Volume XI / Nomor 01 / April 2020
Nomor 01
JP Volume XI Halaman 1 - 92 YogyakartaApril 2020
ISSN 2086-9134
Terbit tiga kali setahun pada bulan April, Agustus dan Desember, berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian maupun hasil kajian pustaka
di bidang pendidikan dan artikel telaah (review article).
Penanggung Jawab Minhajul Ngabidin Pemimpin Redaksi
Insan Yudanarto Ketua Penyunting
Sugiyanta
Wakil Ketua Penyunting Agus Wasisto Dwi Dosowarso
Penyunting Pelaksana Arwan Rifai
Yoko Rimy Suwastanto Dwi Widiyanti Ch.Sri Wahyu Widayati Pelaksana Tata Usaha
Sri Widayati Nur Endri Pamungkas
Maryani Hilarius Widiyarto
Ismi Mulyani Desain/Lay Out Apriantoni Eko Putranto
Alamat Penyunting dan Tata Usaha : LPMP DIY Jalan Raya Tirtomartani, Kalasan Sleman Yogyakarta 55571. Telepon. 0274 496921-Fax (0274) 497002. Alamat email:
JURNAL PENDIDIKAN mulai terbit bulan April 2010, diterbitkan oleh Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Penyunting menerima sumbangan tulisan yang belum pernah diterbitkan dalam media lain. Naskah diketik di atas kertas HVS kuarto spasi ganda kurang lebih 20 halaman, dengan format seperti tercantum pada halaman belakang (Petunjuk bagi Calon Penulis Jurnal Pendidikan). Naskah yang masuk dievaluasi dan disunting untuk keseragaman format, istilah, dan tata cara lainnya.
Isi di luar tanggung jawab percetakan.
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas terbitnya Jurnal Pendidikan Volume XI Nomor 01/April 2020. Jurnal Pendidikan merupakan sebuah wadah publikasi ilmiah hasil penelitian di bidang pendidikan hasil karya para pendidik dan tenaga kependidikan antara lain dosen, widyaiswara, pamong pelajar, pengawas, kepala sekolah, guru, dan tenaga lain di lingkungan lembaga/sekolah. Jurnal Pendidikan diterbitkan oleh Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan D.I. Yogyakarta.
Jurnal Pendidikan edisi ini berisi artikel dengan tema peran kepala sekolah dalam peningkatan kompetensi guru melaksanakan pembelajaran melalui penelitian tindakan sekolah dan usaha guru dalam meningkatkan hasil belajar melalui penelitian tindakan kelas. Artikel ditulis oleh penulis dari berbagai instansi dan jenjang sekolah yang berbeda.
Harapan Redaksi, Jurnal Pendidikan dapat memotivasi para pendidik dan tenaga kependidikan untuk menulis dan mempublikasikan hasil penelitiannya sehingga bisa bermanfaat bagi dunia pendidikan. Tetap semangat dan berkarya untuk Indonesia yang lebih baik.
Redaksi
DAFTAR ISI Editorial Daftar Isi
MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU DALAM
MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI SUPERVISI TEKNIK KUNJUNGAN KELAS
Subinah - SD Klagaran Sanden Bantul
PENINGKATAN KOMPETENSI GURU DALAM MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013 MELALUI SUPERVISI KLINIS SATU DUA
Suharman - SD Negeri Bekelan Lendah Kulon Progo
INTEGRASI PjBL DALAM STEM EDUCATION UNTUK
MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF ILMIAH DAN KRITIS ILMIAH
Sri Lestari - SMA Negeri 1 Yogyakarta
PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI QLC, KEPUTRIAN DAN ODOC PADA SISWA SMK
Widiastuti - SMKN 1 Saptosari
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR OLAHRAGA TOLAK PELURU MELALUI PENDEKATAN PERMAINAN TARGET GAMES
Yollan Daru - SMAN 1 Srandakan Bantul
PENERAPAN METODE BUZZ GROUP DENGAN MEDIA KARTU ALJABAR DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA
Eni Rohayatun - SMP Negeri 2 Jetis Bantul Yogyakarta
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR TOLAK PELURU MELALUI PERMAINAN PERSEGI GESER
Esti Widayati - SMP Negeri 16 Yogyakarta
PENERAPAN METODE DISCOVERY UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI VOLUME BANGUN RUANG
Hesti Trisnawati -SDN Sumberagung Moyudan
Hal
ii iii 1 - 13
14 - 23
24 - 33
34 - 46
47- 60
61 - 71
72 - 81
82 - 92
Volume XI/ Nomor 01/April 2020 ISSN 2086-9134
PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI SUPERVISI TEKNIK KUNJUNGAN KELAS
Subinah
SD Klagaran Sanden Bantul E-mail: [email protected]
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual melalui supervisi teknik kunjungan kelas di SD Klagaran. Penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan dengan empat langkah yaitu: perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.
Subjek penelitian adalah guru SD Klagaran yang berjumlah 10 orang. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu observasi, kuesioner, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian, nilai kemampuan guru dalam melaksananakan pembelajaran pada prasiklus sebesar 68, pada siklus I pertemuan pertama mencapai 77 dan pertemuan kedua menjadi 79.
Selanjutnya pada siklus II pertemuan pertama mencapai 81 dan pertemuan kedua mencapai 86. persentase jumlah guru yang mampu melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual pada prasiklus 30%, pada siklus pertama sebesar 70% dan siklus kedua 100%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa supervisi teknik kunjungan kelas dapat meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual.
Kata kunci: kemampuan guru, pembelajaran kontekstual, supervisi teknik kunjungan kelas
Abstract: This study aims to improve the ability of teachers to carry out learning with a contextual approach through supervision of classroom visit techniques at Klagaran elementary school. The school action research was carried out in four steps, namely planning, action, observation, and reflection. The subjects of the study were 10 elementary school teachers in Klagaran elementary school. The study was conducted in two cycles. Data collection techniques in this study were observation, questionnaire, interview and documentation. The data analysis technique used is quantitative descriptive. Based on the results of the study, the score of teacher’s ability to carry out learning in pre-cycle 68, in the first cycle the first meeting reached 77 and the second meeting became 79. Then in the second cycle the first meeting reached 81 and the second meeting reached 86. The percentage of the number of teachers who were able to carry out learning with an approach contextual in the 30% pre-cycle, in the first cycle of 70% and the second cycle of 100%. The results showed that the supervision of classroom visit techniques can improve the ability of teachers to carry out learning with a contextual approach.
Keywords: teacher’s ability, contextual learning, supervision of class visit techniques
PENDAHULUAN
Kualitas sekolah sangat dipengaruhi oleh kegiatan pembelajaran yang
dilaksanakan. Kegiatan pembelajaran dalam Kurikulum 2013 diarahkan untuk memberdayakan semua potensi yang dimiliki
peserta didik agar mereka dapat memiliki kompetensi yang diharapkan melalui upaya menumbuhkan serta mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan. Pada pelaksanaan Kurikulum 2013, pembelajaran yang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan saintifik dan kontekstual.
Pembelajaran yang diharapkan pembelajaran yang bermakna dan berkualitas. Salah satu caranya melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual.
Menurut Aries Shoimin (2014:42), pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning), adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi nyata siswa serta mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif yakni konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assesment). Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual CTL (contextual teaching and learning) dimaksudkan agar pembelajaran itu lebih bermakna.
Menurut Elaine (2014:35), pembelajaran dan pengajaran kontekstual melibatkan para siswa dalam aktivitas penting yang membantu mereka mengaitkan pelajaran akademis dengan konteks kehidupan nyata yang mereka hadapi. Penemuan makna
merupakan ciri utama CTL.
Pada kenyataannya pembelajaran yang dilaksanakan oleh sebagian besar guru di SD Klagaran masih belum optimal.
Hal tersebut antara lain pembelajaran yang memberi kesempatan siswa menemukan sendiri, pembelajaran yang masih belum menggunakan media dan alat peraga, penilaian yang dilaksanakan masih belum menggunakan penilaian sebenarnya, dan belum menggunakan pendekatan kontekstual. Siswa belum banyak diberi kesempatan menggali ilmu pengetahuan dengan ide dan gagasan sendiri, belum dikaitkan dengan lingkungan atau masalah sebenarnya, sehingga hasil pembelajaran kurang bermakna. Berdasarkan pengamatan dan hasil supervisi akademik yang dilakukan oleh kepala sekolah terdapat sebesar 70%
dari jumlah guru masih belum mampu menerapkan pembelajaran kontekstual, dan baru sebesar 30% dari jumlah guru yang sudah melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual.
