• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Oleh : Azka Hasya Zharfani

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI. Oleh : Azka Hasya Zharfani"

Copied!
232
0
0

Teks penuh

(1)

DESKRIPSI HASIL BELAJAR MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING (CPS) DENGAN

ARGUMENT MAPPING PADA KONSEP SISTEM PEREDARAN DARAH PADA MASA PANDEMI COVID-19

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh :

Azka Hasya Zharfani 11150161000046

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 2021

(2)

Nama : Azka Hasya Zharfani

Tempat/Tgl.Lahir : Bandung, 19 September 1997

NIM : 11150161000046

Jurusan / Prodi : Pendidikan Biologi

Judul Skripsi : Deskripsi Hasil Belajar Menggunakan Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dengan Argument Mapping pada Konsep Sistem Peredaran Darah pada Masa Pandemi Covid-19 Dosen Pembimbing I : Dr. Sujiyo Miranto, M.Pd

Dosen Pembimbing II : Meiry Fadilah Noor, M.Si

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya buat benar-benar hasil karya sendiri dan saya bertanggung jawab secara akademis atas apa yang saya tulis.

Pernyataan ini dibuat sebagai salah satu syarat menempuh Ujian Munaqasah.

Jakarta, 13 Juni 2021 Mahasiswa Ybs.

Azka Hasya Zharfani NIM. 11150161000046

KEMENTERIAN AGAMA

FORM (FR)

No.

Dokumen

: FITK-FR- AKD-089 UIN JAKARTA Tgl. Terbit : 1 Maret 2010

FITK No. Revisi: : 01

Jl. Ir. H. Juanda No 95 Ciputat 15412 Indonesia

Hal : 1/1

SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI

(3)

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI

Skripsi berjudul Deskripsi Hasil Belajar Menggunakan Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dengan Argument Mapping Pada Konsep Sistem Peredaran Darah pada Masa Pandemi Covid-19 disusun oleh Azka Hasya Zharfani, NIM, 11150161000046, Pendidikan Biologi, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Telah melalui bimbingan dan dinyatakan sah sebagai karya ilmiah yang berhak untuk diujikan pada sidang munaqasah sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh fakultas.

Jakarta, 23 Juni 2021

Yang Mengesahkan,

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Dr. Sujiyo Miranto, M.Pd Meiry Fadilah Noor, M.Si NIP.196812282000031003 NIP. 198005162007102001

(4)

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi berjudul Deksripsi Hasil Belajar Menggunakan Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dengan Argument Mapping pada Konsep Sistem Peredaran Darah pada Masa Pandemi Covid-19 disusun oleh AZKA HASYA ZHARFANI, NIM. 11150161000046, diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan telah dinyatakan lulus dalam Ujian Munaqasah pada tanggal 16 Juli 2021 di hadapan dewan penguji. Karena itu, penulis berhak memperoleh gelar sarjana S1 (S.Pd) dalam bidang Pendidikan Biologi.

Jakarta, 16 Juli 2021

Panitia Ujian Munaqasah

Ketua Panitia Tanggal Tanda Tangan

(Ketua Program Studi Pendidikan Biologi) Dr. Yanti Herlanti, M.Pd.

NIP. 197101192008012010

Penguji I

Dr. Yanti Herlanti, M.Pd.

NIP. 197101192008012010 Penguji II

Yuke Mardiati, M.Si NIP. 197601172007012013

Mengetahui,

Dekan Fakultas Tarbiah dan Keguruan

Dr. Sururin, M.Ag.

NIP. 197103191998032001

3 Agustus 2021

30 Juli 2021

2 Agustus 2021

(5)

ABSTRAK

Azka Hasya Zharfani (11150161000046): Deskripsi Hasil Belajar Menggunakan Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dengan Argument Mapping pada Konsep Sistem Peredaran Darah pada Masa Pandemi Covid-19, Skripsi, Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Tarbiah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model pembelajaran creative problem solving dengan argument mapping dapat meningkatkan hasil belajar biologi peserta didik pada konsep sistem peredaran darah. Metode penelitian menggunakan rancangan pre-Experimental design dengan desain penelitian One-Group Pretest-Posttest design. Penelitian ini melibatkan 35 peserta didik kelas XI di SMA Negeri 5 Depok. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling. Sampel dibagi menjadi satu kelas dengan proses pembelajaran menggunakan model Creative Problem Solving (CPS) dengan Argument Mapping. Instrumen penelitian yang digunakan berupa tes hasil belajar dalam bentuk pilihan ganda. Hasil yang diperoleh yaitu rata-rata pretest sebesar 50,09 dan posttest sebesar 74,20 dengan hasil N-Gain sebesar 0,46 berkategori sedang. Dapat disimpulkan bahwa model Creative Problem Solving terintegrasi Argument Mapping dapat meningkatkan hasil belajar biologi peserta didik pada konsep sistem peredaran darah.

Kata kunci: model Creative Problem Solving, Argument mapping, hasil belajar.

(6)

ABSTRACT

Azka Hasya Zharfani (11150161000046): “Description of Learning Outcomes Using the Creative Problem-Solving (CPS) Learning Model with Argument Mapping on the Concept of Circulatory System during the Covid- 19 Pandemic”. Undergraduate Thesis, Biology Education Study Program, Science Education Department, Faculty of Tarbiya and Teachers’ Training, State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta.

This research was conducted to investigate whether Creative Problem Solving (CPS) learning model with Argument Mapping can improve the students’ biology learning outcomes about the concept of circulatory system. This research employed pre-Experimental design as the research method and One-Group Pretest-Posttest as the research design. There were 35 students at XI grade of SMA Negeri 5 Depok as the sample of this research. This research applied simple random sampling technique to take the sample. The sample was divided into one class by using Creative Problem Solving learning model with Argument Mapping. Test was used as the research instrument by using multiple choice form. The research finding illustrated that the average score of pretest was obtained 50.09 and posttest by 74.02 with an N-Gain result of 0.46 in the medium category. It can be inferred that Creative Problem Solving learning model that integrated by Argument Mapping can be used to improve the students’ biology learning otucomes in comprehending the concept of circulatory system.

Keyword: creative problem solving learning model, argument mapping, learning outcomes

(7)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrrahmanirrahiim.

Assalamualaikum wr wb.

Alhamdulillah, segala puji syukur ke hadirat Allah SWT. yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya. Salawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan umatnya. Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT. yang telah memberikan kemudahan menyelesaikan skripsi dengan judul “Deskripsi Hasil Belajar Menggunakan Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dengan Argument Mapping pada Konsep Sistem Peredaran Darah pada Masa Pandemi Covid-19”

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan.

Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu memberi arahan, bimbingan serta motivasi kepada peneliti. Sehingga skripsi ini dapat selesai. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:

1. Dr. Sururin, M.Ag Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Dr. Yanti Herlanti, M. Pd Ketua Program Studi Pendidikan Biologi.

3. Dr. Sujiyo Miranto, M.Pd Dosen Pembimbing I yang telah memberikan arahan dan bimbingan kepada peneliti selama penyusun skripsi sekaligus Dosen Penasehat Akademik (PA) yang selalu membimbing peneliti selama mengikuti perkuliahan.

4. Meiry Fadilah Noor, M.Si Dosen Pembimbing II yang telah memberikan arahan dan bimbingan kepada peneliti selama penyusunan skripsi.

5. Kedua Orang Tua Tercinta, Bapak Jamal Arifin S. Pd dan Ibu Enan Sumarni yang selalu memberikan do’a, dukungan, semangat serta kasih sayang kepada peneliti.

6. Kedua adik-adikku, Firyal Hasna Khairunnisa dan Shakeil Abqari Haufanhazza yang selalu memberikan semangat dan dukungan kepada peneliti.

(8)

7. Seluruh Dosen dan staff jurusan Pendidikan Biologi yang telah mendidik dan memberikan ilmu selama peneliti mengenyam pendidikan.

8. Keluarga besar Pendidikan Biologi 2015 Mimosa A dan Mimosa B.

9. Teman-teman seperjuangan yang selalu memberikan dukungan dan motivasi, khususnya Della Rachma Putri, Firda Dwi Cahyani, Like Herawati, Dyah Ayu Widyowati, Hasna Chairunnisa, Syifa Alwahidah, Irna Mai Rani, Galuh Sheladevi Prastiti, dan Trisnaning Diah Dwi Rahmawati.

