BAB IV : KENDALA-KENDALA YANG DITEMUKAN OLEH TIM
C. Kendala-Kendala Yang Ditemukan oleh TAD Provsu Dalam
Sub bab ini membahas tentang kendala-kendala yang ditemukan oleh Tim Asistensi Daerah Provinsi Sumatera Utara (TAD Provsu) dalam pemantapan status ABMA/T dan solusinya. Upaya-upaya pemantapan status ABMA/T di dalam praktik tidak selamanya memperoleh hasil yang maksimal, kendala-kendala sering ditemukan, kendala-kendala itu bisa berasal dari pihak ketiga ataupun masyarakat setempat dan bisa pula dari TAD serta kesalahan Pemerintah pada saat penyusunan daftar ABMA/T dalam Daftar Merah Putih Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
TAD menemukan kendala-kendala selama pemantapan status ABMA/T yang berjumlah 32 (tiga puluh dua) aset yang sudah selesai tersebut dari 109 (seratus sembilan) aset total di wilayah Sumatera Utara. Ditemukan bukti-bukti yang telah dimiliki oleh pihak penghuni atau yang menduduki ABMA/T antara lain: Surat
170 Wawancara dengan Kepala Seksi (Kasi) PKN-DJKN Sumut, Tanggal 12 Juni 2015. Kasi PKN-DJKN Sumut mengatakan banyak faktor penghambat antara lain: pihak yang menempati atau mendudukinya menunjukkan bukti-bukti seperti Surat Silang Sengketa dari Lurah/Camat/Bupati setempat, SK Tanah yang dikeluarkan oleh Lurah/Camat/Bupati setempat, Surat Ukur Tanah, bisa pula dalam bentuk Surat Keterangan Asal-Usul Tanah dari BPN, bahkan ada pula aset yang telah bersertifikat BPN.
Silang Sengketa dari Lurah/Camat/Bupati setempat, SK Tanah yang dikeluarkan oleh Lurah/Camat/Bupati setempat, Surat Ukur Tanah, bisa pula dalam bentuk Surat Keterangan Asal-Usul Tanah dari BPN, bahkan ada pula aset yang telah bersertifikat BPN.171
Biasanya bila aset tersebut ditemukan dan telah memiliki surat-surat selain sertifikat dari BPN sudah pasti aset tersebut disesuaikan datanya dengan data aset yang terdaftar di dalam Daftar ABMA/T, namun bila aset tersebut telah memiliki sertifikat dari BPN maka ada dua opsi (kemungkinan) yang harus dilakukan yaitu pertama langsung dimohonkan untuk dikeluarkan Surat Keputusan (Skep) Menkeu Republik Indonesia bila fungsi dan peruntukannya tetap sesuai dengan yang tertulis di dalam Daftar ABMA/T.
Opsi kedua adalah bila fungsi dan peruntukannya tidak sesuai dengan yang tertulis di dalam Daftar ABMA/T atau dalam fakta di lapangan telah dialihkan fungsinya menjadi fungsi lain misalnya dari fungsi sekolah menjadi plaza, maka tidak boleh langsung dimantapkan status hukumnya tetapi harus dilakukan penelitian kembali hingga aset tersebut dapat dimantapkan, apakah akan menjadi BMN/D atau menjadi milik pihak ketiga dengan cara membayar kompensasi. Dalam hal opsi kedua ini tim pemantapan status menghadapi kendala yang harus dilakukan solusi untuk itu.
Bila dilihat dari sisi kelancaran proses pemantapan status ABMA/T, maka ada 2 (dua) opsi yang dihadapi oleh Tim, yaitu pertama pemantapan ABMA/T dengan tidak ada kendala (berjalan mulus) dan kedua menghadapi kendala-kendala
