KAJIAN PUSTAKA
A. Mata Pelajaran IPA di SD/MI
xxxv
Pada dasarnya IPA suatu ilmu yang mempelajari gejala dan perubahan-perubahan alam. Perubahan-perubaha alam tersebut merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Dari tanda-tanda kekuasaan Allah tersebut dapat dijadikan pelajaran yang sangat berharga untuk meningkatkan ilmu pengetahuan. Dalam bahasa Al-Qur’an yang indah,
Allah berfirman.
ِراَصْبَْلِّا ِلِْوُِّلِّ ًةَرْ بِعَل َكِلَذ ِفِ َّنِإ َراَهَّ نلاَو َلْيَّللا ُهَّللا ُبِّلَقُ ي
–
(
٤٤
)
Artinya :”Allah Mempergantikan malam dan siang. Sungguh pada yang
demikian itu, pasti terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai
penglihatan (yang tajam).” (al-Qur,an al-Karim, 2013: 356)
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan hasil kegiatan manusian berupa pengetahuan, gagasan dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melalui rangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan, penyusunan dan pengujian gagasan-gagasan. (Garnida dan Budiman, 2002 : 253)
2. Fungsi Mata Pelajaran IPA di MI
Program untuk menanamkan dan mengembangkan pengetahuan, ketrampilan, sikap, dan nilai ilmiah pada siswa serta rasa mencintai dan menghargai kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.
xxxvi
a. Memberikan pengetahuan tentang berbagai jenis dan perangai lingkungan alam dan lingkungan buatan dalam kaitannya dengan pemanfaatannya bagi kehidupan sehari-hari.
b. Mengembangkan keterampilan proses.
c. Mengembangkan wawasan, sikap dan nilai yang berguna bagi siswa untuk meningkatkan kualitas kehidupan sehari-hari.
d. Mengembangkan kesadaran tentang adanya hubungan berkaitan yang saling mempengaruhi antara kemajuan IPA dan teknologi dengan keadaan lingkungan dan pemanfaatannya bagi kehidupan sehari-hari. e. Mengembangkan kemampuan untuk menerapkan ilmu pengetahuan
dan teknologi (IPTEK) serta ketrampilan yang berguna dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
(Garnida dan Budiman,2002:253-254)
3. Tujuan Pembelajaran IPA di MI
Tujuan pembelajaran IPA di MI adalah agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut :
a. Memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari.
b. Memiliki ketrampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan gagasan tentang alam sekitar.
xxxvii
c. Mempunyai minat untuk mengenal dan mempelajari benda-benda serta kejadian di lingkungan sekitar.
d. Bersikap ingin tahu, terbuka, kritis, mawas diri, bertanggungjawab, bekerjasama, dan mandiri.
e. Mampu menerapkan berbagai konsep IPA untuk menjelaskan gejala-gejala alam dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. f. Mampu menggunakan teknologi sederhana yang berguna untuk
memecahkan suatu masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
g. Mengenal dan memupuk rasa cinta terhadap alam sekitar sebagai kebesaran dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa (Garnida dan Budiman, 2002:254).
4. Ruang Lingkup Pelajaran IPA untuk MI
Ruang lingkup bahan kajian IPA untuk MI meliputi aspek-aspek sebagai berikut :
a. Makhluk hidup dan proses kehidupannya, yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan interaksinya.
xxxviii
b. Materi, sifat-sifat, dan kegunaannya meliputi : udara, air,tanah dan batuan.
c. Listrik dan magnet, energi dan panas, gaya dan pesawat sederhana, cahaya dan bunyi, tata surya, bumi dan benda-benda langit lainnya. d. Sumber daya alam, kegunaan, pemeliharaan dan pelestariannya (Garnida
dan Budiman, 2002:254).
5. SK-KD IPA Kelas IV Materi Daur Hidup Hewan
a. Standar Kompetensi : Memahami daur hidup beragam jenis makhluk hidup
b. Kompetensi Dasar :
1) Mendeskripsikan daur beberapa hewan di lingkungan sekitar misalnya kecoa, nyamuk, kupu-kupu, kucing.
2) Menunjukkan kepedulian terhadap hewan peliharaan, misalnya kucing, ayam, ikan.