10. Gilang Sucahyo yang selalu hadir dan memberikan dukungan dalam kondisi apapun, serta memberikan motivasi dalam penyelesaian skripsi.

Kepada semua pihak yang telah membantu peneliti semoga Allah SWT membalas kebaikan yang telah diberkan. Peneliti sangat terbuka terhadap kritik dan saran yang membangun terkait penelitian dan penulisan hasil penelitian agar dapat menjadi pembelajaran di kemudian hari. Akhir kata semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi perkembangan dunia pendidikan ke depannya.

Wassalamualaikum wr wb.

Jakarta, 13 Juni 2021

Azka Hasya Zharfani

(9)

DAFTAR ISI

SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI ... i

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

ABSTRAK ... iv

ABSTRACT ...v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ...x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB I ...1

PENDAHULUAN...1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 6

C. Pembatasan Masalah ... 6

D. Ruang Lingkup Penelitian ... 7

E. Perumusan Masalah ... 7

F. Tujuan Penelitian... 7

G. Kegunaan Penelitian... 7

BAB II ...9

KAJIAN TEORI ...9

A. Kajian Teori ... 9

1. Model Pembelajaran Creative Problem Solving ... 9

2. Tahap-Tahap Creative Problem Solving (CPS) ... 11

3. Keunggulan Model Creative Problem Solving ... 12

4. Kelemahan Model Creative Problem Solving ... 14

5. Argument Mapping (Peta Argumen) ... 14

6. Keunggulan Argument Mapping (Peta Argumen) ... 16

7. Contoh Argument Mapping ... 17

8. Hasil belajar ... 18

9. Materi Sistem Peredaran Darah ... 19

(10)

B. Hasil Penelitian Relevan ... 25

C. Kerangka Pikir ... 26

D. Hipotesis Penelitian ... 29

BAB III ...30

METODOLOGI PENELITIAN ...30

A. Tempat dan Waktu ... 30

B. Metode dan Desain Penelitian ... 30

C. Populasi dan Sampel Penelitian ... 31

D. Teknik Pengumpulan Data ... 31

E. Instrumen Penelitian... 32

F. Prosedur Penelitian... 33

G. Kalibrasi Instrumen ... 37

H. Teknik Analisis Data ... 41

BAB IV ...44

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...44

A. Hasil Penelitian ... 44

1. Pelaksanan Pembelajaran di Kelas ... 44

2. Hasil Observasi ... 46

3. Data Lembar Kerja Kelompok dalam Bentuk Argument Mapping ... 47

4. Data Hasil Belajar Peserta Didik ... 68

5. Data Rata-Rata Nilai Lembar Kerja Kelompok ... 69

6. Data Observasi Kegiatan Guru dan Peserta Didik ... 69

7. Data Ketercapaian Hasil Belajar Jenjang Kognitif ... 71

8. Pengujian Prasyarat Analisis Data ... 72

B. PEMBAHASAN ... 74

BAB V ...81

KESIMPULAN DAN SARAN ...81

A. Kesimpulan ... 81

B. Saran ... 81

DAFTAR PUSTAKA ...82

LAMPIRAN ...87

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Penggolongan Darah ... 22

Tabel 2.2 Skema Transfusi Darah ... 22

Tabel 3.1 Desain Penelitian ... 30

Tabel 3.2 Kisi-Kisi Instrumen Hasil Belajar ... 32

Tabel 3.3 Besarnya Koefisien Validitas ... 37

Tabel 3.4 Interpretasi Indeks Reliabilitas ... 38

Tabel 3.5 Rentang Indeks Kesukaran ... 40

Tabel 3.6 Interpretasi Indeks Diskriminasi Tiap Butir Soal ... 41

Tabel 4.1 Persentase Hasil Argumentasi dalam Argument Mapping ... 47

Tabel 4.2 Hasil Lembar Kerja Kelompok dalam Bentuk Argument Mapping ... 48

Tabel 4.3 Statistik Hasil Pretest dan Posttest ... 68

Tabel 4.4 Hasil Uji N-Gain ... 69

Tabel 4.5 Hasil Rata-Rata Nilai Lembar Kerja Kelompok ... 69

Tabel 4.6 Hasil Lembar Observasi Kegiatan Guru Model Creative Problem Solving ... 70

Tabel 4.7 Hasil Lembar Observasi Kegiatan Peserta didik Model Creative Problem Solving... 71

Tabel 4.8 Ketercapaian Pretest dan Posttest Jenjang Kognitif ... 72

Tabel 4.9 Data Hasil Uji Normalitas Pretest dan Posttest ... 73

Tabel 4.10 Data Hasil Uji Homogenitas Pretest dan Posttest ... 73

(12)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Contoh Model Argumentasi Toulmin ... 18

Gambar 2.2 Struktur Anatomi Jantung ... 23

Gambar 2.3 Kerangka Berpikir ... 28

Gambar 3.1 Alur Penelitian ... 36

Gambar 4.1 Hasil Lembar Kerja Kelompok Peserta didik Tergolong Baik ... 77

Gambar 4.2 Hasil Lembar Kerja Kelompok Kategori Peserta didik Tergolong Sedang ... 77

Gambar 4.3 Hasil Lembar Kerja Kelompok Peserta didik Tergolong Kurang .. 77

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ... 87

Lampiran 2 Lembar Kerja Kelompok ... 109

Lampiran 3 Rubrik Lembar Kerja Kelompok ... 147

Lampiran 4 Lembar Observasi Guru... 150

Lampiran 5 Lembar Observasi Peserta Didik ... 157

Lampiran 6 Kisi-Kisi Instrumen Hasil Belajar Materi Sistem Peredaran Darah 165 Lampiran 7 Analisi Butir Soal ... 187

Lampiran 8 Instrumen Soal Hasil Belajar ... 189

Lampiran 9 Daftar Nilai Pretest ... 194

Lampiran 10 Daftar Nilai Posttest ... 196

Lampiran 11 Daftar Hasil Perhitungan Gain dan N-Gain Pretest dan Posttest .. 198

Lampiran 12 Hasil Nilai Lembar Kerja Kelompok Peserta Didik ... 201

Lampiran 13 Hasil Uji Statistik Pretest, Posttest dan Lembar Kerja Kelompok 203 Lampiran 14 Hasil Uji Normalitas dan Homogenitas ... 204

Lampiran 15 Hasil Ketercapaian Pretest dan Posttest Jenjang Kognitif ... 205

Lampiran 16 Lembar Uji Referensi ... 211

Lampiran 17 Surat Izin Penelitian... 220

(14)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 menyebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif menyumbangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.1

Pendidikan pada abad 21 merupakan aspek penting dalam perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, salah satu ciri yang paling menonjol pada abad 21 adalah semakin bertautnya dunia ilmu pengetahuan, sehingga sinergi di antaranya menjadi semakin cepat. Potensi dalam diri seseorang dapat dikelola dan dikembangkan melalui pendidikan. Oleh karena itu, seseorang akan belajar dan mendapatkan pembelajaran serta pengalaman yang berguna bukan hanya untuk dirinya melainkan untuk bangsa dan negara.

Pembelajaran merupakan suatu sistem, yang terdiri atas berbagai komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lain. Komponen tersebut meliputi:

tujuan, materi, metode, dan evaluasi. Keempat komponen tersebut harus diperhatikan oleh guru dalam memilih dan menentukan model-model pembelajaran apa yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran.2

Strategi pembelajaran adalah suatu perangkat materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada peserta didik. Oleh karena itu, model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya.3

1 Badan Standar Nasional Pendidikan, Paradigma Pendidikan Nasional Abad XXI, (Jakarta:

BSNP, 2010), h. 5.

2 Rusman, Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesional Guru, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), h. 1.

