• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai-Nilai Pendidikan

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 42-60)

Nilai-nilai pendidikan yang terdapat pada novel 1998 karya Ratna Indraswari Ibrahim meliputi: religius, moral, sosial, dan budaya.

a. Nilai Pendidikan Religius

Nilai religius merupakan suatu pelajaran yang dapat diambil dari sud ut pandang yang mengikat manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. Berbicara tentang hubungan manusia dan Tuhan tidak terlepas dari pembahasan agama.

Agama merupakan pegangan hidup bagi manusia. Agama dapat pula bertindak sebagai pemacu faktor kreatif, kedinamisan hidup, dan perangsang atau pemberi makna kehidupan. Melalui agama, manusia pun dapat mempertahankan keutuhan masyarakat agar hidup dalam pola kemasyarakatan yang telah tetap sekaligus menuntun untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Dari beberapa kutipan berikut, terdapat nilai pendidikan religius yang hampir sama, yaitu kita sebagai manusia diharapkan selalu mengingat, berdoa, serta tawakal hanya kepada Allah. Karena hanya Allah yang mampu memberikan kenyaman hati untuk dapat menerima segala yang akan

commit to user

terjadi/segala keputusannya dengan ikhlas. Hal ini dapat dilihat dari kutipan Gus Hizam yang senantiasa mengingatkan rekan-rekannya untuk selalu berani dalam menghadapi rintangan dan tak lupa meminta pertolongan Allah.

Kala sedang tidak kesurupan, Gus Hizam bilang, “jangan takut melihat apapun. Bacalah doa sebisa kalian, pertempuranku dengan penjaga gunung itu belum selesai. Kalau selesai, Insya Allah kekuasaan akan luntur. Kalau ikut aku, bukalah mata hatimu, jangan takut, bagaimanapun kita makhluk yang lebih tinggi dari jin.” (Ibrahim, 2012:

211)

Selain itu, terdapat pada permasalahan yang dihadapi oleh Putri dalam mencari kekasihnya bernama Neno yang hilang. Dengan rasa gelisah, Putri meminta pertolongan pakdenya melalui ayahnya.

Lantas Putri berketetapan hati untuk meminta tolong papanya dan aku untuk menghubungi pakdenya, Om Joko di Jakarta. Mas Suwarno bilang, “tadi sudah kutelepon Pakdemu, beliau akan membantu mencari Neno. Tapi kau ingat, ini bukan pekerjaan mudah. Mari kita doakan saja.” (Ibrahim, 2012: 223)

Dari kutipan tersebut menggambarkan bahwa tokoh Om Joko, Om Putri, merupakan tokoh yang berikhtiar. Om Joko mengusahakan untuk melakukan pencarian terhadap Neno, meskipun pekerjaan tersebut tidak mudah. Oleh karena itu, Om Joko meminta kepada Putri untuk tidak terlalu mengharapkan kabar darinya dan meminta untuk mendoakan keselamatan Neno.

Tanpa ada yang tahu Neno berada dalam penjara bersama Pak Suryo yang dianggap sebagai anggota PKI. Di dalam penjara, Neno menceritakan segala tentang dirinya kepada Pak Suryo.

Kemudian seperti air mengalir Neno bercerita semua tentang dirinya.

Lelaki itu memeluk Neno, “Nak, Allah itu Maha Besar. Hanya itu yang bisa kukatakan kepadamu. Bangun dan makanlah.” (Ibrahim, 2012:

231)

“Apapun yang terjadi, kita harus tetap berharap dan berdoa. Sekalipun harapan dan doa itu tidak selalu terkabul. Begitulah aku mempertahankan hidupku agar tetap sehat jasmani dan rohani selama di penjara….” (Ibrahim, 2012: 266)

commit to user

Dari perkataan Pak Suryo di atas, dapat diambil pelajaran bahwa sesulit apapun hidup kita, harus selalu mengingat Allah. Dengan mengingat Allah, maka kita merasa tak sendiri, selalu merasa optimis dan tak mudah putus asa dalam menghadapi suatu masalah. Hal ini pula yang dilakukan Zizi ketika Gundul merasa putus asa dalam mencari Neno.

Gundul kadang-kadang putus asa tapi Zizi memberi semangat, “kau sudah menularkan virus kebenaran dan tidak ada yang salah dalam hal ini kecuali nasib yang menyeret-nyeret kita. Aku punya usul, bagaimana kalau diadakan istighosah untuk keselamatan kita semua?

