Pesatnya praktik pencucian uang (money laundering) hingga melintasi batas negara menyebabkan pelacakan aset (asset tracing) semakin sulit dan
11 Reda Manthovani dan R. Narendra Jatna, Rezim Anti Pencucian Uang dan Perolehan Hasil Kejahatan di Indonesia,…., h. 35-36.
12 Yenti Garnasih, Penegakan Hukum Anti Pencucian Uang dan Permasalahannya di Indonesia,…., h. 36.
13 Yenti Garnasih, Penegakan Hukum Anti Pencucian Uang dan Permasalahannya di Indonesia,…., h. 37.
memerlukan waktu. Berbagai aspek menjadi hambatan pada upaya pemberantasannya. Hambatan dari segi struktur hukum (legal structure), yaitu aparat penegak hukum, khususnya putusan hakim yang tidak secara akurat dan tegas menyebutkan jumlah aset hingga keberadaan aset yang akan dirampas.
Sebab sebagian negara tidak mengizinkan fishing expedition dalam pelacakan aset.14
Hambatan dari segi substansi hukum (legal substance), yaitu mekanisme asset recovery yang belum diatur dengan jelas dan komprehensif. Adapun perbedaan sistem hukum antara Indonesia dengan negara tempat aset berada menjadi hambatan tersendiri dalam proses pengembaliannya. Selain itu, sebagian negara memiliki hukum yang ketat mengenai Bank Secrecy (Kerahasiaan Bank) yang menjadikan penyidik sulit melacak aset-aset yang dicurigai hasil tindak pidana.15
Adapun hambatan terhadap pengembalian aset dapat diuraikan secara teoritik dan praktik. Secara teoritik, terjadi kekeliruan pemahaman pada benak pembentuk undang-undang dan beberapa ahli hukum dalam menyelesaikan masalah aset hasil tindak pidana korupsi. Kekeliruan pertama, terdapat pada sikap apriori yang berkiblat pada keadilan retributif sebagai satu-satunya sarana hukum paling tepat untuk dapat memulihkan kerugian keuangan negara.
Sedangkan terdapat cara lain yang lebih efektif yaitu dengan mengubah paradigma tersebut menuju keadilan restoratif. Kekeliruan kedua, yakni pada pendekatan hukum yang selalu menggunakan pendekatan normatif yang berlandaskan positivisme hukum, dan kurang melihat segi kemanfaatan bagi korban in casu negara.16
14 Ridwan Arifin, dkk, Upaya Pengembalian Aset Korupsi Yang Berada Di Luar Negeri (Asset Recovery) Dalam Penegakan Hukum Pemberantasan Korupsi Di Indonesia, Indonesian Journal of Criminal Law Studies (IJCLS), (1), 2016, hlm. 130.
15 Ridwan Arifin, dkk, Upaya Pengembalian Aset Korupsi Yang Berada Di Luar Negeri (Asset Recovery) Dalam Penegakan Hukum Pemberantasan Korupsi Di Indonesia, Indonesian Journal of Criminal Law Studies (IJCLS),…., hlm. 130-131.
16 Firdaus Arifin, Problematika Hukum Pengembalian Aset Tindak Pidana Korupsi Pelaku dan Ahli Warisnya, Pagaruyuang Law Journal,.…, hlm. 83
Sama halnya dengan tindak pidana korupsi. Korupsi mempunyai banyak wajah dan merupakan masalah yang kompleks dan rumit, maka pemberantasan korupsi harus dilakukan dengan pendekatan multi disiplin; monitoring yang efektif, dilakukan dengan kesungguhan dan komprehensif serta diperlukan adanya fleksibilitas dalam penerapan hukum.17
Pada Selasa, 14 Juli 2020, lahir Undang-Undang No. 5 Tahun 2020 tentang Pengesahan Perjanjian tentang Bantuan Hukum Timbal Balik dalam Masalah Pidana antara Republik Indonesia dan Konfederasi Swiss (Treaty on Mutual Legal Assistance in Criminal Matters Between the Republic of Indonesia and the Swiss Confederation) atau disebut Undang-Undang MLA Indonesia-Swiss. Undang-undang a quo disebut-sebut mampu mengembalikan aset hasil tindak pidana milik Indonesia yang dilarikan ke Swiss. Namun sebenarnya, Undang-Undang MLA Indonesia-Swiss merupakan bagian kecil dari legislasi yang mendukung perampasan aset hasil tindak pidana in casu korupsi di luar negeri.18
Sedangkan hingga saat ini Rancangan Undang-Undang tentang Perampasan Aset Tindak Pidana tidak kunjung disahkan. Padahal Rancangan Undang-Undang tentang Perampasan Aset Tindak Pidana memiliki mekanisme perampasan aset yang komprehensif disertai model pembuktian yang sangat memudahkan aparat penegak hukum terkait asset recovery. Sehingga, jangkauannya pun jauh lebih luas dan esensial karena sifatnya yang tidak sektoral sebagaimana dalam Undang-Undang MLA Indonesia-Swiss.
