• Tidak ada hasil yang ditemukan

Medium & Corporation Loan

15 16

6.804.481 6.525.579

dalam juta Rupiah / in million Rupiah dalam juta Rupiah / in million Rupiah

Komposisi Kredit Menengah & Korporasi

Invest Umum 10,30% Sindikasi 19,23% Konstruksi Properti 2,92% BLUD 0,20% Kredit Deposito 0,33% Restrukturisasi 2,63% Keppres 8,09% Rekening Koran 45,75% Modal Kerja Umum 2,41%

Berdasarkan komposisi, Kredit Modal Kerja Rekening Koran (PRK) memberikan kontribusi terbesar hingga mencapai 45,75% diikuti dengan Kredit Sindikasi sebesar 19,23% dan Kredit Investasi Umum sebesar 10,30% dari jumlah kredit yang diberikan tahun 2016.

Penurunan jumlah nominal Kredit Menengah dan Korporasi diikuti dengan turunnya jumlah debitur Kredit Menengah dan Korporasi, dimana sampai dengan akhir tahun 2016, jumlah debitur Kredit Menengah dan Korporasi Bank Jatim tercatat sebanyak 6.846 debitur, menurun 2.751 debitur atau 28,67% dibanding dengan tahun 2015 sebanyak 9.597 debitur. Penurunan jumlah debitur pada tahun 2016 terutama didorong oleh penurunan jumlah debitur Kredit Standby Loan sebesar 2.061 debitur atau 77,08%, diikuti oleh jumlah Kredit Modal Kerja Pola Keppres yang menurun sebesar 862 debitur atau 44,16%, dan Kredit Modal Kerja Rekening Koran sebesar 51 debitur atau 1,38%.

Based on composition, Working Capital Loan with Balance Statement (PRK) shared the largest contribution to 45.75% followed by 19.23% syndicated loan and 10.30% Public Investment Loan from total Loan disbursed in 2016.

Decreasing amount of Medium and Corporation Loan was followed by decreasing number of Medium and Corporation Loan debitors, where total debitors of Bank Jatim Medium and Corporation Loan debitors achieved 6,846 debitors as end of 2016, or decreased by 2,751 debitors or 28.67% from 9,597 debitors booked in 2015. In 2016, decreasing number of debitors was primarily driven by decreasing number of Stand by Loan debitors number by 2,061 debitors or 77.08% followed by total Working Capital Loan with Keppres Scheme that decreased by 862 debitors or 44.16% and Working Capital Loan with Balance Statements to 51 debitors or 1.38%.

DEBITUR KREDIT MENENGAH dan KORPORASI TAHUN 2016 dan 2015

MEDIUM & CORPORATION LOAN DEBTOR 2016 and 2015

dalam jutaan Rupiah/ in million Rupiah

Keterangan

Description

Posisi

Position Kenaikan (Penurunan)

Increase (Decrease)

Des 2016 Des 2015 Selisih (%)

KEPPRES KEPPRES 1.090 1.952 -862 -44,16%

Stand by Loan Standby Loan 613 2.674 -2.061 -77,08%

Rekening Koran (PRK) Overdraft (PRK) 3.646 3.697 -51 -1,38% Modal Kerja Umum General Work Capital 938 723 215 29,74%

Investasi Umum General Invest 359 361 -2 -0,55%

Sindikasi Syndication 21 24 -3 -12,50%

Konstruksi Properti Construction Property 25 19 6 31,58%

BLUD BLUD 3 3 0 0,00%

Kredit Deposito (CCC) Deposit Loan (CCC) 121 129 -8 -6,20%

Pembiayaan Piutang Receivable Financing 1 1 0 0,00%

Kredit PEMDA Local Government Loan - - 0 0,00%

Restrukturisasi Restructurisation 29 14 15 107,14%

JUMLAH TOTAL 6.846 9.597 -2.751 -28,67%

Medium & Corporation Loan Debtor

15 16

9.597 6.846

A. Kredit Modal Kerja Pola Keppres

Kredit Modal Kerja Pola Keppres adalah fasilitas kredit modal kerja kepada Kontraktor untuk menyelesaikan suatu pekerjaan berdasarkan Kontrak Kerja dengan plafon tertentu yang pelunasan kreditnya bersumber dari pembayaran termijn Proyek yang bersangkutan

Bidang usaha yang dapat dibiayai dengan fasilitas Kredit Modal Kerja Pola Keppres adalah badan usaha yang bergerak dibidang:

o Jasa Konstruksi; o Jasa Pengadaan; o Jasa Konsultan; o Jasa lainnya.

