commit to user
50 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
Ratna Indraswari Ibrahim dikenal sebagai pribadi yang tegas, sama sekali bertolak belakang dengan kondisi difabel seluruh anggota badannya, tangan, dan kaki. Dibalik kursi rodanya, Ratna secara faktual bertindak sebagai pemimpin dan benar-benar disegani. Seperti karakter dalam cerpen dan novelnya, yang umumnya mengisahkan perempuan yang sedang berjuang menghadapi proses subordinasi yang sedang dihadapi karakternya. Lahir di Malang, Jawa Timur, 24 April 1949. Anak kelima dari sepuluh bersaudara ini mengaku bahwa bakat mengarangnya menurun dari simbah buyutnya yang menjadi pawang cerita di Minang. Pada sekitar usia tiga belas tahun dia mengalami penyakit rachitis (radang tulang) yang mengakibatkan kedua kaki dan tangannya tidak berfungsi, sehingga ia harus duduk di atas kursi roda. Keterbatasan fisik seperti ini bukan menjadi hambatan baginya untuk mengembangkan pribadinya.
Pernah berkuliah di Fakultas Ilmu Alam Universitas Brawijaya, Malang, namun tidak ia rampungkan. Dalam proses kepenulisannya, ia banyak mendapat inspirasi dari historiografi, yakni menceritakan kejadian-kejadian masa lampau, baik berunsur sejarah atau legenda. Namun karena cacat fisik yang tidak memungkinkan dia menulis langsung, dia hanya mendiktekan kepada para asistennya untuk mengetik, baru kemudian merevisinya.
Dengan perjuangan teknis seperti itulah cerpen dan novelnya lahir, dan memiliki karakter yang sangat khas dengan kewanitaannya. Karyanya antara lain:
berupa kumpulan cerpen yang dimuat dalam antologi Kado Istimewa (1992), Pelajaran Mengarang (1993), Lampor (1994), Laki-Laki yang Kawin dengan Peri (1995), Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (1997), Lakon di Kota Senja (2002), dan Waktu Nayla (2003).
Kumpulan cerpennya yang lain: Aminah di Suatu Hari, Menjelang Pati (1994), Namanya Masa (2000), dan Sumi dan Gambarnya (2003). Karya-karya cerpennya tersebut banyak dimuat di berbagai media massa seperti Kompas,
commit to user
Horison, Basis, Suara Pembaruan, Kartini, Sarinah, Jawa Pos, dan banyak lagi.
Dia juga menerbitkan novel yaitu Bukan Pinang Dibelah Dua (2003) dan Lemah Tanjung (2003).
Atas aktifnya dalam dunia sastra, tercatat beberapa kali dia meraih beberapa penghargaan, antara lain, tiga kali berturut-turut crpennya masuk dalam antologi cerpen pilihan Kompas (1993-1996), cerpen pilihan harian Surabaya Post (1993) serta juara tiga lomba penulisan cerpen dan cerbung majalah Femina (1996-19970. Karyanya juga terpilih masuk dalam Antologi Cerpen Perempuan ASEAN (1996).
B. Hasil Penelitian 1. Setting Sosial Novel 1998
Novel 1998 karya Ratna Indraswari Ibrahim memiliki setting sosial pada masa akhir pemerintahan Presiden Soeharto. Dilihat dari judulnya, novel tersebut menceritakan tentang masa pergolakan yang terjadi di Indonesia. Pada saat itu banyak terjadi demonstrasi hingga berujung pada kerusuhan. Peristiwa ini tak dapat dipisahkan dari krisis moneter. Krisis moneter tersebut berkembang menjadi krisis politik. Kepercayaan rakyat yang tadinya seratus persen kepada pemerintah seketika berubah menjadi perlawanan yang mengerikan. Mahasiswa diberbagai universitas di Indonesia tidak tertinggal dalam melaksanakan aksinya dengan demonstrasi besar-besaran. Demonstrasi yang dilakukan semakin hari semakin marak dan berani dengan tuntutan agar harga- harga diturunkan dan agenda reformasi segera dilaksanakan.
Penjarahan dan pembakaran berbagai fasilitas umum terjadi di mana- mana, pembunuhan yang disertai tindakan yang biadab terhadap etnis tertentu terjadi di berbagai daerah. Salah satu tuntutan yang kemudian muncul pada saat itu adalah turunkan Soeharto dan para kroni-kroninya yang dianggap telah bersalah kepada rakyat. Kerusuhan tersebut telah banyak memakan korban jiwa dan materi.
Setelah menghadapi demonstrasi secara bertubi-tubi dan kerusuhanpun tidak terkendali, Presiden Soeharto akhirnya mengundurkan diri. Selanjutnya, pemerintahan diambil alih oleh presiden yang baru kemudian reformasi digulirkan
commit to user
dengan agenda-agenda perbaikan di berbagai bidang kehidupan berbangsa baik sosial, politik, ekonomi, pendidikan, maupun pertahanan dan keamanan.
Dalam novel 1998 karya Ratna Indraswari Ibrahim menggambarkan kehidupan anak Walikota malang bernama Putri. Putri kuliah di Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya di Kota Malang. Di sana dia bertemu kawan-kawan baru.
Kota Malang pada bulan ini masih sisakan musim kemarau. Suhu udara dingin saat pagi hari dan menjelang malam. Usai berdandan aku menutup kancing blazer lalu mengambil buku-buku. Akupun menyetir mobil menuju kampus. Ini masih pagi lalu- lintas belum ruwet. Setiba di kampus, dosen tidak datang!
Pada pertengahan 1994 aku masuk kuliah di Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya di Kota Malang. Aku masuki dunia kampus dan bertemu dengan teman-teman baru: Neno, Heni, Marzuki, Gundul, Rudi, dan Zizi. Mereka adalah magnet yang beredar di duniaku. Daya tarik mereka luar biasa. (Ibrahim, 2012: 1).
Pada masa itu, tidak banyak orang yang menentang peraturan pemerintah.
Meskipun ada beberapa pihak yang berani berpendapat, namun mereka belum berani menyatakan secara terang-terangan. Mahasis wa dapat berkreasi atau menyalurkan aspirasi mereka melalui tulisan. Di setiap kampus terdapat majalah fakultas yang selalu menyajikan peristiwa terkini dan juga berfungsi sebagai penyalur aspirasi mahasiswa terhadap kepentingan publik. Seperti fakultas lainnya, fakultas Putri juga memiliki majalah fakultas sendiri yang dipajang di dinding dan diberi nama Radikal (Ora Wani Dicekal).
Hari ini memang tidak ada deadline majalah fakultas kami, jadi tak ada orang tertidur di ruang penerbitan. Aku memutuskan untuk menunggu sambil melirik majalah dinding Radikal (Ora Wedi Dicekal) yang tak satupun topiknya memikat hatiku. (Ibrahim, 2012: 3)
Selain itu, buku-buku yang beredar pada masa itu pun diawasi secara ketat oleh pemerintah. Buku-buku yang dianggap kontra oleh pemerintah dilarang untuk diedarkan bahkan dibaca oleh masyarakat. Untuk memenuhi rasa ingin tahunya, masyarakat harus sembunyi-sembunyi, bahkan Putri. Rasa takutnya kepada ancaman pemerintah membuat orang tua Putri mengultimatum anaknya.
commit to user
Inilah salah satu penyebab matinya kreativitas generasi muda. Masyarakat seolah- olah dibuat bisu oleh pemerintah.
Mama tidak pernah suka kalau memergoki aku membaca buku itu karena semua buku Pramoedya dilarang beredar oleh pemerintah. Mama selalu bilang, “itu buku komunis! Berbahaya kalau orang-orang tahu kamu baca buku itu, nduk!”(Ibrahim, 2012: 4).
Ya sekalipun orangtuaku senang membaca, tentu saja Papa dan Mama tidak pernah menganjurkan untuk membaca buku-buku semacam itu. Papa acapkali bilang,”buku–buku seperti itu cuma untuk wacana saja. Isinya bukan realitas kehidupan kita. Oleh karena itu Orde Baru melarangnya. Saya tidak akan pernah mengizinkan kau membaca apa-apa yang tidak disukai pemerintah. Bukankah pemerintah sekarang sudah menuju kemakmuran?
Makanya saya tidak paham mengapa anak-anak muda demo. Mereka pikir mudah memerintah? Saya saja yang walikota, pusing!” (Ibrahim, 2012: 6) Kembali Putri mencoba membaca buku politik milik papanya dan tidak ada jawaban untuk kondisi sekarang. Barangkali, Neno benar ketika dia bilang,
“situasi politik di Indonesia sulit diduga. Suharto harus turun. Kita ini sudah dididik menjadi masyarakat yang bisu olehnya. Dia mengusung budaya Jawa, mendem jeru mikul dhuwur. Sebuah petuah yang cerdik, artinya kita dilarang untuk beda pendapat. Seolah-olah yang beda pendapat itu kafir!”
(Ibrahim, 2012: 21).
Orde baru merupakan zaman di mana hak asasi manusia dipandang sebelah mata. Masyarakat dilarang untuk berbeda pendapat dengan pemerintah. Selain itu, menceritakan atau membicarakan tentang kekurangan pemerintah pada zaman itu pun dianggap sebagai pemberontak. Orang-orang yang dianggap sebagai pemberontak oleh pemerintah akan mendapatkan hukuman.
Putri tidak menjelaskan lebih jauh. Barangkali inilah romantisnya hidup di zaman ini. Nuraini, Bunda Neno itu melihat dalam diri Putri ada kebencian yang semakin melebar terhadap kekuasaan yang sudah lama dibina oleh sebuah pribadi yang begitu keras. Putri adalah cermin masyarakat sudah tidak suka lagi dengan presiden seperti itu. Tapi kenyataannya selama ini Putri dan juga rakyat sudah lama tidur, ditidurkan sehingga satu generasi telah kehilangan kreativitasnya. (Ibrahim, 2012: 122)
“…Padahal jangankan demo, membicarakan saja kita dulu sudah takut setengah mati. Seolah-olah dinding punya telinga dan kita sewaktu-waktu bisa masuk penjara. Seorang aktifis buruh kita bercerita kepada warga Australia waktu dia datang ke sini tentang dibungkamnya demokrasi di Indonesia. Ketika aktifis buruh itu pulang ia segera ditahan oleh pihak
commit to user
kepolisian dengan tuduhan subversive, yang ancamannya puluhan tahun penjara.” (Ibrahim, 2012: 178)
Aneh juga karena duniaku yang kini sangat berbeda. Siapa yang memulai?