Pentingnya untuk segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang tentang Perampasan Aset Tindak Pidana juga termaktub dalam poin menimbang pada naskah Rancangan Undang-Undang tentang Perampasan Aset Tindak Pidana, dimana dikatakan bahwa sistem dan mekanisme yang ada
17 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Pendidikan Anti Korupsi untuk Perguruan Tinggi, 2011, h. 109.
18 Tempo.co, Desak RUU Perampasan Aset Disahkan, ICW: Lebih Penting dari MLA, diakses dari.https://nasional.tempo.co/read/1365773/desak-ruu-perampasan-aset-disahkan-icw-lebih-penting-dari-mla/full&view=ok pada 26 Agustus 2021 pukul 23.00 WIB
mengenai perampasan aset tindak pidana saat ini belum mampu mendukung upaya penegakan hukum yang berkeadilan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. PPATK menggagas Rancangan Undang-Undang tentang Perampasan Aset Tindak Pidana untuk fokus kepada asetnya. Meskipun tidak diketahui lagi apapun pidana asalnya, dan hanya cukup pada perampasan asetnya saja.
Meskipun orangnya sudah mati, putusan tetap berjalan karena asetnya masih ada. Jadi negara melawan aset.19 Istilahnya in rem atau civil asset forfeiture.
Meski begitu, dalam Pasal 15 ayat (1) dan (2) Rancangan Undang-Undang a quo perampasan aset tidak menghapus kewenangan dalam penuntutan pidana pelaku. Justru, aset yang telah dirampas dapat dijadikan sebagai alat bukti dalam penuntutan pelaku tindak pidana.
Adapun beberapa ketentuan asset recovery dalam Rancangan Undang-Undang tentang Perampasan Aset Tindak Pidana memiliki kemiripan dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
maupun Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Seperti ketentuan yang mengatur mengenai profil mencurigakan seseorang sebagaimana diatur sebagai indikasi transaksi mencurigakan dalam ketentuan umum Pasal 1 angka 5 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, namun di dalam Rancangan Undang-Undang ini yakni pada Pasal 3, profil mencurigakan tersebut dapat menjadi dasar seseorang dijerat hukum, bukan hanya unsur adanya indikasi perbuatan pidana.
Adapun Pasal 3 ayat (1) Rancangan Undang-Undang tentang Perampasan Aset Tindak Pidana yang berbunyi:
“Setiap orang yang memiliki aset yang tidak seimbang dengan penghasilannya dan tidak dapat membuktikan asal usul perolehannya secara sah maka aset tersebut dapat dirampas.”
19 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Pendidikan Anti Korupsi untuk Perguruan Tinggi,…., h. 61.
Dalam naskah akademik Rancangan Undang-Undang tentang Perampasan Aset Tindak Pidana, yakni halaman 43, dikatakan bahwa kecepatan melakukan penyitaan adalah suatu hal yang essensial dalam proses stolen asset recovery.
Bahwa seringkali para koruptor memindahkan asetnya ke luar negeri untuk mempersulit aparat hukum Indonesia dalam menyita dan mengambailnya begitu ada indikasi bahwa dirinya akan diperiksa dalam keterlibatan sebuah tindak pidana. Pada Pasal 6 ayat (1) Rancangan Undang-Undang a quo dikatakan bahwa dalam hal Penyidik ataupun Penuntut Umum, berdasarkan hasil penelusuran, memperoleh dugaan kuat mengenai asal-usul suatu aset maka terhadap aset terssebut dapat diperintahkan pemblokiran kepada lembaga yang berwenang. Hal ini serupa pada Pasal 71 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
Namun demikian, yang menjadi spot light Rancangan Undang-Undang tentang Perampasan Aset Tindak Pidana ini ya sekaligus menutup celah hukum pada Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, yakni dengan diberlakukannya perampasan aset meskipun tersangka atau terdakwa melarikan diri. Ketentuan tersebut secara tegas diatur dalam Pasal 14 ayat (1) huruf a Rancangan Undang-Undang tentang Perampasan Aset Tindak Pidana.
Selain itu, pada Pasal 20 Rancangan Undang-Undang tentang Perampasan Aset Tindak Pidana diatur mengenai kewenangan Penuntut Umum untuk mengajukan permohonan perampasan aset terdakwa. Ketentuan a quo telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan secara teknis dalam PERMA No.1 Tahun 2013 tentang Tata Cara Penyelesaian Permohonan Penanganan Harta Kekayaan dalam Tindak Pidana Pencucian Uang atau Tindak Pidana Lain. Perbedaan keduanya hanya pada frasa, dimana pada
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan PERMA No. 1 Tahun 2013 tentang Tata Cara Penyelesaian Permohonan Penanganan Harta Kekayaan dalam Tindak Pidana Pencucian Uang atau Tindak Pidana Lain, digunakan frasa
“penanganan harta kekayaan”, bukan “perampasan aset”.
