Hesti Trisnawati SDN Sumberagung Moyudan Email: [email protected]
Abstrak: Penelitian tindakan kelas (PTK) ini menggunakan model spiral, dilakukan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari tiga pertemuan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan penerapan metode discovery yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika pada materi volume bangun ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode discovery dengan langkah-langkah: (1) stimulation; (2) problem statement; (3) data collection;
(4) data processing; (5) verification; dan (6) generalization dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika pada materi volume bangun ruang di kelas VI SD Negeri Sumberagung, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman. Aktivitas belajar siswa meningkat sebesar 25,18%, dan hasil belajar siswa meningkat sebesar 42,20.
Kata Kunci: discovery, aktivitas, hasil belajar
Abstract: Classroom action research (CAR) uses a spiral model, carried out in two cycles, each cycle consisting of three meetings. The purpose of this study is to describe the application of discovery methods that can improve the activities and learning outcomes of mathematics in the geometric volume. The results showed that the application of the discovery met hod with the steps: (1) stimulation; (2) problem statements; (3) data collection; (4) data processing; (5) verification; and (6) generalization can increase activity and results learn mathematics in the geometric volume in class VI SD Sumber Sumber, Moyudan District, Sleman Regency. Student learning activities increased by 25.18%, and student learning outcomes increased by 42.20.
Keywords: discovery, activities, learning outcomes
PENDAHULUAN
Pendidikan hendaknya memberi kesempatan kepada siswa untuk dapat menemukan kembali matematika dengan kemampuan mereka sendiri. Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran matematika menjadi bermakna. Melalui pembelajaran matematika yang bermakna, diharapkan siswa dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada kenyataannya, berdasarkan hasil
observasi di kelas VI SD Negeri sumberagung menunjukkan bahwa guru menyampaikan materi dengan memberikan penjelasan disertai contoh, tetapi masih belum menggunakan benda nyata/real. Setelah memberikan penjelasan, siswa mencatat di buku tulis, dan dilanjutkan dengan mengerjakan soal. Pembelajaran belum memberi rangsangan kepada siswa untuk menemukan sendiri konsep matematika.
Guru memberikan rumus secara langsung
kepada siswa tanpa memberi kesempatan untuk menemukan sendiri rumus tersebut, sehingga siswa cenderung cepat lupa. Hal ini sejalan dengan pendapat Soviawati (2011:80) yang mengatakan bahwa jika siswa belajar matematika secara terpisah dari pengalaman mereka sehari-hari, maka akan menjadi cepat lupa dan tidak dapat mengaplikasikan matematika tersebut. Hal ini berpengaruh pada hasil belajar siswa.
Dilihat dari dokumentasi, nilai ulangan harian siswa saat di kelas V pada materi bangun ruang masih di bawah KKM yang ditentukan, yaitu 70. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang penyebab rendahnya nilai ulangan, dilakukan wawancara dengan siswa. Sebagian siswa mengatakan bahwa penyebab mengenai rendahnya nilai ulangan harian tersebut karena lupa rumusnya.
Penyebab lainnya dikarenakan salah dalam memahami rumus, dan kesalahan dalam menghitung. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan metode pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan sendiri matematika, yaitu metode discovery.
Metode discovery dipilih karena metode ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif dalam belajar melalui kegiatan menemukan sendiri matematika, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Marc (2015) menyatakan bahwa metode discovery membuat kebermaknaan bagi siswa.
Siswa dapat membuat kesimpulan dengan berfikir logis, sehingga konsep matematika menjadi lebih mudah diingat. Suryosubroto (2008:192) menyatakan bahwa metode
discovery adalah metode yang dalam proses belajar mengajar memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan sendiri informasi yang dipelajari, yang selama ini biasa diberitahukan secara tradisional atau diceramahkan saja. Dari kajian di atas, ditetapkan pengertian metode discovery dalam penelitian ini merupakan suatu metode pembelajaran yang menekankan pada keaktifan siswa. Siswa terlibat secara langsung dalam kegiatan belajar mengajar dan mengembangkan cara berpikir ilmiah sehingga siswa mampu menemukan sendiri konsep matematika yang sedang dipelajari.
