• Tidak ada hasil yang ditemukan

Materi Sistem Peredaran Darah

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh : Azka Hasya Zharfani (Halaman 32-0)

A. Kajian Teori

9. Materi Sistem Peredaran Darah

Sistem peredaran darah pada manusia tersusun dari darah, pembuluh darah, dan jantung sebagai pusat peredaran darah.

a. Darah

Darah merupakan jaringan terspesialisasi yang mencangkup cairan kekuningan, disebut plasma darah, dan sel-sel darah yang tersuspensi di dalamnya. Sel-sel darah terdiri atas sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit). Komposisi plasma dalam dalam darah sekitar 55%, sedangkan sel-sel darah dan trombosit sekitar 45%. Fungsi utama darah pada manusia adalah sebagai berikut: 1) mengangkut oksigen ke jaringan di seluruh tubuh, 2) mengangkut sari-sari makanan (nutrien) ke seluruh tubuh, 3) mengangkut sisa-sisa metabolisme, misalnya karbon dioksida, urea dan asam

29 Ibid., h. 25.

30 Ahmad Sofyan, Tonih Feronika, Burhanudin Milama, Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), h. 14.

laktat ke alat eksresi, 4) mengedarkan hormon (hasil seksresi) dari kelenjar hormon ke tempat yang membutuhkan, 5) melawan bibit penyakit dan melakukan mekanisme pembekuan darah, 6) mengatur pH tubuh dan suhu tubuh.31

1. Plasma darah

Plasma darah berguna dalam pengaturan tekanan osmosis darah sehingga dengan sendirinya jumlahnya dalam tubuh akan diukur, misalnya melalui proses eksresi. Plasma darah juga bertugas membawa sari-sari makanan, sisa metabolisme, hasil sekresi, dan beberapa gas.

Pada manusia, plasma darah mengandung sekitar 92% air, protein dan senyawa organik lainnya, serta garam anorganik, terutama NaCL. Protein yang larut dalam darah disebut protein darah, terdiri atas albumin, globulin, dan protein pembentukan darah. Plasma darah yang tidak mengandung protein penggumpalan darah (misalnya fibrinogen dan protrombin) disebut serum.32

2. Eritrosit

Sel-sel darah merah, atau eritrosit (erythrocytes), sejauh ini merupakan sel-sel darah yang paling banyak. Fungsi utamanya adalah transport O2, dan strukturnya terkait erat dengan fungsi tersebut. Eritrosit-eritrosit manusia merupakan cakram kecil yang bikonkaf lebih tipis di bagian tengah daripada bagian tepi. Bentuk ini memperluas area permukaan, sehingga meningkatkan laju difusi O2 melintasi membran-membran plasmanya. 33 3. Leukosit

leukosit dalam darah terdapat enam jenis, yaitu neutrofil, eosinofil, basofil, monosit, limfosit, dan sel plasma. Neutrofil, eosinofil, basofil memiliki granula-granula sehingga sering disebut granulosit, sedangkan monosit dan limfosit disebut agranulosit karena tidak bergranula.34

31 D.A Pratiwi, Sri Maryati, Suharno, Bambang S, Biologi untuk SMA/MA Kelas XI, (Jakarta:

Erlangga, 2013), h. 143.

32 Ibid., h. 143-144.

33 Neil A. Campbell dan Jane B. Reece, Biologi edisi 8 jilid 3, (Jakarta: Erlangga, 2008), h. 71.

34 Pratiwi, op. cit., h.148.

Fungsinya adalah untuk memerangi infeksi. Sebagian di antaranya bersifat fagositik, menelan dan mencerna mikroorganisme-mikroorganisme maupun sisa-sisa dari sel-sel tubuh yang sudah mati.35

4. Keping-Keping Darah

Trombosit merupakan sel darah yang dapat membekukan darah. Keping darah berbentuk cakram dan tidak berinti. Masa hidupnya sekitar 8-10 hari.

Setelah itu, keping darah akan dibawa ke limpa untuk dihancurkan. Jumlah keping darah adalah 150 ribu-400 ribu per mm3 darah.

