Email Website
: [email protected] : www.baznas.go.id
www.puskasbaznas.com
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang No.19 Tahun 1992 All Right Reserved
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dengan bentuk dan cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit
ISBN: 978-623-6614-71-6
Penyusun:
Mualaf Center – Badan Amil Zakat Nasional (Mualaf Center BAZNAS)
Penyunting:
Mualaf Center – Badan Amil Zakat Nasional (Mualaf Center BAZNAS)
Bekerja sama dengan:
Lembaga Bantuan Hukum Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manu-sia IndoneManu-sia (LBH PAHAM) IndoneManu-sia
Penerbit:
Pusat Kajian Strategis – Badan Amil Zakat Nasional (PUSKAS BAZNAS)
Jl. Matraman Raya No. 134, Jakarta Timur, DKI Jakarta Indonesia, 13150
Phone +6221 3904555 Fax +6221 3913777 Mobile +62812-9-62-3885
Mualaf Center – Badan Amil Zakat Nasional (Mualaf Center BAZNAS) Lembaga Bantuan Hukum Pusat Advokasi Hukum dan Hak AsasiManu-sia IndoneAsasiManu-sia (LBH PAHAM) IndoneAsasiManu-sia
Pengarah: M. Arifin Purwakananta Irfan Syauqi Beik, Ph.D Ahmad Fikri Farid Septian Ketua: Anggota: Salahudin El Ayyubi Sabarrudin Hoirullah
Mutia Jawaz Muslim Neneng Annisa Rahmah Heru Julianto
Joko Santoso Arian Syahputra
Tata Letak dan Desain Sampul:
Aditya Dwi Gumelar
Edisi/Cetakan:
Cetakan Pertama, April 2020 Diterbitkan oleh
Pusat Kajian Strategis – Badan Amil ZakatNasional (PUSKAS BAZNAS)
Jl. Matraman Raya No. 134, Jakarta Timur, DKI Jakarta Indonesia, 13150
Phone +6221 3904555 Fax +6221 3913777 Mobile +62812-9-62-3885
KETUA BAZNAS RI
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Berkat kuasa dan izin-Nya lah Badan Amil Zakat Nasional Republik Indonesia (BAZNAS RI) dapat menerbitkan Buku Panduan Advokasi Mualaf. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah SAW, pemimpin umat, teladan, dan panutan kaum muslimin hingga akhir zaman.
Keterbatasan literasi dan pengetahuan masyarakat khususnya mualaf menjadi tembok yang menghalangi akses untuk mendapatkan bantuan secara hukum. Buku panduan ini merupakan langkah awal giat Mualaf Center BAZNAS (MCB) RI untuk membantu para pembina mualaf maupun mualaf itu sendiri untuk dapat menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi khususnya persoalan hukum dan hak asasi mereka pasca keputusan untuk memeluk agama Islam.
Buku Panduan Advokasi Mualaf tentunya akan menjadi rujukan kerja dilingkungan BAZNAS RI. Namun, pada dasarnya buku ini dapat diimplementasikan bagi pegiat dakwah mualaf baik lembaga, Da’i dan juga mualaf diseluruh Indonesia. Oleh karena itu, saya berharap buku ini dapat digunakan sepenuhnya sebagai rujukan bagi semua pihak dalam pelaksanaan proses advokasi mualaf. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya saya sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan, revisi, dan penerbitan buku ini. Semoga apa yang
telah dilakukan akan membawa manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan kualitas kinerja dakwah dan hidup mualaf.
Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA., CA Ketua BAZNAS Republik Indonesia
KEPALA LEMBAGA
MUALAF CENTER BAZNAS RI
Assalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillahirabbil’aalamin, puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu WaTa’ala yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya. Shalawat serta salam semoga tercurahkan selalau kepada junjungan Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi Wa Sallam, beserta keluarganya, para sahabatnya dan semua ummatnya yang selalu istiqomah sampai akhir zaman.
Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki pertumbuhan mualaf yang signifikan. Namun pertumbuhan tersebut belum diiringi dengan pemahaman mualaf, masyarakat. Da’i, dan lembaga dakwah terkait perlindungan hak mualaf dalam pandangan hukum di Indonesia. Hal tersebut menjadi perhatian Mualaf Center BAZNAS akan pentingnya penyusunan Buku Panduan Advokasi Mualaf untuk bisa dipelajari dan menjadi rujukan dalam penanganan advokasi mualaf.
Terbitnya buku ini sebagai bentuk kepedulian terhadap para mualaf. Diharapkan buku ini dapat membantu saudara-saudara mualaf untuk menguatkan iman dan memudahkan menjalankan ibadah dengan baik dan nyaman.
Tetapi tidak lepas dari semua itu, kami sadar sepenuhnya bahwa dalam penyusunan buku ini masih terdapat banyak kekurangan baik dari segi penyusunanbahasaserta aspek-aspeklainnya. Maka
dari itu, dengan lapang dada kami membuka pintu seluas-luasnya bagi para pembaca yang ingin memberikan kritik ataupun sarannya demi penyempurnaan buku ini. Semoga buku Panduan Advokasi Mualaf ini dapat bermanfaat dan semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa memberkahi. Aamiin yaa Rabbal ‘Aalamiin.
Wassalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
Jakarta, 21 Desember 2020
Salahuddin El Ayyubi, LC., M.A. Kepala Lembaga Mualaf Center BAZNAS RI
ISI
KATA PENGANTAR
KETUA BAZNAS RI...v
KATA PENGANTAR KEPALA LEMBAGA MUALAF CENTER BAZNAS RI ... vii
DAFTAR ISI ...ix
BAB 1. PENDAHULUAN ... 1
BAB 2. MUALAF, PERLINDUNGAN HUKUM, DAN ADVOKASI... 3
2.1 Defenisi Mualaf ...3
2.2 Perlindungan Hukum Terhadap Mualaf... 5
2.3 Advokasi ... 6
2.3.1 Pengertian Advokasi ... 6
2.3.2 Prinsip-Prinsip dalam Advokasi ... 7
2.3.3 Jenis dan Bentuk Advokasi... 9
BAB 3. KASUS DAN UPAYA ADVOKASI MUALAF...11
3.1 Hak Asuh Anak ...11
1. Hak Asuh Anak dari Ibu Mualaf dengan Ayah Muslim Berkecukupan ...11
2. Hak Asuh Anak dari Ibu Mualaf dengan Bapak Non Muslim... 16
3. Hak Asuh Anak dari Pernikahan Siri antara Ibu Muslimah dan Bapak Murtad ... 21
4. Kekuatan Surat Pernyataan Hak Asuh Anak dari Suami Muslim terhadap Istri Mualaf di Persidangan... 26 5. Upaya Hukum Istri Mualaf atas Putusan
Pengadilan terhadap Hak Asuh Anak yang Jatuh ke Tangan Suami Non-Muslim ... 35 2. Hak Kebebasan Beragama dan Beribadah ...39
1. Penyekapan dan Pelarangan Ibadah
Mualaf oleh Keluarga Non-Muslim ... 39 2. Penggunaan Atribut Non Islam terhadap
Mualaf di Tempat Bekerja ...46 3. Larangan Memakai Hijab bagi Mualaf
Perempuan di Tempat Bekerja ... 56 4. Pernikahan Mualaf Perempuan dengan
Seorang Muslim Tanpa Persetujuan
Keluarga ... 67 5. Buku Nikah atas Pernikahan Siri
Perempuan Mualaf dengan Laki-laki
Muslim ... 73 6. Poligami Laki-laki Muslim terhadap
Perempuan Mualaf dengan Izin Istri
Pertama ... 77 7. Pernikahan Laki-laki Muslim dengan
Perempuan Mualaf di Bawah Umur... 80 8. Larangan Rencana Pemakaman Mualaf
Secara Islam oleh Keluarga... 82 9. Pemakaman Mualaf yang Sudah Terlanjur
3.3 Hak Untuk Hidup... 89
1. Ancaman Pembunuhan Kepada Mualaf dari Pihak Keluarga ... 89
2. Penyekapan dan Penganiayaan terhadap Mualaf Hingga Meninggal Dunia... 91
3. Penyiksaaan terhadap Mualaf... 94
4. Pengusiran Mualaf dari Rumah... 98 3.4 Hak Kependudukan ... 104
3.4.1 Kartu Keluarga Mualaf Ditahan Pihak Keluarga dan Pejabat Non-Muslim ... 104
BAB 4. TANTANGAN ADVOKASI MUALAF KE DEPAN ...117
DAFTAR PUSTAKA ... 123
Lampiran 1 ... 126
Lampiran 2 ... 129
PENDAHULUAN
Hak Asasi Manusia (HAM) menjadi perbincangan usai Perang Dunia kedua dan lahirnya Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Right) pada tanggal 10 Desember 1948. Deklarasi ini menjadi cikal bakal pengaturan HAM di berbagai negara, salah satunya di Indonesia. Meski demikian, para Pendiri Bangsa Indonesia telah lebih dulu memasukkan rumusan nilai-nilai HAM ke dalam konstitusi Undang-Undang Dasar 1945 yang ditetapkan tanggal 18 Agustus 1945, sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan. Sementara itu, pengaturan lebih lengkapnya dituangkan dalam amandemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD NRI) 1945 di tahun 1999-2002. Bab X UUD NRI 1945 mengatur secara khusus tentang HAM warga negara Indonesia sekaligus sebagai kewajiban bagi setiap warga negara untuk menghormati HAM warga negara lainnya. Pengaturan HAM dalam Bab X itu secara tegas menyebut “setiap orang” dan “setiap warga negara”. Artinya, ada hak yang diberikan untuk semua orang yang hidup dan tinggal di Indonesia, namun ada juga hak yang hanya khusus untuk warga negara Indonesia saja. Di Indonesia menjadi mualaf, berpindah agama dari agama selain Islam menjadi pemeluk agama Islam, tidak membuat seseorang warga negara kehilangan hak konstitusinya. Ia tetap warga negara Indonesia. Berdasarkan data dari Mualaf Center Indonesia, total mualaf dari Januari–November 2017 adalah 2.857 orang.1Setiap
bulan ada lebih dari 200 orang masuk Islam. Laki-laki lebih banyak menjadi mualaf daripada perempuan.