Pertumbuhan Kredit Modal Kerja Pola Keppres turun sebesar Rp212.169 juta atau 28,66% dari sebesar Rp740.258 juta pada tahun 2015 menjadi sebesar Rp528.089 juta pada tahun 2016. Pencapaian tersebut sejalan dengan pertumbuhan jumlah debitur yang turun sebesar 862 debitur atau 44,16% dari sebesar 1.952 debitur pada tahun 2015 menjadi 1.090 debitur pada tahun 2016. B. Standby Loan

Fasilitas Kredit Modal Kerja yang diberikan kepada Kontraktor termasuk pula grup usaha nasabah yang dapat dicairkan secara revolving per-Proyek apabila Debitur memperoleh pekerjaan untuk menyelesaikan Proyek Konstruksi/Pengadaan Barang atau Jasa lainnya berdasarkan kontrak kerja yang sumber pembayaran kreditnya terutama berasal dari termijn Proyek yang bersangkutan, termasuk juga untuk penerbitan Bank Garansi serta membiayai pembukaan L/C dana atau SKBDN untuk mengimpor/membeli barang-barang atau mesin/peralatan yang terkait dengan proyek yang sedang/akan memperoleh pembiayaan kredit dari Bank;

A. Keppres Working Capital Loan Scheme

Refers to a working capital loan facility to Contractor for certain project completing based on Project Contract with particular plafond and the loan payment was paid from respective Project installment.

Line of business that is eligible to be financed with Working Capital Loan with Keppres Scheme includes business in:

• Construction Service; • Procurement Service; • Consultant Service; • Other Services.

Growth of Keppres Working Capital Loan Scheme was decreasing by Rp212,169 million or 28.66% from Rp740,258 million in 2015 to Rp528,089 million in 2016. Achievement was consistent with growing number of total debitors that decreased by 862 debitors or 44.16% from 1,952 debitors in 2015 to 1,090 debitors in 2016.

B. Standby Loan

A working capital loan facility provided to Contractors, including business group of the customers that is available for disbursement by revolving per Project if the Debitors acquired contract to finish Construction/Procurement Project or other Services based on project contract with source of loan payment was paid from respective Project installment, including for Guarantee Bank issuance and to finance fund L/C or SKBDN registration for goods or machineries/ equipment import/pruchase related to the project that is obtaining or will obtain loan financing from the Bank.

Bidang usaha yang dapat diberikan fasilitas Modal Kerja Standby Loan yaitu badan usaha yang bergerak dibidang:

o Jasa Konstruksi; o Jasa Pengadaan; o Jasa Konsultan; o Jasa lainnya.

Pertumbuhan Kredit Modal Kerja Pola Standby Loan turun sebesar Rp315.949 juta atau 37,29% dari sebesar Rp847.263 juta pada tahun 2015 menjadi sebesar Rp531.315 juta pada tahun 2016. Pencapaian tersebut sejalan dengan turunnya jumlah debitur sebanyak 2.061 debitur atau 77,08% dari 2.674 debitur pada tahun 2015 menjadi 613 debitur pada tahun 2016.

C. Kredit Modal Kerja Rekening Koran (PRK) Merupakan fasilitas pembiayaan untuk membiayai modal kerja yang diberikan kepada nasabah untuk memenuhi modal kerja yang habis dalam siklus usaha dengan jangka waktu maksimal 1 tahun a. Bentuk kredit Rekening Koran (R/C). b. Penarikan dapat dilakukan disetiap saat. c. Penarikan dapat menggunakan Cek / BG. d. Bunga dihitung dari dana yang ditarik. e. Pelunasan dapat dilakukan saat jatuh tempo. Pertumbuhan Kredit Modal Kerja Rekening

Koran (PRK) sebesar Rp219.051 juta atau 7,92% dari sebesar Rp2.766.452 juta pada tahun 2015 menjadi sebesar Rp2.985.503 juta pada tahun 2016. Pencapaian tersebut tidak sejalan dengan turunnya jumlah debitur sebesar 51 debitur atau 1,38% dari sebanyak 3.697 debitur pada tahun 2015 menjadi 3.646 debitur pada tahun 2016. D. Kredit Modal Kerja Umum

Merupakan fasilitas kredit yang penggunaannya untuk memenuhi kebutuhan modal kerja dalam

Line of business that is eligible for Working Capital Standby Loan facility includes business in: • Construction Service;

• Procurement Service; • Consultant Service; • Other Services.