(Sumber: Silabus MI Ma’arif Gedangan Tahun Ajaran 2016/2017)
B. Materi Daur Hidup Hewan 1. Pengertian Daur Hidup Hewan
Daur hidup hewan adalah seluruh tahap perubahan bentuk yang dialami makhluk hidup selama hidupnya. Beberapa jenis hewan ternyata mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda dengan
xxxix
induknya, yang disebut dengan metamorfosis hewan. Metamorfosis adalah tahap perubahan bentuk yang sangat berbeda yang dialami hewan sejak menetas sampai menjadi hewan dewasa. (Haryanto, 2004: 44). Metamorfosis hewan dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Metamorfosis Sempurna (metamofosis yang mengalami 4 atau tahap perubahan bentuk, yaitu :
Telur Larva Pupa Dewasa
Misalnya: kupu-kupu, nyamuk, lalat, katak.
b. Metamorfosis Tidak Sempurna (metamorfosis yang mengalami tiga tahap perubahan bentuk, yaitu :
Telur Nimfa Dewasa
Misalnya: kecoa/lipas, semut, belalang, capung 2. Proses Metamorfosis Nyamuk
Nyamuk Dewasa bertelur di air yang tergenang. Setelah beberapa hari telur nyamuk akan menetas menjadi tempayak (Jentik-jentik). Tempayak kemudian berubah menjadi kepompong (Pupa). Selanjutnya kepompong mengalami perubahan menjadi nyamuk dewasa.
Urut-urutan Metamorfosis Nyamuk
Gambar 2.1 Metamorfosis Nyamuk
Sumber: www.google.com/gambar/daur+hidup+nyamuk telur Jentik-jentik pupa Nyamuk dewasa
xl 3. Proses Metamorfosis Kupu-Kupu
Kupu-kupu betina dewasa sesudah kawin mencari jenis tumbuhan yang cocok untuk tempat meletakkan telur. Setelah kurang lebih dua minggu, telur kupu-kupu menetas menjadi ulat. Ulat tumbuh berhari-hari dengan memakan daun-daun di sekitarnya. Lama-lama gerakannya makin lambat. Kemudian, ulat tersebut berhenti makan dan bergerak tetapi tidak mati. Setelah itu, ulat membuat “rumah” dari air liurnya dan
membentuk semacam benang sutera untuk membungkus seluruh tubuhnya. Keadaan ini disebut Kepompong (pupa). Selama masa kepompong (2 minggu) ualat berubah bentuk menjadi kupu-kupu. Setelah dewasa kupu-kupu kemudian bertelur lagi, dan seterusnya. (Yulianti, 2012:58 )
Urut-urutan Metamorfosis Kupu-Kupu
Gambar 2.2 Metamorfosis Kupu-Kupu
xli 4. Proses Metamorfosis Lipas (Kecoa)
Kecoa berkembang biak dengan bertelur. Telur kecoak berselubung. Setelah dibuahi induk jantannya, telur akan menetas menjadi kecoa muda (Tempayak). Bentuk kecoa muda tidak jauh berbeda dengan kecoa dewasa, bedanya kecoa muda tidak bersayap. Selanjutnya, kecoa muda tumbuh menjadi kecoa dewasa yang bersayap. (Yulianti, 2012:60)
Urut-urutan Metamorfosis Kecoak
Gambar 2.3 Metamorfosis Kecoak
Sumber: www.google.com/gambar/metamorfosis kecoa 5. Proses Metamorfosis Belalang
Belalang berkembang biak dengan bertelur. Telur belalang menetas menjadi nimfa(muda). Belalang muda memiliki bentuk mirip dengan belalang dewasa bedanya belalang muda tidak bersayap. Belalang muda berubah menjadi dewasa yang bersayap.
xlii
Gambar 2.4 Metamorfosis Belalang
Sumber: www.google.com/gambar/metamorfosis belalang 6. Proses Daur Hidup Ayam
Ayam tidak mengalami metamorfosis, karena semenjak kecil sampai dengan dewasa tidak banyak mengalami perubahan bentuk. Daur hidup ayam dimulai dari telur. Setelah dierami oleh induk betina selama 28 hari, telur menetas menjadi anak ayam. Anak ayam kemudian berkembang menjadi ayam dewasa dan siap untuk menghasilkan telur kembali.