Jika per tahun ada 3.000 orang menjadi mualaf, tentu angka yang cukup signifikan dan perlu mendapat perhatian. Terutama perhatian negara untuk memenuhi hak-haknya sebagai warga negara. Sebab, menjadi mualaf tidak mengubah hak asasi yang melekat pada dirinya sebagai manusia. Ia tetap memiliki hak mendapat pendidikan, hak sosial, hak ekonomi, hak budaya, dan hak keamanan sebagaimana warga negara yang lain.
Hanya saja pengalaman di lapangan kadang tidak seperti yang seharusnya. Seseorang yang pindah agama menjadi pemeluk agama Islam, berubah juga hak-haknya, tidak lagi seperti pada saat ia masih menganut agama yang lama. Orang-orang di lingkungan tempat mereka berada, kadang tidak mengerti sehingga hak untuk beribadah sesuai dengan keyakinannya yang baru tidak terpenuhi, bahkan terhalang.
Tidak sedikit mualaf mendapat hambatan pasca berpindah agama. Ada yang hak pendidikannya terhambat. Dan, tidak sedikit terlibat konflik hak asuh anak dengan suami atau istrinya yang tidak ikut pindah agama. Oleh karenanya, mereka membutuhkan advokasi untuk menyelesaikan permasalahan dan mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara.
MUALAF, PERLINDUNGAN
HUKUM, DAN ADVOKASI
2.1 Defenisi Mualaf
Kata mualaf berasal dari bahasa Arab yang berarti tunduk, menyerah, dan pasrah. Sedangkan menurut peristilahan, mualaf adalah orang yang baru masuk agama Islam dalam beberapa tahun dan masih awam dalam pemahaman ilmu agama.
Seseorang yang masuk Islam karena pilihan, tentunya telah mengalami pergulatan batin yang sangat hebat dan memiliki pertimbangan yang sangat matang. Ia harus menundukkan hati, jiwa, dan raganya untuk dapat menerima dan meyakini kebenaran baru. Selain itu, ia juga telah mempertimbangkan aspek ekonomi dan sosial sebagai konsekuensi atas pilihannya tersebut.2
Menurut mazhab Maliki, terkait dengan pemberian zakat, pengertian mualaf ada dua, yaitu orang kafir yang diharapkan masuk Islam dan orang-orang yang baru masuk Islam. Kepada orang-orang kafir diberikan zakat (dengan harapan) untuk masuk Islam, sedangkan kepada orang-orang yang baru masuk Islam diberi zakat dan sedekah dengan tujuan agar berpegang yang kuat dengan agamanya.3Mualaf dalam pandangan mazhabSyafi’i
2 Hafidz Mudhori, Treatment dan Kondisi Psikologis Muallaf, dalam Jurnal Edukasi, diakses dari https://core.ac.uk/download/pdf/228448479.pdf pada 8 Oktober 2020
3 Norlina Ismail dkk, The Conversion Procedurs of Muallaf in Negeri Sembilan Malaysia: Issues and Challenges, Journal of Global Business and Social Entrepreneurship (GBSE) Vol. 2: no. 3 (2016), hlm. 85
diartikan sebagai orang yang menjinakkan atau melembutkan hatinya itu telah masuk Islam. Definisi ini menunjukkan mualaf dalam pandanganSyafi’i terbatas hanya untuk Muslim.4
Adapun pengertian mualaf menurut mazhab Hanbali sebagai berikut:5
1. pemimpin kafir yang memimpin orang atau kelompok yang diharapkan masuk Islam atau diharapkan untuk menghentikan kejahatan;
2. umat Islam yang berharap memperkuat keimanannya dengan memberikan zakat;
3. pemimpin muslim yang diharapkan pengikutnya akan memeluk Islam; atau yang bisa mendorong orang untuk berjihad dan membela Islam; atau diharapkan untuk menghentikan kejahatan; atau diharapkan dapat menghasilkan kekuatan untuk mengumpulkan sedekah dari mereka yang menolak membayar zakat.
Sementara Ibnu Katsir mendefinisikan mualaf terdiri dari beberapa golongan, di antaranya adalah: 1) mereka yang diberi sedekah agar mau masuk Islam;62) orang yang diberi sedekah agar Islamnya
menjadi baik dan hatinya tetap dengan keIslamannya;7dan
4 Ibid. 5 Ibid.
6 Sebagaimana Nabi saw. memberiṢafwān ibn Umayyah (w. 41 H.) dari harta rampasan perang Hunain, ia adalah seorang musyrik dan ikut berperang pada perang Hunain. Ia berkata: Rasul tidak berhenti memberiku hingga manusia sangat mencintaiku setelah mereka sangat membenciku. Lihat Sri Ulfa Rahayu, Muallaf Dalam Perspektif Alquran, dalam Jurnal Kewahyuan Islam, hlm. 96-97.
7 sebagaimana perang Hunain sekelompok ketua orang musyrik yang mempunyai pengaruh dan pengikut yang banyak, diberikan zakat, agar mau memeluk Islam dan dengan hal tersebut pengikut mereka yang banyak ikut serta mau memeluk Islam. Lihat Ibid.,
3) mereka yang diberi karena mengumpulkan sedekah dari orang yang mengikutinya atau membayar ganti rugi atas kepemilikan pihak Muslim di negara itu.8
Dari beberapa definisi di atas dapat terlihat pemahaman mengenai mualaf yang sangat luas. Namun, di Indonesia secara umum mualaf didefinisikan sebagai orang yang melakukan perpindahan agama dari pemeluk agama bukan Islam menjadi pemeluk agama Islam. Oleh karena itu, dalam buku panduan ini yang dimaksud dengan mualaf adalah: 1) setiap warga negara Indonesia yang melakukan perpindahan agama menuju Islam sejak ia mengucapkan syahadat namun belum mendapatkan pembinaan; dan 2) setiap warga negara Indonesia yang telah bersyahadat dan telah mendapatkan pembinaan dari lembaga pembina mualaf.
2.2 Perlindungan Hukum Terhadap
Mualaf
Menjadi mualaf tidak mengubah kewarganegaraan seseorang. Ia tetap warga negara Indonesia dan memiliki hak-hak asasi yang dilindungi oleh negara berdasarkan konstitusi. UUD NRI 1945 menjamin hak-haknya sebagai warga negara melalui Pasal 27 dan Pasal 28. Sedangkan hak asasi manusianya dijamin lewat aturan Pasal 28A, 28B, 28C, 28D, 28E, 28F, 28G, 28H, 28I, dan 28J. Sedangkan secara khusus jaminan untuk memeluk dan menjalankan ibadah agamanya, diatur dalam Pasal 29 ayat 2. Regulasi lain yang memberi jaminan perlindungan hukum kepada warga negara Indonesia yang menjadi mualaf akan dibahas di Bab 3, sesuai dengan kasus yang dihadapi.
3. Advokasi
1.
Pengertian Advokasi
Pengertian advokasi bila diambil dari kata bahasa Inggris “to advocate” artinya membela. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), advokasi bermakna pembelaan; penggagas. Dalam bahasa Belanda, advokasi berasal dari kata “advocaat” atau “advocaateur” yang berarti pengacara atau pembela.
Pengertian advokasi, menurut Socoro Reyes, adalah aksi strategis yang ditujukan untuk menciptakan kebijakan publik yang bermanfaat bagi masyarakat atau mencegah munculnya kebijakan yang diperkirakan merugikan masyarakat.9Pengertian ini sejalan
dengan pendapat Margaret Schuler dalam Human Righst Manual, bahwa advokasi terdiri atas sejumlah tindakan yang dirancang untuk menarik perhatian masyarakat pada suatu isu, dan mengontrol para pengambil kebijakan untuk mencari solusinya. Advokasi itu juga berisi aktifitas legal dan politis yang dapat mempengaruhi bentuk dan praktik penerapan hukum. Inisiatif untuk melakukan advokasi perlu diorganisasi, digagas secara strategis, didukung informasi, komunikasi, pendekatan, serta mobilisasi.
Dalam Manual Advokasi Kebijakan Publik IDEA, advokasi adalah aksi yang strategis dan terpadu, oleh perorangan atau kelompok masyarakat untuk memasukkan suatu masalah ke dalam agenda kebijakan, dan mengontrol para pengambil keputusan untuk mengupayakan solusi bagi masalah tersebut sekaligus membangun basis dukungan bagi penegakan dan penerapan kebijakan publik yang dibuat untuk mengatasi masalah tersebut.10
9 Socorro Reyes, Local Legislative Advocacy Manual, (Philippines: The Center for Legislative Development, 1997).
Dari beberapa pandangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa advokasi adalah suatu upaya secara sistematik dan terorganisasi dalam bentuk penyadaran, pendampingan, pembelaan, serta pemberdayaan terhadap korban ketidakadilan untuk menggagas, mempengaruhi, dan mendesak terjadinya perubahan dengan memberikan sokongan dan pembelaan terhadap kaum lemah (miskin, terbelakang, dan tertindas) atau terhadap mereka yang menjadi korban sebuah kebijakan dan ketidakadilan.
