• Tidak ada hasil yang ditemukan

STATUS KEWARGANEGARAAN MANTAN MILISI ISLAMIC STATE OF IRAQ AND SYRIA DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "STATUS KEWARGANEGARAAN MANTAN MILISI ISLAMIC STATE OF IRAQ AND SYRIA DI INDONESIA"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H.)

Disusun Oleh:

SHAFA SAKINAH ABDI NIM: 11170480000037

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

1442 H/2021

(2)

ii

LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI

Skripsi yang berjudul “STATUS KEWARGANEGARAAN MANTAN MILISI ISLAMIC STATE OF IRAQ AND SYRIA DI INDONESIA” telah diujikan dalam sidang Munaqasyah Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 16 Juni 2021. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Program Strata Satu (S-1) pada Program Studi Ilmu Hukum.

Jakarta, 14 Juli 2021 Mengesahkan Dekan,

Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, S.H., M.H., M.A.

NIP. 19760807 200312 1 001

PANITIA UJIAN MUNAQASYAH Ketua : Dr. M. Ali Hanafiah Selian, S.H., M.H.

NIP. 19670203 201411 1 001 (………)

Sekretaris : Drs. Abu Tamrin, S.H., M.Hum.

NIP. 19650908 199503 1 001 (………)

Pembimbing I : Dr. Ismail Hasani, S.H., M.H.

NIP. 19771217 200710 1 002 (………)

Pembimbing II : Muhammad Ishar Helmi, S.H., M.H.

NIDN: 9920112859 (………)

Penguji I :Dr. Masyrofah, S.Ag., M.Si.

NIP. 19781230 200112 2 002 (………)

Penguji II :Fitria, S.H., MR.

NIP.19790822 201101 2 007 (………)

(3)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Hukum (S.H.)

Oleh:

SHAFA SAKINAH ABDI NIM: 11170480000037

Di Bawah Bimbingan

Lembar pengesahan

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

1442 H/2021 M

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Ismail Hasani, S.H. M.H. Muhammad Ishar Helmi, S.H., M.H.

NIP: 19771217 200710 1 002 NIDN: 9920112859

(4)

iv

LEMBAR PERNYATAAN

Nama : Shafa Sakinah Abdi

NIM : 11170480000037

Program Studi : Ilmu Hukum

Alamat : Jl. Pisangan Raya RT001/RW005, Komplek Griya Padma NomorA3, Cireundeu, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten, 15149

Nomor Kontak : 082291352870

Email : [email protected]

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S-1) di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penelitian ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika kemudian hari terbukti hasil karya saya bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 3 Mei 2021

Shafa Sakinah Abdi NIM. 11170480000037

(5)

v

SHAFA SAKINAH ABDI. NIM 11170480000037. “STATUS KEWARGANEGARAAN MANTAN MILISI ISLAMIC STATE OF IRAQ AND SYRIA DI INDONESIA”. Konsentrasi Kelembagaan Negara, Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1442 H/ 2021 M.

Studi ini menjelaskan permasalahan mengenai status kewarganegaraan mantan milisi islamic state of iraq and Syria (ISIS) setelah pemerintah menindak dengan pencabutan status kewaarganegaraan mantan milisi ISIS tanpa adanya peradilan. Studi ini bertujuan untuk mengetahui ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku terutama dalam perihal kewarganegaraan. Secara khusus, skripsi ini mendalami tentang status kewarganegaraan perempuan dan anak-anak mantan milisi ISIS. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan normatif yuridis dengan pendekatan undang-undang (statute approach) dan pendekatan kasus (case approach).

Hasil penelitian membuktikan bahwasannya status kewarganegaraan mantan milisi ISIS tidak bisa hilang dengan sendirinya jika tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 31 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2007 tentang Tata Cara Memperoleh, Kehilangan, Pembatalan, Dan Memperoleh Kembali Kewarganegaraan Republik Indonesia. Status kewarganegaraan seseorang adalah hak fundamental, dan hak berharga (precious rights). Asas-asas kewarganegaraan yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan juga menjamin dan melindungi seseorang mempunyai status kewarganegaraannya sehingga tidak bisa dicabut begitu saja tanpa adanya peradilan.

Kata Kunci : Mantan Milisi ISIS, Status Kewarganegaraan, Stateless Person.

Pembimbing Skripsi : 1. Dr. Ismail Hasani, S.H., M.H.

2. Muhammad Ishar Helmi, S.H., M.H.

Daftar Pustaka : Tahun 1945-Tahun 2021

(6)

vi

KATA PENGANTAR

Segala Puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan karunia yang tidak terhingga banyaknya sehingga penulis diberi kemudahan untuk menyelesaikan skripsi ini dengan judul “STATUS KEWARGANEGARAAN MANTAN MILISI ISLAMIC STATE OF IRAQ AND SYRIA DI INDONESIA”.

Penulis juga menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan, dukungan, motivasi, dan doa dari berbagai pihak. Oleh karena itu, melalui kesempatan ini, penulis mengungkapkan rasa terima kasih kepada:

1. Dr. Ahmad Tholabi Khalie, S.H., M.H., M.A. Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta beserta jajarannya

2. Dr. M. Ali Hanafiah Selian, S.H., M.H. Ketua Program Studi Ilmu Hukum dan Abu Tamrin S.H., M.Hum. Sekretaris Program Studi Ilmu Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang sudah memberikan arahan dan masukan atas penyusunan skripsi ini.

3. Dr. Ismail Hasani, S.H., M.H., dan Muhammad Ishar Helmi, S.H., M.H.

pembimbing yang selalu bersedia menyediakan waktu, tenaga dan pikirannya untuk memberikan saran dan masukan terhadap proses penyusunan skripsi ini.

4. Ali Mansur, M.A. dosen penasehat akademik yang memberikan saran sejak awal penulisan skripsi.

5. Kedua orang tua tercinta, yang selalu memberikan doa, dukungan moral, fasilitas dan motivasi sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

6. Semua pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu, yang telah memberikan doa, dukungan, masukan, dan motivasi kepada penulis.

Semoga Allah SWT selalu memberikan sebaik-baiknya balasan kepada semua dan semoga kita selalu dalam perlindungan Allah SWT. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan, baik dalam penyusunan atau

(7)

vii

Jakarta, Mei 2021

Shafa Sakinah Abdi

(8)

viii

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

LEMBAR PERNYATAAN ... iv

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi, Pembatasan, dan Perumusan Masalah ... 7

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8

D. Metodologi Penelitian ... 9

E. Sistematika Pembahasan ... 11

BAB II HAK-HAK WARGA NEGARA ... 13

A. Kerangka Teori ... 13

1. Teori Hak Asasi Manusia Orang Tanpa Kewarganegaraan ... 13

2. Teori Persamaan di Hadapan Hukum (Equality Before the Law) ... 14

3.Teori Proses Hukum (Due Process of Law) ... 15

B. Kerangka Konseptual ... 16

1.Status ... 16

2.Kewarganegaraan ... 16

3.Islamic State Of Iraq And Syria ... 21

C. Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu ... 22

BAB III KEDUDUKAN ISLAMIC STATE OF IRAQ AND SYRIA MENURUT HUKUM NASIONAL DAN INTERNASIONAL ... 24

A. Pengertian Islamic State of Iraq and Syria ... 24

B. Status Islamic State of Iraq and Syria ... 27

(9)

ix

C. Islamic State of Iraq and Syria dalam Peraturan Perundang-

Undangan di Indonesia ... 31

D. Peran Pemerintah dalam Menghadapi Islamic State of Iraq and Syria ... 36

E. Islamic State of Iraq and Syria dalam Konvensi Internasional .... 42

BAB IV PENCABUTAN STATUS KEWARGANEGARAAN MANTAN MILISI ISLAMIC STATE OF IRAQ AND SYRIA DI INDONESIA………. 46

A. Mekanisme Pencabutan Status Kewarganegaraan Mantan Milisi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dalam Ketentuan Hukum Nasional dan Internasional ... 46

B. Upaya Deradikalisasi Mantan Milisi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) ... 60

BAB V PENUTUP………..67

A. Kesimpulan ... 67

B. Rekomendasi ... 68

DAFTAR PUSTAKA ... 70

(10)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Ideologi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) marak menyebar semenjak 2015 di berbagai negara seperti Jerman, Belanda, Prancis, Denmark, Swedia, Amerika Serikat, Kosovo, Kazakhstan, Bosnia-Herzegovina, Rusia, Turki, Macedonia Utara, Tajikistan, Inggris, Malaysia, Filipina, dan lainnya.1 Indonesia menjadi salah satu objek penyebaran ISIS karena mayoritas penduduknya memiliki kesamaan keyakinan agama. Warga negara yang meyakini tujuan dari ISIS untuk membentuk dan mempertahankan kekhalifahan (Daulah Islamiyah), mendorong mereka untuk bergabung di dalamnya. ISIS sendiri didefinisikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai suatu organisasi teroris dengan adanya pasal yang dikeluarkan dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB diantaranya adalah Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2178 tahun 2014. Terdapat salah satu point dalam resolusi tersebut dinyatakan sebagai berikut:

“Emphasizing that terrorism cannot and should not be associated with any religion, nationality or civilization, “2

Resolusi ini menjelaskan bahwasannya aksi teroris yang dalam hal ini adalah kelompok/organisasi islamic state of iraq and syria yang tidak bisa dan tidak boleh dikaitkan dengan suatu agama, kebangsaan, ataupun kewarganegaraan.

