• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENYIMPANAN AYAM BROILER

MATERI DAN METODE

Lokasi dan Waktu

Penelitian ini dilakukan pada bulan September sampai bulan November 2011, bertempat di Laboratorium Industri Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Materi Bahan

Bahan penelitian yang digunakan dalam pembuatan ransum ayam broiler adalah dedak padi, jagung, tepung ikan, bungkil kedelai, MBM, CPO, DL- Methionin, CaCO3, L-lysin, tepung garut, tepung ubi jalar, onggok, dan aquades.

Alat

Peralatan yang digunakan untuk produksi pakan antara lain adalah mesin giling (grinder), mesin pellet jenis farm feed pelleter. Peralatan untuk penyimpanan adalah plastik berkapasitas 1 kg, seal. Alat yang digunakan untuk analisa adalah timbangan, gelas ukur 100 ml, pengaduk aquades, tisu, bak plastik, corong, karton manila, mistar, Vibrator Ball Mill, spidol, kertas label, kuas, jangka sorong, gelas ukur 100 ml, timbangan digital, hygrometer dan satu set alat pengukur sudut tumpukan.

Rancangan

Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan 2 faktor (faktor A dan faktor B) dan 3 ulangan, yang terdiri dari :

Faktor A : A1 = Pellet tanpa perekat (kontrol) A2 = Pellet dengan perekat onggok

A3 = Pellet dengan perekat tepung ubi jalar A4 = Pellet dengan perekat tepung garut

13

Faktor B : 0 = Lama penyimpanan 0 minggu 2 = Lama penyimpanan 2 minggu 4 = Lama penyimpanan 4 minggu 6 = Lama penyimpanan 6 minggu

Dalam metode analisis model matematik yang digunakan adalah sebagai berikut :

Yijk = μ + αi + βj+(αβ)ij + ijk Dimana :

Yijk = Nilai pengamatan pada faktor A taraf ke-I faktor B taraf ke-j dan ulangan ke k

µ = Nilai rataan umum

αi, = Pengaruh aditif taraf ke-i dari faktor A βj = Pengaruh aditif taraf ke-j dari faktor B (αβ)ij = Pengaruh interaksi dari faktor A dan faktor B

ijk = pengaruh acak yang menyebar normal (0, σ2).

Data yang terkumpul di analisis dengan sidik ragam ANOVA dan jika berbeda nyata dilanjutkan dengan uji kontras orthogonal (Steel dan Torrie, 1991).

Metode Pembuatan Formula Ransum

Ransum ayam broiler starter mengandung protein kasar 22% dan energi metabolis 3050 kkal/kg ransum (Leeson dan Summers, 2005). Formulasi ransum dibuat menggunakan metode trial and error (coba-coba). Kandungan nutrien berdasarkan perhitungan dan formulasi ransum broiler starter dapat dilihat pada Tabel 2.

14

Tabel 2. Susunan dan Kandungan Nutrien Ransum Penelitian

Bahan Komposisi (%) Harga (Rp)

Jagung 39,4 3.000 Bungkil Kedelai 27,5 5.400 Dedak Padi 18,5 1.500 Tepung Ikan 5 7.500 MBM 5 7.000 CPO 3,5 4.500 CaCO3 0,5 750 L-Lysin 0,4 47.000 DL-Metionin 0,2 50.000 Total 100 4118,75

Kandungan Nutrien Berdasarkan Perhitungan

Bahan Komposisi

Energi Metabolis (kkal/kg) 3052,2

Protein Kasar (%) 22,2 Serat Kasar (%) 4,43 Kalsium (%) 1,14 Phospor tersedia (%) 0,55 Lysin (%) 1,50 Methionin (%) 0,58 Pembuatan Pellet

Bahan-bahan yang telah disediakan ditimbang sesuai dengan formulasi ransum, kemudian dilakukan pencampuran terhadap bahan-bahan tersebut. Setelah bahan tercampur, ditambahkan bahan perekat yaitu tepung ubi jalar, tepung garut dan onggok dengan taraf 2% dari berat ransum. Campuran bahan dengan perekat kemudian dicetak dengan mesin pellet yang memiliki ukuran diameter pellet sebesar 3 mm. Pellet kemudian dikondisikan sebelum dilakukan pengemasan. Pengemasan menggunakan plastik berkapasitas 1 kg. Pellet yang telah dikemas kemudian disimpan di ruang penyimpanan dan ditata rapih diatas pallet. Skema proses pembuatan pellet dapat dilihat pada Gambar 3.