Aku atau lingkunganku? Tidak jelas, tapi yang jelas aku merasa asyik di dunia mimpi teman-temanku di ma na mereka seakan-akan bisa meruntuhkan dunia yang sudah tidak adil lagi. Mereka meruntuhkan kekuasaan di tangan seseorang sangat luar biasa berpengaruh. Kekuasaan itu seperti kekuasaan raja-raja zaman dahulu di mana tanah dan rakyat milik raja. (Ibrahim, 2012: 200)
Neno membatin, ketakutan sudah melanda penduduk Indonesia selama 30 tahun lebih. Tak seorangpun berani berbicara bebas, bahkan orang akan takut berbicara dengan orang asing kalau masalahnya adalah tentang pemerintahan. Mereka harus berpikir secara seragam dan yang berbeda itu sudah melakukan tindakan subversive. Memang roda perekonomian lebih bagus daripada di zaman Sukarno. Namun ditinjau dari kepentingan yang lebih luas, Neno, Gundul dan yang lain melihatnya sebagai belenggu yang harus dilepaskan. Apakah ini salah? (Ibrahim, 2012: 228)
Dari kutipan di atas, dapat diketahui bahwa ada yang disembunyikan oleh pemerintah pada masa itu. Pemerintah tidak memberi kebebasan kepada masyarakatnya dalam bertindak, berpendapat, bahkan membaca. Berbagai cara dilakukan pemerintah dalam upaya menyatukan pemikiran masyarakat di bawah satu pemerintahan yang otoriter. Masyarakat cenderung dimanjakan dengan pemerintahan yang aman, nyaman, dan tenteram. Seluruh masyarakat disetting agar bisa menjadi satu pemikiran dengan jalan membentuk pemerintah yang otoriter. Meskipun demikian, lambat laun masyarakat menilai bahwa pemerintahan pada masa itu cukup baik. Masyarakat merasa dilindungi oleh pemerintah. Begitupula anggapan ayah dan ibu Putri.
Terlintas dalam pikiranku apa yang belakangan Papa bilang, “coba kau pikir, buat apa sih teman-temanmu demo? Tidak akan merubah apapun. Pak Harto punya mata telinga melebihi apa yang kalian kira. Saya sendiri menganggap pak Harto cukup bagus melakukan kepemimpinan pada saat ini.” (Ibrahim, 2012: 5).
Seperti bakal ada revolusi yang berdarah-darah. Aku masih bisa mendengar diskusi teman-teman saat mengatupkan mata dan merasa ngeri sendiri.
Padahal Mama sering bilang, “nduk, hidup di zaman ini membuat aku merasa terlindungi.” (Ibrahim, 2012: 6).
commit to user
Demonstrasi di mana- mana membuat masyarakat tidak nyaman. Rasa khawatir tidak hanya dirasakan oleh keluarga Putri. Dampak dari tumbangnya pemerintahan Suharto dirasakan pula oleh Heni, sahabat Putri. Dia dan keluarganya khawatir akan menjadi sasaran dalam kemarahan masyarakat karena mereka beretnis Tionghoa. Pada masa itu, terdapat kesenjangan antara rakyat yang kaya dan rakyat yang miskin. Sebagian besar masyarakat etnis Tionghoa masuk ke dalam golongan rakyat yang kaya. Hal ini mengakibatkan terjadinya kecemburuan sosial di kalangan rakyat miskin. Selain itu, masyarakat etnis Tionghoa juga dianggap sebagai penyebab terjadinya krisis moneter.
Langkah mereka terhenti! Sekitar lima sampai tujuh mahasiswa membawa poster menuntut Suharto turun dari tampuk kepresidenan. Heni murung,
“kalau ada demo-demo begini, aku teringat Mama. Karena Mama menganggap etnis kamilah yang diganyang lebih dahulu kalau ada apa- apa.”(Ibrahim, 2012: 10).
Barusan papaku telepon, dia tidak mengizinkan aku keluar kemana- mana dulu. Jadi Put, besok acara berenangnya batal yah. Apalagi Papa bilang sebaiknya aku masuk asrama yang diurus biarawati saja karena tempat itu aman dari situasi politik yang tidak menentu seperti sekarang. Putri, tolong tanyakan ke papamu apakah politik ini bakal keruh lagi? Neno tadi mengajakku untuk demo besok pagi. Kalau nggak tanya papamu, kamu kan bisa menanyakan ke beberapa staf papamu. Aku merasa tidak nyaman dengan situasi kampus sekarang. Kamu ngerti, aku ini etnis Tionghoa!”
(Ibrahim, 2012: 15)
Putri selalu merasa sedih mendengarkan itu. Sejarah sudah bercerita, etnis Tionghoa sering dikoyak- moyak. Seolah-olah kesulitan bangsa ini disebabkan oleh etnis Tionghoa, tanpa ada penjelasan lebih terperinci lagi…. (Ibrahim, 2012: 171)
Rasa aman, nyaman, dan tenteram membuat Suharto dapat menjabat sebagai pemimpin di negeri ini dalam waktu tiga puluh tahun lebih. Hampir semua permasalahan negara dapat diatasi, bahkan nyaris tidak ada. Masyarakat hidup enak di dalamnya. Semua masyarakat patuh terhadap perintahnya, tidak terkecuali para pejabat baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Mereka yang terlibat di dalamnya dianggap sebagai kroni-kroni Suharto. Ayah Putri, Suwarno, seorang walikota Malang yang jabatannya bergantung kepada kesetiannya kepada pemerintah. Melalui jabatan itulah keluarga Putri menjadi hidup lebih
commit to user
berkecukupan. Oleh karena itu, adanya peristiwa demonstrasi besar-besaran yang kontra terhadap presiden, membuat Suwarno marah, sedih, kecewa, serta lebih protektif kepada keluarganya. Maka, Suwarno berharap kepada keluarganya agar tidak melakukan aktivitas yang dianggap membahayakan Suwarno dan keluarganya.
Putri menggandengnya lekas-lekas untuk keluar dari areal parkir, “tidak akan ada apa-apa. Kata papaku, Suharto orangnya ngerti strategi militer.
Jadi Suharto menerapkan juga teori itu dalam kepemimpinannya.
Bayangkan saja Hen, sudah tiga puluh tahun lebih ia membungkam lawan politiknya!” (Ibrahim, 2012: 10).
Putri menjawab dengan suara rendah, “yah, karier papaku bisa hancur- hancuran kalau aku terliput wartawan.” (Ibrahim, 2012: 12)
Saat itulah papanya menelepon, “kau tadi tidak ikut demo kan? Teman- temanmu itu tahu apa tentang pemerintahan ini! Paling-paling mereka sudah dipengaruhi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab! Dengar- dengar ada yang mendalangi mereka!” (Ibrahim, 2012: 13)
“Nduk, para walikota dan bupati se-Jawa Timur akan konsolidasi di Surabaya. Kalau tidak perlu benar jangan keluar malam dan batasi pergaulanmu dengan teman-teman aktifis.” (Ibrahim, 2012: 61)
Suasana semakin mencekam. Banyak pemberitaan di media elektronik internasional yang menayangkan demonstrasi yang terjadi di beberapa daerah.
Demonstrasi yang dilakukan pun semakin anarki. Tidak hanya berani berdemonstrasi sambil meneriakkan yel- yel turunnya presiden, mahasiswa pun semakin berani menentang pemerintah dengan membakar gambar atau foto presiden. Selain itu, di kampus-kampus juga mulai marak diadakannya diskusi secara terbuka tentang perlunya pemerintahan yang demokrasi. Hal ini menunjukkan bahwa situasi politik Indonesia semakin memburuk. Lamanya Suharto berkuasa, banyak yang beranggapan bahwa situasi tersebut dibuat oleh lawan politik untuk menggulingkan Suharto dari kursi pemerintahannya.
Meskipun demikian, keputusan pemerintah untuk bersikeras melarang media massa mengabarkan peristiwa tersebut tidak berhasil.
Film kartun telah usai dan tayangan berganti dengan berita tentang demonstrasi yang sedang marak di beberapa daerah! (Ibrahim, 2012: 13)
commit to user
…Penyiar radio mancanegara sekali lagi mengabarkan, “situasi di Indonesia semakin buruk. Presiden tidak mengizinkan surat kabar menceritakan tentang demo-demo di kampus. Padahal di salah satu kampus, mereka sudah membakar foto presiden yang sudah berkuasa selama 30 tahun lebih itu.
Salah satu koresponden kami menjelaskan tidak ada satu koran pun berani memuat berita ini.” (Ibrahim, 2012: 39).
Kasak-kusuk di luar media lebih dipercayai orang. Dia mendengar ada banyak pemberontakan yang muncul di luar Jawa. Adapun hampir semua orang percaya ini dilakukan oleh lawan politik yang ingin berkuasa. Papa Putri sendiri bilang: kekuasaan hari ini sedang diguncang oleh musush politik. (Ibrahim, 2012: 64)
“Situasi politik semakin keruh, banyak aktifis yang terang-terangan tidak lagi menyukai kepemimpinan yang sudah berjalan 32 tahun (tersiar kabar adanya orang-orang yang menganut paham reformasi). “ (Ibrahim, 2012:
81)
Secara rutin mendengar siaran radio dari luar negeri, maka dapat dipantau bahwa aksi demo mahasiswa semakin garang. Para mahasiswa sudah tidak takut lagi untuk berdemo dan meneriakkan yel- yel agar presiden turun.
Semakin banyak mahasiswa ikut demo, mereka sudah merangsek ke gedung DPR. Debat terbuka tentang perlunya demokrasi semakin marak. Diskusi- diskusi di kampus sudah sangat banyak, media massa cetak maupun elektronik sudah menyiarkan demo-demo mahasiswa yang menurut Papa kian brutal dan kasar saja. (Ibrahim, 2012: 88)
Tidak berhenti di situ, suasana mencekam terus berlanjut hingga sampai pada tindakan perusakan fasilitas umum atau harta benda milik orang lain. Sebuah toko milik keturunan Tionghoa dibakar. Barang-barang di mall milik orang Tionghoa juga tak luput dari penjarahan. Karena peristiwa tersebut, banyak toko- toko yang tutup dan orang Tionghoa takut untuk keluar dari kediaman mereka.
Terlebih lagi para wanita Tionghoa. Mereka bisa saja menjadi korban tindakan asusila oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab.
