• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Deskripsi Teoritik

3. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (Fiqih)

Pendidikan Islam hendaklah ditanamkan sejak ia dalam lahir terlebih pada masa kandungan. Sebab pendidikan pada masa kanak-kanak adalah masa yang menentukan untuk pendidikan selanjutnya untuk mencapai cita-cita yang diinginkan sesuai dengan bakat dan minat anak itu sendiri.

“Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah upaya sadar dan terencana dalam

menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani, ajaran agama Islam, dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragam

hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.”54

Zakiyah Daradjat menyatakan sebagaimana dikutip oleh Abdul Majid dan

Dian Andayani bahwa: “Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah suatu usaha untuk

membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran agam Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan, yang pada akhirnya

dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup.”55

Jadi, Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah usaha sadar yang dilakukan oleh pendidik agar tercapainya tujuan yang telah ditetapkan melalui pengajaran bimbingan atau pelatihan bagi peserta didik untuk menyakini, memahami dan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

“Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah pada dasarnya lebih

diorientasikan pada tataran moral action, yakni agar peserta didik tidak hanya

53

H. Martinis Yamin, Paradigma Baru Pembelajaran, (Jakarta: GP Press Jakarta, 2011), hal. 150

54

Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi (Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004), (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2004), hal. 130

55

Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi (Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004),…. hal. 130

berhenti pada tataran kompeten (competence), tetapi sampai memiliki kemauan (will), dan kebiasaan (habit) dalam mewujudkan ajaran dan nilai-nilai agama tersebut dalam kehidupan sehari-hari.”56

Pendidikan atau pembelajaran adalah salah satu wahana yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan potensi peserta didik. Jadi dalam konteks pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) pada hakikatnya tidak seorangpun yang dapat membuat seseorang menjadi manusia yang bertaqwa, cerdas dan lain-lain. Akan tetapi seseorang itu sendiri yang memilih, memutuskan dan mengembangkan jalan hidupnya atas izin Allah SWT.57

b. Tujuan Dan Fungsi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

GBPP PAI 1994 menyatakan sebagaimana dikutip oleh Muhaimin, dkk

bahwa: “Secara umum, Pendidikan Agama Islam (PAI) bertujuan untuk

“Meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.”58

Dengan demikian, tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) menuntut siswa untuk menjadi seorang muslim yang beriman, bertaqwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia bagi dirinya sendiri, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Di dalam GBPP mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kurikulum 1999 sebagaimana dikutip oleh Muhaimin, dkk, bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam (PAI) tersebut lebih dipersingkat lagi, yaitu: “Agar siswa memahami, menghayati menyakini, dan mengamalkan ajaran Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman, bertakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia”.59

56

Muhaimin, Haji, Rekonstruksi Pendidikan Islam: Dari Paradigma Perkembangan, Manajemen Kelembagaan, Kurikulum hingga Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009), 313

57

Muhaimin, dkk, Paradigma Pendidikan Islam upaya mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, (Bandung Remaja Rosda Karya, 2001), hal. 184.

58

Muhaimin, dkk, Paradigma Pendidikan Islam upaya mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah,…. hal. 78

59

Muhaimin, dkk, Paradigma Pendidikan Islam upaya mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah,…. hal. 78

Pendidikan Agama Islam (PAI) di lingkungan sekolah atau madrasah bertujuan untuk menumbuhkembangkan keimanan seseorang melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, serta pengamalan peserta didik mengenai agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam keimanan, ketakwaan, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Jadi tujan pendidikan agama Islam itu adalah agar siswa menjadi manusia yang muslim, bertaqwa dan beriman kepada Allah swt. Pendidikan Agama Islam (PAI) haruslah menanamkan nilai-nilai islam, etika dan moralitas agara mendapatkan keberhasilan hidup baik didunia maupun diakhirat.60

Departemen Agama menyatakan sebagaimana dikutip oleh Darwyn Syah, dkk, bahwa mata pelajaran Pendidikan Agama Islam khususnya di Madrasah berfungsi untuk:

1) Penanaman nilai ajaran Islam sebagai pedoman mencapai kebahagiaan hidup didunia dan akhirat.

2) Pengembangan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT serta akhlak mulia peserta didik seoptimal mungkin, yang telah ditanamkan lebih dahulu dalam lingkungan keluarga.