Sehingga, dapat disimpulkan ISIS bukanlah suatu agama, bangsa terlebih negara. Selanjutnya;

“Directs the Committee established pursuant to resolution 1267 (1999) and 1989 (2011) and the Analytical Support and Sanctions Monitoring Team, in

1 Aryo Putranto, WNI Eks ISIS, Ketakutan Jokowi, dan Deradikalisasi 'Memble'. URL:

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200214101103-20-474579/wni-eks-ISIS-ketakutan- jokowi-dan-deradikalisasi-memble.

2 S/RES/2178 (2014), h.1. URL : https://documents-dds- ny.un.org/doc/UNDOC/GEN/N14/547/98/PDF/N1454798.pdf?OpenElement

(11)

close cooperation with all relevant United Nations counter- terrorism bodies, in particular CTED, to devote special focus to the threat posedby foreign terrorist fighters recruited by or joining ISIL, ANF and all groups, undertakings and entities associated with Al-Qaida;”3

Resolusi ini menjelaskan tindakan counter-terorism yang terkhusus di tujukan pada Islamic State of Iraq and Levant (ISIL), Al-Nusra Front (ANF) dan kelompok teroris lainnya yang memiliki hubungan dengan kelompok Al-Qaida.

Negara-negara yang tergabung di dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyetujui secara bersama bahwa setiap negara mendukung gerakan untuk tidak hanya menumpas tindakan terorisme tetapi juga kelompok-kelompoknya di dalam maupun luar negeri. Selain itu, Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2249, tahun 2015 menjelaskan:

“Calls upon Member States that have the capacity to do so to take all necessary measures, in compliance with international law, in particular with the United Nations Charter, as well as international human rights, refugee and humanitarian law, on the territory under the control of ISIL…”4 Resolusi ini menandakan bahwasannya setiap negara mempunyai kemampuan untuk melakukan semua tindakan yang diperlukan demi melindungi negara segenap isinya dari ISIS berdasarkan hukum internasional, perjanjian PBB, hukum hak asasi manusia internasional, hukum pengungsi, dan hukum humaniter. ISIS di Indonesia juga didefinisikan sebagai organisasi, hal ini tercantum dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Menjadi Undang-Undang dalam konsiderans point (b)

“bahwa adanya keterlibatan orang atau kelompok orang serta keterlibatan warga negara Indonesia dalam organisasi di dalam dan/atau di luar negeri

3 S/RES/2178 (2014), h.7. URL : https://documents-dds- ny.un.org/doc/UNDOC/GEN/N14/547/98/PDF/N1454798.pdf?OpenElement

4 S/RES/2249 (2015), h.2. URL: https://undocs.org/pdf?symbol=en/S/RES/2249(2015)

(12)

3

yang bermaksud melakukan permufakatan jahat yang mengarah pada tindak pidana terorisme…”

Dijelaskan dalam konsiderans tersebut bahwasannya di Indonesia ISIS dikategorikan sebagai sebuah organisasi teroris. Karena ISIS adalah organisasi teroris, maka dasar dibuatnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme karena diperlukannya landasan hukum yang lebih komprehensif guna menjamin perlindungan dan kepastian hukum dalam pemberantasan segala bentuk tindak pidana terorisme.

Kemudian, permasalahan akan status kewarganegaraan muncul setelah ISIS kalah pada awal 2019, banyak WNI yang melarikan diri dari wilayah ISIS dan mengungsi di kamp-kamp pengungsian di Suriah yang tersebar di tiga kamp yaitu Al Roj, Al Hol, dan Ainisa, yang sebagian besar pengungsi adalah perempuan dan anak-anak. Keadaan WNI yang mengungsi di beberapa kamp tersebut sangat memprihatinkan, kekurangan air bersih, makanan, dan pakaian membuat mereka berharap bisa pulang kembali ke Indonesia.5 Tetapi, pada Februari 2020, Presiden Indonesia Joko Widodo mengeluarkan keputusan bersama kabinetnya menolak memulangkan 600 WNI mantan milisi dan simpatisan ISIS yang terlantar di Timur Tengah.6 Adapun pemerintah menolak pemulangan tersebut karena mengutamakan keamanan 260 juta rakyat Indonesia di Tanah Air daripada harus memulangkan kurang lebih 600 teroris lintas batas.7

Hal ini menimbulkan polemik terutama antara kalangan pemerintah, dan akademisi karena para WNI mantan milisi ISIS tidak mendapat kepastian hukum terkait status dan hak kewarganegaraannya. Mengacu pada Pasal 28 I UUD 1945

5 WNI eks ISIS di Suriah yang ingin kembali ke Indonesia: 'Saya sangat lelah, saya sangat berterima kasih jika menerima kami pulang', BBC Indonesia. URL:

https://www.bbc.com/indonesia/dunia-51410570

6 Al Araf, Anton Abbas, Wrong to make Indonesian Islamic State fighters stateless. URL:

https://www.thejakartapost.com/academia/2020/02/24/wrong-to-make-indonesian-islamic-state- fighters-stateless.html.

7 Rakhmat Nur Hakim, Jokowi: Pemerintah Tak Berencana Pulangkan ISIS Eks WNI.

URL: https://nasional.kompas.com/read/2020/02/12/17013951/jokowi-pemerintah-tak-berencana- pulangkan-isis-eks-wni.

(13)

(4) “ Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah.” Sudah selayaknya pemerintah melindungi terlebih dahulu hak-hak tiap warga negaranya. Jika mengacu pada Pasal 31 Ayat 1 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Memperoleh, Kehilangan, Pembatalan, dan Memperoleh Kembali Kewarganegaraan Republik Indonesia, tidak dijelaskan bahwasannya jika seseorang membakar paspor akan menghilangkan status kewarganegaraannya, pun dikarenakan ISIS adalah berbentuk organisasi dan bukan negara, para FTF dan keluarganya tidak memiliki status yang diakui negara lain atau bipatride8, dan hal ini membuktikan para mantan milisi ISIS dan keluarganya masih berstatus sebagai WNI. Adapun akan dirasa lebih adil jika pemerintah menetapkan sanksi tersebut dengan proses peradilan berdasarkan fakta.