“Ah tunggu! Ada kejadian yang tidak enak sebetulnya yaitu sebuah toko kecil milik perempuan peranakan Tionghoa terbakar atau dibakar? Dan perempuan itu menangis,”saya tidak punya rencana apa-apa di negeri ini.
Mengapa toko saya harus dibakar?” (Ibrahim, 2012: 120)
commit to user
Aku menstater mobil dan ketika sampai di rumah Mama memelukku, “Nduk tadi mama Derina menelepon! Dia menangis karena saat ini Derina di mal yang ada bakar-bakaran dan penjarahan itu.” (Ibrahim, 2012: 208)
Tanpa babibu Derina nyerocos, “aku memang terkepung dan mungkin lama- lama bisa diperkosa orang. Kau dengar kan banyak perempuan Tionghoa diperkosa? Oya, entah dari arah ma na aku bertemu pacarmu. Dialah yang menyeretku masuk rumah sakit. Di sanalah Papa menjemputku. Neno bilang segera akan meneleponmu.” (Ibrahim, 2012: 209)
“…. Aku semakin tertarik ketika ada berita bahwa mal- mal itu kelihatannya sengaja dibakar dan orang-orang di dalamnya dibiarkan hangus terbakar.
Tiba-tiba negeri ini menjadi kejam. Oya, pagi kudengar dari radio mancanegara bahwa ada perusuh yang mengaku begini, saya sebetulnya tidak berniat ke mal.saya malah akan ke sebuah rumah sakit untuk menjadi juru parker. Namun ketika keluar dari gang rumah, saya dengar orang berteriak-teriak: ayo kita rampas barang-barang Cina di mal- mal! Saya dan orang-orang berlari ke mal. Saya mengusung sebuah TV dan terdengar kalau kita juga harus mengambil barang yang lain. Lalu saya ingat hari ini hari pertama bekerja sebagai tukang parker di rumah sakit. Pekerjaan ini saya dapat dari ibu mertua saya yang jadi pelayan dapur di rumah sakit tersebut. Saya pikir, begitu selesai kerja saya akan kembali ke mal tapi mal sudah hangus. Salah satu teman saya yang selamat dari kobaran api bercerita, dia memang disuruh masuk lagi oleh seseorang kemudian mal ini seperti dibakar. Cuma karena kehendak-Nya teman saya itu bisa keluar dari mal tersebut.” (Ibrahim, 2012: 257)
Adanya tindakan anarki tersebut tidak membuat pemerintah diam.
Pemerintah kemudian ambil tindakan dalam masalah ini. Para mahasiswa yang dianggap sebagai pelopor tindakan anarki tersebut dihilangkan hingga tak ada seorang pun yang tahu keberadaannya. Sebagai puncak kemarahan pemerintah atas kejadian yang dilakukan oleh mahasiswa, pemerintah menganjurkan atau membolehkan aparat untuk melepaskan tembakan kepada mahasiswa yang dianggap anarki atau memelopori mahasiswa lain dalam demo besar-besaran yang terjadi di Trisakti.
“Tapi Bunda, kata papaku melawan kekuasaan hari ini seperti membunuh diri sendiri. Beberapa pemuda teman Neno sudah hilang! Papa saya khawatir kalau mereka sengaja dihilangkan baik oleh pemerintah maupun oleh lawan- lawan politik!” (Ibrahim, 2012: 57)
Putri merasa kehilangan akal sehatnya. Tertera di surat kabar ada penculikan lagi. Lebih dari ituada kabar pihak yang berkuasa mencoba menghilangkan
commit to user
oposisi. Putri khawatir Neno termasuk daftar orang-orang yang dihilangkan.
Sesampainya di kantor komnas HAM, Putri me laporkan hilangnya Neno.
Mereka mencatat. Keseriusan mereka menakutkan Putri, menanyakan cirri- ciri Neno dan foto terakhirnya, “kami akan menyiarkan foto ini, Mbak.
Kalau dalam sekian bulan tidak ada kabar baru bisa dimasukkan dalam daftar orang hilang.” (Ibrahim, 2012: 224)
Pagi-pagi sekali akupun mendengarkan siaran berita dari luar negeri. Aku mendengarkan komentar seorang seniman yang dianggap kiri oleh pemerintah sehingga kewarganegaraannya dicabut, “pada 1965 memang banyak orang dibunuh tanpa diadili. Sedangkan sejak 1997 sampai sekarang 1998, lebih buruk dari tahun-tahun sebelumnya. Sudah terlalu banyak orang hilang dan tidak jelas apakah yang bersangkutan meninggal dunia atau masih hidup. Sedangkan minggu kemarin ibu saya meninggal, saya tidak bisa pulang karena tidak ada izin untuk pulang ke Indonesia. Terus terang saya juga takut untuk pulang sehingga saya merasa sangat bersalah atas ketidakhadiran saya. Perasaan bersalah itu seperti beban yang tidak bisa hilang sampai hari ini. Kepada saudara-saudara saya yang masih di tanah air, marilah bersama-sama membebaskan kekuasaan yang membelenggu selama 32 tahun itu.” (Ibrahim, 2012: 258)
Sepulang dari kantor pos, mengirim surat elektronik untuk heni, sesampai di rumah, Marzuki meneleponku. Marzuki bilangdia menelepon dari warung telekomunikasi yang tidak jauh dari Senayan, “kau tahu Put, barusan ada penembakan di Trisakti. Kabarnya simpang siur, konon ada yang meninggal. Dengarkan saja beritanya dari radio luar negeri atau mungkin besok muncul di TV. (Ibrahim, 2012: 205)
Aku tertawa. Sungguh aku sedikit senang meskipun saat membaca media massa, kita semua bisa jadi ngeri. Ada mahasiswa Universitas Trisakti yang tertembak. Hal itu membuat para mahasiswa semakin marah. Sementara gelombang demo di Kota Malang sendiri semakin banyak, kalau dulu sepuluh orang saja yang demo di Universitas Brawijaya, sekarang hampir semua mahasiswa ikut demo. Mereka seperti direstui. (Ibrahim, 2012: 207) Konflik-konflik yang bermunculan merupakan luapan hati masyarakat yang merasa kreativitas dan keberaniannya dikekang oleh pemerintah hingga bertahun- tahun lamanya. Tidak hanya para mahasiswa, masyarakat yang bekerja di struktur pemerintahan pun juga bersitegang. Para Menteri, sepuluh orang peneliti di LIPI serta para dosen secara terang-terangan menyatakan untuk mengundurkan diri dari jabatannya karena tidak merasa nyaman lagi bekerja di bawah tekanan. Selain itu, mereka juga menyatakan siap menghadapi resiko apapun atas peristiwa tersebut.
commit to user
Sedang yang patut disimak, apa yang sedang bergulir di ranah ketatanegaraan yakni suhu politik sudah mulai naik, mulai ada ketegangan- ketegangan di antara para birokrat. Satu hal lagi yang mengejutkan adalah sepuluh orang peneliti di LIPI menyatakan mundur dari pekerjaannya!
Merasa tidak nyaman lagi meneliti dalam tekanan. Dalam surat pernyataan mereka adalah mengundurkan diri dengan segala kesadaran dan resikonya.
(Ibrahim, 2012: 126)
Bahkan Pak Niam dan beberapa dosen lain juga ikut demo. Seorang wartawan menanyai beliau, “Pak seandainya Anda dipecat sebagai PNS karena melawan Suharto, bagaimana? Resiko yang lebih berat juga ada, Anda dianggap penghasut atau sebutlah melakukan tindak subversive?
Bagaimana?”
“Mas, semua itu sudah kami rundingkan dengan keluarga. Keluarga kami sudah siap dengan resikonya.” (Ibrahim, 2012: 207)
Kekacauan terus berlanjut di negeri ini. Ada berita yang sungguh mengagetkan. Menteri pariwisata Abdul Latief mengundurkan diri dari jabatannya. Tentu saja ini keberanian yang luar biasa dan aneh. Berhari- hari semua orang membicarakan, juga teman-teman sekampus, lebih- lebih Gundul, Marzuki dan Rudi. Gundul member analisa, “chaos inisudah mencapai titik nadir, Put. Mudah-mudahan dengan alasan ini Neno bisa kembali pada kita.” (Ibrahim, 2012: 248)
Keadaan negeri ini rasanya semakin runyam. Banyak menteri sudah tidak mau bergabung dalam kabinet pembangunan Suharto dan Suharto tidak mampu memilih menteri- menteri baru. Ini spekulasi yang luar biasa dalam dunia politik. (Ibrahim, 2012: 196)
Ketegangan-ketegangan yang terus- menerus terjadi, akhirnya membuat pemerintah untuk segera mengambil kebijakan, yaitu melakukan negosiasi dengan rakyat melalui upaya perombakan menteri- menterinya. Namun, rakyat sudah tidak percaya lagi kepada pemerintahan Suharto. Selain itu, banyak orang yang menolak ajakan Suharto dalam upaya pembentukan kabinet baru tersebut.
Suasana di Kota Jakarta semakin carut marut, semua orang kelihatan tidak sabar lagi untuk menurunkan Suharto! Sekalipun Suharto telah melakukan negosiasi dengan rakyat melalui cara merombak menteri- menterinya, masyarakat sudah tidak pernah sepakat lagi dengannya. Masa selama tiga puluh tahun seperti gunung es pada saat itu. (Ibrahim, 2012: 220)
Mamaku sendiri terus-menerus bilang padaku untuk tidak berharap pada ketidakpastian sebab suasana negeri ini semakin aneh. Kabinet Pembangunan VII sudah mulai goyah. Beberapa menteri menyatakan tidak
commit to user
bersedia lagi duduk di Kabinet Pembangunan VII. Presiden masih mencoba menyusun kabinet baru. Tak semua orang yang ditunjuk presiden mau menduduki jabatan itu. Padahal baru setahun yang lampau kalau orang ditunjuk oleh presiden, mereka akan merasa punya jejaring kekuasaan. Di saat-saat pemilihan menteri, sudah jadi rahasia umum berapa orang menunggu ditelepon presiden. Bahkan, beberapa orang melarang anak- istrinya memakai telepon agar sewaktu-waktu presiden bisa menghubunginya. (Ibrahim, 2012: 250)
Dengan kejadian tersebut, Presiden Suharto akhirnya menyerah. Ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Pernyataan tersebut Ia sampaikan di Kairo. Ada beberapa pers yang menyampaikan tentang mundurnya Suharto, namun kemudian diralat oleh media. Hal ini menimbulkan kabar yang tidak jelas serta membingungkan masyarakat Indonesia.