171 Wawancara dengan Kepala Seksi (Kasi) PKN-DJKN Sumut, Tanggal 12 Juni 2015.
(kesulitan). ABMA/T yang telah dimantapkan statusnya menjadi BMN atau BMD tersebut bila diklasifikasikan berdasarkan kelancaran dan kesulitan/kendala-kendala yang dihadapi TAD adalah:172
Tabel 6
Kategori Kelancaran dan Kesulitan Pemantapan Status ABMA/T Menjadi BMN atau BMD
No. Kategori Nama-Nama Aset ke- Jumlah 1. Lancar 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,16,17,18,
19,21,22,23,25,27,28,29,30,31, dan 32
27
2. Kesulitan 14,15,20,24, dan 26 5
Jumlah Total Aset 32
Sumber : TAD Provinsi Sumut 2015
Keterangan : Nama-nama aset mulai dari aset ke-1 s/d aset ke-32 dapat dilihat pada TABEL 3 sebelumnya
Beberapa kendala yang dihadapi oleh TAD Provsu di lapangan antara lain:
aset tidak ditemukan lagi, kesalahan pendataan ABMA/T, terjadinya perbedaan luasan antara dalam Daftar ABMA/T dengan fakta di lapangan, telah memperoleh sertifikat BPN, objek telah beralih fungsi misalnya dari dulunya sekolah kini menjadi plaza, klaim pihak ketiga, Pemerintah Kabupaten/Daerah yang kurang proaktif, letak objek/aset sangat jauh, tidak konsisten menerapkan aturan tentang kompensasi dengan pihak ketiga, dan bisa pula terjadi tindakan curang atau kolusi dari para oknum antara Tim dengan pihak ketiga.
172 Wawancara dengan Kepala Seksi (Kasi) PKN-DJKN Sumut, Tanggal 12 Juni 2015.
Kepala Seksi PKN-DJKN Sumut mengatakan ada berjumlah 27 aset yang lancar dan 5 aset yang mengalami kesulitan dalam pemantapan status hukumnya sebagaimana pada tabel 6 tersebut di atas.
1. Aset sama sekali tidak bisa ditemukan
Aset tidak bisa ditemukan dan bahkan Pemerintah Daerah setempat pun tidak mengetahui lagi tentang keberadaan aset dimaksud. Jumlah aset yang tidak bisa ditemukan ini ada 1 (satu) aset yaitu Sekolah Cina di Pangkalan Brandan Langkat sudah menjadi kawasan pemukiman penduduk sehingga asal-usul aset tidak bisa lagi ditemukan dan bahkan masing-masing kepala rumah tangga sudah memiliki sertifikat dari BPN.173 Hal ini bisa disebabkan karena gejala alam (force majeure) yang tidak terduga oleh manusia, misalnya karena banjir, gempa bumi, tanah longsor, tsunami, dan lain-lain.174
Sekalipun aset tersebut terdaftar dalam Daftar ABMA/T (Daftar Merah Putih) namun bila tidak bisa ditemukan tanda-tanda, bukti-bukti, termasuk pula saksi-saksi maka solusi yang dilakukan terhadap aset seperti itu adalah memberlakukan ketentuan Pasal 13 ayat (1) huruf d PMK Nomor: 31/PMK.06/2015, yaitu dikeluarkan dari Daftar ABMA/T. Mengeluarkan aset dari Daftar ABMA/T berarti mencoret nama aset tersebut dalam Buku Daftar Merah Putih Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
2. Pihak ketiga telah memperoleh Sertifikat BPN dengan cara spekulasi
173 Wawancara dengan Yuliadi, Sekretaris TAD ABMA/T dan Kabid Pengelolaan Kekayaan Negara (Kabid PKN) DJKN Provinsi Sumut, Tanggal 8 Juni 2015. Yuliadi (Sekretaris TAD ABMA/T dan Kabid PKN-DJKN Sumut mengatakan: jumlah aset yang tidak bisa ditemukan ada 1 (satu) aset yaitu Sekolah Cina di Pangkalan Brandan Langkat sudah menjadi kawasan pemukiman penduduk sehingga asal-usulnya tidak bisa lagi ditemukan dan bahkan masing-masing kepala rumah tangga sudah memiliki sertifikat dari BPN.
174 Agus Yudha Hernoko, Hukum Perjanjian, Asas Proporsionalitas Dalam Kontrak Komersil, (Jakarta: Kencana, 2011), hal. 269.
