• Tidak ada hasil yang ditemukan

SECARA IN VIVO

MATERI DAN METODE

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di Peternakan Sapi Perah Demo Farm Lembang, Bandung pada bulan September hingga November 2014. Analisis kimia dilakukan di Laboratorium PAU IPB dan Laboratorium Nutrisi Ternak Perah IPB pada bulan November hingga Desember 2014.

Materi

Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah: 1. Bahan pakan

Bahan pakan yang digunakan dalam ransum uji adalah konsentrat mako, onggok, bungkil kedelai, bungkil kelapa, ampas kecap, ampas tahu, mineral mix, silase jagung, dan rumput gajah.

2. Ternak

Ternak yang digunakan dalam percobaan adalah sembilan ekor sapi perah FH laktasi, yang dikelompokan berdasarkan periode laktasi yaitu laktasi dua, tiga, dan lainnya, dengan bulan laktasi dua, lima, dan enam.

3. Kandang dan alat

Kandang yang digunakan berupa kandang individu. Alat-alat yang digunakan adalah timbangan digital, timbangan kasar, bak pakan, milkcan, gelas ukur, ember, sapu, selang air, saringan, plastik, karung, dan pita ukur.

4. Alat uji kualitas susu (laktoscan).

Metode

Teknik Penyusunan Ransum

Ransum uji diformula sesuai dengan bobot badan ternak yang digunakan dalam penelitian. Bahan pakan selain hijauan ditimbang sesuai dengan formula ransum uji yang disajikan pada Tabel 5 kemudian dicampurkan, dan disiapkan di dalam bak pakan, sedangkan bahan pakan hijauan ditimbang kemudian diberikan langsung dalam bentuk terpisah dengan konsentrat.

Teknik Pemeliharaan (Uji In Vivo)

Ternak diberikan ransum uji secara bertahap sebagai masa adaptasi selama dua minggu, setelah itu menggunakan 100% ransum uji selama lima minggu.

Pemberian ransum uji dilakukan dua kali sehari, yaitu pagi dan siang hari. Pemberian konsentrat dan hijauan dilakukan terpisah yaitu konsentrat diberikan sekitar pukul 06.00 dan 12.00, sedangkan hijauan diberikan sekitar pukul 08.00 dan 17.00.

Pengukuran Konsumsi Ternak

Pengukuran konsumsi dilakukan dengan menghitung selisih jumlah pakan yang diberikan dengan sisa pakan selama pemeliharaan.

Tabel 5 Susunan formulasi ransum uji coba in vivo

Bahan Pakan R1 R2 R3 Konsentrat 50.091 17.408 35.144 Onggok 0.000 24.455 17.572 Ampas tahu 0.000 9.180 5.246 Ampas kecap 0.000 1.932 0.000 Bungkil kelapa 0.000 6.133 0.000 Bungkil kedelai 0.000 7.747 0.000 Mineral mix 0.125 0.415 0.039 Rumput gajah 44.297 32.729 41.999 Silase jagung 5.486 0.000 0.000 Rumput lapang 0.000 0.000 0.000 100.000 100.000 100.000

Keterangan: R1: ransum Demo Farm, R2: ransum yang disusun berdasarkan kebutuhan nutrien dari tabel NRC, dan R3: ransum peternak. Konsentrat mako merupakan konsentrat yang diproduksi oleh KPSBU.

Pengukuran Produksi Susu

Produksi susu diukur setiap kali melakukan pemerahan, yaitu pagi dan sore hari dengan menggunakan gelas ukur.

Pengukuran Kualitas Susu

Uji kualitas susu meliputi berat jenis, lemak, protein, SNF, dan laktosa susu dilakukan dengan menggunakan laktoscan atau laktodensimeter pada setiap pemerahan susu (pagi dan sore).

Pengukuran Pertambahan Bobot Badan

Pengukuran pertambahan bobot badan ternak dilakukan dengan menghitung selisih bobot badan ternak diakhir dan diawal pemeliharaan.

PBB (kg ekor-1h-1) = (BB akhir pemeliharaan – BB awal pemeliharaan) (kg) lama pemeliharaan (hari)

Penilaian Body Condition Score

Penilaian kondisi tubuh ternak dilakukan dengan pengamatan dan perabaan bagian tulang belakang (backbone), loin, dan pinggul (rump) untuk melihat deposit (cadangan) lemak. Kisaran nilai BCS adalah 1.0-5.0, dimulai dari sangat kurus (skor 1.0) hingga gemuk sekali (skore 5.0) (Berry et al. 2007a).