Aku sudah minta izin ibu kos. Sewaktu-waktu kita pinjam ruang tamunya untuk istighosah.” (Ibrahim, 2012: 239)

Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa, nilai pendidikan religius dalam Novel 1998 karya Ratna Indraswari Ibrahim adalah mengajarkan kita untuk selalu mengingat Allah Swt. Segala permasalahan akan memiliki jalan keluarnya masing- masing dengan usaha, berdoa serta ikhtiar. Oleh karena itu, diharapkan manusia mampu memiliki sikap ikhlas dalam menerima segala keputusan-Nya atas permasalahan yang dihadapi.

b. Nilai Pendidikan Moral

Nilai moral sering disamakan dengan nilai etika, yaitu suatu nilai yang menjadi ukuran patut tidaknya manusia bergaul dalam kehidupan bermasyarakat. Moral merupakan tingkah laku atau perbuatan manusia yang dipandang dari nilai individu itu berada. Beberapa perbuatan manusia dalam novel 1998 adalah gemar membaca, memiliki sikap patriotik, serta anak muda yang bercita-cita tinggi. Seperti pada kutipan berikut mengandung nilai moral yang sangat penting.

1) Mahasiswa yang Berpikir Kritis

Membaca adalah salah satu kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh keluarga Putri. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, keluarga Putri memiliki banyak koleksi buku yang dapat dibaca. Khususnya buku tentang politik. Suwarno, Papa Putri adalah seorang Walikota Malang. Ia mempelajari banyak teori tentang permasalahan yang sering dihadapi

commit to user

oleh masyarakat. Oleh karena itu, tak mengherankan jika Suwarno mengoleksi buku tentang politik. Kecintaan Suwarno pada buku menurun pada Putri. Tak jarang Putri secara diam-diam membaca buku yang dimiliki oleh ayahnya itu. Demikian pula untuk kondisi politik pada zaman itu, Putri merasa harus ada jawaban atau solusi untuk menghadapi zaman pergolakan di tahun 1998 yaitu dengan mencari tahu atau membaca buku-buku politik.

Kembali Putri mencoba membaca buku politik milik papanya dan tidak ada jawaban untuk kondisi sekarang. (Ibrahim, 2012: 21) Papanya suka belajar dan membaca apa saja. Kadang-kadang Putri membaca buku-buku koleksi Suwarno juga. (Ibrahim, 2012: 22)

Banyaknya buku yang dimiliki membuat keluarga Putri harus memiliki sebuah ruangan khusus untuk menempatkan buku-buku tersebut agar terlihat lebih rapi dan mudah untuk dicari. Di samping itu, keluarga Putri juga menginginkan adanya ruangan yang kondusif agar mereka dapat membaca dengan fokus dan menyenangkan. Hal itu terlihat pada saat Mama Putri, Ninik memasuki ruang baca keluarga mereka, Putri terlihat sedang asyik membaca buku papanya.

Pada saat dia asyik baca salah satu buku papanya di ruang perpustakaan keluarga mereka, mamanya masuk. (Ibrahim, 2012:

24)

Kegemaran adalah salah satu kegiatan yang disukai seseorang.

Untuk dapat memenuhi rasa sukanya tersebut, terkadang orang langsung menyalurkan atau melakukan kegemarannya secara spontan. Misalnya, seperti yang dilakukan Putri berikut ini. Di kampus, ketika Putri melihat Neno membawa koran berbahasa Inggris, Putri langsung antusias membuka kemudian membacanya.

Kembali mengenai Neno, sore itu tanpa bertanya bagaimana aku mendapatkan koran berbahasa Inggris, Putri langsung membukanya dengan rakus. Koran itu menceritakan tentang demo mahasiswa yang lagi ramai di seluruh Indonesia. (Ibrahim, 2012: 41)

commit to user

Dari gambaran tersebut, terlihat Putri memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Oleh sebab itulah Putri memiliki wacana yang baik tentang politik. Ia selalu mencari tahu khususnya tentang pemberitaan-pemberitaan tentang kondisi politik saat itu yang kurang baik. Tidak semua masalah politik yang dihadapi Putri saat itu dapat dimengerti olehnya. Ketika Papanya sedang sibuk bekerja, Putri menanyakannya kepada Mamanya. Pengetahuan Mama Putri di bidang politik pun tak kalah dengan Putri dan Papanya. Terbukti dengan koleksi buku-bukunya terutama di bidang sejarah, politik, sosial, dan budaya.

