• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Kerangka Konseptual

4. Tindak Pidana Korupsi

a. Pengertian Tindak Pidana Korupsi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, korupsi berasal dari kata korup, yang artinya buruk, rusak, busuk, suka menggunakan barang ataupun uang yang dipercayakan kepadanya, dapat disogok (dengan menggunakan kekuasaannya untuk mendapatkan kepentingan pribadi).34 Adapun Black Law Dictionary mendefinisikan korupsi sebagai perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk mendapat keuntungan, baik perseorangan maupun korporasi, yang bertentangan dengan kewenangan resmi dengan melawan hukum.35 Lebih lanjut, dalam bahasa latin, akar kata korupsi yaitu corruptus yang artinya buruk, menyimpang dari kesucian, penghinaan.

Disebutkan pula corruption atau korupsi berasal dari kata corrumpere yang merupakan kata latin yang lebih tua berarti kerusakan

33 Paku Utama, Memahami Asset Recovery & Gatekeeper, (Jakarta: Indonesian Legal Roundtable, 2013), h. 146.

34 Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring, diakses dari

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/korup pada 4 April 2021 pukul 07.45 WIB.

35 The Law Dictionary, diakses dari https://thelawdictionary.org/corruption/ pada 4 April 2021 pukul 07.41 WIB.

atau kebobrokan, dan umumnya dipakai untuk menunjukkan keadaan atau perbuatan buruk. Dari bahasa latin itulah kemudian turun menjadi berbagai bahasa di Eropa, seperti di Inggris dan Perancis dengan corruption atau corrupt, dan di Belanda dengan corruptie (Korruptie).36 A.S. Horby, dkk mendefinisikan korupsi sebagai suatu pemberian dan penerimaan hadiah berupa suap (the offering and accepting of bribes), serta kebusukan atau keburukan (decay).37

Korupsi pertama kali dirumuskan dalam regulasi di Indonesia yaitu dalam Pasal 1 ayat 1 Peraturan Penguasa Militer Nomor Prt/PM-06/1957 pada 9 April 1957, dimana definisi korupsi dibagi 2 (dua) yaitu:

1) Tiap perbuatan yang dilakukan oleh siapa pun juga, baik untuk kepentingan sendiri, untuk kepentingan orang lain, atau untuk kepentingan suatu badan yang langsung atau tidak langsung menyebabkan kerugian keuangan atau perekonomian.

2) Tiap perbuatan yang dilakukan oleh seorang pejabat yang menerima gaji atau upah dari suatu badan yang menerima bantuan dari keuangan negara atau daerah yang dengan mempergunakan kesempatan atau kewenangan atau kekuasaan yang diberikan kepadanya oleh jabatan langsung atau tidak langsung membawa keuntungan keuangan material baginya.

Selanjutnya definisi korupsi dalam Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yaitu:

“Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, di

36 Guntur Rambey, Pengembalian Kerugian Negara dalam Tinadk Pidana Korupsi melalui Pembayaran Uang Pengganti dan Denda, Jurnal De Lega Lata, Volume 1 No. 1, Januari-Juni 2016, h. 139.

37 H. Elwi Danil, Korupsi Konsep, Tindak Pidana dan Pemberantasannya, (Jakarta: PT.

Raja Grafindo Persada, 2011), h. 3.

pidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000 (satu milyar rupiah).”

Adapun Islam telah mengatur perihal larangan mengambil harta orang lain yang bukan hak dirinya, yangmana sama dengan tindak pidana korupsi, yaitu pada surah Al-Baqarah (QS. 2:188) yang bunyinya:

ىَلِإ اَهِب اوُلْدُت َو ِل ِطاَبْلاِب ْمُكَنْيَب ْمُكَلا َو ْمَأ اوُلُكْأَت َلَ َو ْمُتْنَأ َو ِمْثِ ْلْاِب ِساَّنلا ِلا َو ْمَأ ْن ِم اًقي ِرَف اوُلُكْأَتِل ِماَّكُحْلا َنوُمَلْعَت

Artinya: Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.

Makna ayat ini yakni mengenai larangan mengambil hak orang lain atau istilah pidana yang digunakan korupsi. Perbuatan curang tersebut adalah perbuatan tercela dan secara tidak langsung menghilangkan hak kehidupan orang lain atas kehidupan yang lebih baik, jikalau tidak dilakukan korupsi. Ayat ini mengisyaratkan bahwa praktek sogok atau suap merupakan salah satu tindak kriminal yang paling berbahaya bagi suatu bangsa. Pada ayat tersebut dijelaskan pihak-pihak yang melakukan tindakan penyuapan. Yang pertama, pihak penyuap, dan yang kedua, pihak yang menerima suap, yaitu penguasa yang menyalahgunakan

wewenangnya dengan memberikan kepada pihak penyuap sesuatu yang bukan haknya.

