• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Pustaka

7. Materi Panggilan dan Perutusan Murid Yesus

Materi panggilan dan perutusan murid Yesus merupakan materi kelas VIII yang terdiri dari tiga pokok pembahasan yaitu, Yesus memanggil murid-murid-Nya, cara hidup murid Yesus, dan tugas perutusan sebagai murid Yesus.

a. Yesus memanggil murid-murid-Nya

Pengalaman dipanggil dalam kehidupan sehari-hari merupakan pengalaman yang lumrah dan terkesan biasa saja, namun akan menjadi mengesankan ketika panggilan itu berasal dari orang yang istimewa seperti tokoh-tokoh ternama, dan mereka yang dihormati. Hal ini berpengaruh besar pada tanggapan yang diberikan ketika mendapat panggilan. Ada orang yang bersikap biasa saja, ada yang

bersikap langsung menanggapi panggilan tersebut, bahkan ada pula yang menolak dengan tegas panggilan tersebut. Pada kisah panggilan murid Yesus, terdapat tiga fase yaitu pertemuan, panggilan dan jawaban (Priana, 2019: 19). Panggilan ini ditandai dengan perjumpaan Yesus dengan murid yang pertama di danau Galilea. Fase kedua merupakan panggilan yang berarti sebuah undangan bagi para murid, hal ini ditandai dengan ajakan Yesus “Datang ikutlah Aku dan Aku akan menjadikan kamu penjala manusia” (Matius 4:19). Fase terakhir merupakan jawaban atas panggilan Yesus. Jawaban atas panggilan Yesus ini ditandai dengan tindakan Petrus dan Andreas yang meninggalkan jalanya lalu mengikuti Yesus. Tindakan ini, merupakan suatu syarat untuk mengikuti Yesus yaitu meninggalkan perihal duniawi.

Tujuan Panggilan yang dialami murid-murid Yesus merupakan panggilan untuk ikut ambil bagian dalam tugas pewartaan-Nya yaitu, mewujudkan dan mewartakan Kerajaan Allah serta selalu menyertai dalam tugas perutusan (Setyawan, 2018: 294). Peristiwa Yesus memanggil para murid-Nya merupakan suatu inisiatif dari Yesus (Handoko, 2020: 7). Dalam pewartaan-Nya, Yesus menganggap para murid sebagai seorang mitra dalam menjalankan tugas perutusan.

Yesus memanggil para murid-Nya dengan berbagai cara, baik secara langsung, membaca kitab suci, serta melihat keadaan umat. Secara langsung Yesus dalam panggilannya meminta para murid untuk ikut mewartakan Kerajaan Allah. Selain itu, panggilan perutusan dilakukan dengan melihat keadaan umat

baik yang kaya maupun yang miskin. Panggilan Yesus pada muridnya tentunya memiliki syarat dan konsekuensi yang harus ditanggung.

Syarat dan konsekuensi mengikuti Yesus yaitu, dengan menyangkal diri, memanggul salib, dan mau mengikuti Yesus. Menyangkal diri berarti tidak bersikap egois dan mengutamakan kepentingan bersama. Selain itu memanggul salib memiliki arti rela berkorban bagi sesama dan menderita bersama Yesus. Sedangkan mengikuti Yesus memiliki arti tinggal bersama dan setia pada pengajaran-Nya. (Matius 16: 24)

Memutuskan menjadi murid Yesus tentunya harus dimaknai dengan sungguh. Menjadi murid Yesus berarti mau mengutamakan Tuhan di atas segalanya dan membiarkan Ia mengatur segalanya, termasuk hidup kita. Selaras dengan itu Priana (2019: 20), mengatakan menjadi murid atau menjadi Gereja berarti menempatkan semua yang dipunya demi kepentingan Yesus, oleh karena itu untuk menanggapi panggilan menjadi murid Yesus Kristus perlu membangun sikap mantap seutuhnya dalam diri, tidak banyak pertimbangan serta (Luk 9: 66).

