• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mekanisme menurut Ketentuan Hukum Nasional

PENCABUTAN STATUS KEWARGANEGARAAN MANTAN MILISI ISLAMIC STATE OF IRAQ AND SYRIA DI INDONESIA

A. Mekanisme Pencabutan Status Kewarganegaraan Mantan Milisi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dalam Ketentuan Hukum Nasional dan State of Iraq and Syria (ISIS) dalam Ketentuan Hukum Nasional dan

1. Mekanisme menurut Ketentuan Hukum Nasional

Konteks kewarganegaraan pada umunya membahas tentang hak yang diterima dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh warga negara dalam suatu negara. Menurut Bryan S. Turner, kewarganegaraan merupakan kumpulan hak dan kewajiban yang memberi identitas hukum formal kepada setiap orang/individu, dimana hak dan kewajiban tersebut telah disatukan secara historis dalam lembaga sosial melalui peradilan, parlemen, dan kebijakan negara kesejahteraan1. Terkait hilang atau dicabutnya status kewarganegaraan diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia dan diatur lebih lanjut mekanismenya dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Memperoleh, Kehilangan, Pembatalan, Dan Memperoleh Kembali Kewarganegaraan Republik Indonesia Pasal 31:

a) memperoleh kewarganegaraan lain atas kemauannya sendiri;

b) tidak menolak atau tidak melepaskan kewarganegaraan lain, sedangkan orang yang bersangkutan mendapat kesempatan untuk itu;

1 Supriyadi A Arief, Iwa kustiwa. Pemberatan Syarat Dan Prosedur Terhadap Warga Negara Dalam Mendapatkan Kembali Kewarganegaraan di Indonesia. Jurnal Rechtsvinding Vo.9

No.3, Desember 2020. h. 447. URL:

https://rechtsvinding.bphn.go.id/artikel/7.%20Supriyadi%20A%20Arief.pdf

47

c) masuk dalam dinas tentara asing tanpa izin terlebih dahulu dari Presiden;

d) secara sukarela masuk dalam dinas negara asing, yang jabatan dalam dinas semacam itu di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan hanya dapat dijabat oleh Warga Negara Indonesia;

e) secara sukarela mengangkat sumpah atau menyatakan janji setia kepada negara asing atau bagian dari negara asing tersebut;

f) tidak diwajibkan tetapi turut serta dalam pemilihan sesuatu yang bersifat ketatanegaraan untuk suatu negara asing;

g) mempunyai paspor atau surat yang bersifat paspor dari negara asing atau surat yang dapat diartikan sebagai tanda kewarganegaraan yang masih berlaku dari negara lain atas namanya; atau

h) bertempat tinggal di luar wilayah negara Republik Indonesia selama 5 (lima) tahun terus-menerus bukan dalam rangka dinas negara, tanpa alasan yang sah dan dengan sengaja tidak menyatakan keinginannya untuk tetap menjadi Warga Negara Indonesia sebelum jangka waktu 5 (lima) tahun itu berakhir, dan setiap 5 (lima) tahun berikutnya yang bersangkutan tidak mengajukan pernyataan ingin tetap menjadi Warga Negara Indonesia kepada Perwakilan Republik Indonesia yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal yang bersangkutan padahal Perwakilan Republik Indonesia tersebut telah memberitahukan secara tertulis kepada yang bersangkutan, sepanjang yang bersangkutan tidak menjadi tanpa kewarganegaraan.

Pasal 32

(1) Pimpinan instansi tingkat pusat yang mengetahui adanya Warga Negara Indonesia yang memenuhi ketentuan kehilangan Kewarganegaraan

Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) mengkoordinasikan kepada Menteri. 


(2) Pimpinan instansi tingkat daerah atau anggota masyarakat yang mengetahui adanya Warga Negara Indonesia yang memenuhi ketentuan kehilangan Kewarganegaraan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) melaporkan secara tertulis kepada Pejabat. 


