BAB II WAKAF DAN RUISLAG MENURUT HUKUM ISLAM DAN
B. Wakaf dan Ruislag Menurut Perundang-undangan
5. Mekanisme Ruislag atau Perubahan Status Harta Benda Wakaf
Dalam pembahasan harta benda wakaf mempunyai karakteristik unik dan berbeda dengan lainnya yang menjadikannya layak sebagai modal abadi umat. Hal tersebut terletak pada keharusan untuk menjaga atau merawat keutuhannya dan mengelolanya secara produktif. Dari hasil pengelolaan secara produktif itulah, diharapkan akan muncul keuntungan yang bisa dimanfaatkan atau didistribusikan kepada umat.
Dengan alasan itulah, Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf Pasal 40 menyatakan bahwa harta wakaf tidak boleh (1) dijadikan jaminan, (2) disita, (3) dihibahkan, (4) dijual, (5) diwariskan, (6) ditukar atau diruislag, maupun (7) dialihkan dalam bentuk pengalihan hak lainnya.
Tetapi, apabila harta wakaf (terutama tanah) hendak akan digunakan untuk kepentingan umum yang sesuai dengan rencana umum tata ruang (RUTR) dan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan, serta hal itu tidak bertentangan dengan aturan syariat Islam, harta atau benda wakaf tersebut bisa ditukar dengan harta lain yang nilainya minimal sepadan. Seperti contoh tanah wakaf yang terkena proyek pembangunan jalan bisa ditukar dengan tanah lain yang nilainya minimal sepadan dengan harta wakaf tersebut.
Kemudian pada Pasal 41 ayat 2 UU Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf dan Pasal 49 ayat 1 PP Nomor 41 Tahun 2006 menjelaskan, penukaran harta benda wakaf bisa dilakukan setelah ada izin tertulis dari Kementerian Agama berdasarkan persetujuan Badan Wakaf Indonesia (BWI).
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Divisi Kelembagaan Badan Wakaf Indonesia, prosedur penukaran (ruislag) harta benda wakaf adalah sebagai berikut:46
a. Nazhir mengajukan permohonan tukar ganti (ruislag) kepada Menteri Agama melalui KUA dengan menjelaskan alasan-alasannya.
b. Kepala KUA kecamatan meneruskan permohonan ruislag kepada Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota.
c. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota kemudian membentuk tim penilai harta benda wakaf dan harta penukarnya.
d. Bupati/walikota kemudian membuat surat keputusan berdasarkan penilaian dari tim penilai tersebut.
e. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota kemudian meneruskan permohonan ruislag dengan melampirkan hasil penilaian tim penilai kepada Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi. f. Kepala Kantor Kementerian Agama Provinsi kemudian meneruskan
permohonan ruislag kepada Menteri Agama melalui Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam.
g. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam selanjutnya membuat permohonan pertimbangan/rekomendasi ruislag kepada Badan Wakaf Indonesia (BWI).
h. BWI kemudian meneliti kelengkapan dokumen-dokumen ruislag dan merapatkannya dalam suatu rapat pleno. Apabila pleno menyetujui, BWI selanjutnya memberikan rekomendasi ruislag kepada Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam.
i. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam selanjutnya meneruskan permohonan dan rekomendasi ruislag kepada Sekretaris Jenderal Kementerian Agama untuk diteruskan kepada Menteri Agama dan diproses penerbitan SK dari Menteri Agama.
46 Badanwakafindonesia.go.id
j. Apabila semua dokumen dan prosedur ruislag dinilai sudah benar, Menteri Agama kemudian menerbitkan surat izin ruislag.
Setelah terbit surat izin ruislag dari Menteri Agama, ruislag baru bisa dilaksanakan. Pembangunan pun baru bisa dilaksanakan setelah keluarnya surat tersebut.
Kemudian dibawah ini merupakan mekanisme yang lebih rinci menurut hukum positif perundang-undangan di Indonesia;
Pada pasal 49 Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2018:47
a. Perubahan status harta benda wakaf dalam bentuk penukaran dilarang kecuali dengan izin tertulis dari Menteri berdasarkan persetujuan BWI. b. Izin tertulis dari menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat
diberikan denga pertimbangan berikut:
1) Perubahan harta benda Wakaf tersebut digunakan untuk kepentingan umum sesuai dengan rencana umum tata ruang (RUTR) berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dan tidak bertentangan dengan prinsip Syariah.
2) harta benda wakaf tidak dapat dipergunakan sesuai dengan ikrar wakaf; atau
3) pertukaran dilakukan untuk keperluan keagamaan secara langsung dan mendesak.
c. Dalam hal penukaran harta benda wakaf sebagaimana pada ayat (2) huruf a dilakukan terhadap harta benda wakaf yang memiliki luas sampai dengan 5.000 m2 (lima ribu meter persegi), Menteri memberi mandate kepada kepala kantor wilayah untuk menerbitkan izin tertulis.
d. Menteri memberikan izin tertulis penukaran harta benda wakaf dengan pengecualian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan:
1) Harta harta benda penulcar memiliki sertifikat atau bukti kepemilikan sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
2) nilai dan manfaat harta benda penukar paling kurang sarna dengan harta benda Wakaf semula.
e. Kepala kantor wilayah menerbitkan izin tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berdasarkan:
1) persetujuan dari BWI provinsi;
2) harta benda penukar memiliki sertifikat atau bukti kepemilikan sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
3) nilai dan manfaat harta benda penukar paling sedikit sama dengan harta benda Wakaf semula.