Growth of Working Capital Loan with Standby Loan scheme decreased by Rp315,949 million or 37.29% from Rp847,263 million in 2015 to Rp531,315 million in 2016. Achievement was consistent with decreasing number of debitors by 2,061 debitors or 77.08% from 2,674 debitors in 2015 to 613 debitors in 2016.

C. R\C General Working Capital Loan

A loan facility to finance working capital to be provided to the customers to fulfill working capital with maturity in business cycle maximum for 1 year period.

a. Balance Sheet (R/C) loan type. b. Flexible withdrawal.

c. Withdrawal using Cheque/BG.

d. Interest rate is calculated from withdrawed funds.

e. Full payment is available during maturity period.

Growth of R\C General Working Capital Loan (PRK) amounted Rp219,051 million or 7.92% from Rp2,766,452 million in 2015 to Rp2,985,503 million in 2016. Achievement was reverse to decreasing number of debitors by 51 debitors or 1.38% from 3,697 debitors in 2015 to 3,646 debitors booked in 2016.

D. General Working Capital Loan

A credit facility which disbursement is for fulfilling working capital needs to operate business activity

rangka melaksanakan kegiatan usaha dan biasanya akan habis dalam satu siklus produksi, seperti untuk pengadaan bahan baku atau untuk membiayai kekurangan biaya operasional lainnya. Pertumbuhan Kredit Modal Kerja Umum

sebesar Rp26.044 juta atau 19,88% dari sebesar Rp130.976 juta pada tahun 2015 menjadi sebesar Rp157.020 juta pada tahun 2016. Pencapaian tersebut sejalan dengan pertumbuhan jumlah debitur sebanyak 215 debitur atau 29,74% dari sebanyak 723 debitur pada tahun 2015 menjadi 938 debitur pada tahun 2016.

E. Kredit Investasi Umum

Kredit Investasi adalah kredit jangka menengah/ panjang yang diberikan kepada nasabah untuk pembelian barang modal dan jasa guna rehabilitasi, pendirian usaha baru, yang pelunasan dari hasil usaha dengan barang-barang modal yang dibiayai a. Sesuai jangka waktu yang ditetapkan

b. Rencana angsuran ditetapkan berdasarkan

cash flow

c. Penarikan berdasarkan prestasi pekerjaan d. Pelunasan dapat dilakukan saat jatuh tempo. Pertumbuhan Kredit Investasi sebesar Rp103.544 juta atau 18,22% dari sebesar Rp568.388 juta pada tahun 2015 menjadi sebesar Rp671.932 juta pada tahun 2016. Pencapaian tersebut tidak sejalan dengan turunnya jumlah debitur sebesar 2 debitur atau 0,55% dari sebanyak 361 debitur pada tahun 2015 menjadi 359 debitur pada tahun 2016.

F. Kredit Sindikasi

Kredit Sindikasi adalah kredit yang diberikan oleh 2 (dua) atau lebih Bank/lembaga keuangan Non Bank kepada debitur, dengan syarat atau ketentuan yang sama bagi para peserta

and will be matured in one production cycle, such as for raw material purchase or finacning other operating expenses underpayment.

Growth of Public Working Capital Loan amounted Rp26,044 million or 19.88% from Rp130,976 million in 2015 to Rp157,020 million booked in 2016. Achievement was consistent with increasing number of debitors by 215 debitors or 29.74% from 723 debitors in 2015 to 938 debitors in 2016.

E. Public Investment Loan

Investment loan refers to medium/long-term loan provided to customers for purchasing capital goods and rehabilitation services, new business establishment whose payment will be allocated from business revenue with the financed capital goods.

a. Based on stipulated period;

b. Installment plan based on cash flows. c. Withdrawal based on project achievement. d. Full payment is available during the maturity

period.