Gundul selalu terbahak-bahak kalau melihat Neno marah. Lagipula sebetulnya para lelaki itu berpikir, alangkah hampanya kalau tidak ada kisah-kisah cinta seperti yang dialami Neno dan Putri sewaktu politik memanas berbarengan dengan pernyataan Suharto di Kairo mengundurkan diri. Betapa runyam. Beberapa pernyataan pers tentang akan mundurnya Suharto, yang kemudian diralat lagi oleh media menimbulkan bermacam- macam tafsiran. Sementara itu DPR dan MPR tidak menggugat Suharto untuk mundur. (Ibrahim, 2012: 167)
Segala permasalahan yang dialami bangsa Indonesia telah menimbulkan dampak negatif di beberapa sektor, khususnya sektor ekonomi. Di berbagai wilayah terjadi kenaikan harga minyak, PHK yang dilakukan secara besar- besaran, serta krisi ekonomi.
Derina menganggap teman-teman Putri sekarang, yang laki- laki tidak modis dan rata-rata sok pahlawan. Akhir-akhir ini manakala para mahasiswa mulai gelisah dengan semua kekacauan yang ada, yaitu naiknya harga minyak, banyak orang di PHK dan krisis ekonomi, ….(Ibahim, 2012: 218)
Seiring berjalannya waktu, semua peristiwa tersebut berangsur-angsur tenang. Untuk memperingati para mahasiswa yang telah gugur dalam mendukung tegaknya demokrasi di Indonesia, beberapa mahasiswa memakai pita hitam sebagai simbol bela sungkawa.
Putriku yang kucintai,
Aku, Papa, dan Mak Ti sehat selalu dan merindukanmu. Aku kemarin ketemu Gundul. Dia menyapaku dan mencoba tersenyum. Dia bilang, di
commit to user
Malang tidak ada mal- mal yang dibakar. Tapi, suasana betul-betul kacau!
Untuk memperingati kematian mahasiswa Trisakti, beberapa mahasiswa memakai pita hitam.
Di Malang sampai hari ini banyak rumah menaikkan bendera setengah tiang. Ibu Bobi tetangga kita yang biasanya cuek terhadap apapun, tiba-tiba juga mengerek benderanya dan menghilangkan tulisan di genting atapnya yang bertuliskan PKK… (Ibrahim, 2012: 262)
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Novel 1998 karya Ratna Indraswari Ibrahim memiliki tiga latar atau setting, yaitu tempat, waktu, dan sosial. Apabila dilihat dari setting tempat, novel tersebut banyak menceritakan kisahnya di Kota Malang. Meskipun ada beberapa cerita yang bersetting di kota lain seperti Solo, hal ini hanyalah sebagai latar tambahan yang ceritanya tetap fokus kepada keadaan di Kota Malang. Sedangkan setting waktu, dapat dilihat dari judul novel yaitu 1998. Novel tersebut juga menceritakan tentang peristiwa- peristiwa bersejarah di era Orde Baru dan Suharto sebagai presidennya. Lebih lanjut, novel 1998 banyak bercerita tentang kehidupan masyarakat Indonesia pada masa itu. Sebagai contoh, aturan-aturan apa saja yang diterapkan pada masa pemerintahan Suharto, bagaimana dampak dari kebijakan yang diselenggarakannya tersebut, dan apa reaksi masyarakat mengenai aturan tersebut hingga mengakibatkan berakhirnya masa jabatan Suharto.
2. Masalah Sosial yang Muncul dan Penyebabnya
Telah diketahui sebelumnya bahwa masalah sosial memiliki berbagai macam. Para ahli memiliki berbagai macam klasifikasi dalam hal tersebut. Pada novel 1998, terdapat berbagai masalah sosial yang muncul. Apabila dilihat dari macam- macam masalah sosial di atas (Stark dalam Murdi, 2011), novel 1998 memiliki semua kategori. Ada masalah sosial yang masuk kategori konflik dan kesenjangan, seperti adanya pertentangan dan terjadinya rasial. Kategori perilaku menyimpang, seperti kejahatan. Sedangkan untuk kategori perkembangan manusia, seperti adanya masalah generasi muda dalam masyarakat modern.
Berikut merupakan penjelasannya.
commit to user a. Kejahatan
Kejahatan adalah salah satu permasalahan sosial dalam masyarakat.
Sebab, tindakan tersebut merupakan tindakan yang bertentangan dengan norma hukum, sosial dan agama. Pencurian, penipuan, penganiayaan, pembunuhan, perampokan, serta pemerkosaan merupakan perbuatan tindak kriminal. Pada tahun 1998, tindakan-tindakan tersebut banyak bermunculan seiring dengan peralihan pemerintahan Suharto dari masa orde baru ke reformasi. Tindakan tersebut dilakukan sebagai salah satu bentuk ketidaksetujuan rakyat akan pemerintahan Suharto.
Salah satu bentuk kejahatan pada masa itu adalah adanya banyak kasus orang hilang. Orang-orang yang hilang tersebut umumnya merupakan orang yang dianggap sebagai pihak oposisi yang membahayakan kedudukan presiden dan sekutunya saat itu. Namun, dugaan tersebut hingga saat ini tidak diketahui kebenarannya.
Aku tidak yakin apakah ini proses dari perjalanan cinta atau sepotong mimpi yang mengga nggu kehidupan di saat kekeruhan politik melanda setiap orang di negeri ini. Karena sudah terdengar banyak sekali orang- orang yang hilang atau dihilangkan, pertengkaran antar kampung, bahkan ada beberapa rumah yang terbakar tanpa sebab yang jelas.
(Ibrahim, 2012: 92)
… Sungguh situasi politik ini pernah ditanyakan kepada Kolonel Hadi dan jawaban dia semakin mengejutkan, “Mbak, situasinya betul-betul sudah gawat. Seharusnya sampeyan lebih memperhatikan orang tua sampeyan. Saya khawatir bisa-bisa orang tua sampeyan yang akan hilang. Seperti beberapa orang yang sudah mulai dihilangkan. (Ibrahim, 2012: 178)
Putri merasa kehilangan akal sehatnya. Tertera di surat kabar ada penculikan lagi. Lebih dari itu ada kabar pihak yang berkuasa mencoba menghilangkan oposisi. Putri khawatir Neno termasuk daftar orang- orang yang dihilangkan. Sesampainya di kantor Komnas HAM, Putri melaporkan hilangnya Neno. Mereka mencatat. Keseriusan mereka menakutkan Putri, menanyakan cirri-ciri Neno dan foto terakhirnya,
“kami akan menyia rkan foto ini, Mbak. Kalau dalam sekian bulan tidak ada kabar baru bisa dimasukkan dalam daftar orang hilang.” (Ibrahim, 2012: 224)
commit to user
Aku mendengarkan komentar seorang seniman yang dianggap kiri oleh pemerintah sehingga kewarganegaraannya dicabut, “pada 1965 memang banyak orang dibunuh tanpa diadili. Sedangkan sejak 1997 sampai sekarang 1998, lebih buruk dari tahun-tahun sebelumnya. Sudah terlalu banyak orang hilang dan tidak jelas apakah yang bersangkutan meninggal dunia atau masih hidup. (Ibrahim, 2012: 258)
Selain itu, ada pula kejahatan yang melibatkan aparat. Banyak orang atau mahasiswa yang ditembak mati oleh aparat karena dianggap melawan pemerintah. Semula masyarakat hanya menyatakan penolakannya atas kebijakan yang telah dilakukan Presiden Suharto melalui demonstrasi, namun tiba-tiba aparat menembakinya. Bahkan, ketika banyak mahasiswa Trisakti yang berdemo, peristiwa tersebut terulang kembali sehingga menimbulkan kemarahan mahasiswa lainnya. Demonstrasi besar-besaran pun tidak dapat terhindar lagi.
Marzuki dan Putri kembali masuk ke dapur. Gundul masuk setelah pergi ke warung telekomunikasi dekat rumah Neno, terdengar suara aneh dan murung, “kabarnya ada demo besar-besaran. Empat orang tewas ditembak aparat. (Ibrahim, 2012: 95)
Nugraha menghela nafas, “ada baku hantam di kampus Institut Teknologi Nasional (ITN). Awalnya para mahasiswa demo tapi saya tidak tahu mengapa aparat harus menembaki mahasiswa yang demo itu.” (Ibrahim, 2012:180)
Marzuki bilang dia menelepon dari warung telekomunikasi yang tidak jauh dari Senayan, “kau tahu Put, barusan ada penembakan di Trisakti.
Kabarnya simpang siur, konon ada yang meninggal….” (Ibrahim, 2012:
205)
Aku tertawa. Sungguh aku sedikit senang meskipun saat membaca media massa, kita semua bisa jadi sangat ngeri. Ada mahasiswa Universitas Trisakti yang tertembak. Hal itu membuat para mahasiswa semakin marah. (Ibrahim, 2012: 207)
Selanjutnya, dampak dari demonstrasi yang tidak tertib adalah terjadinya kerusuhan hingga mengakibatkan pembakaran toko serta mal- mal yang sebagian besar milik masyarakat Tionghoa. Kerusuhan tersebut tidak
commit to user
hanya terjadi pada lokasi tertentu saja, namun sudah terjadi serentak di beberapa wilayah, seperti Jakarta dan Solo.
Ah tunggu! Ada kejadian yang tidak enak sebetulnya yaitu sebuah toko kecil milik perempuan peranakan Tionghoa terbakar atau dibakar? Dan perempuan itu menangis, “saya tidak punya rencana apa-apa di negeri ini. Mengapa toko saya harus dibakar?” (Ibrahim,2012: 120)
Jadi Derina memang tidak akan pernah peduli sekalipun ada kerusuhan atau bakar-bakaran di plaza-plaza Jakarta. Sebab Jakarta rusuh, ia meneruskan hobi jalan-jalan di deretan plaza di Singapura.
(Ibrahim,2012: 219)
Dion menggeleng, “saya tidak tahu kabar Neno. Ya, selama seminggu kami tidur berdampingan saat demo di Senayan dan Neno sempat bercerita tentang pacarnya yang anak walikota itu. Dia juga menunjukkan foto pacarnya. Kau tahu kan ada kerusuhan di mal- mal sampai ke kota Solo? Kebetulan omku kan intel, jadi aku mengetahuinya dan hanya itu yang kuketahui. Selesai acara ini besok aku pulang dengan ibu-bapakku. (Ibrahim, 2012:256)
…. Aku semakin tertarik ketika ada berita bahwa mal- mal itu kelihatannya sengaja dibakar dan orang-orang di dalamnya dibiarkan hangus terbakar. Tiba-tiba negeri ini menjadi kejam. Oya, pagi tadi kudengar dari radio manca negara bahwa ada perusuh yang mengaku begini, saya sebetulnya tidak berniat ke mal. Saya malah akan ke sebuah rumah sakit untuk menjadi juru parkir. Namun ketika keluar dari gang rumah, saya dengar orang berteriak-teriak: ayo kita rampas barang-barang Cina di mal- mal! Saya dan orang-orang berlari ke mal.