3 Ibid., h. 132-133.

(15)

Guru yang mengajar dituntut untuk memberikan peserta didik keterampilan dalam berbagai aspek. Keterampilan memecahkan masalah dibutuhkan pada abad 21, seperti yang terdapat dalam 21st Century Partnership Learning Framework, terdapat sejumlah keterampilan abad 21 yang harus dikembangkan pada peserta didik dalam pembelajaran masa kini, yaitu kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving), kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama (communication and collaboration), kemampuan mencipta dan membaharui (creativity and innovation skills), literasi teknologi informasi dan komunikasi (information and communications), kemampuan belajar kontekstual (contextual learning skills), kemampuan informasi dan literasi media (information and media literacy).4

Kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving) merupakan salah satu keterampilan pada abad 21 yang dapat membuat peserta didik mampu menggunakan berbagai situasi, membuat keputusan, dan mengatasi masalah yang diperlukan dalam kehidupan.

Sejalan dengan ilmu pengetahuan alam atau sains merupakan salah satu mata pelajaran yang menduduki peranan penting dalam pendidikan hal ini dikarenakan sains dapat menjadi bekal bagi peserta didik dalam menghadapi berbagai tantangan pada era global. Oleh karena itu, diperlukan cara pembelajaran yang dapat menyiapkan peserta didik untuk memiliki kompetensi yang baik dan melek sains serta teknologi, mampu berpikir logis, kritis, kreatif, berargumentasi secara benar, dapat berkomunikasi serta berkolaborasi.5

Hasil observasi di SMA Negeri 5 Depok didapatkan bahwa dalam pembelajaran belum ada kegiatan peningkatan keterampilan peserta didik dalam pemecahan masalah, sehingga kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah masih kurang. Masih kurangnya pemahaman peserta didik antara materi pembelajaran dan keterkaitannya dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik hanya melakukan kegiatan mengerjakan tugas-tugas sederhana yang belum

4 Badan Standar Nasional Pendidikan, op. cit., h. 44-45.

5 Yuyu Yuliati, Literasi Sains dalam Pembelajaran IPA, Jurnal Cakrawala Pendas, Vol. 3 No.2, 2017, h. 22.

(16)

menekankan pada kegiatan memecahkan suatu permasalahan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan seharusnya memusatkan pada peningkatan keterampilan untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan dengan membebaskan kreativitas para peserta didik.

Keterampilan merupakan istilah yang banyak digunakan baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Keterampilan pemecahan masalah merupakan kemampuan dasar seseorang dalam menyelesaikan suatu masalah yang melibatkan pemikiran kritis, logis, dan sistematis. Peningkatan keterampilan memecahkan masalah tidak terlepas dari perannya dalam kehidupan, yaitu untuk mengembangkan kemampuan seseorang dalam menghadapi suatu permasalahan.6

Keterampilan pemecahan masalah dapat melatih individu dalam mengatasi masalah yang dihadapi selama kehidupan nyata mereka adalah tujuan prioritas dan tujuan utama dari pendidikan saat ini. Hal ini menunjukan bahwa keterampilan pemecahan masalah memiliki peranan yang sangat penting dalam pendidikan. Keterampilan pemecahan masalah juga sangat mempengaruhi peserta didik dalam mencapai keberhasilan.7 Oleh sebab itu, kemampuan pemecahan masalah dapat mengungkapkan hasil pemikiran, perasaan serta cara meningkatkan kemampuan kognitif.

Salah satu kemampuan kognitif yang perlu dikembangkan adalah kemampuan berpikir kreatif. Ketika kemampuan berpikir kreatif berkembang maka akan melahirkan gagasan atau ide, menentukan hubungan yang saling berkaitan, membuat dan melakukan imajinasi, serta mempunyai banyak perspektif terhadap suatu hal.8 Peserta didik yang memiliki kemampuan berpikir

6 Made Gautama dan Emirensia K. Ati, Peningkatan Keterampilan Memecahkan Masalah Melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada Mata Pelajaran Kimia, Jurnal Pendidikan Kimia Indonesia, Vol. 2, 2018, h. 1-2.

7 Ibid., h, 2.

8 Dewi Mardhiyana, Endah Octaningrum, Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kreatif dan Rasa Ingin Tahu Melalui Model Pembelajaran Berbasis Masalah, Artikel Pendidikan Matematika, 2016, h. 672.

(17)

kreatif tinggi cenderung akan merasa tertantang dan tertarik untuk menyelesaikan berbagai masalah dalam belajar. 9

Ranah kognitif merupakan ranah yang lebih banyak melibatkan kegiatan mental atau otak. Pada ranah kognitif terdapat enam jenjang proses berpikir menurut buku A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational yaitu menghafal (remember), memahami (understand), mengaplikasikan (applying), menganalisis (analyzing), mengevaluasi, dan membuat (create).10 Keterampilan kognitif merupakan komponen penting dalam diri seseorang sebagai proses dari daya pikir untuk menerima dan merespon sesuatu. Keterampilan kognitif dapat memunculkan ide, gagasan dan kreatifitas berpikir seseorang dalam belajar.11

Pada bidang sains, argumentasi memiliki peranan penting dalam perkembangan sains. Sains bukan sekedar menemukan fakta dan menyajikan fakta, melainkan membangun argumen dan mempertimbangkannya, serta mendebat berbagai penjelasan tentang fenomena.12

Terdapat sebuah alat visual yang dapat membantu merepresentaikan argumen seseorang yang dinamakan peta argumen. Pembuatan peta argumen dapat meningkatkan kemampuan peserta didik mengartikulasikan, memahami, dan mengkomunikasikan penalaran sehingga dapat memacu pengembangan keterampilan berpikir kritis.13 Argument mapping memiliki tujuan yang sepenuhnya berbeda dari peta pikiran dan peta konsep, argument mapping memberikan penjelasan secara terstruktur yang disimpulkan dari argumen.

Gambar dan topik adalah fitur utama dari koneksi asosiatif di peta pikiran dan

9 Ibid., h. 673.

10 Ari Widodo, Taksonomi Tujuan Pembelajaran, Didaktis. 4(2), 2005, h. 5-7.

11 Amelia Atika dan Kamaruzzaman, Hubungan Keterampilan Kognitif dengan Kemampuan Mewujudkan Gagasan pada Mahasiswa Semester Pendek Program Studi BK STKIP-PGRI Pontianak Tahun 2011/2012, Jurnal Pendidikan Sosial, Vol.1 No. 1, 2014, h. 13.

12 Yanti Herlanti, Analisis Argumentasi Mahasiswa Pendidikan Biologi pada Isu Sosiosaintifik Konsumsi Genetically Modified Organism (GMO), Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 3:1, 2014, h.

52.

13 I Wayan Redhana, Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Peta Argumen terhadap Keterampilan Berpikir Kritis Siswa pada Topik Laju Reaksi, Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, Jil.43, 2010, h. 147.

(18)

konsep adalah hubungan utama dalam peta konsep, sedangkan kesimpulan antara seluruh proposisi adalah fitur kunci argument mapping.14

Pemetaan argumen (argument mapping) membuat pelajaran biologi menjadi bermakna. Hal tersebut menjadi upaya untuk mendukung dan meningkatkan penguasaan konsep dan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Kelebihan pemetaan argumen adalah terfokus pada hubungan antar proposisi atau kesimpulan yang logis. Oleh karena itu, peta argumen dapat membantu peserta didik dalam memetakan argumen yang sudah mereka dapatkan.

Materi sistem peredaran darah dipilih karena pada pembelajarannya banyak kasus yang dapat dijadikan masalah, misalnya dengan menghadirkan fenomena atau cerita yang berhubungan dengan darah, pembuluh darah, dan jantung.

Masalah yang dihadirkan tersebut membantu peserta didik mengolah dan melatih keterampilan berpikirnya sehingga peserta didik dapat menemukan pemecahan masalah tersebut.

Tahapan dalam menyelesaikan masalah tersebut dengan mensintesis ide-ide, membangun atau membangkitkan suatu ide kemudian menerapkan suatu ide tersebut. Mensintesis ide adalah memadukan ide-ide atau gagasan yang dimiliki yang bersumber dari pembelajaran di kelas maupun dari pengalaman sehari-hari.