Dalam hukum internasional terdapat peraturan yang menyatakan bahwa seseorang tidak diperbolehkan stateless, hal ini dipaparkan oleh United Nations High Comissioner on Refugee (UNHCR) dalam peraturannya mengenai statelessness, yaitu Convention Relating to the Status of Stateless Persons 1954 dan Convention on the Reduction of Statelessness 1961. Di dalam konvensi ini terdapat ketentuan bagi negara- negara yang telah sepakat untuk tidak melakukan pencabutan memiliki kewarganegaraan atau stateless, yaitu pada Article 8 (1) Convention on the Reduction of Statelessness 1961, “1.A Contracting State shall not deprive a person of its nationality if such deprivation would render him stateless.”9 Adapun yang dimaksud stateless dalam kedua konvensi ini ialah de jure stateless dan tidak berlaku pada de facto stateless.10 Kendati belum meratifikasi konvensi tersebut, tetapi Indonesia menuangkan

8 Muttaqim, Foreign Terrorists Fighters (FTF) Dan Langkah Administrasi Negara Terhadap Keadaan Tanpa Kewarganegaraan. Indonesian State Law Review, Vol. 2 No. 2, April 2020. h.143

9 Convention on the Reduction of Statelessness 1961, h.11. URL:

https://www.unhcr.org/ibelong/wp-content/uploads/1961-Convention-on-the-reduction-of- Statelessness_ENG.pdf

10 Hugh Massey, 2010, “UNHCR and De Facto Statelessness”, UNCHR Legal and Protection Policy Research series, URL: https://www.unhcr.org/4bc2ddeb9.pdf

(14)

5

nilai-nilai yang ada dalam konvensi-konvensi tersebut dalam Undang-Undang Nomor 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia

Keadaan warga negara menjadi stateless harus dihindari karena secara tidak langsung status kewarganegaraan seseorang memberikan dampak yang besar kepada kehidupannya. Keadaan sebagai seseorang tanpa kewarganegaran akan sulit untuk menerima perlindungan negara dan hak dasar seperti edukasi, pelayanan kesehatan, pekerjaan sesuai ketentuan hukum, kepemilikan properti, hak di bidang politik, dan kebebasan bergerak. Pencabutan kewarganegaraan juga sulit dilakukan karena Indonesia menjamin dalam konstitusi dasarnya hak seseorang atas status kewarganegaraan sebagai salah satu hak asasi manusia. Hal ini sejalan dengan beberapa hukum internasional yang juga menjamin hak kewarganegaraan seperti Pasal 15 Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia, misalnya, menegaskan bahwa “Setiap orang mempunyai hak atas kewarganegaraan”. Selain itu, Pasal 24 ayat (3) Konvenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik yang diratifikasi menjadi Undang-Undang Nomor 12 tahun 2005 tentang ratifikasi ICCPR mengatur bahwa “Setiap anak berhak untuk memperoleh kewarganegaraan”.

Adapun beberapa lembaga-lembaga yang berperan dalam masalah ini seperti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2012 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 46 Tahun 2010 Tentang Badan Penanggulangan Terorisme.

BNPT memiliki tugasnya yaitu menyusun kebijakan, strategi, dan program nasional di bidang penanggulangan terorisme; mengkoordinasikan instansi pemerintah terkait dalam pelaksanaan dan melaksanakan kebijakan di bidang penanggulangan terorisme; melaksanakan kebijakan di bidang penanggulangan terorisme dengan membentuk satuan-satuan tugas yang terdiri dari unsur-unsur instansi pemerintah terkait sesuai dengan tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing.11 Bidang penanggulangan terorisme meliputi pencegahan,

11 The Habibie Center, Kajian Kontra Terorisme dan Kebijakan, Tantangan dan Solusi Pemulangan Simpatisan ISIS. Edisi 05/ Agustus 2019. h.905/Austus 2019

(15)

perlindungan, deradikalisasi, penindakan, dan penyiapan kesiapsiagaan nasional. Selanjutnya adalah Kementerian Luar Negeri yang memiliki peran penting.12

Undang-Undang Nomor 37 tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri mengatur bahwa dalam hal WNI terancam bahaya nyata (dalam hal ini terlantarnya perempuan dan anak di Timur Tengah), pemerintah berkewajiban memberikan perlindungan, membantu, dan menghimpun mereka di wilayah yang aman, serta mengusahakan untuk memulangkan mereka ke Indonesia atas biaya negara. Selain lembaga-lembaga negara tersebut, terdapat pula lembaga antar-negara seperti ASEAN Convention on Counter Terrorism.13 Karena maraknya kasus terorisme di wilayah asia tenggara maka negara-negara ASEAN mengadakan konvensi yang mengatur bagaimana memberantas kegiatan terrorisme dan Indonesia meratifikasi menjadi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2012 tentang Pengesahan ASEAN Convention on Counter Terrorism (Konvensi ASEAN Mengenai Pemberantasan Terrosime). Selain kerjasama dengan ASEAN, Indonesia juga berperan aktif dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) seperti contohnya Indonesia adalah co-sponsor Resolusi Dewan Keamanan PBB 2178 (2014) yang meminta negara-negara untuk melakukan berbagai upaya yang diperlukan untuk menangani masalah mantan milisi ISIS , termasuk pencegahan rekrutmen dan fasilitasi pemberangkatan FTF, pengawasan perbatasan, pertukaran informasi, dan program rehabilitasi dan reintegrasi. Selain itu, Indonesia telah menyelenggarakan sejumlah lokakarya regional dan konferensi internasional yang melibatkan banyak negara untuk bertukar informasi dan praktik yang baik, serta peluang untuk memperkuat kerja sama internasional dalam penanganan masalah milisi ISIS.14

12 The Habibie Center, Kajian Kontra Terorisme dan Kebijakan, Tantangan dan Solusi Pemulangan Simpatisan ISIS. Edisi 05/ Agustus 2019. h.1005

13 S.Pushpanathan. ASEAN Efforts to Combat Terrorism. 20 Agustus 2003. URL:

https://asean.org/?static_post=asean-efforts-to-combat-terrorism-by-spushpanathan

14 Directorate of KIPS, Indonesia and the Counter –Terrorism Efforts. Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia, 7 April 2019. URL:

https://kemlu.go.id/portal/en/read/95/halaman_list_lainnya/indonesia-and-the-counter-terrorism- efforts

(16)

7

Berdasarkan sudah banyaknya lembaga-lembaga negara dan lembaga antar-negara yang mempunyai tugas, fungsi, dan tujuan yang menanggulangi tindak terorisme, dan dengan adanya upaya yang sudah dilakukan sebelumnya oleh lembaga-lembaga negara, maka penulis menyimpulkan hilangnya status kewarganegaraan mantan milisi ISIS sehingga menjadi orang tanpa kewarganegaraan (stateless person) tidak dapat dibenarkan karena belum jelas dasar hukumnya.

B. Identifikasi, Pembatasan, dan Perumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah

a. Tolak ukur alasan pencabutan status kewarganegaraan mantan milisi Islamic State of Iraq and Syria ( ISIS).

b. Hak kewarganegaraan mantan milisi Islamic State of Iraq and Syria ( ISIS) dari pandangan hak asasi manusia

c. Ketentuan hukum nasional dan hukum internasional dalam mengatur kewarganegaraan.

d. Peran lembaga-lembaga negara dan kerjasama antar-negara dalam menangani dan menanggulangi masalah terrorisme terlebih dalam upaya deradikalisasi.

2. Pembatasan Masalah

Untuk mempermudah pembahasan dan agar penelitian lebih jelas dan relevan, maka peneliti akan membatasi masalah yakni status kewarganegaraan Warga Negara Indonesia mantan milisi Islamic State of Iraq and Syria ( ISIS).

3. Perumusan Masalah

Permasalahan dalam penelitian ini ialah apa yang menjadi dasar hukum dalam menetapkan status kewarganegaraan seseorang terutama dalam kasus para mantan milisi Islamic State of Iraq and Syria ( ISIS) sehingga menjadi stateless person. Karena Indonesia adalah negara hukum, dan hukum internasional tidak mengenal adanya stateless

(17)

person, juga dalam hukum nasional tidak adanya peraturan mengenai hilangnya status kewarganegaraan seseorang jika bergabung dalam suatu organisasi. Berdasarkan latar belakang dan batas masalah yang telah diuraikan diatas, maka peneliti merumuskan dua masalah sebagai berikut:

a) Bagaimana ketentuan tentang hilangnya status kewarganegaraan mantan milisi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dalam sistem hukum nasional dan internasional?

b) Bagaimana status kewarganegaraan Warga Negara Indonesia mantan milisi Islamic State of Iraq and Syria ( ISIS) di luar negeri?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah peneliti rumuskan, maka tujuan dari penelitian ini ialah:

a. Untuk menjelaskan ketentuan tentang hilangnya status kewarganegaraan mantan milisi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dalam sistem hukum nasional dan internasional

b. Untuk menjelaskan status kewarganegaraan status kewarganegaraan Warga Negara Indonesia mantan milisi Islamic State of Iraq and Syria ( ISIS) di luar negeri.