Guna mengatasi permasalahan tindakan yang dilaksanakan berupa supervisi dengan teknik kunjungan kelas. Supervisi merupakan kegiatan untuk pembinaan ke arah perbaikan. Menurut Ngalim Purwanto (2016:77), tujuan supervisi yaitu perbaikan dan perkembangan proses belajar mengajar secara total. Supervisi teknik kunjungan kelas merupakan teknik supervisi individual. Penelitian tindakan sekolah ini berjudul “Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Melaksanakan Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual melalui
Supervisi Teknik Kunjungan Kelas di SD Klagaran Sanden Bantul Tahun Pelajaran 2018 / 2019”. Rumusan masalah yang diajukan yaitu “bagaimanakah upaya meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual melalui supervisi teknik kunjungan kelas di SD Klagaran Sanden Bantul Tahun Pelajaran 2018 / 2019?” Tujuan penelitian dilaksanakan antara lain untuk: 1)meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual; 2) meningkatkan kemampuan guru melaksanakan pembelajaran lebih bermakna dan berkualitas; 3) membimbing guru mampu melaksanakan penilaian yang sebenarnya.
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi siswa, guru, dan sekolah. Bagi siswa, manfaat penelitian diharapkan pembelajaran dapat lebih kreatif, efektif, dan menyenangkan serta mengaitkan hasil belajar dengan lingkungannya. Bagi guru, manfaat penelitian diharapkan meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran yang lebih bermakna dan berkualitas serta mengaitkan pembelajaran dengan lingkungan. Bagi sekolah, manfaat penelitian ini meningkatkan kapasitas sekolah dengan memiliki guru dan siswa yang mampu melaksanakan pembelajaran yang menerapkan pendekatan kontekstual serta mampu memecahkan masalah.
Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual
Belajar merupakan proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu.
Komponen proses pembelajaran meliputi tujuan, materi, metode, dan evaluasi.
Keempat komponen pembelajaran tersebut harus diperhatikan oleh guru dalam memilih dan menentukan model-model pembelajaran yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran (Rusman, 2013:1).
Pelaksanaan pengajaran adalah interaksi guru dengan murid dalam rangka menyampaikan bahan pelajaran kepada siswa dan untuk mencapai tujuan pengajaran (Suryosubroto, 2002:36).
Menurut Aries Shoimin (2014:41), CTL (Contextual Teaching and Learning) merupakan suatu proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan sehari- hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/
keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari permasalahan ke permasalahan lainnya.
Elaine dalam Rusman (2013:187), mengatakan pembelajaran kontekstual adalah sebuah sistem yang merangsang otak untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna. Johnson dalam Rusman (2013:189) menyatakan bahwa inti dari pendekatan CTL adalah keterkaitan setiap materi atau topik pembelajaran dengan kehidupan nyata. CTL memungkinkan
siswa menghubungkan isi mata pelajaran akademik dengan konteks kehidupan sehari- hari untuk menemukan makna. Ciri khas dari CTL ditandai adanya tujuh komponen utama antara lain constructivism (konstruktivisme), inquiry (menemukan), questioning (bertanya), learning community(masyarakat belajar), modelling (pemodelan), reflection (refleksi), dan authentic assesment(penilaian sebenarnya). Menurut Hosnan (2016:279), kelebihan pembelajaran kontekstual antara lain pembelajaran lebih bermakna dan riil, serta pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa.
Supervisi Akademik
Menurut Ngalim Purwanto (2016:76), supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif.
Teknik supervisi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu teknik individual dan teknik kelompok. Teknik individual yaitu teknik yang dilaksanakan untuk seorang guru secara indvidual dan teknik yang bersifat kelompok yaitu teknik yang dilakukan untuk melayani lebih dari satu orang (Piet A.Sahertian, 2014:52). Melaksanakan supervisi akademik dalam rangka perbaikan pembelajaran menjadi salah satu tugas supervisor (pengawas dan kepala sekolah/
madrasah). Guna melaksanakan supervisi akademik secara efektif diperlukan keterampilan konseptual, interpersonal, dan teknikal (Glickman dalam Lantip dan
Sudiyono, 2011:104).
Teknik perorangan adalah supervisi yang dilakukan secara perseorangan. Teknik perorangan (individual) ini dilakukan antara lain dengan cara kunjungan kelas, observasi kelas, pertemuan individual, kunjungan antar kelas, dan menilai diri sendiri. Menurut Piet A. Sahertian, teknik yang bersifat individual terdiri atas kunjungan kelas, observasi kelas, percakapan pribadi, inter-visitasi, seleksi berbagai sumber materi untuk mengajar, dan menilai diri sendiri. Teknik kunjungan kelas merupakan teknik supervisi individual.
Kunjungan kelas adalah teknik pembinaan guru oleh kepala sekolah untuk mengamati proses pembelajaran di kelas. Tujuannya untuk menolong guru dalam mengatasi masalah di dalam kelas (Lantip Diat Prasojo dan Sudiyono, 2011: 102).
Penelitian yang relevan dengan pelaksanaan penelitian tindakan sekolah yang dilaksanakan ini antara lain dilakukan oleh Sugeng Purwantara (2018) dengan judul
“Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Menerapkan Pembelajaran Kontekstual melalui Focus Group Discussion pada Guru SD Talkondo Tahun Pelajaran 2017 / 2018”.
Kerangka berpikir untuk mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran di SD Klagaran dilakukan melalui supervisi akademik teknik kunjungan kelas. Hasil akhir penerapan supervisi teknik kunjungan kelas ini adalah guru mampu melaksanakan pembelajaran kontekstual sehingga pembelajaran produktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Gambaran kerangka
berpikir dari penelitian tindakan sekolah ini dapat dilihat pada Gambar 1.
Hipotesis tindakan yang diajukan dalam penelitian ini yaitu melalui supervisi akademik teknik kunjungan kelas dapat meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual di SD Klagaran Sanden Tahun Pelajaran 2018 / 2019.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di SD Klagaran, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul. Ruang lingkup penelitian ini yaitu peningkatan kemampuan melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual melalui supervisi akademikteknik kunjungan kelas bagi guru-guru SD Klagaran, Sanden, Bantul Tahun Pelajaran 2018/2019.
Kemampuan melaksanakan pembelajaran kontekstual sangat penting dimiliki oleh setiap guru. Subjek penelitian ini yaitu semua guru SD Klagaran, Sanden, Bantul, yang berjumlah 10 orang.
Penelitian dilaksanakan dengan penelitian tindakan sekolah (PTS). Langkah- langkah dilakukan secara sistematis dengan mengacu pada prosedur penelitian tindakan kelas atau sekolah melalui siklus model PTS seperti pada penelitian tindakan kelas (PTK) dengan mengadaptasi pendapat Suharsimi Arikunto bahwa PTK meliputi empat langkah yaitu: perencanaan (planning), aksi/
tindakan (acting), observasi (observing), dan refleksi (reflecting). Tahapan penelitian yang dilakukan menurut Suharsimi Arikunto (2006: 16) dapat dijelaskan pada Gambar 2.
Prosedur Penelitian Siklus I
Di dalam tahap perencanaan pada siklus pertama, pertemuan pertama ini, kepala sekolah mengadakan pertemuan awal dengan guru-guru SD Klagaran. Kepala sekolah menyampaikan beberapa permasalahan yang masih ditemukan dalam pelaksanaan supervisi sebelumnya. Pada tahap pelaksanaan kepala sekolah melaksanakan apa yang telah direncanakan pada kegiatan supervisi teknik kunjungan kelas dan merangkum kelebihan dan kekurangan dari pendekatan pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran. Observasi dilaksanakan pada waktu supervisi teknik kunjungan kelas.
Kepala sekolah mengamati guru dalam melaksanaan pembelajaran kontekstual serta mengamati siswa pada waktu mengikuti pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi. Di dalam kegiatan refleksi ini antara guru yang dikunjungi dengan kepala sekolah dan kolaborator bertemu. Kepala
sekolah menyampaikan hasil pengamatan pelaksanaan pembelajaran kontekstual yang mencakup keberhasilan, kelebihan, serta kelemahan dan memberikan solusi. Diskusi untuk pembenahan kegiatan selanjutnya disampaikan kepada guru yang dikunjungi dan jika hasil belum mencapai indikator keberhasilan maka dilanjutkan pada siklus kedua.
Prosedur Penelitian Siklus II
Di dalam tahap perencanaan pada siklus II, kepala sekolah mengadakan pertemuan dan menyampaikan beberapa permasalahan yang masih ditemukan dalam pelaksanaan supervisi pada siklus I, pertemuan kedua.
