• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

A. Kajian Pustaka

4. Media Audiovisual dalam Pendidikan

Pendidikan merupakan hal pokok yang melekat dalam proses kehidupan manusia sehari-hari dari segala jaman. Pendidikan secara sederhana dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat. Pengertian pendidikan ini selalu mengalami perkembangan, meskipun secara essensial tidak jauh berbeda. Berikut ini akan dikemukakan sejumlah pengertian pendidikan. Pendidikan menurut Driyakara ialah “pemanusiaan manusia muda atau pengangkatan manusia muda ke taraf insani” (1950: 74). Menurut Ki Hajar Dewantara dalam Suwarno “pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya” (Suwarno, 1985: 2). “Pendidikan merupakan upaya sadar untuk mengembangkan semua aspek hidup manusia, yang mencakup pengetahuan, nilai, dan sikap serta keterampilan” (Sadullah, 2003: 57). Pendidikan mengarahkan individu untuk mencapai kepribadian yang lebih baik. Menurut Mardiatmadja, “pendidikan adalah proses terpadu dan bersama untuk membantu orang lain menyiapkan diri guna mengambil tempat yang semestinya dalam pengembangan masyarakat dan dunianya di hadapan Sang Pencipta” (Mardiatmadja, 1980: 19).

Dari beberapa pengertian pendidikan tersebut dapat ditarik suatu pemahaman bahwa pendidikan pada hakikatnya adalah usaha atau bantuan yang diberikan oleh orang dewasa kepada orang yang belum dewasa agar dia mencapai kedewasaannya,

48

yang meliputi aspek kognitif (intelektual), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan). Berdasarkan aspek-aspek tersebut peserta didik diharapkan mampu berperan dalam kehidupannya dan dalam hubungannya dengan orang lain (masyarakat), lingkungan (alam semesta) dan Sang Pencipta (Tuhan). Selain itu juga dari beberapa pengertian pendidikan yang telah diberikan para ahli tersebut, meskipun berbeda secara redaksional, namun secara essensial terdapat kesatuan unsur-unsur yang terdapat di dalamnya, yaitu bahwa pengertian pendidikan tersebut menunjukkan suatu proses bimbingan, tuntunan atau pimpinan yang di dalamnya mengadung unsur-unsur seperti pendidik, anak didik, tujuan dan sebagainya. Pemahaman tersebut tidak bertentangan dengan sistem perundangan pendidikan yang berlaku saat ini, yang menjelaskan bahwa: “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara” (Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003, Sisdiknas Pasal 1 ayat 1).

Pendidikan dalam lingkup sekolah senantiasa mengarahkan kegiatan belajar anak agar dia memperoleh pengetahuan, pemahaman, keterampilan, sikap, dan nilai (Winkel, 1989: 21). Salah satu azas yang terdapat dalam pengertian pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah “Tut Wuri Handayani” (Madya Eko Susilo, 1988: 66). Ini berarti bahwa pendidikan dilaksanakan dengan memotivasi dan mempengaruhi agar peserta didik berani mengambil sikap atau keputusan untuk bertindak secara bertanggung jawab. Azas ini menegaskan bahwa pendidikan tidak dilaksanakan dengan mengindoktrinasi, menentukan, memaksa atau mengharuskan,

49

melainkan dengan membimbing dan mendampingi peserta didik dalam suasana yang terbuka dan membebaskan. Sesuai dengan perkembangan jaman dan semakin kompleksnya pengetahuan dan keterampilan, akhirnya disadari bahwa anak perlu mendapat pengetahuan dasar dan keterampilan yang kurang lebih baku, sebagai bekal pengembangan dirinya, untuk itu dibutuhkan lembaga pendidikan. Kita seringkali mendengar istilah pendidikan formal, informal dan non formal; yang dimaksud dengan pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi; pendidikan non formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang; sedangkan pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan (Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003, Sisdiknas Pasal 1 ayat 11, 12, dan 13). Fungsi pendidikan pada umumnya adalah pengembangan keseluruhan diri seseorang, termasuk potensi yang dimilikinya. Fungsi pengembangan mengarahkan manusia sebagai makhluk individu, sosial, susila dan ber-Ketuhanan.

Dasar pendidikan yang berlaku di Indonesia telah diatur dengan jelas dalam Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003, Sisdiknas Pasal 2, yang berbunyi: “Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”. Sedangkan fungsi dan tujuan dari pendidikan nasional dijelaskan dalam Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003, Sisdiknas Pasal 3, yang berbunyi:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,

50

berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

“Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu” (BSNP, 2006: 5). Kurikulum yang berlaku saat ini adalah KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yaitu “kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan” (BSNP, 2006: 5). KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Silabus disini adalah rencana pembelajaran pada suatu atau kelompok mata pelajaran atau tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/media/alat belajar (BSNP, 2006: 5). KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut (BSNP, 2006: 5):

Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Kegiatan pembelajaran berpusat pada peserta didik.