Fungsi utamanya adalah sebagai sistem pertahanan, yaitu untuk mengaktifkan mekanisme pembekuan darah. Pembekuan darah adalah suatu proses ketika dinding pembuluh darah yang rusak ditutup oleh gumpalan fibrin agar pendarahan berhenti. Pembekuan darah juga membantu memperbaiki dinding pembuluh darah yang rusak.36

5. Penggolong darah

Golongan darah manusia dibedakan berdasarkan komposisi aglutinogen dan aglutininnya. Aglutinogen adalah antigen-antigen dalam eritrosit yang membuat sel peka terhadap aglutinasi (penggumpalan darah). Aglutinogen disebut zat spesifik golongan karena digunakan untuk menentukan golongan darah.

Aglutinin adalah substansi yang menyebabkan aglutinasi sel, misalnya antibodi yang terdapat dalam plasma darah.37

Golongan darah sistem ABO, darah digolongkan menjadi empat macam, yaitu A, B, AB, dan O untuk tujuan transfusi darah. Berikut Tabel 2.1 Penggolongan Darah .38

35 Campbell, loc. cit.

36 Pratiwi, loc. cit.

37 Ibid., h. 149.

38 Ibid., h. 150.

Tabel 2.1 Penggolongan Darah

Resipien merupakan orang yang mendapat darah dan pemberi darah disebut donor. Golongan darah O dapat memberikan darahnya ke semua golongan darah sehingga disebut donor universal. Hal ini terjadi karena sel-sel golongan darah O tidak mengandung kedua aglutinogen sehingga sejumlah kecil dari darah ini dapat ditransfusikan ke hampir setiap resipien tanpa terjadi reaksi aglutinasi dengan cepat. Golongan darah AB disebut resipien universal karena dapat menerima darah dari semua golongan darah. Perhatikan tabel berikut.39

Tabel 2.2 Skema Transfusi Darah

b. Pembuluh darah

Arteri, vena, dan kapiler adalah tiga tipe utama pembuluh darah. Pada masing-masing tipe, darah mengalir hanya ke satu arah. Arteri (artery) membawa darah menjauhi jantung ke organ-organ di seluruh tubuh. Di dalam organ-organ, arteri bercabang-cabang menjadi arteriola (arteriole),

39 Ibid., h. 152.

pembuluh darah kecil yang mengangkut darah ke kapiler-kapiler. Kapiler (capillary) adalah pembuluh-pembuluh mikroskopik dengan dinding-dinding yang sangat tipis berpori-pori. Pada ujung “hilir”, kapiler-kapiler bergabung menjadi venula, dan venula-venula bergabung menjadi vena (vein), pembuluh-pembuluh yang membawa darah kembali ke jantung.

Arteri dan vena dibedakan dari arah aliran darah yang diangkutnya, bukan dari kandungan O2 atau karakteristik-karakteristik darah lain yang dikandungnya. Arteri membawa darah dari jantung menuju ke kapiler, dan vena mengembalikan darah ke jantung dari kapiler.40

c. Jantung

Jantung terdiri atas empat ruang, yakni dua serambi (atrium) dan dua bilik (ventrikel). Fungsi serambi adalah sebagai tempat lewatnya darah dari luar jantung ke bilik, akan tetapi serambi juga dapat berfungsi sebagai pompa yang lemah sehingga membantu aliran darah dari serambi ke bilik. Jantung dibentuk terutama oleh tiga jenis otot jantung (miokardia), yaitu otot serambi, otot bilik, serta serabut otot perangsang dan penghantar khusus.41