(3) Anggota masyarakat yang bertempat tinggal di luar wilayah negara Republik Indonesia yang mengetahui adanya Warga Negara Indonesia yang memenuhi ketentuan kehilangan Kewarganegaraan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) melaporkan secara tertulis kepada Perwakilan Republik Indonesia.

Pasal 33 


(1) Laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2) dan ayat (3) sekurang-kurangnya memuat:

a. nama lengkap, alamat pelapor dan terlapor; dan 


b. alasan kehilangan Kewarganegaraan Republik Indonesia terlapor. 


(2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilampiri antara lain:

a. fotokopi Surat Perjalanan Republik Indonesia atas nama yang bersangkutan; dan 


b. fotokopi paspor atau surat yang bersifat paspor dari negara asing atau surat yang dapat diartikan sebagai tanda kewarganegaraan yang masih berlaku dari negara lain atas namanya.

Pasal 34 


49

(1) Sebagai tindak lanjut hasil koordinasi dan laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32, Menteri memeriksa kebenaran laporan tentang kehilangan Kewarganegaraan Republik Indonesia. 


(2) Untuk keperluan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri melakukan klarifikasi kepada pelapor, terlapor, dan instansi terkait. 


(3) Dalam hal hasil pemeriksaan dan klarifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) telah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33, Menteri menetapkan Keputusan Menteri tentang nama orang yang kehilangan Kewarganegaraan Republik Indonesia. 


(4) Keputusan Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tembusannya disampaikan kepada:

a. Presiden; 


b. Pejabat yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal orang yang kehilangan kewarganegaraan; 


c. Perwakilan Republik Indonesia yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal orang yang kehilangan kewarganegaraan; dan 
 d. instansi terkait. 


Pasal 35 


(1) Permohonan kehilangan Kewarganegaraan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (2) diajukan secara tertulis oleh yang bersangkutan kepada Presiden melalui Menteri. 


(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat dalam bahasa Indonesia di atas kertas bermeterai cukup dan sekurang-kurangnya memuat:

b. nama lengkap; 


c. tempat dan tanggal lahir; 


d. alamat tempat tinggal; 


e. pekerjaan; 


f. jenis kelamin; 


g. status perkawinan pemohon; dan 
 h. alasan permohonan. 


(3) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilampiri dengan:

a. fotokopi kutipan akte kelahiran atau surat yang membuktikan kelahiran pemohon yang disahkan oleh Kepala Perwakilan Republik Indonesia; 


b. fotokopi akte perkawinan/buku nikah, kutipan Akte perceraian/surat talak/perceraian, atau kutipan akte kematian isteri/suami pemohon bagi yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun dan sudah kawin yang disahkan oleh Kepala Perwakilan Republik Indonesia; 


c. fotokopi Surat Perjalanan Republik Indonesia atau Kartu Tanda Penduduk yang disahkan oleh Kepala Perwakilan Republik Indonesia; 


d. surat keterangan dari perwakilan negara asing bahwa dengan kehilangan Kewarganegaraan Republik Indonesia pemohon akan menjadi warga negara asing; dan 


e. pasfoto pemohon terbaru berwarna ukuran 4X6 (empat kali enam) senti meter sebanyak 6 (enam) lembar. 


(4) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) beserta lampirannya disampaikan kepada Perwakilan 
Republik Indonesia yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal pemohon.

Pasal 36

(1) Perwakilan Republik Indonesia memeriksa kelengkapan persyaratan permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal diterimanya permohonan. 


51

(2) Dalam hal permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 belum lengkap, Perwakilan Republik Indonesia mengembalikan kepada pemohon dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal permohonan diterima.

(3) Dalam hal permohonan telah lengkap, Perwakilan Republik Indonesia menyampaikan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Menteri dalam waktu paling lama 2 (dua) bulan terhitung sejak tanggal permohonan diterima secara lengkap. 


Pasal 37 


(1) Menteri setelah menerima permohonan dari Perwakilan Republik Indonesia dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari memeriksa permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (3). 