Permasalahan tersebut difokuskan pada pelaksanaan pembelajaran kontekstual yang dilaksanakan guru. Kepala sekolah bersama kolaborator mempersiapkan instrumen penelitian berupa lembar observasi.
Pada tahap pelaksanaan, kepala sekolah
melaksanakan apa yang telah direncanakan.
Kepala sekolah melaksanakan kegiatan supervisi teknik kunjungan kelas sesuai jadwal yang dibuat dan diberitahukan kepada semua guru. Kepala sekolah mengamati perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran kontekstual yang dilaksanakan oleh guru.
Observasi dilaksanakan pada waktu supervisi teknik kunjungan kelas.
Kepala sekolah mengamati guru dalam melaksanakan pembelajaran kontekstual dan mengamati siswa pada waktu mengikuti pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi. Pelaksanaan supervisi teknik kunjungan kelas oleh kepala sekolah juga diamati oleh kolaborator/guru senior yang sudah ditunjuk. Format lembar observasi diisi dengan lengkap untuk mendapatkan data kegiatan proses teknik kunjungan kelas dalam pembelajaran.
Di dalam kegiatan refleksi ini antara guru yang dikunjungi dengan kepala sekolah dan kolaborator bertemu. Kepala sekolah menyampaikan hasil pengamatan pelaksanaan pembelajaran kontekstual yang meliputi keberhasilan, kelebihan, dan juga kelemahan dan memberikan solusi. Diskusi untuk pembenahan kegiatan selanjutnya disampaikan kepada guru yang dikunjungi.
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini berdasarkan hasil observasi awal. Prosedur penelitian yang dilaksanakan dan hasil pemantauan serta supervisi akademik dengan teknik kunjungan kelas disamping observasi pengumpulan data yang dilakukan dengan kuesioner (angket), wawancara dan dokumentasi.
Analisa data dalam penelitian tindakan sekolah (PTS) menggunakan dua data yakni data kuantitatif, dan kualitatif. Data kualitatif diperoleh dari hasil observasi, dokumen, dan wawancara, dan data kuantitatif diperoleh dari observasi angket atau kuesioner yang dianalisa secara kuantitatif. Data observasi dan angket dianalisis dengan kuantitatif untuk selanjutnya dideskripsikan secara kualitatif. Proses analisis data terdiri atas analisis pada saat pelaksanaan tindakan dan analisis terhadap data yang telah terkumpul.
Tahap analisis data dimulai dengan membaca keseluruhan data yang ada dari berbagai sumber, kemudian menyusun, mengolah, dan menyajikannya sesuai dengan kaidah- kaidah ilmiah baik secara kuantitatif maupun kualitatif, sehingga menjadi data yang bermakna. Kriteria hasil kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran kontekstual sebagaimana dapat dicermati pada Tabel 1.
Penelitian tindakan sekolah (PTS) ini dikatakan berhasil apabila telah mencapai indikator keberhasilan yaitu jika 80%
dari jumlah guru sudah melaksanakan pembelajaran kontekstual dengan kategori baik.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil dari observasi pada kondisi awal menyatakan sebagian besar guru masih belum mampu melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Jumlah guru di SD Klagaran adalah 10 orang, namun sekitar 70% dari jumlah guru masih belum memiliki kemampuan melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dan sekitar 30% yang sudah menerapkan pendekatan kontekstual ini.
Jika dirata-rata nilai kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran pada pra siklus atau kondisi awal ini hanya 68. Berdasarkan hasil supervisi administrasi pembelajaran, dan hasil pengamatan terhadap pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru-guru SD Klagaran, Sanden, Bantul, diperoleh hasil bahwa masih 50% guru belum mampu melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dan nilai rata-rata kemampuan guru baru mencapai 68.
Berdasarkan hasil tersebut, kepala sekolah melaksanakan supervisi dengan teknik kunjungan kelas untuk meningkatkan kemampuan melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual bagi guru SD Klagaran, Sanden, Bantul, pada tahun pelajaran 2018/2019. Pelaksanaan tindakan ini direncanakan sebanyak dua siklus.
Setiap siklusnya terdiri dari empat langkah yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
Pelaksanaan Siklus I
Siklus I dilaksanakan pada tanggal 28 Februari dan 2 Maret 2019 dalam bentuk kunjungan kelas. Sebelum kunjungan kelas dilaksanakan, dilakukan pertemuan terlebih dahulu untuk penjelasan tentang pembelajaran kontekstual. Di dalam pelaksanaan pembelajaran, guru berusaha melaksanakan sesuai dengan skenario pembelajaran yaitu dengan menerapkan prinsip pendekatan pembelajaran kontekstual. Berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa guru yang sudah melaksanakan pembelajaran kontekstual sebanyak 3 orang guru atau 30% dan yang cukup kontekstual sebanyak 4 orang guru atau 40% serta 3 orang atau 30% guru masih kurang kontekstual.
Berdasarkan hasil pengamatan pada siklus I, pertemuan kedua ini guru lebih mampu melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Pengamatan pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual juga menunjukkan kemampuan guru sudah mengalami peningkatan. Secara rinci hasil ini dapat dilihat pada Tabel 2.
Penilaian pelaksanaan pembelajaran pada siklus I, pertemuan kedua menunjukkan bahwa 70% guru sudah mampu melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Jika dibandingkan dengan keadaan sebelum dilakukannya siklus I, pertemuan II, telah menunjukan adanya peningkatan jumlah guru yang mampu melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Guru yang sudah
mampu melaksanakan pembelajaran secara kontekstual 7 orang, cukup kontekstual 2 orang dan yang kurang kontekstual sebanyak 1 orang.
Persentase jumlah guru yang mampu melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual meningkat.
Selaras dengan itu meningkat pula hasil nilai rata-rata kemampuan melaksanakan pembelajaran kontekstual. Nilai kemampuan melaksanakan pembelajaran juga meningkat dari prasiklus yang hanya mencapai nilai rata-rata 68, pada siklus I pertemuan kedua ini dapat mencapai 79. Peningkatan nilai kemampuan ini menunjukkan bahwa guru merespon positif tindakan yang dilakukan oleh kepala sekolah.
Pelaksanaan Siklus II
Siklus II dilaksanakan pada hari Senin dan Selasa tanggal 11 dan 12 Maret 2019. Supervisi teknik kunjungan kelas dilaksanakan kepada semua kelas dan semua guru. Siklus II dilaksanakan untuk melaksanakan perbaikan dari permasalahan yang ditemukan pada sklus I pertemuan kedua.
Berdasarkan hasil obeservasi pada siklus II pertemuan pertama ini guru-guru lebih siap. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) juga disusun dengan lengkap dan mencantumkan skenario pembelajaran
yang menunjukkan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Guru melaksanakan pembelajaran dengan kegiatan yang mengacu pada pendekatan pembelajaran kontekstual, mulai dari kegiatan membangun pengetahuan peserta didik, menemukan, bertanya jawab, diskusi kelompok, pemodelan, refleksi, dan penilaian sebenarnya (authenthic assessment).
Persentase jumlah guru yang mampu melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual juga mengalami peningkatan. Meskipun masih pada kategori 70 % guru mampu melaksanakan pembelajaran kontekstual namun rata-rata pelaksanaan pembelajaran meningkat yaitu 81.
Siklus II pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 12 Maret 2019. Kegiatan dimulai dari perencanaan, pelaksanaaan, observasi, dan refleksi. Berdasarkan hasil pengamatan pada pertemuan II siklus II ini persentase jumlah guru yang mampu melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual meningkat. Sepuluh guru sudah mampu melaksanakan pembelajaran yang kontekstual, meski ada beberapa susunan RPP yang perlu disempurnakan. Namun di dalam pelaksanaan pembelajarannya semua guru (100%) telah mampu melaksanakan pembelajaran CTL ini. Apabila dibandingkan dengan prasiklus maupun siklus I dapat
dilihat secara rinci pada Tabel 3.
Peningkatan jumlah guru yang mampu melaksanakan pembelajaran tersebut selaras dengan meningkatnya nilai rata-rata kemampuan melaksananakan pembelajaran yang menerapkan pendekatan kontekstual sebagaimana dapat dicermati pada Tabel 4.