Aset tersebut telah memperoleh sertifikat BPN atas nama pihak ketiga, sementara Pemerintah juga memiliki bukti-bukti kuat dalam hal untuk membuktikan haknya. Ada satu aset yang masuk dalam kategori ini yaitu aset di Binjai, di atas tanah telah berdiri 10 unit ruko dan masing-masing pemilik ruko telah memiliki sertifikat BPN atas nama Darmawan, Tumini, Mustapa Tantono, Suwarni, Suparman, S. Darna, Fong Kok An, Ny. Tan A. Boy, Sumadi Tantoso, dan Fandi Marianto.175
Apabila orang atau pihak yang menempati atau menduduki aset tersebut dapat membuktikan kepemilikannya dalam bentuk sertifikat BPN sesuai pula dengan mekanisme pendaftaran tanah dalam UU Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Pokok-Pokok Agraria (UUPA) dan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah,
Solusi untuk kondisi aset yang demikian ini telah dijelaskan dalam bab III penelitian ini, biasanya masing-masing pihak, baik pihak ketiga maupun Tim Asistensi menempuh litigasi di pengadilan hingga diputuskannya pihak yang berhak untuk aset tersebut baru kemudian bisa dimantapkan status hukumnya.
176
175 Wawancara dengan Ramidah, Pelaksana pada Bidang Pengelolaan Kekayaan Negara DJKN Provinsi Sumut, Tanggal 9-10 Juni 2015. Ramidah (Pelaksana pada Bidang PKN-DJKN Sumut mengatakan: ada satu aset yang masuk dalam kategori ABMA/T yang telah bersertifikat BPN yaitu aset di Binjai, di atas tanah telah berdiri 10 unit ruko dan masing-masing pemilik ruko telah memiliki sertifikat BPN atas nama Darmawan, Tumini, Mustapa Tantono, Suwarni, Suparman, S. Darna, Fong Kok An, Ny. Tan A. Boy, Sumadi Tantoso, dan Fandi Marianto.
maka berlaku ketentuan Pasal 13 ayat (1) huruf c PMK Nomor:
31/PMK.06/2015, yaitu dikembalikan kepada pemilik perorangan yang sah (yaitu
176 Wawancara dengan Yuliadi, Sekretaris TAD ABMA/T dan Kabid Pengelolaan Kekayaan Negara (Kabid PKN) DJKN Provinsi Sumut, Tanggal 8 Juni 2015. Yuliadi mengatakan: apabila orang atau pihak yang menempati atau menduduki aset tersebut memiliki sertifikat dari BPN maka pihaknya dapat membuktikan kepemilikannya itu sesuai pula dengan mekanisme pendaftaran tanah di sidang pengadilan hingga diputuskannya pihak yang berhak untuk aset tersebut baru kemudian bisa dimantapkan status hukumnya.
pemegang sertifikat BPN) serta aset tersebut harus dicoret/dikeluarkan dari Daftar ABMA/T.
Kondisi tersebut di atas dikatakan sebagai kendala karena bilamana pihak ketiga telah memiliki sertifikat BPN dan memiliki bukti-bukti yang kuat, maka dalam kondisi yang demikian telah terjadi kesalahan Pemerintah pada saat pendataan ABMA/T. Terdapat ketidakcermatan dalam pendataan aset pada saat pertama kali ABMA/T didaftarkan dalam Buku Daftar Merah Putih, sehingga secara serta merta berlaku ketentuan Pasal 13 ayat (1) huruf c PMK Nomor: 31/PMK.06/2015.
Bila pihak yang menempati atau menduduki aset tersebut dapat membuktikan kepemilikannya, maka dalam hal ini ketentuan Pasal 13 ayat (1) huruf c PMK Nomor: 31/PMK.06/2015 yaitu dikembalikan kepada pemilik perorangan yang sah dan juga berlaku Pasal 13 ayat (1) huruf d PMK Nomor: 31/PMK.06/2015 yaitu dicoret/dikeluarkan dari Daftar ABMA/T, sedangkan bila aset tersebut tidak bisa ditemukan maka ketentuan untuk ini hanya berlaku Pasal 13 ayat (1) huruf d PMK Nomor: 31/PMK.06/2015 yaitu dicoret/dikeluarkan dari Daftar ABMA/T karena kemungkinan disebabkan oleh keadaan memaksa (force majeure).