2.3.2 Prinsip-Prinsip dalam Advokasi
Dari pengertian advokasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebuah advokasi mempunyai tujuan untuk melakukan pembelaan (defend), memajukan (promote), mengubah (change), dan menciptakan (create) keadaan baru. Oleh karenanya, untuk dapat mencapai tujuan tersebut, dibutuhkan prinsip sebagai berikut:
upaya berkelanjutan perubahan kebijakan profesionalitas objeknya ketidakadilan atau kaum lemah sistematik dan terorganisir
Selain melaksanakan prinsip, dalam melakukan advokasi secara khusus, advokasi hukum juga harus memperhatikan hal-hal berikut:
1. Orientasi kepentingan publik. Dalam advokasi hukum, terutama dalam kasus-kasus yang melibatkan mualaf, harus diingat bahwa yang dilakukan adalah untuk kepentingan publik ke depan, bukan sekadar menyelesaikan masalah personal seorang mualaf. Artinya, dampak dari berhasil atau tidaknya satu kasus akan berimbas pada kasus-kasus lainnya di masa depan.
2. Advokasi Edukasi. Meskipun advokasi hukum dilakukan oleh seorang paralegal, advokat, atau orang yang mengerti hukum, namun harus dipastikan bahwa mualaf yang menjadi korban juga memahami langkah-langkah advokasi yang dilakukan. Hal ini menjadi tugas dari advokat atau paralegal yang mendampingi sehingga diharapkan mualaf tersebut juga teredukasi dengan kasus yang dialaminya.
3. Tidak ‘blaming the victims’. Adakalanya ketika melakukan advokasi hukum seorang pendamping hukum melakukan blaming the victim, misalkan dalam kasus asusila yang dialami oleh seorang mualaf. Diharapkan seorang pendamping hukum tidak melakukan pembenaran yang menyudutkan korban agar mualaf-mualaf lain yang juga mengalami permasalahan yang sama tidak takut untuk melaporkan dan menyelesaikan kasus yang dihadapi.
4. Sarana untuk memperjuangkan perubahan kebijakan dan keadilan sosial. Pada akhirnya satu kasus mualaf akan menjadi sarana untuk memperjuangkan perubahan kebijakan untuk kepentingan mualaf di masa depan. Misalkan dalam kasus penahanan ijazah oleh seorang mualaf. Jika dapat
ditangani dengan baik, dapat menjadi masukan berharga bagi
stakeholder dalam mengubah kebijakan dan regulasi yang
berkaitan dengan mualaf.
2.3.3 Jenis dan Bentuk Advokasi
Advokasi dapat terbagi atas tiga jenis, yaitu: advokasi litigasi, non-litigasi dan extra-non-litigasi.
Dari ketiga jenis advokasi tersebut, berikut beberapa contoh bentuk kegiatan advokasi:
1. pendampingan litigasi (pidana, perdata, tata usaha negara); 2. pendidikan dan pelatihan;
3. penyuluhan dan diseminasi;
4. mediasi, konsiliasi, negoisasi, dan investigasi; 5. kampanye;
6. public opinion;
8. uji materi (judicial review);
9. kajian, diskusi, seminar, dan forum group discussion; 10. hearing (dengan eksekutif dan legislatif);
11. lobby; 12. boykot;
13. petisi terhadap pengambil keputusan; 14. dan lain-lain.
KASUS DAN UPAYA
ADVOKASI MUALAF
1. Hak Asuh Anak
1.
Hak Asuh Anak dari Ibu Mualaf dengan
Ayah Muslim Berkecukupan
Seorang wanita muslimah yang mualaf menikah dengan lelaki muslim. Dari pernikahan itu lahir seorang anak. Anak tersebut berusia 5 tahun. Kemudian terjadi permasalahan dan berakhir dengan perceraian. Dari segi ekonomi, sang suami lebih baik dibandingkan istri. Bagaimana hak asuh anak tersebut?
Regulasi dan Kebijakan Terkait
1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan 2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan
Agama
3. Kompilasi Hukum Islam
4. Peraturan Mahkamah Agung RI No. 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan
Analisis Kasus
Kepada siapa hak asuh anak akan diberikan, dasar pertimbangannya adalah untuk kemaslahatan sang anak. Pasal 105 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam (KHI) mengatur bahwa
hak asuh anak yang belum mumayyiz atau belum berusia 12 tahun adalah hak ibunya. Hal ini juga dimuat dalam Putusan
Mahkamah Agung RI No. 102K/Sip/1973 tanggal 24 April 1945 yang berisi, “Berdasarkan yurisprudensi mengenai perwalian anak, patokannya ialah bahwa ibu kandung yang diutamakan, khususnya bagi anak-anak yang masih kecil, karena kepentingan anak yang menjadi kriterium, kecuali kalau terbukti bahwa ibu tersebut tidak wajar untuk memelihara anaknya.” Artinya, hak asuh anak sejatinya adalah ada pada ibunya, kecuali jika diketahui dan dapat dibuktikan bahwa ibu tidak cakap untuk mengasuh anak. Hal ini juga didukung oleh pendapat ulama dalam Kitab Kifayatul
Ahyar, Juz II, halaman 94, bahwa: syarat-syarat bagi orang yang akan melaksanakan tugas hadhanah ada tujuh macam: berakal sehat, merdeka, beragama Islam, sederhana, amanah, tinggal di daerah tertentu, dan tidak bersuami baru. Apabila kurang satu di antara syarat-syarat tersebut, gugur hak hadhanah dari tangan ibu.
Maka, dapat dicari tahu terlebih dahulu, apakah sang ibu sudah memenuhi syarat tersebut?
Apabila ibu meninggal dunia, maka kedudukannya digantikan oleh:
(1) wanita-wanita dalam garus lurus ke atas dari ibu, (2) ayah, (3) wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ayah, (4) saudara perempuan dari anak yang bersangkutan, dan (5) wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis samping dari ayah. Ini sesuai
dengan Pasal 156 KHI.
Maka, karena dalam kasus ini si ibu masih hidup, hak asuh anak melekat pada si ibu, bukan pada orang lain.
Lantas, bagaimana dengan biaya pengasuhan si anak? Pasal 105 ayat (3) KHI menyebutkan, biaya pemeliharaan ditanggung
oleh ayahnya. Artinya, KHI memberi tugas kepada ayah untuk
membantu ibu dalam memberi biaya pengasuhan, meskipun sang anak diasuh secara langsung oleh si ibu bukan oleh ayah.
Lebih lanjut Pasal 156 ayat (4) KHI menyebutkan, semua biaya
hadhanah dan nafkah anak menjadi tanggung jawab ayah menurut kemampuannya sekurang-kurangnya sampai anak tersebut dewasa dapat mengurus diri sendiri (21 tahun).
Selain itu, Pasal 41 UU Perkawinan ayat (2) menyebutkan,bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu; bilamana bapak dalam kenyataan tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut, pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut.
Selanjutnya, hal lain yang bisa menyebabkan hak asuh anak dapat gugur seperti yang di sebutkan dalam Pasal 156 ayat (3) yaitu,
apabila pemegang hadhanah ternyata tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak, meskipun biaya nafkah dan hadhanah telah dicukupi, maka atas permintaan kerabat yang bersangkutan, Pengadilan Agama dapat memindahkan hak hadhanah kepada kerabat lain yang mempunyai hak hadhanah pula.
Proses Advokasi
Hal dasar yang harus dipahami dalam memberikan advoksi dalam kasus perceraian mualaf yang melibatkan sengketa hak asuh anak adalah memberi pemahaman bahwa kedua orang tua tetap memiliki berkewajiban mendidik dan mengasuh anak-anaknya, meskipun ikatan perkawinan telah putus.
Langkah kedua adalah mengupayakan ruang musyawarah mengenai hak asuh anak. Sebab, sejatinya mengasuh dan mendidik anak adalah kewajiban kedua orang tua secara bersama-sama, meskipun sudah tidak bersama lagi. Orang tua yang lebih mengetahui mengenai kebutuhan dan segala hal yang terbaik untuk anak. Karena itu, musyawarah lebih didahulukan untuk mencapai mufakat dan juga dengan tidak mengabaikan pendapat anak.
Namun, jika tidak ditemui kata sepakat antara suami-istri yang telah atau akan bercerai, maka penyelesaiannya diputus melalui jalur pengadilan. Pengajuan permohonan hak asuh anak dapat diajukan bersama-sama dengan permohonan cerai talak ataupun sesudah ikrar talak diucapkan. Hal ini diatur dalam Pasal 66 ayat (5) Undang-Undang (UU) No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.
Untuk proses pengurusan pengajuan hak asuh anak, baik di Pengadilan Negeri maupun di Pengadilan Agama, harus melengkapi syarat yang diperlukan, yakni:
1. surat pengajuan permohonan hak asuh ke pengadilan; 2. fotokopi kutipan akta cerai;
3. fotokopi akta kelahiran anak; 4. biaya perkara.
Setelah melengkapi syarat yang diperlukan, juga perlu mengikuti prosedur pengajuan hak asuh anak yang berlaku di pengadilan. Prosedur tersebut yaitu:
1. pembuatan surat gugatan tertulis ke pengadilan;
2. pengajuan gugatan hak asuh anak, ditujukan ke pengadilan yang ada di wilayah kediaman tergugat. Kalau penggugat tak mengetahui domisili tergugat, pengajuan dapat dilakukan di pengadilan di wilayah domisili penggugat;
3. pemberian nomor registrasi oleh panitera setelah pembayaran biaya perkara dilakukan;
4. penentuan majelis hakim oleh panitera;
5. pemanggilan pihak penggugat dan tergugat untuk menghadiri sidang.
