• Tidak ada hasil yang ditemukan

STATUS HUKUM KEBERADAAN ASET BEKAS MILIK ASING/TIONGHOA (ABMA/T) DI PROVINSI SUMATERA UTARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "STATUS HUKUM KEBERADAAN ASET BEKAS MILIK ASING/TIONGHOA (ABMA/T) DI PROVINSI SUMATERA UTARA"

Copied!
180
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

OLEH

JUSAK TARIGAN 137005028 / HK

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2015

(2)

STATUS HUKUM KEBERADAAN ASET BEKAS MILIK ASING/TIONGHOA (ABMA/T) DI PROVINSI

SUMATERA UTARA

TESIS

Diajukan Sebagai Salah satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Hukum Pada Fakultas Hukum

Dalam Program Studi Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara

OLEH

JUSAK TARIGAN 137005028/HK

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2015

(3)

(LEMBAR PENGESAHAN)

JUDUL TESIS : STATUS HUKUM KEBERADAAN ASET BEKAS MILIK ASING/TIONGHOA (ABMA/T) DI PROVINSI SUMATERA UTARA

NAMA : JUSAK TARIGAN

N.I.M. : 137005028 PROGRAM STUDI : ILMU HUKUM

MENYETUJUI KOMISI PEMBIMBING

Ketua

(Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H., M.H).

(Dr. Faisal Akbar Nasution, S.H., M.Hum) (

Anggota Anggota

Dr. Mahmul Siregar, S.H., M.Hum)

Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum Dekan Fakultas Hukum

(Prof. Dr. Suhaidi, S.H., M.H). ( Prof. Dr. Runtung, S.H., M.Hum)

Telah Lulus : 22 Agustus 2015

(4)

Telah Lulus Pada

Tanggal : 22 Agustus 2015

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H., M.H

Anggota : 1. Dr. Faisal Akbar Nasution, S.H., M. Hum 2. Dr. Mahmul Siregar, S.H., M. Hum

3. Prof. Dr. Suhaidi, S.H., M.H

4. Dr. T. Keizerina Devi A. S.H., M. Hum

(5)

ABSTRAK

Salah satu aset Kekayaan Negara Lain-lain (KNL) yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan adalah Aset Bekas Milik Asing/Tionghoa (ABMA/T), yaitu aset-aset yang pernah diduduki oleh orang Asing/Tionghoa, dan bekas aset milik perkumpulan atau organisasi yang bersifat eksklusif rasial yang dilarang, baik berupa gedung maupun tanah, termasuk didalamnya adalah aset-aset bekas milik perkumpulan etnis Tionghoa yang menjadi sasaran aksi massa atau kesatuan-kesatuan aksi di tahun 1965/1966 sehubungan dengan keterlibatan Cina dalam Pemberontakan G-30S/PKI. Permasalahan adalah bagaimana ketentuan perundang-undangan yang mengatur tentang pengelolaan aset negara khususnya ABMA/T, bagaimana status hukum terhadap ABMA/T yang sudah dimiliki oleh perseorangan dan telah memperoleh sertifikat dari BPN?, dan apa saja kendala-kendala yang ditemukan oleh Tim Asistensi Daerah Provinsi Sumatera Utara dalam pemantapan status ABMA/T dan solusnya?

Metode penelitian digunakan penelitian normatif dan empiris. Sifat penelitian ini adalah perskriptif analitis. Teori analisis digunakan adalah teori kepastian hukum, sehingga status hukum pemilik sah dari ABMA/T menjadi jelas. Sumber data adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara sedangkan bahan hukum sekunder diperoleh melalui studi pustaka.

Perundang-undangan mengatur pengelolaan aset negara dalam Pasal 23, 23A, 23B, 23C, dan Pasal 23D UUD 1945 meliputi APBN, pajak dan pungutan lain. UU No. 17 Tahun 2003 dan UU No. 1 Tahun 2004 mengatur keuangan negara meliputi semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, segala sesuatu baik berupa uang maupun barang, termasuk semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN/D atau berasal dari perolehan lain yang sah. Status hukum ABMA/T yang dimiliki oleh perseorangan (pihak ketiga) dan telah memperoleh sertifikat BPN tidak bersifat mutlak sekalipun tujuan pendaftaran tanah adalah untuk menjamin kepastian hukum, hal ini karena berlaku asas negatif, mutakhir, kebenaran formil dan kebenaran materil. Kendala-kendala ditemukan oleh tim meliputi: aset tidak ditemukan, pihak ketiga telah memperoleh Sertifikat BPN, perbedaan luasan, aset beralih fungsi, tim kurang profesional, kurang proaktif, jauhnya letak aset, klaim pihak ketiga, dan masalah kompensasi.

Istilah aset negara seharusnya ditegaskan di dalam perundang-undangan Negara Republik Indonesia untuk menghindari penafsiran yang berbeda-beda. Agar BPN lebih teliti menelusuri dokumen pendaftaran tanah, melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan. Agar profesionalisme semua anggota tim khususnya DJKN harus lebih ditingkatkan, tidak mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok, sehingga dapat mempermudah proses pemantapan status ABMA/T.

Kata Kunci: Pemantapan Status Hukum, ABMA/T, Tim Asistensi, Aset Negara/Keuangan Negara, dan DJKN Sumut.

(6)

ABSTRACT

(7)

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas berkat dan penyertaannya dalam penyusunan tesis ini dapat menyelesaikan studi untuk memperoleh gelar Magister Hukum (M.H.) di Program Studi Magister Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sesuai dengan waktu yang direncanakan dengan judul penelitian yaitu, ”Status Hukum Keberadaan Aset Bekas Milik Asing/Tionghoa (ABMA/T) di Provinsi Sumatera Utara”. Penelitian dinyatakan lulus yudisium tanggal .... Oktober 2014.

Dengan kerendahan hati, ketulusan penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada:

1. Prof. Drs. Sublihar, M.A., Ph.D., selaku Pejabat Rektor Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kemudahan dan keringanan kepada penulis selama mengikuti pendidikan pada Universitas Sumatera Utara.

2. Prof. Dr. Runtung, S.H., M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kemudahan di bidang adminitrasi selama penulis mengikuti pendidikan S2 Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

3. Prof. Dr. Suhaidi, S.H, M.H selaku Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum sekaligus sebagai penguji yang telah banyak memberikan masukan dan pertanyaan sehingga penelitian ini menjadi lebih baik;

4. Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H., M.H., selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan, motivasi dari sejak awal penulisan sampai selesainya penulisan tesis ini, sehingga menjadi lebih baik;

5. Bapak Dr. Faisal Akbar Nasution, S.H., M.Hum, selaku Anggota Pembimbing juga telah banyak memberikan masukan, saran-saran selama penelitian ini berlangsung;

6. Bapak Dr. Mahmul Siregar, S.H., M.Hum, selaku Anggota Pembimbing juga telah banyak memberikan masukan, saran-saran, petunjuk maupun bimbingannya sehingga selain menambah pengetahuan penulis juga menambah wawasan dalam penyempurnaan ilmu yang sejak tahun 2013 mengikuti program pascasarjana di Fakultas Hukum USU;

7. Dr. Devi T. Keizerina Azwar, SH. M.Hum, selaku dosen penguji juga telah banyak memberikan masukan dan pertanyaan sehingga penelitian ini menjadi lebih baik.

(8)

8. Seluruh dosen di Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, dan seluruh Staf/Pegawai Adminstrasi yang telah membantu melancarkan segala urusan yang berkenaan dengan administrasi dan informasi selama studi berlangsung dan juga pada saat dilakukan penelitian ini;

9. Istriku tercinta Rona Emelia Sitepu yang dengan sabar memberi dukungan dalam penyelesaian tesis ini, serta anak-anakku Regina Auranta Br. Tarigan dan Cintami Aura Kasih Br. Tarigan yang membuatku semakin dan bertambah semangat untuk menyelesaikan studi di Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum USU;

10. Teman-teman seperjuangan di Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum USU yang telah membantu dan memberi masukan kepada penulis sampai dengan selesainya penelitian ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Demikianlah sebagai kata pengantar, mudah-mudahan penelitian ini memberi manfaat bagi semua orang dalam menambah dan memperkaya wawasan ilmu pengetahuan khususnya bagi penulis dalam pemantapan status hukum ABMA/T sesuai amanat PMK Nomor: 31/PMK.06/2015 sehingga Negara Republik Indonesia berdaulat terhadap penguasaan kekayaan milik negara untuk kemakmuran rakyat.

Akhir kata, mohon maaf atas ketidaksempurnaan dalam penelitian ini, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi perbaikan ke depannya.

Medan, Oktober 2015 Penulis

Jusak Tarigan

(9)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. Identitas Pribadi

Nama : Jusak Tarigan

Tampat & Tgl Lahir : Lau Tawar, 6 Maret 1970 Jenis kelamin : Laki-laki

Agama : Kristen

Status : Menikah

Pekerjaan/Jabatan : Staf Badan Intelijen Negara Daerah Sumatera Utara Alamat : Perumahan Banyu Indah Blok B-23 Jl. Benteng Hilir

Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang E-mail : [email protected]

II. Pendidikan

1. SD Inpres Suka Makmur Kecamatan Sibolangit (Tamat dan berijazah tahun 1983).

2. SMP Masehi Bersubsidi Sibolangit (Tamat dan berijazah tahun 1986).

3. SMA Swasta YP Pembangunan Medan (Tamat dan berijazah tahun 1989).

4. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USU Medan (tamat dan berijazah tahun 1995).

5. Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum USU Medan (2015).

(10)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR SKEMA ... x

BAB I : PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang... 1

B. Perumusan Masalah ... 15

C. Tujuan Penelitian ... 15

D. Manfaat Penelitian ... 16

E. Keaslian Penelitian ... 17

F. Kerangka Teori dan Landasan Konsepsional ... 18

1. Kerangka Teori ... 18

2. Landasan Konsepsional ... 32

G. Metode Penelitian ... 36

1. Jenis dan Sifat Penelitian ... 36

2. Sumber Data ... 38

3. Teknik Pengumpulan Data ... 40

4. Analisis Data... 41

(11)

BAB II : KETENTUAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG MENGATUR TENTANG PENGELOLAAN ASET NEGARA KHUSUSNYA DALAM HAL MEKANISME PENGELOLAAN ABMA/T ... 43 A. Pengertian Aset Negara ... 43 B. Pengertian Aset Negara Berdasarkan Perundang-Undangan Yang

Mengatur Pengelolaan Aset Negara ... 45 C. Pengertian Aset Bekas Milik Asing/Tionghoa (ABMA/T) ... 55 D. Ketentuan Perundang-Undangan Yang Mengatur Pengelolaan

ABMA/T ... 63 BAB III : STATUS HUKUM TERHADAP ABMA/T YANG SUDAH

DIMILIKI OLEH PERSEORANGAN DAN TELAH

MEMPEROLEH SERTIFIKAT DARI BADAN

PERTANAHAN NASIONAL ... 75 A. Dasar Ideologi Pancasila Dalam Pemantapan Status ABMA/T ... 75 B. Bentuk Status Hukum ABMA/T Menurut PMK Nomor:

31/PMK.06/2015 ... 89 1. Dimantapkan Status Hukumnya Menjadi BMN/D ... 90 2. Dilepaskan Penguasaannya Dari Negara Kepada Pihak

Ketiga Dengan Cara Pembayaran Kompensasi Kepada Pemerintah ... 92 3. Dikembalikan Kepada Pemilik Perorangan Yang Sah ... 96 4. Dikeluarkan Dari Daftar ABMA/T ... 97

(12)

C. Status Hukum Terhadap ABMA/T Yang Sudah Dimiliki Oleh Perseorangan dan Telah Memperoleh Sertifikat dari Badan

Pertanahan Nasional ... 99

BAB IV : KENDALA-KENDALA YANG DITEMUKAN OLEH TIM ASISTENSI DAERAH PROVINSI SUMATERA UTARA DALAM PENYELAMATAN ABMA/T ... 111

A. Mekanisme Pemantapan Status ABMA/T ... 111

1. Mekanisme Pemantapan Status Hukum ABMA/T Menjadi BMN/D ... 113

2. Mekanisme Pemantapan Status Hukum Dengan Dilepaskan Penguasaannya dari Negara Kepada Pihak Ketiga Dengan Cara Pembayaran Kompensasi ... 115

3. Mekanisme Pemantapan Status Hukum ABMA/T Dengan Dikembalikan Kepada Pemilik Perorangan Yang Sah ... 118

4. Mekanisme Pemantapan Status ABMA/T Dengan Cara Mengeluarkan ABMA/T Dari Daftar ABMA/T ... 121

B. Kondisi Terkini Pemantapan Status ABMA/T ... 123

C. Kendala-Kendala Yang Ditemukan oleh TAD Provsu Dalam Pemantapan Status ABMA/T dan Solusinya ... 129

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN ... 153

A. Kesimpulan... 153

B. Saran ... 156

DAFTAR PUSTAKA ... 159

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel : 1 Kondisi Penyelesaian/Pemantapan ABMA/T di Provinsi Sumatera Utara ... 10 Tabel : 2 Kondisi Objek Yang Belum Diselesaikan Dengan Kategori

Penyelesaian ABMA/T di Provinsi Sumatera Utara ... 11 Tabel : 3 Daftar ABMA/T Yang Telah Memperoleh Keputusan Menteri

Keuangan Tentang Penetapan Status Hukum Menjadi (PSHM)

BMN/D... 123 Tabel : 4 Kondisi Terkini Penyelesaian/Pemantapan Status ABMA/T di

Provinsi Sumatera Utara Tahun 2015 ... 126 Tabel : 5 Kondisi Objek ABMA/T Yang Belum Selesai Dimantapkan

Status Hukumnya di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2015 ... 127 Tabel : 6 Kategori Kelancaran dan Kesulitan Pemantapan Status ABMA/T

Menjadi BMN atau BMD... 131

(14)

DAFTAR SKEMA

Skema : 1 Mekanisme Pemantapan Status Hukum ABMA/T Menjadi BMN/D... 114 Skema : 2 Mekanisme Pelepasan Penguasaan ABMA/T Dari Negara

Kepada Pihak Ketiga Dengan Cara Pembayaran Kompensasi ... 117 Skema : 3 Mekanisme Pengembalian ABMA/T Kepada Pemilik

Perorangan/Pihak Ketiga Yang Sah ... 120 Skema : 4 Mekanisme Pengeluaran ABMA/T Dari Daftar ABMA/T ... 122

(15)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan memiliki kewenangan, tugas dan fungsi di bidang kekayaan negara, yaitu mengelola seluruh kekayaan negara yang bersumber dari aset Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B), barang rampasan Kejaksaan dan KPK, Aset Eks Kepabeanan dan Cukai, termasuk Aset Bekas Milik Asing/Tionghoa (ABMA/T), Barang Muatan Kapal Tenggelam (BMKT), Aset Eks Bank Dalam Likuidasi (BDL), Aset eks Perusahaan Pengelola Aset (PPA), dan Aset Eks Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN)1, aset eks Unit Penjaminan Pemerintah, pengelolaan barang rampasan negara, barang gratifikasi dan sumber-sumber Kekayaan Negara Lain-Lain (KNL).2

Salah satu aset Kekayaan Negara Lail-lain (KNL) yang dikelola oleh DJKN adalah Aset Bekas Milik Asing/Tionghoa (ABMA/T). Aset yang digolongkan sebagai ABMA/T adalah aset-aset yang dikuasai negara yang berasal dari bekas milik Asing/Tionghoa, dan bekas aset milik perkumpulan atau organisasi yang bersifat

1 Kementerian Keuangan Republik Indonesia, “Birokrasi Melek Teknologi (Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Terus Berupaya Mewujudkan Manajemen Aset Negara Yang Modern)”, Media Keuangan, Vol. IX, No. 87, November 2014, hal. 14-15.

2 Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN), “Pengelolaan Aset Eks BDL”, Media Kekayaan Negara, Edisi Nomor 07 Tahun II 2011, hal. 46.

(16)

eksklusif rasial yang dilarang, baik berupa gedung maupun tanah,3 termasuk didalamnya adalah aset-aset bekas milik perkumpulan etnis Cina yang menjadi sasaran aksi massa atau kesatuan-kesatuan aksi di tahun 1965/1966 sehubungan dengan keterlibatan Republik Rakyat Cina (RRC) dalam Pemberontakan G-30S/PKI.4

ABMA/T adalah aset-aset bekas milik Asing atau Cina yang telah ada pada kurun waktu tahun 1957 sampai dengan tahun 1967 dilakukan berdasarkan perangkat peraturan perundang-undangan yang mengatur keadaan darurat/khusus5, yang dikuasai Negara berdasarkan:6

1. Peraturan Penguasa Perang Pusat Nomor Prt/Peperpu/032/1958 junto Keputusan Penguasa Perang Pusat Nomor Kpts/Peperpu/0439/1958 junto Undang-Undang Nomor 50 Prp. Tahun 1960;

2. Penetapan Presiden Nomor 2 Tahun 1962;

3. Penetapan Presiden Nomor 4 Tahun 1962 junto Keputusan Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/Pemimpin Besar Revolusi Nomor 52/KOTI/1964;

4. Instruksi Radiogram Kaskogam Nomor T-0403/G-5/5/66.

ABMA/T merupakan aset yang dikuasai Negara yang berasal dari bekas milik perkumpulan-perkumpulan Cina yang dinyatakan terlarang dan dibubarkan dengan Peraturan Penguasa Perang Pusat. Perkumpulan-perkumpulan yang menjadi sasaran

3http://finance.detik.com/read/2012/12/03/110615/2107598/4/sejumlah-aset-bekas-milik- asing-china-diambil-alih-agus-marto, diakses tanggal 25 Februari 2015, berita yang ditulis oleh Wahyu Daniel berjudul “Sejumlah Aset Bekas Milik Asing/China Diambil Alih Agus Marto” dipublikasikan di website Finance Detik pada tanggal 3 Desember 2012.

4http://www.antaranews.com/berita/346503/aset-bekas-asing-dimantapkan-milik-negara, diakses tanggal 25 Februari 2015, berita ditulis oleh Ruslan Burhani berjudul “Aset Bekas Asing Dimantapkan Milik Negara” dipublikasikan pada wbsite Antara News pada tanggal 2 Desember 2012.

5 Menimbang huruf a Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 154/PMK.06/2011 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 188/PMK.06/2008 Tentang Penyelesaian Aset Bekas Milik Asing/Cina.

6 Pasal 1 angka 1 Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 154/PMK.06/2011 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 188/PMK.06/2008 Tentang Penyelesaian Aset Bekas Milik Asing/Cina.