Saya mengusung sebuah TV dan terdengar kalau kita juga harus mengambil barang yang lain. (Ibrahim, 2012: 257)
Kemarahan masyarakat yang berlebihan tidak hanya diungkapkan melalui pembakaran toko dan mall- mall milik etnis Tionghoa. Bahkan, tindakan asusila kepada etnis Tionghoa pun mereka lakukan. Pemerkosaan terhadap wanita Tionghoa kian merajalela. Dampaknya, masyarakat tidak merasakan keamanan serta kenyamanan dalam melakukan aktivitasnya.
Tanpa babibu Derina nyerocos, “aku memang terkepung dan mungkin lama- lama bisa diperkosa orang. Kau dengar kan banyak perempuan Tionghoa diperkosa? (Ibrahim, 2012: 209)
Berkaitan dengan peristiwa di atas, sejarah reformasi Indonesia tahun 1998 juga menggambarkan hal serupa. Demontrasi di lakukan oleh para
commit to user
mahasiswa bertambah gencar setelah pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM dan ongkos angkutan pada tanggal 4 Mei 1998. Puncak aksi para mahasiswa terjadi tanggal 12 Mei 1998 di Universitas Trisakti Jakarta. Aksi mahasiswa yang semula damai itu berubah menjadi aksi kekerasan setelah tertembaknya empat orang mahasiswa Trisakti yaitu Elang Mulia Lesmana, Heri Hartanto, Hendriawan Lesmana, dan Hafidhin Royan. Tragedi Trisakti itu telah mendorong munculnya solidaritas dari kalangan kampus dan masyarakat yang menantang kebijakan pemerintahan yang dipandang tidak demokratis dan tidak merakyat. Soeharto kembali ke Indonesia, namun tuntutan dari masyarakat agar Presiden Soeharto mengundurkan diri semakin banyak disampaikan. Rencana kunjungan mahasiswa ke Gedung DPR / MPR untuk melakukan dialog dengan para pimpinan DPR / MPR akhirnya berubah menjadi mimbar bebas dan mereka memilih untuk tetap tinggal di gedung wakil rakyat tersebut sebelum tuntutan reformasi total di penuhinya.
Tekanan-tekanan para mahasiswa lewat demontrasinya agar presiden Soeharto mengundurkan diri akhirnya mendapat tanggapan dari Harmoko sebagai pimpinan DPR / MPR. Maka pada tanggal 18 Mei 1998 pimpinan DPR/MPR mengeluarkan pernyataan agar Presiden Soeharto mengundurkan diri.
b. Masalah Generasi Muda dalam Masyarakat Modern
Pada masyarakat yang sedang mengalami masa transisi, generasi muda seolah-olah terjepit antara norma-norma lama dengan norma-norma baru (yang kadang-kadang belum terbentuk). Generasi tua seolah-olah tidak menyadari bahwa sekarang ukurannya bukan lagi segi usia akan tetapi kemampuan. Namun, persoalannya adalah bahwa generasi muda sama sekali tidak diberi kesempatan untuk membuktikan kemampuannya.
Hal ini juga terjadi pada Putri, anak Walikota Malang. Suwarno, ayah Putri yang melihat teman-teman Putri sedang berdemonstrasi langsung mengritiknya dan menyatakan tidak setuju dengan apa yang dilakukan mereka. Suwarno menganggap bahwa teman-teman Putri telah mendapatkan
commit to user
pengaruh dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Mereka hanya ikut- ikutan melakukan demonstrasi dan tidak mengetahui makna dari demonstrasi itu sendiri.
Saat itulah papanya menelepon, “kau tadi tidak ikut demo kan? Teman- temanmu itu tahu apa tentang pemerintahan ini! Paling-paling mereka sudah dipengaruhi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab!
Dengar-dengar ada yang mendalangi mereka!” (Ibrahim, 2012: 13) Mendengar ucapan Papanya, Putri langsung tersentak. Sebab, apa yang dilakukan teman-temannya sangat bertolak belakang dengan yang dikatakan Papanya. Teman-teman Putri melakukan upaya tersebut murni untuk mewujudkan pemerintahan yang terbuka, adil, dan demokrasi. Hal ini berkaca dari tahun-tahun sebelumnya pada masa pemerintahan Suharto terjadi pemerintahan otoriter yang mengakibatkan terbelenggunya kreativitas masyarakat.
Putri tersentak, “Papa, saya kira tindakan mereka cukup murni. Mereka cuma menginginkan demokrasi. Bukankah tanpa demokrasi rakyat tidak bisa berbicara? Padahal banyak lahan tanah mereka dikuasai pemerintah. Neno bilang ini sebabnya mahasiswa mengorganisir diri mereka untuk mendampingi rakyat yang dibungkam.” (Ibrahim, 2012:
13)
Meskipun Putri telah menjelaskan hal tersebut, namun Putri masih saja mendapat sanggahan dari keluarganya. Kali ini tidak hanya dari Papanya, bahkan Mamanya juga menolak pernyataan Putri. Ninik, Mama Putri beranggapan bahwa hal penting yang dibutuhkan rakyat dan harus terpenuhi adalah makanan, pakaian, dan tempat tinggal yang layak.
“Nduk, yang dibutuhkan rakyat cuma sandang, pangan, papan. Kalau kita sudah selesai dengan masalah itu, pasti apa yang didewakan oleh anak muda tentang demokrasi akan datang sendiri. Tidak ada negara yang jadi hanya dalam kurun sekian tahun saja.”(Ibrahim, 2012: 89) Pernyataan Suwarno tidak membuat Putri berhenti di situ. Dia terus menjelaskan jalan pikiran anak muda pada zaman itu. Mereka hanya menyuarakan hak mereka untuk menolak kekuasaan otoriter yang sudah
commit to user
berlanjut hingga tiga puluh tahun lebih. Mereka menginginkan adanya perubahan yang lebih baik, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan.
“Tapi Papa juga tahu, situasi begini-begini saja sudah tidak dikehendaki oleh anak muda. Demo di dalam kampus sudah berani menolak kekuasaan yang ototriter selama 30 tahun lebih.” (Ibrahim, 2012: 89) Mendengar hal itu, perlahan Suwarno mulai menasihati Putri. Suwarno tidak ingin Putri terlalu mengetahui tentang politik. Dia menginginkan Putri untuk tidak mengikuti langkah teman-temannya. Hal itu disebabkan akan membahayakan dir inya sendiri sebagai anak walikota. Selain itu, Suwarno menganggap bahwa orde baru merupakan zaman yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang bagus. Menurutnya, ada banyak masalah yang harus diselesaikan selain mendengung-dengungkan terjadinya demokrasi, seperti kemacetan lalu lintas dan masalah kemiskinan.
“Nduk, aku minta kau tidak bicara apa-apa lagi tentang politik. Aku tahu anak sekarang sudah membaca lagi buku-buku yang sangat dilarang pemerintah. Padahal kamu tahu, kau dan teman-temanmu dibesarkan oleh orde baru. Semakin banyak ragam pendidikan yang dimasuki oleh anak-anak bangsa ini semakin merepotkan. Coba lihat, pertumbuhan ekonomi kita yang menakjubkan, maka pihak lawan yang merasa tersaingi menggoncang kita dengan kurs valuta yang melonjak.
Jangankan jadi presiden, jadi walikota saja Papa pusing. Ada banyak problem yang belum terpecahkan, misalnya kemacetan lalu lintas, pedagang kaki lima yang semakin banyak, penduduk urban miskin yang membawa anak-anaknya ke kota bukan untuk sekolah tapi menjadi pekerja anak. Kau tahu kan teman mamamu yang dari Jepang itu bilang, bahwa hak anak tidak ada di negeri ini. Aku jengkel mendengar ucapannya. Dia itu melihat kehidupan kita sepotong-sepotong saja.”
(Ibrahim, 2012: 89).
Perbedaan cara berpikir antara orang tua dan anak (mahasiswa) saat itu sangat jelas. Orang tua melarang anaknya untuk tidak mengikuti demonstrasi karena akan membahayakan dirinya sendiri. Selain itu, orang tua memandang sebelah mata usaha- usaha yang dilakukan mahasiswa sat itu. Dengan semangat yang besar, ilmu politik yang mereka miliki, serta dukungan dari banyak mahasiswa memotivasi mereka untuk mengadakan suatu perubahan.
Sejarah membuktikan bagaimana kekuatan mahasiswa dalam pergantian
commit to user
rezim yang diktator menuju perubahan kearah lebih baik, sebagai contoh gerakan mahasiswa bersama komponen bangsa lainnya yang ketika itu masyarakat,parpol dan ABRI dalam menyuarakan TriTura (Tiga Tuntutan Rakyat) yang berhasil menggantikan rezim kekuasaan saat itu yang dinilai cenderung terlau berpihak pada haluan kiri. Kemudian masih membekas diingatan kita ketika kekuatan mahasiswa untuk menggulingkan rezim orde baru yang otoriter yang telah berkuasa selama 32 tahun. Itu merupakan bukti- bukti nyata dimana mahasiswa menunjukkan peranannya dikancah perpolitikan nasional yang tentunya untuk menciptakan keselarasan menuju masyarakat yang makmur sentosa, meskipun sampai sekarang buah tangan dari perjuangan mahsiswa tersebut masih jauh panggang dari api. Sehinnga dapat disimpulkan bahwa kekuatan mahasiswa dalam kancah perpolitikan nasional menjadi patut diperhitungkan sebagai gerakan yang murni membela kepentingan rakyat semata.
c. Pertentangan (Pertikaian atau Konflik)
Pertentangan (pertikaian atau konflik) adalah suatu proses individu atau kelompok yang berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan, disertai dengan ancaman dan atau kekerasan. Pertentangan (pertikaian atau konflik) dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut pengetahuan, keyakinan, kepentingan, dan sebagainya.