Pengukuran Manure Score

Aspek evaluasi feses yang akan dilakukan yaitu uji saring (pencucian) untuk melihat ada atau tidaknya masalah pencernaan, uji tumpuk untuk melihat konsistensi dari feses yang menggambarkan ternak mengalami diare atau tidak, dan pengamatan warna untuk melihat kemungkinan adanya permasalahan pakan dan pendarahan pada saluran pencernaan (Wells 2013).

Efisiensi Teknis dan Ekonomis

Efisiensi teknis dihitung berdasarkan produksi susu terhadap konsumsi bahan kering ransum, sedangkan efisiensi ekonomis dihitung berdasarkan keuntungan dari produksi susu terhadap biaya ransum yang dikeluarkan. Biaya ransum per liter susu dihitung dari total biaya ransum yang dikeluarkan untuk menghasilkan susu setiap satu liter susu. Efisiensi ransum dihitung dengan menggunakan rumus:

Efisiensi teknis (Linn 2006) = produksi susu

konsumsi bahan kering ransum Efisiensi ekonomis (Casper 2008) = harga susu x produksi susu

biaya ransum Biaya ransum per liter susu (Linn 2006) = biaya ransum

produksi susu

Perlakuan

Perlakuan pada penelitian ini adalah:

R1 : ransum Demo Farm sebagai tempat pengujian in vivo R2 : ransum yang disusun berdasarkan NRC

R3 : ransum peternak lokal terbaik berdasarkan uji in vitro sebelumnya

Rancangan Percobaan dan Analisis Data

Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan tiga perlakuan, satu ulangan, dan tiga kelompok periode laktasi.

Yij = µ + αi + ßj + εij Keterangan:

Yij = Nilai pengamatan pengaruh perlakuan ke-i dan kelompok ke-j

µ = Nilai rataan umum αi = Efek perlakuan taraf ke-i

ßj = Efek kelompok ke-j

εij = Galat perlakuan ke-i dan kelompok ke-j

Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan analysis of variance (anova) untuk peubah konsumsi pakan, manure score, konsumsi nutrien, performa ternak, dan efisiensi (teknis dan ekonomis), namun untuk produksi susu dan kualitas susu menggunakan analysis of covariance (ancova), dan jika terdapat

perbedaan nyata diantara perlakuan maka dilanjutkan dengan uji jarak Duncan. Pengolahan data menggunakan software statistik SPSS 16.0.

Peubah

Peubah yang diamati adalah konsumsi ternak, manure score, konsumsi nutrien, produksi susu, kualitas susu, performa ternak (pertambahan bobot badan dan body condition score), efisiensi ransum (teknis dan ekonomis), dan harga ransum per liter susu.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Konsumsi Ransum

Ransum disusun untuk memenuhi kebutuhan nutrien ternak. Ransum dengan nutrien tinggi tidak akan bernilai jika tidak diikuti dengan tingkat konsumsi yang tinggi pula. Sumihati et al. (2011) berpendapat bahwa pada dasarnya tujuan dari konsumsi pakan adalah memenuhi kebutuhan energi, apabila kebutuhan energi telah terpenuhi ternak akan berhenti untuk mengkonsumsi. Namun apabila pakan rendah akan energi (tinggi serat), maka daya tampung (distensi) alat pencernaan, terutama organ fermentatif akan menjadi faktor pembatas terhadap konsumsi pakan (D’Mello 2000). Salah satu penyebab utama sapi perah yang dipelihara oleh peternak lokal tidak mampu berproduksi tinggi sesuai dengan potensi genetiknya ialah permasalahan pakan, baik kuantitas, kualitas, maupun manajemen pemberiannya (Kusnadi dan Juarini 2007).