xliii
Gambar 2.5 Urut-urutan Daur Hidup Ayam Sumber: www.google.com/gambar/daur+hidup+ayam 7. Memelihara Hewan Peliharaan
Senang memelihara hewan akan melatih kita menyayangi makhluk ciptaan Tuhan. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memelihara hewan peliharaan agar tidak terjadi hal-hal yang merugikan. Cara memelihara hewan yang benar sebagai berik.( Haryanto, 2004 : 60)
a.Memberi makanan yang sehat b.Menjaga kebersihan tubuh hewan c.Membuat kandang hewan
xliv C. Pendekatan Saintifik
1. Pengertian Pendekatan Saintifik
Pendekatan Saintifik merupakan pendekatan dengan berpikir
ilmiah yang berkaitan erat dengan metode saintifik. Metode saintifik (ilmiah) pada umumnya melibatkan kegiatan pengamatan
ilmiah atau observasi yang dibutuhkan untuk perumusan hipotesis atau mengumpulkan data. Metode ilmiah pada umumnya dilandasi dengan pemaparan data yang diperoleh melalui pengamatan atau percobaan. Oleh sebab itu, kegiatan percobaan dapat diganti dengan kegiatan memperoleh informasi dari berbagai sumber. (Sani, 2015 : 50-52)
2. Tahapan Pendekatan Saintifik
Tahapan aktivitas belajar yang dilakukan dengan pembelajaran saintifik tidak harus dilakukan mengikuti prosedur yang kaku, namun dapat disesuaikan dengan pengetahuan yang hendak dipelajari. Pada pembelajaran mungkin dilakukan observasi terlebih dahulu sebelum memunculkan pertanyaan, namun pada pelajaran yang lain mungkin siswa mengajukan pertanyaan terlebih dahulu sebelum melakukan eksperimen dan observasi. Aktifitas membangun jaringan juga mungkin dilakukan dalam upaya melakukan eksperimen atau mungkin dibutuhkan ketika siswa mendesiminasikan hasil eksperimennya. Berikut ini dijabarkan masing-masing aktivitas yang dilakukan dalam pembelajaran saintifik. (Sani.2015 :54). Berikut ini bagan komponen Pendekatan Saintifik.
xlv
Gambar 2.9: Komponen Pendekatan Saintifik
(Sumber : Abdullah. 2015 : 50-52 )
3. Penerapan Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran
Penerapan pendekatan saintifik/ilmiah dalam pembelajaran menuntut adanya perubahan setting dan bentuk pembejaran tersendiri yang berbeda dengan pembelajaran tradisional. Karena pengajaran untuk anak di SD/MI memerlukan kreativitas dari guru agar pengajarannya menjadi mudah dipahami dan melekat dalam ingatan. Guru juga dituntut memiliki keterampilan menyederhanakan materi pelajaran yang komplek dan menyampaikan dengan bahasa yang mudah diterima anak..
Beberapa model, strategi, atau metode pembelajaran dapat diterapkan dengan mengintegrasikan elemen-elemen pendekatan saintifik
Mengamati Menanya
Mencoba/Mengumpulkan Informasi
Menalar/Asosiasi
xlvi
dalam pembelajaran. Metode yang sesuai dengan pendekatan pembelajaran saintifik , antara lain: pembelajaran berbasis inquiri, pembelajaran penemuan (discovery learning), pembelajaran berbasis masalah (problem based learning), dan metode lain yang relevan.
Peran Guru dalam Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik. 1) Sebagai Fasilitator
2) Mengarahkan kegiatan-kegiatan belajar
3) Memberikan bantuan yang diperlukan peserta didik 4) Memberikan umpan balik
5) Memberikan penguatan
Prinsip-prinsip pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik dirancang untuk membuat siswa aktif melalui langkah-langkah pembelajaran 5 M (Mengamati, Menanya, Menalar, Mencoba, mengkomunikasikan). Esensi pendekatan saintifik terletak pada proses ilmiah dengan pengembangan sikap, pengetahuan dan ketrampilan. Metode yang digunakan adalah metode ilmiah yang berbasis observasi, empiris, penalaran, pengukuran dan kesimpulan. Berikut ini tabel langkah-langkah penerapan pendekatan santifik (Diklat Guru dalam Saputro.2015). Berikut ini tabel langkah-langkah penerapan Pendekatan Santifik.
xlvii Tabel 2.1
Langkah-langkah Penerapan Pendekatan Saintifik
Langkah Pembelajaran
Deskripsi Kegiatan Bentuk Hasil Belajar
Mengamati Mengamati dengan indera (membaca, mendengar, menyimak, melihat, menonton) dengan atau tanpa alat
Perhatian pada waktu mengamati suatu objek. Membaca tulisan. Mendengar penjelasan.
Menanya Membuat dan mengajukan pertanyaan, tanya jawab, klarifikasi
Jenis, kualitas dan kuantitas yang diajukan peserta didik Mencoba/mengumpul kan informasi Melakukan eksperimen Mendemonstrasikan Mencoba Berdiskusi
Mengumpulkan data dari narasumber
Jumlah dan kualitas
sumber yang
dikaji/digunakan Kelengkapan informasi Validitas informasi yang dikumpulkan
Instrumen yang digunakan
Menalar/mengasosiasi Mengolah informasi yang sudah dikumpulkan
Mengembangkan intepretasi Mengkomunikasikan Menyajikan laporan,
meliputi proses, hasil dan kesimpulan secara lisan
Menyajikan hasil kajian dari mengamati sampai menalar dalam bentuk tulisan, media
(Sumber : Saputro, Budiono. 2015. Pembelajaran dengan Pendekatan Scientific Pada Kurikulum 2013)
xlviii BAB III