Selanjutnya, ada beberapa tahapan persidangan yang harus dilalui, yakni:
1. usaha mediasi yang dilakukan oleh hakim kepada kedua pihak pada sidang pertama;
2. pembacaan surat gugatan atau permohonan hak asuh anak oleh pemohon atau penggugat;
3. jawaban atas surat permohonan atau gugatan yang dilakukan oleh termohon atau tergugat;
4. tahapan replik dan duplik dari masing-masing pihak penggugat atau pemohon dan tergugat atau termohon;
5. pembuktian oleh pihak penggugat atau pemohon, dan pembuktian oleh pihak tergugat atau termohon;
6. kesimpulan dari masing-masing pihak; 7. musyawarah majelis hakim; dan
8. pembacaan putusan oleh majelis hakim.
Sebelumnya, perlu kita ketahui terlebih dahulu mengenai proses mediasi yang disebutkan dalam poin 1 di atas. Mediasi dalam perkara sengketa hak asuh anak merupakan satu kesatuan proses penanganan perkara di pengadilan, maka tidak ada mediasi tanpa adanya pengajuan perkara oleh pihak-pihak di pengadilan. Selain itu, mediasi bukan atas keinginan para pihak yang berperkara, melainkan sebuah kewajiban yang harus dilalui dalam proses peradilan.
Peraturan Mahkamah Agung RI No. 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan, pada Pasal 4 ayat (1) dan (2) menyebutkan bahwa semua sengketa perdata yang diajukan ke pengadilan termasuk perkara perlawanan (verzet) atau putusan
pelaksanaan putusan yang telah berkekuatan hukum tetap, wajib terlebih dahulu diupayakan penyelesaian melalui mediasi, kecuali ditentukan lain berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung ini. Dalam mediasi tersebut apabila para pihak mencapai kesepakatan, menurut ketentuan Pasal 27 Peraturan Mahkamah Agung RI No.1 Tahun 2016 maka para pihak dengan bantuan Mediator wajib merumuskan kesepakatan secara tertulis dalam Kesepakatan Perdamaian yang ditandatangani oleh para pihak dan Mediator. Kesepakatan Perdamaian tersebut kemudian diajukan kepada Hakim Pemeriksa Perkara agar dikuatkan menjadi Akta Perdamaian, yang mana Akta Perdamaian ini memiliki kekuatan eksekutorial seperti putusan pengadilan.
Apabila para pihak tidak dapat mencapai kesepakatan dalam mediasi setelah mencapai batas waktu 30 hari atau beserta perpanjangannya, terdapat salah satu pihak yang tidak beriktikad baik dalam pelaksanaan mediasi, maka Mediator wajib menyatakan mediasi gagal dan memberitahu kepada Hakim Pemeriksa Perkara. Setelah itu, maka ditetapkan untuk melanjutkan sidang pemeriksaan perkara sesuai hukum acara yang berlaku.11
3.1.2 Hak Asuh Anak dari Ibu Mualaf dengan
Bapak Non Muslim
Ada pasangan non-muslim menikah dan dari pernikahan itu mendapatkan 3 orang anak. Sang istri mendapat hidayah dan mengikrarkan syahadat memeluk Islam. Ia mengajak anak-anak dan suaminya untuk masuk Islam. Anak-anaknya mengikuti ajakan ibunya masuk Islam, tetapi suaminya tidak. Pada akhirnya sang istri meminta cerai, namun suami tidak mau bercerai karena 11 Abdul Mustopa, Penyelesaian Sengketa Hak Asuh Anak Melalui Jalur Mediasi,
dalam agama Katolik yang dianutnya tidak ada perceraian dalam pernikahan. Lalu, apakah hak asuh anak bisa jatuh ke tangan ibunya?
Regulasi dan Kebijakan Terkait
1. Undang-Undang Dasar 1945
2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan 4. Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975
5. Kompilasi Hukum Islam
6. Yurisprudensi Mahkamah Agung RI
Analisis Kasus
Mengenai hak asuh anak dalam perceraian beda agama (dalam kasus disebutkan bahwa istri telah beragama Islam dan suaminya masih beragama Katolik), jika merujuk kepada sumber-sumber hukum perkawinan Indonesia, sesuai dengan Yurisprudensi Mahkamah Agung RI No. 210/K/AG/1996, yang mengandung abstraksi hukum bahwa agama merupakan syarat untuk menentukan gugur tidaknya hak seorang ibu atas pemeliharaan dan pengasuhan (hadhanah) terhadap anaknya yang belum mumayyiz. Dalam hal ini, apabila anak tersebut belum berusia 12 tahun, maka hak asuh anak adalah hak ibunya. Demikian pula karena sang ibu beragama Islam, maka sesuai dengan Yurisprudensi Mahkamah Agung RI tersebut, menjadi syarat terpenuhinya hak asuh anak tersebut.
Selain itu, berkenaan dengan ibu yang mualaf dan diikuti pula oleh ketiga anaknya, sehingga ada kesamaan agama yang dianut antara ibu dan anak. Hal ini juga bisa menjadi dasar yang menguatkan terkait kesesuaian agama antara pengasuh dengan anak yang diasuh. Si ibu memiliki peluang yang lebih besar dalam sengketa hak asuh anak daripada bapaknya yang berbeda agama. Pasal 1 angka 11 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menyatakan, bahwa kuasa asuh adalah kekuasaan orang tua untuk mengasuh, mendidik, memelihara, membina, melindungi, dan menumbuhkembangkan anak sesuai dengan agama yang dianutnya dan kemampuan, bakat serta minatnya.
Akan tetapi, hak asuh anak tidak hanya dilihat dari kesamaan agama orang tua dan anak saja, faktor perilaku dan kecakapan si orang tua juga menjadi pertimbangan. Jadi, kesamaan agama tidak menjadi faktor satu-satunya untuk menentukan pengasuhan yang terbaik bagi anak.
Lain halnya jika si anak sudah berusia 12 tahun, maka sesuai Pasal 105 KHI ayat (2) yaitu, pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz
diserahkan kepada anak untuk memilih diantara ayah atau ibunya sebagai hak pemeliharaannya. Penentuan mumayyiz oleh KHI
dengan batas usia 12 tahun bukanlah batas mutlak. Hakim di pengadilan yang menilai apakah anak tersebut sudah mumayyiz atau belum. Penilaian hakim inilah yang paling berpengaruh pada proses pengambilan keputusan apakah si anak berhak menentukan dan memilih sendiri pengasuhan dirinya oleh si ibu atau bapaknya.
Dalam contoh kasus di atas, tidak dijelaskan berapa usia ketiga anak tersebut, sehingga tidak bisa dipastikan apakah hak asuh ketiganya sepenuhnya menjadi hak ibunya atau tidak. Artinya,
jika terjadi perceraian dan terjadi sengketa hak asuh anak, maka pengadilan yang akan memutuskan sesuai kemaslahatan ketiga anak tersebut.
Proses Advokasi
Sebelum membahas bagaimana hak asuh anak pada perceraian beda agama, perlu kita ketahui dahulu bagaimana prosedur perceraian beda agama karena ini akan saling berkaitan.
Pada dasarnya agama Katolik menentang adanya perceraian. Namun secara hukum negara dalam Pasal 39 ayat (1) dan ayat (2) jo Pasal 2 UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, diatur bahwa:
1. perceraian hanya dapat dilakukan di depan Sidang Pengadilan setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak;
2. untuk melakukan perceraian, harus ada cukup alasan bahwa antara suami dan istri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami istri.
Berdasarkan Pasal 19 Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, alasan-alasan yang dapat dijadikan dasar untuk perceraian adalah sebagai berikut:
1. salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;
2. salah satu pihak meninggalkan yang lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak yang lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemauannya;
3. salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;
4. salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan terhadap pihak yang lain;
5. salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit yang mengakibatkan tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/isteri;
6. antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup lagi dalam rumah tangga;
Jika salah satu atau lebih dari poin-poin yang disebutkan di atas sesuai dengan kondisi rumah tangga, maka secara hukum alasan untuk bercerai sudah kuat. Istri bisa membuat surat gugatan cerai dengan menyertakan alasan-alasan tersebut di atas.
Untuk perkawinan yang semula dilaksanakan secara Katolik, maka perceraian juga harus dilakukan secara Katolik. Perceraian dapat dilakukan secara perdata melalui pengadilan negeri untuk memutuskan perkawinan secara hukum negara.
Dalam praktiknya, permohonan cerai secara Katolik jarang sekali dikabulkan. Gereja tidak mengakui perceraian suami-istri Katolik di pengadilan, meski telah diatur oleh Pasal 39 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Meski begitu, pasangan tersebut tetap dapat bercerai secara perdata, walaupun secara Katolik perceraian tersebut dianggap tidak sah.12Untuk proses perceraian
secara perdata, isteri/suami harus mengajukan gugatan cerai ke pengadilan negeri.
Dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk proses perceraian antara lain:
1. Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK); 2. Buku Nikah Asli atau Akta Perkawinan;
12 Perceraian Agama Katholik, (www.hukumonline.com, Diakses pada 11 November 2020, 22.31 WIB)
3. Akta Kelahiran anak, bila ada;
4. Bagi orang yang tidak mampu dapat membawa surat keterangan dari kelurahan atau desa; dan
5. Surat Gugatan yang berisi identitas Penggugat, Tergugat serta uraian fakta kejadian beserta alasan permohonan gugatan terkait dengan permasalahan (posita) dan hal yang dimohonkan dalam gugatan (petitum).