Gambar 2.2 Struktur Anatomi Jantung

40 Campbell, op. cit., h. 58.

41 Pratiwi, op. cit., h. 155-156.

Otot-otot jantung bekerja (berkontraksi) dengan sendirinya tanpa kehendak kita. Pada manusia yang normal, umumnya jantung berkontraksi 72 kali setiap menit dan memompa darah 60 cm3. Periode dari suatu akhir kontraksi hingga akhir kontraksi berikutnya disebut siklus jantung. Siklus jantung terdiri atas periode relaksasi yang dinamakan diastole, yaitu jika serambi jantung menguncup dan bilik jantung mengembang. Periode kontraksi dinamakan sistole, yaitu jika otot bilik jantung menguncup dan darah di dalam bilik dipompa ke pembuluh nadi paru-paru (arteri pulmonalis) dan ke aorta secara bersamaan.42

d. Peredaran Darah Manusia

Peredaran darah dalam tubuh manusia terdiri dari dua macam. Pertama, peredaran darah dari bilik kanan jantung menuju paru-paru melewati arteri pulmonalis dan kembali ke serambi kiri jantung melewati vena pulmonalis, disebut peredaran darah kecil. Kedua, peredaran darah dari bilik kiri jantung ke seluruh tubuh melalui aorta dan akhirnya kembali ke serambi kanan jantung melalui vena kava, disebut peredaran darah besar. Oleh karena itu, manusia dikatakan memiliki peredaran darah ganda.43

e. Kelainan dan Gangguan pada Sistem Peredaran Darah

Kelainan atau gangguan pada sistem peredaran darah manusia antara lain sebagai berikut: 1) anemia (kurang darah) disebabkan kurangnya kadar HB atau kurangnya jumlah eritrosit dalam darah, 2) varises merupakan pelebaran pembuluh darah di betis, 3) hemoroid (ambeien) merupakan pelebaran pembuluh darah di sekitar anus, 4) arteriosklerosis merupakan pengerasan pembuluh nadi karena timbunan atau endapan kapur, 5) atherosklerosis merupakan pengerasan pembuluh nadi karena endapan lemak, 6) embolus disebabkan pembuluh darah karena benda yang bergerak, 7) hemofilia disebabkan oleh kelainan darah yang sukar membeku karena faktor hereditas atau keturunan, 8) leukemia atau kanker darah merupakan bertambahnya leukosit secara tak terkendali, 9) penyakit

42 Ibid., h. 157.

43 Ibid., h. 158.

jantung koroner atau PJK disebabkan penyempitan arteri koronaria yang berfungsi mengangkut O2 ke jantung,44 10) serangan jantung juga disebut infraksi miokardial adalah kerusakan atau kematian jaringan otot jantung akibat dari penyumbatan satu atau lebih arteri koroner, 11) stroke adalah kematian jaringan saraf di otak akibat kekurangan O2. Stroke biasanya diakibatkan oleh pecahnya atau tersumbatnya arteri di kepala.45

f. Teknologi Pada Sistem Peredaran Darah

Berbagai teknologi telah dikembangkan untuk mendiagnosis gangguan pada sistem peredaran darah dan upaya pengobatan serta penanganannya. Beberapa contoh teknologi yang berkaitan dengan sistem peredaran darah adalah sebagai berikut 1) ekokardiografi merupakan suatu teknik untuk mengetahui struktur internal dan gerakan jantung serta pembuluh darah yang besar tanpa memasukan alat ke dalam tubuh pasien, 2) pemindaian dengan bahan radioaktif merupakan cara yang aman untuk mendeteksi penyakit jantung, metode ini dilakukan untuk mengetahui aliran darah di arteri jantung dan untuk mengetahui fungsi ventrikel, 3) angioplasti dilakukan untuk membuka aliran darah pada pembuluh darah yang tersumbat oleh plak (timbunan lemak), 4) operasi bypass jantung dilakukan terhadap pasien yang menderita penyumbatan pembuluh darah arteri jantung.46 B. Hasil Penelitian Relevan

Beberapa hasil penelitian terkait dengan judul penelitian penulis, di antaranya sebagai berikut:

Hasil penelitian Karina Koestiarti, yang berjudul Pengaruh Model Pembelajaran Creative Problem Solving terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa pada Konsep Virus pada tahun 2014, menunjukan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran creative problem solving terhadap hasil belajar biologi siswa. Kesimpulan yang didapat yaitu pembelajaran dengan model pembelajaran