(17)

aksi massa atau kesatuan-kesatuan aksi tahun 1965/1966 sebagal akibat keterlibatan RRC dalam pemberontakan G-30-S/PKI yang diterbitkan dan dikuasai oleh Penguasa Pelaksana Dwikora Daerah sehingga asetnya dikuasai Negara melalui Instruksi Radiogram Kaskogan Nomor T-0403/G-5/5/66.7

Perkumpulan-perkumpulan Asing atau Cina yang dinyatakan terlarang dan dibubarkan tersebut adalah:8

1. Perkumpulan-perkumpulan Cina yang dinyatakan terlarang dan dibubarkan dengan peraturan Penguasa Perang Pusat melalui Peraturan Penguasa Perang Pusat Nomor Prt/Peperpu/032/1958 junto Keputusan Penguasa Perang Pusat Nomor Kpts/Peperpu/0439/1958 junto Undang-Undang Nomor 50 Prp. Tahun 1960;

2. Perkumpulan/aliran kepercayaan asing yang tidak sesuai dengan kepribadian Bangsa Indonesia yang dinyatakan terlarang dan dibubarkan sesuai Penetapan Presiden Nomor 2 Tahun 1962;

3. Perkumpulan-perkumpulan yang menjadi sasaran aksi massa/kesatuan- kesatuan aksi tahun 1965/1966 sebagai akibat keterlibatan RRC dalam pemberontakan G.30.S/PKI yang ditertibkan dan dikuasai oleh Penguasa Pelaksana Dwikora Daerah sehingga asetnya dikuasai Negara melalui Instruksi Radiogram Kaskogam Nomor T-0403/G-5/5/66.

Jumlah ABMA/T tersebar di hampir seluruh penjuru wilayah Indonesia, baik di tingkat pusat, provinsi, kabupaten maupun kota, yang ditempati atau diduduki atau dikuasai oleh orang perseorangan atau suatu badan/lembaga tertentu. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor: 188/PMK.06/2008 Tentang Penyelesaian Aset Bekas Milik Asing/Tionghoa sebagaimana telah diubah melalui

7http://www.tni.mil.id/view-44861-danrem-101ant-terima-aset-milik-asing.html, diakses tanggal 26 Februari 2015, artikel berjudul “Danrem 101/Ant Terimakasih Aset Milik Asing”

dipublikasikan di website Tentara Nasional Indonesia pada tanggal 23 Januari 2013.

8 Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia 2010, “Laporan Hasil Pemeriksaan BPK RI Atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun 2010”, Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia, Laporan Nomor: 27a/LHP/XV/05/2011, Tanggal 24 Mei 2011, hal. 181.

(18)

PMK Nomor: 154/PMK.06/2011, terhadap ABMA/T tersebut harus dilakukan proses pemantapan status hukumnya.

ABMA/T yang ditempati/dimiliki oleh individu maupun organisasi terlarang tersebut secara otomatis tidak memiliki status hukum yang sah bagi penghuninya atau penguasanya, oleh karena itu harus dirampas atau dikembalikan kepada negara karena bertentangan dengan ideologi bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

Konsekuensi ideologi Pancasila yang berdasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa, berarti segala bentuk ideologi yang tidak mempercayai Ketuhanan Yang Maha Esa adalah dilarang dan tidak dibenarkan berkembang di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sesuai pula pada ketentuan Pasal 1 Ayat (3) UUD 1945 menegaskan bahwa Indonesia adalah negara hukum (rechtsstaat), bukan negara yang berdasarkan kekuasaan belaka (machtsstaat). Sekalipun negara menjamin kebebasan bagi setiap individu9

Sesuai Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Nomor: Tap- XXV/MPRS/1966 Tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, telah dinyatakan sebagai organisasi terlarang di Indonesia bagi Partai Komunis Indonesia dan larangan , tetapi dalam konsep negara hukum, negara harus mengatur kehidupan warga negaranya agar tidak bertindak sebebas-bebasnya tanpa batas dalam melakukan tindakan untuk memiliki sesuatu, penguasaan secara tidak sah merupakan perbuatan yang melanggar hukum.

9 Soerjono Soekanto, Sosiologi: Suatu Pengantar, Edisi Baru Keempat, Cetakan Kedua Belas (Jakarta: Rajawali Pers, Agustus 1990), hal. 129.

(19)

setiap kegiatan apapun untuk penyebaran dan mengembangkan ajaran atau paham komunisme (Marxisme-Leninisme). Baik secara langsung maupun tidak langsung ajaran ini bertentangan dengan ideologi Pancasila dan konstitusi UUD 1945.10

Sehubungan dengan kondisi pada masa itu etnis Cina banyak tersebar di Indonesia sehingga tidak memungkinkan dapat diangkut melalui kapal untuk keluar dari Indonesia khususnya dari Provinsi Sumut. Status hukum etnis Cina pada masa itu adalah sebagai warga yang tidak memperoleh pengakuan dari negara Indonesia. Etnis Cina yang sebelumnya menempati berbagai aset-aset organisasi terlarang kemudian mengembangkan diri dari berbagai aktifitas dagang hingga kini semakin bertambah banyak jumlahnya di Indonesia dan sejak masa mantan Presiden Gus Dur berkuasa, etnis Cina kemudian diakui sebagai warga negara Indonesia yang sah diakui oleh hukum.

Sehubungan dengan ideologi Pancasila dan konsep negara hukum (rechtsstaat) tersebut bila dikaitkan dengan tindakan penguasaan ABMA/T oleh individu atau kelompok tertentu adalah tindakan yang tidak sah, karena penguasaan terhadap ABMA/T merupakan penguasaan mutlak oleh negara. Oleh karena itu penguasaan terhadap ABMA/T adalah kewenangan absolut negara. Negara berwenang menyelesaikan untuk memperjelas status hukumnya apakah menjadi aset BMN atau BMD atau milik pihak ketiga yang diperoleh secara sah.

10 Lembaga Pertahanan Nasional, “Memperkokoh Nilai-Nilai Pancasila”, Jurnal Kajian Lemhanas Republik Indonesia, Edisi 14, Desember 2012, hal. 108.

(20)

Setelah dinyatakan perkumpulan-perkumpulan tersebut di atas dilarang berkembang di Indonesia, maka sejak itu aset-aset perkumpulan tersebut harus disita menjadi milik negara, namun dalam kurun waktu yang cukup lama (sejak peristiwa di tahun 1957 s/d 1967) hingga kini, aset-aset tersebut telah diduduki oleh orang perseorangan maupun lembaga-lembaga tertentu. Sebelum tahun 2008 penyelesaian ABMA/T dilakukan oleh Biro Hukum Pemerintah Daerah Provinsi, namun tidak memperoleh hasil. Pemantapan status ABMA/T ini kemudian disinergikan pada tahun 2008 dan sejak diterbitkannya PMK Nomor: 188/PMK.06/2008, DJKN Kementerian Keuangan mengambil alih tugas penyelesaian/pemantapan ABMA/T dari sebelumnya dilaksanakan oleh Biro Hukum pada setiap Provinsi.

Penguasaan terhadap ABMA/T yang cukup lama tersebut dikhawatirkan dapat menimbulkan maksud untuk memilikinya. Oleh sebab itu terhadap ABMA/T tersebut harus diperjelas atau dimantapkan status hukumnya apakah termasuk sebagai aset BMN atau aset BMD atau aset milik pihak ketiga yang sah. Proses pemantapan status ABMA/T ini diperlukan mekanisme yang jelas, tertib, terarah, dan akuntabel, serta komitmen negara dalam mengelola aset kekayaan negara. Oleh karena itu, DJKN Kementerian Keuangan mengambilalih tugas pemantapan status ABMA/T yang selama ini dilaksanakan oleh Biro Hukum Pemerintah Daerah Provinsi.

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor: 154/PMK.06/2011 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor:

188/PMK.06/2008 Tentang Penyelesaian ABMA/T, maka terhadap seluruh ABMA/T

(21)

yang tersebar di wilayah Indonesia harus dilakukan penyelesaian segera yang dilakukan dengan cara berikut ini:11

1. Dimantapkan status hukumnya menjadi BMN, atau 2. Dimantapkan status hukumnya menjadi BMD, atau

3. Dilepaskan penguasaannya dari Negara kepada pihak ketiga dengan cara pembayaran kompensasi kepada Pemerintah dengan menyetorkannya ke Kas Negara; atau

4. Dikembalikan kepada pemilik perorangan yang sah; atau 5. Dikeluarkan dari Daftar ABMA/T.

Dalam hal dilepaskannya kepemilikan ABMA/T kepada pihak ketiga (pihak ketiga dapat berupa orang perseorangan atau badan/lembaga) dengan cara pembayaran kompensasi tertentu kepada Pemerintah dan menyetorkannya ke Kas Negara. Dalam hal dihapuskannya atau dikeluarkan aset/objek tersebut dari Daftar ABMA/T dalam PMK Nomor: 188/PMK.06/2008 dengan pertimbangan aset tersebut terbukti milik pihak ketiga yang diperoleh secara sah.