15

Gambar 3. Skema Pembuatan Pellet

Peubah yang Diamati

Pada penelitian ini, peubah yang diamati adalah ukuran partikel, sudut tumpukan, berat jenis, kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan tumpukan, ketahanan benturan pellet, pellet durability index (PDI), dan serangan serangga. Analisa dilakukan pada minggu ke-0, minggu ke-2, minggu ke-4 dan minggu ke-6.

Kerapatan Tumpukan, dihitung dengan mencurahkan bahan dengan bobot tertentu ke dalam gelas ukur (100 ml). Metode pemasukan bahan ke dalam gelas ukur sama setiap pengamatan, baik cara maupun ketinggian pencurahan. Pencurahan bahan dibantu corong plastik dan sendok teh, guna meminimumkan penyusutan volume curah akibat pengaruh daya berat bahan itu sendiri saat dicurahkan dan terjadinya guncangan pada gelas ukur perlu dihindari (Khalil, 1999a). Kerapatan tumpukan dihitung dengan rumus :

Bahan-bahan baku ditimbang

Penimbangan

Bahan perekat 2% (Tepung ubi jalar, tepung

garut, onggok)

Uji fisik pakan pada minggu ke-0, ke-2, ke-4 dan ke-6

Pengemasan Pengkondisian Pencetakan pellet

16

Kerapatan Tumpukan =

Kerapatan Pemadatan Tumpukan, ditentukan dengan cara yang sama dengan penentuan kerapatan tumpukan, tetapi volume bahan dibaca setelah dilakukan proses pemadatan dengan cara menggoyang-goyangkan gelas ukur sampai volume tidak berubah lagi. Besarnya nilai kerapatan tumpukan sangat tergantung pada intensitas proses pemadatan penggetaran. Sebaiknya pemadatan dilakukan dalam waktu tidak lebih dari 10 menit (Khalil, 1999a). Kerapatan pemadatan tumpukan dihitung dengan rumus :

KPT =

Berat Jenis, diukur dengan menggunakan prinsip hukum Archimedes, yaitu dengan melihat perubahan volume aquades pada gelas ukur (100 ml) setelah memasukkan bahan-bahan yang massanya telah diketahui ke dalam gelas ukur tersebut kemudian dilakukan pengadukan untuk mempercepat jalannya udara antar partikel ransum selama pengukuran. Perubahan volume aquades merupakan volume bahan sesungguhnya (Khalil, 1999a). Berat jenis dihitung dengan rumus :

Sudut Tumpukan, pengukuran dilakukan dengan cara bahan dijatuhkan atau dicurahkan pada ketinggian 15 cm. Diameter tumpukan bahan maksimum setengah kali tinggi jatuhnya bahan. Sebagai alas bidang datar digunakan karton manila berwarna putih. Ketinggian tumpukan bahan harus selalu berada dibawah corong plastik. Pengukuran diameter dilakukan pada sisi yang sama pada semua pengamatan dengan bantuan mistar dan segitiga siku-siku. Sudut tumpukan bahan dinyatakan dengan satuan derajat dan dapat ditentukan dengan mengukur diameter dasar (d) dan tinggi tumpukan (t), sedangkan (n) adalah ketinggian tertentu untuk menjatuhkan bahan (Khalil, 1999b). Gambar alat pengukur sudut tumpukan dapat dilihat pada Gambar 4.

Sudut Tumpukan ( ) = Cotg 2t

d Berat Jenis = Bobot bahan (gram)

17

Gambar 4. Alat Pengukur Sudut Tumpukan

Ukuran Partikel, teknik yang digunakan untuk mengukur ukuran partikel adalah dengan menggunakan vibrator ball mil nomor mesh 4, 8, 16, 30, 50, 100 dan 400. Bahan ditimbang sebanyak 500 gram lalu diletakkan pada bagian paling atas ayakan (sieve), lalu dilakukan penyaringan bahan yang tertinggal pada tiap saringan. Nomor perjanjian adalah nomor yang diberikan pada mesh yang diurut dari bawah ke atas dengan urutan 1 sampai 7, sedangkan No. mesh (German sieve number) terkecil sampai terbesar diurutkan dari atas ke bawah (Tyler, 1959). Kadar kehalusan dapat diukur seperti pada Tabel 3 :