Ditunjukkan oleh Tabel 4 bahwa nilai rata-rata kemampuan melaksanakan pembelajaran meningkat. Nilai kemampuan guru melaksanakan pembelajaran pada prasiklus hanya mencapai 68, pada siklus I mencapai 79, dan pada siklus II ini telah mencapai 86. Apabila dibandingkan dengan indikator keberhasilan, target pencapaian sudah tercapai, karena dalam indikator keberhasilan apabila rata-rata kemampuan
≥ 80.
Berdasarkan hasil pengamatan
pelaksanaan supervisi teknik kunjungan kelas pada pembelajaran dengan menerapkan pendekatan kontekstual yang telah dilaksanakan oleh guru-guru SD Klagaran menunjukkan bahwa 100% dari jumlah guru telah mampu melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan nilai rata-rata kemampuan melaksanakan pembelajaran. Pada pra siklus nilai rata-rata 68, siklus I pertemuan pertama nilai rata-rat 77, siklus I pertemuan kedua nilai rata-rata mencapai 79, dan pada siklus II pertemuan I nilai rata-rata mencapai 81 serta siklus II pertemuan kedua nilai rata-rata mencapai 86. Merujuk kepada indikator keberhasilan, maka pencapaian pada siklus II ini sudah memenuhi target pemenuhan indikator
keberhasilan.
Deskripsi Siklus I
Siklus I dilaksanakan pada tanggal 28 Februari dan 2 Maret 2019. Berdasarkan hasil pengamatan pelaksanaan supervisi teknik kunjungan kelas pada pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual menunjukkan bahwa proses pelaksanaan supervisi teknik kunjungan kelas memberi respon positif bagi guru maupun siswa. Hasil dari pelaksanaan siklus I ini adalah sejumlah 70% guru sudah mampu melaksanakan pembelajaran kontekstual. Nilai rata-rata kemampuan melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual meningkat dibandingkan nilai rata-rata pada prasiklus.
Nilai rata -rata kemampuan melaksanakan pembelajaran pada prasiklus baru mencapai 68, sedangkan pada siklus I pertemuan I sudah mencapai 77 dan pertemuan II mencapai 79.
Namun demikian, karena belum mencapai indikator keberhasilan, maka masih perlu dilaksanakan siklus berikutnya.
Deskripsi Siklus II
Siklus II dilaksanakan pada tanggal 11 dan 12 Maret 2019. Berdasarkan hasil pengamatan pelaksanaan supervisi teknik kunjungan kelas pada pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual menunjukkan bahwa hasil dari pelaksanaan siklus II ini adalah sejumlah 100% guru sudah mampu melaksanakan pembelajaran kontekstual. Nilai rata-rata kemampuan melaksanakan pembelajaran pada prasiklus baru mencapai 68, sedangkan
pada siklus I pertemuan pertama mencapai 77, siklus I pertemuan kedua mencapai 79, serta pada siklus II pertemuan pertama mencapai 81 dan siklus II pertemuan kedua ini mencapai 86. Ketercapaian indikator keberhasilan yang menargetkan 80%
dari jumlah guru mampu melaksanakan pembelajaran dan nilai rata-rata kemampuan melaksanakan pembelajaran 80 sudah terlampaui. Ketercapaian nilai rata-rata kemampuan melaksanakan pembelajaran ini dapat dilihat pada Gambar 3.
Hasil penelitian ini sesuai dengan tujuan supervisi yaitu untuk memperbaiki pembelajaran dan meningkatkan kemampuan guru. Terbukti dengan dilaksanakan supervisi teknik kunjungan kelas melalui dua siklus dengan masing-masing siklus terdiri atas dua kali pertemuan, kemampuan guru di dalam melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual meningkat.
Hal ini dapat ditunjukkan pada Gambar 4.
Deskripsi dari hasil pelaksanaan siklus I dan II menunjukkan bahwa supervisi akademik teknik kunjungan kelas mampu membantu guru meningkatkan kemampuan
dirinya yaitu dalam melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Setelah dilaksanakan supervisi teknik kunjungan kelas, pembelajaran yang dilaksanakan guru menunjukkan adanya kegiatan kontrukstivisme (membangun pengetahuan siswa), inquiry (menemukan), tanya jawab, kegiatan kelompok atau masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian sebenarnya.
SIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui supervisi akademik teknik kunjungan kelas dapat meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual di SD Klagaran Sanden Bantul Tahun Pelajaran 2018/2019.
Hal ini membuktikan bahwa berdasarkan hasil penelitian melalui supervisi akademik teknik kunjungan kelas kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual pada prasiklus 68, pada siklus I pertemuan pertama mencapai
77 dan pada siklus I pertemuan kedua meningkat menjadi 79. Selanjutnya pada siklus II pertemuan pertama mencapai 81 dan siklus II pertemuan kedua mencapai 86. persentase jumlah guru yang mampu melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual pada prasilkus 30%, pada siklus pertama sebesar 70% dan siklus kedua 100%.
Berdasarkan simpulan dalam penelitian ini saran ditujukan kepada: 1) siswa hendaknya aktif dan kreatif dalam mengikuti pembelajaran dengan pendekatan kontekstual yang dilaksanakan guru; 2) guru hendaknya termotivasi dalam melaksanakan pembelajaran kontekstual karena mendapat supervisi kunjungan kelas dari kepala sekolah; dan 3) sekolah hendaknya mampu memfasilitasi guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual
DAFTAR RUJUKAN
Arikunto Suharsimi, Suhardjono, dan Sapardi. 2006. Penelitian Tindakan Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.
Budiningsih Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Hosnan. 2016. Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21 Kunci Sukses Implementasi Kurikulum 2013. Bogor: Ghalia Indonesia.
Johnson,Elaine B. 2014. CTL Contextual Teaching and Learning Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna.
Bandung: Kaifa
Mulyasa. 2007. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
_______. 2011. Praktik Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosda Karya
___________. 2012. Penelitian Tindakan Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya.
_______. 2012. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Mulyono. 2009. Manajemen Administrasi dan Organisasi Pendidikan.
Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
____________. 2016. Penelitian Tindakan Kepengawasan dan Tindakan Sekolah. Klaten Jawa Tengah:
Widyapustaka.
Prasojo, Lantip Diat dan Sudiyono. (2011).
Supervisi Pendidikan. Yogyakarta:
Gava Media.
Purwanto, Ngalim. 2016. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Rusman. 2013. Model-Model Pembelajaran.
Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Sahertian, Piet A. 2014. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta Sardiman. 2011. Interaksi dan Motivasi
Belajar Mengajar. Jakarta:
RajaGrafindo Persada
Shoimin, Aris. 2014. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013.
Yogyakarta:Ar-Ruzz Media.
Suryosubroto. 2002. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Usman, Moh. Uzer. 2009. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya
Warso, Agus Wasisto Dwi Doso. 2016.
Penelitian Tindakan Kelas.
Yogyakarta : Graha Cendekia.
PENINGKATAN KOMPETENSI GURU DALAM
MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013 MELALUI SUPERVISI KLINIS SATU DUA
Suharman
SD Negeri Bekelan Lendah Kulon Progo E-mail: [email protected]
Abstrak: Penelitian tindakan sekolah (PTS) ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran Kurikulum 2013 di SD Negeri Bekelan melalui Supervisi Klinis Satu Dua. Penelitian ini dilaksanakan sebanyak dua siklus, setiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Hasil penelitian menunjukkan, Supervisi Klinis Satu Dua meningkatkan kompetensi guru kelas I dan IV dalam menyusun RPP dan melaksanakan pembelajaran Kurikulum 2013. Peningkatan kompetensi menyusun RPP guru kelas I pada siklus I sebesar 21 dari predikat kurang menjadi baik. Pada siklus II sebesar 24, dari predikat cukup menjadi amat baik. Guru kelas IV siklus I sebesar 24, dari predikat cukup menjadi amat baik dan pada siklus II sebesar 26, dari predikat cukup menjadi amat baik.
Kompetensi melaksanakan pembelajaran guru kelas I meningkat 19 poin dari 77 menjadi 91 dari predikat baik menjadi amat baik, dan guru kelas IV meningkat 12 poin dari 79 menjadi 91dari predikat baik menjadi amat baik.
