-1.000 2.000 3.000 4.000 5.000 6.000 7.000
Masyarakat yang memiliki Akses Air Bersih 2010
Gambar 2.74.
Masyarakat Yang Memiliki Akses Air Bersih Tahun 2010 (Sumber: Dinas Kesehatan Kab. Aceh Utara)
0 10000 20000 30000 40000 50000 60000 70000 80000 2008 2009 2010 Ju m la h M a sy ar a ka t Tahun Masyarakat yang memiliki akses air bersih
Gambar 2.75.
Masyarakat Yang Memiliki Akses Air Bersih Tahun 2008 - 2010 (Sumber: Dinas Kesehatan Kab. Aceh Utara)
Cakupan masyarakat yang memiliki air bersih masih rendah ( Tahun 2010 hanya 12,18%), hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu masih rendahnya perilaku hidup bersih sehat, rendahnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan lingkungan, kuranga penyuluhan dan masih rendahnya kinerja petugas lapangan dalam hal pengumpulan dan pengolahan data.
52000 53000 54000 55000 56000 57000 58000 2008 2009 2010 Jumlah Masyar akat Tahun Masyarakat Mempunyai Jamban Sehat Gambar 2.76.
Masyarakat Yang Memiliki Jamban Sehat Tahun 2008 - 2010
(Sumber: Dinas Kesehatan Kab. Aceh Utara)
Akses jamban di 27 kecamatan dalam wilayah aceh utara tahun 2008 adalah 57,390 dan mengalami penurunan 53,810 pada tahun 2009 dan naik ditahun 2010 55,880. Cakupan masyarakat Kabupaten Aceh Utara yang memiliki jamban sehat ( tahun 2010 hanya 10,55%). Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu masih rendahnya prilaku hidup bersih sehat, rendahnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan lingkungan, kurangnya penyuluhan dan masih rendahnya kinerja petugas lapangan dalam hal pengumpulan dan pengolahan data.
2.3.1.3. Pekerjaan Umum 1. Jalan dan Jembatan
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara terus berupaya meningkatkan kualitas dan panjang ruas jalan dan jembatan dalam upaya mendorong aksesibilitas masyarakat serta mendukung percepatan perekonomian daerah. Tahun 2007, tercatat peningkatan penanganan jalan sepanjang 65,87 km, meningkat menjadi 100,71 km tahun 2008. Tahun 2009-2010, ruas jalan yang dilakukan peningkatan penanganan sepanjang 255,65 km (tahun 2009) dan 260,65 km (tahun 2010), tertinggi selama lima tahun terakhir implementasi RPJM Kabupaten Aceh Utara. Sementara tahun 2011, ruas jalan yang ditangani peningkatan sepanjang 120,97 km.
Gambar 2.77.
Peningkatan Penanganan Jalan dan Jembatan di Kabupaten Aceh Utara Tahun 2007-2011 (Sumber : Dinas Bina Marga Kab. Aceh Utara)
Jembatan juga menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Aceh Utara.
Tahun 2011, tercatat peningkatan penanganan jembatan sepanjang 141,47 meter, tertinggi selama kurun waktu 2007-2011. Upaya penanganan
jembatan tersebut cenderung meningkat drastis dibanding tahun 2007. Pada tahun 2007, peningkatan penanganan jembatan di Kabupaten Aceh Utara tidak lebih dari 49,54 meter.
Pemeliharaan infrastruktur jalan dan jembatan terus diupayakan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara selama tahun 2007-2011. Sampai tahun 2011, sepanjang 194,54 km ruas jalan telah dilakukan perbaikan/pemeliharaan. Empat tahun sebelumnya (tahun 2007), ruas jalan yang dilakukan perbaikan hanya sepanjang 144,24 km. Rata-rata kenaikan pemeliharaan jalan hampir 7,76 persen setiap tahunnya (kondisi tahun 2007-2011). Sedangkan jembatan
yang dilakukan perbaikan/pemeliharaan meningkat rata-rata hampir 10,53 persen/tahun. Tahun 2007, kurang lebih 74,43 meter jembatan diperbaiki,
dan tahun 2011 meningkat menjadi 111,09 meter.