Tahapan-tahapan metode discovery menurut Ahmadi dan Prasetya (2005:22) meliputi stimulation, problem statement, data collection, data processing, verification, dan generalization. Tahap stimulation, dimana guru mengajukan persoalan, atau siswa membaca/mendengar uraian yang memuat persoalan. Tahap problem statement, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan identifikasi masalah, dan merumuskannya dalam hipotesis. Tahap data collection, siswa diberi kesempatan untuk mengumpulkan data dan informasi untuk membuktikan hipotesis. Tahap data processing, semua data yang diperoleh diklasifikasi, ditabulasi, dihitung dan ditafsirkan. Tahap verification, pengecekan terhadap hipotesis, apakah terbukti atau tidak, dan generalization, siswa belajar menarik kesimpulan dan generalisasi tertentu.
Penggunaan metode discovery mempunyai beberapa tujuan, yaitu:
(1) mengembangkan kreativitas; (2) mendapatkan pengalaman langsung dalam belajar; (3) mengembangkan kemampuan berpikir rasional dan kritis; (4) meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran; (5) belajar memecahkan masalah; dan (6) memperoleh inovasi dalam pembelajaran (Ilahi, 2012:47). Dalam penelitian ini, diterapkan metode discovery dengan tujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
Pendapat di atas didukung oleh hasil penelitian Hasugian (2013) yang menunjukkan bahwa metode discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika di SDN 02 Sejaruk Param dari nilai rata-rata 62,0 menjadi 82,7. Penelitian lain yang mendukung juga dilakukan oleh Supriyanto (2014) yang menyatakan bahwa penerapan discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI b pada mata pelajaran matematika pokok bahasan keliling dan luas lingkaran di SD Tanggul Wetan 02, Kecamatan Tanggul, Kabupaten Jember.
Tujuan penelitian ini yaitu menerapan metode discovery untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika pada materi volume bangun ruang di kelas VI SD Negeri Sumberagung Kecamatan Moyudan Kabupaten Sleman.
METODE PENELITIAN
Penelitian tindakan kelas (PTK) ini menggunakan model spiral dari Kemmis dan Taggart, yang terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi (Wiriaatmaja, 2014:66). Subjek
dalam penelitian ini yaitu siswa kelas VI SD Negeri Sumberagung, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman. Dalam pelaksanaannya, peneliti dibantu oleh seorang observer yang merupakan guru di SD Negeri Sumberagung.
Perangkat pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini meliputi rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), lembar kerja siswa, sumber dan bahan pelajaran, serta alat evaluasi. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data hasil observasi, catatan lapangan, wawancara dan tes. Adapun instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi, lembar catatan lapangan, pedoman wawancara, dan soal tes. Setelah data terkumpul, maka dilakukan analisis data. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini diadaptasi dari Sukardi (2003) yang meliputi skoring, tabulasi, pendeskripsian data, dan uji statistika.
Data disajikan dengan menggunakan tabel maupun grafik untuk memudahkan dalam menganalisis. Analisis yang dilakukan cenderung pada pendiskripsian hasil dari peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa, dibandingkan dengan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Prasiklus
Penelitian diawali dengan pengambilan data awal (prasiklus) untuk mengetahui tingkat aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi volume bangun ruang. Pengambilan data awal ini dilaksanakan dalam tiga pertemuan. Pertemuan pertama diawali
dengan apersepsi berupa tanya jawab tentang contoh-contoh bangun ruang. Guru menjelaskan tentang rumus cara menghitung volume limas, kemudian memberikan contoh cara menghitung volume limas. Siswa bergantian maju mengerjakan soal yang ada di papan tulis, mengerjakan soal latihan, dan dilanjutkan dengan pembahasan. Pertemuan kedua guru menyampaikan materi tentang menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan volume bangun limas. Diawali dengan apersepsi berupa tanya jawab tentang rumus volume limas, dilanjutkan dengan menjelaskan cara menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan volume limas. Guru menuliskan contoh soal dan menjelaskan langkah-langkah pengerjaannya. Siswa menyelesaikan soal cerita dan dilanjutkan dengan pembahasan. Pertemuan ketiga dilakukan evaluasi.
Hasil dari tindakan prasiklus ini menunjukkan bahwa kelas dalam keadaan kondusif untuk kegiatan belajar mengajar.