Berlakunya Pasal 13 ayat (1) huruf c PMK Nomor: 31/PMK.06/2015 yaitu dikembalikannya aset tersebut kepada pemilik perorangan yang sah hanya untuk pemilik aset yang bisa menunjukkan bukti kepemilikan aset secara sah. Faktor penyebab hal ini terjadi bisa disebabkan karena kesalahan pendataan oleh Tim pada saat pendataan ABMA/T sekitar pada tahun 1965 saat organisasi-organisasi atau
perkumpulan-perkumpulan Asing atau Tionghoa tersebut telah dinyatakan dilarang dan dibubarkan.
Faktor penyebab untuk aset yang tidak bisa ditemukan adalah disebabkan karena keadaan memaksa atau peristiwa gejala alam (force majeure) yang tidak terduga oleh manusia177
3. Terjadi perbedaan luasan aset
, sehingga aset tersebut tidak ditemukan dan bahkan Pemerintah Daerah setempat pun tidak mengetahui lagi tentang keberadaan aset dimaksud. Dalam hal ini hanya berlaku ketentuan Pasal 13 ayat (1) huruf d PMK Nomor: 31/PMK.06/2015 yaitu dicoret/dikeluarkan dari Daftar ABMA/T.
Hampir seluruh aset yang telah dimantapkan status hukumnya mengalami perbedaan luasan aset, dari yang luas semula saat terdaftar dalam Daftar ABMA/T berbeda dengan luasnya di lapangan. Dalam hal ini aset telah ditemukan oleh Tim namun terjadi perbedaan luasannya antara ukuran luas yang terdaftar dalam Daftar ABMA/T (Daftar Buku Merah Putih) dengan ukuran luasan yang terdapat pada fakta di lapangan. Ukuran luas dalam Daftar ABMA/T tidak sama dengan ukuran di lapangan.178
Contoh aset berupa Kantor Koordinsi Penilik Sekolah Serdang Bedagai atau Kantor PGRI Cabang Sergai dh. SMP Negeri Sei rampah semula luas tanahnya 2.876 m2 (sesuai Daftar ABMA/T) namun setelah diteliti luasnya ternyata 2.847 m2 terdapat
177 Ibid.
178 Wawancara dengan Yuliadi, Sekretaris TAD ABMA/T dan Kabid Pengelolaan Kekayaan Negara (Kabid PKN) DJKN Provinsi Sumut, Tanggal 8 Juni 2015. Yuliadi mengakui hampir seluruh aset yang telah dimantapkan status hukumnya mengalami perbedaan luasan aset, dari yang luas semula saat terdaftar dalam Daftar ABMA/T berbeda dengan luasnya di lapangan.
selisih 29 m2, perbedaan luas ini disebabkan karena adanya pembangunan aliran sungai (drainase) di sekitar aset tersebut sehingga berkurang. Contoh lain misalnya aset berupa SMA Negeri 2 dh. SMP Negeri Perbaungan tercatat dalam Daftar ABMA/T seluas 1.273 m2 namun setelah diteliti ternyata luasnya lebih besar yaitu 1.347 m2, perbedaan luasan ini disebabkan karena kesalahan pada saat melakukan pendataan aset ke dalam Daftar ABMA/T.
Adanya perbedaan luasan aset dengan data yang tercantum di dalam Daftar ABMA/T (Buku Merah Putih) tersebut sehingga kadang-kadang Pemerintah Kabupaten/Daerah setempat tidak bersedia membuat surat keterangan tentang perbedaan luasan aset tersebut. Kondisi demikian berimplikasi pada proses kerja TAD yaitu mengalami kesulitan bagi tim untuk mengusulkan pemantapan status hukum aset dimaksud ke TPP untuk dilanjutkan ke Kementerian Keuangan Republik Indonesia.179
Ukuran dalam upaya penyelesaian atau pemantapan status hukum ABMA/T yang mengalami pertambahan atau pengurangan luasan aset yang menjadi indikator di dalam pemantapan status adalah didasarkan pada Pasal 22 ayat (2) huruf d PMK Nomor: 31/PMK.06/2015 yaitu bertambah 10% (sepuluh persen) dan bisa berkurang 10% (sepuluh persen).
