• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masyarakat Dan Agama

BAB IV JATI DIRI MASYARAKAT MELAYU SERDANG DALAM

4.4 Makna Teks Dan Konteks

4.5.1 Masyarakat Dan Agama

Konsep diri adalah pandangan individu mengenai siapa diri individu, dan itu bisa diperoleh lewat informasi yang diberikan orang lain pada diri individu (Mulyana, 2000:7). Jati diri merupakan nilai-nilai yang terkandung dari sebuah kehidupan manusia, hampir semua kebudayaan yang ada memiliki jati diri, jati diri tersebut diperoleh dari proses kehidupan sebelumnya, atau disebut juga sebagai nilai- nilai luhur budaya, nilai-nilai luhur tersebut lahir dari teraktualisasikannya komponen masa lalu yang menjadi dasar norma kehidupan berbudaya, hasil dari aktualisasi itulah yang membentuk jati diri sebuah kebudayaan kelompok.

Teraktualisasikannya nilai-nilai budaya Melayu dalam kehidupan bermasyarakat tidak serta-merta hanya dilakukan berdasarkan kehendak leluhur, melalui atas pemikiran sepihak, atau diajarkan, diceramahkan, ditatarkan bahkan didoktrinasikan sekalipun. Nilai-nilai budaya sebagai jati diri merupakan sebuah

proses kemusyawarahan bersama sebuah kelompok yang menghasilkan kemufakatan, yang bertujuan mendapat celah yang lebih baik dan dikenal sebagai budaya baik dalam beretika.

Kebaikan jati dri Melayu harus dibudayakan melalui pembiasaan-pembiasaan dengan menggunakan berbagai jalur, terutama kearifan lokal dan jalur adat istiadat. Demi menghindari lunturnya jati diri yang telah terbangun sejak dulu, caranya dengan menggunakan adat resam sebagai perangkat nilai-nilai jati diri Melayu.

Jati diri manusia Melayu sebagai orang yang ramah, pandai bergaul, rajin, memiliki rasa seni yang tinggi, pandai menyesuaikan diri dengan siapapun serta memiliki pengertian, yang kesemuanya patutlah terus dikembangkan. Di samping itu, masyarakatnya yang menganut agama Islam dengan kuat, beradat Melayu dan berbahasa Melayu serta dahulunya orang Melayu merupakan bangsa pelaut atau pejuang bahari, pedagang dan bangsa pemberani.

Sampai ke hari ini dipercayai bangsa Melayu masih memiliki dan mempertahankan jati dirinya, pada dasarnya kepercayaan Melayu terpengaruh pada kepercayaan animisme yang berpegang pada nenek moyang, lalu seiring perkembangan zaman masyarakat Melayu sendiri lebih mencari jati diri masing- masing seperti Melayu wilayah bagian pesisir yang lebih cendrung berpindah-pindah untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Dalam bermasyarakat jati diri Melayu cenderung menghindari konflik berdebat secara argumentatif dan kontak secara langsung, mereka lebih baik meninggalkan tempat demi menghilangkan tekanan bathin untuk selalu menjaga persahabatan, itu juga yang menyebabkan Silat Lintau tidak dipergunakan untuk menyerang lawan secara frontal namun menunggu untuk diserangan lawan lalu

mematahkan serangan tersebut dan menyerang balik. Oleh sebab itu budaya-budaya pada Melayu mesti selalu di pelajari, salah satunya ialah Silat Lintau sebagai ilmu pengetahuan dan pengembangan diri dengan tidak meninggalkan budaya yang lain yang telah diwariskan oleh nenek moyang, dengan demikian kemampuan itu pada masanya akan selalu mampu untuk bersaing sekaliannya menjawab tantangan masa depan.

Selain itu, orang Melayu juga mempunyai kebiasaan mempelajari bahasa mereka, tetapi tetap sealu berusaha memperluas pengetahuan dan juga mempelajari bahasa Arab.

Jati diri Melayu sejak sekitar abad ke 15 M, sebagaimana menurut pendapat Vallentijn (1712 M) dan C. Lekkerkerker (1916) termasuk dari para sarjana asing, dapatlah dikatakan sebagai berikut :

1. Orang Melayu mengutamakan pendidikan dan ilmu. Hal ini tercermin dalam beberapa peribahasa yang mengambil kepada hadist Rasulullah, yaitu : Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, atau Menuntut ilmu itu sejak dalam buaian sampai ke liang lahat.

2. Orang Melayu mengutamakan budaya Melayu, becakap tidaklah kasar, berbaju menutupi aurat, menjauhkan pantang larang dan dosa. Biarlah mati dari pada keluarga menanggung malu. Orang Melayu juga pandai menjaga air muka orang lain. Kalaupun marah cukup dengan sindiran. Seperti peribahasa mengatakan : Marahkan anak, sindir menantu.