b. Cara hidup murid Yesus

Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan sebuah persekutuan (communio) sebagai rumah untuk berkembang. Persekutuan yang baik merupakan persekutuan yang mampu membuat setiap anggota persekutuan tersebut berkembang secara utuh. Maka dari itu, setiap anggota persekutuan perlu memiliki sikap saling membantu dan menguatkan satu sama lain, saling berbagi, mengasihi serta saling mengembangkan. Persekutuan akan terus berkembang

dengan baik jika setiap anggota persekutuan secara aktif ambil bagian di dalamnya. Namun, tidak semua persekutuan mampu, berkembang dengan baik, hal itu dikarenakan ada anggota persekutuan yang tidak mau ikut ambil bagian di dalamnya. Selain itu adanya sikap egois dalam diri masing-masing anggota, kurangnya tanggung jawab, dan tidak jujur, serta tidak adanya rasa saling memiliki antara satu dengan yang lain akan membuat persekutuan tidak mampu bertahan lama.

Setiap persekutuan memiliki kekhasan masing-masing, dan kekhasan ini menjadi identitas bagi persekutuan tersebut. Seperti halnya persekutuan murid Yesus, yang memiliki ciri khas dalam kehidupannya, ini semua terwujud dalam persekutuan hidup jemaat perdana. Jemaat perdana memiliki ciri khas dan keunikan yang membuat semua orang tertarik untuk ikut bergabung bersama persekutuan ini. Persekutuan hidup jemaat perdana disatukan oleh roh dalam persaudaraan sehati dan sejiwa. Persekutuan ini hidup dalam kepedulian pada sesama, semua anggotanya menjunjung tinggi kesederajatan masing-masing individu. Selain itu, mereka saling melayani satu sama lain, tak terkecuali pemimpin dalam jemaat perdana yang juga mau melayani dan menjadi saksi atas kebangkitan Yesus Kristus. Persekutuan murid Yesus, selalu bertekun dalam pengajaran para rasul, dan selalu mengadakan perjamuan kudus bersama untuk mengucap syukur kepada Allah .

Cara hidup jemaat perdana yang demikian memungkinkan setiap anggota berkembang secara utuh dalam iman, sebagai murid Kristus. Dinamika hidup jemaat perdana tidak hanya berhenti pada hal kegiatan rohani saja, melainkan

lebih dari itu. Dinamika hidup jemaat perdana semakin berkembang dan diwujudkan dalam tindakan dan rasa peduli pada sesama. Melalui cara hidup jemaat perdana yang bersifat terbuka bagi semua orang, membuat persekutuan ini dicintai oleh semua orang, hal ini berdampak pada penambahan jumlah anggota persekutuan murid Kristus. Gambaran hidup persekutuan jemaat perdana menjadi cerminan bagi cara hidup persekutuan murid Yesus jaman ini, untuk semakin berkembang menjadi persekutuan yang lebih baik lagi.

c. Tugas perutusan sebagai murid Yesus

Menjadi seorang utusan dan mengemban tugas perutusan perlu menerima dengan senang hati dan percaya dengan sungguh bahwa Ia yang mengutus selalu mendampingi, dan memberikan jaminan keselamatan (Matius 10:28). Begitu pula murid-murid Yesus yang disatukan dengan Gereja, juga mendapat tugas perutusan dari-Nya untuk bersama mewartakan Kerajaan Allah. Evangelii Nutiandi (Paulus VI, 2019), menegaskan bahwa tugas perutusan untuk mewartakan Injil kepada segala bangsa merupakan perutusan hakiki dari Gereja. Tugas perutusan sebagai murid-murid Yesus merupakan tugas pokok Yesus sendiri yaitu untuk mewartakan kedatangan Kerajaan Allah. Mewartakan Kerajaan Allah berarti mau mengupayakan terciptanya kedamaian, kerukunan, persaudaraan keadilan, serta cinta kasih di tengah kehidupan persekutuan. Tugas ini tidak mudah, dan memiliki konsekuensi dan risiko yang sangat besar.

Pada prosesnya akan ada banyak sekali halangan dan rintangan yang mewarnai tugas perutusan sebagai murid Yesus. Hal ini juga dituliskan dalam

(Lukas 10:3) “Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba di tengah-tengah serigala”. Meskipun begitu Yesus berjanji untuk selalu menyertai kita dalam tugas perutusan ini. Kita sebagai orang Kristen yang sudah dibaptis memiliki tugas dan tanggung jawab untuk bersama Yesus mewartakan Kerajaan Allah di lingkungan sekitar.

Dokumen terkait