3) Penyesuaian mental peserta didik terhadap lingkungan fisik dan sosial melalui Pendidikan Agama Islam (PAI).

4) Perbaikan kesalahan-kesalahan, kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pengamalan ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari. 5) Pencegahan peserta didik dari hal-hal negatif dari lingkungannya atau dari

budaya asing yang akan dihadapinya sehari-hari.

6) Pengajaran tentang informasi dan pengetahuan Pendidikan Agama Islam, serta sistem dan fungsionalnya.

7) Penyaluran siswa untuk mendalami Pendidikan Agama Islam ke lembaga pendidikan yang lebih tinggi.61

60

Abdul Majid, dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi (Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004), (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2004), hal. 135

61

Darwyn Syah, dkk, Pengembangan Evaluasi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: DIADIT MEDIA, 2009), hal. 29

c. Ruang Lingkup Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)

“Secara nasional untuk satuan pendidikan sekolah terdiri atas: Al

-Qur’an dan Hadist, Akidah Akhlak, Fiqih serta Tarikh dan kebudayaan Islam. Sedangakan ruang lingkup pendidikan agama Islam di Madrasah meliputi bidang studi atau mata pelajaran: Al-Qur’an Hadist, Akidah Akhlak, Fiqih, Sejarah

Kebudayaan Islam dan Bahasa Arab.”62

Kurikulum 1994 menyatakan sebagaimana dikutip oleh Muhaimin, dkk,

bahwa: “Ruang lingkup materi Pendidikan Agama Islam (PAI) pada dasarnya

mencakup tujuh unsur pokok, yaitu al-Qur’an Hadist, keimanan, syariah, ibadah, muamalah, akhlak, dan tarikh (sejarah Islam) yang menekankan pada perkembagan politik.”

Pada kurikulum tahun 1999 menyatakan sebagaimana dikutip oleh

Muhaimin, dkk, bahwa: “Dipadatkan menjadi lima unsur pokok, yaitu: Al-Qur’an,

keimanan, akhlak, Fiqih dan bimbingan ibadah, serta tarikh atau sejarah yang lebih menekankan pada perkembangan ajaran agama, ilmu pengetahuan dan

kebudayaan.”63

Dengan demikian, ruang lingkup pembelajaran PAI, yaitu:

Al-qur’an hadist, akidah akhlak, fiqih dan sejarah (tarikh). Masing-masing mata

pelajaran tersebut pada dasarnya saling terkait, isi mengisi dan melengkapi.

Peneliti membatasi penelitian ini dengan memilih salah satu dari bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI), yakni mata pelajaran Fiqih.

d. Pengertian Mata Pelajaran Fiqih

“Secara bahasa fiqih berarti: Paham, atau pengertian yang mendalam, tentang maksud dan tujuan suatu perkataan dan perbuatan, bukan hanya sekedar

mengetahui lahiriah perkataan dan perbuatan itu”.64

Pengertian ini dipahami dari kata fiqih yang tercantum dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT:

62

Darwyn Syah, dkk, Pengembangan Evaluasi Pendidikan Agama Islam,…. hal. 31

63

Muhaimin, dkk, Paradigma Pendidikan Islam upaya mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2001), hal. 79

64

H. Muhammadiyah Djafar, Pengantar Ilmu Fiqih (Suatu Pengantar tentang Ilmu Hukum Islam dalam Berbagai Madzhab), (Jakarta: Kalam Mulia, 1993), hal. 1

                             

Mereka berkata: "Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami." (QS. Huud: 91).

“Fiqih secara istilah syar’I, tidak jauh berbeda dengan pengertian lughowi tersebut. Hanya saja pengertian istilah ini, lebih terarah kepada pengertian khusus,

dari pada pengertian umum, sehingga tidak terjadi tumpang tindih, yaitu:”65

ْك لا ةي علا ةيع ْرَّلا اكْحاْلاب عْلا اهتَلدا ن بست

“Ilmu tentang hukum-hukum syar’I, yang bersifat amaliah (praktis) yang

diisbathkan dari dalil-dalilnya secara terperinci.”

Jadi, bahan pelajaran untuk Madrasah Aliyah dimaksudkan untuk memberikan bekal pengetahuan dan kemampuan dalam mengamalkan ajaran Islam, aspek hukum baik yang berupa ajaran ibadah maupun yang muamalah.

Dokumen terkait