Pada Novel 1998 menggambarkan pula peristiwa-peristiwa pertentangan (pertikaian/konflik). Kala itu Putri mendengar bahwa sudah banyak masyarakat yang melakukan pemberontakan. Hal ini sangat mengejutkan Putri. Masyarakat yang tadinya patuh dengan kebijakan pemerintah, sekarang mulai memberontak dengan mendengung-dengungkan demokrasi. Namun, banyak yang beranggapan bahwa hal tersebut merupakan suatu upaya lawan politik dalam merebut kekuasaan Suharto.
Putri agaknya menyadari ketegangan seperti menggantung di mana- mana. Kasak-kususk di luar media lebih dipercayai orang. Dia mendengar ada banyak pemberontakan yang muncul di luar Jawa.
commit to user
Adapun hampir semua orang percaya ini dilakukan oleh lawan politik yang ingin berkuasa. Papa Putri sendiri bilang: kekuasaan hari ini sedang diguncang oleh musuh politik. (Ibrahim, 2012: 64)
Penduduk Malang sudah terbiasa dengan demo-demo yang bicara tentang demokrasi. Mereka sudah mulai cuek dengan bisik-bisik yang beredar bahwa presiden seharusnya mundur dari jabatannya. Para penduduk tidak merasa perlu menutup toko atau rumahnya ketika para demonstran lewat. Namun banyak orang mulai sepakat agar demokrasi yang didengung-dengungkan itu, bukan barang ganjil tapi sesuatu yang harus ada dalam kehidupan berbangsa, agar tidak jadi robot-robot dari beberapa orang sebangsa dan orang asing. (Ibrahim, 2012: 79)
Situasi pun semakin tidak kondusif. Tidak hanya masyarakat umum saja yang ikut serta dalam pertentangan tersebut. Mahasiswa juga sudah berani melakukan demonstrasi agar Presiden Suharto segera turun dari jabatannya.
Pembakaran foto presiden menjadi sasaran selanjutnya. Hal ini mengakibatkan kerugian bagi Indonesia di berbagai sektor. Karena peristiwa tersebut, para pedagang tidak lagi berani membuka tokonya. Para siswa yang seharusnya belajar di kelas menjadi tidak tenang, bahkan secara psikologis dapat menimbulkan trauma tersendiri bagi masyarakat Indonesia.
Secara rutin mendengar siaran radio dari luar negeri, maka dapat dipantau bahwa aksi demo mahasiswa semakin garang. Para mahasiswa sudah tidak takut lagi untuk berdemo dan meneriakkan yel- yel agar presiden turun. Semakin banyak mahasiswa ikut demo, mereka sudah merangsek ke gedung DPR. Debat terbuka tent ang perlunya demokrasi semakin marak. Diskusi-diskusi di kampus sudah sangat banyak, media massa cetak maupun elektronik sudah menyiarkan demo-demo mahasiswa yang menurut Papa kian brutal dan kasar. (Ibrahim, 2012:
88)
Situasi politik yang tanpa gejolak selama 30 tahun lebih, lalu berubah penuh dengan gejolak yang tidak pasti menyadarkan aku sebagai seorang guru dan ibu. Aku harus baik-baik menjaga hatiku tetap tenang dan sejuk, anakku seorang aktifis. Aku sudah mendengar di beberapa kampus di luar Jawa terjadi demonstrasi sambil membakar foto presiden. Jumlah mahasiswa yang ikut demo sangat besar jumlahnya.
Padahal selama 30 tahun belakangan, tidak ada mahasiswa yang berani melakukan itu. (Ibrahim, 2012: 115)
commit to user
Lebih lanjut, sejarah mencatat pada tahun 1998 adalah puncak gerakan mahasiswa dan gerakan rakyat pro-demokrasi pada akhir dasawarsa 1990-an.
Gerakan ini menjadi monumental karena dianggap berhasil memaksa Soeharto berhenti dari jabatan Presiden Republik Indonesia pada tangal 21 Mei 1998. Pada April 1998, Soeharto terpilih kembali menjadi Presiden Republik Indonesia untuk ketujuh kalinya (tanpa wakil presiden), setelah didampingi Try Soetrisno (1993-1997) dan Baharuddin Jusuf Habibie (Oktober 1997-Maret 1998). Namun, mereka tidak mengakui Soeharto dan melaksanakan pemilu kembali. Pada saat itu, hingga 1999, dan selama 29 tahun, Partai Golkar merupakan partai yang menguasai Indonesia selama hampir 30 tahun, melebihi rejim PNI yang menguasai Indonesia selama 25 tahun. Namun, terpliihnya Soeharto untuk terakhir kalinya ini ternyata mendapatkan kecaman dari mahasiswa karena krisis ekonomi yang membuat hampir setengah dari seluruh penduduk Indonesia mengalami kemiskinan.
Gerakan ini mendapatkan momentumnya saat terjadinya krisis moneter pada pertengahan tahun 1997. Harga-harga kebutuhan melambung tinggi, daya beli masyarakat pun berkurang. Tuntutan mundurnya Soeharto menjadi agenda nasional gerakan mahasiswa. Ibarat gayung bersambut, gerakan mahasiswa dengan agenda reformasi mendapat simpati dan duk ungan dari rakyat. Demonstrasi bertambah gencar dilaksanakan oleh para mahasiswa, terutama setelah pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM dan ongkos angkutan pada tanggal 4 Mei 1998. Agenda reformasi yang menjadi tuntutan para mahasiswa mencakup beberapa tuntutan, seperti: (1) Adili Soeharto dan kroni-kroninya, (2) Laksanakan amandemen UUD 1945, (3) Hapuskan Dwi Fungsi ABRI, (4) Pelaksanaan otonomi daerah yang seluas- luasnya, (5) Tegakkan supremasi hukum, (6) Ciptakan pemerintahan yang bersih dari KKN. Gerakan Mahasiswa Indonesia 1998 juga memulai babak baru dalam kehidupan bangsa Indonesia, yaitu era Reformasi.
d. Rasial
commit to user
Menurut Kamus Bahasa Indonesia, kata rasial memiliki dua arti yaitu a) berdasarkan (bersifat) ciri-ciri fisik ras, bangsa, suku bangsa, dsb (seperti warna kulit, rambut, dsb.), b) berdasarkan prasangka terhadap ras tertentu:
kerusuhan. Jika dikaitkan dengan novel 1998 karya Ratna Indraswari Ibrahim, masalah sosial ini tergambar cukup jelas. Banyak masyarakat Tionghoa menjadi terancam keberadaannya di Indonesia. Masyarakat etnis Tionghoa menjadi sasaran amuk warga apabila terjadi kerusuhan, karena mereka dianggap sebagai “anak kesayangan” Presiden Suharto saat itu.
Heni murung, “kalau ada demo-demo begini, aku teringat Mama.
Karena Mama menganggap etnis kamilah yang diganyang lebih dahulu kalau ada apa-apa.” (Ibrahim, 2012: 10)
“Barusan papaku telepon, dia tidak mengizinkan aku keluar ke mana- mana dulu. Jadi Put, besok acara berenangnya batal yah. Apalagi Papa bilang sebaiknya aku masuk asrama yang diurus biarawati saja karena tempat itu aman dari situasi politik yang tidak menentu seperti sekarang. Putri, tolong tanyakan ke papamu apakah politik ini bakal keruh lagi? Neno tadi mengajakku untuk demo besok pagi. Kalau nggak tanya papamu, kamu kan bisa menanyakan ke beberapa staf papamu.
Aku merasa tidak nyaman dengan situasi kampus sekarang. Kamu ngerti, aku ini etnis Tionghoa!” (Ibrahim, 2012: 15)
Kekhawatiran tersebut terlihat dari pernyataan Heni (sahabat Putri) yang merasa tidak nyama n dengan statusnya. Heni merupakan warga Indonesia keturunan campuran Indonesia-Tionghoa. Ia sangat merasakan bahwa dirinya adalah hasil perkawinan campuran. Hal ini dikarenakan adanya rasa superior di antara ras kedua orang tuanya. Ia sedih karena merasa seperti orang asing di negeri sendiri. Tidak ada tempat berlindung yang aman di Indonesia. Karena itulah Heni suatu saat ingin menikah dengan keturunan Tionghoa. Dengan harapan, anaknya kelak tidak mengalami nasib yang sama seperti dirinya.
Masih menurut Putri, bagaimanapun Heni perempuan cantik yang serius dengan studinya. Seperti kebanyakan etnis Tionghoa, sangat serius terhadap apa saja. Suatu ketika Putri dengan terus terang menanyakan apakah semua etnis Tionghoa begitu? Heni tentu saja bilang, “sebagian besar iya sebab kami menyadari keminoritasan etnis kami tapi ini tidak semua. Diantara kami pasti ada orang-orang yang
commit to user
tidak betah dengan simbol-simbol yang kami sepakati bersama sebagai kaum minoritas. Aku sendiri sesungguhnya merasa orang Indonesia, hanya terkadang lingkungan lingkungan yang membuatku merasa cuma numpang hidup di sini. (Ibrahim, 2012: 9)
Sering Heni mengatakan seperti ini, “perkawinan campuran di negeri ini membuat aku terbelah-belah. Masing- masing merasa superior ketimbang yang lainnya. Oleh karena itu aku akan menikah dengan Daniel yang etnisnya sama dengan mama. Dengan begini anak-anakku kelak merasa dirinya cuma datang dari satu etnis. Apakah perasaan terbelah ini juga ada di antara kita? Seharusnya tidak. Bangsa kita sudah menghargai plurifomitas meskipun warna plural itu hanya sampai di kulit saja. Sering kulihat etnis-etnis yang beragam ini tidak belajar untuk saling menghargai perbedaan tapi sering menjadikannya simbol- simbol politik yang lebih banyak merugikan rakyat seperti aku dan keluargaku. Oleh karena itu kucari tanah air yang kedua.” (Ibrahim, 2012: 171)
Walaupun kebencian terhadap keturunan Tionghoa oleh keturunan pribumi di Indonesia berawal di era Hindia Belanda, Orde Baru menghasut terciptanya undang- undang anti-China menyusul usahanya menghapuskan total faham komunisme (karena negara China menganut faham komunisme).
Walaupun stereotip negatif bahwa orang "Tjina" (istilah untuk Tionghoa- Indonesia kala itu) adalah kaya dan serakah adalah umum di saat itu, adanya histeria anti-komunisme setelah peristiwa G30S dan hubungan orang Tionghoa-Indonesia dengan Republik Rakyat Cina memperparah keadaan dengan menyebabkan adanya pandangan bahwa orang Tionghoa juga termasuk kolom kelima (simpatisan rahasia) komunis.