Pakan sapi perah terdiri dari hijauan yang merupakan sumber serat dan berperan terhadap produksi asam asetat, serta konsentrat yang berperan terhadap produksi asam propionat karena mengandung sumber energi tinggi. Konsentrat yang merupakan sumber energi dan mudah difermentasi di dalam rumen akan berpengaruh terhadap produksi asam propionat. Asam propionat sangat berpengaruh terhadap produksi susu, karena dapat dirombak menjadi glukosa yang berperan dalam sintesis laktosa susu. Laktosa yang memiliki kemampuan menyerap air, sangat yang berperan dalam produksi susu sehingga apabila terjadi peningkatan kandungan laktosa maka produksi susu ikut meningkat (Bath et al. 1985). Pakan yang merupakan sumber nutrien yang dibutuhkan oleh ternak sangat berperan dalam menentukan produksi susu. Konsumsi ternak akan bahan kering hijauan, konsentrat, bahan kering ransum, dan konsumsi bahan kering per bobot badan ternak disajikan pada Tabel 6.

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam, jumlah konsumsi ternak akan bahan kering (BK) hijauan pada ransum uji R1, R2, dan R3 berbeda nyata (P<0.05). Adanya konsumsi BK hijauan yang lebih tinggi pada R1 dan R3 dikarenakan jumlah pemberian rumput yang lebih banyak dari R2. Formula ransum R2 mengandung hijauan sebesar 32.73%, sedangkan pada R1 dan R3 masing-masing mengandung hijauan sebesar 49.78% dan 42.00%. Begitupun dengan konsumsi

Tabel 6 Konsumsi ransum dan manure score ternak yang diberi ransum uji

Peubah R1 R2 R3

Konsumsi BK hijauan (kg ekor-1 hari-1) 7.94 ± 1.08a 4.86 ± 0.45b 6.64 ± 0.46a Konsumsi BK konsentrat (kg ekor-1 hari-1) 7.30 ± 1.01b 11.02 ± 0.98a 9.21 ± 0.63a Rasio konsumsi BK hijauan : konsentrat 52 : 48 31 : 69 42 : 58 Konsumsi BK ransum (kg ekor-1 hari-1) 15.25 ± 2.09 15.88 ± 1.43 15.85 ± 1.09 Konsumsi BK per bobot badan (%) 2.99 ± 0.00 3.19 ± 0.01 3.04 ± 0.25 Kebutuhan BK ternak (%) 1) 2.84 ± 0.29 2.84 ± 0.06 2.82 ± 0.10

Manure score awal 2.41 ± 0.38 3.12 ± 0.52 2.88 ± 0.55

Manure score akhir 2.58 ± 0.35 2.57 ± 0.36 2.59 ± 0.46

Keterangan: R1: ransum Demo Farm, R2: ransum yang disusun berdasarkan kebutuhan nutrien dari tabel NRC dan R3: ransum peternak. Angka yang diikuti oleh huruf yang pada baris yang sama menunjukkan ada pengaruh yang berbeda nyata (P<0.05). 1) Kebutuhan BK (bahan kering) ternak menurut NRC 1988.

bahan kering konsentrat, jumlah konsumsi ternak akan bahan kering konsentrat pada ketiga ransum uji berbeda nyata (P<0.05). Konsumsi bahan kering konsentrat pada R1 lebih rendah dari R2 dan R3. Hal ini dikarenakan rendahnya jumlah konsentrat di dalam ransum R1. Adanya perbedaan jumlah hijauan dan konsentrat yang digunakan dalam ransum uji, mempengaruhi angka imbangan konsumsi bahan kering hijauan dan konsentrat oleh ternak. Imbangan konsumsi bahan kering hijauan dan konsentrat yang ditunjukkan oleh ternak yang diberi ransum R1 adalah 52:48. Hal ini menunjukkan ternak yang diberi R1 cenderung lebih banyak mengkonsumsi hijauan, sedangkan ternak yang diberi R2 dan R3 lebih banyak mengkonsumsi konsentrat. Musnandar (2011) menyatakan bahwa imbangan persentase hijauan dan konsentrat 50:50 merupakan imbangan yang baik karena mampu memberikan nutrient balance ternak yang lebih baik dan saluran pencernaan yang sehat. Sterk et al. (2011) berpendapat bahwa 35:65 merupakan rasio hijauan dan konsentrat terbaik yang dapat meningkatkan kualitas lemak susu dibandingkan rasio 50:50 dan 65:35. Namun Siregar (1992) menyatakan bahwa untuk menghasilkan produksi susu tinggi dengan mempertahankan kadar lemak susu, imbangan yang baik antara hijauan dan konsentrat adalah 60:40. Namun, apabila kualitas hijauan yang diberikan rendah, imbangan berubah menjadi 55:45, dan apabila hijauan yang diberikan berkualitas sedang ataupun tinggi, imbangan dapat menjadi 64:36.