Selain ideologi dan konsep negara hukum sebagai dasar dalam perampasan ABMA/T, pada Pasal 23 C dan Pasal 33 UUD 1945, Undang-Undang Nomor: 17 tahun 2003 Tentang Keuangan Negara, Undang-Undang Nomor: 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara, dan Peraturan Pemerintah Nomor: 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah (BMN/D), menentukan untuk menciptakan kepastian hukum dalam pengelolaan kekayaan negara, maka terhadap ABMA/T tersebut perlu dilakukan tertib administrasi, tertib fisik, dan tertib hukum

11 Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, “Sosioalisasi Peraturan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Nomor Per-4/KN/2012 Tentang Petunjuk Teknis Penyelesaian Penyelesaian Aset Bekas Milik Asing/Cina”, Medan: Kantor DJKN Subdit II, Direktorat Piutang Negara dan Kekayaan Negara Lain-Lain, Tahun 2012, hal. 4. Lihat juga Pasal 8 ayat (1) Peraturan Menteri Keuangan Nomor:

154/PMK.06/2011 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 188/PMK.06/2008 Tentang Penyelesaian Aset Bekas Milik Asing/Cina.

(22)

Barang Milik Negara (BMN) atau Barang Milik Daerah (BMD) untuk mendukung terselenggaranya tugas dan fungsi pengelolaan kekayaan negara.

Untuk mendukung terselenggaranya tugas dan fungsi pengelolaan kekayaan negara terutama untuk pengelolaan ABMA/T tersebut, Menteri Keuangan mengeluarkan PMK Nomor: 188/PMK.06/2008 Tentang Penyelesaian Aset Bekas Milik Asing/Tionghoa dan telah direvisi melalui PMK Nomor: 154/PMK.06/2011 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 188/PMK.06/2008.

Diterbitkan PMK Nomor: 188/PMK.06/2008 ini dimaksudkan untuk mewujudkan optimalisasi pengelolaan ABMA/T secara tertib, terarah, dan akuntabel untuk meningkatkan penerimaan negara dan/atau sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat.12

Untuk peraturan teknisnya Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) mengeluarkan Peraturan DJKN Nomor: Per-01/KN/2010 Tentang Petunjuk Teknis Penyelesaian Penyelesaian Aset Bekas Milik Asing/Cina, dan telah direvisi meluli Peraturan DJKN Nomor: Per-04/KN/2012 Tentang Perubahan Atas Peraturan DJKN Nomor: Per-01/KN/2010 Tentang Petunjuk Teknis Penyelesaian Penyelesaian Aset Bekas Milik Asing/Cina.

Amanat dari PMK Nomor: 188/PMK.06/2008 adalah membentuk Tim Penyelesaian Pusat (TPP) pada tingkat pusat dan Tim Asistensi Daerah (TAD) pada tingkat provinsi. TPP terdiri dari unsur instansi tingkat pusat yang dipimpin langsung

12 Kemenerian Keuangan Republik Indonesia, “Laporan Kinerja Departemen Keuangan 2004- 2009”, Menata Keuangan Negara Melalui Reformasi Birokrasi, Jakarta, September 2009, hal. 280.

(23)

oleh DJKN Kementerian Keuangan. Unsur instansi di tingkat pusat (TPP) ini terdiri dari:

1. Kementerian Keuangan,

2. Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, 3. Kementerian Pertahanan,

4. Kementerian Pendidikan Nasional, 5. Badan Intelijen Negara (BIN), 6. Badan Pertanahan Nasional (BPN), 7. Kejaksaan Agung, dan

8. Kepolisian Republik Indonesia.

Sedangkan pada tingkat Provinsi dibentuk Tim Asistensi Daerah (TAD). TAD adalah Tim Asistensi penyelesaian ABMA/T yang membantu tugas dan fungsi DJKN Kementerian Keuangan yang berada di tingkat wilayah/provinsi. Keanggotaan TAD terdiri dari unsur instansi tingkat daerah yaitu:13

1. Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan Republik Indonesia,

2. Pemerintah Provinsi dan/atau Kabupaten/Kota,

3. Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia,

4. Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi dan/atau Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota,

13 Pasal 17 Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 154/PMK.06/2011 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 188/PMK.06/2008 Tentang Penyelesaian Aset Bekas Milik Asing/Cina.

(24)

5. Komando Daerah Militer,

6. Badan Intelijen Negara Daerah (BINDA), 7. Kejaksaan Tinggi,

8. Kepolisian Daerah, dan 9. Kantor Pelayanan.

ABMA/T di Provinsi Sumatera Utara tersebar di beberapa tempat di kabupaten maupun kota. Kondisi penyelesaiannya saat ini ditunjukkan pada tabel berikut ini:14

Tabel 1

Kondisi Penyelesaian/Pemantapan ABMA/T di Provinsi Sumatera Utara

No. Kabupaten/Kota Jlh

Penyelesaian/Pemantapan

2013 2014

Selesai Sisa Selesai Sisa

1. Kota Medan 40 8 32 8 32

2. Kab. Deli Serdang 12 - 12 - 12

3 Kab. Serdang Bedagai 9 2 7 2 7

4. Kab. Karo 6 2 4 2 4

5. Kab. Dairi 1 1 - 1 -

6. Kota Binjai 3 - 3 - 3

7. Kab. Langkat 8 - 8 - 8

8. Kota Tebing Tinggi 4 4 - 4 -

9. Pematang Siantar 5 1 4 1 4

10. Kota Sibolga 4 1 3 1 3

11. Kab. Nias 5 3 2 3 2

12. Kab. Tapanuli Utara 3 2 1 2 1

13. Kab. Tapanuli Selatan 2 1 1 1 1

14. Kota Tanjung Balai 4 - 4 - 4

15. Kab. Asahan 15 4 11 4 11

16. Kab. Simalungun 9 1 8 1 8

14 Hady Purnomo (Kakanwil II DJKN Medan Sumut), “Rapat Koordinasi Tim Asistensi Daerah Sumatera Utara”, Kantor Wilayah DJKN Medan Provinsi Sumatera Utara, Tanggal 27 Agustus 2014, hal. 2.

(25)

17. Kab. Labuhan Batu 9 - 9 - 9 Total 139 30 109 30 109 Sumber: DJKN II Medan-Sumut 2014

Berdasarkan tabel tersebut tercatat 139 (seratus tiga puluh sembilan) ABMA/T yang berada di Provinsi Sumatera Utara. Capaian penyelesaian ABMA/T sampai dengan tahun 2013 dan tahun 2014 berjumlah 30 aset dari 139 aset. Pada tahun 2013 ABMA/T yang dimantapkan status hukumnya menjadi BMN berjumlah 10 aset sedangkan ABMA/T yang dimantapkan status hukumnya menjadi BMD berjumlah 20 aset, sisanya berjumlah 109 aset belum diselesaikan.15

Pada tahun sebelumnya yaitu tahun 2012 yang dimantapkan status hukumnya oleh TAD Sumut dari ABMA/T menjadi BMN berjumlah 8 aset dengan catatan 1 aset harus dilengkapi dengan data/dokumen, dan dimantapkan status hukumnya menjadi BMD berjumlah 2 aset, dikeluarkan dari Daftar ABMA/T berjumlah 2 (dua) aset, dan dikembalikan kepada TAD untuk diteliti kembali berjumlah 1 (satu) aset.

16

Tabel 2

Kondisi Objek Yang Belum Diselesaikan Dengan Kategori Penyelesaian ABMA/T di Provinsi Sumatera Utara

No. Kabupaten/Kota Telah Selesai

Objek Yang Belum Diselesaikan Dengan Kategori Penyelesaian

Total Sisa Objek BMN BMD Pihak

Ketiga

1. Kota Medan 8 3 9 20 32

2. Kab. Deli Serdang - - 9 3 12

3 Kab. Serdang Bedagai 2 - 2 5 7

4. Kab. Karo 2 - - 4 4

15 Ibid., hal. 1.

16 Kakanwil II DJKN Medan Sumut, “Evaluasi Penyelesaian ABMAC Tahun 2012”, Kantor Wilayah DJKN II Medan Provinsi Sumatera Utara, Tanggal 17 Desember 2012, hal. 1.

(26)

5. Kab. Dairi 1 - - - -

6. Kota Binjai - - - 3 3

7. Kab. Langkat - - 1 7 8

8. Kota Tebing Tinggi 4 - - - -

9. Pematang Siantar 1 - 2 2 4

10. Kota Sibolga 1 - 3 - 3

11. Kab. Nias 3 - 1 1 2

12. Kab. Tapanuli Utara 2 1 - - 1

13. Kab. Tapanuli Selatan 1 - 1 - 1

14. Kota Tanjung Balai - - 1 3 4

15. Kab. Asahan 4 1 5 5 11

16. Kab. Simalungun 1 1 1 6 8

17. Kab. Labuhan Batu - - 2 7 9

Total 30 6 37 66 109

Sumber: DJKN II Medan-Sumut 2014

Selama tahun 2014 tidak ada peningkatan jumlah ABMA/T yang dimantapkan statusnya oleh Tim Penilai, karena berhubungan dengan beberapa hambatan seperti hambatan dari pihak penghuni yang berdampak pada terhambatnya survei penilaian. Sebagai akibat dari hambatan ini, maka dengan sendirinya penilaian tidak dapat dilaksanakan. Hambatan juga berdampak pada perolehan data di lapangan akan menimbulkan kesulitan bagi Tim Penilai,17 namun pada tahun 2014 ada 20 (dua puluh) ABMA/T yang diajukan oleh TAD Sumut ke TPP untuk diverifikasi. Menteri Keuangan pada bulan Maret 2015 menetapkan dua aset dinyatakan telah selesai dimantapkan status hukumnya menjadi BMD yang berada di daerah Kabupaten Serdang Bedagai18

17 Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia 2010, Op. cit., hal. 386 dan hal. 413.

, sehingga total aset yang sudah selesai adalah 32 (tiga puluh dua) ABMA/T.

