• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Kerangka Konseptual

3. Tindak Pidana Pencucian Uang

a. Pengertian Tindak Pidana Pencucian Uang

Secara harfiah istilah money laundering dalam bahasa Indonesia biasa diterjemahkan “pencucian uang” atau dahulu dikenal sebagai

“pemutihan uang”. Adapun definisi pencucian uang tertuang dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, yaitu:

“Pencucian uang adalah segala perbuatan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini.”

Hakikatnya pencucian uang adalah uang kotor (dirty money) yang

‘dicuci’ dengan suatu transaksi keuangan atau diinvestasikan dalam suatu bisnis yang legal, sehingga seolah menjadi clean money. Sutan Remy Sjahdeini menyimpulkan money laundering merupakan rangkaian

28 Fakultas Hukum Universitas Udayana, Buku Ajar Hukum Pidana Lanjutan,…., h. 42-43.

29 Fakultas Hukum Universitas Udayana, Buku Ajar Hukum Pidana Lanjutan,…., h. 41.

kegiatan atau proses yang dilakukan seseorang atau organisasi terhadap uang haram atau uang hasil tindak pidana, dengan maksud menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul uang tersebut dari otoritas yang mengawasi, dengan cara paling utama yaitu memasukkan uang tersebut ke dalam sistem keuangan (financial system), sehingga uang tersebut dapat dikeluarkan dari sistem sebagai uang halal.30

b. Dasar Kriminalisasi Pencucian Uang di Indonesia

Meminjam pernyataan Guy Stessen dalam bukunya yang berjudul Money Laundering: A New International Law Enforcement Model, secara umum ada 3 (tiga) alasan mengapa praktik pencucian uang sangat perlu diperangi dan dinyatakan sebagai tindak pidana (kriminalisasi) yaitu:31 1) Memiliki dampak negatif bagi perekonomian dunia, misal dampak

negatif terhadap efektifitas penggunaan sumber daya dan dana. Sebab money laundering membuat sumber daya dan dana dialirkan untuk kegiatan tidak sah dan merugikan masyarakat, seperti pencucian uang yang berasal dari kejahatan terorganisir. Fluktuasi tajam pada nilai tukar dan suku bunga juga merupakan salah satu dampak negatif dari pencucian uang. Sehingga pada akhirnya pencucian uang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia.

2) Dengan menetapkan money laundering sebagai tindak pidana akan memudahkan aparat penegak hukum dalam menyita hasil tindak pidana (proceeds of crime) yang terkadang sulit dilakukan pada kejahatan biasa atau tindak pidana umum. Sebagai contoh, aset yang sudah dialihkan ke banyak pihak dan banyak tempat, sehingga semakin sulit dilacak. Sehingga, dengan menggunakan dasar tindak pidana pencucian uang, hasil kejahatan dapat dirampas. Di banyak negara, regulasi

30 Susanto, Penafsiran Asas Manfaat Tentang Asset Recovery Korban Tindak Pidana Pencucian Uang (Kajian Putusan Nomor 195 K/PDT/2018), Jurnal Yudisial, Volume 13 No. 1, E-ISSN: 2579-4868 dan P-E-ISSN: 1978-6506, April 2020: 89-105, h. 93.

31 Rizky Amalia, Implementasi Pendekatan Follow The Money Dalam Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) Dari Sisi Penegakan Hukum di Indonesia, (Tesis Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2017), h. 42.

pencucian uang digunakan untuk menjerat pihak ketiga yang dianggap menghambat upaya penegakan hukum.

3) Dengan adanya kriminalisasi pencucian uang dan sistem pelaporan transaksi mencurigakan akan memudahkan aparat penegak hukum dalam menyelidiki serta menelusuri hingga kepada tokoh-tokoh di belakang layar yang umumnya sulit dilacak dan ditangkap. Tokoh-tokoh ini sulit ditemukan karena mereka bukan bagian dari pelaku aktif melainkan penikmat daripada hasil tindak pidana.

c. Tahapan dan Metode Pencucian Uang

Sementara metode pencucian uang kian canggih, yang umum digunakan yaitu:

1) Buy and Sell Conversions. Melalui jual-beli barang dan jasa. Contoh, real estate atau aset lainnya yang dapat dibeli dan dijual kepada co-conspirator yang menyetujui untuk membeli atau menjual dengan harga lebih tinggi dengan tujuan memperoleh fee atau discount.