Gambar 2.78.
Pemeliharaan Jalan dan Jembatan di Kabupaten Aceh Utara Tahun 2007-2011
(Sumber : Dinas Bina Marga Kab. Aceh Utara)
Sepanjang tahun 2007-2011, Pemerintah telah mengalokasikan anggaran hampir Rp.903,14 milyar (89 persen) untuk peningkatan penanganan ruas jalan di Kabupaten Aceh Utara. Lebih lanjut, untuk peningkatan penanganan jembatan hampir Rp. 74,10 milyar (7,34 persen), dan pemeliharaan jalan hampir Rp.32,62 milyar (3,23 persen). Dengan demikian, total anggaran yang telah dialokasikan untuk peningkatan jalan, jembatan dan pemeliharaan jalan paling kurang Rp.1,009 triliyun sepanjang tahun 2007-2011. Tahun 2011, alokasi anggaran peningkatan penanganan jalan sangat dominan, yaitu mencapai 97 persen. Alokasi anggaran peningkatan jembatan 2,18 persen, dan pemeliharaan jalan 0,72 persen. Empat tahun sebelumnya (2007), alokasi anggaran peningkatan penanganan jalan 92 persen. peningkatan jembatan 7,99 persen, dan pemeliharaan jalan 0,01 persen.
Gambar 2.79.
Alokasi Anggaran Peningkatan Penanganan Jalan dan Jembatan di Kabupaten Aceh Utara Tahun 2007-2011
Peningkatan kualitas jalan raya (nasional, provinsi dan kabupaten) di Aceh Utara masih memerlukan prioritas dan penanganan cepat di masa mendatang, baik Pemerintah Aceh Utara, Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Pusat. Sampai tahun 2010, tercatat 44,33 persen atau sepanjang 1.733,49 Km ruas jalan tidak layak dilalui kendaraan bermotor atau rusak. Kerusakan jalan, terutama didominasi jalan kabupaten sepanjang 1.683,79 Km, jalan negara sepanjang 26,00 km dan jalan provinsi sepanjang 23,70 Km. Meski demikian, adanya kecenderungan peningkatan kualitas ruas jalan raya di Aceh Utara dibanding tahun 2008. Tahun 2008, tercatat kerusakan jalan mencapai 67,48 persen.
Gambar 2.80.
Kondisi Jalan Raya Negara, Provinsi, dan Kabupaten Tahun 2010
(Sumber : Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Kab. Aceh Utara)
Sampai tahun 2010, panjang ruas jalan kabupaten mencapai 2.503,83 km, Dari keseluruhan jalan tersebut, hanya sepanjang 398,87 km ruas jalan atau sekitar 15,93 persen sangat nyaman dilalui kendaraan bermotor, disamping juga 16,82 persen atau sepanjang 421,17 km ruas jalan dalam kondisi sedang.
Kondisi jalan rusak sangat menonjol, yaitu hampir 67,25 persen atau sepanjang 1.683,79 km ruas jalan kabupaten sehingga memerlukan penanganan serius dari
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. Lebih lanjut, kondisi jalan kabupaten beraspal hingga tahun 2010 sepanjang 358,94 km (14,33 persen), jalan berkerikil sepanjang 1.645,75 km (65,72 persen), dan jalan tanah sepanjang 499,14 km (19,93 persen).
Berdasarkan informasi Dinas Bina Marga Kabupaten Aceh Utara, sejak tahun 2008 pelaksanaan pembangunan jalan di Aceh Utara dilakukan melalui pendekatan geografis, yaitu dengan melakukan klasifikasi wilayah timur dan wilayah barat. Selain itu, pelaksanaan pembangunan jalan dilakukan pula berdasarkan pendekatan ekonomis dan multi fungsi yang disebut dengan pembangunan jalan strategis.
Peningkatan penanganan jalan dan jembatan masih menjadi prioritas pembangunan di Kabupaten Aceh Utara di masa mendatang. Mengingat sumberdaya anggaran yang relatif terbatas, sepatutnya Pemerintah Kabupaten Aceh Utara mengupayakan bantuan anggaran dari pemerintah pusat dan Pemerintah Aceh untuk merealisasikan pembangunan infrastruktur berkualitas di Aceh Utara di masa mendatang.