18 Dua aset yang dinyatakan telah selesai dimantapkan status hukumnya menjadi BMD tersebut didasarkan pada:

(27)

Hampir pada umumnya hambatan-hambatan atau kendala-kendala yang ditemukan oleh TAD sama pada setiap provinsi. Pada pelaksanaan penilaian terhadap ABMA/T di lapangan ditemukan kendala yang pada umumnya hambatan dari pihak penghuni. Hambatan dari pihak penghuni dalam pelaksanaan penilaian di lapangan menyebabkan Tim Penilai dari DJKN tidak dapat melaksanakan survei fisik atas aset yang dikuasai oleh penghuni atau pihak ketiga yang menempati.19 Penghuni tidak memperkenankan Tim Penilai DJKN masuk ke objek/aset yang akan dinilai. Dalam rangka penilaian aset, jika survei fisik aset tidak dapat dilakukan maka dengan sendirinya penilaian tidak dapat dilaksanakan.20

Selain hambatan dari pihak penghuni, persoalan lain yang menjadi hambatan dalam penyelesaian ABMA/T khususnya di Sumut adalah penguasaan aset oleh orang perseorangan (pihak ketiga) sudah ada yang memperoleh sertifikat dari BPN. Kondisi seperti ini semakin mempersulit TAD, pihak pemegang sertifikat semakin keras dan merasa dirinya berhak atas aset tersebut karena sertifikatnya dikeluarkan oleh pejabat

a. Salinan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 131/KM.6/2015 Tentang Penyelesaian Status Kepemilikan ABMA/T Kantor Koordinasi Pengawas Sekolah Serdang Bedagai, Kantor Kordinasi Penilik Sekolah Serdang Bedagai, Kantor Asosiasi Pengawas Seluruh Indonesia, Kantor PGRI Cabang Serdang Bedagai (DH. SMP Negeri Sei Rampah) Luas Tanah 2.847 m2 di Jalan Sudirman/Jalan Medan Tebing Tinggi (DH. Sei Rampah) Kelurahan Pekan Sei Rampah Kecamatan Sei Rampah Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara Dengan Cara Pemantapan Status Hukum Menjadi Barang Milik Daerah.

b. Salinan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 136/KM.6/2015 Tentang Penyelesaian Status Kepemilikan ABMA/T SMP Negeri 2 Perbaungan (DH. SMP Negeri Perbaungan) Luas Tanah 1.345 m2 di Jalan Cempaka Nomor 25 Kelurahan Simpang III Pekan Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai (DH, Kabupaten Serdang Bedagai) Provinsi Sumatera Utara Dengan Cara Pemantapan Status Hukum Menjadi Barang Milik Daerah.

19 Menteri Keuangan Republik Indonesia, “Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun 2009 (Audited)”, Jakarta, 2009, hal. 162 dan hal. 204.

20 Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia 2010, Loc. cit.

(28)

negara yang berwenang yaitu BPN. Di samping itu kurangnya respon dari Pemerintah Daerah (Pemda) setempat atau lembaga-lembaga negara lainnya untuk penyelamatan aset negara.

Kemudian ditemukannya perbedaan kondisi fisik misalnya perbedaan antara luas aset/objek di lapangan (fakta) dan luas yang terdapat di dalam PMK Nomor:

188/PMK.06/2008. Oleh sebabnya, sebagian aset yang menjadi target TAD Sumut sesuai PMK Nomor: 188/PMK.06/2008 tidak secara serta merta dengan mudah diselesaikan, masih diperlukan pengukuran dan kelengkapan dokumen lainnya, sehingga tidak dapat terselesaikan dengan cepat sesuai target, maka target tersebut ada yang dilanjutkan pada tahun berikutnya21

Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas terkait dengan ketentuan perundang-undangan yang mengatur tentang mekanisme pengelolaan ABMA/T, dan status hukum terhadap ABMA/T yang sudah dimiliki oleh perseorangan yang telah memperoleh sertifikat dari BPN, serta kendala-kendala yang ditemukan oleh TAD Provinsi Sumatera Utara dalam penyelamatan ABMA/T, maka ditetapkan “Status Hukum Keberadaan Aset Bekas Milik Asing/Tionghoa (ABMA/T) Di Provinsi Sumatera Utara” sebagai judul dalam penelitian ini.

. Ada pula beberapa aset/objek yang terdaftar di dalam PMK Nomor: 188/PMK.06/2008 tidak ditemukan di lapangan.

21https://www.djkn.kemenkeu.go.id/berita/detail/tad-wilayah-dki-jakarta-fokus-selesaikan- target-usulan-rekomendasi-penyelesaian-abmac, diakses tanggal 26 Februari 2015, artikel yang ditulis oleh Harry Budiarto berjudul “TAD DKI Jakarta Fokus Selesaikan Usulan Penyelesaian ABMA/C”

dipublikasikan pada website DJKN Kementerian Keuangan Republik Indonesia pada tanggal 12 Desember 2014.

(29)

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut di atas, dapat dirumuskan permasalahan yang diteliti adalah:

1. Bagaimana ketentuan perundang-undangan yang mengatur tentang pengelolaan aset negara khususnya ABMA/T?

2. Bagaimana status hukum terhadap ABMA/T yang sudah dimiliki oleh perseorangan dan telah memperoleh sertifikat dari BPN?

3. Apa saja kendala-kendala yang ditemukan oleh Tim Asistensi Daerah Provinsi Sumatera Utara dalam pemantapan status ABMA/T dan solusnya?

C. Tujuan Penelitian

Adapaun yang menjadi tujuan dilakukannya penelitian ini terhadap tiga rumusan masalah tersebut adalah:

1. Untuk mengetahui dan memahami ketentuan perundang-undangan yang mengatur tentang pengelolaan aset negara khususnya ABMA/T.

2. Untuk mengetahui dan menganalisis status hukum terhadap ABMA/T yang sudah dimiliki oleh perseorangan dan telah memperoleh sertifikat BPN.

3. Untuk mengetahui kendala-kendala yang ditemukan oleh Tim Asistensi Daerah Provinsi Sumatera Utara dalam pemantapan status ABMA/T dan solusinya.

(30)

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini dapat memberikan sejumlah manfaat, baik secara teoritis maupun secara praktis, manfaat tersebut adalah:

1. Secara teoritis, penelitian ini bermanfaat membuka paradigma berfikir dalam memahami dan mendalami permasalahan tentang status hukum Aset Bekas Milik Asing/Tionghoa (ABMA/T) yang sudah dimiliki oleh perseorangan dan telah memperoleh sertifikat dari BPN. Penelitian ini dapat pula menjadi bahan referensi bagi peneliti selanjutannya, menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang status hukum ABMA/T.

2. Secara praktis penelitian ini bermanfaat bagi Tim Penyelesaian Pusat (TPP), Tim Asistensi Daerah (TAD), Badan Pertanahan Nasional (BPN), Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Provinsi, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, masyarakat yang menguasai/menduduki ABMA/T khususnya di Sumut, aparat penegak hukum seperti Kepolisian, Kejaksaan, dan Pengadilan.

Manfaatnya bagi TPP, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Provinsi, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota adalah dapat mengetahui sejumlah kendala-kendala yang dihadapi oleh TAD di Provinsi Sumatera Utara, sehingga dapat memberikan rekomendasi konsep-konsep penyelesaian yang lebih baik, terarah, dan akuntabel serta dapat menjembatani dan mendukung proses penyelesaian ABMA/T dengan pihak yang mendudukinya. Manfatnya bagi TAD adalah memberikan gambaran dan pedoman bagi anggota TAD itu sendiri. Manfaatnya bagi BPN adalah dapat mendukung terselenggaranya

(31)

proses pemantapan ABMA/T dengan jujur, transparan, dan bertanggung jawab dalam memberikan dokumen-dokumen tentang objek. Manfaatnya bagi aparat penegak hukum adalah dapat mengetahui dengan jelas tentang status hukum ABMA/T yang selama ini belum jelas status hukumnya sehingga bila timbul perkara perdata maupun pidana terkait aset/objek ABMA/T tidak lagi menimbulkan bukti-bukti palsu tentang aset/objek tersebut.

E. Keaslian Penelitian

Untuk menghindari terjadinya tindakan plagiat terhadap karya ilmiah (tesis) milik orang lain, sebelumnya telah dilakukan penelusuran terhadap karya-karya ilmiah milik orang lain di perpustakaan Universitas Sumatera Utara dan di perpustakaan Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara. Hasil penelusuran tidak ditemukan judul dan permasalahan tesis yang sama dengan judul dan perumusan masalah dalam penelitian ini.

Sehingga dengan demikian penelitian ini menunjukkan dan memperlihatkan originalisasi (keaslian) penelitian karena judul dan rumusan masalah di dalam penelitian ini tidak memiliki kemiripan dengan judul dan permasalahan penelitian sebelumnya, sehingga penelitian ini adalah asli dan jauh dari unsur plagiat terhadap karya tulis orang lain.

(32)

F. Kerangka Teori dan Landasan Konsepsional 1. Kerangka Teori

Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia mengakui dan mempercayai nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan ideologi yang menentang Tuhan. Oleh karena itu segala bentuk aliran atau perkumpulan apapun yang berkembang di Indonesia yang tidak tunduk pada ideologi Pancasila dilarang berkembang, karena tidak sesuai dengan falsafah bangsa Indonesia.