Beragam dan terpadu. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis

51

pendidikan, serta menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan jender.

Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang berkembang secara dinamis. Oleh karena itu, semangat dan isi kurikulum memberikan pengalaman belajar peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

Relevan dengan kebutuhan kehidupan. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan. • Menyeluruh dan berkesinambungan. Substansi kurikulum mencakup keseluruhan

dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.

Belajar sepanjang hayat. Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.

Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan

52

sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

b. Peranan Media Audiovisual dalam Pendidikan

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya- upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses belajar. Akibat dari perkembangan ini maka pendidikan semakin lama semakin mengalami kemajuan yang begitu pesat. Sejalan dengan kemajuan tersebut, maka dewasa ini pendidikan di sekolah-sekolah telah menunjukkan perkembangan yang pesat. Perkembangan itu merupakan pembaharuan dalam sistem pendidikan yang mencakup seluruh komponen yang ada. Kemajuan teknologi modern adalah salah satu faktor yang turut menunjang usaha pembaharuan. Peranan teknologi sudah sedemikian berpengaruhnya, terutama pada masyarakat dari negara-negara yang telah berkembang. Pemerintah dan masyarakatnya memberikan perhatian secara maksimal, karena mereka telah menyadari peranan dan fungsi teknologi itu bagi kehidupan mereka. Mereka telah sampai pada taraf pemikiran yang tinggi dan telah melaksanakannya dalam dunia pendidikan di sekolah. Mereka telah yakin bahwa hidup dalam masyarakat yang modern harus dimulai dari pendidikan di sekolah. Karena itu kegiatan-kegiatan di sekolah harus berjalan seimbang dan serasi dengan kebutuhan, aspirasi dan norma-norma dalam masyarakat. Pendidikan saat ini telah menyadari benar akan pentingnya media komunikasi yaitu media audio-visual sebagai salah satu media pendidikan.

Dalam dunia pendidikan, kita mengenal istilah media pengajaran atau media pendidikan. Menurut E. De Corte “media pengajaran merupakan suatu sarana

53

nonpersonal (bukan manusia) yang digunakan atau disediakan oleh tenaga pengajar yang memegang peranan dalam proses belajar-mengajar, untuk mencapai tujuan intruksional” (Winkel, 1989: 187-191). Dan pada saat ini kita kerap kali mendengar istilah teknologi pendidikan yang seringkali diartikan sebagai penggunaan media audiovisual (media elektronis) dalam proses belajar-mengajar. Selain itu juga “media pendidikan dipahami sebagai alat, metode dan tehnik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah” (Oemar Hamalik, 1986: 23). Dari beberapa batasan pengertian media pendidikan tersebut, ada persamaan-persamaan di antaranya yaitu bahwa media pendidikan adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.

Media audiovisual adalah salah satu dari media pendidikan. Berkat inovasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, media audiovisual saat ini semakin canggih dan sering kita sebut dengan multimedia. Media audio-visual yang masih digunakan sampai saat ini di antaranya: Over Head Projector (OHP), sound slide, Video Compact Disc (VCD), Digital Video Disc (DVD), pesawat televisi, komputer, note book/laptop, Liquid Crystal Display (LCD projector), internet, dll. Masing-masing alat media pengajaran ini mempunyai keuntungan dan kelemahan Masing- masing-masing. Penggunaan media audiovisual ini mendapat peluang yang besar dalam dunia pendidikan, karena pada saat ini kita dapat melihat bahwa nilai-nilai dan pandangan hidup masyarakat kita banyak dipengaruhi oleh media audiovisual.

54

Hasil riset menunjukkan bahwa media audiovisual memiliki tingkat keefektifitasan yang cukup tinggi, apalagi kalau di sekolah tersedia ruang multimedia yang lengkap (Fakih, 2001: 75-94). Melalui media audiovisual ini kita dapat mengajak siswa-siswi untuk bepikir, berdiskusi, dan berdialog. Selama proses ini berlangsung pula proses pemberian arti, pengertian, pemaknaan (kodifikasi) atas gambaran hidup keadaan, gejala atau permasalahan yang ditampilkan melalui media audiovisual. Ketika mereka mencapai suatu kesimpulan bersama mereka telah melahirkan suatu pemahaman dan kesadaran baru, suatu pengetahuan yang melihat kejadian, gejala atau permasalahan tadi secara kritis. Maka dengan ini media pendidikan dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya. Ada beberapa alasan, mengapa media pendidikan dapat mempertinggi proses belajar siswa antara lain: pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga menumbuhkan minat dan motivasi belajar; bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih baik; metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru mengajar untuk setiap jam pelajaran; siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain. Dengan menggunakan media audiovisual, tenaga pengajar atau guru dapat membantu untuk memperdalam proses belajar-mengajar di kelas, misalnya untuk membangkitkan minat dan motivasi, memberikan orientasi, memberikan ilustrasi, mengadakan evaluasi,

55

memberikan tugas, memberikan ringkasan, meneguhkan, mengisahkan, memberikan penguatan dsb. Bahkan ada kemungkinan media itu dapat mengambil alih fungsi itu, misalnya film yang mengisahkan kehidupan Yesus.