Semua siswa mengikuti pembelajaran dengan baik. Aktivitas siswa masih rendah, hal didukung oleh data hasil observasi aktivitas siswa yang menunjukkan bahwa terdapat 2 siswa (13,33%) berada pada kriteria cukup aktif, 5 siswa (33,33%) berada pada kriteria kurang aktif, dan 8 siswa (53,33%) berada pada kriteria sangat kurang aktif. Hasil belajar siswa masih rendah, data nilai hasil belajar siswa menunjukkan bahwa hasil belajar semua siswa (100%) masih belum tuntas. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa aktivitas dan hasil belajar siswa masih rendah, sehingga
pembelajaran perlu menerapkan metode yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, yaitu metode discovery.
Siklus I
Siklus I dilaksanakan dalam 3 pertemuan. Pertemuan pertama diawali dengan tanya jawab macam-macam bangun ruang, menyebutkan rumus volume bangun ruang yang telah diketahui. Pembelajaran dilanjutkan dengan apersepsi berupa tanya jawab mengenai benda-benda yang diketahui siswa yang berbentuk limas.
Guru menunjukkan bangun limas, siswa mengamati bangun tersebut, dan melakkukan tanya jawab tentang jenis-jenis limas. Kelas kemudian dibagi menjadi 3 kelompok.
Kegiatan inti pembelajaran dilakukan dengan siswa melakukan percobaan dan berdiskusi dengan kelompoknya menggunakan lembar kerja siswa yang meliputi tahapan stimulation, problem statement, data collection, data processing, verification, dan generalization.
Pada tahap stimulation, siswa melakukan percobaan dengan: (1) mengisi pasir pada limas segi tiga dan memindahkannya pada prisma segi tiga, mengulanginya hingga prisma penuh berisi pasir; (2) mengisi pasir pada limas segi empat dan memindahkannya pada prisma segi empat, mengulanginya hingga prisma penuh berisi pasir. Pada tahap problem statement, siswa menentukan hipotesis awal tentang bagaimana cara menghitung volume limas segi tiga dan limas segi empat melalui percobaan yang telah dilakukan.
Pada tahap data collection siswa melakukan
pengumpulan data yang dibutuhkan untuk menemukan rumus volume limas segi tiga dan limas segi empat. Tahap data processing data yang telah didapat diproses sehingga menjadi rumus volume limas segi tiga dan limas segi empat. Pada tahap verification siswa melakukan verifikasi/pengecekan terhadap rumus yang telah ditemukan dengan cara mengisi penuh pasir pada prisma segitiga, dan memindahkannya pada limas segitiga dan prisma segi empat pada limas segi empat secara berulang sampai pasir habis. Pada tahap generalization siswa dengan bimbingan guru menarik kesimpulan dari percobaan yang telah dilakukan, dengan menuliskan rumus volume limas segi tiga dan limas segi empat yang telah ditemukan serta menyelesaikan soal menghitung volume limas segi tiga dan limas segi empat.
Pertemuan kedua pada siklus I diawali dengan menggali pengetahuan awal siswa dengan melakukan tanya jawab mengenai rumus volume limas segi tiga dan limas segi empat yang telah ditemukan. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, dan membagi kelas menjadi 3 kelompok.
Kegiatan inti pembelajaran meliputi tahapan stimulation, problem statement, data collection, data processing, verification, dan generalization.
Pada tahapan stimulation, guru menunjukkan media yang berupa bangun limas segi empat. Guru menyampaikan cerita tentang permasalahan yang berkaitan dengan volume limas segi empat. Tahap problem statement, siswa menentukan bagaimana cara menghitung volume limas segi empat
dengan menyebutkan rumus volume limas segi empat.
G : Anak-anak, Bu Guru ingin membuat istana pasir berbentuk piramida seperti ini (sambil menunjukkan bangun limas). Untuk dapat membuat istana pasir, maka cetakan ini harus diisi dengan pasir sampai penuh. Berapa volume pasir yang harus diisikan ke cetakan ini agar dapat dibuat piramida pasir?
S : Sama dengan volume limas Bu.
G : Limasnya limas apa ini anak-anak?
S : Limas segi empat bu
G : Bagaimana cara menghitung volume limas segi empat?
S : V = x s x s x t.