2. Manfaat Penelitian a. Akademik

Secara teoritis dapat penelitian ini dapat menambah koleksi karya ilmiah dalam kajian mengenai keilmuan hukum terkhusus hukum kewarganegaraan. Penelitian ini juga dapat diperuntukkan terhadap seluruh kalangan untuk dijadikan bahan untuk penelitian selanjutnya bagi akademisi, mahasiswa, dan praktisi hukum terhadap persoalan yang sama.

b. Praktis

(18)

9

Secara praktis kepenulisan ini dapat digunakan untuk menjadi salah satu bahan pertimbangan praktisi hukum dalam memutus sebuah perkara kewarganegaraan.

D. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Peter Mahmud Marzuki merumuskan penelitian hukum sebagai suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin- doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi.15 Penelitian ini dilakukan untuk mengolah data – data yang diperlukan dari objek yang akan diteliti. Agar penelitian memenuhi syarat keilmuan, maka diperlukan pedoman yang disebut metode penelitian atau metode riset, yaitu suatu tata urutan pelaksanaan penelitian dalam pencarian data sebagai bahan bahasan untuk memahami objek yang diteliti, dan hasil penelitian dituangkan dalam penulisan laporan penelitian.

2. Pendekatan Penelitian

Berdasarkan masalah yang akan diteliti, metode pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah normatif yuridis dengan menggunakan Pendekatan Perundang-Undangan (Statue Approach) atau dalam hal ini pendekatan yang menggunakan legislasi dan regulasi salah satunya merujuk pada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.16 Penelitian ini menggunakan pendekatan normatif dengan Pendekatan Undang-Undang (Statute Approach) yaitu Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 Tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Memperoleh, Kehilangan, Pembatalan, dan Memperoleh Kembali Kewarganegaraan Republik Indonesia. Tidak hanya pendekatan yang

15 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Cet 2, (Jakarta: Kencana, 2008). h. 29.

16 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2015), h.137.

(19)

menggunakan pendekatan undang-undang, namun Pendekatan Kasus (Case Approach) dalam hal ini penolakan pemulangan dan pencabutan status kewarganegaraan mantan milisi ISIS yang dijadikan sebagai salah satu pendekatan oleh penulis yang bertujuan untuk mengimplementasikan harmonisasi hukum yang ada agar dapat diimplementasikan dalam penelitian ini.

3. Sumber Bahan Hukum a. Bahan Primer

1) Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945

2) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 Tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia

3) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Memperoleh, Kehilangan, Pembatalan, dan Memperoleh Kembali Kewarganegaraan Republik Indonesia.

4) The Universal Declaration on Human Rights 1948 5) Convention on the Reduction of Statelessness 1961 6) UNSC Resolution 2178 (2014)

7) UNSC Resolution 2249 (2015) b. Bahan Hukum Sekunder

1) Undang-Undang Nomor 5 tahun 2018 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme

2) Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2012 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 46 Tahun 2010 Tentang Badan Penanggulangan Terorisme

3) Undang-Undang Nomor 37 tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri

4) Undang-Undang Nomor 23 tahun 2004 tentang Perlindungan Anak, yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak

(20)

11

4. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum

Seluruh data-data untuk penelitian ini dikumpulkan secara kepustakaan dari buku-buku, jurnal-jurnal, artikel, kamus, dan data kepustakaan lainnya

5. Teknik Pengolahan dan Analisis Bahan Hukum

Bahan hukum primer, dan sekunder di elaborasi dalam penulisan secara sistematis demi menjawab rumusan masalah yang telah dirumuskan. Pengolahan bahan hukum dilakukan secara deduktif yaitu menarik kesimpulan dari suatu permasalahan yang bersifat umum kepada permasalahan konkret yang sedang dihadapi maka akan ditemukan jawaban dari rumusan masalah demikian.

6. Teknik Penulisan

Pedoman yang digunakan peneliti dalam penelitian ini ialah merujuk pada kaidah-kaidah yang terdapat dalam buku “Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum 2017”.

E. Sistematika Pembahasan

Untuk mempermudah penulisam dan juga penyajian, penulis menjabarkan materi penelitian menjadi lima bab yang mana tiap bab berisi penjelasan yang rinci dengan judul sub bab. Rancangan sistematika penelitian tiap bab dari skripsi ini adalah sebagai berikut:

Bab Pertama membahas mengenai latar belakang penelitian, identifikasi masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.

Bab kedua membahas mengenai hak-hak warga dengan menguraikan dua pokok pembahasan yang mendukung penulisan skripsi, adapun pembahasan terkait kajian teoritis, yakni teori-teori yang berkaitan dengan pembahasan yang tertuang dalam tulisan ini, kerangka konseptual yakni kata yang sering digunakan dalam tulisan ini, dan selanjutnya akan dijelaskan terkait tinjauan (review) / kajian studi terdahulu, agar tidak ada

(21)

persaman terhadap materi muatan dan pembahasan dalam skripsi ini dengan apa yang ditulis oleh pihak lain.

Bab ketiga membahas mengenai kedudukan islamic state of iraq and syria dalam peraturan perundang-undangan di indonesia dan konvensi internasional dengan menguraikan beberapa data yang berhubungan erat denagan apa yang menjadi titk fokus pembahasan dalam tulisan ini. Data- Data yang didapatkan dari sumber yang jelas dan akurat yang di dapat dari lembaga yang bersangkutan sebagai bahan pelengkap penulisan ini. Data yang dianalisis oleh peneliti terkait dengan pengaturan force majeure dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia.

Bab Keempat membahas mengenai pencabutan status kewarganegaraan mantan milisi islamic state of iraq and syria di Indonesia dengan menjawab permasalahan pada penelitian ini melalui analisis norma-norma hukum terkait.

Bab Kelima adalah penutup yang berisikan tentang kesimpulan hasil penelitian dan rekomendasi. Bab ini merupakan bab terakhir dari sistematika penulisan skripsi yang pada akhirnya penelitian ini menarik beberapa kesimpulan dari penelitian untuk menjawab pertanyaan penelitian, serta memberikan rekomendasi-rekomendasi yang dianggap perlu.

(22)

13 BAB II

HAK-HAK WARGA NEGARA A. Kerangka Teori

1. Teori Hak Asasi Manusia Orang Tanpa Kewarganegaraan

Hak asasi manusia untuk tidak menjadi tanpa kewarganegaraan, atau hak atas kewarganegaraan, penting karena banyak negara hanya mengizinkan warga negaranya sendiri untuk menjalankan hak sipil, politik, ekonomi, dan sosial secara penuh di dalam wilayah mereka. Selanjutnya, kewarganegaraan memungkinkan individu untuk menerima perlindungan negara mereka baik di dalam negeri maupun internasional dan memungkinkan negara untuk menengahi atas nama nasional di bawah hukum internasional. Dengan cara ini, aturan-aturan hukum internasional yang berkaitan dengan perlindungan diplomatik didasarkan pada pandangan bahwa kebangsaan adalah syarat esensial untuk menjamin perlindungan hak-haknya dalam lingkup internasional bagi individu. Untuk alasan ini, hak untuk menjadi warga negara suatu negara disebut hak dasar manusia karena tidak kurang dari hak untuk memiliki hak. Dengan kewarganegaraan menjadi "hak untuk memiliki hak", orang tanpa kewarganegaraan secara tradisional dianggap tidak memiliki hak. Konsep tradisional tentang keadaan tanpa kewarganegaraan ini, yang berasal dari perspektif hukum internasional, mengikuti logika bahwa karena seseorang pada umumnya perlu menjadi warga negara untuk menerima perlindungan diplomatik dari suatu negara. Salah satu cara untuk memastikan bahwa orang-orang tanpa kewarganegaraan menyadari hak mereka atas kewarganegaraan sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 15 Deklarasi Universal, adalah melalui doktrin hubungan yang asli dan efektif. Menurut doktrin ini, seseorang harus memenuhi syarat untuk menerima kewarganegaraan dari negara dengan mana dia memiliki koneksi substansial. Paling tidak, seseorang harus memenuhi syarat untuk kewarganegaraan negara di mana

(23)

dia memiliki hubungan atau koneksi terdekat misalnya, tempat tinggal jangka panjang di suatu negara , keturunan asli suatu negara, kelahiran dalam wilayah negara, atau kewarganegaraan di bekas negara bagian.1

2. Teori Persamaan di Hadapan Hukum (Equality Before the Law)

Albert Van Dicey dalam Rule of Law Theory menyebutkan 1).

Supremacy of Law; 2). Equality Before the Law; dan 3). Due Process of Law.