Surat-surat tersebut difotokopi, dan fotokopinya harus dimeteraikan di kantor pos setempat. Untuk setiap jenis surat, diberi satu meterai seharga Rp 6.000. Fotokopi dari surat-surat harus diserahkan kepada Majelis Hakim sebagai alat bukti, sementara surat-surat yang asli hanya ditunjukkan dan kemudian dibawa pulang kembali. Kecuali Buku Nikah yang asli tetap disimpan di Pengadilan. Tata cara perceraian di Pengadilan Negeri sebagai berikut:
1. gugatan cerai diajukan oleh penggugat atau kuasanya di pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman tergugat, kecuali tergugat tidak diketahui tempat kediaman atau tergugat di luar negeri sehingga gugatan harus diajukan di pengadilan tempat kediaman penggugat;
2. pemeriksaan gugatan oleh hakim; 3. perceraian diputus oleh hakim;
4. putusan perceraian didaftarkan kepada pegawai pencatat.
3.1.3 Hak Asuh Anak dari Pernikahan Siri
antara Ibu Muslimah dan Bapak
Murtad
Seorang laki-laki mualaf melakukan pernikahan siri dengan perempuan muslimah. Dari hasil nikah siri tersebut pasangan ini mendapatkan 2 orang anak. Suatu ketika si laki-laki mualaf ini
murtad dan ingin berpisah dari istrinya. Bagaimana hak asuh anak dari hasil pernikahan siri tersebut?
Regulasi dan Kebijakan Terkait
1. Undang-Undang Dasar 1945
2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan 3. Kompilasi Hukum Islam
4. Buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan Agama
Analisis Kasus
Perkawinan siri adalah perkawinan di bawah tangan yang dilakukan berdasarkan hukum agama tanpa dilakukan pencatatan oleh pegawai pencatat nikah. Sehingga, perkawinan siri sah secara agama, tetapi tidak sah menurut hukum. Hal ini berdasarkan UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Pasal 2 ayat (1) menyebutkan, perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut
hukum masing-masing agamanya kepercayaannya itu. Dan, ayat
(2) menyebutkan, tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Perkawinan siri atau perkawinan yang tidak dicatatkan, akan menimbulkan akibat hukum berupa (1) tidak diakui oleh negara, (2) tidak ada perlindungan hukum atas hak istri dan hak anak, (3) tidak bisa melakukan gugatan cerai, dan (4) tidak ada lembaga negara yang memberikan perlindungan hukum karena tidak memiliki akta nikah yang resmi. Jadi, dalam kasus ini, si suami yang murtad itu tidak dapat melakukan permohonan cerai ke pengadilan. Begitu juga si istri tidak bisa melakukan gugatan cerai, sebab tidak ada lembaga negara yang berwenang mengadili.
Akan tetapi, Pasal 7 KHI menyebutkan sebagai berikut:
1. Perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan Akta Nikah yang dibuat oleh Pegawai Pencatat Nikah.
2. Dalam hal perkawinan tidak dapat dibuktikan dengan Akta Nikah, dapat diajukan itsbat nikahnya ke Pengadilan Agama. 3. Itsbat nikah yang dapatdiajukan ke Pengadilan Agama terbatas
mengenai hal-hal yang berkenaan dengan:
a. Adanya perkawinan dalam rangka penyelesaian perceraian
b. Hilangnya Akta Nikah
c. Adanya keraguan tentang sah atau tidaknya salah satu syarat perkawinan
d. Adanya perkawinan yang terjadi sebelum berlakunya Undang-Undang No. 1 Tahun 1974
e. Perkawinan yang dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai halangan perkawinan menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 1974
4. Yang berhak mengajukan permohonan itsbat nikah ialah suami atau isteri, anak-anak mereka, wali nikah, dan pihak yang berkepentingan dalam pernikahan ini.
Berkaitan dengan perkawinan siri yang hendak bercerai, maka sebelumnya perlu diajukan itsbat nikah ke Pengadilan Agama untuk mendapatkan Akta Nikah. Itsbat nikah yang diajukan dikarenakan adanya perkawinan dalam rangka penyelesaian perceraian. Dalam Buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan Agama menyebutkan bahwa itsbat nikah dalam rangka penyelesaian perceraian tidak dibuat secara tersendiri, melainkan menjadi satu kesatuan dalam putusan perceraian.
Proses Advokasi
Perkawinan di bawah tangan yang hendak mendapatkan Akta Nikah, harus diajukan itsbat nikah. Itsbat nikah adalah permohonan pengesahan nikah yang diajukan ke pengadilan untuk dinyatakan sah-nya pernikahan dan memiliki kekuatan hukum. Sesuai dengan ketentuan, itsbat nikah hanya dapat diajukan melalui Pengadilan Agama di wilayah tempat tinggal suami dan istri.
Berikut beberapa syarat yang harus dipenuhi seseorang untuk melakukan itsbat nikah, yaitu:
1. Menyerahkan Surat Permohonan itsbat Nikah kepada Pengadilan Agama setempat;
2. Surat keterangan dari Kantor Urusan Agama (KUA) setempat yang menyatakan bahwa pernikahan tersebut belum dicatatkan;
3. Surat keterangan dari Kepala Desa/Lurah yang menerangkan bahwa Pemohon telah menikah;
4. Fotokopi KTP Pemohon itsbat nikah; 5. Membayar biaya perkara;
6. Lain-lain yang akan ditentukan Hakim dalam persidangan. Berkas lain yang ditentukan oleh Hakim diantaranya adalah berkas untuk menghadirkan 2 orang saksi yang mengetahui adanya pernikahan tersebut.
Pihak-pihak yang dapat mengajukan permohonan itsbat nikah adalah suami istri atau salah satu dari suami atau istri, anak, wali nikah, orang tua, dan pihak yang berkepentingan dengan perkawinan tersebut. Permohonan diajukan kepada Pengadilan Agama tempat tinggal pemohon dengan menyebutkan alasan yang jelas.
Selain itu, ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan terkait pengajuan itsbat nikah, diantaranya yaitu:13
1. Itsbat nikah hanya dimungkinkan jika terdapat alasan-alasan yang telah ditetapkan. Dalam hal ini sebagaimana yang telah dijabarkan dalam Pasal 7 ayat (3) Kompilasi Hukum Islam. 2. Itsbat nikah sifatnya adalah permohonan kepada Pengadilan
Agama, sehingga mengabulkan atau menolak permohonannya sepenuhnya ada pada kewenangan pengadilan. Terkait hal ini, perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
a. Jika permohonan itsbat nikah diajukan oleh suami istri, maka permohonan bersifat voluntair dan produknya berupa penetapan. Apabila isi penetapan tersebut menolak permohonan itsbat nikah, maka suami dan istri bersama-sama atau suami/istri masing-masing dapat mengajukan upaya hukum kasasi.
b. Jika permohonan itsbat nikah diajukan oleh salah seorang suami atau istri, maka permohonan bersifat kontensius dengan mendudukkan suami atau istri yang tidak mengajukan permohonan sebagai pihak termohon. Produk hukumnya berupa putusan dan terhadap putusan tersebut dapat dijadikan upaya hukum banding dan kasasi.
c. Jika dari itsbat nikah dalam huruf a) dan b) tersebut di atas diketahui oleh suami masih terikat dalam perkawinan yang sah dengan perempuan lain, maka istri terdahulu tersebut harus dijadikan pihak dalam berperkara. Apabila istri terdahulu tidak dimasukkan, maka permohonan harus dinyatakan tidak dapat diterima.
13 [3] Isbat Nikah: Prosedur, Syarat dan Implikasi Hukumnya, (www. hukumonline.com, diakses pada 12 November 2020, 00:28 WIB.
Permohonan itsbat nikah tidak selalu dikabulkan oleh Hakim. Hal ini untuk menghindari adanya penyelundupan hukum dari poligami tanpa prosedur, sehingga Pengadilan Agama akan sangat berhati-hati dalam menangani permohonan itsbat nikah. Jika permohonan tersebut dikabulkan, maka pengadilan akan mengeluarkan putusan atau penetapan itsbat nikah. Setelah mendapatkan penetapan perkawinan siri dari Pengadilan Agama setempat, maka selanjutnya perlu melakukan pengurusan dokumen seperti Kartu Keluarga, Akta Kelahiran Anak, dan permohonan gugatan perceraian di Pengadilan Agama.
3.1.4 Kekuatan Surat Pernyataan Hak Asuh
Anak dari Suami Muslim terhadap Istri
Mualaf di Persidangan
Seorang perempuan mualaf menikah dengan seorang muslim laki-laki dan pernikahan ini menghasilkan 2 orang anak. Dengan berjalannya waktu suaminya ketahuan selingkuh. Ia ditalak 3 oleh suaminya. Kepada suaminya, ia meminta surat pernyataan yang ditandatangani meterai bahwa di persidangan nanti hak asuh anak diberikan kepadanya. Apakah surat pernyataan itu bisa menjadi bahan penguat agar hak asuh anak jatuh ke tangan ibunya?