Sejak dinyatakannya ideologi komunis dilarang di Indonesia, maka semua aset-aset milik organisasi atau perkumpulan-perkumpualn terlarang harus dirampas oleh negara dan menjadi milik negara, namun dalam kurun waktu yang cukup lama (sejak peristiwa di tahun 1957 s/d 1967) hingga kini, aset-aset tersebut telah diduduki oleh orang perseorangan maupun lembaga-lembaga atau badan-badan tertentu yang belum memiliki status hukum yang sah.

ABMA/T yang ditempati/dimiliki oleh individu maupun organisasi terlarang tersebut secara otomatis tidak memiliki status hukum yang sah bagi penghuninya atau penguasanya. Untuk dapat memastikan kedudukan hukum dari ABMA/T di Indonesia khususnya di Kota Medan, maka oleh karena itu teori yang digunakan dalam menganalisis status hukum keberadaan ABMA/T dalam penelitian ini digunakan teori kepastian hukum, sehingga status hukum pemilik sah dari ABMA/T menjadi jelas.

Kepastian hukum sekaligus membedakan sistim eropa kontinental (civil law) dengan sistim anglo saxon (common law). Sistim eropa kontinental mendasarkan hukum pada hukum tertulis atau hukum yang sudah ditetapkan di dalam undang-

(33)

undang, sedangkan pada sistim anglo saxon mendasarkan hukum pada yurisprudensi yang bersifat individual case. Meskipun dirasakan masih sangat tidak adil, kepastian hukum dalam sistim eropa kontinental lebih baik daripada sistim anglo saxon.22

Kepastian hukum mempersyaratkan bagi suatu organisasi dan fungsi sistem hukum dalam rangka untuk memastikan status hukum pribadi. Kepastian hukum bertujuan untuk melindungi hak-hak subjek hukum dari gangguan subjek hukum lainnya.

Kepastian hukum dalam sistem eropa kontinental (positivistik) merupakan prioritas utama dalam negara hukum meskipun dirasakan sangat tidak adil.

23 Doktrin H.L.A. Hart tentang kepastian hukum menolak konsepsi penuh dengan cara tekstur hukum yang terbuka, menurutnya harus selalu ada aturan sebelumnya untuk setiap kasus (always there are previous rules for every case).

Tugas peradilan mencari aturan-aturan hukum harus bersandar pada hukum yang sudah ada aturannya.24

Dianutnya asal legalitas dalam suatu negara hukum membuktikan bahwa negara itu memposisikan kepastian hukum lah yang harus dikedepankan, artinya bila tidak ada hukum yang mengatur tentang sesuatu hal, maka dianggap tidak ada kepastian hukum dalam penegakan hukum, atau bilapun hukum harus ditegakkan Konsep kepastian hukum dapat diaktualisasikan dari dianutnya asas legalitas suatu negara hukum.

22 Paul Heinrich Neuhaus, Legal Certainty Versus Equity in the Conflict of Laws, (German:

University of Hamburg, tanpa tahun), hal. 795-797. Paul Heinrich Neuhaus is honorary Professor of Law in University of Hamburg.

23 Bronislav Totskyi, “Legal Certainty as A Basic Principle of the Land Law of Ukraine”, Journal Jurisprudence, Vol. 21 No.1 Tahun 2014, hal. 207.

24 J. Alberto del Real Alcala, “The Ideal of the Certainty in Law: The Skin and the Heart of Law”, Paper Series No. 103 / 2012 Series D, 25th IVR World Congress Law Science And Technology Frankfurt am Main 15-20 August 2011, hal. 2-3.

(34)

juga pada kondisi yang demikian, maka prinsip kepastian hukum harus dikesampingkan. Biasanya hukum yang ditegakkan pada kondisi dengan ketiadaan peraturan didasarkan pada norma-norma hukum adat atau hukum moral yang hidup dan berkembang dalam pergaulan masyarakat.

Kepastian hukum yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kepastian hukum yang sejalan dengan asas/prinsip legalitas dalam sistem eropa kontinental, untuk melihat status hukum yang jelas terhadap ABMA/T yang telah dirampas oleh negara sejak peristiwa di tahun 1957 s/d 1967. Bilamana hukum akan ditegakkan terhadap ABMA/T, maka harus ada aturan yang mengaturnya, sehingga aturan itu secara pasti akan dilaksanakan. Bila tidak dilaksanakan, maka hukum itu akan mengandung norma-norma yang mati yang pada gilirannya akan menimbulkan ketidakpastian hukum dan ketidakadilan hukum.

Akan tetapi ada kalanya kata-kata atau kalimat dalam sebuah undang-undang tentang apa yang diperintahkan undang-undang tersebut dalam suatu kasus tertentu bisa jadi jelas sekali dan bisa pula tidak jelas, sehingga ada keraguan terkait dengan penerapannya. Keraguan itu terkadang dapat diselesaikan melalui interpretasi atas peraturan hukum lainnya. Hal ini menurut H.L.A Hart dalam bukunya berjudul ”The Concept of Law” merupakan suatu ketidakpastian (legal uncertainty) dalam undang- undang.25

25 H.L.A Hart, The Concept of Law, (New York: Clarendon Press-Oxford, 1997) diterjemahkan oleh M. Khozim, Konsep Hukum, (Bandung: Nusamedia, 2010), hal. 230.

(35)

Untuk lebih jelasnya memahami teori tentang kepastian hukum dapat direnungkan konsep-konsep hukum dalam teori hukum positif dalam pandangan Hans Kelsen dan Jeremy Bentham. Kedua pemikir ini saling berbeda dalam memaknai hukum positif sebagai suatu kepastian hukum. Ketika seseorang berhaluan pada Hans Kelsen, maka analisis positivistiknya akan bersifat top down, dan ketika yang lain berhaluan pada Jeremy Bentham, maka analisis positivisitiknya akan bersifat botton up.26

Kedua pandangan tersebut mungkin para sarjana hukum sudah memahami tentang perbedaan itu. Jika melihat kepastian hukum berdasarkan analisis top down, maka analisis tersebut akan melihat kepastian hukum sesuai dengan apa yang ditentukan dalam undang-undang yang sifatnya harus dipaksakan berlaku, tetapi jika melihat kepastian hukum berdasarkan analisis botton up, maka analisis tersebut akan melihat kepastian hukum bukan hanya ditentukan dalam undang-undang melainkan lebih luas daripada itu.

27

Antara Hans Kelsen dan Jeremy Bentham selalu bertentangan memaknai konsep hukum dalam sistim eropa kontinental (civil law). Hans Kelsen sebagai aliran keras menentang hukum moral dimasukkan dalam undang-undang28

26 Achmad Ali, Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicialprudence) Termasuk Interpretasi Undang-Undang (Legisprudence), (Jakarta: Kencana, 2009), hal. 106.

, sedangkan

27 Ibid.

28 Hans Kelsen, Pengantar Teori Hukum, diterjemahkan oleh Siswi Purwandari, (Bandung:

Nusa Media, 2009), hal. 37-38.

(36)

Jeremy Bentham29

Berdasarkan PMK Nomor: 154/PMK.06/2011 Tentang Perubahan Atas PMK Nomor: 188/PMK.06/2008 Tentang Penyelesaian ABMA/T, maka terhadap seluruh ABMA/T yang tersebar di wilayah Indonesia harus dilakukan pemantapan status hukum ABMA/T menjadi BMN, atau menjadi BMD, atau dilepaskan penguasaannya dari negara kepada pihak ketiga dengan cara pembayaran kompensasi kepada Pemerintah dengan menyetorkannya ke Kas Negara; atau dikembalikan kepada pemilik perorangan yang sah; atau dikeluarkan dari Daftar ABMA/T.

memandang hukum moral penting dinormatifkan dalam undang- undang tertulis. Kedua perbedaan ini tidak menjadi inti pembicaraan, namun yang lebih penting adalah bagaimana konsep hukum positivistik menjadi dasar legislator dalam menjamin di negara Indonesia ada kepastian hukum.

30

Sehingga dengan pemantapan status hukum ABMA/T tersebut akan menjadi lebih jelas dan pasti siapa yang berhak atas ABMA/T tersebut. Sehubungan dengan itu, Peter Mahmud Marzuki menegaskan positivistik merupakan konsep hukum yang pasti artinya sistem civil law memfokuskan pada hukum tertulis, sedangkan sistim common law memfokuskan pada hukum tidak tertulis yang wujudnya dalam bentuk yurisprudensi.31

29 Ian Saphiro, Asas Moral dalam Politik, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia Bekerjasama Dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat Jakarta dan Fredom Institute, 2006), hal. 13.

Sehingga ketika membicarakan tentang kepastian hukum, maka sistim hukum yang lebih pasti itu ada pada sistem civil law.

30 Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Loc. cit.

31 Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta: Jakarta, 2009), hal. 286 dan hal.

294.

(37)

Yurisprudensi diwajibkan dalam sistim common law, yang dikenal dengan asas preseden dalam doktrin stare decisis (hakim kemudian wajib mengikuti hakim terdahulu), sedangkan asas preseden dalam sistim civil law tidak diwajibkan tetapi tidak menutup kemungkinan hakim-hakim pengadilan yang menganut civil law system untuk menggunakan asas preseden ini. Demikian sebaliknya, asas legalitas

dalam sistem civil law sudah mulai berangsur-angsur diterapkan di negara-negara common law system.32

Teori kepastian hukum dalam Peter Mahmud Marzkui, menyebut aturan hukum yang bersifat umum menjadi batasan bagi masyarakat dalam melakukan tindakan terhadap individu lain. Sudah menjadi suatu kenyataan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat diperlukan aturan agar dapat melindungi kepentingan masyarakat, namun menurutnya tidak semua ketentuan di dalam undang-undang mampu mengakomodasi semua kepentingan masyarakat, oleh karena itu setidaknya legislator membuat aturan-aturan hukum yang bersifat umum.

