• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mekanisme pelaporan/pengaduan di kepolisian

Dalam dokumen BUKU PANDUAN ADVOKASI MUALAF (Halaman 57-62)

Dalam hal pelanggaran berupa tindak pidana, terdapat beberapa cara untuk melaporkannya, yaitu:

1. Layanan contact center 110

Layanan ini merupakan layanan meminta bantuan kepolisian melalui telepon terkait informasi, pelaporan (kecelakaan, bencana, kerusuhan, dll) dan pengaduan (penghinaan, ancaman, diskriminasi, tindak kekerasan, dll).

2. Secara langsung

a. Mendatangi kantor kepolisian terdekat dari lokasi peristiwa pidana.

Adapun daerah hukum kepolisian meliputi:

a. Markas Besar (Mabes) Polri untuk wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

b. Kepolisian Daerah (Polda) untuk wilayah Provinsi. c. Kepolisian Resort (Polres) untuk wilayah Kabupaten/

Kota.

d. Kepolisian Sektor (Polsek) untuk wilayah Kecamatan e. Langkah kedua, pengadu dapat langsung menuju ke

SPKT merupakan unsur pelaksana tugas pokok yang bertugas memberikan pelayanan kepolisian secara terpadu terhadap laporan/pengaduan masyarakat, memberikan bantuan dan pertolongan, serta memberikan pelayanan informasi.

Catatan:

a. Apabila melakukan pelaporan/pengaduan secara langsung di kepolisian, pastikan menerima surat tanda terima laporan atau pengaduan. Surat tersebut menunjukkan bahwa laporan/pengaduan telah diterima, dan berfungsi untuk melacak laporan/ pengaduan.

b. Jika si mualaf merasa tertekan dan terintimidasi atas perlakuan keluarganya yang sudah melampaui batas, ia bisa meminta bantuan ke lembaga bantuan hukum untuk mendampingi selama proses hukum yang akan ditempuh, yaitu melaporkan ke kepolisian bahwa orang tuanya yang telah melakukan perbuatan penyekapan/ pengurungan dan merampas hak kemerdekaan orang lain, dan meminta didampingi untuk meminta jaminan perlindungan saksi/korban dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

3.2.2 Penggunaan Atribut Non Islam

terhadap Mualaf di Tempat Bekerja

Di tempat berkerja, mualaf dipaksa memakai atribut yang bukan merupakan syariat Islam. Bagaimana caranya mengadvokasi agar mualaf bisa tetap berkerja, tetapi tidak menggunakan atribut yang bukan dari agama Islam?

Regulasi dan Kebijakan Terkait

1. Undang-Undang Dasar Tahun 1945 2. Kitab Undang-undang Hukum Pidana

3. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia

4. Undang-Undang No. 12 Tahun 2005 tentang Hak-hak sipil dan politik

5. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

6. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial

7. Fatwa MUI Nomor 56 Tahun 2016 tentang atribut hukum menggunakan atribut non muslim

Analisis Kasus

Dasar hukum yang menjamin kebebasan beragama di Indonesia ada pada konstitusi kita, yaitu Pasal 28E ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945: Setiap orang bebas memeluk agama dan

beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.

Pasal 28E ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 juga menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan. Selain itu dalam Pasal 28I ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 juga diakui bahwa hak untuk beragama merupakan hak asasi manusia. Selanjutnya Pasal 29 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 juga menyatakan bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk agama.

Pasal 2 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM menyatakan bahwa Negara Republik Indonesia mengakui dan

menjunjung tinggi HAM dan kebebasan dasar manusia sebagai hak yang secara kodrati melekat pada dan tidak terpisahkan dari manusia yang harus dilindungi, dihormati dan ditegakkan demi peningkatan martabat kemanusiaan, kesejahteraan, kebahagiaan dan kecerdasan serta keadilan.

Pasal 4 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 menyatakan bahwa hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kebebasan

pribadi, pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dan persamaan dihadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah HAM yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun.