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam, konsumsi bahan kering ransum pada ketiga perlakuan tidak berbeda nyata. Sapi yang diberi R1 mengkonsumsi bahan kering ransum rata-rata 15.25 kg ekor-1 hari-1, R2 sekitar 15.88 kg ekor-1 hari-1 dan R3 berkisar 15.85 kg ekor-1 hari-1. Hal ini diduga akibat kandungan struktur serat (ADF, lignin, dan selulosa) ransum yang relatif sama. Struktur serat dalam ransum yang relatif sama diduga akan menyebabkan pemenuhan kapasitas isi rumen yang sama pula, sehingga menyebabkan desakan ke dinding rumen dengan tekanan yang hampir sama dan menimbulkan rasa kenyang sehingga ternak akan menurunkan konsumsi bahan kering (Kendall et al. 2009). Konsumsi bahan kering ransum yang ditunjukkan oleh ternak yang diberi ransum uji mempengaruhi pemenuhan kebutuhan bahan kering ransum per bobot badan ternak. Rataan konsumsi bahan kering per bobot badan pada ketiga perlakuan tidak berbeda nyata, yaitu 2.99% pada R1, 3.19% pada R2, dan 3.04% pada R3.

Hal ini dikarenakan konsumsi bahan kering ransum yang tidak berbeda. Rataan kebutuhan konsumsi bahan kering ternak yang disesuaikan dengan bobot badan dan produksi susu adalah 2.84% pada R1, 2.84% pada R2, dan 2.82% pada R3 (NRC 2001). Konsumsi ternak yang diberi ketiga ransum uji telah memenuhi bahkan melebihi kebutuhan ternak akan bahan kering ransum per bobot badan.

Aspek evaluasi feses dilakukan untuk melihat ada atau tidaknya masalah pencernaan. Feses dinilai dari satu hingga lima, satu untuk sangat liquid dan lima sangat kering. Wells (2013) berpendapat bahwa selain untuk menduga ada atau tidaknya gangguan pencernaan, manure score pun dapat digunakan untuk mengetahui kondisi ternak mengalami kekurangan atau kelebihan nutrien tanpa harus menunggu adanya perubahan nilai BCS ternak tersebut. Manure scoring dapat mengindikasikan kualitas nutrien yang dikonsumsi ternak selama satu hingga tiga hari sebelumnya, sedangkan BCS dapat mengindikasikan kualitas nutrien yang dikonsumsi selama beberapa minggu hingga bulan sebelumnya (Wells 2013). Adanya pengaruh nutrien ransum terhadap manure score ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 1 Evaluasi feses sapi perah dengan perkiraan kandungan nutrien ransum (Wells 2013)

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam, ketiga ransum uji memiliki manure score yang tidak berbeda nyata. Sapi yang diberi ransum uji R1 menghasilkan feses dengan rataan nilai 2.58, sapi yang mengkonsumsi ransum uji R2 memiliki nilai evaluasi feses rata-rata 2.57 sedangkan ransum uji R3 menghasilkan manure score sapi perah dengan rataan 2.59. Adanya nilai skor evaluasi feses yang cenderung lebih rendah pada ternak yang diberi ransum uji R2 diduga karena pengaruh kandungan protein kasar ransum yang lebih tinggi, begitu pula dengan ransum uji R3 yang memiliki manure score yang cenderung lebih tinggi secara numerik, karena kandungan protein kasar ransum yang lebih rendah dari ransum R1 dan R2. Hal ini sesuai dengan pernyataan Wells (2013) yang melaporkan bahwa ternak yang mengkonsumsi ransum dengan kandungan protein kasar (>20%) dan TDN (>68%) tinggi akan menghasilkan feses yang lebih liquid atau mengandung kadar air tinggi dan konsistensi rendah sehingga memiliki skor evaluasi yang rendah, sedangkan ternak yang mengkonsumsi ransum dengan kandungan protein yang lebih rendah akan menghasilkan feses dengan skor evaluasi yang lebih tinggi.