Membangkitkan atau membangun ide adalah memunculkan ide-ide yang berkaitan dengan masalah yang diberikan. Menerapkan ide adalah memilih suatu ide tertentu dan menerapkannya untuk memecahkan masalah.15

Salah satu model pembelajaran yang dapat membantu peserta didik memecahkan masalah guna meningkatkan hasil belajar biologi adalah Creative Problem Solving (CPS). Creative Problem Solving lebih menekankan pada pentingnya penemuan berbagai alternatif ide dan gagasan, untuk mencari berbagai macam kemungkinan tindakan pada setiap langkah dari proses pemecahan masalah yang digunakan. Creative Problem Solving tidak hanya sekedar Problem Solving. Aspek kreatif sangat dibutuhkan dalam CPS. Kreatif

14 Martin Davies, Concept Mapping, Mind Mapping and Argument Mapping: What Are The Differences and Do They Matter?, Higher Education, Vol. 62 No. 3, 2011, h. 286.

15 Ritin Uloli, Probowo, Tjipto Prastowo, Kajian Konseptual Proses Berpikir Kreatif dan Pemecahan Masalah, Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek, 2016, h. 646.

(19)

ini dibutuhkan untuk mencari berbagai gagasan ide guna memilih solusi yang optimal dan terbaik. Sementara untuk memperoleh berbagai gagasan ide guna memilih solusi yang optimal dan terbaik, sangat dibutuhkan adanya kemampuan berpikit kritis.16

Berdasarkan latar belakang yang sudah dijabarkan sebelumnya, diharapkan model Creative Problem Solving (CPS) dengan Argument Mapping dapat meningkatkan hasil belajar biologi peserta didik. Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian tentang “Deskripsi Hasil Belajar Menggunakan Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dengan Argument Mapping pada Konsep Sistem Peredaran Darah pada Masa Pandemi Covid-19”.

B. Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Rendahnya keterampilan berpikir kritis dan kreatif yang dimiliki peserta didik sehingga hasil belajar menjadi rendah.

2. Proses pembelajaran pada materi biologi masih didominasi oleh hafalan.

3. Kurangnya kegiatan peningkatan keterampilan peserta didik dalam pemecahan masalah, sehingga kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah masih kurang

4. Diperlukan model pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif guna meningkatkan hasil belajar biologi peserta didik.

C. Pembatasan Masalah

Agar masalah dari penelitian ini tidak melebar, penulis membatasi masalah.

Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Peserta didik belum terbiasa memberikan gagasan atau ide kreatif dalam permasalahan di kehidupan sehari-hari.

2. Mata pelajaran biologi dianggap penting dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan sehari-hari.

16 Isrok’atun, Creative Problem Solving (CPS) Matematis, Prosiding Lumbung Pustaka Universitas Negeri Yogyakarta, 2012, h. 440-441.

(20)

3. Pembelajaran biologi belum terbiasa memfasilitasi peserta didik dalam memberikan gagasan atau ide dalam menyelesaikan permasalahan sehari- hari.

4. Hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran biologi masih kurang karena penerapan model pembelajaran yang kurang tepat.

5. Kurangnya keterampilan peserta didik dalam memecahkan masalah.

D. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah:

1. Peneliti hanya meneliti pada mata pelajaran Biologi SMA/MA pada konsep sistem peredaran darah.

2. Pendekatan pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran Creative Problem Solving dengan Argument Mapping.

3. Hasil belajar peserta didik hanya dibatasi pada aspek kognitif dengan jenjang C1, C2, C3, C4, C5, C6 pada konsep sistem peredaran darah.

E. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah, maka penulis merumuskan masalah yaitu: “Bagaimana model pembelajaran Creative Problem Solving dengan Argument Mapping dapat meningkatkan hasil belajar biologi peserta didik pada konsep sistem peredaran darah?”

F. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui model pembelajaran Creative Problem Solving dengan Argument Mapping dapat meningkatkan hasil belajar biologi peserta didik pada konsep sistem peredaran darah.

G. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan hasil yang berguna, antara lain:

1. Bagi peneliti

Peneliti mendapatkan dan memberikan informasi mengenai model pembelajaran Creative Problem Solving dengan Argument Mapping dapat

(21)

meningkatkan hasil belajar biologi peserta didik pada konsep sistem peredaran darah.

2. Bagi guru

Menjadikan model Creative Problem Solving dengan Argument Mapping sebagai metode alternatif yang dapat diterapkan dalam pembelajaran untuk mengasah keterampilan pemecahan masalah peserta didik khususnya untuk guru pada bidang biologi.

3. Bagi peserta didik

Peserta didik dapat mengasah keterampilan pemecahan masalah dan argumentasi guna meningkatkan hasil belajar biologi.

(22)

BAB II KAJIAN TEORI

A. Kajian Teori

1. Model Pembelajaran Creative Problem Solving

a. Konsep Model Pembelajaran Creative Problem Solving

Model pembelajaran adalah rencana atau pola yang dapat dipakai untuk merancang mekanisme suatu pengajaran meliputi sumber belajar, subjek pembelajar, lingkungan belajar, dan kurikulum.1 Creative problem solving berasal dari kata creative, problem, dan solving. Creative artinya banyak ide baru dan unik dalam mengkreasi solusi serta mempunyai nilai dan relevan; problem artinya suatu situasi yang memberikan tantangan, kesempatan, yang saling berkaitan; sementara solving, artinya merencanakan suatu cara untuk menjawab atau menemukan jawaban dari suatu problem.2

Creative problem solving yaitu model pembelajaran yang membantu memecahkan masalah dan membantu proses berpikir kreatif. Memberikan kemudahan untuk mencapai tujuan dan solusi dalam dunia nyata.3 Model pembelajaran creative problem solving menurut Sudiran yaitu dapat membangkitkan kemampuan berpikir secara kritis dan kreatif sehingga dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi.4

Model creative problem solving menurut Rosalin merupakan suatu model pembelajaran yang berpusat pada keterampilan pemecahan masalah yang diikuti dengan penguatan kreativitas.5 Creative problem solving tidak hanya sekedar

1 Zulfiani, Tonih Feronika, Kinkin Suartini, Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009), h. 117.

2 Isrok’atun, Creative Problem Solving (CPS) Matematis, Prosiding Lumbung Pustaka Universitas Negeri Yogyakarta, 2012, h. 440.

3 Donald J. Treffinger, Scott G. Isaksen, dan K. Brian Dorval, Creative Problem Solving (CPS Version 6.1) A Contemporary Framework for Managing Change, Creative Problem Solving Group, 2010, h. 1.

4 E. Erfawan, S. Nurhayati, Keefektifan Model Creative Problem Solving Berbantuan Buku Saku pada Hasil Belajar Kimia, Chemistry In Education, 2014, h. 17.

5 Siti Nursiami dan Soeprodjo, Keefektifan Model Pembelajaran Creative Problem Solving Berbantuan Flash Interaktif terhadap Hasil Belajar, Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, vol. 9 no.1, 2015, h. 1441.

(23)

problem solving. Aspek kreatif dibutuhkan dalam CPS. Kreatif ini dibutuhkan untuk mencari berbagai gagasan ide guna memilih solusi yang optimal dan terbaik. Sementara untuk memperoleh berbagai gagasan ide guna memilih solusi yang optimal dan terbaik, sangat dibutuhkan adanya kemampuan berpikir kritis.6

Pembelajaran model creative problem solving ini dapat dikatakan sebagai suatu kegiatan pengembangan dari implementasi kurikulum di kelas yang dimulai dengan menghadapkan peserta didik pada suatu masalah yang nyata atau masalah yang disimulasikan, peserta didik bekerja sama dalam satu kelompok untuk mengembangkan kreativitas dan memunculkan ide-ide dalam pemecahan masalah tersebut. Kemudian peserta didik mendiskusikan strategi untuk bernegosiasi untuk membangun pengetahuannya.