Asas equality before the law yaitu asas kesamaan dimuka hukum, hal ini dijelaskan dalam konstitusi bahwa segala warga Negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya (Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Dengan demikian, semua warga negara Indonesia mendapat perlakuan yang sama dimata hukum tidak dibedakan dari jabatan, suku, kasta, maupun strata sosial.2 Terdapat emapt bagian dalam teori equality before the law:

a. Natural equality (persamaan alamiah), persamaan yang dibawa dari lahir yang dimiliki oleh manusia. Manusia adalah sama krena semua manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan.

b. Civil equality (persamaan hak sipil), hak sipil yang sama bagi setiap warga negara. Karena, setipa orang memiliki hak yang sama dihadapan hukum tanpa diskriminasi

c. Political equality (persamaan politik), hak yang sama dalam politik yang artinya, setiap orang memiliki kesempatan yang sama dalam memberikan suara dalam pemilihan umum, memiliki hak yang sama memasuki partai politik dan sebagainya.

1 David Weissbrodt and Clay Collins, The Human Rights of Stateless Persons. University

of Minnesota Law School, h.276. URL:

https://scholarship.law.umn.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1416&context=faculty_articles

2 Muhammad Ishar Helmi, Penerapan Azas “Equality Before the Law” Dalam Sistem Peradilan Militer, Jurnal Cita Hukum Vol 1, No.2 (2013).

(24)

15

d. Economic equality (persamaan ekonomi), persamaan kesempatan dalam meningkatkan taraf ekonomi. Setiap warga negara mempunyai hak ekonomi yang dilindungi oleh konstitusi yang berlaku.

Adapun keempat klasifikasi tersebut dimasukkan ke dalam hak-hak sipil yang dijamin dan dilindungi oleh konstitusi sehingga dihadapan hukum semua orang wajib diperlakukan sama. David L.Sill menyebutnya sebagai impartially yaitu tidak adanya tebang pilih atau berat sebelah atau menempatkan orang-orang tertentu sebagai warga negara kelas satu.3 3. Teori Proses Hukum (Due Process of Law)

Semua orang di seluruh belahan dunia manapun, tidak peduli apa agamanya, apa warga negaranya, apa bahasanya, apa etnisnya, tanpa memandang identitas politik dan antropologisnya, dan terlepas dari status disabilitasnya, memiliki hak yang sama sebagai manusia.4 Mengutip perkataan Rhoda E. Howard, seorang sosiolog yang merupakan pendukung prinsip universalisme menyatakan hak asasi manusia adalah hak yang dimiliki manusia karena ia adalah manusia, manusia memiliki hak asasi yang tidak boleh diingkari dan dicabut kecuali dengan keputusan hukum yang adil.5 Hal ini sejalan dengan pengertian teori due process of law, Penerapan asas due process of law merupakan seperangkat prosedur yang mewajibkan hukum memiliki standar beracara yang berlaku bagi negara yang menjunjung tinggi hukum.6 Due process of law menitik beratkan pada prosedur dan perlindungan terhadap individu, disetiap proses dalam due process menguji dua hal, yaitu: (a) apakah penutut umum telah menghilangkan hak-hak yang dimiliki Tersangka dengan prosedur yang tidak diatur didalam perundang-

3 Eka N.A.M Sihombing, Mendorong Pembentukan Peraturan Daerah Tentang Bantuan Hukum di Provinsi Sumatera Utara, Jurnal Rechtsvinding Vol.2 No.1, April 2013. h. 85. URL:

https://www.rechtsvinding.bphn.go.id/artikel/ARTIKEL%206%20Vol%202%20No%201.pdf

4 Eko Riyadi, S.H., M.H., Hukum Hak Asasi Manusia: Perspektif Internasional, Regional, dan Internasional. Rajawali Pers:Depok, 2018. h.26

5 Rhoda E. Howard. HAM: Penjelajahan Dalih Relativisme Budaya, penerjemah Nugraha Katjasungkana. Jakarta:PT. Pustaka Utama Grafiti. 2000. h.1.

6 Eddy. O. S. Hiariej, 2012, Teori dan Hukum Pembuktian, Erlangga, Jakarta, hlm. 30.

(25)

undangan, (b) jika sudah sesuai dengan prosedur, apakah penerapan prosedur sudah sesuai dengan due process of law.7

A. Kerangka Konseptual 1. Status

Status adalah keadaan atau kedudukan. Status meliputi (orang, badan, dan sebagainya) dalam hubungan dengan masyarakat di sekelilingnya.8 Status yang dimaksud dalam penelitian ini adalah status kewarganegaraan yaitu status yang dimiliki oleh Warga Negara Indonesia. Dengan adanya status kewarganegaraan maka seseorang tidak hanya dapat dilindungi hak-haknya tetapi juga memiliki kewajiban sebagai warga negara.

2. Kewarganegaraan

Kewarganegaraan merupakan kesatuan yang mencakup hak dan kewajiban warga negara, karena ia menganggap kewarganegaraan sebagai keanggotaan seseorang dalam politik suatu negara. Menurut Wolhoff, yang dikutip oleh Andi Mustari Pide menyatakan bahwa Kewarganegaraan dapat disebut sebagai suatu status hukum kenegaraan yang menunjukkan suatu kompleks hak dan kewajiban dilapangan hukum, khususnya hukum publik yang dimiliki oleh yang memiliki keanggotaan suatu Negara tertentu, dan yang tidak dimiliki oleh orang asing yang bukan anggota negara itu.9 Sedangkan menurut Ko Swan Sik membedakan pengertian kewarganegaraan menjadi dua yaitu:

a) Kewarganegaraan Yuridis (Yuridische Nationaliteit), adalah ikatan hukum antara negara dan orang-orang pribadi yang karena ikatan itu menimbulkan akibat, bahwa orang-orang tersebut jatuh dalam lingkungan kuasa pribadi dari negara yang bersangkutan, atau dengan

7 Eddy. O. S. Hiariej, 2012, Teori dan Hukum Pembuktian, Erlangga, Jakarta, hlm. 31.

8 Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kelima, Balai Pustaka:2016

9 Andi Mustari Pide. Pengantar Hukum Tata Negara. Gaya Media Pratama:Jakarta. 1999.

h. 58.

(26)

17

kata lain warganegara dari negara tersebut. Dalam kewarganegaraan yuridis, tanda adanya ikatan dapat dilihat secara kongkrit pernyataan dalam bentuk surat-surat, baik keputusan/keterangan.

b) Kewarganegaraan Sosiologis (Sosiologische Nationaliteit), adalah kewarganegaraan yang tidak didasarkan pada ikatan yuridis, tetapi sosial politik yang disebut Natie. Jadi keterikatan tersebut karena adanya perasaan kesatuan karena keturunan, sejarah, daerah dan penguasa.

Orang dianggap sebagai warganegara adalah dari sudut penghayatan budaya, tingkah laku maupun cara hidupnya.10

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan telah menentukan adanya asas-asas umum dan asas khusus kewarganegaraan yang menjadi dasar untuk menentukan kewarganegaraan seseorang.

a) Asas Kewarganegaraan Umum. Berdasarkan UU Nomor 12 Tahun 2006 asas kewarganegaraan umum terdiri atas (4) empat asas, yaitu asas dari segi kelahiran yakni ius soli dan asas ius sanguinis, asas kewarganegaraan tunggal, dan asas kewarganegaraan ganda terbatas.

Dari segi Perkawinan terdapat asas kesatuan hukum atau asas mengikuti dan asas persamaan derajat.

1. Segi Kelahiran

Dua asas yang utama yang dipakai oleh suatu negara, yaitu Asas Ius Soli dan Asas Ius Sanguinis. Negara-negara pada umumnya menggunakan kedua asas tersebut secara bersamaan dalam menentukan kewarganegaraan seseorang untuk mencegah terjadinya apatride dan bipatride. Asas Ius Soli berasal dari Bahasa latin yaitu “Ius” yang artinya hukum, dalil, pedoman, dan “Solum”

yang artinya negeri, tanah atau daerah. Dengan demikian Ius Soli berarti bahwa kewarganegaraan seseorang itu ditentukan

10 BP. Paulus. Kewarganegaraan RI Ditinjau dari UUD 1945 Khususnya Peranakan Tionghoa. Pradnya Paramita:Jakarta. 1983. h. 2

(27)

berdasarkan tempat kelahirannya. Negara yang menganut asas ini akan mengakui kewarganegaraan seorang anak yang lahir sebagai warganegaranya hanya apabila anak tersebut lahir di wilayah negaranya, tanpa melihat siapa dan darimana orang tua anak tersebut. Asas ini memungkinkan adanya bangsa yang modern dan multikultural tanpa dibatasi oleh ras, etnis, agama, dan lain-lain.