Ninik betul-betul punya lingkungan yang bagus, dia sangat mengetahui sejarah bangsa ini, itu terlihat dari koleksi buku-buku terutama buku sejarah, politik, dan sosial budaya miliknya.

(Ibrahim, 2012: 139)

Kecintaannya akan membaca membuat Ninik (Mama Putri) jatuh cinta kepada Suwarno (Papa Putri). Tampilan fisik Suwarno saat itu bukanlah alasan utama Ninik mencintainya. Apalagi latar belakang keluarga Suwarno yang berasal dari keluarga berkecukupan. Jika dibandingkan dengan keluarga Ninik, keluarga Suwarno bagaikan bumi dan langit. Namun, Ninik lebih melihat Suwarno dari kegemarannya membaca buku. Suwarno dan Ninik memiliki kegemaran yang sama, yaitu membaca buku.

Ninik jatuh cinta bukan karena Suwarno mirip Mick Jagger tapi karena sama-sama gemar membaca buku. (Ibrahim, 2012: 141) Adanya kondisi yang kurang kondusif pada masa itu membuat Putri dan keluarganya, terutama Suwarno selalu mencari tahu berita terkini setiap hari. Sampai-sampai setiap pagi Suwarno dan Putri berlomba- lomba dalam membaca koran.

Kok ya h waktu lekas sekali berlangsung, sekarang setiap pagi Putri bersaing dengan Pak Suwarno membaca koran. (Ibrahim, 2012:

151)

Dari beberapa kutipan di atas, menggambarkan bahwa keluarga Putri memiliki kebiasaan yang baik, yaitu membaca buku. Dari kebiasaan

commit to user

tersebut, Putri dan keluarganya berinteraksi dengan dunia luar. Melalui kebiasaannya membaca koran mereka dapat mengetahui perkembangan terkini tentang situasi di Kota Malang khususnya. Bahkan, buku-buku politik yang Putri baca dapat menjadikan dirinya mahasiswa yang mampu berpikir kritis dalam menghadapi segala permasalahan yang ada.

Di samping itu, kegemaran membaca buku, terutama buku tentang politik dapat memberikan pengetahuan bagi Suwarno untuk bisa mensejahterakan masyarakat Kota Malang.

2) Sikap Patriotik

Orang yang memiliki sikap patriotik sudah sangat sulit ditemukan.

Sekarang ini, banyak orang yang melakukan kebaikan yang dilatarbelakangi dengan maksud- maksud tertentu. Apalagi di masa pemerintahan Soeharto yang selama 30 tahun lebih terkenal dengan kondisinya yang aman, nyaman, tenteram, adanya pembangunan yang seakan-akan semua kebutuhan rakyat tercukupi. Namun, hal ini tidak berlaku pada kebutuhan rakyat dalam mengapresiasikan dirinya. Hal- hal yang berkaitan dengan mengkritik pemerintah atau mengungkapkan kekurangan pemerintah merupakan perbuatan yang sangat membahayakan untuk dilakukan.

Perbuatan pemerintah tersebut secara tidak langsung telah membodohi rakyat. Sebagai mahasiswa, hal tersebut menggugah hati Neno, teman Putri untuk ikut berpartisipasi dalam menegakkan kebenaran kehidupan bangsa Indonesia. Apalagi keluarga Neno yang memiliki cita-cita untuk membela bangsa dan tanah air ini belum sempat terwujud. Oleh karena itu, Neno merasa dirinya adalah orang yang tepat untuk meneruskan perjuangan kakeknya tersebut.

Dalam suatu pembicaraan Neno bilang kepada Putri, “aku ingin terlibat dalam sejarah kehidupan bangsa kita. Kalau pada 1945 ayahku belum lahir. Sedangkan pada waktu itu kakekku tidak berkesempatan menyumbangkan tenaganya untuk membela bangsa, jadi sekaranglah kesempatanku untuk berbuat sesuatu”. (Ibrahim, 2012: 34)

commit to user

Semangat juang yang dimiliki Neno tidak lepas dari peran kedua orang tuanya. Ibu Neno, Nuraini adalah seorang guru sejarah yang banyak tahu mengenai perjalanan bangsa ini. Sejak kecil Neno disuguhkan dengan cerita-cerita sejarah, hingga akhirnya ketika sudah besar Neno dan keluarga terbiasa membicarakan hal- hal mengenai sejarah atau politik. Lama- lama rasa patriotik itu muncul. Apalagi semakin adanya penindasan yang dilakukan oleh kekuasaan yang otoriter menggugah Neno untuk melakukan suatu perubahan. Dengan segala resiko, Neno mencoba untuk terus melakukannya hingga cita-citanya terwujud.