Pada tahap data collection siswa melakukan pengumpulkan data dengan mengukur sisi alas dan tinggi limas. Pada tahap data processing siswa menghitung volume limas dengan menggunakan rumus volume limas segi empat. Tahap verification dilakukan dengan siswa mempresentasikan hasil kerjanya. Siswa yang lain diminta membandingkan hasil kerjanya dengan hasil kerja yang dipresentasikan oleh teman. Dari tahapan ini dilakukan pengecekkan hasil kerja siswa, apakah sudah benar atau belum.
Pada tahap generalization siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan tentang bagaimana langkah-langkah dalam menyelesaikan permasalahan berupa soal cerita yang berkaitan dengan volume limas.
Kegiatan akhir pembelajaran dilakukan dengan guru memberikan penguatan tentang
bagaimana menyelesaikan permasalahan yang berupa soal cerita yang berkaitan dengan volume limas. Siswa mengerjakan soal latihan secara mandiri, kemudian dibahas secara bersama-sama.
Pertemuan ketiga yaitu evaluasi.
Diawali dengan menyiapkkan peralatan dan kelengkapan, membagikan soal evaluasi dan memberikan penjelasan tata cara pengerjakan soal serta waktu yang disediakan. Siswa mengerjakan soal evalusai, dikumpulkan, dan dilakukan pembahasan secara bersama-sama.
Hasil tindakan siklus I menunjukkan kelas dalam keadaan kondusif untuk kegiatan belajar mengajar. Metode discovery dapat diterapkan dengan baik, terlihat pada hasil observasi aktivitas guru dari observer
menyatakan bahwa guru telah melaksanakan pembelajaran dengan baik, sesuai dengan metode discovery. Urutan pembelajaran sudah sesuai. Hasil observasi aktivitas siswa menunjukkan bahwa pada siklus I terdapat 5 siswa (33,33%) berada pada kriteria sangat aktif, 5 siswa (33,33%) berada pada kriteria aktif, 3 siswa (20,00%) berada pada kriteria cukup aktif, dan 2 siswa (13,33%) berada pada kriteria sangat kurang aktif.
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa aktivitas siswa meningkat. Jika ditinjau dari kriteria keberhasilan, aktivitas siswa sudah memenuhi kriteria keberhasilan, yaitu dikatakan baik apabila lebih dari 50%
siswa berada dalam kriteria aktif atau sangat aktif. Nilai hasil belajar siswa pada siklus I menunjukkan bahwa pada siklus I terdapat
8 siswa (53,33%) nilai hasil belajarnya sudah tuntas dan 7 siswa (46,67%) nilai hasil belajarnya masih belum tuntas. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai hasil belajar siswa meningkat. Akan tetapi jika ditinjau dari kriteria keberhasilan, hasil belajar siswa belum memenuhi kriteria keberhasilan, yaitu dikatakan baik apabila lebih dari 75% siswa tuntas dalam belajar.
Hasil tindakan siklus I belum dapat memenuhi kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan. Beberapa kendala yang ditemui dapat dilihat dalam Tabel 1.
Dari kendala yang ditemui, dianalisis penyebabnya, kemudian dilakukan tindak lanjut berupa perbaikan siklus yaitu melalui tindakan siklus II.
Siklus II
Siklus II dilaksanakan dalam tiga pertemuan. Pertemuan pertama diawali dengan dengan mengamati kerucut yang ditunjukkan oleh guru, dan tanya jawab mengenai bagian kerucut. Pada siklus II ini guru lebih menekankan pada bagian kerucut dan cara menentukan ukurannya.
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, dilanjutkan dengan guru membimbing siswa membentuk kelompok, ada 5 kelompok. Di akhir kegiatan pendahuluan guru membimbing siswa dalam melakukan pembagian tugas kerja dalam kelompok.
Kegiatan inti pembelajaran dilakukan dengan siswa melakukan percobaan dan berdiskusi dengan kelompoknya, menggunakan lembar kerja siswa yang meliputi kegiatan stimulation, problem statement, data collection, data processing, verification, dan
generalization.