18

Tabel 3. Pengukuran Kadar Kehalusan Bahan

No mesh No.

perjanjian

Bobot pellet yang tertinggal (gram) % pellet tiap saringan 4 7 …… …… 8 6 …… …… 16 5 …… …… 30 4 …… …… 50 3 …… …… 100 2 …… …… 400 1 …… …… Penampungan 0 …… …… Total 500 gram 100%

Besarnya bahan yang tertampung dalam tiap mesh dirumuskan sebagai berikut :

% bahan = berat bahan pada mesh (gram) Total bahan (gram)

Kadar kehalusan dapat diketahui dengan mengalikan persentase bahan pada setiap mesh dengan nomor perjanjian. Perhitungan kadar kehalusan atau derajat kehalusan (Modulus of Finenes/MF) dirumuskan sebagai berikut :

Kadar Kehalusan (KK) = ∑ (% bahan tiap mesh x No. perjanjian) 100

Ukuran partikel dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Ukuran partikel rata-rata (UP) = 0,0041 x 2KK x 2,54 cm x 10 mm

Berdasarkan rumus diatas maka dapat diperoleh nilai ukuran partikel sebagai berikut :

UP > 1,79 – 13,33 mm : kategori bahan kasar UP > 0,78 – 1,79 mm : kategori bahan sedang UP > 0,10 – 0,78 mm : kategori bahan halus

19

Ketahanan Benturan Pellet, diukur dengan cara menjatuhkan pellet dari ketinggian 1 meter pada lempeng besi setebal 2 mm. Pellet dijatuhkan secara bersamaan dengan berat 500 gram, lalu dilakukan penyaringan dengan vibrator ball mill german the sieve analisis dan dilakukan penimbangan (Balagopalan et al., 1988). Ukuran ketahanan pellet dirumuskan sebagai berikut :

% Ketahanan benturan pellet =

x 100%

Pellet Durability Index (PDI), diukur dengan cara bahan sebanyak 500 gram dimasukkan kedalam sebuah kotak yang dilengkapi dengan alat pemutar (tumbling) yang diputar selama sepuluh menit dengan kecepatan 50rpm, kemudian disaring dengan menggunakan mesh yang berukuran 8 (German sieve number 8). Pellet yang tertinggal ditimbang kemudian dibandingkan dengan berat pellet sebelum diputar (berat pellet awal) (McEllhiney, 1994).

Pemeriksaaan Serangan Serangga

Serangga yang terdapat di dalam pellet dapat dilihat dengan mengayak pellet sebanyak 1 kg menggunakan saringan Vibrator balmill no.16 yang bertujuan agar serangga dapat lolos tapi pellet tidak, kemudian serangga dan larva yang lolos dihitung jumlahnya. Kemudian bahan yang telah diperiksa diberi kode, berikut kode pemeriksaan yang ada (Roza, 1998) :

C/A = Aman, yaitu tidak terlihat dan tidak ditemukan adanya serangga dari bahan. C/R = Ringan, yaitu terlihat adanya serangga, maksimum 1-2 ekor/kg bahan. C/M = Medium, yaitu serangga terlihat sekitar 3-5 ekor/kg bahan.

C/B = Berat, yaitu serangga jelas banyak ditemukan sekitar 6-10 ekor/kg bahan. C/SB = Sangat berat, yaitu serangga >10 ekor/kg bahan.

% Durability = Berat pellet setelah diputar x 100% Berat pellet sebelum diputar

HASIL DAN PEMBAHASAN

Keadaan Umum Lokasi Penyimpanan Pellet

Suhu dan kelembaban ruang penyimpanan sangat berpengaruh terhadap sifat fisik dan pertumbuhan serangga pada pellet yang disimpan. Ruang penyimpanan yang baik digunakan adalah pada suhu 180-240 C, memiliki ventilasi yang baik untuk sirkulasi udara, terang dan bersih, bebas dari serangan tikus dan serangga, hal tersebut dikemukakan oleh Sofyan dan Abunawan (1974). Suhu ruang yang ideal untuk pertumbuhan serangga adalah berkisar antara 250-300C. Selama penyimpanan enam minggu dilakukan pengukuran terhadap suhu dan kelembaban ruang penyimpanan setiap hari pada waktu pagi (pukul 06.00-07.00), siang hari (pukul 12.00-13.00) dan sore (pukul 18.00-19.00). Hasil pengukuran suhu dan kelembaban disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Rataan Suhu dan Kelembaban Ruang Penyimpanan