Semoga kalian aman-aman saja dan sehat. Aku sebetulnya berada tidak jauh dari tempat kalian tapi aku tidak bisa mengatakan di mana! Aku merasa harus melakukan perjuangan ini. Orangtuaku tak sempat melakukannya karena harus mencari uang untuk kami.

Yah, bagaimanapun merekalah yang memberi penyadaran bahwa bangsa kita ditindas oleh kekuasaan ya ng otoriter, sehingga pikiran kita terbonsai bahkan tata pikirpun harus sewarna dengan pimpinan. Setelah selesai semua aku kepingin pulang dan berhaha-hihi dengan sampeyan berdua, jadi jangan lupa mengopikan tiap-tiap mata kuliah yang sampeyan-sampeyan ambil, untukku.

Berhati-hatilah karena politik hari ini seperti gunung es. (Ibrahim, 2012: 54)

Dari kutipan di atas, menggambarkan bahwa Neno memiliki sikap kepahlawanan, yaitu suatu perbuatan yang dilakukan seseorang demi kepentingan masyarakat. Neno adalah seorang mahasiswa yang memiliki cita-cita tinggi dalam membela bangsanya dari tindakan otoriter sang penguasa. Oleh karena itu, dengan berbagai upaya, dia berusaha memperbaiki sistem negara yang salah. Hal itu dapat ditarik kesimpulan dari tokoh Neno bahwa untuk mencapai atau menginginkan sesuatu yang besar harus dilandasi dengan usaha yang keras pula.

3) Anak Muda yang Idealis (Anak Muda yang Memiliki Cita-cita Tinggi) Anak muda merupakan manusia yang sedang berada masa produktif. Pada masa ini, manusia biasanya memiliki angan-angan besar untuk dapat mewujudkan cita-citanya. Di samping itu, semangat dalam

commit to user

menggapai keinginannya tersebut juga sangat besar. Apalagi jika anak muda dihadapkan pada zaman yang tidak mendukung cita-citanya tersebut. Anak muda akan semakin berupaya dan menggunakan berbagai macam cara untuk dapat mencapainya.

Hal inilah yang juga dilakukan teman-teman Putri dalam menghadapi situasi politik yang kurang mendukung keinginan anak muda, dalam konteks ini adalah mahasiswa. Seperti anak muda pada umumnya, Marzuki juga memiliki keinginan jika dewasa nanti, yaitu ingin hidup di desa namun tidak ketinggalan informasi.

Sekalipun para demonstran sudah mulai membakar foto- foto presiden, Neno agaknya masih tidak begitu optimis kalau Marzuki bisa keluar dari LP untuk meneruskan kuliah dan menjadi petani di desanya. Marzuki ingin anak-anaknya kelak hidup di desa tapi tidak ketinggalan informasi. Marzuki pernah bilang, “aku ingin anak-anakku belajar bersamaku di rumah saja dan ada ujian persamaan untuk itu….” (Ibrahim, 2012: 83)

Sama halnya dengan Marzuki, Neno juga memiliki harapan atau angan-angan yang tinggi terhadap bangsa dan negara ini. Kehidupan yang semakin sulit bagi rakyat kecil menggugah hati Neno untuk terus melakukan perlawanan kepada pemerintah. Hanya satu yang diinginkan Neno pada saat itu, yaitu adanya reformasi di Indonesia.

“Ini demi kalian semua. Reformasi harus ditegakkan, agar anakku menghirup arti kebebasan yang sesungguhnya”, kata Neno.

(Ibrahim, 2012: 97)

Setiap anak muda pasti memiliki cita-cita yang tinggi. Ini menunjukkan bahwa anak muda memiliki pandangan yang jauh terhadap masa depannya. Dengan demikian, manusia akan memiliki motivasi untuk segera mengejar keinginannya. Seperti halnya Rudi, teman Putri.

Rudi merasa harus segera menyelesaikan kuliahnya. Sebenarnya Rudi juga memiliki sikap idealis seperti teman-temannya yang lain. Namun, entah sampai kapan kondisi ini akan berakhir tak ada yang tahu. Apalagi ia dihadapkan pada kondisi keluarga yang kurang baik. Untuk itu, Rudi

commit to user

merasa harus memprioritaskan kuliah kemudian mencari uang demi membantu keluarganya.