Ini menandakan bahwa kepastian hukum itu begitu penting yang semata-mata tujuannya untuk memberikan pedoman bagi masyarakat dan melindungi kepentingan-kepentingan masyarakat.

33

Peter Mahmud Marzuki memandang ketika terjadi kekosongan undang- undang atau kekosongan aturan di dalam undang-undang, maka harus diserahkan kepada kebijaksanaan hakim dengan menerapkan kebebasannya atau diskresinya bila

32 Ibid., hal. 159.

33 Ibid., hal. 157.

(38)

perlu menemukan hukumnya. Sehingga tidak ada alasan untuk mengatakan, tidak ada undang-undang yang mangaturnya.34

Hans Kelsen menyebut tidak ada kekosongan hukum tetapi yang ada hanya kekosongan undang-undang. Ketika suatu undang-undang tidak ada mengatur tentang sesuatu hal, maka biasanya diserahkan pada kebijaksanaan hakim berdasarkan keyakinannya. Pandangan seperti ini ditentang oleh Hans Kelsen.35

Masalah kepastian hukum menjadi perdebatan ketika memperhatikan kasus- kasus tertentu, terutama di kalangan para praktisi hukum maupun kalangan akademisi yang menanggapinya secara berbeda-beda.

Hans Kelsen menentang menyerahkan kebijaksaan itu pada hakim pengadilan. Penentangan Kelsen ini semakin memperkuat doktrinnya tentang kepastian hukum adalah kepastian undang-undang.

36

Kepastian hukum dalam suatu undang-undang berarti menghendaki kepastian dalam perumusan norma dan prinsip hukum yang tidak bertentangan antara satu dengan yang lainnya baik dari pasal-pasal undang-undang itu secara keseluruhan Itu sebabnya dengan munculnya PMK Nomor: 154/PMK.06/2011 Tentang Perubahan Atas PMK Nomor: 188/PMK.06/2008 Tentang Penyelesaian ABMA/T yang dikeluarkan oleh Menteri Keuangan dimaksudkan untuk memberikan jaminan kepastian hukum atas status ABMA/T yang sudah banyak dimiliki oleh pihak ketiga, bahkan ada yang sudah memiliki sertifikat dari BPN.

34 Loc. cit.

35 Hans Kelsen, Op. cit., hal. 135-137.

36 Faisal, Menerobos Positivisme Hukum, (Bekasi: Gramata Publishing, 2012), hal. 162.

(39)

maupun kaitannya dengan pasal-pasal lainnya yang berada di luar undang-undang tersebut. Kepastian hukum juga menghendaki suatu kepastian dalam melaksanakan norma-norma dan prinsip-prinsip hukum yang telah ditentukan dalam undang-undang untuk diimplementasikan dalam parktek.

Jika perumusan norma dan prinsip hukum itu sudah memiliki kepastian hukum di dalam undang-undang tetapi hanya berlaku secara yuridis saja (law in the books) dalam arti hanya demi undang-undang semata, maka kepastian hukum itu

tidak akan pernah menyentuh kepada masyarakatnya. Peraturan hukum yang demikian itu bisa disebut sebagai norma hukum yang mati atau hanya sebagai penghias yuridis dalam kehidupan manusia.

Kepastian hukum dalam suatu undang-undang, meliputi kepastian dalam perumusan norma dan prinsip hukum yang tidak bertentangan antara satu dengan yang lainnya baik dari pasal-pasal undang-undang itu secara keseluruhan maupun kaitannya dengan pasal-pasal lainnya yang berada di luar undang-undang tersebut, dan kepastian dalam melaksanakan norma-norma dan prinsip-prinsip hukum undang- undang tersebut. Jika perumusan norma dan prinsip hukum hanya berlaku secara yuridis dalam undang-undang semata dan tidak diterapkan dalam praktik, ini tepatnya disebut sebagai norma hukum yang mati atau hanya sebagai penghias yuridis dalam kehidupan manusia.

Bekerjanya TPP dan TAD dalam menyelesaikan ABMA/T di Indonesia khususnya di Sumut untuk menghidupkan norma hukum yang terkandung di dalam PMK Nomor: 154/PMK.06/2011 Tentang Perubahan Atas PMK Nomor:

(40)

188/PMK.06/2008 Tentang Penyelesaian ABMA/T yang dikeluarkan oleh Menteri Keuangan tersebut agar tidak menjadi norma yang mati, dan untuk memberikan jaminan kepastian hukum atas status ABMA/T yang sudah banyak tidak dimiliki status hukum yang jelas.

Menurut Mahmul Siregar, kepastian hukum itu harus meliputi seluruh bidang hukum. Dengan demikian kepastian hukum tidak saja meliputi kepastian hukum secara substansi tetapi juga kepastian hukum dalam penerapannya (hukum acara) dalam putusan-putusan badan peradilan.37 Menurut Cicut Sutiarso, kepastian hukum berdasarkan keadilan harus selalu ditanamkan untuk menciptakan budaya hukum yang tepat waktu.38

Pendapat A. Booth dan P. Mc. Cawley yang dikutip oleh Mahmul Siregar, mengatakan “Tiap regulasi sepertinya menimbulkan regulasi uraian yang lain sehingga pada akhirnya para pejabat rendah di kantor-kantor daerah dan pelabuhan merasa bebas, bahkan harus menetapkan hal yang samar-samar dengan mengeluarkan regulasinya sendiri”.

39

Kepastian hukum dalam pengertian substantif harus pula didukung oleh kepastian hukum dalam struktur penegakan hukum. Dalam hal yang terakhir ini Otoritas tertentu bisa menentapkan peraturan yang samar- samar dalam kegaitan perdagangan, inilah suatu ketidakpastian hukum.

37 Mahmul Siregar, “Kepastian Hukum Dalam Transaksi Bisnis Internasional dan Implikasinya Terhadap Kegiatan Investasi di Indonesia”, (Medan: Fakultas Hukum USU, tanpa tahun), hal. 4.

38 Cicut Sutiarso, Pelaksanaan Putusan Arbitrase Dalam Sengketa Bisnis, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2011), hal. 160.

39 A. Booth dan P. Mc. Cawley yang dikutip oleh Mahmul Siregar, “Kepastian Hukum…Op.

cit., hal. 3.

(41)

penerapan kaidah hukum dan peraturan perundang-undangan dalam peristiwa konkrit melalui putusan-putusan badan peradilan menjadi faktor sorotan adanya kepastian hukum. Pada perspektif ini dunia peradilan lah yang memberikan citra pada kepastian hukum.40

Bronislav Totskyi telah menyebutkan tujuan kepastian hukum adalah untuk melindungi hak-hak subjek hukum dari gangguan subjek hukum lainnya.

41 Tujuan hukum menurut Fitzgerald untuk mengintegrasikan dan mengordinasikan berbagai kepentingan dalam masyarakat, dengan cara membatasinya, karena dalam suatu lalu lintas kepentingan, perlindungan terhadap kepentingan pihak tertentu hanya dapat dilakukan dengan cara membatasi kepentingan di lain pihak.42

Sepintas dari pendapat Fitzgerald di atas menginformasikan suatu perlindungan terhadap kepentingan pihak tertentu hanya dapat dilakukan dengan cara membatasi kepentingan di lain pihak. Pembatasan itu dilakukan bagi pihak yang tidak berhak atau tidak berkepentingan terhadap kepemilikan ABMA/T, sekalipun mereka telah lama menduduki atau menempati ABMA/T bukan berarti mereka memilikinya yang dapat digunakan seperti layaknya sebuah hak milik pribadi.

Sistem pendaftaran tanah mengenal sistim negatif dan sistim positif. Sistim negatif maksudnya adalah Negara tidak menjamin kebenaran data yang disajikan dalam sertipikat, oleh karena itu belum tentu seseorang yang telah tertulis namanya

40 Ibid., hal. 5.

41 Bronislav Totskyi, Op. cit, hal. 207-208.

42 Fitzgerald dalam Muhammad Syaifuddin, Menggagas Hukum Humanistis-Komersial:

Upaya Perlindungan Hukum Hak Masyarakat Kurang dan Tidak Mampu atas Pelayanan Kesehatan di Rumah sakit Swasta berbadan Hukum Perseroan Terbatas, (Jakarta: Bayu Media Publishing, 2009), hal. 16.

(42)

pada sertipikat adalah mutlak sebagai pemilik, sedang sistim positif adalah sebaliknya.43

Pendaftaran tanah di seluruh Indonesia sesuai Pasal 19 ayat (1) UUPA bertujuan adalah untuk menjamin kepastian hukum. Menurut penjelasan dari pasal ini pelaksanaan kegiatan pendaftaran tanah merupakan kewajiban dari Pemerintah bertujuan menjamin kepastian hukum yang bersifat rechtscadaster, yaitu untuk kepentingan pendaftaran tanah saja dan hanya mempermasalahkan apa yang menjadi haknya dan siapa pemiliknya, bukan untuk kepentingan lain seperti perpajakan.

Sekalipun ABMA/T telah beralih dan diduduki serta telah dikuasai oleh orang lain atau pihak ketiga bukan berarti orang yang memiliki bukti terhadap ABMA/T itu adalah pemilik sahnya. Berdasarkan stelsel hukum pertanahan yang menganut stelsel negatif, orang yang tertera di dalam surat bukti kepemilikan atas tanah belum tentu sebagai pemilik yang sebenarnya.