Kata kunci: kompetensi guru, pembelajaran Kurikulum 2013, dan supervisi klinis satu dua
Abstract: This school action research (PTS) aims to find out Teacher Competency Improvement in carrying out learning in the 2013 Curriculum at Bekelan State Elementary School through Clinical Supervision One Two. This study uses an action research model developed by Kemmis and Tagart, carried out in two cycles, each cycle consisting of two meetings. The first meeting reviewed the instrument for evaluating lesson plans, compiling lesson plans, reviewing and revising, and the second meeting observing learning. Each meeting consists of four stages:
planning, implementing actions, observing, and reflecting. Clinical Supervision One Two is carried out by mentoring teachers to prepare lesson plans using the 2013 Curriculum RPP assessment instruments and learning assistance using the 2013 Curriculum learning assessment instruments. The results showed, Clinical Supervision One Two improved the competence of class I and IV teachers in preparing RPP and implementing learning in the 2013 Curriculum. Increased competency in preparing RPP because the teacher had understood the RPP assessment instrument, so the teacher wrote all aspects according to the instrument.
Increased competency in compiling RPP for class I teachers in cycle I by 21 from the predicate not good enough and in cycle II by 24, from the predicate enough to be very good and grade IV teachers for cycle I by 24, from the predicate enough to be very good and in the second cycle by 26, from the predicate enough to be very good. The competence in implementing learning for class I teachers increased from 19 from 77 to 91 from good to very good, and grade IV to 12 from 79 to 91 from good to very good.
Keywords: teacher competency, Learning Curriculum 2013, and clinical supervision one or two
PENDAHULUAN
Dalam menjalankan tugas profesionalnya, guru dituntut meningkatkan kompetensinya. Guru sekarang sangat berbeda dengan guru era tahun sembilan puluhan. Sekarang guru dituntut mahir Teknologi Infomasi dan Komputer (TIK) dalam perencanaan, pelaksanaan, administrasi, penilaian, dan laporan hasil pembelajaran. Dalam melaksanakan Kurikulum 2013 (K13), penyusunan administrasi, pelaksanaan, analisis penilaian, dan laporan pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan TIK. Bahan ajar buku guru dan buku siswa juga tersedia dalam bentuk buku elektronik (e-book).
Kelas I dan IV SD Negeri Bekelan Tahun Pelajaran 2017/2018 melaksanakan K13 untuk pertama kali bersama-sama 16 SD Negeri se-Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Dasar (UPTD PAUD dan DIKDAS) Kecamatan Lendah. Oleh karenanya guru kelas I dan IV menemui banyak kesulitan.
Agar pelaksanaan K13 di SD Negeri Bekelan berjalan lancar guru, perlu diupayakan solusi.
Pada bulan Juni 2017 guru kelas dan Kepala Sekolah se-UPTD PAUD dan DIKDAS Kecamatan Lendah mendapatkan pendidikan dan latihan (diklat) K13 yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Kulon Progo. Bulan Agustus–
Oktober 2017, mendapatkan pendampingan dari Pengawas Sekolah Dasar dan Instruktur Kabupaten (IK) yang dikelola oleh Lembaga
Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Yogyakarta.
Karena merupakan pengalaman baru, diklat dan pendampingan K13 tersebut belum dapat memecahkan kesulitan guru secara optimal. Kesulitan penyusunan RPP disebabkan karena guru belum familiar dengan buku siswa (BS) dan buku guru (BG) yang berupa file dalam komputer (soft copy e-book) untuk diolah menjadi RPP.
Distribusi buku cetak ke sekolah juga belum lancar.
Untuk membantu mengatasi kesulitan tersebut, guru berhak mendapatkan bantuan dari kepala sekolah dalam bentuk supervisi klinis. kepala sekolah berkewajiban memberikan bantuan kepada guru untuk meningkatkan kompetensi dan memberikan solusi-solusi kesulitan yang dialami guru.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, dirumuskan rumusan masalah:
“Bagaimana Peningkatan Kompetensi Guru Melaksanakan Pembelajaran Kurikulum 2013 di SD Negeri Bekelan Melalui Supervisi Klinis Satu Dua?” Penelitian tindakan sekolah (PTS) ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kompetensi guru kelas I dan IV dalam melaksanakan pembelajaran Kurikulum 2013 di SD Negeri Bekelan melalui Supervisi Klinis Satu Dua.
Menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pada pasal 10 ayat (1) menyatakan bahwa: “Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi
kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.” Peningkatan profesional guru bisa dilakukan melalui pendidikan dan latihan (diklat), bimbingan teknis (bimtek), workshop, Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), in House Training Guru (IHG), pendampingan, supervisi, dan kegiatan guru lainnya.
Pengertian kurikulum menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Pengertian kurikulum menurut Kemendikbud (2014:5-6), Kurikulum 2013 merupakan satu dari sekian unsur yang memberikan kontribusi signifikan untuk mewujudkan proses berkembangnya kualitas potensi peserta didik di masa depan.
Pengembangan Kurikulum 2013 merupakan langkah lanjutan pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang telah dirintis pada tahun 2004 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 yang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu. Hal ini mengandung makna bahwa kurikulum 2013 pada hakekatnya dikembangkan berdasarkan atas hasil evaluasi pelaksanaan KBK dan KTSP tersebut.
Pengertian K13 menurut Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 57 Tahun 2014 tentang K13 Sekolah Dasar/
Madrasah Ibtidaiyah pada Pasal 1 adalah kurikulum pada sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah yang telah dilaksanakan sejak tahun ajaran 2013/2014. K13 yang terdiri atas: Kerangka Dasar Kurikulum, Struktur Kurikulum, Silabus, dan Pedoman Mata Pelajaran dan Pembelajaran Tematik Terpadu.
Kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan kompentensi lahir sebagai jawaban terhadap berbagai kritikan terhadap kurikulum 2006, serta sesuai dengan perkembangan kebutuhan dan dunia kerja. Kurikulum 2013 merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat bangsa dalam penguasaan teknologi seperti yang digariskan dalam haluan negara.
Pengembangan Kurikulum 2013 didasari oleh pemikiran tentang tantangan masa depan, persepsi masyarakat pengetahuan dan pedagogi, kompentensi masa depan, serta fenomena negatif yang mengemuka.
Menurut Mulyasa dalam Ibrahim K13 adalah langkah lanjutan pengembangan kurikulum berbasis kompentensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dan KTSP 2006 yang mencakup kompentensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu. Berdasar pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa K13 adalah kurikulum pada sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah yang telah dilaksanakan sejak tahun ajaran 2013/2014, berbasis karakter dan kompentensi yang mencakup kompentensi sikap, pengetahuan serta keterampilan secara terpadu merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai
keunggulan masyarakat bangsa dalam penguasaan teknologi.
Pengertian supervisi klinis menurut Cogan dalam Suprijadi (2013:8) adalah kegiatan serial yang terus menerus oleh supervisor dimana supervisor membantu guru dalam mengembangkan strategi pembelajaran agar lebih sukses dalam melaksa nakan tugas mengajarnya. Pengertian supervisi klinis menurut Kemendikbud (2016:5) adalah supervisi yang dilakukan berdasarkan adanya keluhan atau masalah dari guru yang disampaikan kepada supervisor. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa supervisi klinis adalah kegiatan serial yang terus menerus dilakukan oleh supervisor untuk membantu guru dalam mengembangkan strategi pembelajaran agar lebih sukses dalam melaksa nakan tugas mengajarnya, berdasarkan adanya keluhan atau masalah dari guru yang disampaikan kepada supervisor.
Berdasarkan uraian di atas, supervisi klinis dilaksanakan oleh 1 (satu) orang kepala sekolah dan 2 (dua) orang guru kelas yang bersatu dalam tim, sehingga disebut Supervisi Klinis Satu Dua bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran K13.
Supervisi Klinis Satu Dua diawali dengan kegiatan menelaah instrumen penilaian RPP K13 dan instrumen penilaian pembelajaran K13, menyusun RPP sesuai dengan instrumen, menilai RPP menggunakan instumen, dan melakukan revisi RPP. Hasil revisi RPP yang telah disesuaikan dengan instrumen digunakan untuk pembelajaran
dan diamati menggunakan instrumen pengamatan pembelajaran.
Hasil pengamatan pembelajaran direfleksi dan digunakan sebagai dasar perbaikan untuk melaksanakan pembelajaran pada siklus berikutnya. Kegiatan tersebut dilakukan oleh guru kelas I dan guru kelas IV sebagai subjek penelitian dengan bimbingan supervisor secara sendiri- sendiri. Penyusunan RPP dan pelaksanaan pembelajaran pada setiap siklus dilaksanakan pada KD yang berbeda, berkelanjutan sesuai dengan program semester pada setiap kelas.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di kelas I dan IV SD Negeri Bekelan UPTD PAUD dan DIKDAS Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai bulan September sampai bulan November 2017. Subjek penelitian yaitu Sukasmi, S. Pd. guru kelas I dan Nuryani, S. Pd. guru kelas IV. Objek penelitian yaitu kompetensi guru dalam melaksanakan Kurikulum 2013.