Selain dari surat al-Baqarah di atas, larangan melakukan tindak pidana korupsi terdapat pada surah An-Nisa (QS. 4:29) yang berbunyi:

َّلَِإ ِل ِطاَبْلاِب ْمُكَنْيَب ْمُكَلا َو ْمَأ اوُلُكْأَت َلَ اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّيَأ اَي ۚ ْمُكَسُفْنَأ اوُلُتْق َت َلَ َو ۚ ْمُكْنِم ٍضا َرَت ْنَع ًة َراَجِت َنوُكَت ْنَأ ا ًمي ِح َر ْمُكِب َناَك َ َّاللَّ َّنِإ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu;

sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Makna ayat ini yakni mengenai larangan untuk berbuat curang dan mengambil keuntungan secara sepihak atas harta orang lain, seperti riba, merampas, mencuri, judi ataupun korupsi. Di samping melarang memakan harta orang lain dengan jalan yang batil, di mana di dalamnya terdapat bahaya bagi mereka, baik bagi pemakannya maupun orang yang diambil hartanya, Allah menghalalkan kepada mereka semua yang bermaslahat bagi mereka seperti berbagai bentuk perdagangan dan berbagai jenis usaha dan keterampilan. Disyaratkan atas dasar suka sama suka dalam perdagangan untuk menunjukkan bahwa akad perdagangan tersebut bukan akad riba, karena riba bukan termasuk perdagangan, bahkan menyelisihi maksudnya, dan bahwa kedua belah pihak harus suka sama suka dan melakukannya atas dasar pilihan bukan paksaan. Oleh karena itu, jual beli gharar (tidak jelas) dengan segala bentuknya adalah haram karena jauh dari rasa suka sama suka. Korupsi termasuk salah satu jalan bathil yang dilakukan seseorang untuk meningkatkan hartanya,

sebagai contoh seorang pegawai kantor pelayanan publik membuat nota fiktif yang telah di mark up agar kelebihannya dapat menjadi milik pribadi. Korupsi juga merupakan kejahatan yang tidak pernah benar-benar hilang, karena pelakunya kerap diberikan fasilitas istimewa sehingga tidak jera melakukan kejahatan tersebut. Selain itu terdapat juga larangan untuk membunuh diri sendiri.

b. Jenis Tindak Pidana Korupsi

Dalam sudut pandang hukum, definisi korupsi sangatlah luas sesuai jenisnya, sehingga definisi korupsi termaktub dalam 13 (tiga belas) pasal dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yangmana korupsi dirumuskan ke dalam 30 (tiga puluh) jenis. Kemudian dikelompokkan kembali menjadi 7 (tujuh) kelompok/jenis, yakni:38

1) Kelompok delik yang dapat merugikan keuangan/perekonomian negara.

Dikatakan segala perbuatan yang merugikan negara baik secara langsung maupun tidak langsung termasuk perbuatan korupsi.

Ketentuan yang mengatur jenis ini yakni Pasal 2 dan 3.

2) Kelompok delik penyuapan (aktif maupun pasif). Jenis korupsi ini diatur melalui Pasal 5 ayat (1) huruf a dan b, Pasal 5 ayat (2), Pasal 6 ayat (1) huruf a dan b, Pasal 6 ayat (2), Pasal 11, Pasal 12 huruf a sampai d, dan Pasal 13.

3) Kelompok delik penggelapan dalam jabatan. Pelaku yang memiliki jabatan tertentu melakukan penggelapan atau membantu orang lain menggelapkan uang atau surat berharga milik negara sehingga menguntungkan dirinya dan/atau orang lain. Pasal yang mengatur adalah Pasal 8, Pasal 9, dan Pasal 10 huruf a sampai c.

4) Kelompok delik pemerasan (knevelarij, extortion). Pelaku yang mempunyai kekuasaan, memaksa bawahannya untuk membayar lebih

38 Flora Dianti, Bentuk-Bentuk Tindak Pidana Korupsi, Hukumonline.com, diakses dari https://m.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt5e6247a037c3a/bentuk-bentuk-tindak-pidana-korupsi/ pada 15 Juli 2021 pukul 02.00 WIB.

sesuatu melebihi ketentuan ataupun tidak membayarkan upahnya.

Ketentuan yang mengatur terdapat pada Pasal 12 huruf e, g, dan h.

5) Kelompok delik perbuatan curang/pemalsuan. Pasal yang mengatur perbuatan curang yaitu Pasal 7 ayat (1) huruf a sampai d, Pasal 7 ayat (2), dan Pasal 12 huruf h.

6) Kelompok delik terkait benturan kepentingan dalam proyek pengadaan.

Adapun dalam proyek pengadaan, terdapat penyelenggara negara yang mengambil keuntungan untuk dirinya, keluarganya, maupun kroni-kroninya. Jenis tindak pidana ini diatur dalam Pasal 12 huruf I.

7) Kelompok delik gratifikasi. Gratifikasi yang berubah menjadi suap, dikarenakan memenuhi unsur penerimanya adalah penyelenggara negara, unsur menerima, dikenakan Pasal 12B.

5. Keterkaitan Tindak Pidana Pencucian Uang dan Tindak Pidana