44 Ibid., h. 159-160.

45 Campbell, op. cit., h. 73

46 Pratiwi, op. cit h. 160-161.

creative problem solving memberikan pengaruh positif terhadap hasil belajar biologi siswa.47

Hasil penelitian Ummu Hanifah, yang berjudul Pengaruh Skill Argument Mapping terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa Melalui Model Discovery Learning, menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara skill argument mapping terhadap hasil belajar siswa dalam ranah kognitif.48

Hasil penelitian K.S.K Wardani, A.N Rahmatih, N.L.P.N Sriwarthini, Nurwahidah, F.P Astria yang berjudul Pengaruh Model Pembelajaran Creative Problem Solving terhadap Hasil Belajar Siswa, menunjukan adanya perbedaan skor rata-rata hasil belajar siswa yang signifikan antara kelompok siswa yang belajar melalui creative problem solving dan kelompok siswa yang belajar dengan model konvensional. Creative problem solving lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa daripada model konvensional.49

Hasil penelitian Intan Pratiwi, Nurbaya, Sri Indrawati yang berjudul Pengaruh Strategi Creative Problem Solving terhadap Kemampuan Menulis Karangan Argumentasi Siswa Kelas X SMA Srijaya Negara Palembang, menunjukan adanya pengaruh peningkatan hasil belajar dalam menulis karangan argumentasi menggunakan strategi creative problem solving.50

C. Kerangka Pikir

Pendidikan merupakan hal yang terpenting untuk setiap manusia.

Pendidikan saat ini terus berkembang dan sudah memasuki zaman yang modern dalam hal pembelajaran. Pembelajaran merupakan upaya yang dilakukan oleh guru untuk mentransfer ilmu kepada peserta didik, sehingga peserta didik

47 Karina Koestiarti, Pengaruh Model Pembelajaran Creative Problem Solving terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa pada Konsep Virus, Skripsi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2014, h. 60.

48 Hanifah, op. cit., h. 91.

49 Wardani, Rahmatih, Sriwarthini, Nurwahidah, dan Astria, op. cit., h. 17.

50 Intan Pratiwi, Nurbaya, Sri Indawati, Pengaruh Strategi Creative Problem Solving terhadap Kemampuan Menulis Karangan Argumentasi Siswa Kelas X SMA Srijaya Negara Palembang, E-Journal FKIP UNSRI, Vol 3 No 1, 2016, h. 36.

mendapatkan ilmu yang dapat dipelajarinya. Keberhasilan peserta didik dalam pembelajaran juga dapat dilihat dari prestasi dan hasil belajar yang dicapainya.

Hasil belajar peserta didik juga dapat dipengaruhi berbagai faktor seperti metode yang digunakan guru dan strategi yang diterapkan guru.

Pengalaman pemecahan masalah diperlukan dalam pembelajaran karena dapat mengkonstruksikan pengetahuan secara bermakna. Model pembelajaran creative problem solving (CPS) adalah suatu model pembelajaran yang melakukan pemusatan pada pengajaran pemecahan masalah dan keterampilan memecahkan masalah. Model pembelajaran creative problem solving (CPS) menempatkan peserta didik pada situasi yang nyata, karena masalah yang ditampilkan merupakan masalah yang kompleks, bermakna, dengan pemecahan yang kreatif dari peserta didik.

Model creative problem solving (CPS) dengan teknik argument mapping dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berargumentasi karena berusaha meyakinkan pembaca untuk menerima suatu kebenaran dengan mengajukan bukti-bukti atau fakta-fakta yang menguatkan argumen penulis.

Argument mapping memungkinkan untuk melihat secara tepat bagaimana setiap bagian dari argumen saling terkait dengan argumen lainnya.