Brainstorming atau sumbang saran dalam pembelajaran perlu diperhatikan oleh peserta didik karena brainstorming diperlukan dalam memecahkan masalah. Brainstorming dapat digunakan secara efektif di setiap tahapan proses CPS. Misalnya, sumbang saran sering digunakan untuk menghasilkan daftar kemungkinan-kemungkinan dalam penyelesaian masalah pada CPS. Dapat digunakan dalam tahap mengumpulkan data (data finding) selama tahap eksplorasi data, mengidentifikasi masalah (problem-finding) selama tahap identifikasi masalah, mengumpulkan ide-ide guna menemukan gagasan (idea- finding) dalam tahap menghasilkan ide, mengembangkan solusi (solution- finding) selama tahapan acceptance finding. Singkatnya brainstorming satu alat paling berguna dalam tahapan creative problem solving. 7

Creative problem solving lebih menekankan pada pentingnya penemuan berbagai alternatif ide dan gagasan, untuk mencari berbagai macam kemungkinan tindakan pada setiap langkah dari proses pemecahan masalah yang digunakan. Masalah yang sama seringkali diselesaikan dengan solusi yang berbeda karena situasi yang semakin dinamis. Hal ini membutuhkan kreativitas dalam menemukan solusi pemecahan masalah yang tepat. Kunci utama

6 Isrok’atun, loc. cit.

7 Scott G. Isaksen, K. Brian Dorval, Donald J. Treffinger, Creative Approaches to Problem Solving: A Framework for Innovation and Change, (California: Sage Publication, 2011), h. 39-40.

(24)

kreativitas adalah kemampuan dalam menggali ide-ide, metode lain, ataupun pendekatan alternatif untuk mencapai pemecahan masalah yang efektif dan efisien.

2. Tahap-Tahap Creative Problem Solving (CPS)

Proses creative problem solving yang dikembangkan mempunyai enam aspek kemampuan, setiap aspek dimulai dari aktivitas divergen dan diakhiri dengan aktivitas konvergen. Selanjutnya, aspek kemampuan ini juga dapat dimaknai sebagai langkah-langkah dalam model pembelajaran CPS. Langkah–

langkah dalam proses CPS menurut Osborn-Parnes yaitu sebagai berikut: 1) menemukan situasi (mess-finding); tahap ini merupakan sebuah usaha untuk mengidentifikasi situasi yang menghadirkan suatu tantangan. 2) menemukan data atau fakta (data-finding); tahap menemukan fakta dilakukan dengan mengidentifikasi semua fakta yang diketahui yang berhubungan dengan situasi yang disajikan. Hal ini bertujuan untuk menemukan informasi yang tidak diketahui tetapi penting untuk dicari. 3) menemukan masalah (problem-finding);

tahap menemukan masalah, peserta didik diupayakan agar dapat mengidentifikasi seluruh pernyataan masalah dan kemudian memilih masalah yang penting atau yang paling mendasar untuk diselesaikan. 4) menemukan gagasan (idea-finding); tahap ini merupakan upaya untuk menemukan sejumlah ide atau gagasan yang mungkin dapat digunakan untuk memecahkan masalah.

5) menemukan solusi (solution-finding); pada tahap penemuan solusi, ide atau gagasan yang telah diperoleh pada tahap idea-finding diseleksi untuk menemukan ide paling tepat dalam memecahkan masalah. 6) menemukan penerimaan (acceptance-finding); tahap ini merupakan usaha untuk memperoleh penerimaan atas solusi masalah, menyusun rencana tindakan, dan mengimplementasikan solusi terpilih.8

Creative problem solving menurut Isaksen dan Treffinger mencakup empat komponen utama. 1) memahami masalah (understanding the challenge), yaitu

8 William E. Mitchell and Thomas F. Kowalik, Creative Problem Solving, (Genigraphics Inc:

1989), h. 4.

(25)

mengidentifikasi tujuan, merumuskan dan memfokuskan pemikiran untuk menentukan solusi. 2) menghasilkan ide atau gagasan (generating ideas), yaitu memunculkan kemungkinan-kemungkinan baru dengan menggunakan brainstorming, karena dapat memunculkan ide kreatif. 3) mempersiapkan tindakan (preparing for action), yaitu mencari solusi yang terbaik untuk dapat diimplementasikan. 4) merencanakan strategi (planning your approach), yaitu memastikan tindakan mencari solusi sesuai dengan yang diinginkan.9

Keenam proses creative problem solving mencakup, tahap mess finding, data finding, dan problem finding tergabung dalam komponen understanding the challenge, tahap idea finding disebutkan sebagai komponen generating ideas.

Sementara, tahap solution finding dan acceptance finding tergabung dalam komponen planning for action.10

Langkah-langkah model CPS yang akan diterapkan pada penelitian ini meliputi 6 tahapan menurut Osborn-Parnes yaitu 1) menemukan situasi (mess- finding) 2) menemukan data atau fakta (data-finding) 3) menemukan masalah (problem-finding) 4) menemukan gagasan (idea-finding) 5) menemukan solusi (solution-finding) 6) menemukan penerimaan (acceptance-finding). Peneliti menggunakan langkah-langkah model creative problem solving Osborn-Parnes karena dalam setiap langkahnya dijelaskan secara jelas bagaimana setiap proses tahapannya berlangsung dan setiap tahapannya dapat memicu keterampilan berpikir kreatif.

3. Keunggulan Model Creative Problem Solving

Model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) memiliki keunggulan yakni: 1) memberikan hal baru kepada peserta didik untuk memahami konsep dengan cara menyelesaikan suatu masalah, 2) membuat siswa aktif dalam pembelajaran, 3) mengembangkan keterampilan berpikir peserta didik dan

9 Treffinger, Isaksen, dan Dorval, op. cit., h. 3-4.

10 Isrok’atun, op. cit., h. 447.

(26)

membuat peserta didik mampu menerapkan pengetahuan yang telah dimilikinya.11

Keunggulan lain dari model creative problem solving adalah dapat menghubungkan kreativitas alami dan strategi pemecahan masalah dan memudahkan proses belajar yang dapat diterapkan oleh individu atau kelompok dan berbagai usia. CPS dapat diintegrasikan dengan banyak organisasi dan aktivitas baru sehingga dapat memberikan perubahan dalam kehidupan sehari- hari. Menangani masalah sehari-hari serta jangka panjang. Ketika diterapkan dalam kelompok CPS memudahkan kerja tim dan berkolaborasi menghadapi masalah.12

Model pembelajaran creative problem solving memiliki kelebihan yaitu 1) melatih peserta didik untuk mendesain suatu penemuan, berpikir dan bertindak kreatif, 2) peserta didik dapat memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis, 3) mengembangkan kemampuan berpikir kreatif peserta didik, karena disajikan masalah pada awal pembelajaran dan memberikan keluasaan kepada peserta didik untuk mencari arah-arah penyelesaian, 4) dapat merangsang perkembangan kemajuan berpikir peserta didik untuk menyelesaikan masalah dengan tepat, 5) membuat peserta didik dapat menerapkan pengetahuan yang sudah dimiliki kedalam situasi baru.13

Keistimewaan dari model creative problem solving menurut Sriwati adalah menempatkan peserta didik pada situasi yang nyata, karena masalah yang dikemukakan merupakan tipe masalah yang ill defined, komplek dan bermakna, dengan pemecahan masalah yang kreatif dari peserta didik.14

11 Fian Totiana, Elfi Susanti VH, Tri Redjeki, Efektivitas Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) yang Dilengkapi Media Pembelajaran Laboratorium Virtual terhadap Prestasi Belajar Siswa pada Materi Pokok Koloid Kelas XI IPA Semester Genap SMA Negeri 1 Karanganyar Tahun Pelajaran 2011/2012, Jurnal Pendidikan Kimia, Vol. 1 No. 1, 2012, h. 78.

12 Treffinger, Isaksen, dan Dorval, op. cit., h. 1.

13 Guntur Maulana, Ari Septian, Mastika Insani, Penggunaan Model Pembelajaran Creative Problem Solving untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa, Jurnal Pendidikan Matematika, 2018, h. 317.

14 K.S.K Wardani, A.N. Rahmatih, N.L.P.N Sriwarthini, dan Nurwahidah, Pengaruh Model Pembelajaran Creative Problem Solving terhadap Hasil Belajar Siswa, Jurnal Pendidikan Matematika dan Sains, 2020, h. 11-12.

(27)

Dalam pembelajaran ini, peserta didik dituntut untuk terlibat aktif dan berpikir secara kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan dan memunculkan ide-ide supaya menemukan solusi yang tepat.