44

Pendaftaran tanah selain berfungsi untuk melindungi pemilik, juga berfungsi untuk mengetahui status sebidang tanah, siapa pemiliknya, apa haknya, berapa luasnya, untuk apa dipergunakan dan sebagainya.45

43 AP. Parlindungan, Pencabutan dan Pembebasan Hak Atas Tanah Suatu Studi Perbandingan, (Bandung: Mandar Maju, 1993), hal. 5.

Keharusan bagi pemegang hak mendaftarkan tanahnya dimaksudkan agar menjadikan kepastian hukum bagi mereka dalam arti demi kepastian hukum bagi pemegang haknya. Oleh karena pendaftaran atas setiap peralihan, penghapusan dan pembebanannya, pendaftaran pertama kali atau karena konversi atau pembebanannya akan banyak menimbulkan komplikasi

44 AP. Parlindungan, Pendaftaran Tanah di Indonesia, (Bandung: Mandar Maju, 1994), hal.

13.

45 Chadidjah Dalimunthe, Pelaksanaan Landreform di Indonesia dan Permasalahannya, (Medan: FH USU, 2000), hal. 132.

(43)

hukum jika tidak didaftarkan, apalagi pendaftaran tersebut merupakan bukti yang kuat bagi pemegang haknya.46

Itulah sebabnya pendaftaran tanah diselenggarakan dengan tujuan agar dapat menjamin kepastian hukum untuk terhadap hak atas tanah. Kepastian dari pemilik, letak, batas, luas dan jenis hak atas tanahnya.47

Kelemahan dari stelsel negatif antara lain: buku tanah tidak memberikan jaminan yang mutlak; peranan yang pasif dari pejabat balik nama; mekanisme yang sulit dan sukar dimengerti oleh orang-orang biasa. Sedang keuntungan yang mendasar dalam stelsel negatif adalah adanya perlindungan pada pemilik yang sebenarnya.

Kemudian bila dilihat keberatan yang terdapat dalam stelsel positif, antara lain:

peranan aktif pejabat-pejabat balik nama akan memakan waktu yang lama; pemilik yang berhak dapat kehilangan haknya di luar kesalahannya dan di luar perbuatannya;

Secara prinsip sesungguhnya sistim manapun yang digunakan sebenarnya tidak menjadi persoalan, karena baik sistim negatif maupun sistim positif sama-sama memiliki keuntungan dan kelemahan.

Barangkali negara tidak menganut secara mutlak negatif dan tidak pula positif, mengingat tanah di Indonesia saat ini lebih banyak belum terdaftar dan tunduk pada hukum adat yang tidak mementingkan pendaftaran tanahnya.

46 AP. Parlindungan, Pendaftaran…..Op. cit., hal. 11.

47 Badan Pertanahan Nasional, Himpunan Karya Tulis Pendaftaran Tanah, (Jakarta, BPN, 1999), hal. 27.

(44)

apa yang menjadi wewenang pengadilan diletakkan di bawah kekuasaan administratif.48

Keuntungan dari stelsel positif adalah: menjamin dengan sempurna nama yang terdaftar dalam buku tanah tidak dapat dibantah walaupun ia ternyata bukan pemilik yang berhak atau kepada nama yang terdaftar dalam buku tanah diberikan kepercayaan yang mutlak, pejabat balik nama memainkan peranan yang sangat aktif, hak-hak yang didaftar itu dapat didaftar bila formalitas-formalitas yang diperlukan telah dipenuhi atau tidak, serta identitas para pihak memang orang yang berwenang.49

Sistem pendaftaran tanah di Indonesia sering juga dikategorikan menganut sistem campuran keduanya, yaitu sistem negatif yang bertendensi positif, maksudnya negara tidak menjamin mutlak kebenaran data yang disajikan dalam sertipikat, namun selama tidak ada orang lain yang mengajukan gugatan ke pengadilan yang merasa lebih berhak, maka data dalam sertipikat adalah tanda bukti hak yang kuat (vide:

Pasal 19 ayat 2 UUPA).

Bukti di Indonesia menganut sistem negatif bertendensi positif adalah dilakukannya pemeriksaan tanah oleh Panitia Pemeriksaan Tanah A (untuk hak milik, hak guna bangunan dan hak pakai) dan Panitia B (untuk hak guna usaha), artinya Kantor Pertanahan tidak akan serta-merta menerima permohonan pendaftaran tanah

48 Mariam Darus Badrulzaman, Mencari Sistem Hukum Benda Nasional, (Bandung: Alumni, 1997), hal. 59.

49 Ibid, hal. 59-60.

(45)

dari setiap orang, tetapi selalu harus melalui suatu mekanisme pemeriksaan oleh Panitia A dan Panitia B.50

Stelsel hukum pertanahan di Indonesia menganut stelsel negatif. Orang yang tertera di dalam surat bukti kepemilikan atas tanah belum tentu sebagai pemilik yang sebenarnya. Kira-kira prinsip-prinsip, batasan-batasan dalam sistim pendaftaran tanah yang dimaksud tersebut di atas dan prinsip perlindungan terhadap kepentingan pihak tertentu sebagaimana menurut Fitzgerald tersebut di atas berkorelasi dengan dalil Roscou Pound yang mengemukakan bahwa hukum merupakan alat rekayasa sosial (law as tool social enggineering). Kepentingan manusia merupakan suatu tuntutan yang dilindungi dan dipenuhi manusia dalam bidang hukum. Kepentingan manusia yang dilindungi itu antara lain: kepentingan umum (public interest), kepentingan masyarakat (social interest), dan kepentingan individual (private interest).51

Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum di Indonesia bila dikaitkan dengan permasalahan status hukum ABMA/T di Indonesia sesuai Pasal 23 C dan Pasal 33 UUD 1945, maka ABMA/T dapat dikategorikan sebagai keuangan negara. Sehubungan dengan itu Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor: 17 tahun 2003 Tentang Keuangan Negara, menegaskan yang dimaksud dengan keuangan negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara.

50 AP. Parlindungan, Pendaftaran….Op. cit., hal. 116.

51 Salim, H.S., dan Erlies Septiana Nurbaini, Penerapan Teori Hukum Pada Penelitian Tesis dan Disertasi, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2013), hal. 266.

(46)

Segala keuangan negara yang dapat dinilai berupa uang maupun barang dimasukkan ke dalam perbendahaaraan negara sebagaimana diatur dalam Undang- Undang Nomor: 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara. Tata cara pengelolaan BMN/BMD diatur dalam PP Nomor: 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah (BMN/D), yang menegaskan dalam Pasal 1 angka 1 dan angka 2 dalam PP ini yang dimaksud dengan barang milik negara/daerah adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN/APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah.

Salah satu BMN/BMD yang berasal dari perolehan lainnya yang sah adalah harta rampasan negara yang dalam hal ini adalah ABMA/T. Untuk mengakomodir pemantapan status ABMA/T ini, Menteri Keuangan mengeluarkan PMK Nomor:

188/PMK.06/2008 Tentang Penyelesaian Aset Bekas Milik Asing/Cina, yang kemudian diubah melalui PMK Nomor: 154/PMK.06/2011. Secara teknis pemantapan/penyelesaian ABMA/T ini diatur dalam Peraturan DJKN Kementerian Keuangan Nomor: Per-01/KN/2010 Tentang Petunjuk Teknis Penyelesaian Penyelesaian Aset Bekas Milik Asing/Cina, yang telah diubah melalui Peraturan DJKN Nomor: Per-04/KN/2012.

2. Landasan Konsepsional

Landasan konsepsional digunakan untuk menghindari terjadinya penafsiran dan pemahaman yang saling berbeda dalam menafsirkan istilah-istilah yang dipergunakan di dalam penelitian ini. Istilah-istilah yang digunakan adalah:

Referensi

Dokumen terkait

Ekspansi perkebunan kelapa sawit yang telah memasuki kawasan TNTN merupakan potensi besar terjadinya perubahan peruntukan lahan dan sumberdaya yang akan berdampak secara

Penelitian ini bertujuan untuk mendesain pembelajaran virtual untuk meningkat- kan efektifitas pembelajaran pada madrasah negeri di Kota Parepare. Metode pengumpulan data

Garapan musikal pada Langgam Campursari karya Manthous, pola tabuhan instrumen struktural musik gamelan diikuti secara relatif taat atau ketat dengan menggunakan

Adapun saran- saran yang peneliti ajukan setelah pelaksanaan penelitian kepada : 1.Kepala Sekolah Berdasarkan hasil penelitian dapat dijadikan kepala sekolah agar

Az ifjúkori levelezésekből tudni lehet, hogy Jászi Oszkár, Szabó Ervin és elvbarátaik – vagy a nemzedék más kiválóságai, mint Horváth János, Szekfű

Penelitian ini berfokus pada penggemar yaitu K-Popers dan idolnya yang berasal dari Korea Selatan serta bagaimana Perilaku Komunikasi K-Popers dalam Interaksi

Formula optimum sediaan krim pelembab ekstrak kering kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dapat diperoleh menggunakan konsentrasi kombinasi asam stearat 14,02% dan

fungsikan bukan hanya menerima data dari penggunaan konsumsi listrik tetapi dapat mengirim data [13], maka sistem keamanan yang terdapat pada smart meter ini harus terkelola dengan