BAB IV JATI DIRI MASYARAKAT MELAYU SERDANG DALAM
4.4 Makna Teks Dan Konteks
4.5.2 Sifat Kebahasaan
Menurut Arapradhipa (2005) memberikan dua pengertian, yaitu ; Bahasa Sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa symbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, bahasa sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal.
Manusia Melayu identik dengan betutur kata lembut, walau marah tidak meninggikan intonasi, berbicara sopan kepada yang lebih tua dan berkata bijak kepada yang lebih muda, jika berkata lembut pastilah orang Melayu, bahkan pepatah Melayu mengatakan ‘dara Melayu senyum dulu baru berbicara, tuan Melayu bertutur sopan nan bijaksana’.
Bahasa Melayu mempunyai banyak dialek dan setiap dialek mempunyai perbedaan yang cukup mencolok dari segi sebutan dan kosa kata. Misalnya, Bahasa Melayu Deli berbeda dialek dengan Bahasa Melayu Langkat, Pesisir, dan Labuhan Batu. Melayu Deli menggunakan dialek "e" sedangkan Bahasa Melayu Langkat, Pesisir, dan Labuhan Batu "o". Selain itu, bahasa yang digunakan oleh masyarakat campuran Serdang dan Deli (campuran pada wilayah Deli Serdang) terdengar menjadi Bahasa Melayu yang kasar. Bahasa ini dahulunya banyak di jumpai wilayah Medan. Ciri itulah yang menandakan wilayah sebagai identitas.
Ciri-ciri bahasa Melayu dapat dikategorikan seperti berikut ; 1. bahasa bersifat dinamis
2. bahasa bersifat arbitrari
3. bahasa bersifat linear
4. bahasa untuk berkomunikasi
Empat ciri tersebut mengungkapkan bahwa bahasa Melayu merupakan bahasa untuk menyampaikan pesan yang bertujuan penyampaian komunikasi dengan baik, menyatu dengan sekitar serta menunjukan jati diri Melayu pada umumnya.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
Pendekatan Antropologi Sastra, dilihat dari sejarahnya dapat dikatakan pendekatan sastra yang relatif baru dibanding dengan pendekatan sastra yang lain. Demikian juga pengamplikasiannya masih jarang ditemui. Secara ringkas pendekatan ini walaupun lebih memaknakan teks, namun makna konteks sangat membantu dalam penelaaahan teks.
Teks yang berupa mantra dan di sertai gerak syarat serta tahapan adalah bagian terpenting dalam Silat Lintau. Ia merupakan cerminan Melayu pada umumnya, yang memiliki watak tidak terlalu ambisi, tidak terburu-buru, dan mampu
menyesuaikan diri dengan lingkungan. Tidak hanya itu, makna-maknaya merupakan pengejawantahan dari jati diri masyarakatnya. Khususnya masyarakat di Kedatukan Batang Kuis Negeri Serdang. Adapun jati diri masyarakatnya beragama Islam, beradat istiadat, dan berbahasa Melayu.
Jati diri tersebut nampak dan jelas bermula dari jurus dasar Silat Lintau yang tidak menyerang terlebih dahulu melainkan menunggu serangan tanpa terburu-buru. Manakala syarat-syarat yang menyertai silat lintau berupa benda-benda keras, hewan, tumbuh-tumbuhan, benda lain, seperti air menunjukan keteguhan terhadap keyakinan, bahasa yang digunakan, dan adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat.
Teks yang menyertai pelaksanaan silat lintau semata-mata menunjukan keyakinan terhadap kekuasaan Allah SWT. Ia disampai dan dikemaskan melalui ayat-ayat suci, Surat Alfatiha, Tahlil, tahtim, An-nass, Al-falaq dan Dzikir. manakala sifat-sifat nabi yang ada di dalam teks, seperti nabi Sulaiman, nabi Daud, nabi Isa, nabi Musa, dan nabi Muhammad SAW.
Penelitian yang berlangsung di Kedatukan Batang Kuis tersebut menunjukan hasil bahwa jati diri masyarakat Melayu pengguna Silat Lintau membentuk masyarakat yang bersifat lebih sabar dan tidak serta-merta terbawa emosi sesaat, lalu dalam kehidupannya mereka cenderung menghindari sifat-sifat yang berkompetisi, menjauhi angan-angan yang tinggi, dan pantang mencari lawan, sifat-sifat tersebut berbeda dengan masyarakat yang tidak memenggunakan Silat Lintau. Walaupun pada umumnya ciri dari masyarakat Melayu tetap sama adalah menggunakan bahasa Melayu, beradat Resam, dan beragama Islam.
5.2 Saran-Saran
Kelemahan dari bela diri tradisional yang ada di Indonesia baik itu pencak silat, dan lain-lain khususnya Silat Lintau, ialah tidak memiliki modul, pada dasarnya modul sangat berpengaruh dalam minat seseorang untuk mempelajari dan mendalami seni bela diri tersebut, sebelum belajar dan berkecimpung dalam bela diri tersebut pastilah akan bertanya, berapa lama waktu yang di butuhkan untuk menguasai silat lintau.