4. Kelemahan Model Creative Problem Solving

Kelemahan model creative problem solving yaitu manakala peserta didik tidak memiliki niat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit dipecahkan, maka mereka akan meresa enggan untuk mencoba.

Creative problem solving membutuhkan waktu yang cukup lama dalam penerapan dan persiapannya. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.15

Kelemahan yang ditemui pada model pembelajaan CPS diantaranya yaitu beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan model pembelajaran CPS, misalnya keterbatasan alat-alat laboraturium menyulitkan peserta didik untuk melihat dan mengamati serta menyimpulkan kejadian untuk konsep tersebut, dan memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan model pembelajaran yang lain.16

5. Argument Mapping (Peta Argumen)

Cowan menyatakan bahwa ingatan manusia terbatas dan hanya mampu mengingat beberapa potongan informasi. Pemetaan dapat menambah kemampuan otak untuk memahami, mengambil, dan memproses informasi.

Pemetaan memungkinkan ini harus dilakukan secara efisien karena diagram lebih mudah disimpan dalam memori daripada jenis lain dari format representasi.17

15 Sanjaya Ades, Model-Model Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), h. 220.

16 Shella Malisa, Iriani Bakti, dan Rilia Iriani, Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa, Jurnal Vidya Karya, 2018, h. 4.

17 Tutik Fitri Wijayanti, Potensi Model Pembelajaran Problem Solving Disertai Argument Mapping untuk Memberdayakan Berpikir Kritis, Prosiding Seminar Nasional Pendidikan , Vol.1 No 1, 2016, h. 169.

(28)

Sebuah peta argumen adalah representasi dua dimensi dari struktur argumen yang umumnya berupa diagram kotak dan panah yang mirip dengan sebuah pohon. Kotak-kotak berisi claim-claim yang disusun dengan alasan-alasan yang saling mendukung atau tidak mendukung lainnya.18

Peta argumen memungkinkan untuk memvisualisasikan argumen secara struktur dan logis. Peta argumen memperlihatkan secara jelas bagaimana setiap bagian dari sebuah argumen berhubungan dengan setiap bagian argumen lainnya. Serta bagaimana kesimpulan utama didukung oleh alasan.19

Proses argumentasi mengandung tiga unsur menurut Emeren dan Grootendorst yaitu logik silogis (analytica), dialetik (dialetica), dan retrotik (rhetorica). Logik berkaitan dengan argumen analisis yang mendasarkan kebenaran premis adalah bukti (evidence). Dialetik berkaitan dengan seni mengatur debat. Retorik berkaitan dengan seni membujuk audien”. 20

Model Argumentasi Toulmin mengandung enam komponen menggambarkan fungsinya dalam argumen. Keenam bagian tersebut adalah: 1) data (grounds) adalah sinonim dari bukti (evidence). Ringkasnya, data adalah bukti dan alasan untuk menyokong dasar dari argumen, 2) claim (claim) adalah pendapat atau kesimpulan yang dikemukakan oleh orang yang berpendapat dan ingin diterima audien, 3) penjamin (warrant) adalah penalaran yang digunakan untuk menghubungkan data dan claim. Bukti dan alasan dikembangkan menjadi claim yang tak terbantahkan kebenarannya, 4) pendukung (Backing) adalah fakta lebih lanjut atau penalaran yang digunakan untuk mendukung atau melegitimasi prinsip yang ada pada penjamin, 5) kualifikasi (modal qualifications) adalah kata keterangan sehari-hari (adverb) atau kalimat keterangan tambahan (adverbial frase) yang memodifikasi claim dan menunjukan kekuatan rasional atau derajat kekuatan dari orang yang berpendapat tersebut, 6) pengecualian (reservation)

18 Charles R. Twardy, Arguments Maps Improve Critical Thinking. Article in Teaching Philosophy, 2004, h. 6.

19 James Ostwald, Argument Mapping for Critical Thinking, Article Teaching Excellence, 2017, h. 1.

20 Yanti Herlanti, BLOGQUEST+: Pemanfaatan Media Sosial pada Pembelajaran Sains Berbasis Isu Sosiosaintifik untuk Mengembangkan Keterampilan Berargumentasi dan Literasi Sains, (Bandung: Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, 2014), h. 16.

(29)

adalah keadaan atau kondisi yang melemahkan argumen. Adapun Freeley &

Steinberg menyatakan komponen keenam adalah penyanggah (rebuttal) yaitu bukti atau alasan yang akan melemahkan atau menghancurkan claim.21

Model argumentasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu model pemetaan argumentasi Toulmin dengan melibatkan claim yang dikembangkan dan didukung oleh data, penjamin yang menghubungkan data pada claim. Claim mempunyai qualifer dan penjamin didukung oleh pendukung, serta dalam aktivitas diskusi dapat memberikan sanggahan terhadap argumen.

6. Keunggulan Argument Mapping (Peta Argumen)

Austhink menjelaskan argument mapping memiliki kelebihan yaitu membantu membangun alasan umum dan kemampuan berpikir kritis, membantu membuat argumen secara kuat dan terorganisasi, membantu mengkomunikasikan setiap alasan kepada orang lain, membantu mengevaluasi dari alasan yang ada, membantu mengevaluasi dari alasan yang ada lebih menyenangkan dan menarik, membantu memecahkan alasan yang menjadi pertentangan.22

Peta argumen memudahkan dalam hal mengkonfirmasi kelogisan dari suatu argumen dan hal-hal yang menguatkan argumen tersebut. Hal tersebut juga mempermudah dalam memutuskan apakah claim (pernyataan) itu benar atau tidak, dengan menggunakan pemetaan argumen dibandingkan dengan mempercayakan pada metode lain.23

Keunggulan metode ini adalah membuat peserta didik tidak hanya menghasilkan suatu kesimpulan dengan alasan yang mendukung kesimpulan tersebut, akan tetapi juga dapat memacu peserta didik untuk memberikan pernyataan berisi alasan yang bersifat kontra dari kesimpulan yang dibuat.

Representasi argumen dalam pembuatan peta argumen berupa kesimpulan dengan argumen yang bersifat mendukung, serta argumen yang bersifat

21 Ibid., h. 18-20.

22 Wijayanti, op. cit., h. 170-171.

23 Ummu Hanifah, Pengaruh Skill Argument Mapping terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa SMA melalui Model Discovery Learning, Skripsi Universitas Lampung, 2016, h. 48.

(30)

mendukung, serta argumen yang bersifat tidak mendukung dari kesimpulan yang dibuat. Selain meningkatkan kemampuan berpikir kritis, metode peta argumen juga memiliki manfaat lainnya. Manfaat Metode peta argumen menurut Rapanta dan Douglas bahwa metode peta argument dapat mendukung peserta didik untuk berinteraksi dan berpotensi dalam pembelajaran.24

Terlatihnya membuat argument mapping pada peserta didik akan mempengaruhi kemampuan memberikan argumen serta partisipasi peserta didik terhadap pembelajaran sehingga nantinya hasil belajar yang diperoleh juga dapat terpengaruh.

7. Contoh Argument Mapping

Penerapan keenam komponen argumentasi Toulmin tergambar pada contoh wacana di bawah ini.

Dua belas jam yang lalu, seorang pasien terjatuh dari motor dan mendapatkan benturan keras pada kepala disertai luka kulit kepala mendalam. Dia pucat, pusing, lesu, dan demam rendah. Perawatan yang sangat dianjurkan adalah membilas dan menjahit luka menggunakan antibiotic kemudian istirahat total di tempat tidur. Pengalaman klinik menunjukan tanpa perawatan seperti ini, infeksi akan terjadi dalam waktu 48 jam. Penisilin sangat efektif, kecuali pada pasien yang alergi penisilin.

Data: kondisi kecelakaan dan gejala pasien merupakan fakta yang diketahui dan teramati. Klaim: menyarankan perawatan khusus menggunakan antibiotik (kualifikasi: sangat; Reservasi: terkecuali jika pasien punya alergi penisilin).