Gambar 2.2 Kerangka Berpikir

D. Hipotesis Penelitian

Hipotesis pada penelitian ini adalah bahwa model pembelajaran creative problem solving dengan argument mapping dapat meningkatkan hasil belajar biologi peserta didik pada konsep sistem peredaran darah.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 5 Depok. Penelitian ini dilaksanakan pada semester II tahun ajaran 2020/2021.

B. Metode dan Desain Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Pre-Experimental design, desain ini belum merupakan eksperimen yang sungguh-sungguh karena masih terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel dependen.1 Penelitian ini terdiri dari satu variabel bebas dan satu variabel terikat. Sebagai variabel perlakuan adalah model creative problem solving dengan argument mapping sedangkan variabel terikat adalah hasil belajar peserta didik.

Penelitian ini hanya menggunakan satu kelompok tanpa ada kelompok pembanding. Desain penelitian yang digunakan adalah One-Group Pretest-Posttest Design, yaitu terdapat pretest sebelum diberi perlakuan. Dengan demikian, hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan.2

Menurut Arikunto desain One-Group Pretest-Posttest Design3 dinyatakan dalam Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Desain Penelitian

Kelompok Pretest Perlakuan Posttest

Eksperimen O1 X O2

Keterangan:

O1 = Pretest

1 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2007), h.

74.

2 Ibid.

3 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2019), h. 124.

O2 = Posttest

X = Pemberian perlakuan (treatment)

C. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi

Populasi merupakan keseluruhan responden yang mempunyai sifat umum yang sudah diidentifikasi, saat ini dipakai oleh peneliti sebagai sumber informasi yang lebih spesifik.4 Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik SMAN 5 Depok.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.5 Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini simple random sampling, peneliti memberi hak yang sama kepada setiap subjek untuk memperoleh kesempatan (change) dipilih menjadi sampel.6 Peneliti mengambil 1 kelas secara acak dari populasi. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kelas XI MIPA 2 yang terdiri dari 35 peserta didik.

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah teknik tes dan non tes. Dalam penelitian pendidikan, tes ialah kumpulan pertanyaan atau soal yang harus dijawab oleh peserta didik dengan menggunakan pengetahuan-pengetahuan serta kemampuan penalarannya.7 Tes yang digunakan yaitu sebelum pembelajaran dilakukan (pretest) dan setelah pembelajaran dilakukan (posttest). Sedangkan teknik non tes digunakan lembar kerja kelompok dan lembar observasi yang berfungsi untuk mengetahui keterlaksanaan model pembelajaran creative problem solving.

4 Asep Kurniawan, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2018), h.

282.

5 Salim Haidir, Penelitian Pendidikan Metode, Pendekatan, dan Jenis, (Jakarta: Kencana, 2019), h. 75.

6 Arikunto, op. cit., h. 177.

7 Ibid., h. 53.

E. Instrumen Penelitian

Pada penelitian ini instrumen penelitian yang digunakan yaitu tes objektif berupa pilihan ganda dan non tes. Peserta didik diminta mengisi dan menjawab tes yang diberikan. Peserta didik diminta untuk memberikan alasan dengan membuat argument mapping sesuai pengetahuan yang dimiliki. Observasi dilakukan untuk mengadakan pencatatan mengenai aktivitas guru dan peserta didik dalam belajar mengajar dengan menggunakan model creative problem solving pada pembelajaran di kelas. Data yang diperoleh dari lembar observasi bertujuan untuk mengetahui aktivitas guru dan peserta didik dengan menggunakan model creative problem solving.

1. Instrumen Tes

Soal tes diberikan dalam bentuk pretest dan posttest. Lembar tes tertulis dalam penelitian ini berupa pilihan ganda. Instrumen terlebih dahulu diuji coba untuk mengetahui validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda soal.

Kisi-kisi instrumen tes dapat dilihat dalam Tabel 3.2.