Beberapa negara yang menganut asas ini adalah Amerika Serikat, Brazil, Kanada, Guyana, Honduras, Jamaika, Lesotho, Meksiko, Peru, Uruguay, Venuzuela, dan lain-lain.

Asas Ius Sanguinis berasal dari kata “Ius” yang artinya hukum dan “Sanguinis” yang berarti darah atau keturunan. Negara yang menganut asas ini akan mengakui kewarganegaraan seorang anak sebagai warga negaranya apabila orang tua dari anak tersebut adalah memiliki status kewarganegaraan negara tersebut (dilihat dari keturunannya). Asas ini menimbulkan dampak berupa munculnya etnis yang majemuk di suatu negara. Beberapa negara yang menganut asas ini adalah negara-negara yang memiliki sejarah panjang seperti negara-negara Eropa dan Asia seperti:

Brunai, Jordania, Malaysia, Belanda, Cina, Bulgaria, Belgia, Kroasia, Estonia, Finlandia, Jerman, Hongaria, Islandia, Libanon, Filipina, Polandia, Portugal, Rumania, Rusia, Rwanda, Serbia, Slovakia, Spanyol, Swedia, Turki, dan Ukraina.11

2. Segi Perkawinan

Dari segi perkawinan, masalah kewarganegaraan akan muncul jika terjadi perkawinan campuran. Terdapat dua asas yaitu Asas Kesatuan Hukum dan Asas Persamaan Derajat. Asas kesatuan hukum berlaku bila terjadi perkawinan campuran maka salah satu pihak harus mengikuti status hukum atau

11 I Nengah Suantra, Made Nurmawati, Ni Made Ari Yuliartini Griadhi, Nyoman Mas Aryani. Hukum Kewarganegaraan dan Kependudukan. Fakultas Hukum Udayana, 4 Maret 2016.

h.19

(28)

19

kewarganegaraan pihak lainnya, sehingga terjadilah kesatuan hukum antara keduanya. Kemudian, asas persamaan derajat terjadi bila suatu perkawinan tidak menyebabkan berubahnya status kewarganegaraan seseorang, dimana masing-masing pihak berhak untuk menentukan status kewarganegaraannya jika terjadi perkawinan campuran.

3. Asas Kewarganegaraan Tunggal.

Asas kewarganegaraan tunggal adalah asas yang menentukan satu kewarganegaraan bagi setiap orang. Jadi, setiap warga negara hanya memiliki satu kewarganegaraan, tidak bisa memiliki kewarganegaraan ganda atau lebih dari satu.

4. Asas Kewarganegaraan Ganda Terbatas.

Asas kewarganegaraan ganda terbatas adalah asas yang menentukan kewarganegaraan ganda (lebih dari satu kewarganegraan) bagi anak-anak sesui dengan ketentuan yang diatur dalam UU. Jadi, kewarganegraan ini hanya bisa dimiliki ketika masih anak-anak. Jika anak tersebut sudah berumur 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin sebelum berumur 18 (delapan belas) tahun maka, ia harus memilih atau menentukan salah satu kewarganegaraannya.12

b) Asas Kewarganegaraan Khusus. Selain asas-asas umum tersebut di atas, dalam Penjelasan Umum UU Nomor 12 Tahun 2006 ditentukan pula beberapa asas khusus yang menjadi dasar penyusunan Undang-Undang tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia, yaitu:

1) Asas kepentingan nasional adalah asas yang menentukan bahwa peraturan kewarganegaraan mengutamakan kepentingan nasional Indonesia, yang bertekad mempertahankan kedaulatannya sebagai negara kesatuan yang memiliki cita-cita dan tujuannya sendiri.

12 I Nengah Suantra, Made Nurmawati, Ni Made Ari Yuliartini Griadhi, Nyoman Mas Aryani. Hukum Kewarganegaraan dan Kependudukan. h.20

(29)

2) Asas perlindungan maksimum adalah asas yang menentukan bahwa pemerintah wajib memberikan perlindungan penuh kepada setiap Warga Negara Indonesia dalam keadaan apapun baik di dalam maupun di luar negeri.

3) Asas persamaan di dalam hukum dan pemerintahan adalah asas yang menentukan bahwa setiap Warga Negara Indonesia tnendapatkan perlakuan yang lama di dalam hukum dan pemerintahan. 13

4) Asas kehenaran substantif adalah prosedur pewarganegaraan seseorang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga disertai substansi dan syarat-syarat permohonan yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

5) Asas nondiskriminatif adalah asas yang tidak membedakan perlakuan dalam segala hal ikhwal yang berhubungan dengan warga negara atas dasar suku, ras, agama, golongan, jenis kelamin dan gender.

6) Asas pengakuan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia adalah asas yang dalam segala hal ikhwal yang berhubungan dengan warga negara harus menjamin, melindungi, dan memuliakan hak asasi manusia pada umumnya dan hak warga negara pada khususnya.

7) Asas keterbukaan adalah asas yang menentukan bahwa dalam segala hal ihwal yang berhubungan dengan warga negara harus dilakukan secara terbuka.

8) Asas publisitas adalah asas yang menentukan bahwa seseorang yang memperoleh atau kehilangan Kewarganegaraan Republik Indonesia diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia agar masyarakat mengetahuinya.14

Perbedaan penggunaan asas-asas kewarganegaraan yang dianut oleh negara yang satu dan negara yang lain dapat mengakibatkan seseorang tanpa

13 I Nengah Suantra, Made Nurmawati, Ni Made Ari Yuliartini Griadhi, Nyoman Mas Aryani. Hukum Kewarganegaraan dan Kependudukan. h.20

14 I Nengah Suantra, Made Nurmawati, Ni Made Ari Yuliartini Griadhi, Nyoman Mas Aryani. Hukum Kewarganegaraan dan Kependudukan. h.21

(30)

21

kewarganegaraan (apatride), mempunyai kewarganegaraan ganda (bipatride), dan bahkan berkewarganegaraan banyak (multipatride). 15

3. Islamic State Of Iraq And Syria

Islamic State of Syria (ISIS) yang dimaksud dalam penelitian ini adalah ISIS sebagai organisasi teroris sebagaimana tercantum dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2178 Tahun 2014, dan Nomor 2249 Tahun 2015, dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Menjadi Undang-Undang dalam Pasal 12 A, “(1) Setiap Orang yang dengan maksud melakukan Tindak Pidana Terorisme di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia atau di negara lain, merencanakan, menggerakkan, atau mengorganisasikan Tindak Pidana Terorisme dengan orang yang berada di dalam negeri dan/ atau di luar negeri atau negara asing dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling Lama 12 (dua belas) tahun.” Warga Negara Indonesia yang dalam hal ini disebut sebagai mantan milisi ISIS , sengaja menghilangkan identitasnya secara simbolis tidak berarti hilang status kewarganegaraannya karena islamic state of iraq and syria adalah organisasi/kelompok terorisme internasional, bukan sebuah negara. Sehingga, pencabutan status kewarganegaraan seorang Warga Negara Indonesia yang terlibat dengan islamic state of iraq and syria baiknya melalui proses peradilan yang tidak hanya sebagai bentuk penghormatan hak konstitusional seseorang, tetapi juga membuktikan sejauh mana keterlibatan mantan milisi islamic state of iraq and syria sebagai dasar untuk menjatuhkan sanksi yang lebih ideal.16

15 Sudargo Gautama. Warga Negara dan Orang Asing. Alumni:Bandung. 1975. h.9


16 Kifly Arafat Samu, Status Hukum Warga Negara Indonesia yang Terlibat dalam Organisasi Teroris Internasional. Lex Et Societatis Vol. VI/No.10/Des/2018. h.77.