Penjamin: prediksi sebab apa yang akan terjadi jika pencegahan infeksi tidak dilakukan (pendukung: pengalaman). Skema model argumentasi Toulming terdapat pada Gambar 2.1 menggambarkan keenam komponen sesuai dengan konteks teks.25

24 Siti Mulya Agnah, Rusdi, Yanti Herlanti, Pengaruh Metode Peta Argumen dan Efikasi Diri terhadap Kemampuan Berpikir Kritis, Edusains, Vol. 10 No. 02, 2018, h. 5.

25 Yanti Herlanti., Loc.cit., h. 21.

(31)

Gambar 2.1 Contoh Model Argumentasi Toulmin 8. Hasil belajar

Belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.26 Tingkat kemampuan dapat dilihat melalui hasil belajar. Hasil belajar peserta didik akan mengukur penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran. Hal ini tidak terlepas dari kemauan dan kesempatan peserta didik untuk mempelajari materi pelajaran yang diberikan kepadanya.

Hasil belajar merupakan suatu perubahan perilaku yang terjadi bagi seseorang setelah selesai penyelenggaraan pembelajaran.27 Hasil belajar juga merupakan hasil dari sebuah interaksi. Dimayati dan Mudjiono mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi peserta didik, hasil belajar merupakan berakhirnya pengajaran dari puncak proses belajar.28

Hasil belajar adalah sebuah proses. Seperti yang dikemukakan oleh Arikunto bahwa hasil belajar adalah sebagai hasil yang telah dicapai seseorang

26 Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), h. 68.

27 Zulkifli Matondang, Ely Djulia, Sriadhi, Janner Simarmata, Evaluasi Hasil Belajar, (Medan:

Yayasan Kita Menulis, 2019), h. 2.

28 Edy Syahputra, Snowball Throwing Tingkatkan Minat dan Hasil Belajar, (Sukabumi: Haura Publishing, 2020), h. 24.

(32)

setelah mengalami proses belajar dengan terlebih dahulu mengadakan evaluasi dari proses belajar yang dilakukan.29 Dapat simpulkan bahwa hasil belajar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari adanya interaksi, proses, dan evaluasi belajar. Interaksi antara peserta didik dan guru untuk melakukan proses pembelajaran dan evaluasi belajar agar hasilnya memuaskan.

Penilaian terhadap hasil belajar penguasaan materi (kognitif) bertujuan untuk mengukur penguasaan dan pemilihan konsep dasar keilmuan (content objectives) berupa materi-materi esensial sebagai konsep kunci dan prinsip utama. Konsep kunci dan prinsip utama keilmuan tersebut harus dimiliki dan dikuasai peserta didik secara tuntas, bukan hanya dalam bentuk hafalan. Ranah kognitif ini merupakan ranah yang lebih banyak melibatkan kegiatan mental atau otak.30

Penelitian ini melibatkan kemampuan ranah kognitif menurut Bloom.

Dikategorikan ke dalam enam jenjang kemampuan, yaitu menghafal (remember), memahami (understand), mengaplikasikan (applying), menganalisis (analyzing), mengevaluasi, dan membuat (create).

9. Materi Sistem Peredaran Darah

Sistem peredaran darah pada manusia tersusun dari darah, pembuluh darah, dan jantung sebagai pusat peredaran darah.

a. Darah

Darah merupakan jaringan terspesialisasi yang mencangkup cairan kekuningan, disebut plasma darah, dan sel-sel darah yang tersuspensi di dalamnya. Sel-sel darah terdiri atas sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit). Komposisi plasma dalam dalam darah sekitar 55%, sedangkan sel-sel darah dan trombosit sekitar 45%. Fungsi utama darah pada manusia adalah sebagai berikut: 1) mengangkut oksigen ke jaringan di seluruh tubuh, 2) mengangkut sari-sari makanan (nutrien) ke seluruh tubuh, 3) mengangkut sisa-sisa metabolisme, misalnya karbon dioksida, urea dan asam

29 Ibid., h. 25.

30 Ahmad Sofyan, Tonih Feronika, Burhanudin Milama, Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), h. 14.

(33)

laktat ke alat eksresi, 4) mengedarkan hormon (hasil seksresi) dari kelenjar hormon ke tempat yang membutuhkan, 5) melawan bibit penyakit dan melakukan mekanisme pembekuan darah, 6) mengatur pH tubuh dan suhu tubuh.31

1. Plasma darah

Plasma darah berguna dalam pengaturan tekanan osmosis darah sehingga dengan sendirinya jumlahnya dalam tubuh akan diukur, misalnya melalui proses eksresi. Plasma darah juga bertugas membawa sari-sari makanan, sisa metabolisme, hasil sekresi, dan beberapa gas.

Pada manusia, plasma darah mengandung sekitar 92% air, protein dan senyawa organik lainnya, serta garam anorganik, terutama NaCL. Protein yang larut dalam darah disebut protein darah, terdiri atas albumin, globulin, dan protein pembentukan darah. Plasma darah yang tidak mengandung protein penggumpalan darah (misalnya fibrinogen dan protrombin) disebut serum.32

2. Eritrosit

Sel-sel darah merah, atau eritrosit (erythrocytes), sejauh ini merupakan sel-sel darah yang paling banyak. Fungsi utamanya adalah transport O2, dan strukturnya terkait erat dengan fungsi tersebut. Eritrosit-eritrosit manusia merupakan cakram kecil yang bikonkaf lebih tipis di bagian tengah daripada bagian tepi. Bentuk ini memperluas area permukaan, sehingga meningkatkan laju difusi O2 melintasi membran-membran plasmanya. 33 3. Leukosit

leukosit dalam darah terdapat enam jenis, yaitu neutrofil, eosinofil, basofil, monosit, limfosit, dan sel plasma. Neutrofil, eosinofil, basofil memiliki granula-granula sehingga sering disebut granulosit, sedangkan monosit dan limfosit disebut agranulosit karena tidak bergranula.34

31 D.A Pratiwi, Sri Maryati, Suharno, Bambang S, Biologi untuk SMA/MA Kelas XI, (Jakarta:

Erlangga, 2013), h. 143.

32 Ibid., h. 143-144.

33 Neil A. Campbell dan Jane B. Reece, Biologi edisi 8 jilid 3, (Jakarta: Erlangga, 2008), h. 71.

34 Pratiwi, op. cit., h.148.

(34)

Fungsinya adalah untuk memerangi infeksi. Sebagian di antaranya bersifat fagositik, menelan dan mencerna mikroorganisme-mikroorganisme maupun sisa-sisa dari sel-sel tubuh yang sudah mati.35

4. Keping-Keping Darah

Trombosit merupakan sel darah yang dapat membekukan darah. Keping darah berbentuk cakram dan tidak berinti. Masa hidupnya sekitar 8-10 hari.

Setelah itu, keping darah akan dibawa ke limpa untuk dihancurkan. Jumlah keping darah adalah 150 ribu-400 ribu per mm3 darah.

Fungsi utamanya adalah sebagai sistem pertahanan, yaitu untuk mengaktifkan mekanisme pembekuan darah. Pembekuan darah adalah suatu proses ketika dinding pembuluh darah yang rusak ditutup oleh gumpalan fibrin agar pendarahan berhenti. Pembekuan darah juga membantu memperbaiki dinding pembuluh darah yang rusak.36

5. Penggolong darah

Golongan darah manusia dibedakan berdasarkan komposisi aglutinogen dan aglutininnya. Aglutinogen adalah antigen-antigen dalam eritrosit yang membuat sel peka terhadap aglutinasi (penggumpalan darah). Aglutinogen disebut zat spesifik golongan karena digunakan untuk menentukan golongan darah.