Gambar 2.81.
Kondisi Jalan Kabupaten Tahun 2010 (Sumber : Dinas Bina Marga Kab. Aceh Utara)
2. Irigasi
Selanjutnya sebagai daerah agraris, Kabupaten Aceh Utara memiliki potensi sumberdaya pertanian yang cukup menggembirakan. Untuk mendorong revitalisasi pertanian sebagai salah satu prioritas pembangunan yang termaktub dalam RPJM Kabupaten Aceh Utara Tahun 2007-2012, harus pula didukung pembangunan infrastruktur irigasi yang representatif. Dalam 5 (lima) tahun terakhir, alokasi anggaran pembangunan irigasi mencapai Rp. 16,75 milyar. Dari investasi tersebut paling kurang telah menghasilkan pembangunan jaringan irigasi yang panjangnya hampir 157.342,85 meter (selama tahun 2007-2011) yang tersebar di wilayah Aceh Utara. Tahun 2010, anggaran pembangunan irigasi sebanyak Rp. 4,81 milyar, tertinggi dibanding tahun-tahun lainnya yang dibawah dari Rp.4 milyar.
Selain irigasi, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara telah mengimplimentasikan pembangunan normalisasi rawa dan sungai, saluran, dan waduk selama tahun 2007-2011. Pembangunan tersebut dilakukan dengan tujuan salah satunya, adalah untuk mencegah bencana banjir yang kerapkali terjadi di wilayah-wilayah tergolong rawan banjir. Kabupaten Aceh Utara memiliki sungai-sungai kecil dan besar yang berpotensi menimbulkan banjir, terutama yang berdekatan di Daerah Aliran Sungai (DAS). Adapun sungai-sungai tersebut, meliputi Krueng Jambo Aye, Krueng Cantok, Krueng
Lagobatang, Krueng Piadah, Krueng Cangkoy, Krueng Keureuto, Krueng Pase, Krueng Lancok, Krueng Meuraksa, Krueng Geukueh, Krueng Mane, dan Krueng Peusangan.
Untuk normalisasi sungai, anggaran yang telah diimplementasikan selama 5 (lima) tahun terakhir mencapai Rp. 66,64 milyar, disamping untuk normalisasi rawa mencapai Rp. 22,21 milyar dan waduk mencapai Rp. 9,23 milyar. Pembangunan saluran mendapat anggaran paling banyak dibanding kegiatan pengairan lainnya. Total anggaran diperuntukkan pembangunan saluran mencapai Rp. 133,24 milyar selama 2007-2011.
Gambar 2.82.
Alokasi Anggaran Pembangunan Pengairan di Kabupaten Aceh Utara Tahun 2007-2011
(Sumber : Dinas Pengairan dan Sumberdaya Mineral Kab. Aceh Utara)
Dari keseluruhan anggaran yang telah dialokasikan untuk pembangunan pengairan, termasuk pula untuk sumber daya mineral selama tahun 2007-2011 telah menghasilkan capaian pembangunan, meliputi pemeliharaan jaringan irigasi sepanjang 593.955 meter, normalisasi rawa sepanjang 344.126,40 meter, pembangunan waduk sebanyak 25 unit, perkuat tebing sungai 84.074 meter, pembangunan jaringan irigasi sepanjang 157.342,85 meter dan pembangunan sumur bor sebanyak 96 unit.
Gambar 2.83.
Hasil Pembangunan Pengairan dan Sumberdaya Mineral di Kabupaten Aceh Utara Tahun 2007-2011
Luas jaringan irigasi potensial di Aceh utara meningkat rata-rata hampir 11,44 persen setiap tahunnya, jauh lebih luas dari irigasi fungsional yang meningkat rata-rata 0,0098 persen, khususnya selama tahun 2007-2012. Sampai tahun 2010, luas jaringan irigasi potensial mencapai 61.671 ha dan luas fungsional mencapai 40.504 ha. Sementara tahun 2007, irigasi potensial seluas 44.564 ha dan irigasi fungsional 40.492 ha.
Gambar 2.84.