(2) Dalam hal permohonan belum lengkap, Menteri mengembalikan permohonan kepada Perwakilan Republik Indonesia dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal permohonan diterima untuk dilengkapi. 


(3) Dalam hal permohonan telah lengkap, Menteri meneruskan permohonan kepada Presiden dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal permohonan diterima. 


Pasal 38 


(1) Presiden menetapkan keputusan mengenai kehilangan Kewarganegaraan Republik Indonesia. 


(2) Keputusan Presiden sebagaimana dimaksud pada ayat (1), petikannya disampaikan kepada Perwakilan Republik Indonesia dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal Keputusan Presiden ditetapkan dan salinannya disampaikan kepada Menteri dan Perwakilan Republik Indonesia. 


(3) Perwakilan Republik Indonesia menyampaikan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada pemohon dalam, waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal Keputusan Presiden diterima. 


Pasal 39 


Menteri mengumumkan nama orang yang kehilangan Kewarganegaraan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 dan Pasal 38 dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Berdasarkan pasal-pasal yang mengatur ketentuan akan kehilangan kewarganegaraan penulis berasumsi bahwa proses kehilangan kewarganegaraan terbilang cukup sulit. Prosedur yang sulit ini menandakan bahwasannya peraturan di Indonesia terkait kewargangeraan dirancang untuk mencegah kehilangan status kewarganergaraan sehingga menjadi orang tanpa kewarganegaraan (stateless person). Hal ini pun dibuktikan dengan adanya empat asas kewarganegaraan yaitu asas ius soli, ius sanguinis, asas kewarganegaraan tunggal, dan asas kewarganegaraan ganda sehingga status kewarganegaraan tiap-tiap orang di Indonesia dijamin dan dilindungi oleh negara.

Dalam kasus ini, poin yang dijadikan dasar pencabutan status kewarganegaraan oleh pemerintah adalah poin c dan d pasal 31, “masuk dalam dinas tentara asing tanpa izin terlebih dahulu dari Presiden; secara sukarela masuk dalam dinas negara asing, yang jabatan dalam dinas semacam itu di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan hanya dapat dijabat oleh Warga Negara Indonesia;” tetapi, perlu diketahui bahwasannya yang dimaksud tentara asing ialah jika tentara asing tersebut adalah bagian dari negara asing sedangkan ISIS didefinisikan sebagai organisasi teroris internasional, bukan sebagai negara. Sehingga, penulis menyimpulkan bahwa ISIS tidak dikategorikan sebagai negara terlebih tentara asing. Hal ini pun

53

sesuai dengan teori kedaulatan negara dalam Konvensi Montevideo.2 Meskipun ISIS memiliki rakyat, wilayah, dan pemerintahan tetapi ISIS tidak memiliki pengakuan dari negara-negara lain, malah justru dikecam, hal ini dibuktikan dengan beberapa Resolusi Dewan Keamanan PBB seperti Resolusi Nomor 2178 (2014), dan Nomor 2249 (2015) untuk menanggulangi masalah terorisme.

Adapun beberapa alasan mantan milisi ISIS untuk pergi ke Iraq ataupun Suriah:

a) mereka yang berangkat karena alasan ideologis;

b) mereka yang bergabung karena alasan pragmatis, yaitu diiming-imingi insentif besar, biasanya tidak memiliki ideologi yang kuat; dan c) mereka yang datang karena ikut-ikutan bahkan tertipu anggota

keluarga dan teman.3

Berdasarkan alasan-alasan tersebut, dalam masalah hilangnya status kewarganegaraan mantan milisi ISIS, pihak pemerintah yang mencabut status kewarganegaraan mantan milisi ISIS hanya melihat fakta-fakta yang berangkat atas dasar ideologis, alasan pragmatis, dan aksi pembakaran identitas oleh para mantan milisi ISIS secara simbolis. Sehingga, mantan milisi ISIS tersebut dikategorikan sebagai kombatan atau foreign terrorist fighter (FTF) dan dianggap pantas untuk langsung dicabut status kewarganegaraannya tetapi pemerintah tidak melihat adanya celah bahwasannya tidak semua yang dikategorikan mantan milisi ISIS sebagai FTF. Adapun polemik diantara kalangan akademisi dan pemerintah terkait status kewarganegaraan mantan

