tidak sama, tetapi ada semacam tingkatannya. Semi (1993: 22) mengungkapkan bahwa dorongan sosial berkenaan dengan pembentukan dan pemeliharaan jenis-jenis tingkah laku dan hubungan antarindividu dan masyarakat yang sama dengan bersama-sama memperjuangkan kesejahteraan yang berkepentingan. Nilai pendidikan sosial selalu berhubungan dengan masyarakat atau sistem sosial. Pada Novel 1998 karya Ratna Indraswari Ibrahim terdapat dua nilai pendidikan sosial, yaitu persahabatan dan sikap peduli kepada anggota keluarga. Persahabatan Putri dan kawan-kawan terbentuk dari adanya hobi, cara pandang, dan misi yang sama khususnya di bidang politik.

commit to user

Meskipun mereka berasal dari latar budaya yang berbeda, namun mereka tidak menganggap semua itu sebagai sebuah ketidaknyamanan.

Sedangkan sikap peduli kepada anggota keluarga digambarkan melalui sikap kakak Putri yang sering menelepon keluarganya di Indonesia. Ia sering menanyakan kabar serta memberikan solusi agar keluarganya dapat selamat dari kondisi politik Indonesia yang tidak baik.

d. Nilai Pendidikan Budaya

Nilai budaya tidak terlepas dari nilai estetika yang identik dengan unsur keindahan yang terdapat dalam karya sastra. Sebuah karya sastra mempunyai aspek-aspek keindahan yang melekat pada karya sastra itu.

Semi (1993: 56) menyatakan bahwa fungsi estetika sastra adalah penampilan karya sastra yang dapat memberikan kenikmatan dan keindahan bagi pembacanya. Misalnya, dalam sebuah novel pilihan kata, pilihan gaya bahasanya, dan dapat diamati ekspresi, tingkah laku karakter tokohnya. Nilai kultural juga dapat mengandung hubungan yang mendalam dengan suatu masya rakat, peradaban, atau kebudayaan. Novel 1998 karya Ratna Indraswari Ibrahim juga memiliki nilai pendidikan budaya yang tersirat. Berani berpendapat di muka umum dan tidak ada kesenjangan antar generasi merupakan nilai budaya yang dapat diambil dari novel tersebut.

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 61-68)

Dokumen terkait