Waktu Pengukuran

Pengamatan (minggu ke-)

2 4 6 Pagi Suhu (0) 26,9 27,08 26,04 Rh (%) 69,5 75,5 80,71 Siang Suhu (0) 27,9 28 28,66 Rh (%) 64,5 72,14 69,29 Sore Suhu (0) 29,15 28,29 27,8 Rh (%) 61,5 70,79 69,57

Berdasarkan Tabel 6, kisaran suhu dan kelembaban ruang penyimpanan yaitu 26,040-29,150C dan 61,5%-80,71%. Kisaran suhu ruang penyimpanan tersebut termasuk pada suhu ideal untuk pertumbuhan serangga, karena suhu berkisar antara 250-300C.

21

Keadaan Umum Pellet

Penyimpanan dilakukan untuk melindungi bahan pangan dari kerusakan yang disebabkan oleh berbagai hal, antara lain serangan hama seperti serangga, tikus, mikroorganisme, dan kerusakan fisiologis (Syarief dan Halid, 1993). Bahan kemasan yang digunakan dalam penyimpanan adalah plastik. Plastik adalah jenis kemasan yang sering digunakan dalam pengemasan bahan pangan. Plastik dapat melindungi bahan dari udara, perpindahan panas, kontaminasi dan kontak dengan bahan-bahan kimia. Penggunaan plastik sebagai wadah pellet harus hati-hati pada saat proses pengangkutan atau penumpukan, karena plastik lebih rentan sobek dibandingkan dengan kemasan jenis karung plastik. Wigati (2009), menyatakan bahwa kemasan plastik dapat mempertahankan ransum dari serangan serangga hingga penyimpanan 8 minggu.

Pellet yang telah dicetak sesuai dengan formulasi ransum yang telah ditentukan, kemudian dilakukan analisis proksimat pada minggu ke-0. Analisis proksimat adalah suatu metoda analisis kimia untuk mengidentifikasi kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak dan serat pada suatu zat makanan dari bahan pakan atau pangan. Analisis proksimat memiliki manfaat sebagai penilaian kualitas pakan atau bahan pangan terutama pada standar zat makanan yang seharusnya terkandung didalamnya. Selain itu, manfaat dari analisis proksimat adalah dasar untuk formulasi ransum dan bagian dari prosedur uji kecernaan. Hasil analisis proksimat dan energi bruto disajikan pada Tabel 5.

22

Tabel 7. Hasil Analisis Nutrien dan Energi Bruto Tepung Ubi Jalar, Tepung Garut dan Onggok

Jenis Perekat

Komponen Kontrol Onggok Tepung ubi

jalar Tepung garut Kadar Air (%) 13,32 12,63 14,4 12,04 Abu (%) 9,81 9,33 9,21 8,74 Protein kasar (%) 22,1 18,42 19,68 20,03 Serat kasar (%) 8,47 9,13 8,55 8,3 Lemak kasar (%) 3,66 4,04 3,83 3,25 Beta-N (%) 42,64 46,45 44,33 47,64 EB (kkal/kg) 3.956 3.893 3.921 3.906

Perbedaan kadar air dalam ransum karena perbedaan jenis perekat yang digunakan. Berdasarkan analisis proksimat diketahui bahwa pellet memiliki kadar air berkisar antara 12.04%-14,4%. Kadar air pellet berbeda pada setiap perlakuannya karena kemampuan penyerapan air oleh setiap bahan perekat berbeda. Kadar air pellet dengan bahan perekat tepung ubi jalar tidak sesuai dengan kadar air aman untuk penyimpanan yaitu 13%-14% (Syarief dan Halid, 1993). Pellet dengan bahan perekat onggok dapat menurunkan kadar air bahan, yaitu dari 13,32% menjadi 12,63%. Hal ini sesuai dengan penelitian Rahmayeni (2002), bahwa penambahan onggok menyebabkan penurunan kadar air pellet, hal ini diduga karena penambahan kadar onggok pada ransum menyebabkan air yang ada pada bahan ransum lebih mudah terserap. Air ini digunakan untuk merekatkan partikel bahan saat gelatinisasi di dalam mesin pellet. Wigati (2009), menyatakan bahwa pengemasan yang baik dengan menggunakan plastik dapat mempertahankan kadar air ransum selama penyimpanan delapan minggu, yaitu 9,78±2,18%.