Hubungan diplomatik Indonesia dengan China yang kala itu ramah diputus, dan Kedutaan Besar China di Jakarta dibakar oleh massa. Undang- undang baru yang mendiskriminasi etnis Tionghoa-Indonesia dalam masa Orde Baru ini termasuk pelarangan tanda-tanda Aksara Tionghoa pada toko- toko dan bangunan lain, penutupan sekolah bahasa Cina, pengadopsian nama yang terdengar "Indonesia", termasuk pembatasan pembangunan wihara Buddha. Masa pemerintahan Orde Baru selanjutnya terus diwarnai dengan kerusuhan yang diwarnai sentimen-sentimen serupa.
commit to user Penyebab Terjadinya Masalah-Masalah Sosial
Penyebab utama timbulnya masalah sosial adalah adanya kegagalan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Mereka yang memiliki masalah sosial cenderung melakukan tindakan kekerasan dan kriminalitas. Jika hal ini terjadi secara terus- menerus, maka akan menyebabkan terjadinya kerusuhan sosial. Seperti halnya yang diungkapkan ole h Soekanto (1990:120) bahwa ada beberapa teori sosiologis yang memusatkan perhatian pada masalah- masalah sosial, diantaranya: (1) secara fundamental, masalah- masalah sosial timbul dari disorganisasi sosial yang merupakan akibat perubahan sosial atau pembangunan. Organisasi suatu masyarakat mungkin agak terganggu oleh karena timbulnya pelbagai kepentingan baru yang harus dipenuhi. Pelbagai lembaga sosial dalam masyarakat yang semula berperan atas dasar kebutuhan-kebutuhan yang ada, mau tidak mau harus berubah (sebagian atau secara total), yang seringkali mengakibatkan terjadinya disorganisasi. Teori-teori yang membahas masalah- masalah sosial semacam ini biasanya berkaitan dengan persoalan-persoalan umum yang dihadapi dalam perubahan atau revolusi. (2) Teori-teori selanjutnya berpokok pangkal pada pertentangan nilai- nilai. Pertentangan nilai- nilai ada apabila terjadi sikap-sikap yang bertentangan, dan pola pemecahan masalah sosial yang tidak sesuai satu dengan yang lainnya. Teori-teori ini lazimnya mencari upaya pemecahan dengan mempergunakan pendekatan nilai atau institusional. Dengan demikian, maka suatu masalah sosial sebenarnya merupakan tanggapan terhadap pertentangan nilai- nilai, pertentangan kelompok sosial, maupun konflik untuk mendapatkan kekuasaan, kekayaan materiil, atau kedudukan.
Teori sosiologis yang diungkapkan oleh Soekanto tersebut menjadi dasar penulis untuk menjawab permasalahan yang terjadi pada novel 1998 karya Ratna Indraswari Ibrahim. Apabila ditinjau dari teori yang pertama, yaitu masalah- masalah sosial timbul dari disorganisasi sosial yang merupakan akibat perubahan sosial atau pembangunan, banyak disorganisasi sosial yang dilakukan oleh presiden Suharto. Di antaranya, diberlakukannya Dwi Fungsi ABRI. Presiden Suharto menyetujui apabila TNI memiliki dua tugas, yaitu pertama menjaga
commit to user
keamanan dan ketertiban negara, kemudian kedua memegang kekuasaan dan mengatur negara. Dengan peran ganda ini, militer diizinkan untuk memegang posisi di dalam pemerintahan. Akan tetapi, dalam bentuknya ABRI sebagai kekuatan sosial, memiliki dua fungsi, yaitu fungsi stabilisator dan fungsi dinamisator. ABRI sebagai pelaksana tugas keamanan negara dapat dikategorikan ABRI sebagai dinamisator, sedangkan sebagai stabilisator ABRI dalam kehidupan bangsa dan negara.
Banyak dampak negatif yang timbul akibat diberlakukannya Dwi Fungsi ABRI. Pertama, ABRI bersama-sama Korpri pada waktu itu juga dijadikan sebagai salah satu tulang punggung yang menyangga keberadaan Golkar sebagai partai politik yang berkuasa pada waktu itu. Kedua, kecenderungan ABRI untuk bertindak represif dan tidak demokratis/otoriter. Hal ini dapat terjadi karena kebiasaan masyarakat yang terbiasa taat dan patuh kepada ABRI, sehingga masyarakat enggan untuk mencari inisiatif dan alternatif karena semua inisiatif dan alternatif harus melalui persetujuan ABRI. Meskipun masyarakat telah mengungkapkan inisiatifnya, tak jarang inisiatif tersebut ditolak oleh ABRI yang menjabat sebagai petinggi di wilayah tersebut. Ketiga, ABRI dengan bebas bergerak untuk menjabat di pemerintahan. Apabila untuk mencapai tingkat penguasa, tidak mustahil untuk dilakukan oleh seorang ABRI , sehingga dengan mudah ABRI mengatur masyarakat. Keempat, tidak berjalannya fungsi kontrol oleh parlemen. Banyak terjadi penyalahgunaan kekuasaan, misalnya dalam bentuk korupsi. Hal tersebut dapat terjadi karena ABRI juga yang bertindak sebagai parlemen sehingga ia tidak ingin repot-repot melakukan kontrol terhadap bawahannya.
Dari berbagai macam dampak negatif yang muncul, dapat diambil kesimpulan bahwa berdasarkan teori pertama yang menyebutkan “organisasi suatu masyarakat mungkin agak terganggu oleh karena timbulnya pelbagai kepentingan baru yang harus dipenuhi. Pelbagai lembaga sosial dalam masyarakat yang semula berperan atas dasar kebutuhan-kebutuhan yang ada, mau tidak mau harus berubah (sebagian atau secara total), yang seringkali mengakibatkan terjadinya disorganisasi” adalah adanya penyalahgunaan wewenang yang dilakukan presiden
commit to user
dan para kroni-kroninya dalam melaksanakan pemerintahan. Pemberlakukan Dwi Fungsi ABRI oleh presiden kenyataannya membuat rakyat sengsara. Apabila dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh, hal ini tidak sebanding dengan dampak-dampak buruk yang ditimbulkan.
Dari berbagai dampak negatif tersebut, muncul banyak reaksi dari masyarakat. Reaksi yang dilakukan masyarakat masuk dalam teori yang kedua, yaitu tanggapan terhadap pertentangan nilai- nilai, pertentangan kelompok sosial, maupun konflik untuk mendapatkan kekuasaan, kekayaan materiil, atau kedudukan. Masyarakat menginginkan adanya perombakan atau perbaikan dalam pemerintahan Suharto. Mereka dengan berani menyuarakan keinginannya dengan berdemonstrasi, sebab sudah lama sekali mereka terbelenggu dalam pemerintahan yang kolot dan otoriter. Demonstrasi berubah me njadi kejahatan ketika para pendemo menjarah dan membakar mall- mall maupun toko. Kreativitas mahasiswa pun ikut terganggu pada masa itu. Hal ini sesuai dengan pernyataan Suyadi yang merupakan Guru Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Kejuruan sebagai berikut.
Akan tetapi, masyarakat tidak mudah menyerah. Meskipun pemerintah melakukan penembakan terhadap mahasiswa Trisakti, hal ini membuat masyarakat terutama mahasiswa menjadi lebih gigih dalam memperjuangkan cita- cita mereka. Walaupun demikian, aksi demonstrasi juga menimbulkan dampak negatif yang besar. Demonstrasi yang disertai kerusuhan secara besar-besaran telah mengganggu stabilitas negara dan perekonomian. Kejahatan dan konflik rasial turut menambah permasalahan pada tahun itu. Selain itu, dikarenakan Masalah tersebut terjadi karena muncul pergolakan batin para mahasiswa untuk menghidupkan kembali kreativitas mereka yang selama ini ditekan oleh pemerintahan yang otoriter. Mereka merasa harus ada perubahan dalam hidup mereka. Dan masalah sosial yang dialami tokoh-tokoh disini lebih dikarenakan mereka tidak ingin menyakiti orang-orang disekitar mereka, sehingga mereka memiliki tekanan batin masing- masing.
commit to user
peristiwa ini bersamaan dengan krisis moneter yang mengakibatkan turunnya nilai rupiah yang membuat semua barang atau bahan pokok mahal. Banyak perusahaan yang melakukan PHK secara besar-besaran kepada para buruhnya. Peristiwa ini menambah pengangguran dan mengakibatkan turunnya pendapatan masyarakat.
Selanjutnya, masalah sosial timbul karena pada masa pemerintahan Suharto, banyak nilai- nilai sosial yang tidak sesuai dengan nilai- nilai Pancasila.
Kegiatan demonstrasi yang bermula hanya untuk menyuarakan dan memperjuangkan keinginan rakyat menjadi perbuatan yang tidak manusiawi, seperti terjadinya kerusuhan, penjarahan, konflik etnis, hingga munculnya tindakan asusila. Peristiwa tersebut bertentangan dengan nilai- nilai Pancasila, yaitu sila kedua (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab), dan sila ketiga (Persatuan Indonesia).
3. Cara Mengatasi Masalah Sosial
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dalam melakukan suatu upaya pemberian jalan keluar terhadap masalah sosial harus melalui proses analisis terhadap masalah tersebut (Soetomo, 2008: 29). Sedangkan proses analisis sendiri terdapat beberapa tahap, yaitu identifikasi, diagnosis, dan treatment.
a. Tahap Identifikasi
Dengan adanya perkembangan zaman saat ini, permasalahan sosial yang dihadapi manusia pun semakin kompleks. Terdapat masalah lama yang mengalami perkembangan baik kualitatif maupun kuantitatif, namun ada pula yang merupakan masalah baru yang muncul karena perkembangan dan perubahan kehidupan sosial, ekonomi, dan kultural. Masalah- masalah sosial tersebut sering disadari terlambat, bahkan ada pula yang tidak disadari keberadaannya. Oleh karena itu, dibutuhkan kepekaan dalam mengenali dan memisahkannya dari fenomena yang lain.
Ada beberapa kriteria yang digunakan dalam menentukan suatu peristiwa dapat digolongkan sebagai masalah sosial, yaitu ukuran objektif dan subjektif. Ukuran objektif adalah instrumen untuk mengetahui keberadaan gejala masalah sosial dalam masyarakat dengan menggunakan parameter
commit to user
yang dianggap baku dengan memanfaatkan data yang ada termasuk angka- angka statistik. Sedangkan ukuran subjektif merupakan instrumen identifikasi sosial berdasarkan interpretasi masyarakat. Pada umumnya, interpretasi tersebut menggunakan referensi nilai, norma, dan standar sosial yang berlaku.