Putri kadang-kadang bertemu Rudi di kampus, “aku tidak bisa penuh seperti mereka karena aku anak dari janda dengan 3 adik.

Aku harus segera mengambil alih tugas ayahku almarhum untuk mencari nafkah. Oleh karena itu aku harus lulus tepat waktu agar ibuku bersemangat dan bisa tertawa. Sekarang saja aku sudah bekerja paruh waktu di begkel Paman. Mungkin teman-teman kita tidak takut harus molor waktu kuliahnya sedangkan aku, meskipun aku tetap ingin seidealis mereka, aku tak bisa main- main dengan kuliahku. Ibuku sendiri bilang agar aku menikmati masa mudaku, ibu sudah senang aku mengetahui kesulitan kami dan keadaan ini tak membuat aku frustasi. Maka itu Put, apa aku harus membiarkan ibuku terus- menerus berangkat pukul dua malam untuk berdagang ikan di pasar Muncar? Tidak, aku harus segera lulus dan bekerja.”

(Ibrahim, 2012: 172)

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa anak muda sebagai generasi penerus keluarga, bangsa, dan negara harus selalu memiliki cita-cita yang tinggi. Anak muda harus memiliki rasa peduli dengan segala permasalahan yang ada di sekitarnya, sehingga hatinya tergerak untuk melakukan suatu perubahan. Dengan demikian, diharapkan anak muda mampu memimpin masyarakat ke arah yang lebih baik serta bertanggung jawab atas segala perbuatan yang telah dilakukannya.

c. Nilai Pendidikan Sosial 1) Persahabatan

Persahabatan adalah istilah yang sering digunakan dalam perilaku kerja sama dan saling mendukung antara dua atau lebih entitas sosial.

Persahabatan dapat dialami oleh siapa saja dan kapan saja. Persahabatan merupakan suatu tanda kesetiaan terhadap sesamanya, meskipun di dalamnya terdapat perbedaan. Seringkali, tanda persahabatan diwujudkan dengan adanya di antara mereka, persamaan selera dan kuantitas pertemuan mereka yang lebih banyak. Sebagai contoh, mereka sering menikmati kegiatan-kegiatan yang mereka sukai, tukar- menukar nasihat, hingga saling menolong dalam kesulitan.

commit to user

Seperti halnya persahabatan yang dialami Putri, Heni, dan Neno.

Mereka mulai bersahabat sejak awal mereka memasuki bangku kuliah.

Mereka sering membaca buku di perpustakaan bersama, makan di kantin bersama, hingga sekedar jalan-jalan mereka pun sering melakukan bersama. Kebersamaan mereka menunjukkan bahwa di antara mereka ada kedekatan secara emosional. Sebab hal ini tidak dirasakan Putri terhadap orang lain selain mereka.

Rizal yang mahasiswa kedokteran itu memang menyukainya tapi aku mengerti anakku, Putri tidak merasakan apa-apa. Dia lebih suka jalan-jalan dengan Heni dan Neno daripada harus jalan bareng dengan Rizal. Yah, Rizal dan Putri tak kunjung ada kedekatan emosional. (Ibrahim, 2012: 38)

Meskipun Putri, Heni, dan Neno memiliki latar belakang keluarga yang sangat berbeda, namun mereka tetap merasa nyaman satu dengan yang lainnya. Putri anak Walikota Malang, Heni yang berasal dari keturunan etnis Tionghoa, dan Neno yang berasal dari keluarga sederhana. Kedekatan mereka membuat teman-teman kampus mereka terheran- heran. Apalagi terhadap Neno, teman-teman kampusnya menanyakan bagaimana dia dapat bersahabat dengan Putri dan Heni yang notabene anak orang kaya.

Aku dan Putri pun tertawa-tawa. Sungguh aneh kedekatan mereka.

Memang sepertinya hampir tak terleraikan. Beberapa teman lelaki Neno di kampus selalu menanyakan perihal kedekatan dirinya dan kedua gadis ini, “bagaimana kamu bisa berteman dengan anak walikota dan pengusaha kaya yang kelihatan borjuis, sedangkan kau sendiri aktifis yang selalu bicara tentang kerakyatan.” (Ibrahim, 2012: 42)

Selain itu, Putri, Heni, dan Neno memiliki sahabat lain. Marzuki, Gundul, Rudi, dan Zizi adalah teman mereka saling mendukung ketika salah satu dari mereka mengalami kesulitan. Pada saat Marzuki masuk LP Cipinang karena mengikuti demonstrasi, Neno denga n cekatan mengkoordinasi teman-temannya untuk menjemput Marzuki yang segera

commit to user

bebas. Meskipun tidak memiliki uang, namun dengan modal nekat mereka tetap bersikeras mencoba membantu Marzuki.

