• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upaya Hukum Istri Mualaf atas Putusan Pengadilan terhadap Hak

Dalam dokumen BUKU PANDUAN ADVOKASI MUALAF (Halaman 47-51)

antara Ibu Muslimah dan Bapak Murtad

3.1.5 Upaya Hukum Istri Mualaf atas Putusan Pengadilan terhadap Hak

Asuh Anak yang Jatuh ke Tangan

Suami Non-Muslim

Sudah ada putusan pengadilan bahwa hak asuh anak jatuh ke tangan suami yang masih non-muslim. Apakah bisa istrinya yang mualaf mengajukan banding atas putusan pengadilan itu?

Regulasi dan Kebijakan Terkait

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum.

2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum.

3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 49 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum.

4. Rechtsreglement Buitengewesten Staatsblad No. 227 Tahun

1927.

5. Reglemen Indonesia yang diperbarui (Herziene Inlandsch

Reglement) Staatsblad Nomor 44 Tahun 1941

Analisis Kasus

Pada dasarnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengatur bahwa setelah terjadi perceraian, ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya. Apabila ada perselisihan hak asuh, maka yang berhak memutus adalah pengadilan. Faktor yang menjadi bahan

pertimbangan hakim dalam memutus hak asuh anak adalah usia anak, keselamatan jasmani dan rohani anak, orangtua mana yang dapat mendidik dan membesarkan anak, kemampuan finansial orang tua, perilaku orangtua, kedekatan anak dengan orangtua, dan aspek lain lain yang mendukung tumbuh kembang anak. Hak asuh anak biasanya jatuh ke tangan ibu. Merujuk pada Yurisprudensi Putusan Mahkamah Agung RI No. 126 K/Pdt/2001 tanggal 28 Agustus 2003 dinyatakan, bila terjadi perceraian, anak yang masih dibawah umur pemeliharaannya seyogyanya diserahkan kepada orang terdekat dan akrab dengan si anak, yaitu ibu.

Putusan Mahkamah Agung RI No. 102 K/Sip/1973 tanggal 24 April 1975, menyatakan, berdasarkan yurisprudensi mengenai perwalian anak, patokannya ialah bahwa ibu kandung yang diutamakan, khususnya bagi anak-anak yang masih kecil, karena kepentingan anak yang menjadi kriteria, kecuali kalau terbukti bahwa ibu tersebut tidak wajar untuk memelihara anaknya.

Mengenai upaya hukum banding, pada prinsipnya banding adalah upaya hukum biasa yang dapat diajukan oleh pihak berperkara yang tidak puas dengan putusan pengadilan negeri untuk mendapatkan pemeriksaan ulang. Dalam hal ini, pihak mantan istri mengajukan upaya hukum banding terhadap putusan hak asuh anak yang jatuh kepada mantan suaminya.

Pada halaman 4, Buku II, Pedoman Teknis Administrasi Dan

Teknis Peradilan Perdata Umum dan Perdata khusus, Edisi 2007,

secara teknis, suatu Permohonan Banding dapat diajukan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri dalam waktu 14 (empat belas) hari sejak putusan diucapkan atau diberitahukan kepada pihak yang tidak hadir. Hal mana Panjar Biaya Banding tersebut akan

dituangkan dalam Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM), serta dalam 7 (tujuh) hari kalender harus telah disampaikan kepada pihak lawan.

Proses Advokasi

Upaya hukum banding merupakan hak bagi pihak yang tidak puas dengan putusan pengadilan negeri untuk mendapatkan pemeriksaan ulang. Untuk melakukan banding terhadap putusan hakim Pengadilan Negeri yang memberikan hak asuh anak kepada mantan suami, sebaiknya langka ini dikonsultasikan terlebih dahulu kepada penasihat hukum atau pengacara publik pada lembaga bantuan hukum. Ini untuk menemukan alasan-alasan yang dapat diajukan sebagai dasar pengajuan banding sehingga diharapkan mendapatkan hasil yang sesuai diinginkan.

Permohonan banding diajukan kepada kepaniteraan pengadilan negeri dalam waktu 14 hari kalender terhitung keesokan harinya setelah putusan diucapkan atau setelah diberitahukan kepada pihak yang tidak hadir dalam pembacaan putusan. Apabila hari ke-14 jatuh pada hari Sabtu, Minggu, atau hari libur, maka ketentuan hari ke-14 jatuh pada hari kerja berikutnya.

Adapun Prosedur Pengajuan dan penyelesaian perkara di tingkat Banding adalah sebagai berikut:

1. Permohonan Banding harus disampaikan secara tertulis atau lisan kepada Pengadilan Negeri dalam tenggang waktu; 2. Membayar biaya perkara banding;

3. Panitera memberitahukan adanya permohonan banding; 4. Pemohon banding dapat mengajukan memori banding dan

termohon banding dapat mengajukan kontra memori banding; 5. Berkas perkara banding dicatat dan diberi nomor register;

6. Berkas perkara banding dikirim ke Pengadilan Tinggi Provinsi oleh Pengadilan Negeri selambat-lambatnya dalam waktu 1 (satu) bulan sejak diterima perkara banding;

7. Ketua Pengadilan Tinggi Provinsi membuat penetapan Majelis Hakim yang akan memeriksa berkas;

8. Panitera menetapkan panitera pengganti yang akan membantu majelis;

9. Panitera pengganti mendistribusikan berkas perkara ke Majelis Hakim Tinggi;

10. Majelis Hakim Tinggi memutus perkara banding;

11. Salinan putusan dikirimkan kepada kedua belah pihak melalui pengadilan tingkat pertama.

Dalam hal putusan hak asuh anak masih jatuh kepada pihak suami, maka pihak istri dapat mengajukan gugatan kembali ke pengadilan negeri untuk memohon hak asuh terhadap anak-anaknya. Dalam Pasal 49 UU Perkawinan menyatakan:

1. Salah seorang atau kedua orang tua dapat dicabut kekuasaannya terhadap seorang anak atau lebih untuk waktu yang tertentu atas permintaan orangtua yang lain, keluarga anak dalam garis lurus ke atas dan saudara kandung yang telah dewasa atau pejabat yang berwenang dengan keputusan Pengadilan dalam hal-hal:

a. ia sangat melalaikan kewajiban terhadap anaknya; b. ia berkelakuan buruk sekali.

2. Meskipun orang tua dicabut kekuasaannya, mereka tetap berkewajiban untuk memberi biaya pemeliharaan kepada anak tersebut.

Selain hal-hal di atas, si ibu pun dapat menyiapkan alasan-alasan lain dalam mengajukan kembali permohonan hak asuh terhadap anak-anaknya, seperti:

1. ditujukan untuk kepentingan terbaik tumbuh kembang anak; 2. menjamin kasih sayang dan perhatian lebih terhadap

anaknya;

3. ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya (Al-Ummu

madrasatun);

4. kemampuan financial; dan sebagainya.

Dengan demikian, hal-hal yang perlu dipersiapkan, diantaranya: 1. Surat permohonan secara tertulis atau lisan yang berisikan

identitas para pihak, posita, dan petitum; 2. Putusan perceraian;

3. KTP;

4. Akta Kelahiran anak;

5. Bukti Kemampuan Financial/ surat keterangan gaji; 6. Menyiapkan bukti dan saksi-saksi pendukung; dan 7. Membayar panjar biaya perkara.

2. Hak Kebebasan Beragama Dan

Dalam dokumen BUKU PANDUAN ADVOKASI MUALAF (Halaman 47-51)