Growth of Investment Loan achieved Rp103,544 million or 18.22% from Rp568,388 million in 2015 to Rp671,932 million in 2016. Achievement was reverse with decreasing number of debitors by 2 debitors or 0.55% from 361 debitors in 2015 to 359 debitors in 2016.

F. Syndicated Loan

Syndicated loan is a credit facility provided by 2 (two) or more Banks/Non-Bank Financial Institutions to debitors with equal terms and condition for the syndication participants,

sindikasi, diperjanjikan dalam dokumentasi, dan diadministrasikan oleh lembaga yang disebut agen. a. Sektor Usaha Yang Dibiayai

Sektor usaha yang layak dibiayai adalah semua sektor usaha, kecuali sektor usaha tertentu yang dilarang dan/atau dinyatakan jenuh oleh Pemerintah.

b. Pengguna Fasilitas Kredit Sindikasi

Pengguna fasilitas Kredit Sindikasi adalah Badan Usaha yang berbadan hukum baik Badan Usaha Milik Swasta, Milik Pemerintah (BUMN/BUMD) dan Pemerintah Daerah (Provinsi maupun Kabupaten/Kota).

Pertumbuhan Kredit Sindikasi turun sebesar 6,06% atau Rp80.928 juta dari Rp1.335.649 juta pada tahun 2015 menjadi Rp1.254.721 juta pada tahun 2016. Pencapaian tersebut sejalan dengan turunnya jumlah debitur sebesar 12,50% atau 3 debitur dari sebanyak 24 debitur pada tahun 2015 menjadi 21 debitur pada tahun 2016. G. Kredit Konstruksi Properti

• Kredit Modal Kerja Konstruksi Properti adalah fasilitas kredit modal kerja yang disediakan oleh Bank kepada nasabah (Pengembang/Developer) yang sedang atau akan mengerjakan proyek properti,

• Proyek properti yang dapat diberikan fasilitas Kredit Modal Kerja Konstruksi Properti adalah proyek properti yang lahannya telah sah dikuasai oleh Pengembang dan telah dibayar lunas serta telah mendapatkan ijin dari instansi pemerintah setempat, dalam rangka pengadaan unit rumah menengah/ sederhana atau sangat sederhana, ruko, rusun atau rukan.

Pertumbuhan Kredit Kontruksi Properti turun sebesar Rp718 juta atau 0,38% dari sebesar

committed in a documentation and administered by an institution named as agent.

a. Financed Business Sector

Feasible business sector is all business sector except particular business sector that is prohibited and/or declared matured by the Government.

b. Syndicated Loan Facility Users

Syndicated Loan facility users are Enterprises with Legal Entity including Private Enterprise, State-Owned Enterprise (SOE/ROE) and Regional Government (Provincial or Municipal/City).

Growth of Syndicated Loan was decreasing by 6.06% or Rp80,928 million from Rp1,335,649 million in 2015 to Rp1,254,721 million in 2016. Achievement was consistent with decreasing number of debitors by 12.50% or 3 debitors from 24 debitors in 2015 to 21 debitors in 2016.

G. Property Construction Loan

• Property Construction Loan is a working capital loan facility provided by the Bank to Customers (Developer) who is currently or will engage in property project,

• Property project that is eligible for Working Capital Loan with Property Construction scheme refers to property project whose lands have been legally owned by the Developers and fully paid as well as obtained license from local government agency, with regards to medium/modest or very modest houses, shop houses, office houses procurements.

Growth of Property Construction Loan was decreasing by Rp718 million or 0.38% from

Rp191.132 juta pada tahun 2015 menjadi sebesar Rp190.414 juta pada tahun 2016. Pencapaian tersebut tidak sejalan dengan naiknya jumlah debitur sebanyak 6 debitur atau 31,58% dari sebanyak 19 debitur pada tahun 2015 menjadi 25 debitur pada tahun 2016.