Modul bukan hanya tata cara atau tutorial dalam mempelajari ilmu tersebut, melainkan juga kepastian jangka waktu yang di tentukan sampai mahir menggunakan silat. Sebagai contoh di luar negri seperti Tae Kwan Do dari Korea atau Kapoera dari Brazil, dalam mempelajari ilmu bela diri tersebut mereka menerapkan sistem paket memastikan kenaikan tingkat sabuk dalam beberapa bulan, latihan serta pembelajaran seni bela diri juga tersusun rapi hingga mendongkrak minat dan popularitasnya.
Modul merupakan sistem pengajaran dan susunan waktu yang tepat untuk seorang guru mengajarkan ilmu bela diri tersebut, dengan di ciptakanya sistem modul pada seni bela diri di Indonesia akan menimbulkan sistem ‘TOT’(Training Of Trainer) sudah pasti kemampuan seorang guru akan benar-benar di uji dan diakui, ‘TOT’ membuat seorang guru silat tidak hanya menyimpan ilmu seni bela diri tersebut hanya dalam kepalanya saja, tetapi juga ada modul dan buku yang membantunya mengingat setiap jengkal dari ilmu tersebut. Seseorang yang ingin belajar silat juga mendapat kepastian seberapa lama akan menguasai ilmu tersebut, lalu dengan begitu secara otomatis akan mendongkrak popularitas seni bela diri di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Arapradhipa. 2005. Bahasa Indonesia Dasar. Malang. UMM Press.
Arikunto. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Yogyakarta. Rineka Cipta.
Arrasyid Chainur, Syaifuddin Wan, Umry Shafwan Hadi. 2008. Taat Ajar Dan Taat
Hukum Orang Melayu. USU Press.
Budiyanto, Melani. 1998. Teory Kesusastraan. Jakarta : Gramedia.
Endraswara, Suwandi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. FBS Universitas Negeri Yogyakarta.
Fathoni, Abdurrahmat. 2006. Antropologi Sosial Budaya: Suatu Pengantar. Jakarta: PT.RINEKA CIPTA, PT.Asdi Mahasatya. Jakarta.
Daud Harun, 2001, Pemikiran Dalam Mantra, Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka.
Hasbullah, 2010. Islam dan Tamadun Melayu. Pekanbaru : LPM Fak Ushuludin UIN SUSKA & YPR
Kartono. 2003. Penelitian lapangan dalam studi observasi. Jakarta. PT. Elex Media Komputindo.
Koentjaraningrat. 2000. Pengantar Antropologi Dasar. Yogyakarta. PUSTAKA PELAJAR.
Koentjaraningrat. 1985. Sejarah Kebudayaan Indonesia. Yogyakarta.PUSTAKA PELAJAR.
Mahdini, 2003. Islam dan Kebudayaan Melayu. Pekanbaru : Daulat Riau
Marzali, Amri. 2005. Antropologi Dan Pembangunan Indonesia. Jakarta: PRENADA KENCANA.
Muhammad, Syed.1990. Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu. Bandung : Mizan
Mulyana. 2000. Konsep Masyarakat Modern Indonesia. Bogor. IPB Press.
Osman, Mohd. Taib. 1998. Panduan Pengumpulan Tradisi Lisan Malaysia. Malaysia: Malindo Printers Sdn Bhd.
Pradopo, Dkk. 2001. Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta : Hanindita Graha Widya.
Pujileksono, Sugeng. 2009. Pengantar Antropologi. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang press (UMM).
Rachman. 2004. Studi Penelitian Observasi. Bandung. IPB Press.
Ratna, Nyoman Kutha. 2012. Antropologi Sastra: Peranan Unsur-Unsur
Kebudayaan dalam Proses Kreatif. Yogyakarta. PUSTAKA PELAJAR.
Semi. 2003. Kritik Sastra. Bandung. Angkasa.
Soemarjan dan Soemardi. 1964. Setangkai bunga sosiologi : buku bacaan untuk kuliah pengantar sosiologi. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI.
Susanto, Dwi. 2012. Pengantar Teori Sastra. Yogyakarta. CAPS.
Syaifudin wan, Sinar Tengku Lukman, 2005, Kebudayaan Sumatera Timur, Medan USU Press.
Syaifuddin wan, Ok Syahril. 2008. Khazanah Melayu Sumatera Utara. USU Press.
Syaifuddin wan, 2014. Menjulang Tradisi Etnik Budaya. Medan : USU Press
DATA INFORMAN :
1. Nama : Khairan (Andak Siteng) Usia : 53 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Alamat : Desa Pekan Batang Kuis Gg. Bahari No.10 2. Nama : Bateh
Usia : 51 Tahun Jenis Kelamin : Laki-Laki
Alamat : Desa Pekan Batang Kuis Gg. Bahari No.13
3. Nama : Wanda
Usia : 21 Tahun Jenis Kelamin : Laki-Laki
Alamat : Desa Pekan Batang Kuis Gg. Bahari No.11 4. Nama : Muni Syarah
Usia : 14 Tahun Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Desa Pekan Batang Kuis Gg. Bahari No.10
5. Nama : Agam
Usia : 16 Tahun Jenis Kelamin : Laki-Laki