Pasal 22 yang menyatakan bahwa:

(1) Setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing, dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. (2) Negara menjamin kemerdekaan setiap orang memeluk

agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Di dalam penjelasan Pasal 22 ayat (1) juga dikatakan bahwa yang dimaksud dengan hak untuk bebas memeluk agamanya dan kepercayaannya adalah hak setiap orang untuk beragama menurut kepercayaannya sendiri, tanpa adanya paksaan dari siapapun juga. Pasal-pasal ini menegaskan bahwa hak kebebasan beragama dan berkeyakinan adalah hak asasi dan negara wajib menjamin terhadap perlindungan, penghormatan, dan pemenuhannya. Kebebasan menjalankan agama dan kepercayaan seseorang hanya dapat dibatasi oleh beberapa hal, sebagaimana bunyi Pasal

18 ayat (3) Undang-Undang No. 12 Tahun 2005 tentang Hak-hak sipil dan politik, yaitu: kebebasan untuk menjalankan agama atau

kepercayaan seseorang hanya dapat dibatasi oleh ketentuan hukum, yang diperlukan untuk melindungi keamanan, ketertiban, kesehatan atau moral masyarakat atau hak dan kebebasan mendasar orang lain.

Disamping peraturan tersebut di atas, Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tahun 2016 juga telah mengeluarkan Fatwa MUI Nomor 56 Tahun 2016 tentang hukum menggunakan atribut non muslim. Dengan dikeluarkannya fatwa ini diharapkan jangan sampai ada lagi kejadian pemberi kerja memaksa karyawan muslim (terlebih lagi mualaf) menggunakan atribut yang tidak sesuai dengan keyakinannya dan dengan ditambah ancaman pemecatan jika hal tersebut tidak dilakukan. Dalam hal ini pemberi kerja yang memaksa dan mengancam karyawan muslim (terlebih lagi mualaf) mengenakan atribut non muslim, bisa terkena ancaman pidana dalam Pasal 335 ayat (2) KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan. Diancam dengan pidana penjara paling lama

satu tahun atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah (2) barangsiapa memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuat dengan ancaman pencemaran atau pencemaran tertulis.

Proses Advokasi

Langkah-langkah yang dapat diambil oleh mualaf jika terjadi intimidasi/pemaksaan pemakaian atribut non muslim (termasuk mualaf) oleh pemberi kerja yang disertai dengan ancaman pemecatan, yang pertama wajib diupayakan adalah melalui perundingan bipartite. Upayakan terjadi musyawarah antara si mualaf dengan pemberi kerja. Hal ini diatur dalam Pasal 3 ayat

(1) UU No. 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial. Bila upaya ini tidak membuahkan hasil, langkah selanjutnya si mualaf dengan karyawan muslim, bisa secara individu ataupun melalui serikat pekerja, dengan bukti yang cukup membuat laporan kepada Dinas Ketenagakerjaan. Dinas Ketenagakerjaan akan memanggil dan mempertemukan kedua belah pihak untuk mencari duduk perkara dan solusi terbaik untuk kedua belah pihak.

Langkah selanjutnya yang dapat diambil oleh si mualaf atau karyawan muslim, jika pihak pemberi kerja tidak mengindahkan anjuran dari Dinas Ketenagakerjaan serta tetap memaksa mualaf atau karyawan muslim memakai atribut non muslim adalah melapor ke Kepolisian tentang tindakan tidak menyenangkan yang diatur dalam Pasal 335 ayat (2) KUHP.

Sebenarnya langkah preventif juga bisa dilakukan oleh pemerintah, yaitu dengan menerbitkan aturan untuk menanggulangi terjadinya hal-hal yang dapat merusak nilai-nilai toleransi dalam beragama. Seperti yang dilakukan Pemerintah Kota Tasikmalaya --bersama dengan para pemuka agama sepakat-- menerbitkan Perda Tata Nilai yang larangan para pemberi kerja memaksa karyawan mengenakan atribut agama tertentu. Apabila pemberi kerja tidak menjalankan Perda tersebut, akan diberi teguran, peringatan tertulis, penghentian kegiatan, dan pencabutan izin.

Dalam dokumen BUKU PANDUAN ADVOKASI MUALAF (Halaman 57-62)