H. Pinjaman Kepada Badan Layanan Umum Daerah (BLUD)

Pinjaman Kepada Badan Layanan Umum Daerah adalah pinjaman yang diberikan kepada Satuan Kerja Perangkat Daerah atau Unit Kerja pada Satuan Kerja Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah Daerah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan, dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktifitas;

Pertumbuhan kredit BLUD turun sebesar Rp8.303 juta atau 38,78% dari sebesar Rp21.410 juta pada tahun 2015 menjadi sebesar Rp13.107 juta pada tahun 2016. Pencapaian tersebut tidak sejalan dengan jumlah debitur yang tetap sebanyak 3 debitur pada tahun 2015 dan tahun 2016.

I. Kredit Deposito/Cash Collateral Credit (CCC). • Kredit Deposito/Cash Collateral Credit (CCC)

adalah kredit yang dijamin dengan jaminan tunai berupa Deposito/Giro/ Tabungan Bank. • Kredit Deposito/Cash Collateral Credit (CCC)

dapat diberikan berupa:

a. Kredit Produktif, baik Kredit Modal Kerja maupun Kredit Investasi dalam hal CCC berupa Kredit Produktif, maka Cash Collateral sebagai Jaminan tambahan (Agunan), sedangkan Jaminan utamanya adalah kelayakan usaha yang dibiayai dengan kredit.

Rp191,132 million in 2015 to Rp190,414 million in 2016. Achievement was reverse with increasing number of total debitors by 6 debitors or 31.58% from 19 debitors in 2015 to 25 debitors in 2016.

H. Loan for Regional Public Service Agency (BLUD)

Loan for Regional Public Service Agency is a loan provided to Regional Unit Instrument or Working Unit in Regional Instrument of Regional Government that is established to provide services to the society as goods and/ or service that are sold without profit-oriented and doing their business based on efficiency and productivity principles.

Growth of BLUD loan was decreasing by Rp8,303 million or 38.78% from Rp21,410 million in 2015 to Rp13,107 million in 2016. Achievement was different with stable number of debitors that remained 3 debitors in 2015 and 2016.

I. Cash Collateral Credit (CCC)

• Cash Collateral Credit (CCC) is a loan secured by cash collateral as Time Deposit/Current Accounts/Saving Accounts in the Bank. • Cash Collateral Credit (CCC) is available as:

a. Productive Loan, both Working Capital Loan or Investment Loan, if CCC is a Productive Loan, Cash Collateral becomes additional collateral, however,main collateral is feasibility of business which is financed by the credit facility.

b. Kredit Konsumtif

Dalam hal CCC berupa Kredit Konsumtif, maka Cash Collateral sebagai jaminan utamanya.

Pertumbuhan Kredit Deposito / Cash Collateral Credit turun sebesar 6,66% atau Rp1.534 juta atau 6,66% dari sebesar Rp23.037 juta pada tahun 2015 menjadi sebesar Rp21.503 juta pada tahun 2016. Pencapaian tersebut sejalan dengan jumlah debitur yang turun sebanyak 8 debitur atau 6,20% dari sebanyak 129 debitur pada tahun 2015 menjadi 121 debitur pada tahun 2016. J. Kredit Pembiayaan Piutang

Kredit Pembiayaan Piutang adalah kredit yang diberikan kepada pemilik piutang/tagihan yang pengembaliannya jelas dan dapat dipastikan. Fasilitas Kredit Pembiayaan Piutang diberikan

dengan tujuan untuk membantu nasabah/calon nasabah yang membutuhkan modal kerja karena piutang/tagihannya masih belum waktunya untuk ditagihkan/dicairkan.

Pertumbuhan Kredit Pembiayaan Piutang turun sebesar 88.16% atau Rp1.675 juta dari sebesar Rp1.900 juta pada tahun 2015 menjadi sebesar Rp225 juta pada tahun 2016. Pencapaian tersebut tidak sejalan dengan jumlah debitur yang tetap sebanyak 1 debitur pada tahun 2015 dan tahun 2016.

K. Kredit Pemda (Pemerintah Daerah)

Kredit Kepada Pemda adalah fasilitas Kredit yang diberikan kepada Pemda di Wilayah Jawa Timur maupun di luar Wilayah Jawa Timur yang berupa kredit investasi yang dipergunakan untuk membiayai pembangunan sarana dan prasarana yang merupakan aset daerah dan dapat

b. Consumer loan.

If CCC is a Consumer Loan, the Cash Collateral becomes main collateral.