Regulasi dan Kebijakan Terkait
1. Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan;
2. Undang-Undang RI Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan;
4. Undang-Undang RI Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama;
5. Undang-Undang RI Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Pertama atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama;
6. Undang-Undang RI Nomor 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama;
7. Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 2004 tentang Peradilan Umum;
8. Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak;
9. Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak;
10. Undang-Undang RI Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris;
11. Instruksi Presiden RI Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam.
12. Kompilasi Hukum Islam Buku I tentang Hukum Perkawinan; 13. PERMA Nomor 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di
Pengadilan;
Analisis Kasus
Dalam Kompilasi Hukum Islam, perceraian karena talak diatur Pasal 114 KHI yang berbunyi: putusnya perkawinan yang disebabkan
karena perceraian dapat terjadi karena talak atau berdasarkan gugatan perceraian.
Sementara itu, pengertian talak menurut Pasal 117 KHI adalah ikrar suami di hadapan Pengadilan Agama yang menjadi salah satu sebab putusnya perkawinan. Talak sendiri terdiri dari 3 jenis, yaitu talak kesatu, kedua, dan ketiga. Talak ketiga disebut juga sebagai talak ba’in kubraa, yang pengaturannya dapat kita temui dalam Pasal 120 KHI. Talakba’in kubraa adalah talak yang terjadi
untuk ketiga kalinya. Talak jenis ini tidak dapat dirujuk dan tidak dapat dinikahkan kembali kecuali apabila pernikahan itu dilakukan setelah bekas istri menikah dengan orang lain dan kemudian terjadi perceraianba’da al dukhul dan habis masa iddahnya.
Dan, ada beberapa akibat dari putusnya perkawinan karena perceraian. Pasal 41 UU Perkawinan memerinci tentang hal itu, yaitu:
1. Baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya, semata-mata berdasarkan kepentingan anak; bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak, pengadilan memberi keputusannya; 2. Bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan
dan pendidikan yang diperlukan anak itu; bilamana bapak dalam kenyataan tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut, pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut;
3. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan/atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas suami.
Berdasarkan penjelasan pasal tersebut, jika terjadi perceraian, bapak dan ibu tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya, semata-mata karena kepentingan anak. Jika ada perselisihan terkait penguasaan anak, maka diputuskan oleh pengadilan. Namun terkait dalam hak pengasuhan anak, seorang
ibu lebih didahulukan haknya sebagaimana diatur dalam Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam.
Pasal 105 Kompilasi Hukum Islam Buku I tentang Hukum Perkawinan yang berbunyi: Dalam hal terjadinya perceraian:
a. Pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya;
b. Pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz diserahkan kepada anak untuk memilih diantara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak pemeliharaannya;
c. Biaya pemeliharaan ditanggung oleh ayahnya.
Berdasarkan ketentuan tersebut, maka pemeliharaan anak di bawah 12 tahun jatuh kepada ibu. Jika anak telah mumayyiz, anak dapat memutuskan sendiri akan diasuh oleh siapa. Hal tersebut tentunya dengan mengutamakan kepentingan atau kebaikan anak tersebut.
Mengenai surat pernyataan yang dibuat oleh pihak suami agar hak asuh anak jatuh kepada ibunya, hal itu bahkan dianjurkan karena dapat disebut sebagai akta di bawah tangan yang dapat dijadikan sebagai alat bukti di pengadilan.
Atas akta di bawah tangan itu, hakim akan melakukan pemeriksaan mengenai benar tidaknya akta itu telah ditandatangani oleh pihak yang bersangkutan. Akta di bawah tangan yang diakui isi dan tanda tangannya, memiliki kekuatan pembuktian yang sempurna seperti suatu akta otentik (lihat Pasal 1875 KUH Perdata). Jadi, selama tidak disangkal, akta di bawah tangan memiliki kekuatan pembuktian yang sama seperti akta otentik.
Selain itu, untuk memperkuat pembuktian, akta di bawah tangan tersebut dapat dilegalisasi atau disahkan oleh notaris. Seperti
ditegaskan dalam pasal 15 ayat (2) UU No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (UUJN), notaris berwenang pula untuk mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus. Dalam penjelasan pasal 15 ayat (2) huruf a UUJN dikatakan bahwa ketentuan ini merupakan legalisasi terhadap akta di bawah tangan yang dibuat sendiri oleh orang perseorangan atau oleh para pihak di atas kertas yang bermeterai cukup dengan jalan pendaftaran dalam buku khusus yang disediakan oleh notaris.
Proses Advokasi
Langkah hukum yang dapat dilakukan oleh perempuan mualaf dalam kasus ini adalah, pertama-tama mengkonsultasikan surat pernyataan tersebut kepada penasihat hukumnya agar dapat dijadikan rujukan dalam mengajukan permohonan hak asuh anak kepada pengadilan agama setempat. Selanjutnya, sangat direkomendasikan agar surat pernyataan tersebut ditindaklanjuti sebagai akta otentik yang memiliki sifat pembuktian sempurna dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.
Langkah hukum selanjutnya adalah mengikuti tahapan prosedur perceraian di Pengadilan Agama. Seorang suami yang akan menceraikan istrinya mengajukan permohonan kepada Pengadilan untuk mengadakan sidang guna menyaksikan ikrar talak di Pengadilan tempat kediaman termohon (istri), kecuali apabila termohon dengan sengaja meninggalkan tempat kediaman yang ditentukan bersama tanpa izin pemohon.
Dalam hal termohon bertempat tinggal di luar negeri, permohonan diajukan kepada Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman pemohon. Dan dalam hal pemohon dan termohon bertempattinggal di luar negeri,makapermohonandiajukankepada
pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat perkawinan mereka dilangsungkan atau kepada Pengadilan Agama Jakarta Pusat.
Prosedur selanjutnya yaitu pihak suami mengajukan permohonan secara tertulis atau lisan kepada Pengadilan. Permohonan tersebut memuat: 1) identitas berupa nama, umur, pekerjaan, agama, dan tempat kediaman pemohon dan termohon; 2) posita (fakta kejadian dan fakta hukum); dan 3) petitum (hal-hal yang dituntut berdasarkan posita).
Hal-hal yang harus dipersiapkan dalam mengajukan permohonan/ gugatan, yakni:
1. Surat Permohonan/Gugatan yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan Agama setempat;
2. Fotocopy Buku Nikah (halaman pertama yang ada photo sampai dengan halaman terakhir) diberi meterai dan dicap leges di Kantor Pos di kertas A4 (tidak dipotong);
3. Fotocopy KTP dan Kartu Keluarga diberi meterai dan dicap leges di Kantor Pos di kertas A4 (tidak dipotong);
4. Buku Nikah Asli/Duplikat;
5. Surat Keterangan Ghoib dari kelurahan setempat apabila salah satu pihak ada yang tidak diketahui alamatnya;
6. Surat ijin dari Atasan apabila Bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, TNI, Polri;
7. Membayar biaya Panjar Perkara yang akan dihitung saat sudah membuat surat Permohonan/Gugatan.
Dalam hal permohonan telah didaftarkan di Pengadilan Agama setempat, maka pada pemeriksaan sidang pertama hakim berusaha mendamaikan kedua belah pihak dengan mewajibkan
mengikuti prosedur mediasi. Prosedur ini sesuai Pasal 3 ayat 1 PERMA Nomor 1 Tahun 2016. Dalam mediasi suami istri itu harus datang secara pribadi.
Setelah dilakukan Mediasi, namun para pihak tetap pada keputusan untuk memutuskan ikatan perkawinannya, maka pemeriksaan perkara dilanjutkan dengan membacakan surat permohonan, jawaban, replik, duplik, pembuktian dan kesimpulan. Dalam tahap jawab menjawab (sebelum pembuktian), termohon dapat mengajukan gugatan rekonpensi (Pasal 132a HIR, 158 Rbg). Setelah permohonan dikabulkan dan putusan telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka:
1. Pengadilan Agama menentukan hari sidang Penyaksian Ikrar Talak;
2. Pengadilan Agama memanggil Pemohon dan Termohon untuk melaksanakan Ikrar Talak.
3. Jika dalam tenggang waktu 6 (enam) bulan sejak ditetapkan sidang penyaksian ikrar talak, pihak suami tidak melaksanakan ikrar talak di depan sidang, maka gugurlah kekuatan hukum penetapan tersebut, dan perceraian tidak dapat diajukan lagi berdasarkan alasan hukum yang sama (Pasal 70 ayat 6 UU No 7 tahun 1989 yang telah diubah oleh UU No 3 tahun 2006); 4. Setelah Ikrar Talak diucapkan, panitera berkewajiban
memberikan Akta Cerai sebagai surat bukti kepada kedua belah pihak, selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah penetapan Ikrar Talak.
Dalam hukum Islam, perceraian dibedakan menjadi dua, yaitu karena talak (dijatuhkan oleh suami) dan karena gugatan perceraian (diajukan istri). Yang membedakan adalah subjek yang mengajukan cerai. Yang melakukan cerai talak adalah suami terhadap istri, sedangkan gugatan perceraian dilakukan istri
terhadap suami. Pasal 132 ayat 1 KHI mengatur mengenai gugatan perceraian (diajukan istri): Gugatan perceraian diajukan oleh istri
atau kuasanya pada Pengadilan Agama, yang daerah hukum nya mewilayahi tempat tinggal Penggugat kecuali istri meninggalkan tempat kediaman bersama tanpa izin suami.
Oleh karena itu, bila penggugat meninggalkan tempat kediaman yang telah disepakati bersama tanpa izin tergugat, maka gugatan harus diajukan kepada Pengadilan Agama yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman tergugat. Bila penggugat dan tergugat bertempat kediaman di luar negeri, maka gugatan diajukan kepada Pengadilan Agama yang daerah hukumnya meliputi tempat dilangsungkan pernikahan atau Pengadilan Agama Jakarta Pusat.