Penelitian ini dilaksanakan menggunakan model penelitian tindakan sekolah (PTS). Dasar pertimbangannya karena mudah diimplementasikan sesuai dengan kondisi sekolah, meningkatkan kompetensi guru, tidak mengganggu guru dalam melaksanakan tugas pokoknya, tidak menganggu kegiatan belajar-mengajar, serta hasilnya dapat dimanfaatkan oleh guru dan siswa.
Rencana tindakan sebanyak dua siklus, setiap siklus terdiri dua pertemuan
pada setiap kelas. Pertemuan pertama menelaah instrumen penilaian RPP Kurikulum 2013, menelaah RPP yang telah disusun guru, dilanjutkan mereview dan merevisi RPP. Hasil revisi RPP pada setiap kelas digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran. Pertemuan kedua yaitu telaah instrumen pelaksanaan pembelajaran dilanjutkan dengan melaksanakan pengamatan pembelajaran di dalam kelas.
Gambaran kerangka berpikir penelitian seperti pada Gambar 1.
Penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan. Menurut Kemmis
dan Tagart dalam Suharsimi (2006), penelitian tindakan meliputi tahapan- tahapan: 1) perencanaan tindakan (planing);
2) pelaksanaan tindakan (acting); 3) pengamatan (observing); 4) analisis tindakan dan refleksi (reflecting), seperti dapat dilihat pada Gambar 2.
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan dua buah instrumen yaitu instrumen penilaian RPP dan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran K13 dengan kisi-kisi sebagaimana dapat dicermati pada Tabel 1.
Data kompetensi guru menyusun RPP diambil dari kisi-kisi sesuai insrumen pada Tabel 1 dengan skor setiap butir instrumen 1. Nilai capaian dihitung dari jumlah skor instrumen yang diperoleh dibagi jumlah skor maksimum kali 100%.
Rentang skor penilaian dan predikat seperti pada Tabel 2.
Data kompetensi guru melaksanakan pembelajaran K13 diambil menggunakan lembar penilaian berdasar kisi-kisi instrumen pada Tabel 3.
Data kompetensi guru melaksanakan pembelajaran diambil menggunakan lembar penilaian sesuai dengan kisi-kisi sesuai instrumen pada Tabel 3 dengan skor setiap butir instrumen 1. Nilai capaian dihitung dari jumlah skor instrumen yang diperoleh dibagi jumlah skor maksimum kali 100%.
Rentang skor penilaian dan predikat seperti pada Tabel 4.
Prosedur pelaksanaan tindakan penelitian dilakukan melalui supervisi klinis dengan tahapan: 1) memberikan pendampingan dalam menelaah dan memahami instrumen penilaian RPP; 2) menganalisis RPP menggunakan instrumen;
3) mereview dan merevisi RPP sesuai instrumen; 4) memberikan pendampingan dalam menelaah dan memahami instrumen penilaian pembelajaran; 5) mengamati
pelaksanaan pembelajaran berpedoman pada RPP hasil revisi dengan menggunakan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran; dan 5) melakukan analisis dan refleksi.
Kegiatan observasi dilakukan pada saat guru menilai RPP, me-review dan merevisi RPP, serta dalam melaksanakan pembelajaran. Analisis dan refleksi dilakukan dengan menilai RPP menggunakan instrumen penilaian RPP, instrumen pelaksanaan pembelajaran serta catatan- catatan pada saat observer mengamati kegiatan yang dilakukan guru. Data ini berguna untuk mengetahui peningkatan kompetensi guru baik dalam menyusun RPP maupun melaksanakan pembelajaran. Data setiap pertemuan dan setiap siklus digunakan untuk menentukan tindakan pada pertemuan dan siklus berikutnya.
Indikator keberhasilan penelitian dibatasi dengan jika setiap guru telah memperolehan skor pada instrumen penilaian RPP dengan predikat amat baik pada rentang nilai antara 91-100 dan skor pada instrumen pelaksanaan pembelajaran mencapai kriteria
amat baik dengan skor antara 81-100 oleh setiap subjek penelitian. Jika dalam satu siklus skor tersebut belum tercapai, maka tindakan dilanjutkan pada siklus berikutnya sampai indikator keberhasilan dapat tercapai,
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Kegiatan penelitian ini dilaksanakan sebanyak 2 (dua) siklus, setiap siklus sebanyak 2 (dua) kali pertemuan. Pada akhir setiap pertemuan dilakukan analisis skor penilaian dan catatan observer serta refleksi untuk mengetahui peningkatan kompetensi guru serta menentukan tindakan pada pertemuan dan siklus berikutnya. Hasil tindakan pada setiap siklus dan pertemuan dapat dicermati pada Tabel 5.
Kegiatan siklus I pertemuan 1 yaitu dilakukan telaah dan pencermatan instrumen penilaian RPP K13. Telaah ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai maksud, isi instrumen, dan kaidah yang diperlukan dalam menyusun RPP sehingga dapat meningkatkan kompetensi
guru menyusun RPP. Semua aspek dalam instrumen tersebut diaplikasikan dalam penyusunan RPP.
Hasil penyusunan RPP kedua guru tersebut kemudian dilakukan review dan revisi dengan menggunakan instrumen penilaian RPP. Komponen yang belum sesuai dengan instrumen disempurnakan lagi oleh guru sehingga menghasilkan RPP yang sesuai dengan instrumen, selanjutnya akan digunakan untuk melaksanakan pembelajaran. Perolehan nilai RPP sebelum dilaksanakan revisi seperti pada Tabel 6.
Berdasar hasil penilaian RPP prarevisi pada Tabel 6 berarti keterampilan guru tergolong rendah dengan predikat kurang bagi guru kelas I dan cukup bagi guru kelas IV. Oleh karenanya diberikan supervisi klinis kepada guru dalam menyusun RPP dengan menggunakan instrumen penilaian RPP K13. Setelah memahami instrumen, guru merevisi kembali RPP yang telah dinilai tersebut. Hasil penilaian RPP pasca revisi disajikan pada Tabel 7.
Perkembangan perolehan nilai kompetensi menyusun RPP prarevisi dan pasca revisi pada siklus I dan siklus II guru kelas I dan guru kelas IV dapat disajikan dengan grafik seperti pada Gambar 3.
Berdasarkan Tabel 7 dan Gambar 3, berarti terdapat peningkatan kompetensi guru dalam menyusun RPP dari prarevisi sampai pada pasca revisi, baik pada siklus I dan siklus II. Kenaikan nilai yang diperoleh guru kelas I pada siklus I dari 68 menjadi 89 sebesar 21 atau 21% dari predikat kurang menjadi baik dan pada siklus II dari 66 menjadi 91 sebesar 25 atau 25%, dari predikat kurang menjadi amat baik. Kenaikan nilai yang diperoleh guru kelas IV pada siklus I dari 70 menjadi 94 sebesar 24 atau 24%, dari predikat cukup menjadi amat baik dan pada siklus II dari 70 menjadi 96 sebesar 26 atau 26%, dari predikat cukup menjadi amat baik.
RPP hasil revisi yang telah memenuhi instrumen penilaian dengan predikat amat baik tersebut digunakan guru dalam
pembelajaran dan akan dilakukan penilaian pelaksanaan pembelajaran menggunakan instrumen penilaian pembelajaran K13, dengan cara dilakukan supervisi klinis mengamati pembelajaran. Perolehan nilai pengamatan pembelajaran pada siklus I dan II seperti pada Tabel 8.
Berdasarkan Tabel 8 dan Gambar 4, terdapat kenaikan kompetensi mengajar.
Kenaikan nilai kompetensi mengajar guru kelas I sebesar 14 dari 77 pada siklus I menjadi 91 pada siklus II, dari predikat baik menjadi amat baik. Peningkatan kompetensi mengajar guru kelas IV sebesar 12 dari 79 menjadi 91 dari predikat baik menjadi amat baik. Dengan peningkatan tersebut, penelitian dinyatakan berhasil dan selesai pada siklus II.
SIMPULAN
Dari penelitian di atas dapat disimpulkan: Supervisi Klinis Satu Dua meningkatkan kompetensi guru menyusun RPP dan melaksanakan pembelajaran K13 bagi guru kelas I dan IV SD Negeri Bekelan UPTD PAUD dan DIKDAS Kecamatan Lendah. Supervisi klinis dilakukan dengan membimbing guru menelaah instrumen penilaian RPP K13, menyusun RPP, mereview dan merivisi berdasarkan instrumen penilaian. Hasil revisi RPP yang telah sesuai dengan predikat baik atau amat baik digunakan untuk melaksanakan pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran K13 diamati menggunakan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran K13.