Growth of Cash Collateral Credit was decreasing by 6.66% or Rp1,534 million or 6.66% from Rp23,037 million in 2015 to Rp21,503 million in 2016. Achievement was consistent with decreasing number of debitors by 8 debitors or 6.20% from 129 debitors in 2015 to 121 debitors in 2016.

J. Receivables Financing Loan

Receivables Financing Loan is a loan provided to owner of receivables/billing with fixed and confirmed payments.

The Receivables Financing Loan facility is provided to help customers/prospective customer who required working capital due to their receivables/ billing has not matured yet to be billed/disbursed.

Growth of Receivables Financing Loan was decreasing by 88.16% or Rp1,675 million from Rp1,900 million in 2015 to Rp225 million in 2016. Achievement was different with stable number of debitor that remained 1 debitor in 2015 and 2016.

K. Regional Government Loan

Loan to the Regional Government (Pemda) is a loan facility provided to the Regional Government in East Java and non-East Java regions as investment loan to finance development of infrastructure as regional assets and will generate revenue for the loan payment, as well as bring

menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali pinjaman, serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat dan/atau kredit modal kerja yang dipergunakan untuk menutup kekurangan cash flow daerah dalam anggaran tahun yang sama dengan plafond tertentu yang dapat dicairkan sesuai dengan kebutuhan pembiayaan daerah.

L. Bank Garansi

• Bank Garansi adalah warkat yang diterbitkan oleh Bank yang berisi kewajiban Bank untuk membayar kepada pihak yang menerima garansi apabila pihak yang dijamin cidera janji

(wanprestasi/default)

• Jenis – Jenis Bank Garansi

a. Bank Garansi Penawaran (Jaminan Tender);

b. Bank Garansi Pelaksanaan (Jaminan Pelaksanaan);

c. Bank Garansi Uang Muka (Jaminan Uang Muka);

d. Bank Garansi Pemeliharaan (Jaminan Pemeliharaan);

e. Bank Garansi Pembayaran (Jaminan Pembayaran);

f. Bank Garansi Sanggahan Banding; g. Standby Bank Garansi

benefit to the society and/or working capital loan to cover the regional cash shortfall in the recent current year with certain plafond that is available to be disbursed according to the regional finance needs. Benefits: Ability to accelerate regional level development.

L. Guarantee Bank

• Guarantee Bank is warrant issued by the Bank declaring Bank’s obligation to pay to the party who receive guarantee if the insured party is considered default.

• Type of Guarantee Bank: a. Tender Guarantee Bank b. Execution Guarantee Bank c. Down Payment Guarantee Bank d. Maintenance Guarantee Bank e. Payment Guarantee Bank

f. Appeal Objection Guarantee Bank g. Standby Guarantee Bank

KONVENSIONAL

Bisnis Tresuri Bank Jatim terdiri dari deposit facility,

interbank call money, deposito, dan surat berharga.

Bisnis treasury mengalami peningkatan Rp335.421 juta atau 4,38% dari Rp7.649.576 juta pada tahun 2015 menjadi Rp7.984.997 juta pada tahun 2016. Peningkatan tersebut ditopang oleh peningkatan

deposit facility sebesar Rp1.729.100 juta atau 947,45%,

serta Deposito sebesar Rp550.000 juta atau 75,86%. Disisi lain, terjadi penurunan porsi kepemilikan Surat Berharga sebesar Rp1.933.679 juta atau 35,40%.

TABEL TRESURI KONVENSIONAL TAHUN 2016 DAN 2015

TABEL TREASURY CONVENTIONAL 2016 AND 2015

dalam jutaan Rupiah/ in million Rupiah

Keterangan

Description

Posisi

Position Kenaikan (Penurunan)

Increase (Decrease)

Des 2016 Kontribusi (%) Des 2015 Selisih (%)

Deposit Facility Deposit Facility 1.911.600 23,94% 182.500 1.729.100 947,45% Interbank Cal Money Interbank Cal Money 1.270.000 15,90% 1.280.000 (10.000) -0,78% Deposito Deposit 1.275.000 15,97% 725.000 550.000 75,86% Surat Berharga Securities 3.528.397 44,19% 5.462.076 (1.933.679) -35,40%

JUMLAH TOTAL 7.984.997 100,00% 7.649.576 335.421 4,38%

Dokumen terkait