Pada saat ini dengan majunya media komunikasi jumlah dan variasi media pengajaran yang tersedia semakin banyak dan penggunaannya lebih efektif dan efisien. Dengan kemajuan media komunikasi ini, memungkinkan setiap sekolah mempunyai suatu ruang multimedia, sehingga mulai dikenal pendekatan multimedia yang mengkombinasikan masing-masing media dapat memenuhi fungsinya dalam pengajaran secara tepat. Tentu saja kepada guru-guru diharapkan agar menggunakan media yang murah, efisien, dan mampu dimiliki atau diperoleh oleh sekolah, dengan tidak menolak kemungkinan atas penggunaan alat-alat media modern yang sesuai dengan tuntutan teknologi modern. Pada sekolah-sekolah yang sudah maju telah digunakan berbagai jenis media pendidikan yang sesuai dengan tuntutan zaman, untuk semua mata pelajaran dan segi-segi pendidikan. Bahkan dewasa ini telah mulai dicobakan penggunaan multimedia dalam pendidikan. Penggunaan alat-alat modern itu pada saat ini telah menjadi suatu keharusan untuk digunakan secara intensip di sekolah-sekolah. Memang banyak usaha yang bisa dikerjakan, di samping memahami penggunaannya juga berusaha mengembangkan keterampilan “membuat sendiri” media pendidikan, bagi setiap guru di sekolah. Dengan kata lain, seorang guru yang profesional dituntut untuk memiliki kemampuan itu, yaitu sejauh manakah guru menguasai metodologi media pendidikan di sekolah untuk kepentingan anak didiknya, sehingga memungkinkan perkembangan mereka secara optimal sesuai dengan tujuan pendidikan. Dalam hal ini, setiap guru akan berhadapan dengan setidak-tidaknya lima tantangan (Oemar Hamalik, 1986: 15), yakni:

56

• Apakah guru memiliki pengetahuan, pemahaman dan pengertian yang cukup tentang media pendidikan.

Setiap guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan. Pengetahuan itu meliputi, di antaranya: media sebagai alat komunikasi guna lebih mengefektifkan proses belajar mengajar, fungsi media dalam rangka mencapai tujuan pendidikan, tentang proses-proses belajar, hubungan antara metode mengajar dan media pendidikan, nilai atau manfaat media pendidikan dalam pengajaran, memilih dan menggunakan media pendidikan, berbagai jenis alat dan teknik media pendidikan, media pendidikan dalam setiap mata pelajaran, dan usaha inovasi dalam media pendidikan, dll. Dari beberapa pokok ini dapatlah dipahami bahwa media pendidikan merupakan dasar yang sangat diperlukan yang bersifat melengkapi dan merupakan bagian integral demi berhasilnya proses pendidikan dan usaha pengajaran di sekolah.

• Apakah guru memiliki keterampilan memilih dan menggunakan media tersebut dalam proses belajar-mengajar di kelas.

Guru tidak hanya cukup memiliki pengetahuan tentang media saja, akan tetapi juga harus memiliki keterampilan memilih dan menggunakan media tersebut dengan baik. Untuk itu perlu latihan secara kontinue dan sistematis. Memilih dan menggunakan media pendidikan harus sesuai dengan kriteria-kriteria tertentu (Nana Sudjana, 1990: 4-5), yakni:

- Ketepatannya dengan tujuan pengajaran; artinya media pedidikan dipilih atas dasar tujuan-tujuan intruksional yang telah ditetapkan. Tujuan-tujuan intruksional yang berisikan unsur pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis lebih memungkinkan digunakannya media pendidikan.

57

- Dukungan terhadap isi bahan pelajaran dan metode mengajar; artinya bahan pelajaran yang sifatnya fakta, prinsip, konsep dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami siswa.

- Kemudahan memperoleh media; artinya media yang diperlukan mudah diperoleh, setidak-tidaknya mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar, selain itu memanfaatkan media pendidikan yang tersedia di sekolah.

- Keterampilan guru dalam menggunakannya; apa pun jenis media yang diperlukan syarat utama adalah guru dapat menggunakannya dalam proses pengajaran. Nilai dan manfaat yang diharapkan bukan pada medianya, tetapi dampak dari penggunaan oleh guru pada saat terjadinya interaksi belajar siswa dengan lingkungannya.