23

Pengaruh Jenis Perekat dan Lama Penyimpanan terhadap Ukuran Partikel Ukuran partikel merupakan parameter yang berpengaruh terhadap sifat fisik dan proses produksi pellet. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa lama penyimpanan berpengaruh sangat nyata (p<0,01) terhadap ukuran partikel pellet., karena ukuran partikel pellet meningkat seiring dengan meningkatnya lama penyimpanan (Tabel 6).

Tabel 6. Pengaruh Jenis Perekat dan Lama Penyimpanan terhadap Rataan Ukuran Partikel Pellet (mm)

Jenis perekat

Lama penyimpanan (minggu)

Rata-rata 0 2 4 6 A1 6,32±0,22 6,65±0,19 6,90±0,02 7,17±0,05 6,76±0,36 A2 6,830,11 5,86±1,37 7,13±0,13 7,33±0,15 6,79±0,65 A3 6,56±0,41 6,510,17 6,690,08 7,080,31 6,71±0,26 A4 6,44±0,11 6,61±0,11 6,750±0,1 7,11±0,09 6,73±0,29 Rata-rata 5,54±0,22A 6,41±0,37A 6,86±0,20B 7,17±0,11B

Keterangan : Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda sangat nyata (p<0,01)

A1 = kontrol; A2 = Perekat onggok 2%; A3 = Perekat tepung ubi jalar 2%; A4

= Perekat tepung garut 2%

Tabel 6 menunjukkan bahwa ukuran partikel pada minggu ke-0 dan minggu ke-2 tidak berbeda nyata sehingga dapat diketahui bahwa ukuran partikel tidak mengalami peningkatan selama penyimpanan dua minggu. Peningkatan ukuran partikel terjadi pada penyimpanan minggu ke-4 dan minggu ke-6. Secara keseluruhan ukuran partikel pada keempat perlakuan dan penyimpanan selama enam minggu termasuk dalam kategori besar (kasar) karena ukuran partikel berada pada kisaran 1.79 – 13.33 mm.

Pengaruh Jenis Perekat dan Lama Penyimpanan terhadap Berat Jenis Berat jenis pellet dengan penambahan bahan perekat dan penyimpanan selama enam minggu berkisar antara 1,27-1,29 gram/ml (Tabel 7). Berat jenis adalah perbandingan antara massa bahan (gram) dengan volume bahan (ml). Penambahan

24

bahan perekat tepung ubi jalar, tepung garut dan onggok tidak berbeda nyata terhadap berat jenis pellet. Lama penyimpanan maupun interaksi antara kedua perlakuan juga tidak berbeda nyata. Hal ini sesuai dengan penelitian Agustina (2005) bahwa berat jenis antar perlakuan baik pada mash maupun pellet menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata karena ruang antar partikel dalam mash maupun pellet sudah terisi air selama proses pengurangan (pengencilan) ukuran partikel dan selama proses produksi berlangsung. Proses penakaran secara otomatis pada pabrik pakan diperlukan data mengenai berat jenis bahan, sehingga dalam proses pengemasannya tingkat ketelitian lebih tinggi. Berat jenis yang seragam memudahkan dalam proses pengemasan tersebut.

Tabel 7. Pengaruh Jenis Perekat dan Lama Penyimpanan terhadap Rataan Berat Jenis Pellet (gram/ml)

Jenis perekat

Lama penyimpanan (minggu)

Rata-rata 0 2 4 6 A1 1,29±0,04 1,27±0,04 1,32±0,07 1,27±0,04 1,29±0,02 A2 1,29±0,04 1,28±0,03 1,25±0 1,27±0,04 1,27±0,02 A3 1,32±0,07 1,27±0,04 1,27±0,04 1,27±0,04 1,28±0,03 A4 1,26±0,1 1,39±0,07 1,25±0 1,290,02 1,28±0,06 Rata-rata 1,29±0,02 61,27±0,06 1,27±0,03 1,28±0,01

Keterangan : A1 = kontrol; A2 = Perekat onggok 2%; A3 = Perekat tepung ubi jalar 2%; A4

= Perekat tepung garut 2%

Pengaruh Jenis Perekat dan Lama Penyimpanan terhadap Sudut Tumpukan Sudut tumpukan terbentuk jika bahan dicurahkan melalui sebuah corong terhadap suatu bidang datar dan bahan tersebut dapat bergerak bebas. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa penambahan bahan perekat pada pellet dan lama penyimpanan berpengaruh sangat nyata (p<0,01) terhadap sudut tumpukan. Pengukuran sudut tumpukan disajikan pada Tabel 8.