2 Memenuhi unsur pemerintahan yang berdaulat, Wilayah tertentu, Rakyat yang hidup teratur sebagai suatu bangsa (nation), dan Pengakuan dan negara-negara lain. Suatu negara tidak hanya membutuhkan rakyat, wilayah, dan pemerintahan tetapi juga pengakuan secara de jure untuk bisa melakukan hubungan internasional.

3 Elga Andina. Wacana Pemulangan Anak-Anak Kombatan ISIS. Kajian Singkat Terhadap Isu Aktual dan Strategis. Vol XII, No.4/II/Puslit/Februari2020. Pusat Penelitian

Badan Keahlian DPR RI. h. 15. URL:

https://berkas.dpr.go.id/puslit/files/info_singkat/Info%20Singkat-XII-4-II-P3DI-Februari-2020-232.pdf

milisi ISIS. Pemerintah dalam hal ini Presiden Joko Widodo beserta jajarannya dan Menko Polhukam Mahfud MD4 berpendapat bahwa sebaiknya mantan milisi ISIS ditolak dengan pertimbangan sebagai berikut:

Menteri berwenang melakukan Penangkalan. Pejabat yang berwenang dapat meminta kepada Menteri untuk melakukan penangkalan sesuai dengan Pasal 98 ayat 1 dan 2 UU Nomor 6 Tahun 2011 sebagaiman. Pelaksanaan penangkalan dilakukan oleh menteri atau pejabat Imigrasi yang ditunjuk.

Penangkalan itu ditetapkan dengan keputusan tertulis. Keputusan itu dikeluarkan oleh Menteri paling lambat 3 hari sejak tanggal permintaan penangkalan tersebut diajukan. Aturan teknis penangkalan diperjelas dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2013 tentang Peraturan Pelaksanaan UU Keimigrasian. Pasal 236 disebutkan orang yang terlibat kejahatan transnasional terorganisasi, bisa ditangkal masuk ke Indonesia. Pasal 236 ayat Ayat :

Alasan Keimigrasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain:

a. diketahui atau diduga terlibat kejahatan transnasional terorganisasi;

b. menunjukkan sikap bermusuhan terhadap Pemerintah Indonesia atau melakukan perbuatan yang mencemarkan nama baik bangsa dan negara Indonesia;

c. diduga melakukan perbuatan yang bertentangan dengan keamanan dan ketertiban umum, kesusilaan, agama, dan adat kebiasaan masyarakat Indonesia;

d. d. menggunakan paspor palsu atau yang dipalsukan guna memperoleh Visa

atau Izin Tinggal untuk

masuk dan berada di Wilayah Indonesia; dan/atau

4 Andi Saputra. Ini Dasar Hukum Pemerintah Bisa Menolak WNI Eks ISIS Masuk Indonesia Lagi. detikNews. URL: https://news.detik.com/berita/d-4895818/ini-dasar-hukum-pemerintah-bisa-menolak-wni-eks-isis-masuk-indonesia-lagi/2

55

e. dikenakan Tindakan Administratif Keimigrasian berupa Deportasi dari Wilayah Indonesia.