- Tersedia waktu untuk menggunakannya; sehingga media tersebut dapat bermanfaat bagi siswa selama pengajaran berlangsung.

- Sesuai dengan minat dan taraf berpikir siswa; memilih media untuk pendidikan dan pengajaran harus sesuai dengan taraf berpikir siswa, sehingga makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami oleh para siswa.

Dari sini kita dapat melihat bahwa antara media pendidikan dan faktor-faktor pengajaran lainnya sangat erat pertaliannya dan merupakan suatu jalinan yang berantai.

• Apakah guru mampu membuat sendiri alat-alat media pendidikan yang dibutuhkan.

Keterampilan membuat media pendidikan berarti trampil dan menguasai teknik dan proses pembuatan suatu media pendidikan yang berguna untuk suatu

58

pelajaran tertentu. Media pendidikan yang dibuat harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

- Rasional, sesuai dengan akal dan mampu dipikirkan oleh kita.

- Ilmiah, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

- Ekonomis, sesuai dengan kemampuan pembiayaan yang ada, hemat.

- Praktis, dapat digunakan dalam kondisi praktik di sekolah dan bersifat sederhana.

- Fungsional, berguna dalam pelajaran, dapat digunakan oleh guru dan siswa. • Apakah guru mampu melakukan penilaian terhadap media yang akan atau yang

telah digunakan.

Menilai penggunaan sesuatu media pendidikan adalah pekerjaan yang cukup rumit. Guru harus pandai menerapkan kriteria-kriteria penilaian untuk melihat apakah sesuatu alat memenuhi persyaratan atau tidak. Penilaian itu dilaksanakan dalam rangka: memilih jenis alat yang dipakai, atau sesudah menggunakan alat dalam kelas.

• Apakah guru memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam bidang administrasi media pendidikan.

Pekerjaan administrasi dapat ditafsirkan dalam arti yang sempit atau dalam arti yang luas. Dalam arti sempit hanya meliputi pekerjaan ketatausahaan biasa seperti: mendaftar, mengatur, menyimpan, dll. Dalam arti luas, administrasi itu meliputi unsur-unsur: perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pengawasan, dan penilaian.

Media audiovisual sebagai salah satu media pendidikan memiliki ciri-ciri umum sebagai berikut (Oemar Hamalik, 1986: 22-23):

59

• Media pendidikan indentik artinya dengan pengertian keperagaan yang berasal dari kata “raga”, artinya suatu benda yang dapat diraba, dilihat, didengar, dan yang dapat diamati melalui pancaindra kita.

• Tekanan utama terletak pada benda atau hal-hal yang bisa dilihat dan didengar. • Media pendidikan digunakan dalam rangka hubungan (komunikasi) dalam

pengajaran, antara guru dan siswa.

• Media pendidikan adalah semacam alat bantu belajar mengajar, baik dalam kelas maupun di luar kelas.

• Berdasarkan ini, maka pada dasarnya media pendidikan merupakan suatu “perantara” (medium, media) dan digunakan dalam rangka pendidikan.

• Media pendidikan mengandung aspek-aspek: sebagai alat dan sebagai tehnik, yang sangat erat pertaliannya dengan metode mengajar.

• Karena itu, media pendidikan sebagai tindakan oprasional.

Menurut Encyclopedia of Educational Research, manfaat dari media pendidikan adalah sebagai berikut (Oemar Hamalik, 1986: 27):

• Meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berpikir dan oleh karena itu mengurangi “verbalisme”.

• Media pendidikan dapat membangkitkan keinginan, minat belajar dan perhatian para siswa dalam mengikuti pelajaran. Melalui media para siswa akan memperoleh pengalaman lebih luas dan lebih kaya. Dengan demikian persepsinya akan menjadi lebih tajam dan pengertiannya menjadi lebih tepat. Dan akan menimbulkan keinginan-keinginan serta minat belajar yang baru. Selain itu juga media pendidikan dapat membangkitkan motivasi dan perangsang kegiatan

60

belajar, karena media pendidikan memberikan pengaruh psikologis terhadap para siswa.

• Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar dan oleh karena itu membuat pelajaran lebih menetap.

• Memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan siswa.

• Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinue, hal ini terutama terdapat dalam gambar hidup.

• Membantu tumbuhnya pengertian dan dengan demikian membantu perkembangan kemampuan berbahasa.

• Memberikan pengalaman-pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain serta membantu berkembangnya efisiensi yang lebih mendalam serta keragaman yang lebih banyak dalam belajar.

5. Minat Belajar Siswa-siswi Mengikuti Pelajaran Pendidikan Agama Katolik

Dokumen terkait