Tabel 3.2 Kisi-Kisi Instrumen Hasil Belajar

Materi C1 C2 C3 C4 C5 C6 Jumlah

teknologi dalam sistem peredaran darah

Jumlah 7 6 3 8 4 2 30

Keterangan : * Soal yang valid

2. Instrumen Non Tes

Instrumen penelitian non tes menggunakan lembar kerja kelompok dan lembar observasi. Data yang diperoleh dari lembar kerja kelompok dan lembar observasi akan menjadi data pendukung (data sekunder) dari data instrumen tes (data primer).

a. Lembar Kerja Kelompok

Lembar kerja kelompok terintegrasi dengan argument mapping atau peta argumen diberikan kepada satu kelas sebagai kelas penelitian. Peserta didik dituntut untuk menjawab setiap pertanyaan pada lembar kerja kelompok dengan tahap creative problem solving menggunakan argument mapping.

b. Lembar Observasi

Lembar observasi ditunjukan untuk guru dan peserta didik pada kelas.

Lembar observasi guru bertujuan untuk mengetahui ketercapaian proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Sedangkan lembar observasi peserta didik untuk mengetahui ketercapaian proses pembelajaran peserta didik.

F. Prosedur Penelitian

Penelitian ini terdiri dari tiga tahapan prosedur penelitian, yaitu tahap pendahuluan, tahap pelaksanaan, dan tahap akhir.

a. Tahap Pendahuluan

Tahap pendahuluan dilakukan dengan observasi ke sekolah terkait dan telaah pustaka untuk rencana pembelajaran pada konsep sistem peredaran darah.

Selanjutnya, mengurus surat izin penelitian dari Fakultas Ilmu Tarbiah dan

Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kemudian merancang perangkat pembelajaran yang akan digunakan dalam penelitian. Melakukan koordinasi dengan guru biologi terkait dalam hal waktu penelitian dan proses penelitiannya.

Hal ini dilakukan bersamaan dengan menganalisis jurnal-jurnal pendukung, buku pembelajaran peserta didik, dan menyusun instrumen penelitian berupa tes pilihan ganda, lembar kerja kelompok, dan lembar observasi. Setelah koordinasi dengan pihak sekolah mengenai waktu penelitian dan teknisnya, dilakukanlah uji coba instrumen. Selanjutnya, mengolah hasil uji coba instrumen yang kemudian akan digunakan dalam pengambilan data dengan jumlah soal yang valid.

b. Tahap Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan dimulai dengan menentukan satu kelompok sampel yang akan menjadi kelas penelitian. Sebelum memulai pembelajaran diadakan pretest dengan menggunakan soal-soal yang telah dianalisis dan valid. Selanjutnya, peneliti menginstruksikan untuk membagi kelompok dan membuat grup whatsapp sesuai dengan kelompoknya masing-masing.

Peserta didik melaksanakan pembelajaran dengan model creative problem solving yang terintegrasi dengan argument mapping. Guru menjelaskan pembelajaran melalui pembelajaran daring. Peserta didik dituntut untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam lembar kerja kelompok dengan tahapan creative problem solving menggunakan bentuk argument mapping. Peserta didik mengerjakan dalam grup whatsapp yang telah dibuat dan mempresentasikannya melalui zoom meeting.

Proses pembelajaran disesuaikan dengan rencana proses pembelajaran (RPP) yang telah dibuat yaitu sebanyak dua pertemuan. Setelah diberi perlakuan, dilanjutkan tes akhir (posttest) dengan menggunakan soal-soal yang sama ketika dilakukan tes awal (pretest). Tes akhir (posttest) merupakan langkah akhir dalam tahap pembelajaran.

c. Tahap Akhir

Tahap akhir pada penelitian ini yaitu mengoreksi dan mengolah data hasil tes pilihan ganda dalam bentuk nilai atau angka. Nilai data hasil tes pilihan ganda

pada hasil pretest dan posttest tersebut kemudian diolah dengan analisis statistik.

Analisis statistik kemudian dijabarkan dalam pembahasan. Tahap akhir dari penelitian ini adalah membuat kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan. Alur penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.1.