Mekanisme penanganan harta kekayaan yang dimaksud dalam Pasal 67 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang ditujukan bagi aset atau harta kekayaan tak bertuan. Harta atau aset tak bertuan merupakan aset yang terindikasi sebagai aset yang tercemar, sehingga kemudian dilakukan pemblokiran atau penghentian sementara, namun tidak ada satupun pihak yang mengajukan keberatan dalam waktu 20 hari, sebagaimana diatur pada Pasal 67 a quo.
PPATK kemudian menyerahkan kepada penyidik untuk dilakukan penyidikan, namun tersangka tidak ditemukan, sehingga selanjutnya penyidik dapat mengajukan permohonan perampasan aset. Hal yang demikian merupakan salah satu bentuk pengadopsian NCB, sebab yang menjadi fokus adalah aset, dalam hal ini aset tak bertuan.
Seperti halnya dalam Pasal 67 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang maupun PERMA No. 1 Tahun 2013 tentang Tata Cara Penyelesaian Permohonan Penanganan Harta Kekayaan dalam Tindak Pidana Pencucian Uang atau Tindak Pidana Lain, pada Rancangan Undang-Undang tentang Perampasan Aset Tindak Pidana khususnya Pasal 23, diatur tahapan selanjutnya setelah permohonan perampasan aset diajukan, Pengadilan Negeri memeriksa permohonan tersebut dengan acara pemeriksaan yang diatur pada Pasal 29 hingga Pasal 51.
Adapun sistem pembuktian yang diberlakukan pada Rancangan Undang-Undang tentang Perampasan Aset Tindak Pidana menganut sistem pembalikan beban pembuktian secara murni. Pihak yang berkepentingan atas aset tersebut
wajib membuktikan aset bahwa aset tersebut bukan berasal dari tindak pidana, dengan cara mengajukan alat bukti yang cukup. Dalam hal pihak yang berkepentingan tidak dapat membuktikan, maka hakim memutuskan aset tersebut untuk dirampas untuk negara atau dikembalikan kepada yang berhak.
Sama halnya jika pihak yang berkepentingan tidak menghadiri persidangan maupun menolak untuk membuktikan aset tersebut.
Berdasarkan atas uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya mekanisme asset recovery yang dilakukan PPATK dalam melakukan pemblokiran transaksi mencurigakan hingga penyidik yang dapat memohon penetapan perampasan aset tak bertuan pada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang merupakan bentuk pengadopsian mekanisme NCB pada Rancangan Undang-Undang tentang Perampasan Aset Tindak Pidana.
Meskipun, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang masih setengah hati dan enggan dalam mengakui serta menerapkan mekanisme NCB. Sehingga, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang masih belum mampu menjangkau keefektifan yang optimal dalam penerapan delik tindak pidana pencucian uang terhadap aset hasil tindak pidana asal, kaitannya dengan asset recovery. Pada akhirnya, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jarang digunakan dan mengalami sejumlah hambatan dalam penerapannya sebagaimana diuraikan sebelumnya.
Pada akhirnya, perlu diingat kembali bahwa gagasan dasar kriminalisasi pencucian uang yaitu upaya untuk menerapkan “crime doesn’t pay” termasuk terhadap tindak pidana korupsi. Sebagaimana Penulisan yang dilakukan Sutherland di India yang membuktikan teorinya yaitu differential association theory, bahwa meningkatnya korupsi disebabkan sikap “meneladani”
kesuksesan ekonomi para koruptor. Sehingga tidak diragukan bahwa “Criminal behaviour is not invented but learned”, termasuk mengakibatkan seseorang
menjadi ‘berkeinginan’ melakukan tindak pidana korupsi karena belajar dari kesuksesan ekonomi para koruptor.20 Oleh karena itu istilah “pemberantasan”
bukan hanya diarahkan pada penanganan perkaranya, melainkan juga diupayakan untuk “menghalangi” ataupun “menutup kemungkinan” para koruptor menikmati hasil kejahatannya. Sebagaimana dituangkan dalam Bab II UNCAC, bahwa kriminalisasi pencucian uang adalah bagian dari upaya pencegahan (preventive measures) tindak pidana korupsi.
20 Abd Razak Musahib, Pengembalian Keuangan Negara Hasil Tindak Pidana Korupsi, e-Journal Katalogis Volume 3 No. 1, ISSN: 2302-2019, Januari 2015, hlm. 6-7.
101
BAB V
PENUTUP