Luas Jaringan Irigasi di Kabupaten Aceh Utara Tahun 2007-2011
(Sumber : Dinas Pengairan dan Sumberdaya Mineral Kab. Aceh Utara)
Jaringan Irigasi di Aceh Utara didominasi saluran pembawa yang mencapai 1.495.471 meter pada tahun 2010. Sebelumnya tahun 2007, saluran pembawa panjangnya tidak lebih dari 461.873 meter, atau meningkat rata-rata 47,93 persen/tahun. Saluran pembawa paling menonjol justru masih mengandalkan tadah hujan yang mencapai 997.520 meter. Sedangkan saluran pembawa lainnya meliputi irigasi Jambo Aye sepanjang 204.154 meter, Krueng Pase kanan 73.609 meter, Krueng Pase Kiri 66.703 meter, Alue Ubay 33.122 meter, irigasi desa 28.550 meter, Krueng Tuan 22.016 meter, dan Nibong 6.100 meter.
Saluran pembuang panjangnya mencapai 510.517 meter pada tahun 2010, meliputi irigasi Jambo Aye sepanjang 381.408 meter, Krueng Pase kanan 51.503 meter, Krueng Pase Kiri 22.609 meter, Krueng Tuan 29.850 meter, Alue Ubay 19.109 meter, Buloh Blang Ara 4.900 meter, dan irigasi desa 1.198 meter. Untuk jalan inspeksi, sampai tahun 2010 panjangnya mencapai 374.670 meter, mencakup irigasi Jambo Aye sepanjang 210.048 meter, Krueng
Pase kanan 60.043 meter, Krueng Pase Kiri 56.015 meter, Krueng Tuan 21.374 meter, Alue Ubay 25.590 meter dan Buloh Blang Ara 1.600 meter.
Gambar 2.85.
Kondisi Jaringan Irigasi di Kabupaten Aceh Utara Tahun 2007-2010
(Sumber : Dinas Pengairan dan Sumberdaya Mineral Kab. Aceh Utara)
Rehabilitasi jaringan irigasi yang rusak harus menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. Fokus utama adalah pada saluran pembuang. Tahun 2010, tercatat saluran pembuang yang rusak mencapai 40,27 persen, atau panjangnya 205.568 meter. Sebelumnya tahun 2007, kerusakan saluran pembuang mencapai 63,79 persen. Kerusakan paling panjang saluran pembuang terdapat di daerah irigasi Jambo Aye, yaitu hampir 191.683 meter. Selebihnya terdapat di irigasi Krueng Pase Kiri panjangnya 9.517 meter, Krueng Pase Kanan 2.668 meter dan Buloh Blang Ara 1.700 meter.
Jalan inspeksi dan saluran pembawa juga perlu diupayakan perbaikan/rehabilitasi. Sampai tahun 2010, tercatat kerusakan saluran pembawa sepanjang 207.082 meter, atau sekitar 13,85 persen dari total panjang saluran pembawa. Kerusakan saluran pembawa hampir relatif merata di semua daerah irigasi. Paling panjang terdapat di daerah irigasi Buloh Blang Ara sepanjang
53.000 meter, Jambo Aye sepanjang 45.846 meter, Krueng Pase Kiri 37.721 meter, dan Krueng Pase Kanan 36.083 meter. Selain itu, kerusakan
saluran pembawa terjadi pula di daerah irigasi tadah hujan sepanjang 17.520 meter, irigasi desa 10.402 meter, dan Nibong 4.500 meter. Sementara
itu, kerusakan jalan inspeksi sepanjang 95.906 meter (25,6 persen), yang didominasi irigasi Jambo Aye sepanjang 50.103 meter.
Gambar 2.86.
Kondisi Jaringan Irigasi di Kabupaten Aceh Utara Tahun 2007-2010 (persen) (Sumber : Dinas Pengairan dan Sumberdaya Mineral Kab. Aceh Utara)
3. Waduk/Embung
Salah satu cara untuk menanggulangi kekurangan air di lahan sawah pada pada musim kemarau adalah dengan membangun kolam penampung atau embung. Embung adalah kolam penampung kelebihan air pada musim hujan dan digunakan pada musim kemarau.