(31)

B. Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu

1. Status Hukum ISIS Dalam Hukum Internasional

Skripsi ditulis oleh Muhammad Dzar Azhari Mutharrar dari Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Yogyakarta tahun 2018. Penelitian ini memfokuskan kedudukan Islamic State of Syria and Iraq (ISIS) dalam hukum internasional yang menempatkan Islamic State of Syria and Iraq (ISIS) sebagai objek dalam hukum internasional. Perbedaan dengan peneliti terdahulu ialah pembahasan dan objek peneliti sekarang berfokus kepada status kewarganegaraan perempuan dan anak-anak mantan milisi ISIS.17

2. Hak Atas Kewarganegaraan Bagi Keluarga Militan ISIS

Jurnal ditulis oleh Nathania Agatha Lukman dan I Wayan Pasa, Program Kekhususan Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Udayana tahun 2019. Penelitian ini memfokuskan hak kewarganegaraan bagi semua keluarga yang menjadi mantan milisi ISIS si wilayah Iraq, dan Suriah. Perbedaannya dengan peneliti sekarang ialah memfokuskan hanya kepada perempuan dan anak-anak.18

3. Kajian Kontra Terorisme dan Kebijakan (Tantangan dan Solusi Bagi Pemulangan Simpatisan ISIS.

Jurnal ditulis oleh Imron Rasyid, M.Hasan Ansori, Johari Efendi, Sopar Peranto,Vidya Hutagalung, Muhamad Arif pada tahun 2019 diterbitkan oleh The Habibie Centre Edisi 05/Agustus 2019. Penelitian ini memfokuskan pada tantangan dan solusi jika melakukan repatriasi eks militan ISIS. Perbedaan dengan peneliti sekarang ialah fokus peneliti

17 Dzar Azhari Mutharrar. “Status Hukum ISIS Dalam Hukum Internasional”, Yogyakarta:

Skripsi S1, Fakultas Hukum, Universitas Islam Indonesia, 2019.

18 Nathania Agatha Lukman, I Wayan Pasa. Hak Atas Kewarganegaraan Bagi Keluarga Militan ISIS. Jurnal Program Kekhususan Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Udayana, 2019.

(32)

23

sekarang kepada status kewarganegaraan perempuan dan anak mantan milisi ISIS sehingga bisa mendapatkan hak-haknya sebagai Warga Negara Indonesia.19

4. Foreign Terrorists Fighters (FTF) dan Langkah Administrasi Negara Terhadap Keadaan Tanpa Kewarganegaraan.

Jurnal ini ditulis oleh Muttaqim terbitan Indonesian State Law Review, Vol. 2 Nomor 2, April 2020, Magister Ilmu Hukum Universitas Negeri Semarang tahun 2020. Penelitian ini fokus pada foreign terrorist fighter (FTF) dan administrasi negara terhadap orang keadaan tanpa negara (stateless person). Perbedaan dengan peneliti sekarang ialah peneliti sekarang mengkaji terkait peraturan yang tidak mengenal stateless person terutama perempuan dan anak mantan milisi ISIS.20

19 Mohammad Hasan Ansori, Imron Rasyid,
Muhamad Arif,
Sopar Peranto,
Johari Efendi,
Vidya Hutagalung. Memberantas Terorisme di Indonesia: Praktik, Kebijakan dan Tantangan. The Habibie Center, Agustus 2019.

20 Muttaqim, Foreign Terrorists Fighters (FTF) Dan Langkah Administrasi Negara Terhadap Keadaan Tanpa Kewarganegaraan. Indonesian State Law Review, Vol. 2 No. 2, April 2020

(33)

24 BAB III

KEDUDUKAN ISLAMIC STATE OF IRAQ AND SYRIA MENURUT HUKUM NASIONAL DAN INTERNASIONAL

A. Pengertian Islamic State of Iraq and Syria

Timur-tengah adalah tempat labil yang selalu bergejolak dan tidak pernah lepas menurut terjadinya perseteruan, baik perseteruan intrastate maupun permasalahan interstate. Berawal dari konflik intrastate yang terjadi antara di negara Irak dan & Suriah, pertarungan ini berkembang menjadi konflik regional yang begitu kompleks yang melibatkan negara-negara lain pada satu daerah bahkan mengundang perhatian negara Barat dan sekutunya.

Perseteruan intrastate yang berkepanjangan pada dua negara di Timur-tengah yaitu Irak dan Suriah membawa babak baru pada sejarah koflik di daerah tersebut.1 Pemerintahan baru di Irak pasca jatuhnya rezim Saddam Husein ternyata tidak sanggup menciptakan perdamaian dan persatuan antara masyarakat Irak. Ketidakpuasan menjadi dasar perlawanan dan pemberontakan yang terjadi di berbagai penjuru daerah Irak.

Kondisi ini diperkeruh dengan masuk dan beroperasinya banyak sekali macam kelompok transnasional berlabel religius Islam ke Irak baik yang berasal dari grup sunni maupun syiah. Kehadiran pasukan Amerika Serikat dan sekutunya di Irak pun tidak mampu untuk menjaga keamanan dan ketertiban warga Irak, namun justru sering dijadikan dalih menjadi bentuk imperialisme dan kolonialisme baru di Irak. Keadaan di Suriah juga semakin memburuk pasca peristiwa Arab Spring. Efek domino kejatuhan pemerintahan negara- negara di Timur Tengah yang berawal dari Tunisia dan Libya menjadi bayang- bayang mengerikan bagi pemerintah Suriah. Benih-benih ketidakpuasan dan perlawanan terhadap pemerintahan semakin menguat dan berubah menjadi gerakan massal di Suriah. Perlawanan terbuka terhadap pemerintah yang

1 Yan Mulyana, Akim, Deasy Silvya Sari. Power Negara Islam Irak Dan Suriah (Islamic State Of Irak And Suriah, ISIS ). Jurnal Ilmu Politik dan Komunikasi Volume VI No. 1 / Juni 2016.

h.19

(34)

25

Suriah yang berkuasa dalam waktu itu yaitu di bawah kepemimpinan Presiden Bashar Assad yang beraliran Syiah dilakukan oleh gerombolan rakyat Suriah yang beraliran Sunni.

Pertarungan sebagai semakin kompleks menggunakan keterlibatan gerombolan transnasional menurut berbagai negara dan berakibat terciptanya pertempuran baru di Timur Tengah. Kemudian, dalam konflik berkepanjangan antara Irak dan Suriah serta lambannya proses lembaga penjaga perdamaian dunia, masyarakat internasional dikejutkan dengan munculnya deklarasi untuk mendirikan Negara Islam bernama Negara Islam Irak dan Suriah (Daulah Islamiyah fil Wasim / Irak dan Negara Islam Suriah / ISIS) pada 29 Juni 2014.

Dari segi namanya, negara baru ini mencakup dua wilayah Irak. Manifesto tersebut menyatakan bahwa Ahlul Halli Wal-Aqdi, terdiri dari pejabat, pemimpin, penguasa dan dewan Syura, telah bersumpah setia kepada Amir Khilafah yang bernama Ibrahim Awad Al-Badri atau dikenal dengan Abu Bakar Al-Baghdadi.2 Wilayah yang berhasil direbut dan dikuasainya diklaim sebagai wilayah kekhilafahan baru Islam dan Abu Bakar al- Baghdadi sebagai khalifah. Sebagai kekhilafahan Islam, ISIS (IS) mengklaim memiliki otoritas agama, politik, dan militer bagi seluruh umat Islam dunia dengan mengajak seluruh umat Islam untuk bergabung menyokong eksistensi khilafah Islam yang dideklarasikannya.3

Kekuasaan ISIS membentang dari Aleppo di Suriah sampai dengan Baghdad di Irak. Beberapa provinsi di Suriah yang berada dibawahnya adalah Aleppo, Raqqah, dan Deir es Zor, sementara di Irak menguasai provinsi Salahudin, al-Anbar, Nineveh, dan Diyala. Luas wilayah yang dikuasai ISIS ini sama dengan luas wilayah negara Inggris. Secara administratif pemerintahan, ISIS menguasai dan memerintah dua kota secara penuh yaitu Raqqah dan Mosul. Kota Raqqah berada di Suriah sementara kota Mosul ada

2 Yan Mulyana, Akim, Deasy Silvya Sari. Power Negara Islam Irak Dan Suriah (Islamic State Of Irak And Suriah, ISIS ). h.20

3 Najmuddin Khairur Rijal, Eksistensi dan Perkembangan ISIS: Dari Irak Hingga Indonesia. Univeristas Muhammadiyah Malang. 2017. h.51. URL:

https://media.neliti.com/media/publications/99666-ID-eksistensi-dan-perkembangan-ISIS-dari- ir.pdf

