• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masyarakat Multikultural

Masyarakat multikultural merupakan suatu masyarakat yang terdiri dari berbagai elemen, baik itu suku, ras, agama, pendidikan, ekonomi, politik, bahasa dan lain-lain yang hidup dalam suatu kelompok masyarakat yang mememiliki satu pemerintahan tetapi dalam masyarakat itu masing-masing terdapat segemn- segmen yang tidak dapat disatukan.

Konsep multikulturalisme, terdapat kaitan yang erta bagi pembentukan masyarakat yang berlandaskan Bhineka Tunggal Ika serta mewujudkan suatu kebudayaan nasional yang menjadi pemersatu bagi bangsa Indonesia. Namun,

dalam pelaksanaannya masih terdapat berbagai hambatan yang menghalangi terbentuknya multikulturalisme di masyarakat.

Masyarakat multikultural yang terdapat Desa Ujung Serdang terdapat beberapa golongan etnis didalamnya seperti Etnis Nias sebagai etnis minoritas di Desa Ujung Serdang, Etnis Jawa yang terdapat di pinggiran jalan Desa Ujung Serdang yang mebuka usaha rumah makan yang populasinya hanya beberapa saja, Etnis batak yang juga memiliki harta berupa tanah dan Etnis Karo yang mendominasi terhadap harta berupa tanah, rumah kontrakan dan ruko. Tetapi semua etnis yang terdapat di sini sudah membawur dalam satu lingkungan antara etnis, agama, ras, pendidikan, ekonomi, bahasa dan lain-lain.

Penjelasan di atas sesuai dengan yang diuraikan oleh Bapak Jadi Kristian Ginting yang mengatakan:

“…di desa Ujung Serdang ini yang dulunya hanya ada etnis karo saja tetapi sekarang sudah tidak lagi, melainkan banyak etnis yang tinggal di desa ini, kayak etnis Nias, Etnis Jawa, Etnis Batak Simalungun, Batak Toba. Karo bahkan ada juga Batak pakpak dan orang menggali ( india) namun orang india dan orang pakpak ini tidak banyak palingan ada 3 atau 4 orang lah, walaupun banyak etnis, banyak agama, banyak pendidikan yang berbeda-beda di desa ini sudah saling bercampur dan saling berbaur dan saling menghormati dan saling menghargai sehingga belum pernah lah terjadi konflik antar warga gara-gara beda suku dan agama sampai saat ini masih aman-aman saja kok, buktinya meskipun yang mendominasi di desa ini adalah orang karo dan termasuk juga orang batak tidak mempersoalkan atau mempermasalahkan etnis pendatang untuk membuka usaha atau mendominasi untuk membuka usaha milik sendiri seperti membuka warung atau toko- toko kecil…”

Hal ini diperkuat oleh penjelasan salah satu informan yaitu Ibu Hermian Simarmata yang mengatakan:

“…awal saya pindah ke desa ini saya terkejut melihat penduduknya, herannya saya banyak etnis dan agama tapi aku lihat aman-aman saja, sudah 7 tahun aku disini belum pernah aku

dengar konflik atau orang yang berantam karna faktor iri atau karna faktor lain padahal rumah-rumah disini penghuninya beda- beda suku, beda agama, terus ada yang kaya dan ada yang miskin kali sampe sampe belik beras pun terkadang sulit tapi walaupun begitu tetap saja aman-aman dan tertib semuanya aku lihat saling berbaur tidak ada yang sombong-sombong walaupun dia termasuk sudah orang kaya, kayak tetanggaku ini kan yang disebelah kiri ini adalah orang karo dan dia menurut saya adalah orang kaya tapi saya lihat dia baik ke semua kami tetangganya, ke tetangganya yang di depan rumahnya ini kan orang jawa saya lihat mereka saling berinteraksi dan bersosialisasi dengan baik, melihat hal itu saya salut, saya bangga melihatnya dan akhirnya saya pun jadi terbiasa juga dengan situasi seperti ini jadi terikut sendiri menjadi orang yang ramah dan saling berbagi satu sama lain dan menurut saya kuncinya itu biar gak berantam walaupun beda agama dan beda suku adalah memiliki sifat toleransi yang tinggi, kepedulian yang tinggi jadi dengan seperti ini pasti baik-baik saja kehidupan bertetangga ini…”

Hal ini juga diperkuat oleh penjelasan salah satu informan Ibu Yustini Dao yang mengatakan :

“…disini banyak etnis yang tinggal dan setiap etnis itu pasti memiliki usaha untuk menambah penghasilan dan untuk memperbaiki keadaan ekonominya, kayak orang jawa kan mereka rata-rata membuka usaha rumah makan ada yang jualan mie sop, sarapan pagi dan ada orang jawa ini banyak juga yang bekerja sebaggai asisten rumah tangga orang karo, terus ada orang batak juga yang membuka rumah makan khas batak, terus orang Nias seperti saya ini ada yang jualan bak mie, ada yang membuka usaha jahit, terus ada juga yang bekerja di pabrik depan itu, terus ada orang india yang saya lihat jualan susu lembu yang tiap sore lewat dan orang karo yang merupakan mendominasi harta berupa tanah di desa ini banyak ragam profesi pekerjaan yang mereka kerjakan, ada yang bertani, ada yang jualan, ada yang bekerja sebagai pegawai negri bahkan aparat pemerintahan desa ini beragam juga ada orang jawa, ada orang karo, ada orang batak, walaupun banyak ragamnya tapi tidak saling mengejek dan saling membenci melainkan semuanya saling membantu terlebih membantu tetangga rumah yang berdekatan seperti saya ini sering dibantu sama kakak itu yang orang karo itu nanti dia mau jaga anakku ini, terus nanti kalau aku sibuk dia mau bantuin kalau udah siap kerjaannya…”

Berdasarkan hasil wawancara di atas menyimpulkan bahwa penduduk Desa Ujung Serdang merupakan bersifat multikultural yang terdiri dari berbagai

elemen, baik suku, agama, ras, pendidikan, ekonomi dan bahasa yang hidup dalam suatu kelompok masyarakat yang memiliki satu pemerintahan yang sama. Hidup saling menghargai dan saling menegur menjadikan warga Desa Ujung Serdang masyarakat multikultural yang harmoni, tanpa ada konflik, dan mampu hidup sejalan dan dengan tujuan yang sama yakni ingin memperoleh kehidupan yang lebih baik lagi baik dari segi ekonomi dan segi kehidupan sosialnya masing- masing.