Dinas Pengairan dan Energi Sumber Daya Mineral pada Tahun Anggaran 2014 ada kegiatan survey pendataan terhadap daerah-daerah yang berpotensi untuk dilakukan pembangunan waduk atau embung sebagai sumber air baku, irigasi dan pengendalian banjir. Beberapa waduk/embung yang sudah dilakukan studi kelayakan (Feasibility Study) dan DED adalah Waduk Krueng Keureuto, Waduk Krueng Sawang, Waduk Krueng Peuto, Waduk Paya Penjeut, Embung Lhok Gajah dan Embung Teupin Keube. Untuk Waduk Krueng Keureuto telah dilengkapi dengan dokumen Amdal dan pengalihan lahan (LARAP).
Beberapa waduk/embung yang pelaksanaan dilakukan bertahap berdasarkan anggaran yang tersedia dan masih dalam tahap pelaksanaan sebagai berikut ini. a. Pembangunan Waduk/Bendungan Paya Penjeut di Gampong Bate Pila di
Kecamatan Nisam Antara dengan luas genangan diperkirakan mencapai 28,78 ha sebagai cadangan air baku untuk memenuhi kebutuhan air irigasi di Kecamatan Nisam;
b. Pembangunan Waduk/Bendungan Lhok Gajah di Gampong Blang Talon dan Gampong Buket di Kecamatan Kuta Makmur dengan luas genangan diperkirakan 21,00 ha sebagai cadangan air baku untuk memenuhi kebutuhan air irigasi Cot Glumpang dengan luas layanan mencapai 1.200 Ha dan pengendalian banjir di Kecamatan Kuta Makmur.
c. Pembangunan embung Teupin Keube di Kecamatan Banda Baro dengan sumber air dari krueng Jamuan dengan luas genangan diperkirakan 3,20 ha sebagai cadangan air baku untuk memenuhi kebutuhan air irigasi di Kecamatan Banda Baro.
Tabel 2.16
Waduk dan Embung Kabupaten Aceh Utara
No. Nama Waduk Sumber Air Lokasi Pemanfaatan
1 Krueng Jambo Aye
Krueng Jambo Aye Kec. Langkahan Irigasi Listrik Air Bersih Pengendalian Banjir 2 Krueng Keureuto Krueng Keureuto
Kec. Paya Bakong
Irigasi Listrik Air Bersih Pengendalian Banjir 3 Paya peunjoeut Krueng Alue Papen Kec. Nisam Antara Irigasi
Air Bersih Pengendalian Banjir 4 Lhok Gajah Krueng Buloh Kec. Kuta Makmur Irigasi
Air Bersih Pengendalian Banjir Pariwisata 5 Bendung Krueng
Tuan
Krueng Sawang Kec. Sawang Sumber air baku Irigasi 6 Embung Teupin
Keube
Krueng Jamuan Kec. Banda Baro Irigasi Air bersih Pariwisata (Sumber: Rencana, 2012)
4. Rawa
Daerah rawa adalah daerah yang secara permanen atau temporal tergenang air karena tidak adanya sistem drainasi alami atau drainasi yang terhambat. Penggunaan lahan rawa dominan terletak di bagian hilir wilayah, dan ada juga di bagian tengah pada area yang rendah atau cekungan. Sebaran rawa tsb yang menonjol di Kecamatan Baktiya, Lhoksukon, Baktiya Barat, Nisam, Langkahan, Tanah Luas, Seunuddon.
Pada Tahun 2005 telah dilakukan DED Kawasan Pengembangan Pertanian Terpadu Terpadu Rawa Gambut Ulee Glee – Buket Bayak. Lokasi daerah rawa dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 2.17
Rawa Kabupaten Aceh Utara
No. Nama lokasi Kecamatan Panjang (km)
1 Glp. Sulu Barat – Bangka Jaya
Dewantara 6
2 Mtg. Sijuk Teungoh – Mtg. Sijuk Barat
Baktiya barat 30
3 Jambo Aye Jambo aye 10
4 Ulee Rubek Seunuddon 12
5 Alue Manggra Samudera 5
6 Lancok Syamtalira bayu 2
5. Pantai
Kabupaten Aceh Utara memiliki 2 garis pantai yaitu di bagian barat (Kec. Muara Batu dan Kec. Dewantara) sepanjang 16 km, dan di bagian timur (sejak dari Kec. Syamtalira Bayu sampai Kec. Seunuddon) sepanjang 35 km, sehingga total garis pantai adalah 51 km.