Aglutinin adalah substansi yang menyebabkan aglutinasi sel, misalnya antibodi yang terdapat dalam plasma darah.37

Golongan darah sistem ABO, darah digolongkan menjadi empat macam, yaitu A, B, AB, dan O untuk tujuan transfusi darah. Berikut Tabel 2.1 Penggolongan Darah .38

35 Campbell, loc. cit.

36 Pratiwi, loc. cit.

37 Ibid., h. 149.

38 Ibid., h. 150.

(35)

Tabel 2.1 Penggolongan Darah

Resipien merupakan orang yang mendapat darah dan pemberi darah disebut donor. Golongan darah O dapat memberikan darahnya ke semua golongan darah sehingga disebut donor universal. Hal ini terjadi karena sel-sel golongan darah O tidak mengandung kedua aglutinogen sehingga sejumlah kecil dari darah ini dapat ditransfusikan ke hampir setiap resipien tanpa terjadi reaksi aglutinasi dengan cepat. Golongan darah AB disebut resipien universal karena dapat menerima darah dari semua golongan darah. Perhatikan tabel berikut.39

Tabel 2.2 Skema Transfusi Darah

b. Pembuluh darah

Arteri, vena, dan kapiler adalah tiga tipe utama pembuluh darah. Pada masing-masing tipe, darah mengalir hanya ke satu arah. Arteri (artery) membawa darah menjauhi jantung ke organ-organ di seluruh tubuh. Di dalam organ-organ, arteri bercabang-cabang menjadi arteriola (arteriole), pembuluh-

39 Ibid., h. 152.

(36)

pembuluh darah kecil yang mengangkut darah ke kapiler-kapiler. Kapiler (capillary) adalah pembuluh-pembuluh mikroskopik dengan dinding-dinding yang sangat tipis berpori-pori. Pada ujung “hilir”, kapiler-kapiler bergabung menjadi venula, dan venula-venula bergabung menjadi vena (vein), pembuluh- pembuluh yang membawa darah kembali ke jantung.

Arteri dan vena dibedakan dari arah aliran darah yang diangkutnya, bukan dari kandungan O2 atau karakteristik-karakteristik darah lain yang dikandungnya. Arteri membawa darah dari jantung menuju ke kapiler, dan vena mengembalikan darah ke jantung dari kapiler.40

c. Jantung

Jantung terdiri atas empat ruang, yakni dua serambi (atrium) dan dua bilik (ventrikel). Fungsi serambi adalah sebagai tempat lewatnya darah dari luar jantung ke bilik, akan tetapi serambi juga dapat berfungsi sebagai pompa yang lemah sehingga membantu aliran darah dari serambi ke bilik. Jantung dibentuk terutama oleh tiga jenis otot jantung (miokardia), yaitu otot serambi, otot bilik, serta serabut otot perangsang dan penghantar khusus.41

Gambar 2.2 Struktur Anatomi Jantung

40 Campbell, op. cit., h. 58.

41 Pratiwi, op. cit., h. 155-156.

(37)

Otot-otot jantung bekerja (berkontraksi) dengan sendirinya tanpa kehendak kita. Pada manusia yang normal, umumnya jantung berkontraksi 72 kali setiap menit dan memompa darah 60 cm3. Periode dari suatu akhir kontraksi hingga akhir kontraksi berikutnya disebut siklus jantung. Siklus jantung terdiri atas periode relaksasi yang dinamakan diastole, yaitu jika serambi jantung menguncup dan bilik jantung mengembang. Periode kontraksi dinamakan sistole, yaitu jika otot bilik jantung menguncup dan darah di dalam bilik dipompa ke pembuluh nadi paru-paru (arteri pulmonalis) dan ke aorta secara bersamaan.42

d. Peredaran Darah Manusia

Peredaran darah dalam tubuh manusia terdiri dari dua macam. Pertama, peredaran darah dari bilik kanan jantung menuju paru-paru melewati arteri pulmonalis dan kembali ke serambi kiri jantung melewati vena pulmonalis, disebut peredaran darah kecil. Kedua, peredaran darah dari bilik kiri jantung ke seluruh tubuh melalui aorta dan akhirnya kembali ke serambi kanan jantung melalui vena kava, disebut peredaran darah besar. Oleh karena itu, manusia dikatakan memiliki peredaran darah ganda.43

e. Kelainan dan Gangguan pada Sistem Peredaran Darah

Kelainan atau gangguan pada sistem peredaran darah manusia antara lain sebagai berikut: 1) anemia (kurang darah) disebabkan kurangnya kadar HB atau kurangnya jumlah eritrosit dalam darah, 2) varises merupakan pelebaran pembuluh darah di betis, 3) hemoroid (ambeien) merupakan pelebaran pembuluh darah di sekitar anus, 4) arteriosklerosis merupakan pengerasan pembuluh nadi karena timbunan atau endapan kapur, 5) atherosklerosis merupakan pengerasan pembuluh nadi karena endapan lemak, 6) embolus disebabkan pembuluh darah karena benda yang bergerak, 7) hemofilia disebabkan oleh kelainan darah yang sukar membeku karena faktor hereditas atau keturunan, 8) leukemia atau kanker darah merupakan bertambahnya leukosit secara tak terkendali, 9) penyakit

42 Ibid., h. 157.

43 Ibid., h. 158.

(38)

jantung koroner atau PJK disebabkan penyempitan arteri koronaria yang berfungsi mengangkut O2 ke jantung,44 10) serangan jantung juga disebut infraksi miokardial adalah kerusakan atau kematian jaringan otot jantung akibat dari penyumbatan satu atau lebih arteri koroner, 11) stroke adalah kematian jaringan saraf di otak akibat kekurangan O2. Stroke biasanya diakibatkan oleh pecahnya atau tersumbatnya arteri di kepala.45

f. Teknologi Pada Sistem Peredaran Darah

Berbagai teknologi telah dikembangkan untuk mendiagnosis gangguan pada sistem peredaran darah dan upaya pengobatan serta penanganannya. Beberapa contoh teknologi yang berkaitan dengan sistem peredaran darah adalah sebagai berikut 1) ekokardiografi merupakan suatu teknik untuk mengetahui struktur internal dan gerakan jantung serta pembuluh darah yang besar tanpa memasukan alat ke dalam tubuh pasien, 2) pemindaian dengan bahan radioaktif merupakan cara yang aman untuk mendeteksi penyakit jantung, metode ini dilakukan untuk mengetahui aliran darah di arteri jantung dan untuk mengetahui fungsi ventrikel, 3) angioplasti dilakukan untuk membuka aliran darah pada pembuluh darah yang tersumbat oleh plak (timbunan lemak), 4) operasi bypass jantung dilakukan terhadap pasien yang menderita penyumbatan pembuluh darah arteri jantung.46 B. Hasil Penelitian Relevan

Beberapa hasil penelitian terkait dengan judul penelitian penulis, di antaranya sebagai berikut:

Hasil penelitian Karina Koestiarti, yang berjudul Pengaruh Model Pembelajaran Creative Problem Solving terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa pada Konsep Virus pada tahun 2014, menunjukan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran creative problem solving terhadap hasil belajar biologi siswa. Kesimpulan yang didapat yaitu pembelajaran dengan model pembelajaran

44 Ibid., h. 159-160.

45 Campbell, op. cit., h. 73

46 Pratiwi, op. cit h. 160-161.

Gambar

Gambar 2.1 Contoh Model Argumentasi Toulmin  8.  Hasil belajar
Tabel 2.2 Skema Transfusi Darah
Gambar 2.2 Struktur Anatomi Jantung
Gambar 2.2 Kerangka Berpikir
+7

Referensi

Dokumen terkait

terhadap prestasi belajar peserta didik ranah kognitif, tetapi ada interaksi yang signifikan antara metode pembelajaran Creative Problem Solving dengan media modul dan metode

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah model Creative Problem Solving berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kreatif dan self regulation peserta

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui bagaimana model pembelajaran Creative Problem Solving dapat meningkatkan kompetensi belajar aspek afektif pada

Penerapan Strategi Pembelajaran Problem Solving ini efektif digunakan dalam pembelajaran biologi pada konsep Pencemaran Lingkungan karena dapat meningkatkan

Tujuan dari penelitian yang peneliti lakukan adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan komunikasi matematik peserta didik yang menggunakan model Creative Problem Solving

Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa MTsN

terhadap prestasi belajar peserta didik ranah kognitif, tetapi ada interaksi yang signifikan antara metode pembelajaran Creative Problem Solving dengan media modul dan metode

Bagi Siswa 1 Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Creative Problem Solving untuk meningkatkan Pemahaman konsep Peserta didik 2 Dengan dijadikan rujukan bagi