Pada tahapan stimulation, siswa melakukan percobaan dengan mengisi pasir pada kerucut dan memindahkannya pada tabung, mengulanginya hingga tabung penuh berisi pasir. Pada tahap problem statement, siswa menentukan hipotesis awal cara menghitung volume kerucut berdasarkan percobaan yang telah dilakukan. Pada tahap data collection siswa melakukan pengumpulan data yang dibutuhkan untuk menemukan rumus volume kerucut. Pada tahap data processing data yang didapat dimasukkan ke dalam rumus volume kerucut.
Pada tahap verification siswa melakukan verifikasi/pengecekan terhadap rumus yang telah ditemukan dengan cara mengisi penuh pasir pada tabung, dan memindahkannya pada kerucut secara berulang sampai pasir habis.
Dari kegiatan verification ini bisa diperoleh pembuktian hipotesis yang telah dituliskan di awal sudah tepat atau belum.
Pada tahap generalization siswa dengan bimbingan guru menarik kesimpulan dari percobaan yang telah dilakukan, dengan menuliskan rumus volume kerucut yang telah ditemukan serta menyelesaikan soal menghitung volume kerucut. Pada siklus II, tahapan generalization ditambahkan dengan cara menghitung tinggi jika yang diketahui jari-jari alas dan garis pelukis, dan menemukan rumus menghitung tinggi kerucut jika diketahui jari-jari dan volumenya. Kegiatan akhir dilakukan dengan guru memberikan penguatan tentang bagaimana penerapan rumus volume
kerucut dalam mengerjakan soal. Siswa mengerjakan soal latihan secara mandiri.
Guru senantiasa mengingatkan siswa agar teliti dalam menghitung. Setelah selesai mengerjakan soal, kemudian dibahas secara bersama-sama.
Pertemuan kedua diawali dengan tanya jawab mengenai rumus volume kerucut.
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
Di akhir kegiatan pendahuluan guru membimbing siswa membentuk kelompok, dan membagi tugas kerja dalam kelompok.
Bagian inti pembelajaran meliputi tahapan stimulation, problem statement, data collection, data processing, verification, dan generalization.
Pada tahapan stimulation, guru menunjukkan media yang berupa bangun kerucut, dan menyampaikan cerita tentang permasalahan yang berkaitan dengan volume kerucut. Pada tahap problem statement, siswa menentukan bagaimana cara menghitung volume kerucut, sebagai berikut.
G : Anak-anak, Bu Guru mempunyai sebuah kerucut (sambil menunjukkan cetakan tumpeng). Ini adalah cetakan tumpeng. Bu Guru ingin mengetahui berapa nasi yang dibutuhkan untuk mengisi cetakan tumpeng milik Bu Guru ini. Bisakah kalian membantu Bu Guru menghitungnya?
S : Bisa.
G : Anak-anak, bagaimana
caranya menghitung banyaknya nasi yang dibutuhkan?
S : dengan menghitung volume kerucut Bu...
G : Apa rumusnya?
S : V= x π x r x r x t.
Pada tahap data collection siswa mengukur jari-jari alas kerucut dan tinggi kerucut. Pada tahap data processing siswa menghitung volume kerucut dengan menggunakan rumus. Pada tahap verification perwakilan siswa diminta maju untuk mempresentasikan hasil kerjanya.
Siswa yang lain diminta membandingkan hasil kerja teman yang presentasi dengan hasil kerjanya. Dari tahapan ini dilakukan pengecekkan hasil kerja siswa, apakah sudah benar atau belum. Pada tahap generalization siswa menyelesaikan permasalahan yang berupa soal cerita yang berkaitan dengan volume kerucut. Selain menghitung volume kerucut, siswa juga menyelesaikan soal cerita untuk mencari tinggi kerucut, luas alas kerucut dan jari-jari alas kerucut. Kegiatan akhir dilakukan dengan guru memberikan penguatan tentang bagaimana menyelesaikan permasalahan yang berupa soal cerita yang berkaitan dengan volume kerucut termasuk menghitung tinggi kerucut, luas alas kerucut dan jari-jari alas kerucut. Kegiatan dilanjutkan dengan siswa mengerjakan soal latihan secara mandiri, kemudian dibahas secara bersama-sama.
Pertemuan ketiga diawali dengan menyiapkkan peralatan dan kelengkapan untuk megerjakan soal evaluasi, membagikan soal evaluasi, dan memberikan penjelasan tata cara pengerjakan soal serta waktu yang disediakan. Siswa mengerjakan evaluasi, mengumpulkan hasil kerja, dan dilakukan pembahasan secara bersama-sama.