Di Kabupaten Aceh Utara sebagian besar erosi diakibatkan oleh gerakan air, gelombang, arus, dan badai yang berdampak rawan genangan pada pemukiman, pertanian, dan fasilitas umum lainnya disekitar pantai. Untuk itu diperlukan solusi perlindungan pantai. Solusi proteksi pantai dikelompokkan dalam tipe-tipe berikut ini: 1) penanganan non-struktural, 2) penanganan lunak, 3) penanganan keras - bangunan pada garis pantai dan 4) penanganan keras – bangunan lepas pantai.
6. Sungai
Dengan karakter topografi wilayah dan pola aliran sungai, ada permasalahan dalam drainase wilayah ini, berupa adanya banjir periodik pada musim penghujan. Banjir periodik tersebut terjadi sebagai limpasan/luapan air sungai, terutama yang perbedaan tinggi dengan muara (permukaan laut) tidak terlalu besar, seperti pada sungai-sungai di bagian tengah dan timur wilayah.
Area yang mengalami banjir periodik tersebut adalah pada alur limpasan sungai :
Krueng Keureuto, yaitu dari wilayah Kecamatan Paya Bakong, Matangkuli, Pirak Timu, Lhoksukon, Lapang, dan Tanah Pasir;
Krueng Peuto, yaitu sejak dari Kecamatan Cot Girek sampai Kec. Lhoksukon; di mana pertemuan Krueng Keureuto dengan anaknya Krueng Peuto ini adalah di Kec. Lhoksukon;
Krueng Pase, yaitu sejak dari Kec. Meurah Mulia, Nibong, Syamtalira Aron, dan Samudera;
Krueng Jambo Aye, yaitu sejak dari Kec. Langkahan sampai Tanah Jambo Aye;
Krueng Mane, beserta anaknya Krueng Sawang, yaitu di Kec. Sawang dan Muara Batu;
Krueng Buloh, sebagai anak dari Krueng Geukueh, yaitu di Kec. Kuta Makmur dan Nisam.
Untuk mengatasi masalah banjr tersebut, selain langkah-langkah pembangunan tanggul, pelurusan atau penyodetan aliran, pelebaran dan pendalaman sungai dan muara, dan dilakukan pembangunan waduk untuk mereduksi debit banjir. Data penangan terhadap sungai-sungai di Kabupaten Aceh Utara sampai dengan tahun 2011 dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 2.18
Sungai di Kabupaten Aceh Utara
No. Jenis penanganan Volume (km)
1 Perkuatan tebing sungai 22,46
2 Normalisasi sungai 59,90
3 Pengerukan kuala 1
4 Pelurusan sungai (sudetan) 0,4
2.3.1.4. Perumahan
Selama 5 (lima) tahun pelaksanaan RPJM Kabupaten Aceh Utara, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara melalui Dinas Cipta Karya telah membangun 30 unit gedung, 221 meter jalan lingkungan, 47 unit rumah, 82 unit jaringan air bersih, dan 9 unit sumur bor, dan 31 unit MCK. Pembangunan rumah layak huni bagi keluarga miskin dan peningkatan jaringan air bersih di wilayah-wilayah yang kesulitan air bersih diharapkan masih menjadi prioritas di masa mendatang. Dari data yang dihimpun (BPS), hanya sekitar 11,5 persen RT di Aceh Utara yang terakses air bersih leding meteran (kondisi tahun 2010). Lebih lanjut, hampir 29,09 persen RT di Aceh Utara memiliki rumah yang beratap ijuk/rumbia sehingga disinyalir masih kurang layak huni. Dan, tidak
kurang dari 12,84 persen RT dengan kondisi rumah berlantaikan tanah dan 3,31 persen RT berlantaikan bambu.