Konsumsi Nutrien

Konsumsi nutrien merupakan salah satu parameter yang digunakan untuk menggambarkan kecukupan nutrien. Kandungan nutrien yang terdapat di dalam ransum belum dapat dipastikan seluruhnya masuk ke dalam saluran pencernaan ternak, hal ini dikarenakan adanya ransum yang tidak dikonsumsi oleh ternak itu sendiri. Konsumsi ternak akan nutrien ransum uji disajikan pada Tabel 7.

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam, jumlah konsumsi ternak akan protein ransum uji R1, R2, dan R3 tidak berbeda nyata. Adanya konsumsi protein yang cenderung lebih tinggi pada R2 dikarenakan kandungan protein kasar di dalam ransum lebih tinggi dari ransum uji lainnya yaitu 16.25%, sedangkan pada R1 dan R3 memiliki kandungan protein kasar sebesar 15.39% dan 13.81%. Rataan protein kasar yang dikonsumsi oleh ternak dalam percobaan ini belum memenuhi kebutuhan protein kasar berdasarkan NRC (2001), ternak yang diberi R1, R2, dan R3 berturut-turut membutuhkan protein kasar sebesar 3.67 kg ekor-1 hari-1, 3.57 kg ekor-1 hari-1, dan 3.76 kg ekor-1 hari-1, namun Coutinho et al. (2014) melaporkan bahwa sapi perah yang mengkonsumsi protein kasar sekitar 3.4-3.9 kg ekor-1 hari-1 mampu menghasilkan susu dengan kualitas yang baik, yaitu susu dengan kandungan protein 3.07-3.17%.

Tabel 7 Konsumsi protein kasar, lemak kasar, dan serat kasar ransum

Perlakuan Konsumsi (kg ekor

-1

hari-1)

Protein kasar Lemak kasar Serat kasar

R1 3.16 ± 0.44 0.40 ± 0.08a 3.24 ± 0.25

R2 3.47 ± 0.58 0.23 ± 0.01b 3.16 ± 0.36

R3 2.99 ± 0.25 0.36 ± 0.06a 3.75 ± 0.08

Keterangan: R1: ransum Demo Farm, R2: ransum yang disusun berdasarkan kebutuhan nutrien dari tabel NRC, dan R3: ransum peternak. Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan ada perbedaan yang nyata (P<0.05).

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam, jumlah konsumsi ternak akan lemak kasar ketiga ransum uji adalah berbeda nyata (P<0.05). Konsumsi lemak kasar pada ternak yang diberi ransum R1 dan R3 lebih tinggi dari tingkat konsumsi lemak kasar pada ternak yang diberi R2. Hal ini dikarenakan kandungan lemak kasar yang lebih tinggi pada ransum R1 dan R3. Konsumsi lemak kasar yang lebih tinggi pada sapi yang diberi ransum R1 dan R3 dibandingkan R2, dapat disebabkan adanya persentase konsentrat mako yang lebih tinggi pada R1 yaitu 50.091% dan R3 sebesar 35.144%, sedangkan konsentrat mako pada R2 yaitu 17.408%. Meskipun R2 tersusun dari bahan pakan yang lebih beragam yaitu bungkil kedelai, onggok, bungkil kelapa, ampas kecap, namun bahan pakan tersebut merupakan bahan pakan sumber protein, sedangkan konsentrat mako merupakan konsentrat yang disusun sebagai ransum komplit yang dapat memenuhi kebutuhan nutrien ternak. Coutinho et al. (2014) menyatakan bahwa konsumsi lemak kasar 0.4-0.8 kg ekor-1 hari-1 menghasilkan susu dengan kandungan lemak kasar 4%. Berdasarkan NRC (2001) diinformasikan bahwa kebutuhan sapi perah laktasi akan lemak kasar adalah tidak kurang dari 3%. Konsumsi lemak kasar yang ditunjukkan oleh ternak pada percobaan ini adalah

0.23-0.40 kg ekor-1 hari-1, dan kebutuhan lemak kasar pada ternak yang diberi ransum uji R2 belum terpenuhi.

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam, jumlah konsumsi ternak akan serat kasar pada ketiga ransum uji tidak berbeda nyata. Konsumsi serat kasar yang ditunjukkan oleh ternak yang diberi ransum uji R3 dan R1 cenderung lebih tinggi dari R2. Hal ini dikarenakan rataan kandungan serat kasar pada R3 dan R1 lebih tinggi yaitu 23.71% dan 21.39%, sedangkan pada R2 yaitu 19.85%. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah konsumsi nutrien sangat dipengaruhi oleh kandungan nutrien ransum.

