• Tidak ada hasil yang ditemukan

Maskulinitas Konservatif Versus Maskulinitas Modern

Maskulinitas tentu erat kaitannya dengan studi gender, Julia T. Wood dalam bukunya Gendered Lives: Communication, Gender, and Culture membedakan antara jenis kelamin dan gender. Gender menganggap konsep yang lebih kompleks dari pada jenis kelamin, Julia T.Wood mengkalsifikasikan bahwa jenis kelamin merupakan bawaan biologis dari lahir, sementara gender merupakan konsep sosial yang terbentuk dari masyarakat. Misalnya, bahwa perempuan itu dikenal lemah lembut, cantik, emosional, atau keibuan. Sementara laki-laki dianggap: kuat, rasional, jantan, perkasa. Sifat dan ciri tersebut dinamis dan bisa dipertukarkan. Perubahan ciri dari sifat-sifat itu dapat terjadi dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. (Fakih, 1996:8).

Fakih menjelaskan perbedaan gender pria dan wanita memiliki sejarah yang panjang. Terbentuknya perbedaan-perbedaan gender dikarenakan oleh banyak hal, diantantaranya dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikonstruksi secara sosial atau kultural. Melalui proses panjang, sosialisasi gender tersebut akhirnya dianggap menjadi ketentuan Tuhan seolah-olah bersifat biologis yang tidak bisa diubah lagi. Melalui konstruksi gender tersebut secara perlahan

commit to user

mempengaruhi kondisi biologis seseorang. Misalnya karena konstruksi gender, kaum laki-laki harus bersifat kuat dan agresif, maka kaum laki-laki termotivasi untuk mempunyai fisik seperti sifat gender yang ditentukan oleh suatu masyarakat. (Fakih, 1996:10)

Nilai gender pria pada awalnya, sering dikaitkan dengan konsep maskulinitas konservatif. Konsep maskulinitas konservatif pada pria secara umum digambarkan ke dalam tiga bentuk, ada tiga stereotipe pria yaitu Sturdy oak, Petarung, dan Pemenang (Wood, 2001 : 249-250) :

(1) Sturdy oak, Stereotipe ini menggambarkan pria tidak boleh memperlihatkan kelemahan kepada orang lain. Pria, tidak memiliki keraguan, lalu pria berani mengambil resiko walaupun tidak bijaksana.

(2) Petarung, stereotipe ini menganggap pria sebagai petarung atau pejuang yang pergi ke medan perang. Selalu berkomitmen secara penuh, agresif, berhasrat kuat untuk bertarung dan kejam mengalahkan dalam kompetisi. Stereotipe pria sebagai petarung bergema dalam tema lain dari maskulinitas : dominan, kekuatan, dan kekerasan.

(3) Breadwinner. Pria diharapkan menjadi pencari nafkah utama untuk keluarganya dan inilah bagaimana masyarakat kita melihat kesuksesan pria.

Dalam kehidupan sosial kita, pria harus memenuhi beberapa kriteria untuk menjadi pria yang maskulin, nilai maskulinitas konservatif biasa di ambil dari stereotipe pria hegemonic masculinity (Cornwall, 1997:11). Hegemoni menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pengaruh kepemimpinan, dominasi,

commit to user

kekuasaan, dsb suatu negara atas negara lain (Kamus Besar Indonesia, 2007:394).

Dalam konteks hegemoni maskulinitas, berarti pengaruh dominasi suatu konstruksi maskulinitas atas bentuk maskulinitas lain. Dalam teori ini, maskulin berhubungan dengan dominasi dan kekuatan. Teori hegemonic masculinity dianggap sebagai cara yang paling tepat dan sukses dalam mendifinisi bagaimana seharusnya menjadi seorang laki-laki. Dalam teori ini maskulinitas didefinisikan dengan kekuatan fisik, agresivitas, pengendalian emosi, serta dominasi akan lingkungan sekitar (http://Syahid.hdpin.net,diakses pada tanggal 28 Juni 2014).

House, Dallinger dan Killgaen menjelaskan arti maskulin sebagai berikut,

“menjadi maskulin adalah menjadi kuat, ambisius, sukses, rasional dan memiliki kontrol emosi.“ (Wood, 2001:22). Sementara itu, Harry Brod berpendapat mengenai gambaran maskulinitas pria sejati, yaitu “Gambaran pasti maskulinitas dari pria sejati adalah secara fisik kuat, agresif, dan memiliki kendali atas pekerjaannya” (Katz, 1995:135).

Setelah era kemunculan maskulinitas pria “hegemonic masculinity”, muncul juga gelombang maskulinitas pria yang disebut “the new lad”. Pada era ini pria digambarkan sebagai pria yang gemar berkumpul dengan teman prianya sambil meminum alkohol, suka mengambil resiko, melontarkan ejekan kotor, dan merendahkan wanita. Fenomena ini merupakan tandingan dari munculnya gerakan feminism (Cortese, 2011). Munculnya gelombang “the new lad”

memiliki perbedaan gambaran maskulinitas konservatif dengan tahun 80an dimana pada era “hegemonic masculinity” pria digambarkan lebih ke arah

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

kekuatan, dominasi, dan kesuksesan, sementara “the new lad” pria lebih digambarkan santai dan menikmati hidup.