Sudut tumpukan yang terbentuk pada perlakuan penambahan bahan perekat berkisar antara 18,240-22,510. Penambahan perekat onggok adalah bahan yang memiliki sudut tumpukan tertinggi kemudian diikuti oleh pellet tanpa perekat, pellet

25

dengan perekat tepung ubi jalar dan pellet dengan perekat tepung garut, sudut tumpukan masing-masing bahan secara berurutan adalah 22,51±3,580; 19,8±1,430; 19,64±4,390; dan 18,24±3,240. Hal ini menandakan bahwa dengan penamban bahan perekat onggok, maka sudut tumpukan yang terbentuk dapat lebih besar dibandingkan dengan perekat lain dan kontrol. Ukuran partikel berpengaruh terhadap besarnya sudut tumpukan bahan. Pellet dengan perekat onggok memiliki ukuran partikel tertinggi sehingga dapat menyebabkan bahan tersebut memiliki sudut tumpukan tertinggi pula.

Tabel 8. Pengaruh Jenis Perekat dan Lama Penyimpanan terhadap Rataan Sudut Tumpukan (0)

Jenis perekat

Lama penyimpanan (minggu)

Rata-rata 0 2 4 6 A1 20,7±5,34 20,69±5,01 17,69±4,02 20,13±2,6 19,8±1,43A A2 24,1±3,95 26,07±1,33 17,71±1,46 22,16±2,23 22,51±3,58B A3 14,96±0,11 23,63±0,38 16,84±2,36 23,12±1,41 19,64±4,39A A4 15,48±1,38 20,29±0,88 15,47±1,98 21,71±1,83 18,24±3,24A Rata-rata 18,81±4,38A 22,67±2,71B 16,93±1.05A 21,78±1,25B

Keterangan : Superskrip yang berbeda pada baris dan kolom yang sama menunjukkan berbeda sangat nyata (p<0,01).

A1 = kontrol; A2 = Perekat onggok 2%; A3 = Perekat tepung ubi jalar 2%; A4

= Perekat tepung garut 2%

Sudut tumpukan berpengaruh terhadap kemudahan dalam pengangkutan pakan dan kecepatan aliran pellet. Lama penyimpanan juga berpengaruh terhadap besarnya sudut tumpukan pellet . Sudut tumpukan bertambah pada minggu ke-2 dan berkurang kembali pada minggu ke-4. Berdasarkan Tabel 8, bahan yang digunakan pada penelitian ini termasuk dalam kategori bahan yang sangat mudah mengalir karena sudut tumpukan yang terbentuk berkisar antara 200-300, sehingga dapat mempercepat proses pengangkutan maupun pembongkaran dalam industri pakan yang menggunakan alat mekanik dalam proses pengerjaannya.

26

Pengaruh Jenis Perekat dan Lama Penyimpanan terhadap Kerapatan Tumpukan

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa jenis perekat berpengaruh sangat nyata (p<0,01) terhadap kerapatan tumpukan dengan besar tumpukan terbesar pada perekat onggok. Lama penyimpanan berpengaruh sangat nyata (p<0,01) meningkatkan kerapatan tumpukan (Tabel 9). Nilai kerapatan tumpukan berdasarkan jenis perekat yang digunakan berkisar antara 0,56-0,58 gram/ml, sedangkan berdasarkan lama penyimpanan berkisar antara 0,56-0,57 gram/ml. Bahan yang memiliki kerapatan tumpukan tinggi membutuhkan waktu yang lebih singkat untuk jatuh dan mengalir dibandingkan dengan bahan yang memiliki kerapatan tumpukan yang lebih kecil.