Hasil tindakan siklus II menunjukkan bahwa kelas dalam keadaan kondusif untuk kegiatan belajar mengajar. Semua siswa mengikuti pembelajaran dengan baik. Hasil observasi aktivitas guru menunjukkan bahwa metode discovery dapat diterapkan dengan baik. Hasil observasi aktivitas siswa menunjukkan bahwa terdapat 6 siswa (40,00%) berada pada kriteria sangat aktif, 6 siswa (40,00%) berada pada kriteria aktif, dan 3 siswa (20,00%) berada pada kriteria kurang aktif. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa aktivitas siswa meningkat, 80,00% siswa berada dalam kriteria aktif dan sangat aktif. Aktivitas siswa sudah memenuhi kriteria keberhasilan, yaitu dikatakan baik apabila lebih dari 50% siswa berada dalam kategori aktif atau sangat aktif. Nilai hasil belajar siswa menunjukkan 12 siswa (80,00%) nilai hasil belajarnya sudah tuntas dan 3 siswa (20,00%) nilai hasil belajarnya masih belum tuntas. Jika ditinjau dari kriteria keberhasilan, maka hasil belajar siswa sudah memenuhi kriteria keberhasilan, yaitu dikatakan baik apabila lebih dari 75%
siswa tuntas dalam belajar.
Pembahasan
Pada penelitian ini, metode discovery dilaksanakan secara berkelompok. Hal ini sesuai dengan pendapat Hamalik (2001:187) yang menyatakan bahwa discovery paling baik dilaksanakan dalam kelompok. Dengan tahapan-tahapan metode discovery yang dilaksanakan melalui kegiatan kelompok dapat meningkatkan aktivitas siswa.
Aktivitas siswa pada tiap siklus tindakan mengalami peningkatan.
Peningkatannya terlihat sangat jelas pada siklus I, aktivitas siswa yang semula 59,63%
meningkat menjadi 81,66%, sedangkan pada siklus II menjadai 84,81%. Peningkatan ini dapat dijelaskan dalam grafik pada Gambar 1.
Peningkatan aktivitas siswa pada siklus I maupun siklus II tidak terlepas dari metode pembelajaran yang digunakan. Ngalim (2004:107) menyatakan bahwa aktivitas belajar dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Salah satu faktor eksternal yaitu guru dan cara mengajar, dimana salah satu unsurnya yaitu metote pembelajaran.
Dalam penelitian ini, metode dicovery telah berhasil meningkatkan aktivitas siswa.
Peningkatan tersebut juga sejalan dengan pendapat Ilahi (2012: 47) yang menyatakan bahwa salah satu tujuan pembelajaran dengan metode discovery yaitu meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran.
Hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Peningkatan terjadi dimana nilai rata-rata hasil belajar siswa pada prasiklus 46,33; pada siklus I yaitu 67,47;
dan pada siklus II yaitu 88,53. Peningkatan hasil belajar ini dapat ditunjukkan dengan grafik pada Gambar 2.
Slameto (2010:60) menyatakan
bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah faktor sekolah, diantaranya yaitu metode belajar yang digunakan. Metode discovery telah berhasil meningkatkan hasil belajar siswa. Ilahi (2012:41) menyatakan bahwa melalui metode discovery potensi intelektual siswa akan meningkat, sehingga menimbulkan harapan baru menuju kesuksesan.
SIMPULAN
Metode discovery yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika pada materi volume bangun ruang di kelas VI SD Negeri Sumberagung Kecamatan Moyudan dilakukan dengan langkah-langkah: (1) stimulation; (2) problem statement; (3) data collection; (4) data processing; (5) verification; dan (6) generalization. Aktivitas belajar siswa pada materi volume bangun ruang di kelas VI SD
Metode discovery yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika pada materi volume bangun ruang di kelas VI SD Negeri Sumberagung Kecamatan Moyudan dilakukan dengan langkah-langkah: (1) stimulation; (2) problem statement; (3) data collection; (4) data processing; (5) verification; dan (6) generalization. Aktivitas belajar siswa pada materi volume bangun ruang di kelas VI SD