(35)

di Irak, kedua kota ini dijadikan ibu kota pemerintahan oleh ISIS. Terdapat sistem administrasi pemerintahan yang dijalankan oleh pemerintahan ISIS di dua kota tersebut, selain itu juga terdapat institusi kehakiman, polisi, dan fasilitas pendidikan. Secara penduduk, ada sekitar lebih dari 10 juta orang yang hidup di bawah kekuasaan dan pemerintahan ISIS.4

Ajaran ISIS kemudian tidak hanya berkembang di Timur Tengah, tetapi juga di dunia seperti benua Eropa, Amerika, terutama Asia Tenggara. Kawasan Asia Tenggara menjadi kawasan yang strategis menyebarnya ajaran ISIS terutama di Indonesia dan Malaysia. Beberapa faktor berkembangnya ajaran ISIS di Asia Tenggara khususnya Indonesia dan Malaysia menurut Joseph Chinyong Liow5 yang pertama, persamaan pandangan teologis dan keimanan dengan kelompok ISIS sehingga mengakibatkan sebagian umat Muslim meyakini hubungan misi ISIS untuk mendirikan Khilafah ala Minhaj Nubuwwah. Kedua, kelompok ISIS memiliki prinsip melawan Syiah, hal ini sejalan dengan paham umat Islam terutama di Indonesia dan Malaysia dengan adanya pelarangan Syiah di Malaysia sementara keberadaannya tidak diakui di Indonesia. Ketiga, adanya rasa simpati dan perasaan senasib sebagai umat Islam terhadap masyarakat Suriah yang kemudian mendorong masyarakat Muslim Asia Tenggara berangkat melakukan jihad atas nama misi kemanusiaan dan “panggilan suci agama.”

Sejak tahun 2015, kelompok ISIS di Indonesia berkembang membentuk beberapa jaringan-jaringan baru seperti Jamaah Ansharul Tauhid (JAT), Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Jamaah Ansharul Khilafah (JAK), Mujahidin Indonesia Timur (MIT), dan Mujahidin Indonesia Barat (MIB).

4Jean-Charles Brisard, Damien Martinez. Islamic State: The Economy- Based Terrorist Funding. Thomson Reuters Accelus. Oktober 2014. URL: https://www.reuters.com/article/syria- iraq-islamic-state-finance-idUKL6N0TH3YP20141127

5 Joseph Chinyong Liow. ISIS Goes to Asia. Foreign Affairs. September 22, 2014. URL:

https://www.rsis.edu.sg/wp-

content/uploads/2014/09/140921_ISIS_Goes_to_Asia_Foreign_Affairs.pdf

(36)

27

B. Status Islamic State of Iraq and Syria

Menurut Ian Brownlie, subyek hukum internasional merupakan entitas yang menyandang hak-hak dan kewajiban-kewajiban internasional, dan mempunyai kemampuan untuk mempertahankan hak-haknya dengan mengajukan klaim-klaim internasional.6 Dengan mempunyai hak-hak dan kewajiban, maka yang menjadi subyek hukum internasional bisa melakukan suatu hubungan hukum. Adapun subjek-subjek hukum Internasional:7

1. Negara (States)

2. Tahta Suci (Vatican/The Holy Emperor); 


3. Organisasi Internasional (International Organizations); 


4. Palang Merah Internasional (International Committee of the Red Cross);


5. Kaum pemberontak (Belligerents;Insurgents); 


6. Individu (Individual); 


7. Perusahaan Multinasional (Multinational Corporations) / Perusahaan Transnasional (Transnational Corporations); 


8. Organisasi Non-Pemerintah (Non-Governmental Organizations). 


Berdasarkan subjek-subjek hukum internasional tersebut, ISIS tidak termasuk kategori sebuah negara meskipun terdapat frasa state (negara) dalam namanya, melainkan termasuk kedalam kategori organisasi teroris sesuai dengan definisi resolusi Dewan Keamanan PBB 2178/2014.8 Adapun dasar tidak termasuknya ISIS sebagai sebuah negara berdasarkan syarat-syarat suatu negara melaui Konvensi Montevideo:

1. Memenuhi unsur pemerintahan yang berdaulat, 2. Wilayah tertentu,

6 Ian Brownlie. Principles of Public International Law, 8th Edition. Oxford University Press:Oxford. 1977. h.386

7 Mochtar Kusumaatmadja & Etty R. Agoes. Pengantar Hukum Internasional. Edisi ke-2, Cetakan ke-1, P.T. Alumni:Bandung. 2003. h. 95-112.

8 S/RES/2178 (2014), h.1

(37)

3. Rakyat yang hidup teratur sebagai suatu bangsa (nation), dan

4. Pengakuan dan negara-negara lain. Suatu negara tidak hanya membutuhkan rakyat, wilayah, dan pemerintahan tetapi juga pengakuan secara de jure untuk bisa melakukan hubungan internasional.9

ISIS memenuhi unsur pertama yaitu pemerintahan. Pemerintahan ISIS mengatur dua wilayah utama yaitu Irak dan Suriah yang maisng-masing terdapat pemimpinnya yang disebut sebagai deputi. Kemudian, dibawah dua deputi terdapat dua belas gubernur yang mengatur masing-masing urusan daerah yang disebut dengan Dewan:

1. Dewan Keuangan. Dewan ini bertugas untuk mengatur senjata-senjata, dan penjualan minyak

2. Dewan Kepemimpinan. Dewan ini mengatur peraturan hukum, dan kebijakan-kebijakan.

3. Dewan Militer. Dewan ini yang menjaga dan membela ISIS

4. Dewam Hukum. Dewan ini bertugas untuk menetapkan eksekusi dan rekruitmen anggota

5. Dewan Pejuang Bantuan. Dewan ini bertugas dalam membantu pejuang (Foreign Terrorist Fighter)

6. Dewan Keamanan. Dewan ini bertujuan mengatur kebijakan didalam ISIS terutama jika terdapat sengketa antar anggota

7. Dewan Intelijen. Dewan ini yang bertugas mencari informasi terkait musuh ISIS

8. Dewan Media. Dewan ini bertugas mengatur publikasi media sosial.10 Kemudian, ISIS juga memenuhi unsur kedua yaitu wilayah. ISIS memiliki dua wilayah utama yaitu Irak dan Suriah, dan memiliki wilayah

9 Montevideo Convention on the Rights and Duties of States, h.3, Article 1

10 El Renova Ed Siregar, Kedudukan Islamic State Of Iraq And Syria Dalam Hukum Internasional. Fakultas Hukum Universitas Lampung, 2016. Hlm. 57-58. URL:

https://studylibid.com/doc/329697/“kedudukan-islamic-state-of-iraq-and-syria--isis--dalam

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilakukan melalui telaah atas majalah Dabiq yang resmi dirilis oleh ISIS dan literatur- literatur ulama hadis, dianalisis secara deskriptif, analitis,

Kepentingan ideologi Amerika Serikat di Irak melalui kebijakan Presiden Obama memerangi kelompok teroris ISIS adalah untuk menjaga ideologi demokrasi yang telah

Ideologi jihadisme ISIS berikutnya adalah khila>fah Islam, sebuah paham yang sudah sangat populer di kalangan umat Muslim, tetapi dikemas kembali oleh ISIS

Literatur terdahulu menjelaskan eksistensi dan strategi kelompok tersebut untuk berkembang dari kelompok teroris menjadi kelompok “quasi-state” dengan nama “khilafah.”

PERBANDINGAN HUKUM REPATRIASI WARGA NEGARA INDONESIA MANTAN KOMBATAN ISLAMIC STATE IRAQ AND SYIRIA MENURUT HUKUM POSITIF INDONESIA DAN HUKUM ISLAM SKRIPSI Diajukan Oleh TEUKU AWIS AULIA

Kedudukan ISIS dalam konstelasi Internasional bukan negara akan tetapi organisasi massa pelaku kejahatan (mass crime) karena tidak memenuhi syarat negara

Dengan tujuan utamanya, yakni untuk memperjelas sistem Khilafah yang diusung oleh kelompok ISIS dengan berbagai macam gerakan dan kekerasan yang dilakukan di berbagai

Terkait tantangan pemerintah dalam menghadapi returnis ISIS yaitu pertama, aspek hukum dimana pemerintah tidak bisa melakukan pencabutan kewarganegaraan maupun pencekalan terhadap warga