Peningkatan kompetensi menyusun RPP guru kelas I dari predikat cukup menjadi amat baik dan guru kelas IV dari predikat cukup menjadi amat baik. Peningkatan kompetensi mengajar baik guru kelas I dan kelas IV dari baik menjadi amat baik.
DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, Suharsimi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Departemen Pendidikan Nasional. Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003.
Tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas). Bandung: Citra Umbaran.
---. 2005. Undang- Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Bandung:
Citra Umbaran.
Ibrahim. 2017. http://alaksamana.blogspot.
com/2017/02/pengertian-kurikulum-2013.
html. di upload tanggal 19 Feb 2017, diakses pada tanggal 23 September 2017.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
2014. Kurikulum 2013 untuk Sekolah Dasar. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar.
---. 2014. Supervisi Akademik Implementasi K13. Jakarta.
---. 2014. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 57 Tahun 2014 Tentang K13 Sekolah Dasar/
Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta.
---. 2016. Panduan Supervisi Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar.
Suprijadi, Mochammad. 2013. Supervisi Klinis dengan Rekaman Video Untuk Meningkatkan Kemampuan Guru Dalam Pembelajaran Tematik Oleh:
Pengawas TK/SD Dinas Pendidikan Kabupaten Jember SD se Gugus 01 Kecamatan Patrang Semester Itahun 2008/2009. E-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan Pendidikan Dasar (Volume 3 Tahun 2013). http://pasca.
undiksha.ac.id/e-journal/index.php/jurnal_
pendas /article/viewFile/523/315.%2009%
20April%202015. Diunduh tanggal 1 Oktober 2017.
INTEGRASI PjBL DALAM STEM EDUCATION
UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF ILMIAH DAN KRITIS ILMIAH
Sri Lestari
SMA Negeri 1 Yogyakarta E-mail: [email protected]
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perkembangan ketrampilan berpikir kreatif ilmiah dan kritis ilmiah dengan pembelajaran PjBL berbasis STEM. Jenis penelitian yaitu pre-experimental dengan desain penelitian one group pretest posttest design dilakukan pada sampel berjumlah 32 siswa kelas X MIPA 6 di SMA Negeri 1 Yogyakarta. Untuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kreatif ilmiah dan kritis ilmiah setelah pembelajaran PjBL berbasis STEM, digunakan analisis data hasil pretest dan posttest menggunakan normalized gain. Hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan kemampuan berpikir kreatif ilmiah (0,69) dan berpikir kritis ilmiah (0,54) setelah diterapkan pembelajaran PjBL berbasis STEM pada kategori sedang. Dari hasil angket tanggapan siswa terhadap penerapan PjBL berbasis STEM secara keseluruhan adalah sebesar 78,21%. Siswa menunjukkan respon positif terhadap penerapan PjBL berbasis STEM dalam pembelajaran.
Kata Kunci: pembelajaran PjBL berbasis STEM, keterampilan berpikir kreatif ilmiah, keterampilan berpikir kritis ilmiah.
Abstract: This research aims to identify the development of scientific creative thinking skills and scientific critical thinking skills with STEM-based PjBL learning. This type of pre-experimental research with one group pretest post test design research was conducted on a sample of 32 students of Class X MIPA 6 in 1 Yogyakarta SHS. To find out the increase in the ability in scientific creative thinking skills and scientific critical thinking after STJ-based PjBL learning, the data analysis of the pretest and post test results using normalized gain was used. The results showed an increase in the ability to think scientifically creative (0.69) and critical thinking scientifically (0.54) after applying STEM-based PjBL learning in the medium category. The results of student responses to the implementation of STEM-based PjBL as a whole, 78.21% of students showed a positive response to the implementation of STEM-based PjBL in learning.
Keywords: STEM Based PBL Learning, Scientific creative thinking skills, scientific critical thinking skills.
PENDAHULUAN
Pada abad 21 ini, sains dan teknologi menjadi landasan yang penting bagi kemajuan suatu bangsa. Sikap krisis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif menjadi kecakapan yang utama dalam kehidupan di abad 21 ini. Pembelajaran di sekolah harus dapat melatih peserta didik agar dapat
siap menjalani kehidupan di masa yang akan datang. Pembelajaran saat ini perlu mengikuti perkembangan zaman, salah satunya dengan mengintegrasikan Science, Technology, Engineering, dan Mathematics (STEM). Keterkaitan antara sains dan teknologi maupun ilmu lain tidak dapat dipisahkan dalam pembelajaran sains. STEM
merupakan displin ilmu yang berkaitan erat satu sama lain. Sains memerlukan matematika sebagai alat dalam mengolah data, sedangkan teknologi dan teknik merupakan aplikasi dari sains. Pendekatan STEM dalam pembelajaran diharapkan dapat menghasilkan pembelajaran yang bermakna bagi siswa melalui integrasi pengetahuan, konsep, dan keterampilan secara sistematis.
Beberapa manfaat dari pendekatan STEM membuat siswa mampu memecahkan masalah menjadi lebih baik, inovator, inventors, mandiri, pemikir logis, dan literasi teknologi (Morrison dalam Stohlmann, Moore, & Roehrig, 2012 : 29). Pembelajaran sains dengan pendekatan STEM melatih peserta didik dalam berpikir kritis dan kreatif, berkolaborasi dan berkomunikasi.
Oleh karena itu pembelajaran dengan pendekatan STEM mendukung tuntutan pendidikan dalam menghadapi abad 21 yang juga merupakan target kompetensi di dalam kurikulum 2013.
Berdasarkan Kurikulum 2013, kompetensi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah pada mata pelajaran fisika saat ini adalah siswa dapat mengambil keputusan dalam menyelesaikan masalah pada kehidupan dengan cara yang telah dikenal manusia melalui pertimbangan ilmiah yang menghargai peran fisika dan mengetahui dampak teknologi di masa depan untuk dirinya dan lingkungan. Maka sangat diperlukan proses pembelajaran dalam kelas yang mendukung pembentukan pola pikir siswa dalam menangani masalah dengan pertimbangan ilmiah. Kemampuan
pemecahan masalah sangat berkaitan dengan kemampuan berpikir kreatif dan kritis. Salah satu prinsip pembelajaran yaitu dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah. Dengan demikian, keterampilan dalam proses berpikirpun harus sudah mulai ilmiah sehingga muncul keterampilan berpikir kreatif ilmiah dan berpikir kritis ilmiah.
Dalam kreativitas ilmiah harus menggabungkan aspek kreativitas dan sains, sehingga dalam mengukur kemampuannya diperlukan tes khusus yang berbeda dengan kreativitas biasa. Menurut Hu dan Adey (2002: 26) pada jurnal A Science Creativity Test for Secondary Student menyebutkan tiga dimensi yang perlu dimunculkan sebagai alat ukur dalam kreativitas ilmiah yaitu produk, proses, dan sifat. Dimensi produk terdiri dari teknis, pengetahuan ilmiah, fenomena ilmiah, dan masalah ilmiah. Dimensi aspek proses terdiri dari pemikiran dan imajinasi.
Dimensi sifat terdiri dari fluency, flexibility, dan originality.
Sedangkan keterampilan berpikir kritis yang diharapkan yaitu siswa berusaha untuk memberikan pemikiran yang masuk akal dalam memahami dan membuat pilihan yang rumit, serta berusaha menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya secara mandiri, menyusun, mengungkapkan, menganalisis dan menyelesaikan masalah.
Indikator dalam berpikir kritis berdasarkan Assessment of Critical Thinking Ability (ACTA) dilihat dari 3 kemampuan berpikir kritis yaitu Critical Thinking Ability 1
(mengintegrasikan pengetahuan yang saling bertentangan ke dalam kesimpulan yang terpadu), Critical Thinking Ability 2 (merancang percobaan untuk menyelesaikan ambiguitas dalam pengetahuan baru), dan Critical Thinking Ability 3 atau memperkirakan interpretasi lain dari pengetahuan tertentu (Brian White, 2011:
58).
Salah satu model pembelajaran sains yang dapat membangun keterampilan berpikir kritis dan kreatif pada siswa pada kurikulum 2013 yaitu Project Based Learning (PjBL). Pembelajaran ini berbasis proyek yang merupakan model pembelajaran berpusat pada siswa dan memberikan pengalaman belajar bermakna bagi siswa. Pengalaman belajar siswa maupun perolehan konsep dibangun berdasarkan produk yang dihasilkan dalam proses pembelajaran berbasis proyek.