Pada pasal 50 Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2018:48
1) Nilai dan manfaat harta benda penukaran sebagaimana dimaksud dalam pasal 49 ditetapkan oleh kepala kantor berdasarkan rekomendasi tim penetapan.
2) Tim penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beranggotakan unsur: a. Pemerintah daerah kabupaten/kota
b. Kantor pertanahan kabupaten/kota
c. Majelis Ulama Indonesia (MUI) kabupaten/kota d. Kantor Departemen Agama kabupaten/kota; dan e. Nazhir tanah wakaf yang bersangkutan.
f. Kantor urusan agama (KUA).
3) Untuk menetapkan nilai dan manfaat harta benda benda penukaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi ketentuan:
a. Dinilai oleh penilai atau penilai public dan
b. Harta benda penukar berada diwilayah yang strategis dan mudah untuk dikembangkan sesuai dengan peruntukannya.
4) Penilai atau penilai publik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a disediakan oleh intansi atau pihak yang menggunakan tanah wakaf sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
5) Penetapan penilai atau penilai publik dimaksud sebagaimana pada ayat (4), dilaksanakan sesua dengan ketentuan peraturan perundang-undangan Pada pasal 51 Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2018:49
1) Izin tertulis dari menteri sebagaimana dimaksud dalam pasal 49 ayat (4) diperoleh dengan mekanisme:
a. Nazir mengajukan permohonan secara tertulis kepada Menteri melalui Kepala Kantor dengan melampirkan: 1. Dokumen harta benda wakaf meliputi atas ikrar wakaf, akta penggati akta ikrar wakaf, sertifikat wakaf, sertifikat harta wakaf atau bukti lain kepemilikan harta benda yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 2. Dokumen harta benda penukar berupa sertifikat atau bukti lain kepemilikan harta sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 3. Hasil penelitian harta benda wakaf yang akan ditukar dan penukarannya oleh penilai atau penilai publik dan 4. Kartu tanda penduduk nazir.
b. Kepala kantor membentuk tim penetapan paling lama 5 (lima) hari kerja sejak menerima permohonan dari nazir.
c. Tim Penetapan mengajukan rekomendasi tukar-menukar harta benda Wakaf paling lama 5 (lima) hari kerja sejak Penilai atau Penilai Publik menyerahkan hasil penilaian kepada Kepala Kantor dan tembusannya kepada Tim Penetapan;
d. Kepala Kantor menetapkan dan mengirimkan hasil penilaian tukar- menukar harta benda Wakaf kepada Menteri dan kepada BWI paling lama 4 (empat) hari kerja;
e. BWI memberikan persetujuan kepada Mentri paling lama 5 (lima) hari kerja sejak menerima hasil penilaian tukar-menukar harta benda Wakaf dari Kepala Kantor; dan
f. Menteri menerbitkan izin tertulis tukar-menukar harta benda wakaf paling lama 15 (lima belas) hari kerja sejak menerima persetujuan dari BWI.
2) Izin tertulis dari Kepala kantor wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (5) diperoleh dengan mekanisme:
a. Nazir mengajukan permohonan secara tertulis kepada Kepala Kantor Wilayah melalui Kepala Kantor dengan melampirkan: 1. Dokumen harta benda Wakaf melputi Akta Ikrar Wakaf atau akta pengganti Akta Ikrar Wakaf dan sertifikat Wakaf atau sertifikat harta benda serta bukti lain kepemilikan harta benda yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan; 2. Dokumen harta benda penukar berupa sertifikat atau bukti lain kepemilikan harta benda yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; 3. Hasil penilaian harta benda Wakaf yang akan ditukar dan penukamya oleh Penilai atau Penilai Publik; dan 4. Kartu tanda penduduk Nazhir.
b. Kepala Kepala Kantor Wilayah membentuk Tim Penetapan paling lama 5 (lima) hari keja sejak menerima permohonan dari Nazhir
c. Tim Penetapan mengajukan rekomendasi tukar-menukar harta benda Wakaf paling lama 5 (lima) hari kerja sejak Penilai atau Penilai Publik menyerahkan hasil penilaian kepada Kepala Kantor dan tembusannya kepada Tim Penetapan;
d. Kepala Kantor menetapkan dan mengirimkan hasil penilaian tukar-menukar harta benda Wakaf kepada Kepala Kantor Wilayah dan kepada BW provinsi paling lama 4 (empat) hari kerja;
e. BWI provinsi memberikan persetujuan kepada Kepala Kantor Wilayah paling lama 5 (lima) hari kedua sejak menerirna hasil penilaian tukar-menukar harta benda wakaf dari Kepala Kantor; dan
f. Kepala Kantor Wilayah atas nama Menteri menerbitkan izin tertulis tukar-menukar harta benda Wakaf paling lama 10 (sepuluh) hari kerja sejak menerima persetujuan dari BWI Provinsi.