Berdasarkan ketentuan tersebut, pihak pemerintah dalam hal ini Menko Polhukam Mahfud MD menambahkan bahwasannya pemerintah menolak memulangkan mantan milisi ISIS karena mereka telah terlibat jaringan teroris, pemerintah tidak ingin mereka pulang dan menjadi virus bagi warga negara Indonesia lainnya. Adapun mengutip perkataan Gayus Lumbuun bahwa langkah pemerintah tersebut sudah tepat untuk menolak pemulangan mantan milisi ISIS tapi diperlukan keputusan pengadilan melalui proses persidangan yang independen dan merdeka untuk memberikan keadilan yang seutuhnya.5 Direktur Eksekutif Institute for Criminal Justice Reform (ICJR), Anggara mendesak agar pemerintah mengkaji ulang keputusan tersebut. Anggara meminta pemerintah menelusuri rekam jejak masing-masing para mantan anggota ISIS itu sebab kebijakan yang diambil seharusnya tidak bisa digeneralisir.6 Penolakan atas keputusan pemerintah tersebut juga datang dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Ahmad Taufan Damanik selaku Ketua Komnas HAM mengatakan bahwa pemerintah seharusnya memulangkan para mantan kombatan ISIS untuk diadili berdasarkan hukum yang berlaku di Indonesia.7 Penulis dalam hal ini berasumsi bahwa lebih baik apabila mantan milisi ISIS tetap memiliki status kewarganegarannya, jika status kewarganegaraan tersebut dicabut maka harus ada proses peradilan sebelumnya. Hal ini sejalan dengan teori due process of

5 Gayus Lumbuun: Tolak Masuk WNI Eks ISIS Demi Keamanan Negara, Antara News.

URL: https://www.antaranews.com/berita/1299170/gayus-lumbuun-tolak-masuk-wni-eks-isis-demi-keamanan-negara.

6 Randy Ferdi Firdaus, Melihat Aturan Hukum WNI Eks ISIS Dilarang Pulang ke Indonesia. Merdeka.com. URL: https://www.merdeka.com/peristiwa/melihat-aturan-hukum-wni-

eks-isis-dilarang-pulang-ke-indonesia.html#:~:text=Pemerintah%20tidak%20dapat%20melakukan%20pencekalan,dapat%20di tolak%20masuk%20wilayah%20Indonesia

7 Rahma Anjaeni, Ini tanggapan Komnas HAM atas keputusan pemerintah tidak akan pulangkan ISIS eks WNI. Kontan.co.id. URL: https://nasional.kontan.co.id/news/ini-tanggapan-komnas-ham-atas-keputusan-pemerintah-tidak-akan-pulangkan-isis-eks-wni?page=1

law sehingga tiap-tiap individu benar-benar dilindungi dan dijamin oleh hukum di Indonesia secara adil. Pencabutan status kewarganegaraan tanpa adanya peradilan pun tidak sesuai dengan Pasal 1 Ayat 3 “Negara Indonesia adalah negara hukum”, Pasal 28 D Ayat 1, “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum”, dan Ayat 4 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 “setiap orang berhak atas status kewarganegaraan”.

Berdasarkan pasal-pasal tersebut dapat dilihat bahwa pencabutan status kewarganegaraan di Indonesia sebenarnya sulit dilakukan karena hak kewarganegaraan Warga Negara Indonesia dijamin dalam konstitusi sebagai salah satu hak asasi manusia.

Penulis mengutip salah satu contoh kasus kewarganegaraan di Indonesia yaitu kasus kewarganegaraan ganda pemain sepak bola Irfan Bachdim. Irfan Bachdim memulai karirnya di Indonesia. Pada waktu itu ia berusia hampir 21 tahun dan masih mempunyai dua kewarganegaraan. Ia memiliki kewarganegaraan Indonesia dari ayahnya yang WNI, dan mempunyai kewarganegaraan Belanda dari tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Menurut undang-undang di Indonesia, kewarganegaraan seseorang yang berkewarganegaraan ganda bisa diputuskan paling lambat 3 tahun setelah ia menginjak usia 18 tahun. Agustus 2009 adalah batas akhir ia harus memilih kewarganegaraannya. Karena jika tidak, ia akan kehilangan kesempatan mendapat kewarganegaraan Indonesia. Jika ia tidak menjadi WNI, ia tidak akan bisa ikut membela Indonesia dalam laga Internasional. Saat itu Irfan Bachdim adalah pemain yang sangat diandalkan oleh timnas Indonesia untuk bertanding dalam piala AFF (Asian Football Federation) tahun 2010. Pada akhirnya, putra dari Noval Bachdim ini memilih untuk menjadi WNI sebelum usianya lebih dari 21 tahun.8 Berdasarkan contoh kasus tersebut, penulis berpendapat bahwa perihal kewarganegaraan diperkuat dengan adanya