Stereotipe gender pria yang terbentuk di masyarakat seperti yang dijelaskan sebelumnya tentu selalu berubah dari waktu ke waktu, tidak seperti halnya dengan jenis kelamin yang terbentuk secara alamiah, konstruksi gender selalu berubah. Atas alasan tersebut, konsep maskulinitas pun terus mengalami pendefinisian ulang. Munculnya era pria modern juga merupakan hasil dari yang diusung oleh pria-pria yang mengklaim diri mereka sebagai pria modern.

Ditambah lagi meningkatnya frekuensi kemunculan pria di dalam media dengan gambaran yang sensual dan dengan tubuh yang terbuka, telah merubah pandangan stereotipe pria. Melalui beberapa perubahan terjadi pergeseran nilai maskulinitas konservatif ke arah maskulinitas modern. Dengan dipengaruhi kapitalisme dan budaya konsumerisme, sosok pria di dalam iklan dan media dari waktu ke waktu semakin menampakan tubuhnya. Dari bentuk tubuh yang samar-samar terlihat, hingga sangat terlihat oleh pembaca. Meningkatnya produk perawatan dan fashion pria dan juga meningkatnya pengeluaran pria untuk merawatan tubuhnya telah melahirkan era baru dari maskulinitas modern, yaitu era new man.

Berbeda dengan konstruksi maskulinitas pria konservatif yang muncul pada tahun 80-an dan tahun 90-an, new man merupakan gambaran maskulinitas

commit to user

modern dimana pria yang memiliki kelembutan, memperhatikan penampilan tubuh dan fashionable. Dalam artikel Exhibiting Masculinity (Nixon 2003), menyebut sebagai new man yang menekankan pada bentuk fisik maskulin pria yang mengandung perhatian. Dia membahas gambaran yang dipresentasikan oleh model-model pria dalam majalah gaya hidup pria. Gambar-gambar ini lah menjadi tanda munculnya fenomena “pria baru”. Dalam artikel tersebut Nixon memaparkan imaji pria baru mengkobinasikan dengan kelembutan anak laki-laki dan maskulinitas asertif. Hal ini didukung oleh pakaian yang digunakan, postur dan ekspresi yang ditampilkan oleh model.

Munculnya new men tentu saja identik dengan pria pesolek atau pria metroseksual. (Barnard, 2007:197) juga menjelaskan tentang pria pesolek yaitu pria yang sangat memperhatikan penampilan mereka sendiri dan mereka menghabiskan banyak waktu dalam mendefinisikan dan mendefinisi-ulang kode busana. Kondisi ini sebenarnya juga bisa tercipta karena konstruksi media yang sering menampilkan gambar pria di iklan dan artikelnya dengan tubuh yang terekspos dan memiliki tubuh berotot dan indah terawat.

Bila kita melihat bagaimana karakteristik dari pria konservatif dan modern digambarkan, maka kita bisa menarik garis besar secara umum perbedaan karakteristik penggambaran pria konservatif dan pria modern ke dalam kategorisasi tipe pria maskulin yang dipakai di dalam penelitian oleh Deana A.Rohlinger (2002) dalam jurnal penelititan yang berjudul “Erotizing men:

Cultural Influences on Advertising and Male Objectification”. Dari penelitian tersebut, Rohlinger mengkategorisasikan gambaran pria dalam periklanan ke

commit to user

dalam sembilan kategori : the hero, the outdoorsman, the urban man, the family man/nurturer, the breadwinner, the man at work, the erotic male, the consumer and the quiescent man. The hero digambarkan sebagai bintang/selebriti dalam olahraga, bisnis, politik atau layanan militer. The outdoorsman digambarkan pria yang menaklukkan alam atau hewan, nampak lingkungan liar. The family man/nurture digambarkan pria yang berpatisipasi aktif dengan anak-anak sebagai ayah, anggota keluarga atau pelatih. Sementara, The breadwinner digambarkan tidak berpartisispasi dengan aktivitas keluarga tetapi sebagai pemimpin yang memerintah keluarga. The man at work terikat dalam pekerjaan/profesinya atau di area perkantoran, biasanya menggunakan pakaian resmi atau formal. The consumer adalah pria yang menggunakan produk yang diiklankan. Pria yang membutuhkan atau memakai produk. Ada hubungan yang jelas antara model dengan konsumsi produk yang diiklankan. The urban man digambarkan menikmati kemewahan dan penawaran dari kota besar biasanta digambarkan di sekitar bar, restaurant, bioskop atau gedung tinggi. The quiescent man terikat dalam aktivitas rekreasional dalam wisata, seperti main video game. The erotic male merupakan pria yang digambarkan dengan penonjolan tubuh dan fisik dalam display iklan (Rohlinger, 2002:66-67).

Apabila kita membagi tipe maskulinitas pria yang dipakai oleh Rohlinger (2002) ke dalam dua jenis karakteristik maskulinitas, yakni maskulinitas konservatif yang sering digambarkan dengan dominasi serta kekuatan dan maskulinitas modern yang lebih lembut, maka hasilnya dapat dilihat dalam tabel 1.1

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

Tabel 1.1. Pembagian Kategorisasi Maskulinitas Rohlinger yang dibagi ke dalam Maskulinitas Konservatif dan Maskulinitas Modern

Bisa kita lihat terdapat perbedaan antara maskulinitas konservatif dan modern, dengan selalu berubahnya konsep maskulinitas dari waktu ke waktu, penelitian ini ingin melihat apakah citra maskulinitas benar-benar selalu berubah dilihat dari bagaimana citra pria di dalam iklan di majalah Hai ditampilkan.

Dokumen terkait