Mengenai prosedur dan tata cara pengajuan cerai gugat pada dasarnya sama seperti halnya persyaratan dalam mengajukan permohonan cerai talak. Hanya saja dalam hal cerai gugat, subjek yang mengajukan yaitu dari pihak istri dan yang wajib mendalilkan atau membuktikan sebab/alasan putusnya perkawinan adalah pihak penggugat (dalam hal ini adalah istri).
Setelah resmi bercerai, bukan berarti persoalan pasangan sudah selesai. Masih ada berbagai masalah lain yang harus diselesaikan. Salah satunya adalah mengenai hak asuh anak. Sebenarnya, anak masih menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya hingga ia dewasa, walaupun tidak lagi tinggal dalam satu atap. Hak asuh atas anak bisa dimiliki baik ayah maupun ibunya. Keputusan hak asuh atas anak dapat dilakukan dengan cara kekeluargaan atau melalui jalur hukum.
Mengenai jalur hukum, Permohonan/Gugatan hak asuh anak dapat diajukan bersama-sama dengan gugatan atau sesudah putusan perceraian memperoleh kekuatan hukum tetap. Hal-hal
yang harus dipersiapkan dalam mengajukan permohonan/gugatan hak asuh anak, di antaranya:
1. Surat permohonan/gugatan bila diajukan setelah putusan perceraian memperoleh kekuatan hukum tetap;
2. Fotocopy surat nikah atau akta cerai pemohon 1 lembar yang dimeteraikan Rp6.000 di kantor pos;
3. Fotocopy KTP 1 lembar folio (tidak dipotong);
4. Fotocopy Akta kelahiran anak yang akan diasuh atau Surat Keterangan Dokter/Bidan 1 Lembar yang dimeteraikan Rp6.000,- di kantor pos;
5. Surat keterangan gaji/penghasilan (bagi PNS/TNI/POLRI); dan
6. Membayar panjar biaya perkara yang telah ditetapkan.
Mengenai adanya surat pernyataan dari pihak suami tentang hak asuh anak yang akan diberikan kepada si ibunya, hal tersebut sangat dianjurkan sepanjang diakui isi dan tanda tangannya serta bermeterai Rp. 6.000.
Pasal 1875 KUH Perdata menjelaskan suatu keabsahan tanda tangan sebagai berikut: suatu tulisan di bawah tangan yang diakui
kebenarannya oleh orang yang dihadapkan kepadanya atau secara hukum dianggap telah dibenarkan olehnya, menimbulkan bukti lengkap seperti suatu akta otentik bagi orang-orang yang menandatanganinya, ahli warisnya serta orang-orang yang mendapat hak dari mereka; Ketentuan Pasal 1871 berlaku terhadap tulisan itu.
Oleh karenanya, surat pernyataan tersebut dapat dijadikan alat bukti pendukung. Lampirkan surat itu saat mengajukan permohonan/ gugatan hak asuh anak agar diberikan kepada si ibu.
3.1.5 Upaya Hukum Istri Mualaf atas
Putusan Pengadilan terhadap Hak
Asuh Anak yang Jatuh ke Tangan
Suami Non-Muslim
Sudah ada putusan pengadilan bahwa hak asuh anak jatuh ke tangan suami yang masih non-muslim. Apakah bisa istrinya yang mualaf mengajukan banding atas putusan pengadilan itu?
Regulasi dan Kebijakan Terkait
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum.
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum.
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 49 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum.
4. Rechtsreglement Buitengewesten Staatsblad No. 227 Tahun
1927.
5. Reglemen Indonesia yang diperbarui (Herziene Inlandsch
Reglement) Staatsblad Nomor 44 Tahun 1941
Analisis Kasus
Pada dasarnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengatur bahwa setelah terjadi perceraian, ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya. Apabila ada perselisihan hak asuh, maka yang berhak memutus adalah pengadilan. Faktor yang menjadi bahan
pertimbangan hakim dalam memutus hak asuh anak adalah usia anak, keselamatan jasmani dan rohani anak, orangtua mana yang dapat mendidik dan membesarkan anak, kemampuan finansial orang tua, perilaku orangtua, kedekatan anak dengan orangtua, dan aspek lain lain yang mendukung tumbuh kembang anak. Hak asuh anak biasanya jatuh ke tangan ibu. Merujuk pada Yurisprudensi Putusan Mahkamah Agung RI No. 126 K/Pdt/2001 tanggal 28 Agustus 2003 dinyatakan, bila terjadi perceraian, anak yang masih dibawah umur pemeliharaannya seyogyanya diserahkan kepada orang terdekat dan akrab dengan si anak, yaitu ibu.
Putusan Mahkamah Agung RI No. 102 K/Sip/1973 tanggal 24 April 1975, menyatakan, berdasarkan yurisprudensi mengenai perwalian anak, patokannya ialah bahwa ibu kandung yang diutamakan, khususnya bagi anak-anak yang masih kecil, karena kepentingan anak yang menjadi kriteria, kecuali kalau terbukti bahwa ibu tersebut tidak wajar untuk memelihara anaknya.
Mengenai upaya hukum banding, pada prinsipnya banding adalah upaya hukum biasa yang dapat diajukan oleh pihak berperkara yang tidak puas dengan putusan pengadilan negeri untuk mendapatkan pemeriksaan ulang. Dalam hal ini, pihak mantan istri mengajukan upaya hukum banding terhadap putusan hak asuh anak yang jatuh kepada mantan suaminya.
Pada halaman 4, Buku II, Pedoman Teknis Administrasi Dan
Teknis Peradilan Perdata Umum dan Perdata khusus, Edisi 2007,
secara teknis, suatu Permohonan Banding dapat diajukan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri dalam waktu 14 (empat belas) hari sejak putusan diucapkan atau diberitahukan kepada pihak yang tidak hadir. Hal mana Panjar Biaya Banding tersebut akan
dituangkan dalam Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM), serta dalam 7 (tujuh) hari kalender harus telah disampaikan kepada pihak lawan.
Proses Advokasi
Upaya hukum banding merupakan hak bagi pihak yang tidak puas dengan putusan pengadilan negeri untuk mendapatkan pemeriksaan ulang. Untuk melakukan banding terhadap putusan hakim Pengadilan Negeri yang memberikan hak asuh anak kepada mantan suami, sebaiknya langka ini dikonsultasikan terlebih dahulu kepada penasihat hukum atau pengacara publik pada lembaga bantuan hukum. Ini untuk menemukan alasan-alasan yang dapat diajukan sebagai dasar pengajuan banding sehingga diharapkan mendapatkan hasil yang sesuai diinginkan.
Permohonan banding diajukan kepada kepaniteraan pengadilan negeri dalam waktu 14 hari kalender terhitung keesokan harinya setelah putusan diucapkan atau setelah diberitahukan kepada pihak yang tidak hadir dalam pembacaan putusan. Apabila hari ke-14 jatuh pada hari Sabtu, Minggu, atau hari libur, maka ketentuan hari ke-14 jatuh pada hari kerja berikutnya.
Adapun Prosedur Pengajuan dan penyelesaian perkara di tingkat Banding adalah sebagai berikut:
1. Permohonan Banding harus disampaikan secara tertulis atau lisan kepada Pengadilan Negeri dalam tenggang waktu; 2. Membayar biaya perkara banding;
3. Panitera memberitahukan adanya permohonan banding; 4. Pemohon banding dapat mengajukan memori banding dan
termohon banding dapat mengajukan kontra memori banding; 5. Berkas perkara banding dicatat dan diberi nomor register;
6. Berkas perkara banding dikirim ke Pengadilan Tinggi Provinsi oleh Pengadilan Negeri selambat-lambatnya dalam waktu 1 (satu) bulan sejak diterima perkara banding;
7. Ketua Pengadilan Tinggi Provinsi membuat penetapan Majelis Hakim yang akan memeriksa berkas;
8. Panitera menetapkan panitera pengganti yang akan membantu majelis;
9. Panitera pengganti mendistribusikan berkas perkara ke Majelis Hakim Tinggi;
10. Majelis Hakim Tinggi memutus perkara banding;
11. Salinan putusan dikirimkan kepada kedua belah pihak melalui pengadilan tingkat pertama.
Dalam hal putusan hak asuh anak masih jatuh kepada pihak suami, maka pihak istri dapat mengajukan gugatan kembali ke pengadilan negeri untuk memohon hak asuh terhadap anak-anaknya. Dalam Pasal 49 UU Perkawinan menyatakan:
1. Salah seorang atau kedua orang tua dapat dicabut kekuasaannya terhadap seorang anak atau lebih untuk waktu yang tertentu atas permintaan orangtua yang lain, keluarga anak dalam garis lurus ke atas dan saudara kandung yang telah dewasa atau pejabat yang berwenang dengan keputusan Pengadilan dalam hal-hal:
a. ia sangat melalaikan kewajiban terhadap anaknya; b. ia berkelakuan buruk sekali.
2. Meskipun orang tua dicabut kekuasaannya, mereka tetap berkewajiban untuk memberi biaya pemeliharaan kepada anak tersebut.
Selain hal-hal di atas, si ibu pun dapat menyiapkan alasan-alasan lain dalam mengajukan kembali permohonan hak asuh terhadap anak-anaknya, seperti:
1. ditujukan untuk kepentingan terbaik tumbuh kembang anak; 2. menjamin kasih sayang dan perhatian lebih terhadap
anaknya;
3. ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya (Al-Ummu
madrasatun);
4. kemampuan financial; dan sebagainya.