179 Wawancara dengan Ramidah, Pelaksana pada Bidang Pengelolaan Kekayaan Negara DJKN Provinsi Sumut, Tanggal 9-10 Juni 2015. Ramidah mengatakan salah satu kendala adalah perbedaan luasan aset, sehingga kadang-kadang Pemerintah Kabupaten/Daerah setempat tidak bersedia membuat surat keterangan karena adanya perbedaan luasan aset tersebut.
Solusi terhadap penyelesaian aset yang mengalami pengurangan maksimal 10% (sepuluh persen) masih bisa dimohonkan pemantapan statusnya, akan tetapi jika pengurangannya lebih dari 10% (sepuluh persen) maka aset tersebut harus diteliti ulang kembali untuk mengetahui apa faktor penyebabnya. Jika ditemukan faktor penyebabnya adalah karena pelebaran jalan atau untuk kepentingan umum, maka terhadap aset tersebut tetap bisa dimantapkan status hukumnya.
Alasan pengurangan luas aset bila melebihi dari 10% (sepuluh persen) dan disebabkan karena faktor penyerobotan tanah oleh pihak swasta atau pihak ketiga (masyarakat) yang tidak berhak untuk itu, maka terhadap aset tersebut tidak bisa dimantapkan status hukumnya, artinya harus diteliti ulang kembali sampai jelas dan terang apa faktor penyebabnya dan siapa saja yang terlibat di dalam penyerobotan tanah tersebut untuk kemudian ditindaklanjuti penyelesaiannya, hingga memenuhi syarat untuk bisa dimantapkan.
4. Aset telah beralih fungsi
Aset telah beralih fungsi misalnya dari sekolah menjadi plaza. Bila pemantapan aset berjalan mulus apabila aset tersebut telah ditemukan dan pada faktanya tetap sesuai fungsinya dengan yang tercatat di dalam Daftar ABMA/T misalnya berfungsi untuk sekolah tetap sekolah dalam fakta, namun ternyata ada aset
yang ditemukan telah beralih fungsinya untuk kegunaan lain selain sekolah seperti didirikannya plaza di atas aset tersebut.180
Contoh aset yang telah beralih fungsinya adalah Yayasan Perguruan Cut Nyak Dien yang terdapat di Jalan Sudirman Kabanjahe dan di atasnya telah berdiri bangunan Plaza Kabanjahe. Faktor penyebab kondisi demikian bisa terjadi disebabkan karena kolusi antara sesama otoritas seperti Pemda setempat, Pengusaha dan termasuk pihak yang menempati Yayasan Perguruan Cut Nyak Dien. Tidak mungkin bangunan Plaza Kabanjahe bisa berdiri di atas tanah milik Pemerintah Daerah bila tidak ada kolusi.181
Bila ada aset yang ditemukan telah beralih fungsinya untuk kegunaan lain selain yang telah disebutkan di dalam Daftar ABMA/T maka solusi pemantapannya tidak langsung bisa dilakukan untuk dilanjutkan, melainkan harus dilakukan lagi penelitian dan pengkajian mendalam tentang fungsi aset tersebut sampai jelas dan terang sehingga baru bisa dimantapkan status hukumnya apakah tetap menjadi milik pihak ketiga atau menjadi BMN/D setempat.
5. Profesionalisme Tim Asistensi
Kendala yang keenam adalah masalah profesionalisme kerja dari anggota Tim. Oknum dari lembaga-lembaga yang tergabung dalam Tim Asistensi itu sendiri
180 Wawancara dengan Ramidah, Pelaksana pada Bidang Pengelolaan Kekayaan Negara DJKN Provinsi Sumut, Tanggal 9-10 Juni 2015. Ramidah mengatakan ada aset yang ditemukan telah beralih fungsinya untuk kegunaan lain selain sekolah seperti didirikannya plaza di atas aset tersebut.