Tabel 2.19
Perkembangan Klasifikasi Bangunan Tahun 2007-2011
Tahun Gedung (Unit) Jalan Lingkungan (Meter) Rumah (Unit) Jaringan Air Bersih (Unit) Sumur Bor (Unit) MCK (Unit) 2007 - - - - - - 2008 - 60 - 25 5 - 2009 10 73 10 41 2 10 2010 11 28 - 9 1 13 2011 9 60 37 7 1 8 Jumlah 30 221 47 82 9 31 (Sumber : Dinas Cipta Karya Kab. Aceh Utara)
Alokasi anggaran untuk pembangunan jalan lingkungan sangat menonjol. Tertinggi dicapai tahun 2009 yang mencapai Rp.15,86 milyar. Berikutnya tahun 2008 mencapai Rp.10,39 milyar dan tahun 2009 sebanyak Rp.9,54 milyar. Untuk pembangunan gedung, paling banyak dialokasikan anggaran tahun 2009, yaitu hampir Rp.6,16 milyar. Sementara alokasi
anggaran yang diperuntukkan pembangunan rumah tidak lebih dari Rp.1,45 milyar tahun 2011. Total pembangunan jalan lingkungan mencapai
Rp.38,96 milyar, gedung mencapai Rp.11,57 milyar, rumah mencapai Rp. 1,44 milyar dan MCK mencapai Rp.1,07 milyar, selama tahun 2007-2011.
Gambar 2.87.
Alokasi Anggaran Pembangunan Gedung, Jalan Lingkungan, Rumah, dan MCK di Kabupaten Aceh Utara, Tahun 2007-2011
2.3.1.5. Sosial dan Ketenagakerjaan
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dipastikan masih menghadapi tantangan yang cukup besar di bidang ketenagakerjaan, berupa terbatasnya lapangan kerja dan kualitas tenaga kerja yang relatif rendah. Mengutip data BPS, tercatat angkatan kerja di Aceh Utara mencapai 214.541 orang (kondisi tahun 2010). Angka tersebut melonjak drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2007, angkatan kerja di Kabupaten Aceh Utara masih sebanyak 209.549 orang. Sepanjang tahun 2007-2010, angkatan kerja di Aceh Utara telah meningkat mencapai 4.992 orang, atau naik rata-rata sebesar 0,78 persen setiap tahunnya.
Dari keseluruhan angkatan kerja pada tahun 2010, yang tidak terserap pada lapangan kerja atau tergolong sebagai pengangguran sebanyak 27.417 orang atau mencapai 12,78 persen. Dibanding tahun 2007, terjadi penurunan pengangguran di Kabupaten Aceh Utara rata-rata 1,44 persen setiap tahunnya. Tahun 2007, tercatat pengangguran di Aceh Utara mencapai 13,35 persen atau berjumlah hampir 27.437 orang. Kendati demikian, dibanding tahun 2009, terdapat kecenderungan peningkatan pengangguran pada tahun 2010. Jumlah pengangguran pada tahun 2009 tidak lebih dari 24.080 orang atau sekitar 11 persen.
Masyarakat Aceh Utara yang bekerja menunjukkan fluktuatif kurun waktu 2007-2010. Pada tahun 2007, jumlah yang bekerja sebanyak 178.112 orang. Selanjutnya tahun 2008 telah menurun hingga menjadi 163.269 orang, atau turun sekitar 8,33 persen. Situasi ekonomi Aceh Utara yang terus membaik berdampak terhadap penyerapan tenaga kerja pada tahun 2009. Masyarakat yang bekerja meningkat sebesar 19,36 persen tahun 2009, atau berjumlah paling kurang 194.884 orang dibanding tahun 2008. Sampai tahun 2010, masyarakat Aceh Utara yang memiliki pekerjaan yang layak sebanyak 187.124 orang, turun sebesar 3,98 persen dari tahun 2009. Selengkapnya mengenai kondisi ketenagakerjaan, termasuk tingkat pengangguran dan angkatan kerja Kabupaten Aceh Utara selama tahun 2007-2010 dapat dilihat pada Gambar 2.51.
Gambar 2.88.