3. Orang Melayu mengutamakan musyawarah dan mufakat sebagai sendi kehidupan. Di dalam segala hal baik perkawinan, kematian, kenduri,

mendirikan rumah, maupun dalam pemerintahan. Bahkan nilai-nilai ini juga dilaksanakan bagi pendatang sehingga orang Melayu sangat terkenal dengan keterbukaannya.

4. Orang Melayu tak suka mencari lawan ataupun melawan, seperti ungkapan yang mengatakan : Pantang Melayu untuk mendurhaka. Tetapi akan melawan jika ianya terdesak, seperti pribahasa mengatakan : Musuh pantang dicari, kalau datang tidak menolak. Atau pribahasa : Alang-alang menceluk pekasam, biar sampai ke pangkal lengan.

Pada poin-poin di atas menjelaskan kesamaan dari Silat Lintau guru mengamanatkan bahwa tidak boleh durhaka kepada Allah, kepada orang tua, kepada saudara dan kepada sesama murid seperguruan, hal ini sama seperti mengamalkan nilai-nilai kejujuran dalam berdagang, dan jarang terlibat dalam soal kejahatan sebaliknya suka kepada tegaknya hukum yang dipadukan dengan bakat yang melekat pada dirinya seperti bidang kesenian. Sifat-sifat seperti itu sebenarnya dibuat agar manusia Melayu pengguna Silat Lintau dapat mudah di terima di masyarakat, dapat menolong kepada yang membutuhkan, dapat peranan dalam kemasyarakatan, di pandang sebagai khalayak yang mulia dan dibutuhkan, bukan sebaliknya hanya membatasi diri kepada yang berkenaan dengan kehidupan sosial dan masyarakat Melayu dengan adat dan budayanya sendiri.

Kedatangan agama Islam pada abad ke 7 di nusantara telah mengubah cara pandang terhadap amalan kepercayaan sebelumnya dalam Melayu kepercayaan kepada nenek moyang Animisme, Hindu, dan Buddha yang telah lama bertapak di tanah Melayu. Masuknya agama Islam di Serdang sendiri melalui berbagai cara, yaitu:

1. Melalui jalur perdagangan, dimana ada suatu keyakinan bahwa sebenarnya para saudagar yang melakukan perjalanan ke Indonesia sebagiannya adalah para sufi yang kemudian menyebarkan islam di nusantara termasuk salah satunya di Negeri Serdang.

2. Melalui pernikahan, dimana para muslim pendatang melakukan pernikahan dengan penduduk pribumi. Hal itu menjadi cara lain untuk menyebarkan islam kepada masyarakat pribumi, demikian pula di Negeri Serdang dahulunya.

3. Mendekati kaum bangsawan, hal ini biasanya dilakukan atas dasar asumsi bahwa jika kaum bangsawan apalagi raja masuk agama islam maka rakyat juga akan ikut masuk kedalam agama islam. Agama Islam disebarkan oleh golongan pedagang dan pendakwah Islam dari Asia Barat. Ajaran Islam menekankan dua aspek penting yaitu Akidah dan Syariah. Akidah ialah kepercayaan seluruh jiwa raga terhadap keEsaan Allah SWT manakala syariah merupakan perundangan dan hukum Islam berdasarkan Al-Quran dan Hadis.

Kedatangan agama Islam telah membawa perubahan yang besar dalam politik, perundangan-undangan, ekonomi, dan budaya masyarakat Melayu Serdang. Dari segi politik jelas dapat dilihat dengan penggunaan gelaran pemerintah yaitu kerajaan telah digantikan dengan gelar kesultanan. Bahkan sultan dianggap sebagai ketua agama Islam. Segala upacara resmi didahului dengan doa. Pemimpin agama merupakan penasihat sultan dalam hal-hal mengenai hukum syarak atau hal berkenaan dengan agama Islam.

Dalam aspek perniagaan, Islam mengharamkan riba dan menggalakkan umatnya mencari rezeki yang halal. Disamping itu amalan zakat dan fitrah sedikit sebanyak telah membantu golongan yang kurang berkemampuan untuk menjalani kehidupan. Dari segi sosial pula wujudnya semangat jihad bagi memilihara kesucian agama Islam daripada penjajahan Barat. Dari segi adat pula didapati terdapat pengkomodiran dengan unsur Hindu-Buddha kepada unsur keislaman seperti perkahwinan, adat turun tanah, melenggang perut, berkhitan dan sebagainya. Pada akhirnya orang melayu membuktikan kemelayuannya dengan menganut agama Islam. Terlepas dari mereka menjalakannya secara benar atau tidak, hal ini dibuktikan dengan praktik-praktik keagamaan. Dimana praktik-praktik tersebut dilakukan sesuai dengan mazhab yang mereka anut. Pada umumnya masyarakat Melayu menganut mazhab Syafi’i. Mereka kebanyakan melaksanakan shalat subuh, isya, zuhur, dan ashar lebih sering dirumah, sementara maghrib dilakukan secara berjama’ah di mesjid.

Dokumen terkait