Dengan demikian, hal-hal yang perlu dipersiapkan, diantaranya: 1. Surat permohonan secara tertulis atau lisan yang berisikan
identitas para pihak, posita, dan petitum; 2. Putusan perceraian;
3. KTP;
4. Akta Kelahiran anak;
5. Bukti Kemampuan Financial/ surat keterangan gaji; 6. Menyiapkan bukti dan saksi-saksi pendukung; dan 7. Membayar panjar biaya perkara.
2. Hak Kebebasan Beragama Dan
Beribadah
1.
Penyekapan dan Pelarangan Ibadah
Mualaf oleh Keluarga Non-Muslim
Ada seorang mualaf yang disekap oleh pihak keluarga yang non-muslim. Mualaf tersebut tidak boleh beribadah menurut syariat Islam. Tindakan hukum apa yang bisa diupayakan untuk menyelamatkan mualaf tersebut?
Regulasi dan Kebijakan terkait
1. Undang-Undang Dasar NRI 1945 2. Kitab Undang-undang Hukum Pidana
3. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
Analisis Kasus
Kebebasan agama adalah salah satu hak yang paling asasi diantara hak asasi manusia karena kebebasan beragama itu langsung bersumber kepada martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Hak kebebasan beragama bukan pemberian negara atau pemberian golongan. Kebebasan beragama secara tegas telah dijamin oleh Konstitusi kita, yaitu pada Pasal 28E ayat (1) dan (2) UUD 1945 yang berbunyi:
(1) setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.
(2) setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.
Negara juga menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu (Pasal 29 ayat (2) UUD 1945). Selain itu, hak beragama berdasarkan Pasal 4 UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia juga merupakan hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun, termasuk oleh orang tua dan keluarga. Mereka tidak dapat mengurangi dalam bentuk apapun hak untuk bisa
memeluk agama yang diyakini. Keputusan untuk menjadi mualaf sepenuhnya merupakan hak asasi yang tidak bisa dilarang oleh siapapun.
Sama halnya dengan perbuatan menyekap atau mengurung yang dilakukan orang tua sebagaimana disebutkan dalam kasus di atas, itu dikategorikan sebagai perbuatan yang melanggar hak si mualaf untuk dapat terlindung dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi sebagaimana yang disebut dalam Pasal 28G ayat (1) UUD 1945.
Selain itu, tindakan orang tua sebagaimana disebutkan dalam kasus di atas juga dapat dijerat Pasal 333 ayat (1) KUHP yang berbunyi: barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum merampas kemerdekaan seseorang, atau meneruskan perampasan kemerdekaan yang demikian, diancam dengan pidana penjara paling lama delapan tahun.
Proses Advokasi
Membantu mualaf adalah salah satu tugas kaum muslimin yang tidak boleh diabaikan. Karena, para mualaf adalah saudara baru yang harus diperhatikan nasib dan kebutuhannya. Keimanan mereka yang masih lemah dapat goyah karena banyaknya cobaan yang harus dihadapi sebagai konsekuensi berpindah agama. Dengan demikian, maka proses advokasi harus dilakukan bersama-sama dan bersinergi dengan pihak terkait.
Hal mendasar yang harus dilakukan adalah menyiapkan tersedianya wadah untuk para mualaf agar dapat mendalami keyakinan baru yang dianutnya. Tersedianya mualaf center merupakan cerminan baik yang menandakan bahwa kaum muslimin peduli akan nasib para mualaf.
Selanjutnya adalah penyediaan kebutuhan dasar bagi para mualaf seperti sandang, papan, dan pangan. Kebutuhan dasar yang dijamin oleh saudara seimannya akan membuat para mualaf termotivasi bahwa mereka benar-benar menemukan keindahan dan semangat persaudaraan (ukhuwah Islamiyah) di dalam agama baru yang mereka anut.
Terkait dengan perbuatan penyekapan yang dilakukan oleh orang tua sebagaimana disebutkan dalam uraian kasus di atas, itu telah melanggar hak asasi si mualaf sebagai warga negara yang dilindungi oleh negara. Sebagai orang yang direnggut haknya, si mualaf dapat mengambil langkah hukum dengan melakukan pengaduan ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Pengaduan pada Komnas HAM ini diatur Pasal 90 ayat (1) UU HAM yang berbunyi: Setiap orang dan atau sekelompok orang
yang memiliki alasan kuat bahwa hak asasinya telah dilanggar dapat mengajukan laporan dan pengaduan lisan atau tertulis pada Komnas HAM.
Jika si mualaf merasa tertekan dan terintimidasi atas perlakuan keluarganya yang sudah terlewat batas, ia bisa meminta pendampingan lembaga bantuan hukum untuk melaporkan orang tuanya karena telah melakukan perbuatan penyekapan/ pengurungan dan merampas hak kemerdekaan orang lain. Setelah itu, si mualaf juga bisa meminta jaminan perlindungan saksi/korban dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).
Langkah advokasi yang dapat dilakukan: 1. Membuat Laporan ke KomnasHAM
Berdasarkan ketentuan Prosedur Penanganan Pengaduan yang diberlakukan di Komnas HAM, pengaduan harus disampaikan dalam bentuk tertulis yang memuat dan dilengkapi dengan:
a. Nama lengkap pengadu b. Alamat rumah
c. Alamat surat apabila berbeda dengan alamat rumah d. Nomor telepon tempat kerja atau rumah
e. Nomor faximili, apabila ada
f. Rincian pengaduan, yaitu apa yang terjadi, dimana, kapan, siapa yang terlibat, nama-nama saksi
g. Fotokopiberbagaidokumen pendukungyang berhubungan dengan peristiwa yang diadukan
h. Fotokopi identitas pengadu yang masih berlaku (KTP, SIM, Paspor)
i. Bukti-bukti lain yang menguatkan pengaduan
j. Jika ada, institusi lain yang kepadanya telah disampaikan pengaduan serupa dan apakah sudah ada upaya hukum yang dilakukan
Dalam hal pengaduan disampaikan oleh pihak lain, maka pengaduan harus disertai dengan persetujuan dari pihak yang menjadi korban pelanggaran suatu HAM (misalnya surat kuasa atau surat pernyataan dengan membubuhkan tanda tangan dan nama jelas pengadu atau yang diberi kuasa).
Setelah lengkapnya keterangan dan bahan tersebut, pengaduan dapat dikirimkan melalui berbagai cara, yakni: a. diantar langsung ke Komnas HAM;
b. dikirim melalui jasa pos atau kurir;
c. dikirim melalui faximili ke nomor 021-3925227; atau d. dikirim melalui email ke [email protected]
Pada dasarnya, setiap pengadu di Komnas HAM mempunyai hak-hak sebagai berikut:
a. Melakukan konsultasi, baik melalui telepon ke nomor (021) 3925230 ext 126 atau datang langsung ke kantor Komnas HAM yang beralamat di Jl. Latuharhary No. 4B Menteng, Jakarta Pusat.
b. Pengadu yang menyerahkan berkas pengaduan secara langsung dan kasusnya belum pernah diadukan ke Komnas HAM berhak mendapatkan tanda terima, nomor agenda, dan surat tanda penerimaan laporan.
c. Pengadu berhak menanyakan perkembangan penanganan pengaduan, baik melalui telepon atau datang langsung. d. Mendapat jaminan akan kerahasiaan identitas pengadu
dan bukti lainnya serta pihak yang terkait dengan materi pengaduan.
e. Mendapatkan pelayanan penerimaan pengaduan tanpa dimintai biaya atau pengutan dalam bentuk apapun baik berupa barang dan/atau jasa.14
2. Membuat Laporan ke Kepolisian
Yang harus dipersiapkan ketika membuat pelaporan/ pengaduan adalah sebagai berikut:
a. Identitas pelapor (nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, agama, alamat, kewarganegaraan, telepon, nomor identitas, dan email).
b. Kronologis tindak pidana/pelanggaran (apa yang terjadi, tempat kejadian, waktu kejadian, nama pelaku, nama korban, bagaimana terjadinya, dan jumlah saksi).
14 https://www.komnasham.go.id/index.php/pengaduan-mekanisme/ diakses Kamis, 12 November 2020, pukul 13:07 WIB
c. Dokumen-dokumen pendukung yang memperkuat pengaduan.
d. Berkaitan dengan persyaratan dokumen berupa identitas pelapor, usahakan komponen alamat dan nomor telepon valid. Karena dua komponen tersebut berfungsi untuk menindaklanjuti apabila berkas pelaporan/pengaduan tidak lengkap.
Mekanisme pelaporan/pengaduan di kepolisian
Dalam hal pelanggaran berupa tindak pidana, terdapat beberapa cara untuk melaporkannya, yaitu:
1. Layanan contact center 110
Layanan ini merupakan layanan meminta bantuan kepolisian melalui telepon terkait informasi, pelaporan (kecelakaan, bencana, kerusuhan, dll) dan pengaduan (penghinaan, ancaman, diskriminasi, tindak kekerasan, dll).
2. Secara langsung
a. Mendatangi kantor kepolisian terdekat dari lokasi peristiwa pidana.
Adapun daerah hukum kepolisian meliputi:
a. Markas Besar (Mabes) Polri untuk wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
b. Kepolisian Daerah (Polda) untuk wilayah Provinsi. c. Kepolisian Resort (Polres) untuk wilayah Kabupaten/
Kota.
d. Kepolisian Sektor (Polsek) untuk wilayah Kecamatan e. Langkah kedua, pengadu dapat langsung menuju ke