Studi pendahuluan

Indikator hasil belajar

Pembuatan RPP dan lembar kerja kelompok Analisis KI dan KD

biologi sesuai kurikulum 2013

Analisis tahapan model creative problem solving

dan argument mapping

Tahap Persiapan

Pembuatan instrumen penelitian

Pembuatan soal pilihan

ganda Validasi soal

Mengolah hasil uji coba instrumen dengan anates

versi 4.04

Tahap Pelaksanaan Pretest

Model creative problem solving dengan argument

mapping

Posttest

Tahap Akhir Analisis data Kesimpulan

Pembuatan irisan model creative problem solving

dengan argument mapping

Gambar 3.1 Alur Penelitian

G. Kalibrasi Instrumen

Instrumen penelitian yang akan digunakan diuji coba kepada responden.

Diuji cobakan kepada responden diluar kelas penelitian, yaitu peserta didik kelas XII SMAN 5 Depok. Kemudian instrumen diukur tingkat validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya beda.

Perhitungan kalibrasi instrumen dalam penelitian ini menggunakan program anates versi 4.04. Langkah-langkah yang dilakukan sebagai berikut: 1) program anates dibuka, 2) klik jalankan anates pilihan ganda, 3) klik buat file baru, 4) kolom jumlah subyek/peserta didik dan butir soal diisi, 5) kode subyek/peserta didik ditulis pada kolom yang telah disediakan, 6) skor maksimal dimasukkan dari kunci jawaban yang dimiliki, 7) kembali ke menu utama dan klik penskoran, 8) klik olah otomatis dan simpan data yang muncul.

1. Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat keandalan atau kesahihan suatu alat ukur. Jika instrumen dikatakan valid berarti menunjukan alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data itu valid sehingga valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur.8

Kriteria penafsiran indeks korelasi (r) dapat menunjukan suatu instrumen tersebut valid atau tidak. Jika instrumen itu valid, maka dilihat kriteria penafsiran mengenai indeks korelasinya pada Tabel 3.3 berikut.

Tabel 3.3 Besarnya Koefisien Validitas

Koefisien Kriteria Nomor Soal

0.800-1.00 Sangat Tinggi

0.600-0.800 Tinggi

8 Riduwan, Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula, (Bandung:

Alfabeta, 2012), h. 97.

0.400-0.600 Cukup 2, 4, 6, 8, 9, 10, 16, 17, 18,19

0.200-0.400 Rendah 3*, 5,* 7*, 11, 12*,

13*, 14*, 15*, 20*, 21*, 22*, 23, 24, 27*,

28*, 30*

0.000-0.200 Sangat Rendah 1*, 25,* 26*, 29*

Keterangan: * soal tidak valid dan tidak digunakan

Hasil perhitungan uji validitas menggunakan software Anates versi 4.04, diperoleh data dari 30 soal pilihan ganda yang diuji cobakan terdapat 13 soal yang valid. Besar nilai validitas rata-rata korelasi nilai r sebesar 0,52 termasuk kriteria cukup.

2. Reliabilitas

Reliabilitas (rely + ability = reliability) bermakna: keterpercayaan, keterandalan, keajegan, kestabilan, atau konsistensi; dapat diartikan sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya dan konsisten.9 Mengklasifikasikan tingkat reliabilitas berdasarkan interpretasi indeks reliabilitas terdapat pada Tabel 3.4.10

Tabel 3.4 Interpretasi Indeks Reliabilitas

No Koefisien Reliabilitas Tingkat Reliabilitas

1 0,800-1,000 Sangat tinggi

2 0,600-0,799 Tinggi

3 0,400-0,599 Cukup

9 Sofyan, Feronika, op. cit., h. 105.

10 V. Wiratna Sujarweni, SPSS untuk Penelitian, (Yogyakarta: Pustaka Baru Press, 2014), h. 99.

4 0,200-0,399 Rendah

5 0,00-0,199 Sangat rendah

Instrumen mempunyai indeks keandalan atau reliabilitas yang baik menurut

Instrumen mempunyai indeks keandalan atau reliabilitas yang baik menurut

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh : Azka Hasya Zharfani (Halaman 32-0)

Dokumen terkait