Kelebihan harga dibayar menggunakan uang hasil kejahatan yang kemudian diputar kembali melalui transaksi bisnis. Dengan cara ini, setiap aset atau jasa dapat diubah seolah-olah menjadi hasil yang legal melalui rekening pribadi atau perusahaan yang ada di suatu bank.

2) Offshore Conversions. Dana ilegal dialihkan ke negara tax heaven bagi money laundering centers dan kemudian disimpan di bank atau lembaga keuangan yang ada di wilayah negara tersebut. Dana tersebut kemudian digunakan antara lain untuk membeli aset dan investasi (fund investments). Biasanya di wilayah tax heaven terdapat kecenderungan peraturan hukum perpajakan yang lebih longgar, ketentuan rahasia bank yang ketat dan prosedur bisnis yang sangat mudah sehingga memungkinkan adanya perlindungan bagi kerahasiaan suatu transaksi bisnis, pembentukan dan kegiatan usaha trust fund maupun usaha lain.

Kerahasiaan itu yang memberikan ruang gerak yang leluasa bagi pergerakan “dana kotor” melalui berbagai pusat keuangan di dunia.

Dalam hal ini, para pengacara, akuntan, dan pengelola dana biasanya sangat berperan penting dalam metode offshore conversions ini dengan memanfaatkan celah yang ditawarkan oleh ketentuan rahasia bank dan rahasia perusahaan.

3) Legitimate Business Conversions. Melalui bisnis yang sah sebagai sarana untuk memindahkan dan memanfaatkan hasil kejahatan yang dikonversikan melalui transfer, cek, atau instrumen pembayaran lainnya, yang kemudian disimpan di rekening bank atau ditarik atau ditransfer kembali ke rekening bank lainnya. Metode ini memungkinkan pelaku kejahatan menjalankan usaha atau bekerjasama dengan mitra bisnisnya menggunakan rekening perusahaan sebagai tempat penampungan hasil kejahatan.

Adapun tahapan-tahapan dalam tindak pidana pencucian uang dapat dikelompokkan ke dalam 3 tahap, yaitu placement, layering, dan integration. Berikut ini uraian ketiga tahapan tersebut.32

1) Placement. Tahap permulaan sekaligus yang paling mudah dideteksi karena uang hasil kejahatan berhubungan langsung dengan sumbernya.

Di tahap ini pelaku mendapat rintangan terbesar dalam menghadapi tahap berikutnya yaitu layering. Karena pada tahap placement dianggap sebagai langkah paling mudah dilakukan pendeteksian.

Perundang-undangan anti pencucian uang mewajibkan pelaporan dan langkah untuk mendeteksi asal dana yang tidak wajar misalnya pada bank, perusahaan asuransi, dan perusahaan real estate.

2) Layering. Tahapan dimana pelaku membuat transaksi lebih rumit dan berlapis-lapis serta dilindungi oleh berbagai bentuk anonimitasi.

Biasanya melibatkan wire transfer dengan sejumlah rekening yang ditransfer ke berbagai negara. Tujuannya menghindari audit trail.

32 Yenti Garnasih, Penegakan Hukum Anti Pencucian Uang dan Permasalahannya di Indonesia,…., h. 23.

3) Integration. Merupakan tahap di mana dana yang sudah disamarkan tersebut dimasukkan kembali ke dalam rekening pelaku melalui transaksi sah, sehingga tidak terlihat asal mula dana.

Paku Utomo, berdasarkan laporan Egmont Group of Financial Intelligence Unit, mengklasifikasikan tipologi pencucian uang ke dalam 5 (lima) bentuk, yakni:33

1) Penyembunyian dalam perusahaan.

2) Penyalahgunaan bisnis yang sah.

3) Penggunaan dokumen atau identitas palsu.

4) Eksploitasi permasalahan yurisdiksi internasional.

5) Penggunaan jenis aset tidak bernama.