Tabel 9. Pengaruh Jenis Perekat dan Lama Penyimpanan terhadap Rataan Kerapatan Tumpukan (gram/ml)

Jenis perekat

Lama penyimpanan (minggu)

Rata-rata 0 2 4 6 A1 0,55±0,01 0,55±0,01 0,57±0,01 0,56±0,01 0,55±0.01A A2 0,57±0,02 0,57 0,56 0,60±0,01 0,58±0.01B A3 0,55±0,01 0,57±0,01 0,57±0,01 0,56±0,01 0,56±0.01A A4 0,56 0,58±0,01 0,60±0,01 0,56 0,56±0.01A Rata-rata 0,56±0.01A 0,57±0.01B 0,57±0.01B 0,57±0,02B

Keterangan : Superskrip yang berbeda pada baris atau kolom yang sama menunjukkan berbeda sangat nyata (p<0,01)

A1 = kontrol; A2 = Perekat onggok 2%; A3 = Perekat tepung ubi jalar 2%; A4

= Perekat tepung garut 2%

Pellet dengan penambahan perekat onggok memiliki kerapatan tumpukan yang lebih besar dibandingkan dengan bahan lain, sehingga dapat disimpulkan bahwa onggok dapat jatuh dan mengalir lebih cepat pada proses pengemasan dibandingkan dengan bahan lain. Penyimpanan yang dilakukan selama enam minggu mempengaruhi nilai kerapatan tumpukan bahan. Semakin lama bahan disimpan maka nilai kerapatan tumpukan bahan akan semakin meningkat. Kerapatan tumpukan pada minggu ke-0 lebih kecil daripada pada minggu ke-2, minggu ke-4 dan minggu-6

27

menunjukkan bahwa pellet pada minggu ke-0 memiliki berat tiap satuan volume yang lebih rendah dibandingkan dengan penyimpanan minggu berikutnya.

Pengaruh Jenis Perekat dan Lama Penyimpanan terhadap Kerapatan Pemadatan Tumpukan

Analisis sidik ragam menunjukkan bahwa lama penyimpanan berpengaruh sangat nyata (p<0,01) terhadap kerapatan pemadatan tumpukan bahan (Tabel 10). Kerapatan tumpukan tidak dipengaruhi oleh jenis perekat yang digunakan. Interaksi antara jenis perekat yang digunakan dan lama penyimpanan juga tidak mempengaruhi kerapatan pemadatan tumpukan bahan. Kerapatan pemadatan tumpukan meningkat seiring dengan bertambahnya lama penyimpan. Hasil pengukuran kerapatan pemadatan tumpukan bahan berdasarkan lama penyimpanan berkisar antara 0,624-0,652 gram/ml, sedangkan berdasarkan jenis perekat yang digunakan berkisar antara 0,636-0,639 gram/ml. Penentuan nilai kerapatan pemadatan tumpukan bahan haruslah dengan cara pemadatan yang sama, sehingga hasil yang diperoleh akan lebih akurat. Berdasarkan Tabel 10, dapat diketahui bahwa bahan yang membutuhkan ruang penyimpanan lebih kecil adalah pada penyimpanan minggu ke-4, karena semakin tinggi nilai kerapatan pemadatan tumpukan bahan maka akan semakin kecil ruang penyimpanan yang diperlukan.

Tabel 10. Pengaruh Jenis Perekat dan Lama Penyimpanan terhadap Rataan Kerapatan Pemadatan Tumpukan (gram/ml)

Jenis perekat

Lama penyimpanan (minggu)

Rata-rata 0 2 4 6 A1 0,63±0,01 0,63±0,01 0,65±0,01 0,64±0,01 0,636±0,01 A2 0,63±0,01 0,63±0,01 0,66±0,01 0,64±0,01 0,639±0,01 A3 0,62±0,01 0,64±0,01 0,65±0,01 0,64±0,01 0,636±0,01 A4 0,62±0,01 0,65±0,01 0,65±0,01 0,64±0,01 0,638±0,02 Rata-rata 0,624±0,01A 0,636±0,01B 0,652±0,01C 0,636±0,001B

Keterangan : Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (p<0,01)

A1 = kontrol; A2 = Perekat onggok 2%; A3 = Perekat tepung ubi jalar 2%; A4

28

Pengaruh Jenis Perekat dan Lama Penyimpanan terhadap Ketahanan Benturan Pellet

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa lama penyimpanan berpengaruh sangat nyata (p<0,01) terhadap ketahanan benturan pellet. Pada Tabel 11, dapat diketahui bahwa semakin lama bahan disimpan maka ketahanan benturan akan semakin menurun. Berdasarkan jenis perekat yang digunakan, pellet dengan penambahan perekat onggok memiliki nilai ketahanan benturan yang paling tinggi dibandingkan dengan bahan lain. Hal ini disebabkan karena onggok memiliki kandung pati yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis perekat lain. Kandungan pati onggok berkisar antara 60%-70%. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Zain (2008) yang menyatakan bahwa pati yang tergelatinisasi akan membentuk sturktur gel yang akan merekatkan pakan, sehingga pakan akan tetap kompak dan tidak mudah hancur.