8 Dian Paramita. 4 Contoh Kasus Kewarganegaraan Ganda di Indonesia. URL:

https://guruppkn.com/contoh-kasus-kewarganegaraan-ganda

57

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan yang menegaskan di Indonesia terdapat empat asas yang dianut yaitu asas ius soli, ius sanguinis, asas kewarganegaraan tunggal, dan asas kewarganegaraan ganda. Adanya asas-asas tersebut bertujuan dalam melindungi juga menjamin hak-hak kewarganegaraan seseorang terlebih perihal status kewarganegaraan.

Sehingga, keadaan seseorang tanpa kewarganegaraan tidak sesuai bahkan tidak dikenal dalam ketentuan-ketentuan hukum di Indonesia.

Status kewarganegaraan seseorang adalah hak fundamental, dan hak berharga (precious rights) maka dari itu, hak setiap warga negara wajib diakui (recognized), dihormati (respected), dilindungi (protected), difasilitasi (facilitated), dan dipenuhi (fulfilled) oleh negara.9 Sehingga, kondisi seseorang tanpa kewarganegaraan (stateless person akan berdampak sangat besar, jika seseorang tidak mempunyai status kewarganegaraan maka hak-haknya untuk hidup, dan memenuhi kehidupannya akan sulit diakui. Beberapa dampak dari hal tersebut ialah tidak bisa mendapatkan perlindungan hukum, terkecualikan dari proses-proses politik dan hak menetap dalam suatu negara, dan seseorang yang tanpa kewarganegaraan dapat terkena penahanan jangka panjang. Selain itu, kondisi tanpa kewarganegaraan juga dapat menciptakan instabilitas sosial dan pengungsian.10

Status kewarganegaraan Warga Negara Indonesia dalam perspektif Hak Asasi Manusia diatur dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia beberapa pasal diantaranya:

e. Pasal 8, “Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia terutama menjadi tanggung jawab Pemerintah.”

9 Isharyanto. Hukum Kewarganegaraan Republik Indonesia. Absolute Media:Bantul. 2016.

h.12

10 Imron Rasyid, M. Hasan Ansori, Johari Efendi, Sopar Peranto, Vidya Hutagalung, Muhamad Arif. Kajian Kontra Terorisme dan Kebijakan Tantangan dan Solusi Pemulangan Simpatisan ISIS. h.13

f. Pasal 26 ayat (1), “Setiap orang berhak memiliki, memperoleh, mengganti, atau mempertahankan status kewarganegaraannya.”

g. Pasal 27 ayat (2), “Setiap Warga Negara Indonesia berhak meninggalkan dan masuk kembali ke wilayah negara Republik Indonesia, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”

h. Pasal 29 ayat (2), “setiap orang berhak atas pengakuan di depan hukum sebagai manusia pribadi di mana saja ia berada.”

i. Pasal 35, “Setiap orang berhak hidup di dalam tatanan masyarakat dan kenegaraan yang damai, aman, dan tenteram, yang menghormati, melindungi dan melaksanakan sepenuhnya hak asasi manusia dan kewajiban dasar manusia sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini.”

Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut penulis menyimpulkan bahwasannya pencabutan status kewarganegaraan tanpa adanya proses peradilan tidak sejalan dengan nilai-nilai hak asasi manusia sebagaimana yang dijadikan dasar pedoman Indonesia dalam membuat ketentuan-ketentuan hukum. Adapun teori due process of law yang menjamin keadilan seadil-adilnya melalui fakta-fakta yang tersedia dan menempuh proses peradilan dirasa lebih tepat dilakukan daripada mencabut status kewarganegaraan mantan milisi ISIS tanpa adanya prosedur hukum yang jelas.