181 Wawancara dengan Ramidah, Pelaksana pada Bidang Pengelolaan Kekayaan Negara DJKN Provinsi Sumut, Tanggal 9-10 Juni 2015. Ramidah mengatakan contoh aset yang telah beralih fungsinya adalah Yayasan Perguruan Cut Nyak Dien yang terdapat di Jalan Sudirman Kabanjahe dan di atasnya telah berdiri bangunan Plaza Kabanjahe.
tidak profesional bekerja. Kadang-kadang sesama Tim tidak profesional dalam melakukan penelitian aset khususnya Tim yang berkaitan langsung dengan pihak ketiga terkait permohonan penguasaan aset oleh pihak ketiga secara kompensasi, dikatakan demikian karena potensial terjadi kolusi dan korupsi.182
Selama kepemimpinan Hadi Purnomo menggantikan Etto Suhardianto sebagai Kepala Kanwil DJKN Sumut, tim jarang sekali melakukan rapat koordinasi. Rapat dalam setahun hanya 1 kali dilakukan sehingga TAD dari unsur lain terkesan kurang pro aktif dan terbukti dari minimnya jumlah asset yang diselesaikan.
Ada kesan sesuatu yang disembunyikan oleh Kanwil DJKN selaku leading sector dalam penyelesaian ABMAT. Hal ini terlihat dari pembentukan anggota tim
yang ditugaskan untuk meneliti asset tertentu ke daerah hanya diberikan kepada personil DJKN, biasanya semua anggota tim yang tergabung dalam TAD tahun 2008 selalu terdiri atas unsur-unsur peserta TAD dari instansi lainnya, namun sejak itu hingga kini mereka yang ditugaskan untuk meneliti aset tertentu ke daerah hanya diberikan kepada personil DJKN.
Terkait dengan penaksiran harga kompensasi kepada pihak ketiga, tim peneliti yang melakukan pendalaman dan pengkajian terhadap dokumen kelengkapan dan syarat-syarat permohonan harus disesuaikan dengan daftar checklist pada PMK 31/PMK.06/2015, namun dalam rapat tidak pernah dibahas berapa besaran komensasi yang diajukan oleh pihak ketiga dimaksud, sehingga diduga ada hal-hal yang ditutupi
182 Wawancara dengan Ramidah, Pelaksana pada Bidang Pengelolaan Kekayaan Negara DJKN Provinsi Sumut, Tanggal 9-10 Juni 2015. Ramidah mengakui bahwa dalam proses pemantapan status ABMA/T ini sangat potensial terjadi kolusi dan korupsi.
kepada TAD bahkan membuka peluang negosiasi (KKN) dalam proses penetapan harga kompensasi aset dimaksud.
Solusi terhadap oknum tim yang tidak profesional ini diharapkan agar semua anggota tim termasuk dari DJKN Sumut, Pemerintah Provinsi dan/atau Kabupaten/Kota, Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi dan/atau Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota, Komando Daerah Militer, Badan Intelijen Negara Daerah (BINDA), Kejaksaan Tinggi, Kepolisian Daerah, dan Kantor Pelayanan, masing-masing harus bertanggung jawab dan profesional dalam melaksanakan tugas, tanpa demikian, benturan kepentingan (conflict interest) akan selalu terjadi dan dapat menghambat pelaksanaan tugas pemantapan status ABMA/T.
Khususnya kepada DJKN Sumut Kementerian Keuangan Republik Indonesia sebagai leading sector seharusnya memberikan contoh yang baik bagi anggota tim lainnya dari berbagai sektor, bukan justru melakukan praktik tidak baik, menutup-nutupi kondisi aset yang sebenarnya, melakukan penyalahgunaan wewenang oleh oknum-oknum tertentu dengan melakukan penyelesaian sendiri di lapangan tanpa memberikan informasi lebih lanjut dalam rapat koordinasi/verifikasi. Adanya oknum demikian menjadi salah satu faktor penghambat dalam proses pemantapan sebab informasi menjadi tumpang tindih, tidak akurat antara apa yang disampaikan dalam rapat dengan fakta di lapangan.
6. Pemerintah Kabupaten/Daerah kurang proaktif
Kendala dalam hal kurang proaktif ini ditemukan pada Pemkab Tapanuli Utara kurang proaktif untuk mengusulkan pemantapan status hukum Kantor Dekrakesda di Kantor Kadinda Tk. II Tapanuli Utara kepada TAD sehingga memakan waktu yang sangat lama lebih kurang 2 (dua) tahun sejak dilaksanakan penenelitian terhadap aset dimaksud.183
Solusi terhadap kendala yang demikian adalah memberikan penjelasan mengenai sejarah status ABMA/T yang dimaksud oleh tim. Menjelaskan kepada Pemerintah Daerah terkait bahwa aset tersebut sesuai Daftar ABMA/T belum jelas status hukumnya sehingga harus dimantapkan. Setelah dilakukan berbagai metode pendekatan, akhirnya Pemerintah Daerah terkait dapat bersama-sama dengan anggota tim mengusulkan pemantapan status hukum atas aset dimaksud kepada pusat sekalipun memakan waktu yang sangat lama.