Tabel 11. Pengaruh Jenis Perekat dan Lama Penyimpanan terhadap Rataan Ketahanan Benturan Pellet (%)

Jenis perekat Lama penyimpanan Rata-rata 0 2 4 6 A1 95,27±2,04 96,67±4,88 92,40±0,82 89,09±2,79 93,36±3,36 A2 96,81±0,36 97,19±0,21 93,52±1,24 90,41±0,94 94,48±3,18 A3 97,01±0,64 95,02±3,91 90,62±2,45 86,73±4,55 92,35±4,6 A4 96,93±1,08 95,26±2,08 91,12±1 91,43±1,84 93,68±2,87 Rata-rata 96,51±0,83A 96,04±1,06A 91,91±1,31B 89,42±2,03C

Keterangan : Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda sangat nyata (p<0,01)

A1 = kontrol; A2 = Perekat onggok 2%; A3 = Perekat tepung ubi jalar 2%; A4

= Perekat tepung garut 2%

Lama penyimpanan berpengaruh nyata terhadap ketahanan benturan pelet (p<0,01). Keadaan bahan mempengaruhi ketahanan terhadap benturan. Berdasarkan Tabel 11 diketahui bahwa ketahanan benturan pelet paling tinggi pada minggu ke-0 dan minggu ke-2, keduanya tidak berbeda nyata. Pada penyimpanan minggu ke-6 nilai ketahanan benturan lebih kecil dibandingkan dengan minggu ke-4. Hasil ini

29

menunjukkan bahwa semakin lama pelet disimpan maka akan semakin rendah ketahanan pelet terhadap benturan yang terjadi. Suryani (2005), menyatakan bahwa ketahanan benturan pellet dengan perlakuan penyemprotan 6% air dan lama penyimpanan satu minggu adalah sebesar 88,13%, sehingga hasil penelitian dengan penyimpanan selama enam minggu masih diatas standar tersebut.

Pengaruh Jenis Perekat dan Lama Penyimpanan terhadap Pellet Durability Index (PDI)

Nilai pellet durability index (PDI) minimum untuk pellet ayam broiler adalah 80% (Dozier, 2001). Tabel 12 menyajikan besarnya rataan PDI. Interaksi antara jenis perekat dan lama penyimpanan sangat berbeda nyata (p<0,01) terhadap PDI. Jenis perekat dan lama penyimpanan sangat nyata mempengaruhi PDI (p<0,01). Lama penyimpanan menurunkan PDI dan jenis perekat onggok memiliki PDI tertinggi. Pellet dengan penambahan perekat onggok memiliki rataan nilai PDI tertinggi diantara jenis perekat lain yaitu 83,54±12,77%. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan perekat onggok dapat meningkatkan keutuhan pellet, kekokohan pellet, dan tidak mudah hancur selama proses pengangkutan (transportasi).

Tabel 12. Pengaruh Jenis Perekat dan Lama Penyimpanan terhadap Rataan Pellet Durability Index (PDI) (%)

Jenis perekat

Lama penyimpanan (minggu)

Rata-rata 0 2 4 6 A1 96,37±0,4A 82,57±0,65B 71,87±3,45C 68,57±1,1C 79,84±12,53A A2 97,53±1,48A 90,67±0,9A 76,132,75B 69,83±4,63B 83,54±12,77B A3 97,65±0,22A 85,13±0,45B 70,50±0,87C 67,77±0,81C 80,26±13,87A A4 97,47±0,03a 87,73±0,4b 70,30±2,42c 66,87±1,36c 80,59±14,49A Rata-rata 97,25±0,6D 86,53±3,47C 72,20±2,71B 68,26±1,26A

Keterangan : Superskrip yang berbeda pada baris atau kolom yang sama menunjukkan berbeda sangat nyata (p<0,01)

A1 = kontrol; A2 = Perekat onggok 2%; A3 = Perekat tepung ubi jalar 2%; A4

30

Berdasarkan Tabel 12, diketahui bahwa semakin lama pellet disimpan, maka PDI akan semakin menurun. PDI mengalami penurunan yang sangat signifikan

Dokumen terkait