Kondisi Ketenagakerjaan Kabupaten Aceh Utara Tahun 2007-2010 (Sumber : BPS Kabupaten Aceh Utara)
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Kabupaten Aceh Utara mencapai 59,94 persen dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mencapai 12,78 persen tahun 2010. Angka TPT tersebut tergolong tinggi dibanding Provinsi Aceh yang sebesar 8,37 persen. Sepanjang tahun 2007-2010, angka TPT Kabupaten Aceh Utara cenderung lebih tinggi dari angka TPT Aceh, seperti terlihat pada Gambar 2.52.
Gambar 2.89.
Tren TPT dan TPAK Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Tahun 2007-2010
(Sumber : BPS Aceh 2011)
Sepanjang tahun 2007-2010 belum terjadi pergeseran yang berarti tingkat pendidikan pencari kerja di Kabupaten Aceh Utara. Sampai tahun 2010, pencari kerja yang terdaftar pada Dinas Tenaga kerja mencapai 49.456 orang, diantaranya laki-laki sebanyak 31.309 orang dan perempuan 18.147 orang. Dari keseluruhan pencari kerja tersebut, hampir 56,05 persen atau sebanyak 27.720 orang berpendidikan tamatan SMA/sederajat. Sementara yang
berpendidikan sarjana muda/sarjana tidak lebih dari 12.288 orang (24,85 persen). Hal yang sangat mengkhawatirkan adalah tidak kurang dari
4.618 orang (9,34 persen) merupakan pencari kerja tamatan SD/tidak tamat. Tiga tahun sebelumnya (tahun 2007), pencari kerja berpendidikan SMA/sederajat sebesar 56,74 persen (25.679 orang), sarjana muda/sarjana
22,63 persen (10.242 orang), tamatan SMP/sederajat 10,72 persen (4.853 orang) dan tamatan SD/tidak tamat 9,91 persen (4.486 orang).
Rendahnya tingkat pendidikan pencari kerja di Aceh Utara menyebabkan terbatasnya kesempatan untuk memperoleh pekerjaan yang layak, terutama pada bidang tertentu yang memiliki keahlian yang tinggi. Oleh karena itu, sepatutnya para pencari kerja tersebut dibekali keterampilan dan pembinaan secara intensif, disamping juga diberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Selain itu, masih diperlukan perbaikan untuk
sektor pendidikan agar dapat menghasilkan tenaga-tenaga yang profesional dan memiliki skill yang baik untuk dapat dipekerjakan pada sektor-sektor yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan nilai tambah pada produk/output yang mereka hasilkan.
Gambar 2.90.
Pencari Kerja Terdaftar pada Dinas Tenaga Kerja Menurut Pendidikan dan Jenis Kelamin Tahun 2007-2010
(Sumber : Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk Kab. Aceh Utara)
Terdapat kecenderungan berkurangnya jumlah perusahaan yang bergerak di sektor-sektor ekonomi di Kabupaten Aceh Utara selama empat tahun terakhir. Tahun 2007, tercatat perusahaan yang terdaftar di Dinas Tenaga Kerja mencapai 1.139 unit. Angka tersebut berkurang menjadi 568 unit tahun 2010, atau bekurang rata-rata hampir 20,69 persen/tahun. Kondisi tersebut berimplikasi pula terhadap menurunnya penyerapan tenaga kerja di perusahaan. Akhir tahun 2010, tercatat tenaga kerja di perusahaan hanya 9.111 orang, sementara tahun 2007 mencapai 23.128 orang, atau berkurang setiap tahunnya rata-rata hampir 26,69 persen.
Bila diamati sektor usaha, terlihat pula sektor bangunan merupakan sektor yang sangat diminati masyarakat Kabupaten Aceh Utara. Kondisi ini masih berlangsung sepanjang tahun 2007-2010. Tahun 2007, tenaga kerja yang dipekerjakan oleh perusahaan pada sektor bangunan sebesar 37,52 persen. Angka persentase ini meningkat menjadi 38,04 persen tahun 2010. Secara kuantitas, jumlah pekerja di sektor bangunan cenderung menurun selama 2007-2010, dari 8.677 orang tahun 2007, berkurang menjadi 3.466 orang.
Perusahaan yang bergerak di sektor industri pengolahan termasuk pula