Produksi Susu, Body Condition Score, dan Pertambahan Bobot Badan

Produksi susu erat kaitannya dengan kondisi tubuh ternak. Ternak dengan body condition score (BCS) rendah cenderung mengalami kesulitan untuk reproduksi selanjutnya dan kemudian akan berpengaruh terhadap produksi susu dan persistensinya. Penurunan BCS itu sendiri sering digunakan peternak untuk mengetahui adanya penurunan bobot badan ternak. Produksi susu, body condition score, dan pertambahan bobot badan ternak yang diberi ransum uji ditampilkan pada Tabel 8.

Tabel 8 Produksi susu, body score condition, dan pertambahan bobot badan ternak

Peubah R1 R2 R3

Produksi susu (liter ekor-1 hari-1)

Awal 17.03 ± 1.98 16.73 ± 1.74 17.11 ± 1.44 Akhir 17.45 ± 0.13 16.99 ± 1.24 18.01 ± 1.24 BCS Awal 3.2 ± 0.29 2.7 ± 0.29 3.2 ± 0.29 Akhir 3.3 ± 0.58 2.8 ± 0.29 2.8 ± 0.29 PBB (kg ekor-1 hari-1) 0.64 ± 1.15 0.72 ± 0.43 -0.07 ± 0.70 BB awal 509.67 ± 70.44 497.33 ± 44.28 522.67 ± 17.62 BB akhir 532.00 ± 30.51 522.67 ± 32.33 520.33 ± 22.50

Keterangan: R1: ransum Demo Farm, R2: ransum yang disusun berdasarkan kebutuhan nutrien dari tabel NRC, dan R3: ransum peternak. Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan ada perbedaan yang nyata (P<0.05).

Berdasarkan hasil analisis covarian, ternak yang diberi ransum uji R1, R2, dan R3 menghasilkan produksi susu yang tidak berbeda nyata. Rataan produksi susu selama pemberian ransum ujicoba adalah 16.99-18.01 liter ekor-1 hari-1. Kusnadi dan Juarini (2007) melaporkan bahwa rataan produksi susu oleh sapi FH di Indonesia adalah 15 liter ekor-1 hari-1. Pemberian ransum uji (R1, R2, dan R3) masing-masing memberikan peningkatan produksi susu dengan rata-rata 0.42 liter ekor-1 hari-1, 0.26 liter ekor-1 hari-1, dan 0.90 liter ekor-1 hari-1. Peningkatan produksi susu yang dihasilkan oleh ternak yang diberi ransum uji ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 2 Rataan produksi susu sapi yang diberi ransum uji

Adanya peningkatan produksi susu pada ternak yang diberi R2 dan R3, dikarenakan adanya perbaikan kualitas ransum baik secara nutritive dan quantitative, sedangkan peningkatan produksi susu pada ternak yang diberi R1 diduga karena ternak telah terbiasa atau beradaptasi baik untuk mengkonsumsi dan mencerna ransum uji. Ransum uji yang diberikan pada sapi percobaan disesuaikan dengan kebutuhan nutrien ternak (R2) dengan menggunakan tabel kebutuhan nutrien dari NRC dan ransum uji lainnya yang digunakan merupakan ransum terbaik di peternak rakyat (R3). R3 merupakan based practice dari hasil pengamatan Despal (2013) yang menghasilkan informasi status nutrisi sapi perah lokal yang berisikan kumpulan formulasi ransum, produksi susu, periode laktasi, dan kandungan nutrien bahan pakan yang digunakan, sehingga R3 merupakan ransum terbaik berdasarkan informasi kumpulan ransum peternak tersebut. Secara numerik, R3 merupakan ransum yang dapat meningkatkan produksi susu tertinggi. Hal ini diduga akibat adanya penggunaan ampas tahu yang lebih banyak dalam ransum. Laryska dan Nurhajati (2013) melaporkan bahwa ampas tahu dapat meningkatkan produksi susu dibandingkan konsentrat komersil.