Kurang proaktifnya Pemerintah Kabupaten/Daerah yang di daerahnya terdapat ABMA/T dengan asumsi bahwa selama ini aset tersebut telah mereka gunakan, padahal sebenarnya sesuai Daftar ABMA/T terhadap aset tersebut belum jelas status hukum sehingga harus dimantapkan.
7. Letak objek/aset sangat jauh
183 Wawancara dengan Julius Gurning, Sekretaris Daerah Kabupaten Dairi Tahun 2013, Tanggal 9 Juni 2015. Julius Gurning mengatakan Pemkab Tapanuli Utara kurang proaktif mengusulkan pemantapan status hukum Kantor Dekrakesda di Kantor Kadinda Tk. II Tapanuli Utara kepada TAD.
Posisi objek/aset yang terletak sangat jauh yaitu di Pulau Tello Kabupaten Nias Selatan (Pemekaran Kabupaten Nias) sehingga TAD harus 2 (dua) kali datang ke lokasi dengan kondisi alam yang mengancam keselamatan TAD seperti gelombang laut lepas dan biaya yang sangat tinggi, sehingga dibutuhkan waktu 2 (dua) tahun baru kemudian aset/objek tersebut dapat dimantapkan.184
Solusi terhadap letak objek/aset yang sangat jauh dari Kantor DJKN Medan-Sumut adalah tetap melakukan upaya penelitian ke lapangan dengan menambah biaya operasional yang disesuaikan dengan kebutuhan jarak tempuh dan biaya-biaya yang diperlukan. Biasanya dalam melakukan penelitian terhadap aset yang sangat jauh ini, anggota tim harus menginap beberapa hari, bisa 3 atau 4 hari, seminggu atau bahkan lebih. Biasanya dibutuhkan waktu dua tahun baru kemudian aset/objek tersebut dapat dimantapkan status hukumnya.
8. Klaim pihak ketiga
Pihak ketiga mengklaim aset/objek adalah miliknya padahal tidak bisa menunjukkan bukti-bukti kuat tentang kepemilikannya terhadap aset/objek dimaksud.
Klaim pihak ketiga ini seperti status Kantor Subdenpom I/2-5 Jalan Gomo Pulau Nias menjadi rebutan kepemilikan dengan Pihak Ketiga yang mengklaim bahwa aset tersebut tidak termasuk dalam Daftar ABMA/T sehingga TAD mengangalami kesulitan untuk mengambil keputusan. Untuk mengatasi kondisi demikian TPP dapat
184 Wawancara dengan Julius Gurning, Sekretaris Daerah Kabupaten Dairi Tahun 2013, Tanggal 9 Juni 2015. Julius Gurning mengakui ada objek/aset yang terletak sangat jauh yaitu di Pulau Tello Kabupaten Nias Selatan (Pemekaran Kabupaten Nias), kondisi alam sangat mengancam keselamatan TAD.
mengambil keputusan untuk memantapkan status hukum aset tersebut menjadi BMN.185
Hal yang sama juga terjadi karena munculnya klaim pihak ketiga terhadap Gedung Kampus II Universitas Graha Nusantara yang sebelumnya adalah Gedung IKIP Medan yang terletak di Kota Padang Sidempuan sehingga terjadi polemik tentang pihak yang lebih berkompeten terhadap aset tersebut, namun pada akhirnya
Hal yang sama juga terjadi karena munculnya klaim pihak ketiga terhadap Gedung Kampus II Universitas Graha Nusantara yang sebelumnya adalah Gedung IKIP Medan yang terletak di Kota Padang Sidempuan sehingga terjadi polemik tentang pihak yang lebih berkompeten terhadap aset tersebut, namun pada akhirnya