Pembelajaran berbasis proyek lebih sesuai dalam pembelajaran interdisipliner karena secara alami melibatkan banyak keterampilan akademik yang berbeda, seperti membaca, menulis, dan matematika serta sesuai dalam membangun pemahaman konseptual melalui asimilasi mata pelajaran yang berbeda (Capraro, Capraro, Morgan,
& Slough, 2013:52), sehingga PjBL diharapkan dapat membangun keterampilan berpikir kritis ilmiah dan kreatif ilmiah pada siswa.
Hasil penelitian Tseng et al., (2013:87) mengungkapkan bahwa PjBL terintegrasi STEM dapat meningkatkan minat belajar siswa, pembelajaran
menjadi lebih bermakna, membantu siswa dalam memecahkan masalah dalam kehidupan nyata, dan menunjang karir masa depan. Melalui pembelajaran STEM, siswa memiliki keterampilan berpikir dan kreatif sehingga dapat dijadikan bekal untuk hidup bermasyarakat dan memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari yang terkait dengan bidang ilmu STEM (Mayasari et al., 2014:376). Rahmawati, (2018:25) mengungkapkan bahwa terdapat peningkatan keterampilan berpikir kreatif ilmiah setelah diterapkan pembelajaran berbasis proyek pada kategori sedang.
Dari paparan di atas dapat dilakukan sebuah penelitian tentang “Integrasi PjBL dalam STEM EDUCATION untuk meningkatkan keterampilan berpikir kreatif ilmiah dan kritis ilmiah”
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimen dengan desain One Group Pretest and Posttest dengan perlakuan yang diberikan yaitu pembelajaran PjBL berbasis STEM dengan membuat prototype roket air yang memvariasikan bentuk/model/ukuran.
Populasi dalam penelitian ini yaitu peserta didik kelas X MIPA SMA Negeri 1 Yogyakarta, yang terdiri dari 280 peserta didik, sedangkan sampelnya yaitu kelas X-MIPA 6 dengan jumlah 32 peserta didik.
Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2018/2019.
Instrumen yang digunakan pada
penelitian berupa soal uraian untuk menguji keterampilan berpikir kreatif ilmiah dan kritis ilmiah siswa sebelum dan setelah dilakukannya pembelajaran, serta lembar observasi untuk mengetahui keterlaksanaan dan tanggapan siswa terhadap pembelajaran yang diterapkan. Instrumen penelitian divalidasi oleh dua guru Fisika SMA Negeri 1 Yogyakarta dengan hasil validasi bahwa instrumen yang digunakan valid.
Prosedur penelitian meliputi tahap perencanaan, tahap pelaksanaan dan tahap akhir. Tahap perencanaan yaitu pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Siswa (LKS) PjBL STEM, soal. Tahap pelaksanaan dengan memberikan perlakuan pembelajaran PjBL berbasis STEM. Sedangkan tahap akhir dengan melakukan analisis data, pembahasan, dan menarik kesimpulan penelitian.
Teknik pengolahan data dilakukan dengan pemberian skor dahulu untuk setiap soal uraian pada setiap aspek kreatif ilmiah dan kritis ilmiah. Pemberian skor kreatif ilmiah disesuaikan dengan rubrik yang mengacu pada instrumen tes kreativitas ilmiah yang ditulis oleh Hu dan Adey sebagaimana dapat dicermati pada Tabel 1.
Pemberian skor kritis ilmiah disesuaikan dengan rubrik yang mengacu pada kriteria ACTA (Assesmen of Critical Thingking Ability) sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 2.
Peningkatan keterampilan berpikir kreatif ilmiah dan kritis ilmiah diperoleh dengan mengolah skor rata-rata pretest dan skor rata-rata posttest siswa dengan mengunakan normalized gain dengan kriteria sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 3. Nilai normalized gain dihitung
dengan menggunakan persamaan
(1) gain normal < g> sebagai berikut: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Peningkatan Keterampilan Berpikir Ilmiah Siswa
Data hasil tes keterampilan berpikir kreatif peserta didik dihitung nilai normalized gain-nya. Hasil perhitungan nilai rata-rata dan normalized gain untuk keterampilan berpikir kreatif ilmiah siswa seperti pada Tabel 4.
Berdasarkan Tabel 4, jika diperhatikan terlihat hasil tes keterampilan berpikir kreatif ilmiah memiliki rata-rata pretest sebesar 4,04 dan nilai rata-rata posttest sebesar 7,25. Hal ini menunjukkan ada peningkatan yang signifikan pada keterampilan berpikir kreatif dengan skor gain 3,20 dan skor gain ternormalisasi sebesar 0,65 dengan kategori sedang.
Kemampuan peserta didik dalam berpikir kreatif ilmiah ini ditinjau dari aspek berpikir kreatif ilmiah dapat dilihat dalam pada Tabel 5.
Perkembangan keterampilan berpikir kreatif ilmiah peserta didik aspek kelancaran memiliki skor nilai kenaikan paling signifikan dengan skor N-Gain (<g>) pada 0,89 dengan kategori tinggi. Tetapi di sisi lain, peningkatan terendah terjadi pada aspek Fluency-Science Knowledge (0,40). Hal ini tampak dari hasil posttest, sebagian besar siswa masih belum bisa menghubungkan desain yang mereka buat dengan konsep syarat materi yang dipelajari. Pada aspek
flexibility dan originality, keduanya mengalami peningkatan pada kategori sedang. Hal ini dikarenakan saat dilakukan pretest, banyak siswa yang membiarkan jawaban dari pertanyaan yang diberikan kosong, atau tidak jelas sehingga tidak terbayang mengenai penyelesaian kasus pada momentum dan tumbukan, namun setelah dilakukan treatment pembelajaran dengan dilatihkan menggunakan LKS yang diberikan, siswa dapat memberikan jawaban alternatif. Pada aspek originality saat diberikan pretest banyak siswa yang memberikan jawaban desain yang sama dengan contoh gambar yang berada pada soal, namun tidak memberhatikan detail bentuk dan ukuran . Namun setelah dilakukan pembelajaran menggunakan pembelajaaran berbasis proyek, jawaban yang diberikan pada posttest sudah memenuhi kategori desain yang diberikan sejenis dengan desain yang ada pada soal namun diberikan ada beberapa detail yang belum sesuai dengan ketentuan.
Peningkatan Keterampilan Berpikir Kritis Ilmiah Siswa
Hasil perhitungan nilai rata-rata dan normalized gain untuk keterampilan berpikir kritis ilmiah siswa seperti pada Tabel 6.
Berdasarkan Tabel 6, terlihat hasil tes keterampilan berpikir kritis ilmiah memiliki rata-rata pretest sebesar 1,34 dan nilai rata-rata posttest sebesar 2,78, hal ini menunjukkan ada peningkatan yang signifikan pada keterampilan berpikir kreatif dengan skor gain 1,43 dan skor gain ternormalisasi sebesar 0,54 dengan kategori sedang.
Kemampuan peserta didik dalam berpikir kritis ilmiah ini ditinjau dari aspek berpikir kreatif ilmiah dapat dilihat dalam pada Tabel 7.
Dari hasil tes keterampilan berpikir kritis di peroleh bahwa pada aspek critical ability 1 yaitu mengintegrasikan pengetahuan yang saling bertentangan ke dalam kesimpulan yang terpadu mengalami peningkatan sebesar 0,68 dengan kategori sedang. Sebagian besar siswa sudah dapat menjawab dengan benar dan menyebutkan data dan juga sudah ada yang mampu
menjelaskan tentang konsep materi yang di pelajari yaitu Momentum Impuls dan Tumbukan.
Pada aspek critical ability 2 yaitu kemampuan merancang percobaan untuk menyelesaikan ambiguitas dalam pengetahuan baru, berdasarkan Tabel 7 terdapat peningkatan hasil pembelajaran berada pada kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa pada kasus ini dapat menjelaskan dengan mendesain sebuah studi khusus untuk meyakinkan pendapat mereka adalah benar, dan sudah ada yang mampu untuk menggunakan analogi dalam pembuktian argumen mereka.
Dan aspek critical ability 3 yaitu kemampuan memperkirakan interpretasi lain dari pengetahuan tertentu mengalami peningkatan 0,48 yang dikategorikan sedang setelah melakukan treatment . Pada hasil posttest yang memiliki rata-rata 2,59 menunjukkan bahwa siswa telah mampu menghubungkan konsep-konsep dengan desain yang mereka buat tetapi belum memperhitungkan adanya kemungkinan interpretasi lain.