Roche et al. (2007a) melaporkan bahwa body condition score optimal pada sapi perah laktasi yang mendukung produksi susu yaitu berkisar 3.5 (skala 1-5). Berdasarkan hasil sidik ragam, ransum uji yang diberikan kepada sapi-sapi percobaan memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap BCS akhir ternak, begitupun terhadap perubahan BCS ternak. Rataan BCS akhir yang didapatkan pada sapi yang diberi ransum uji R1, R2, dan R3 berturut-turut adalah 3.3, 2.8, dan 2.8. Perubahan BCS ditunjukkan oleh sapi yang diberi ransum R1 dan R2 meningkat, sedangkan R3 menunjukkan adanya penurunan kondisi performa tubuh. BCS akhir tertinggi ditunjukkan oleh sapi yang mendapat perlakuan R1. Hal ini dikarenakan adanya BCS awal yang lebih baik dan diduga hanya sebagian kecil cadangan lemak tubuh yang digunakan sebagai sumber energi untuk produksi susu, terlihat pada jumlah konsumsi ransum R1 yang lebih tinggi namun produksi susu yang dihasilkan lebih rendah dari sapi yang diberi ransum uji lainnya. Berlainan dengan sapi perah yang diberi ransum R3 menunjukkan adanya penurunan BCS, hal ini dikarenakan sebagian besar energi yang didapat dari ransum yang dikonsumsi dan cadangan lemak banyak

14.000 15.000 16.000 17.000 18.000 19.000 20.000 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30 32 34 36 Produksi Susu (liter)

Hari Pengamatan Ke-

Peningkatan Produksi Susu (liter/ hari)

R1

R2

digunakan untuk peningkatan produksi susu. Roche et al. (2007b) berpendapat bahwa disposisi lemak tubuh pada sapi perah laktasi lebih tinggi terjadi pada awal laktasi awal yang digunakan untuk peningkatan produksi susu dan lemak susu. Sedangkan pada R2 adanya perbaikan BCS diikuti peningkatan produksi susu, menunjukkan bahwa nutrien terutama energi yang masuk ke dalam tubuh dialokasikan dengan baik untuk perbaikan kondisi tubuh yang optimal dan produksi susu.

Kondisi tubuh erat kaitannya dengan bobot badan ternak. Berdasarkan hasil analisis sidik ragam ransum-ransum uji yang diberikan kepada ternak tidak memberikan pengaruh nyata terhadap pertambahan bobot badan sapi. Adanya penurunan bobot badan pada sapi yang diberi R3 ini diikuti dengan adanya penurunan nilai BCS, hal ini menunjukkan sebagian besar cadangan lemak tubuh digunakan untuk kebutuhan produksi susu. Seperti yang disampaikan oleh Roche et al. (2007a) bahwa sapi perah akan mengalami kehilangan bobot tubuh selama peningkatan produksi susu. Kehilangan bobot badan pun dapat terjadi pada sapi perah laktasi akibat peningkatan kadar lemak dan protein susu, sehingga memberikan efek negatif terhadap performa tubuh (Berry et al. 2007b). Adanya peningkatan bobot badan rata-rata yang lebih tinggi pada sapi yang diberi ransum uji R2 menunjukkan nutrien yang masuk ke dalam tubuh berhasil dicerna dan diserap lebih baik dalam tubuh ternak dibandingkan ransum uji lainnya. Nutrien yang diserap tersebut digunakan dan dialokasikan dengan baik untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan produksi susu, hal ini terlihat pada produksi susu yang dihasilkan oleh sapi yang diberi R2 dan R1 mengalami peningkatan.

Kualitas Susu

Ransum sangat mempengaruhi komposisi dan produksi susu, karena nutrien dalam ransum akan menentukan efektifitas proses nutrisi yang berhubungan dengan sintesis susu dan komponennya (Santos 2002). Komponen kualitas susu yang sering menjadi faktor pembatas dalam standar mutu susu dan diamati dalam penelitian ini antara lain berat jenis, lemak, solid non fat, laktosa, dan protein susu. Kualitas susu yang dihasilkan oleh sapi yang diberi ransum uji (R1, R2, dan R3) disajikan pada Tabel 9.

Berat Jenis Susu

Berdasarkan hasil analisis covarian, ketiga ransum uji memberikan pengaruh yang tidak berbeda terhadap berat jenis susu. Sapi yang mengkonsumsi ransum R2 cenderung menghasilkan susu dengan berat jenis yang lebih tinggi yaitu 1.028 kg m-3, sedangkan sapi yang diberi ransum R1 menghasilkan susu

Dokumen terkait