Dengan kata lain, untuk dapat melihat masalah sosial sebagai hasil konstruksi sosial, masyarakat dapat menggunakan ukuran subjektif.
Keberadaan masalah sosial dapat dilihat dari data tentang gejala yang ada, salah satunya dari tampilan angka dalam statistik tentang berbagai hal yang dianggap terkait dengan masalah sosial. Cara seperti ini dikenal dengan sebutan indikator masalah sosial. Selain itu, ada beberapa indikator lainnya, salah satunya yaitu indikator sederhana.
Indikator sederhana adalah identifikasi masala h sosial dengan memanfaatkan angka statistik yang tersedia bagi daerah tertentu seperti monografi, kabupaten atau propinsi dalam angka. Tidak semua angka dalam statistik daerah tersebut dapat digunakan, melainkan angka-angka yang terkait dengan gejala masalah sosial seperti angka kriminalitas, angka perceraian, angka pengangguran, angka kemiskinan. Dalam rangka memanfaatkan data statistik tersebut, kemudian dikenal konsep insidensi dan pravalensi. Insidensi menggambarkan jumlah kejadian dalam kurun waktu tertentu dalam suatu masyarakat atau daerah tertentu, sedangkan pravalensi digunakan untuk mengetahui jumlah penyandang masalah sosial di daerah tertentu.
b. Tahap Diagnosis
Setelah masalah sosial teridentifikasi, maka akan mendorong munculnya respon dari masyarakat berupa tindakan bersama untuk memecahkan masalahnya. Untuk itu, diperlukan upaya pemecahan yang tepat agar hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Dibutuhkan pengenalan tentang sifat, eskalasi, dan latar belakang masalahnya. Hal inilah yang disebut sebagai tahap diagnosis. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa upaya pemecahan masalah yang didasari oleh diagnosis diharapkan lebih tepat sasaran dan berpijak pada realitas yang ada.
c. Tahap Treatment
commit to user
Tindakan treatment atau upaya pemecahan masalah yang ideal adalah apabila dapat menghapus atau menghilangkan masalahnya dari realitas kehidupan sosial. Walaupun demikian, untuk penanganan masalah sosial, harapan ideal tersebut jarang atau sulit untuk dapat diwujudkan. Oleh sebab itu, treatment tidak harus diartikan sebagai upaya untuk menghilangkan masalah sosial, akan tetapi dalam banyak hal juga dapat berupa usaha untuk mengurangi atau membatasi berkembangnya masalah. Treatment atau penanganan masalah sosial mempunyai cakupan yang luas, tidak terbatas pada tindakan rehabilitatif yang berupa upaya untuk melakukan perubahan atau perbaikan terhadap kondisi yang dianggap bermasalah. Usaha untuk melakukan pencegahan agar masalah sosial tidak terjadi atau paling tidak mengantisipasi dan meminimalisasi kemungkinan munculnya kondisi yang tidak diharapkan juga menjadi bagian dari penanganan masalah sosial. Selain itu, menciptakan dan mengembangkan iklim yang kondusif dalam kehidupan baik individu, kelompok maupun masyarakat juga merupakan faktor yang memberikan daya duk ung bagi penanganan masalah sosial.
1). Kejahatan
Berbagai kejahatan terjadi pada tahun 1998. Banyak harta benda dijarah, pengrusakan fasilitas umum, hingga terjadinya pemerkosaan. Hal ini menunjukkan bahwa kekebalan hukum dan tindakan tegas terhadap perampokan memang masih belum memadai. Penyebab kejahatan adalah perilaku yang timbul melalui proses belajar dalam kehidupan sosial tertentu (seperti disorganisasi sosial, mobilitas sosial, dan konflik budaya) akan berpengaruh dalam mewarnai timbulnya kejahatan pada masyarakat yang mengalami proses tersebut.
Untuk menanggulangi masalah tersebut, dapat dilakukan beberapa cara yaitu:
a. Identifikasi
Identifikasi merupakan proses pengenalan, menempatkan obyek atau individu dalam suatu kelas sesuai dengan karakteristik tertentu. Pada tahap ini, bentuk-bentuk kejahatan diklasifikasikan berdasarkan jenis-jenis
commit to user
kejahatannya. Para kriminolog membedakan antara kejahatan hukum adat/kejahatan konvensional (Common law Crime), kejahatan kerah putih (white collar crime dan kejahatan remaja (adolescent crime). Selain itu, ada pula Cammen lan corine adalah kejahatan yagn dianggap oleh semua orang sebagai kejahatan misalnya pembunuhan, perkosaan, perampokan, dan penyerangan. Sedangkan Occupational crime/white collar crime adalah kejahatan umum oleh orang-orang dari kalangan bisnis, pekerja, politikus, dan lain- lain dalam hubungannya dengan okopasi (pekerjaan) mereka. Pelaku kejahatan yang berusia di bawah 18 tahun biasanya dianggap sebagai seorang juvenile delinquent, bukan penjahat.
b. Diagnosis
Diagnosis adalah proses pemeriksaan terhadap hal (situasi) sosial yang dipandang tak beres. Setelah mengetahui jenis kejahatan yang dilakukan, proses selanjutnya adalah melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap kejahatan tersebut. Untuk itu, penyebab kejahatan harus diketahui terlebih dahulu. Penyebabnya antara lain: (1). Kondisi-kondisi sosial yang menimbulkan hal-hal yang merugikan hidup manusia. Seperti : Kemiskinan yang meluas, pengangguran,,kemiskinan dan sebagainnya. (2) Kondisi yang ditimbulkan oleh urbanisasi dan industrialisasi. Indonesia sebagai suatu Negara berkembang sebenarnya menghadapi suatu dilemma perpindahan, dan peningkatan fasilitas kehidupan,,biasanya dinyatakan sebagai “urbanisasi yang berlebihan”. Keadaan tersebut menimbulkan peningkatan kejahatan. (3) Kondisi lingkungan yang memudahkan orang melakukan kejahatan. (4) adanya kepincangan sosial, tekanan mental dan kebencian.
c. Treatment
? Mengenakan sanksi hukum yang tegas dan adil kepada para pelaku kriminalitas tanpa pandang bulu atau derajat. Hal ini akan sangat ampuh untuk memberikan efek jera kepada para pelaku agar tidak mengulangi kembali tindakannya
? Mengaktifkan peran serta orang tua dan lembaga pendidikan dalam mendidik anak. Dikarenakan hal ini merupakan dari pencegaha n sejak
commit to user
dini untuk mencegah terjadinya tindakan kriminal dan mencegah menjadi pelaku tindakan kriminal.
? Selektif terhadap budaya asing yang masuk agar tidak merusak nilai budaya bangsa sendiri. Karena setiap budaya luar belum tentu baik untuk budaya kita, misalnya berbusana mini, berprilaku seperti anak punk, dan lain sebagainya.
? Menjaga kelestarian dan kelangsungan nilai norma dalam masyarakat dimulai sejak dini melalui pendidikan multi kultural , seperti sekolah , pengajian dan organisasi masyarakat.
? Melakukan pelatihan atau kursus keahlian bagi para pelaku tindak kriminal atau penganguran agar memiliki keterampilan yang dapat dilakukan untuk mencari lapangan pekerjaan atau melakukan wirausaha yang dapat membuka lapangan kerja baru.
Solusi ini akan berjalan baik bila peran serta pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi permasalahan ini. Dan semua pihak harus melakukan rekonsiliasi untuk memulihkan ekonomi terutama dengan masyarakat kelas bawah dan harus diingat bahwa kemerosotan ekonomi mengakibatkan tingkat kejahatan meningkat.
2) Masalah Generasi Muda dalam Masyarakat Modern
Masalah generasi muda dalam masyarakat erat kaitannya dengan sosialisasi dan modernisasi. Sosialisasi adalah proses penanaman nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah masyarakat.
Sedangkan modernisasi yaitu proses menuju masyarakat yang modern, modernisasi dapat pula berarti perubahan dari masyarakat tradisional menuju masyarakat yang modern. Adapun proses sosialisasi yang keliru dapat menyebabkan penyimpangan. Faktor penyebab penyimpangan yaitu: a) Tidak adanya nilai dan norma, b) Penyalahgunaan peran, otoritas kekuasaan dan status yang dimiliki oleh seseorang kelompok tertentu di masyarakat yang seluruhnya menjadi contoh yang baik, tetapi melakukan tindakan penyalahgunaan dengan mengabaikan norma, c) Psikologis menjelaskan sebab
commit to user
terjadinya penyimpangan ada kaitannya dengan kepribadian yang memiliki kecenderungan untuk melakukan penyimpangan, d) Kurangnya kontrol sosial atau pengawasan terhadap pelaksanaan norma dan nilai yang berlaku di masyarakat. Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah sebagai berikut.
a. Identifikasi
Masalah generasi muda pada umumnya ditandai oleh dua ciri yang berlawanan, yaitu keinginan untuk melawan dan sikap yang apatis. Keinginan untuk melawan antara lain ditujukan dalam bentuk radikalisme. Sikap yang apatis misalnya penyesuaian yang membabi buta terhadap ukuran moral generasi tua. Dalam masyarakat yang sedang mengalami transisi, generasi muda seolah-olah terjepit antara norma-norma lama dan baru (yang kadang belum terbentuk). Generasi tua seolah-olah tidak menyadari bahwa sekarang ukurannya bukan lagi usia, tetapi kemampuan. Generasi muda sama sekali tidak diberi kesempatan untuk membuktikan kemampuannya. Dalam masyarakat perkotaan, kondisi ini diperparah lagi dengan kurangnya perhatian orang tua terhadap anaknya.
b. Diagnosis
Penyebab masalah generasi muda dalam masyarakat modern adalah sebagai berikut.
? Persoalan sense of value yang kurang ditanamkan oleh para orang tua
? Tumbuhnya organisasi atau kelompok pemuda informal yang tingkah lakunya tidak disukai oleh masyarakat
? Timbulnya usaha generasi muda untuk mengadakan perubahan- perubahan dalam masyarakat, yang disesuaikan dengan nilai- nilai kaum muda.
c. Treatment
Setelah melalui tahap identifikasi dan diagnosis, selanjutnya masalah dicari jalan keluarnya, diantaranya dengan cara berikut ini.
? Perlunya kasih sayang dan perhatian dari orang tua dalam hal apapun.