Apalagi ketika mereka bercerita kala Neno menjemput Marzuki di LP Cipinang waktu dia dibebaskan. Mereka kebingungan karena tidak punya cukup uang untuk ongkos pulang dan dengan nekat mereka naik taksi ke kantor pengacara yang membela Marzuki.

(Ibrahim, 2012: 96)

Kepergian Neno dan Heni karena adanya kondisi politik yang kurang kondusif membuat Putri sedih. Dia yang biasanya selalu ditemani kedua sahabatnya itu kini harus merasakan kesepian. Melihat hal itu, Marzuki, Gundul, dan Rudi mencoba menanyakan kepada Putri permasalahan yang sedang dia alami. Dengan harapan, jika Putri menceritakan permasalahannya, Marzuki, Gundul, dan Rudi dapat menghibur atau memberikan solusi.

Gundul memotong pikiranku, “Put, kalau kau punya masalah bagilah dengan kami. Dalam perjuangan pasti ada yang kalah dan yang dikalahkan. Sebaiknya sering-seringlah mengirim surat elektronik kepada Neno. Di samping keluarganya, kaulah orang yang dicintai.”

Marzuki bicara pelan, “yah kalau kau butuh apa-apa, aku bersedia menolong.”

Kemudian Rudi bicara senada. (Ibrahim, 2012:195)

Setelah menerima nasihat dari teman-temannya, Putri kemudian sedikit demi sedikit mulai bangkit. Tidak hanya dia yang merasa sedih atas kejadian tersebut, melainkan Marzuki, Gundul dan Rudi pun merasakan hal yang sama. Di saat kondisi yang kurang baik seperti ini mereka masih bisa mempedulikan orang lain. Putri sangat beruntung memiliki sahabat seperti mereka. Sebisa mungkin mereka memberi dukungan kepada Putri dalam menghadapi situasi sulit tersebut. Mereka berupaya membantu Putri dalam mencari informasi tentang keberadaan Neno.

Gundul dan teman-teman tentu saja tetap sahabatku, mereka sebisa-bisanya mencari informasi tentang Neno. Gundul selalu bilang,

“kau tidak boleh merasa sendirian. Aku dan teman-teman tetap mencari keberadaan Neno. Kau harus percaya itu.”

commit to user

Datanglah ke kos-kosan Zizi besok sore, kami akan buat bakso untuk perpisahanku dengan ideologi dan perjuangan. Kami akan menyelesaikan kuliah, bekerja kemudian menikah. Jangan menangis Put, secara pribadi akan tetap kucari informasi tentang Neno. Kalau aku lama tidak ke rumahmu, jangan diartikan lain.

Teleponlah ke tempat Zizi, aku akan segera datang jika kau butuhkan. (Ibrahim, 2012: 236)

Perjuangan berat yang mereka alami tidaklah mudah. Sulit memunculkan motivasi besar dalam menghadapi perjuangan tersebut.

Kerja keras serta dukungan orang-orang di sekitar merupakan obat yang sangat manjur. Saat-saat seperti inilah sahabat sangat dibutuhkan. Tidak hanya ketika senang, mereka selalu ada ketika salah satu diantara mereka tidak ada atau sedih.

Hal inilah yang dirasakan Gundul. Meskipun dia sering memberi semangat kepada Putri, namun terkadang dia juga merasa payah atas permasalahan yang dialaminya. Dengan bijak, Zizi memberi dukungan dan semangat kepada Gundul. Selain itu, Zizi juga memiliki sikap sigap dalam mengatasi persoalan yang ada. Suasana politik yang tak menentu, membuat risau para mahasiswa. Mereka takut jika mereka menjadi

Hal inilah yang dirasakan Gundul. Meskipun dia sering memberi semangat kepada Putri, namun terkadang dia juga merasa payah atas permasalahan yang dialaminya. Dengan bijak, Zizi memberi dukungan dan semangat kepada Gundul. Selain itu, Zizi juga memiliki sikap sigap dalam mengatasi persoalan yang ada. Suasana politik yang tak menentu, membuat risau para mahasiswa. Mereka takut jika mereka menjadi

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 42-60)

Dokumen terkait